
Aku berjalan kesana kemari dengan gelisah. Sedangkan Selli masih sibuk bermain bersama bonekanya. Sempat ada ancaman orang itu, lalu Mas Arlan mengejarnya. Bagaimana ia belum kembali sampai sekarang? Terlebih tidak membawa ponsel karena panik tadi. Sekalipun aku hendak menyusul, lantas kemana laju mobilku nanti?
"Ck!" Kukecap bibir lantaran bingung harus bagaimana. Sudah setengah jam berlalu, namun Mas Arlan tidak kunjung tiba. Aku mengusap wajahku lalu jantungku melalui balik kulitku. Kuhela napas dalam dan mengembuskannya kembali.
Baiklah Fanni, kamu harus tenang.
Aku menghampiri Selli yang asyik bermain di ruang keluarga ini. Kemudian, kududuk disampingnya sembari memperhatikan gerak tangan Selli yang sedang mengayun boneka. Disini, aku melihat sebuah rasa sepi yang Selli rasakan. Betapa tidak, ia selalu sendiri. Kecuali kalau Bi Onah mengajaknya berjalan-jalan dan bertemu anak dari tetangga kami. Namun untuk sekarang, aku belum berani membawanya pergi.
"Nanti kalau Papa udah pulang, baru main keluar ya, Sayang," ujarku. Meski ia belum protes dalam masalah ini, namun rasa hatiku begitu iba.
"Iya, Mama. Kan Mama Fanni juga ada di rumah, jadi Selli enggak apa-apa di rumah dulu," jawabnya. Kalimat yang membuat bungah hatiku. Tak menyangka respon yang Selli berikan adalah respon secerdas itu.
"Makin hari, makin gemes sama kamu, Nak, Nak. Udah cantik, baik dan pintar."
"Mama juga cantik kok, tapi kata Papa bukan kata Selli."
"Eh? Jadi kata Selli, Mama enggak cantik? Begitu?"
Selli tertawa kecil sembari mengangguk. "Iya, Ma. Hehe."
"Hmm ... oke, baiklah. Selli yang paling cantik pokoknya mah."
"Iya dong, Ma."
Kurengkuh tubuh mungilnya dan membawanya ke pangkuanku. Aku gemas, bahkan sampai kucubit kedua pipinya yang imut itu. Tentu saja, ia mengaduh kesakitan akibat dari ulahku. Ia tidak menangis dan malah melakukan hal sama pada wajahku, tepatnya di pipi. Tawa kecilnya yang khas akan suara anak kecil berhasil membuatku tersugesti. Meski bayang akan orang tadi masih ada, namun kini aku lebih tenang.
Kruyuk! Oh? Aku lapar. Astaga! Aku belum menyantap makanan sedari pagi. Mungkin hanya sepotong roti saja. Karena Mas Arlan yang minta sesuatu itu, aku sampai melupakan diriku. Bahkan suamiku itu juga belum bersarapan. Sialnya malah ada orang asing yang terlihat memberikan ancaman.
"Selli udah makan belum?" tanyaku, karena bahkan aku melupakan perut putriku juga.
"Udah kok, Ma. Tadi sebelum mandi, aku disuapin sama Bibi," jawabnya yang berhasil membuatku lega. Oh ... tampaknya aku mesti berterima kasih pada Bi Onah lantaran membantuku dalam mengurus Selli. Apalah aku ini yang gemar duduk santai bak majikan. Ya, meski bisa dibilang seperti itu.
"Mbak Fanni?" Bi Onah menyebut namaku sembari melangkah ke dalam ruangan ini. Aku tertegun sebentar. Terlebih saat Bi Onah datang bersama nampan yang mungkin berisi makanan. "Makan dulu, Mbak. Bibi pikir Mbak Fanni belum ada selera makan, jadi Bibi buatin bubur lagi. Kasihan lho calon Dede'nya."
Begitulah perhatian Bi Onah yang sudah seperti keluargaku. Betapa, beruntungnya diriku bisa disayangi oleh beliau, meski hanya orang lain. Apalah anggapan "orang lain" itu jika beliau malah seperti sosok ibu untukku. Bukan berarti aku melupakan Ibu Sarita, malah aku bangga bisa mendapatkan banyak orang yang bisa dipanggil dengan sebutan ibu.
Aku tersenyum sembari menerima nampan berisi semangkuk bubur, segelas air putih yang hangat, bahkan ada segelas susu hamil di atasnya. Aku mengucapkan terima kasih, kemudian Bi Onah pamit untuk kembali ke dapur kembali.
"Selli mau?" tanyaku pada putriku itu.
Selli menggeleng seketika. "Enggak, Ma. Enggak enak," jawabnya.
"Enak tahu, Nak. Ini Mama suapin."
"Enggak mau, Ma."
"Ya udah, kamu main sama bonek lagi ya? Mama mau makan dulu. Kasihan Dede' bayinya."
"Selamat makan, Mama."
"Terima kasih, Sayang."
"Sama-sama, Mama."
Aku mulai menyuapkan sesendok bubur itu ke dalam mulutku. Rasanya gurih dan enak, meski tidak micin. Atau aku hanya merasa lapar saja? Mungkin begitu dan memang segala macam masakan hasil tangan Bi Onah sama seperti hasil milik ibuku. Enak semuanya, membuatku semakin merasakan sosok ibu di rumah suamiku ini.
__ADS_1
Namun, lidahku terasa getir seketika. Aku kembali terbayang akan Mas Arlan yang belum kunjung kembali. Ia belum menyantap sebutir pun nasi. Hal ini membuat hatiku kembali gusar. Kemanakah dirinya? Siapa kedua orang itu? Lantas, aku harus bagaimana?
Glup! Aku menelan saliva seketika. Bubur yang tadinya terasa gurih, kini malah terasa sulit untuk kutelan. Bagaimana bisa aku makan dengan tenang, sedangkan Mas Arlan belum pulang. Malah rasanya seperti kurang ajar. Mau menghubungi, ia tidak membawa ponselnya. Uh ... aku gelisah, namun tetap berusaha mengisi perutku. Ya, setidaknya aku harus membantunya dengan menjaga kondisiku sendiri.
Sampai tersisa setengah porsi dari porsi awal bubur yang ada didalam mangkuk ini. Aku sudah tidak bisa menelannya lagi. Ternyata menahan rasa gelisah tentang keberadaan suamiku jauh lebih susah. Kalau Mas Arlan belum kunjung pulang, maka aku belum bisa tenang.
Lalu, kuletakkan mangkuk tersebut di atas nampan yang masih ditinggalkan Bi Onah disini. Kuambil gelas air putih dan menyesapnya perlahan-lahan. Mataku tidak terlepas dalam memandang tembok yang kosong. Sedang pikiranku melayang-layang. Meski begitu, aku mencoba menepis semua pemikiran buruk terhadap suamiku. Batinku berucap do'a, supaya dirinya tetap baik-baik saja.
"Mama, Selli lagi libur. Kok enggak diajar liburan?" tanya Selli tiba-tiba.
Duh!
"Nanti ya, Sayang. Papa belum dapat libur lho. Malah kasihan nantinya," jawabku pelan-pelan.
Selli mengembuskan napasnya. Kecewa? Itu pasti. "Ya udah deh, Ma."
"Hmm ... Mama minta maaf ya, Nak."
"Iya, Ma. Selli maafin kok, biar enggak dihukum sama Allah."
Aku tersenyum, meski dalam hatiku merasa bersalah atas permintaan yang belum bisa aku turuti itu. "Makasih, Sayang."
Seperti inikah rasanya menjadi orang tua yang belum bisa memberikan yang terbaik? Aku hanya beruntung lantaran Selli sangat pintar. Ia mampu meredam segala kekecewaan dengan sekilas senyuman. Yah, itu wajar. Sejak kecil ia sudah mandiri. Bahkan sudah tahan banting akan ulah sang ibu yang semena-mena, tidak ada kasih sayang sama sekali, menurut cerita yang aku dengarkan.
Jika mengingat akan hal itu, aku selalu berucap janji untuk terus menjaganya seperti anakku sendiri. Semakin pula rasa hati ini tidak rela jika ia diambil orang lain, walau ibu kandungnya sendiri. Yah, kecuali jika Nia sudah berubah. Namun, seandainya sudah berubah pun, aku wajib tetap berhati-hati. Karena apa? Belum tentu perubahannya asli. Ah ... tampaknya aku berpikir terlalu jauh.
Selanjutnya, aku berdiri dari dudukku. Dengan membawa nampan berisi mangkuk dan gelas tersebut, aku mengambil langkah untuk keluar dari ruangan ini. Segelas susu, sudah aku tinggalkan di sana. Aku berjalan menuju arah dapur. Tak pantas jika hal sekecil ini, aku masih meminta bantuan dari Bi Onah. Bisa jadi ratu sebenar-benarnya diriku nanti.
"Eh?" Langkahku terhenti, tepat di pertengahan jarak antara dapur dan pintu utama rumah ini. Deru mobil Mas Arlan sudah terdengar, ia telah pulang. Lalu, aku menaruh nampanku secara sembarangan di lantai. Kubatalkan niat baikku untuk tidak merepotkan Bi Onah. Tanpa peduli apapun lagi, aku segera berbalik badan dan berlari kecil demi memastikan keadaan suamiku tersayang.
Ya, sesampainya di teras rumah, mobilnya benar sudah datang. Maksudku bersama sang pengemudinya. Aku berdebar menunggu jawaban dari Mas Arlan. Namun ... apa itu? Mas Arlan turun sembari mengunyah roti yang ia bawa disalah satu tangannya. Bukan hanya itu, ia tampak membuka pintu belakang. Lalu mengambil dua paper bag besar. Ia melangkah bersama dua barang yang tidak aku ketahui isinya itu.
"Dek?" Mas Arlan memanggil diriku. Tidak peduli tentang itu, aku segera berbalik badan lagi dan berlalu. "Eh, Dek? Kenapa sih?"
Kenapa? Uh ... enggak peka banget sih dia! Gue udah khawatir sampe nggak enak makan. Malah cengingisan.
Langkahku begitu cepat menuju dapur demi melanjutkan niat awalku tadi. Tentu saja bersama bibir yang memanyun kesal. Walau ada rasa syukur karena Mas Arlan masih baik-baik saja, namun tetap saja, hal itu sangat menyebalkan. Aku tidak suka. Seharusnya ia kembali, daripada membuat istri bercemas hati.
Uh ....!
Aku mengambil kembali nampan yang sempat kuletakkan secara sembarang di atas lantai rumah ini. Sesampainya di dapur, aku menaruh barang tersebut di bawah kran air wastafel lalu mencucinya.
****
"Dek? Kenapa sih? Kok diem aja daritadi?" tanya Mas Arlan pada saat kami berada di kamar.
"Pikir aja sendiri, aku mau mandi lagi. Gegara kamu, jadi dua kali!" jawabku jutek sekali.
"Iya, sini dulu dong. Mas kan baru pulang, masa' udah ngambek gitu sih?"
"Ya, karna kamu baru pulang. Kesel ih! Kemana aja? Orang itu siapa? Terus kamu beli apa? Ngabatin kek."
"Owalah."
"Owalah doang?"
__ADS_1
"Iya, iya Mas minta maaf, Sayang."
Kata maaf itu yang sedari tadi aku tunggu, bukan sekedar pertanyaan. Seharusnya ia bisa menilai kesalahannya sendiri. Cukup kata maaf itu, berhasil membuat hatiku luluh kembali.
Lalu, aku duduk kembali di tepian ranjang, tepatnya dimana Mas Arlan tengah duduk dan bersandar. Sesampainya disana, aku mengambil posisi untuk duduk disampingnya. Kuhela napasku dan mengembuskannya kembali. Menatap wajahnya sembari menggenggam tangannya.
"Kamu kemana? Tadi siapa? Kenapa sampai selama ini? Aku khawatir sama kamu, Mas."
"Maaf, Dek. Hehe. Tadi Mas mampir ke bengkel cuci mobil sekalian, males sih mau cuci sendiri. Terus nemu toko baru, makanya beli paket nastar, buat cemilan kalian semua. Lagi promo juga hehe."
"Ya Allah, Mas. Dalam keadaan kayak gitu, terus kamu nggak pulang ngasih kabar dulu?"
Mas Arlan masih mengucapkan permintaan maafnya padaku. Memeluk tubuhku sembari sesekali memberikan kecupan manis di pipi, atau bahkan bibirku. Mungkin karena tidak ingin kembali dua kali, jadi ia sekalian mampir disana. Hanya saja, menurutku sangat tidak etis jika dilakukan pada saat sekarang. Belum lagi kami sempat panik tidak karuan.
Namun tetap saja, aku tidak bisa marah dalam waktu yang lama. Aku menyandarkan kepalaku di atas bahu Mas Arlan, ia pun memberikan belian halus di atas kepalaku. Yah, setidaknya hatiku bisa tenang saat ia telah kembali. Hanya saja, aku masih perlu memastikan kedua orang itu.
"Jadi, siapa mereka? Bahayakah? Kok kamu bisa mampir ke bengkel dengan tenang?"
"Hehe ... sekali lagi, Mas minta maaf, Dek. Ternyata hanya anak-anak remaja yang nakal."
"Hah?" Aku mengangkat kepalaku seketika dan menatapnya. "Yang bener, Mas? Mana ada anak remaja ngasih jari tengah ke aku."
"Ya namanya anak nakal, Dek. Anak SMA iseng-iseng gitu."
"Terus kenapa yang satu turun ke gerbang rumah kita? Terus kenapa kamu panik?"
"Gegara HP-nya kelempar dari jendela mobil. Tepatnya di tengah jalan yang mungkin ketutup sama pagar rumah kita."
"Masa' sih? Kamu nggak lagi bohong, kan?"
Mas Arlan menggeleng. "Enggak, Sayang. Anak-anak itu tadi ketangkep sama Mas kok. Mobilnya silver kan? Hanya satu mobil itu yang lagi lewat jalan depan. Ada dua orang lagi kok didalem. Biasa anak-anak dugem, nakal."
Sulit dipercaya, namun sepertinya benar. Ya, mana mungkin Mas Arlan dengan tenangnya mampir ke tempat lain setelahnya. Dan tidak mungkin juga seorang Nia berlaku iseng seperti itu. Sepertinya diriku terlalu banyak menduga. Terlepas dari semua ucapan Nia pada ibu Dwi, aku juga terlalu mengkhawatirkan Selli.
Sepertinya Nia belum juga bertindak untuk ini. Tidak mungkin juga ia datang secara sembarangan ke rumah ini. Berkat libur sekolah, ia pasti juga sedang kesulitan mencari cara untuk bertemu Selli. Aku tidak percaya ia akan tetap diam saja, jika sudah melakukan banyak hal sampai sejauh itu. Bahkan memfitnah diriku dihadapan ibu guru bahkan Selli. Seandainya saja, hidayah datang secara spontan, pasti Nia segera membatalkan niat buruknya.
"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, Dek. Mas takut mempengaruhi kondisi kamu dan anak didalam kandungan kamu."
"Aku tahu, Mas. Tapi aku tetap seorang ibu. Dari info yang aku dapat mengenai wanita itu, aku enggak bisa tenang secepat itu."
"Mas juga nggak akan tinggal diam, Sayang. Mau gimanapun, Selli adalah anakku. Dia tumbuh menjadi gadis mandiri dari usia dini. Nggak bakalan Mas biarin wanita itu merebutnya dari kita."
"Kalau seandainya Nia udah berubah, gimana?"
"Ya, Alhamdulillah. Tapi bukan berarti Mas rela memberikan Selli dong. Kita masih oerlu waspada sama orang yang pernah berbuat jahat, Dek. Sekalipun dia berubah. Kita wajib mendo'akan, tapi bukan berarti mempercayai secara penuh."
"Hmm ... aku juga mikir gitu, Mas."
"Ya, Dek. Emang harus seperti itu. Hmm ... ya udah, kamu mandi lagi sana. Udah siang banget. Dan tenang aja, jangan pikirin macam-macam hal. Mas yang akan beresin kalau ada hal buruk dari Nia, atau bahkan siapapun."
Aku mengangguk pelan. Kukecup pipi Mas Arlan, kemudian berdiri dari dudukku. Aku mencari pakaian ganti didalam almari. Setelah mendapatkannya, lantas aku keluar dari kamar ini untuk menuju kamar mandi.
Bersambung ...
Oke FIX. TIDAK AKAN ADA PELAKOR. hehe. karna emang udah banyak yang begitu, lagian masak cewek mulu yang menderita. enggak akan ada, itu cluenya.
__ADS_1
Oh iya, maaf belum bisa blas komentar kalian satu persatu. Aku lagi kebut nulis nih.
Silahkan komen di bawah ya, kalau mau bab selanjutnya. Kalau enggak ada yang mau. berarti aku simpan dulu. hehe