
Sore harinya aku bergegas pulang ke apartemenku. Karena nanti malam akan bertemu dengan Mas Arlan dan Selli. Rasanya sudah tidak sabar bertemu gadis kecil tersebut. Aku sangat rindu.
Setelah berpamitan dengan ayah ibuku. Aku melaju meninggalkan rumah dengan mobil kesayanganku. Sedangkan Kak Pandhu pun sama, ia berlalu untuk mengantarkan Febi pulang.
Jarak antara rumah orang tuaku dengan apartemenku tidak terlalu jauh. Sehingga berhasil membuatku sampai dalam waktu sekitar delapan menit. Apalagi keadaan jalan tidak terlalu macet juga.
Setelah memarkir mobilku, Seperti biasa aku menapaki lantai dan arah yang sama. Menaiki lift yang sama pula untuk menuju kediamanku.
Aku terperanjat seketika, saat melihat sosok yang tidak asing sedang berdiri bersandar di pintu apartemenku. Ia bersama gadis kecil yang sangat aku rindukan.
"Mas Arlan kok udah disini?" Tanyaku kepadanya.
"Hehe, iya dek sekalian. Tadi kan adek juga bilang mau pulang lewat WA," Jawab Mas Arlan.
"Ya ampun mas, terus udah lama belum?"
"Nggak kok, baru lima menit."
"Yaudah masuk dulu."
Aku mempersilahkan Mas Arlan masuk kedalam. Sebelum itu, aku meraih tubuh mungil milik Selli. Lalu beriringan masuk dibelakang Mas Arlan.
Aku kecup habis pipi Selli yang sangat menggemaskan. Sesekali juga ku gelitiki perutnya untuk menggoda. Sampai-sampai ia tertawa begitu girangnya.
"Tante besal Selli kangen tauk," Ujar gadis kecil tersebut.
"Tante juga tauuukk eemmbb..." Jawabku dengan raut gemas.
"Tante ental Selli dimacakin ya."
"Duhh... tante nggak bisa masak sayang hehe."
"Ihh... tante sama kayak mamanya Selli nggak bica macak padahal udah gede."
Glup!
Aku menelan ludah, wajahku memerah seketika. Terbukti rasa hangat merayapi sekitar pipi dan telinga. Aku menyesal tidak belajar memasak dengan sungguh-sungguh.
Sedangkan Mas Arlan hanya menatap aku dan Selli sambil tertawa tipis. Mungkin ia mendengar apa yang aku katakan. Padahal, aku sudah berusaha membisikkannya secara pelan. Uhh... malunya!
"Cewek jaman now pinternya main komputer ya dek hehe," Ujar Mas Arlan kemudian. Tampaknya ia bermaksud meledekku.
"Mungkin kali mas hehe," Jawabku tersenyum kecut.
"Belajar gih, biar nggak kaget kalo udah jadi istri."
"Iya mas kapan-kapan. Lagian nggak ada yang mau jadiin aku istri."
"Jangan gitu, jodoh nggak ada yang tau."
"Iya sih."
"Emm... kalo mas gimana?"
"Haah? Maksudnya???"
"Hehe... nggak kok, buat PR aja deh buat kamu."
Apa sih Mas Arlan ini? Membuatku salah tingkah saja. Pertanyaannya yang tidak mau dibahas lagi membuatku teringat perkataan ibuku. Mengenai perasaan Mas Arlan yang masih tidak jelas kepadaku.
Lalu apakah aku salah jika masih sering bersamanya? Aku melakukan ini karena Selli. Aku ingin menghibur gadis kecil tersebut. Bukan karena merasa kepedean atau memberikan harapan palsu kepada Mas Arlan.
__ADS_1
Lagipula aku tidak mau memikirkan sesuatu yang masih belum jelas. Lalu aku memilih menuju dapur bermaksud ingin membuatkan jus buah untuk mereka.
"Selli pengen jus nggak sayang?" Tanyaku sebelumnya.
"Mau tante, tapi strawberry ya," Jawabku.
"Oke deh, silahkan menunggu cantik."
"Ciap tante."
"Mas Arlan mau?"
"Boleh dek, samain Selli aja."
"Oke."
Untung saja aku mempunya stok buah-buahan didalam kulkas. Aku memang tidak pernah telat dalam membeli buah. Sebenarnya, masih ada keinginan untuk diet juga. Yah, meskipun sampai sekarang tidak berhasil.
Aku sibuk mengiris-iris stawberry di dapur. Memainkan blender lalu menuangkan gula dan susu secukupnya. Karena sudah sering membuat, aku begitu lihai dan cepat. Aku juga yakin minuman ini sangat enak.
Setelah selesai aku menuangkannya kedalam dua gelas khusus jus. Dan khusus untuk Selli aku menuangkannya kedalam botol lucu berbentuk boneka beruang yang aku miliki. Lalu membawanya ke ruang televisi dimana ayah dan anak tersebut sedang bersantai.
"Udah siap," Ujarku.
"Yeeeeee..." Girang Selli.
"Makasih ya dek udah dibikinin yang spesial hehe," Sambung Mas Arlan.
"Biasa aja mas mas."
"Enak lho dek beda sama yang di kafe-kafe."
"Wah, bawa-bawa perasaan bikin Ge-eR aja ya."
"Ehh... nggak gitu kok."
"Hehe, apalagi kalo dibarengi pinter masak dek."
"Hmm... jangan bahas soal masak lagi mas."
"Hehe... iya iya."
Kami duduk bersama sembari menonton televisi yang acaranya tidak begitu menyenangkan. Memang tidak bisa dipungkiri di zaman sekarang sepertinya ponsel lebih diutamakan. Aku memangku tubuh mungil Selli, gadis kecil ini menyenderkan kepalanya di badan besarku.
Sebenarnya aku sedikit risih berada didalam ruangan yang sama dengan seorang pria yang bukan keluargaku. Atau mungkin aku hanya tidak terbiasa. Untung saja Selli berada disini kalau tidak pasti aku akan mengajak Mas Arlan untuk keluar ke tempat yang lebih ramai. Karena hampir maghrib aku belum juga meminta ke tempat lain.
"Kenapa sih mas?" Ujarku saat menyadari bola mata Mas Arlan yang terus menatapku diam-diam.
"Lho kenapa emang?" Jawab pria dewasa tersebut.
"Kok nanya balik, daritadi ngeliatin mulu. Ada yang salah ya?"
"Idih Ge-eR ya kamu."
"Ngaku aja, kayak orang mesum aja mas."
"Waduh dek, mikirnya jelek banget sama mas hmm..."
"Lagian kayak gitu kok."
"Nggak dek, mas kagum aja orang blasteran mah bule banget."
__ADS_1
"Yaiyalah mas dimana aja siapa aja."
"Nggak kok, kayaknya kamu doang yang cantik."
"Apaan sih?"
"Gemesin gitu tembemnya haha."
"Ihh."
Ada saja tingkah Mas Arlan yang berhasil membuatku salah tingkah. Gaya menggodanya cukup membuatku tersipu, mengingat ini pertama kalinya aku dipuji oleh seorang pria. Meski aku tidak tau maksud sebenarnya dari Mas Arlan yang entah hanya candaan atau memang kenyataan. Yang pasti aku tetap bersikap biasa saja.
Kini aku sedikit heran saat Selli sama sekali tidak bergeming. Aku pikir ia sedang asyik menonton televisi sembari tiduran diatas badanku.
"Selli sayang?" Panggilku.
Tidak ada jawaban, aku mengerutkan dahiku heran. Kemudian memajukan kepalaku untuk memastikan apakah Selli baik-baik saja.
"Ya ampun dia ketiduran mas," Ujarku ketika mendapati mata Selli yang terpejam dengan bibir mungil yang sedikit terbuka.
"Yah nggak jadi keluar dong," Jawab Mas Arlan.
"Padahal maghrib lho, tunggu sampe bangun aja."
"Kamu nggak pegel dek?"
"Nggak kok."
"Bohong ah, sini mas gantiin aja."
"Nggak usah mas, pindah aja ke kasur aku di dalem kasian. Biar enak tidurnya."
"Nggak papa?"
"Nggak papa mas, santai aja."
Kemudian Mas Arlan mengambil alih tubuh Selli. Ia menggendongnya dan menuju kedalam untuk membaringkannya diatas ranjangku.
Seketika juga, aku menelan ludah. Aku baru menyadari aku melakukan kesalahan. Jika Selli didalam, lalu aku akan berdua saja dengan Mas Arlan. Aku harus bagaimana bersikap nantinya? Duh, salah perkiraan.
Kumandang merdu adzan akhirnya terdengar sangat merdu. Aku belum beranjak sama sekali dari tempat dudukku sedari awal. Begitu pun Mas Arlan, ia belum juga keluar dari kamarku. Mungkin saja Mas Arlan tidak ingin jika hanya berdua denganku sehingga memilih tetap disana sampai Selli terbangun.
"Dek numpang ibadah ya?" Ujarnya tiba-tiba.
"I... iya mas silahkan." Jawabku tergagap karena kaget.
Mas Arlan terdengar mengambil air wudhu kemudian ketempat yang biasa aku gunakan untuk ibadah. Karena aku sedang datang bulan aku tidak melaksanakannya.
Kami bertiga masih didalam apartemenku selepas maghrib sambil menunggu Selli terbangun dari tidurnya. Dalam tempat yang berbeda, aku masih di sofaku sedangkan Mas Arlan didalam. Ia sempat memintaku yang berada didalam kamar bersama Selli, namun aku menolaknya. Aku beralasan ingin menonton acara televisi.
Aku bersyukur Mas Arlan bisa mengerti kekhawatiranku. Maksudku ia mempunyai pemikiran yang sama denganku saat ini.
Bersambung...
Ini buat yang rindu Mas Arlan. Tapi jujur aku rindunya sama Celvin. ππππ
Selamat membaca, tetap membaca, tetap like, tetap komen janji yaaa
HINDARI BODY SHAMING YANG SANGAT MERUGIKAN BEBERAPA PIHAK! JANGAN SELALU MERASA LEBIH DALAM HIDUPMU, KARENA MANUSIA TIDAK ADA YANG SEMPURNA.
terima kasih...
__ADS_1