
Pagi hari yang baru, kupasangkan dasi dengan rapi dikerah kemeja suamiku. Lantas, ia tersenyum dan beberapa kali memberikan kecupan manis di keningku. Semburat senyum di wajahku pun turut membalas perlakuan manis pagi ini. Akhirnya setelah satu minggu, ia bisa bekerja kembali. Cepat sekali, bukan? Yah, namanya orang hebat.
Jikalau tidak ada tawaran dari Pak Ruddy, aku rasa Mas Arlan akan menganggur dalam waktu lama. Mungkin bisa sampai berbulan-bulan atau bahkan hitungan tahun. Usianya tidak lagi muda untuk mencari pekerjaan baru. Yang aku tahu, ia juga tidak cukup banyak memiliki teman sama sepertiku. Yah, ada sedikit kemiripan diantara kami mengenai itu.
Cup! Sekali lagi, Mas Arlan mengecup keningku. Bibirnya menyiratkan semburat senyuman diiringi ucapan, "pagi yang cerah bersama istri bule. Bahagia banget deh Mas, Dek."
Aku tersenyum sekilas sembari merapikan pakaian Mas Arlan yang terangkat. "Alhamdulillah, Mas. Kalau kamu bahagia, aku dan Selli juga bahagia," jawabku.
"Nanti makan siang bareng ya? Mas jemput kamu kayak dulu-dulu."
"Emm... boleh nolak enggak, Mas?"
"Emang kenapa, Dek? Kamu ada urusan? Atau sama Celvin? Hmm..."
"Bukan, Sayang. Aku udah lama nggak ketemu Nike dan Tomi. Boleh ya? Pleaseeee..."
"Hmm... yaudah kalau gitu, boleh aja. Asal beneran bukan karna Celvin ya?"
Aku terkekeh saja mendengar larangan konyol dari Mas Arlan. Sejauh ini, ia masih terus merasa tidak senang jika aku bersama Celvin. Wajarkah? Sepertinya, Mas Arlan belum melupakan saat pertama kali aku menolak dirinya lantaran terjerat perasaan abu-abu kepada atasanku itu. Ia tidak terlalu posesif, hanya saja selalu kurang senang. Mungkin, ia khawatir pengkhianat dari seorang istri terjadi lagi. Namun, apa daya diriku yang gendut ini, jika disandingkan dengan Nia yang cantik itu. Secara gamblang, aku tidak akan bisa berkhianat. Sekalipun bisa, aku tidak segila itu.
Setelah merapikan penampilan Mas Arlan, sekarang giliranku merapikan diriku. Untuk Selli mungkin Bi Onah bisa membantuku. Yah, namanya juga hari Senin, pasti sedang sibuk-sibuknya. Jadi mau tidak mau, aku membuat repot Bi Onah untuk mengurus putriku.
Selanjutkan kami bersantap sarapan bersama. Lalu, kami menuju tiga tujuan yang berbeda yaitu sekolah Selli, kantorku, dan kantor baru Mas Arlan. Semoga hari ini menjadi hari yang berkah.
****
Selang waktu berjalan dan telah melalui satu tujuan, akhirnya sampai di kantor tempatku bekerja. Seperti biasanya Mas Arlan menghentikan mobilnya demi menurunkanku. Lantas, aku meminta telapak tangannya untuk dikecup tanpa berpamitan. "Kerja yang bener, semangat, jangan nakal ya, Dek," nasehatnya.
Aku tersenyum sembari mengangguk mantap. "Aku nggak akan melakukan sesuatu yang aneh, Mas. Justru kamu yang kini menjadi direktur baru pasti punya sekretaris yang cantik, karyawan yang cantik juga. Apa kamu bisa menahan godaan itu?" tanyaku.
"Mas nggak akan pedulikan mereka semua. Kecuali kalau meminta bantuan dalam konteks lain, Dek. Mas ini bukan Om-Om hidung belang, Sayang."
"Oh ya? Tapi, tetep aja kamu Om-Om."
"Iya sih. Tapi, Om-Om yang nakalnya sama kamu doang. Mas kan cuma mau kamu, kamu dan kamu. Istri secantik dan se-semok kamu, masa' Mas nggak bersyukur?"
"Aku gendut!!! bukan semok, parah banget nyindirnya."
Mas Arlan malah tertawa tergelak. Sedangkan aku kesal sendiri dibuatnya. Bagaimana tidak? Semok katanya? Oh... itu sebuah sarkasme atau memang caranya untuk menggodaku? Yang pasti aku tidak menyukainya, lantaran berbanding terbalik dengan keadaan fisikku. Namun, melihat Mas Arlan yang tertawa semakin lama, aku semakin tersugesti dan akhirnya tidak jadi marah kepadanya.
Aku pun mencubit lengannya supaya ia berhenti mengusiliku. Kuraih telapak tangannya lagi dan mengecup pungguh tangannya itu. Lantas, aku membuka pintu dan hendak keluar dari mobil ini. Namun, gerakanku terhenti pada saat Mas Arlan kembali menarik tanganku. Ia merengkuh kepalaku dan diberikan kecupan manis namun sekilas di bibirku. "Semangat, Sayang. Mas love you...," bisiknya.
"Love you to, Mas. Jangan suka asal gaplok gitulah, ini didepan kantor aku. Nanti ada yang lihat," jawabku.
"Nggak apa-apa, Dek. Kita udah halal, kacanya hitam, nggak ada yang bakal tahu. Sekalipun ada yang tahu, itu malah bagus. Sebagai bukti bahwa Nona Fanni adalah milik Mas seorang."
"Hmm... ada aja jawabannya."
"Mas kan orang cerdas hehehe."
__ADS_1
"Yaudah ya, Mas. Aku turun dulu, kamu kan juga pasti dikasih sambutan hari ini. Apalagi direktur utama."
"Iya, Sayang. Nanti kalau makan siang hati-hati ya? Jangan terlalu irit pilih makanannya, nanti kamu kurus hehehe. Mas kan suka kamu yang gemesin gini."
"Iyaaaaaaa, Sayaaaaang."
Cup! Sekali lagi aku mendapatkan kecup di pipi. Kemudian aku membalaskan untuk pipi suamiku. Aku turun dari mobil sembari melambaikan tanganku untuk suamiku. Ia berlalu meninggalkanku untuk sementara waktu. Meski, hati ini sedikit tidak rela. Namun apa daya, kami memang harus bekerja. Lagipula akan sangat lebay sekali, jika aku tidak mau lepas dari dirinya, barang sekali saja.
Selepas mobil Mas Arlan tidak terlihat oleh pandangan mata, aku melangkah masuk ke dalam gedung kantor milik Sanjaya itu. Seperti biasanya, masih sepi. Mungkin hanya Celvin dan Celvin. Mantan preman itu memang tidak bisa menghilangkan predikat manusia yang sangat disiplin. Tapi, aku bersyukur sejauh aku mengenalnya, ia memang telah berubah menjadi lebih baik. Dalam konteks sikap, bukan percintaan yang menimbulkan maksiat itu.
Aku berjalan dengan langkah mantap dan semangat menyusuri lantai yang sama dan juga kotak elevator alias lift yang masih sama juga. Tampaknya di kantor ini pula, aku mendapatkan banyak sekali pembelajaran tentang hidup. Aku yang menarik diriku dari pergaulan lantaran beberapa orang terus menganjurkan diriku untuk lebih bisa merawat bentuk badan. Sosok Mita yang tidak segan-segan dalam memberikan perkataan yang menyakitkan. Aku bertemu Nike dan Tomi, bahkan berteman baik dengan atasan yang mengangkat karirku secara tiba-tiba.
Pahit manisnya kehidupan karyawan bawah yang tidak sempurna, kujalani di kantor ini. Namun, belakangan ini aku mendapatkan kejutan yang tidak terduga. Sepertinya sebagai manusia, tidak boleh terpaku pada satu segi kehidupan saja. Mulai saat ini, aku akan menjalin hubungan yang baik dengan siapapun. Meskipun, mereka bahkan tidak ingin mengenal diriku. Hubungan yang baik maksudku adalah tidak berprasangka buruk terhadap orang lain ataupun merugikan mereka.
Yah, semoga aku memang udah berubah lebih baik mulai hari ini. Hilangkan kata minder! Lagipula, manusia memang memiliki proses hidup masing-masing. Aku tidak boleh menyesali atas segala sesuatu yang telah terjadi. Jadikan pembelajaran untuk kehidupan ke depannya saja.
Tak lama kemudian, aku telah sampai di depan ruanganku. Aku membuka engsel pintu secara perlahan. Saat aku masuk, terlihat Riska dan Celvin sedang berada didalam. Aku beringsut mundur, ingin keluar kembali namun mereka sudah menyadari keberadaanku. "Ha-hai kalian, se-selamat pagi hehe. A-aku keluar lagi deh," sapaku tergagap sembari meminta izin untuk pergi lagi.
"Masuk saja, Fann," pinta Celvin.
"E-eeehh?"
Riska menatapku. "Masuk aja, Kak."
"Ba-baiklah, emm... jangan anggap aku ada kalau gitu."
Dengan malu aku melanjutkan langkah kakiku untuk masuk ke dalam ruangan ini. Benakku menerka-nerka tentang keberadaan Riska. Untuk apa ia datang? Seberani itukah? Bagaimana ia akan keluar lagi? Oh... sepertinya Riska adalah tipikal orang yang mudah panik. Atau mungkin ia tidak ada cara lain untuk bertemu dengan Celvin lagi selain datang kemari.
Lantas, aku duduk di kursi kerjaku sendiri dengan gerak kaku. Bahkan tengkukku ikut kaku sampai sulit digerakkan. Aku menghidupkan komputerku sembari mengecek beberapa pekerjaanku. Namun, tetap saja aku tidak bisa fokus. Kutilik sepasang kekasih itu, mereka saling berhadapan dan saling terdiam membisu. Oh... aku tidak boleh ikut campur.
"Vin, bawa aku pergi," ujar Riska kemudian, yang benar-benar membuatku terkejut sampai menelan ludah seketika.
"Enggak, Ris. Itu terlalu beresiko, kita berdua bisa masuk dalam masalah yang semakin besar. Kalau aku sampai dilaporkan gegara nyulik anak orang, bagaimana?" tanya Celvin.
"Apa kamu nggak mau berkorban? Kita bisa pergi jauh, ke luar negeri misalnya."
Helaan napas Celvin terdengar oleh pendengaranku. "Sayang, kita bisa cari jalan lain. Tapi, tidak dengan melarikan diri. A-aku baru memperbaiki hubunganku dengan Papaku."
"Apa? Kenapa kamu seegois ini, Vin? Aku capek di rumah itu, aku terus ditekan. Bahkan aku udah nggak punya kerjaan. Sekarang, sekarang Om Dian yang memimpin kantor pusat. Aku terus disisihkan, Vin. Aku capek."
Riska terdengar frustasi dan menangis. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah jabatan tinggi itu sedang diisi oleh Pak Dian. What the hell? Semua seolah sudah dirancang dengan baik oleh salah satu oknum yang serakah akan harta. Tidak cukupkah orang itu menghancurkan Mas Arlan? Dan kini Riska? Oh shiit! Aku benar-benar tidak habis pikir. Sebenarnya siapa yang ada dibalik semua ini?
Padahal perusahaan Sanjaya selama ini baik-baik saja, setelah insiden kekacauan kedua belah pihak keluarga. Namun, mengap keluarga Harsono seolah sedang berperang dari dalam. Untuk apa? Demi harta lagi? Apakah mereka tidak cukup mendapatkan warisan yang berlimang itu? Padahal Mas Arlan hanya mengambil satu unit mobil dan rumah saja, tidak dengan saham sepersen pun. Dan sekarang giliran Riska?
Oh... lupakan saja, itu bukan urusanku. Namun, saat ini aku tidak bisa membiarkan Riska sesunggukan seperti itu. Lantas, aku berdiri dan berjalan menghampirinya. Sesampainya disana, aku merengkuh pundak Riska dan mulai menenangkannya.
"Aku harus gimana, Kak? Aku terus disudutkan sebagai wanita nakal, aku capek," keluhnya kepadaku.
"Kamu harus tahan dulu, Riska. Benar kata Celvin, kabur hanya akan menambah masalah," jawabku.
__ADS_1
"Lalu, apa aku harus mati aja?"
"Heh! Jangan sembarangan! Mati itu sakit, aku pernah depresi. Saat mau bunuh diri, rasanya sakit banget. Makanya nggak jadi."
Ya! Aku tahu rasa akan kematian akan sesakit itu. Karena aku pun sempat diposisi Riska sebagai orang yang depresi, meskipun berbeda masalah. Ini sulit baginya, tapi menurutku melarikan diri bukanlah hal yang tepat. Aku terus menenangkan Riska sebisa mungkin, setidaknya agar ia sadar bahwa hari esok akan lebih cerah, jangan sampai ia putus asa dan melakukan tindakan tidak benar itu.
Sedangkan Celvin pun tampak meneteskan air mata. Saat kuamati lagi, disudur bibirnya terdapat lebam yang sudah membiru. Tampaknya ia belum menyerah untuk mendatangi keluarga Riska yang juga keluarga suamiku. Harus semiris inikah nasib kedua insan yang saling mencintai ini? Oh... semua gara-gara Ivan yang dipenuhi emosi akan kecemburuan. Lalu dimanakah pria itu sekarang? Rasanya aku ingin bertemu dan kurutuk dirinya sepuas mungkin, tapi jika aku berani.
"Seharusnya kamu tidak datang kemari, Riska. Aku sudah setiap hari datang ke rumah kamu, Sayang. Bagaimana kamu akan kembali?" tanya Celvin. "Kalau aku yang mengantar, pasti keluarga kamu semakin membabi buta dalam meremehkanmu."
"Aku datang karna ingin kamu bawa aku pergi, Celvin! Apa kamu takut kedatanganku merusak reputasi kamu dan perusahaan ini?!" tanya tegas Riska.
Duh... cewek ini kayaknya belum bisa berpikir dengan sehat.
"Bukan gitu, Riska. Aku... aku..."
"Aku apa, Vin?!"
"Aku nggak mau kamu kenapa-napa lagi."
Aku menarik diri Riska yang sempat menegang lantaran emosinya. Kemudian kutenangkan dirinya lagi sebisaku. "Tenang, Riska," ujarku.
"Aku harus gimana, Kak?" tanyanya.
"Emm... ma-maaf, aku pun nggak tahu. Kata Mas Arlan, aku tidak boleh terlalu ikut campur dalam masalah ini."
"Bahkan kalian juga, Om Arlan juga. Semua udah lepas tangan terhadap masalahku, lalu aku harus bertahan sampai mati di rumah itu, begitu?"
"Bu-bukan gitu maksudnya. Emm... na-nanti aku bicara dengan Mas Arlan lagi. Aku pun tidak berani menyarankan apapun secara sembarangan, Riska. Kami sudah terbilang bukan gabungan keluarga Harsono lagi."
"A-apa???"
Riska terkejut akan penuturanku. Sepertinya ia memang belum mengetahui akan hal ini. Yah, mungkin saja, lantaran ia sudah dibawa ke dalam kamarnya saat insiden terjadi. Dan sikapku sudah benar, bukan? Aku tidak bisa sembarangan dalam memberikan saran. Yang ada bisa salah kaprah dan bisa merepotkan Mas Arlan lagi.
Kinipun, Riska hanya berderaian air mata tanpa kata-kata. Aku masih setia merengkuh pundaknya. Sedangkan Celvin berdiri dari duduknya. Aku rasa Celvin pun sedang bingung sekali. Disatu sisi, ia pasti tidak tega atas tekanan hati yang Riska alami. Disisi lain, ia juga perlu memikirkan segala konsekuensi jika membawa Riska pergi. Bahkan, kalau aku diposisi Celvin, aku pun tidak akan bisa berbuat apapun dengan semudah itu.
Tiba-tiba, terdengar pintu terbuka. Kami bertiga menatap ke arah pintu. Sang pelaku adalah Mita yang cantik itu. Ia masuk tanpa rasa bersalah. Selanjutnya ia menampilkan wajah terkejut dan tidak enak hati. "Ma-maaf, Kak Celvin. Emm... Pak Celvin," ujarnya.
"Kak???" pekik Riska. "Siapa dia, Vin? Kenapa panggil Kak pada nama kamu?"
"Eh, di-dia Mita kok. Di--" Penjelasan Celvin terpotong begitu saja.
"Dia apa? Pacar baru kamu?! Jadi ini alasan, kenapa kamu nggak mau bawa aku pergi? Kamu punya yang lain?"
Celvin berjalan menghampiri Riska yang masih memberikan pertanyaan bertubi-tubi. "Riska bukan gitu, dengerin aku dulu."
"Kamu jahat, Celvin! Kamu nggak pernah berubah."
Aku diam menganga, bahkan Mita juga. Ingin ikut menolak perkataan Riska itu, namun aku terlalu kaku karena terkejut.
__ADS_1
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen