Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Undangan Makan Malam


__ADS_3

Dress putih cantik dengan panjang di bawah lutut telah membalut tubuhku yang gendut ini, bersama flat shoes yang berwarna senada. Rambutku terurai jatuh dengan gelombang di bagian bawah, make up natural juga turut menghiasi wajahku. Aku terlihat lebih rapi dan elegan, meski terbilang berbadan gempal. Boleh, 'kan, jika aku sedikit percaya diri?


Sedangkan Mas Arlan, ia telah memakai kemeja berwarna abu-abu beserta celana bahan berwarna hitam. Sepatu yang ia gunakan hanya sepatu slip on biasa tanpa memakai kaus kaki. Tampilannya sangat simpel namun memiliki kesan penuh wibawa. Tidak hanya kami yang berpenampilan rapi seperti ini, melainkan Selli. Gadis kecil itu memakai dress cantik pemberianku. Ia imut dan cantik sekali. Rambutnya kubiarkan terurai sepertiku.


Apa yang akan kami lakukan? Tentunya bukan kencan keluarga. Kami diundang pertama kalinya oleh keluarga besar dari Mas Arlan--suaminya untuk makan malam bersama. Entah bisa dibilang suatu kebanggaan atau bukan, yang pasti aku ingin tampil lebih maksimal, meski aku tahu bahwa diriku tidak sempurna. Momen seperti ini jarang sekali kami dapatkan, maksudku diriku. Aku berkunjung ke rumah besar itu lantaran adanya suatu permasalahan dan bukan sesuatu hal yang mengesankan untuk diriku sebagai seorang menantu.


"Istrinya Mas Arlan cantik banget," ujar Mas Arlan tiba-tiba sembari memeluk tubuhku dari arah belakang. Aku yang masih asyik bercermin di cermin almari sampai terkejut karenanya.


Aku sedikit tersipu dibuatnya. Terlebih saat ia memberikan kecupan manis di pipiku. "Aku nggak tahu lagi, Mas. Mau jawab apa kalau kamu bilang cantik buat aku," jawabku.


"Cukup percaya dan terima kasih dong, Dek. Bonusnya kecupan manis di bibirnya Mas, gimana?"


"Nggak mau, aku udah dandan. Nanti rusak."


"Kok gitu? Kan bisa diulang lagi, Sayang. Masa' pas mau keluar aja dandannya? Nggak boleh lho, istri itu boleh dandannya pas didepan suami doang."


"Hmm ... jangan gitu sih, Mas. Aku jadi nggak enak, terus trend sekarang kan orang-orangnya pake make up-nya pas mau keluar rumah."


"Kamu ikut-ikutan sih."


"Terus gimana dong? Hapus lagi nih?"


"Nggak usah, Sayang. Sayang bedaknya mahal."


Meski berkata demikian, Mas Arlan tetap saja membuatku kesulitan dalam bergerak. Alhasil riasanku rusak, bahkan ada di beberapa titik wajahku yang terhapus. Sampai seperti itu, ia hanya terkekeh dengan keras tanpa memperdulikan sedikit pun tentang rasa kesalku. Rasanya ingin menangis, butuh waktu lama untuk berias seperti ini. Ia adalah suami yang jahat dalam konteks ini.


Menyebalkan!


Setelah ia puas, maka aku bergerak menuju meja riasku kembali. Beruntung, diriku bukanlah pemakai lipstik yang mencolok merah ataupun warna lain, hanya sekedar lipgloss saja yang aku pakai. Sehingga, tidak membuat wajahku semakin kotor akibat ulah dari suamiku tersayang. Padahal, waktu sudah hampir jam tujuh malam, janji datang adalah waktu tersebut. Sedangkan kami malah masih bersantai di rumah ini.


"Mama, Papa? Ayo berangkat, Selli mau ke rumah Nenek cepet-cepet," ujar Selli dari arah pintu kamar kami. Ia bahkan menyebut nenek, aku rasa ia melupakan bahwa sang nenek sudah tiada. Hal itu, membuatku dan Mas Arlan saling berpandang sendu.


Lalu, Mas Arlan bergerak menghampiri Selli yang sejak tadi menunggu kami di luar bersama Bi Onah. Mungkin karena kami terlalu lama, maka ia datang kemari. Mas Arlan menggendong sang buah hati tersebut sembari mengecup pipi imutnya beberapa kali. Ada suatu kesedihan yang kembali tersirat dari wajahnya. Hal seperti ini yang membuat seseorang kembali teringat akan sosok orang tersayang yang telah tiada. Namun, aku yakin bahwa Mas Arlan bisa mengendalikan kesedihannya dan memberikan pengertian kepada sang putri.


Kuabaikan terlebih dahulu tentang mereka berdua. Aku memperbaiki riasanku. Tentunya dengan make up yang aman untuk sang ibu hamil. Untuk hal ini, aku sudah berkonsultasi dengan dokter, serta menanyakan beberapa produk aman kepada Nike. Jadi, tidak terlalu sangsi lagi. Lagipula, aku jarang sekali mengenakan make up belakangan ini. Terbilang, ini pertama kalinya aku berias setelah kehamilanku.


Setelah semua aku rasa selesai dan memuaskan, aku segera beranjak dari dudukku. Kuambil tas kecil berwarna senada dengan dress-ku dan tak lupa kumasukkan ponselku didalamnya. Aku berjalan untuk keluar dari kamar ini. Sebelum pergi ke bawah dimana Mas Arlan dan Selli berada, aku mengunci pintu kamar terlebih dahulu. Selepas itu, aku pergi ke bawah untuk menemui suami dan anakku. Lalu, kami akan berangkat ke rumah mendiang mertuaku.


"Ayo, Mas." Aku mengajak Mas Arlan yang masih asyik menonton televisi bersama Bi Onah dan Selli.


Ia menoleh ke arahku. "Udah, Dek?" tanyanya kembali. Meski seharusnya, pertanyaan itu tidak pantas untuk diucapkan saat aku sudah mengajaknya.


"Udah, Mas. Nggak mungkin aku disini, kalau belum selesai."


"Ya, siapa tahu. Lagian kamu dandannya lama banget, Dek. Heran."


"Sembarangan kalau ngomong. Yang rusakin dandananku tadi siapa?"

__ADS_1


Mas Arlan terkekeh. "Hehe, maaf, maaf. Mas becanda kok. Ya udah, ayo. Bi nitip rumah, kami berangkat dulu. Nanti kalau Pak Edi mau pulang, Bibi kunci aja semuanya."


Bi Onah mengangguk saja. "Siap, Den, Mbak. Hati-hati di jalan. Emm ... bawa kuncinya aja, Den. Saya takut ketiduran hehe."


"Iya, Bi. Udah dibawa kok. Ya udah, keburu malem. Assalamu'alaikum, Bi."


"Wa'alaikumssalam, Den Arlan."


Bi Onah mengantarkan kami sampai ke luar. Aku rasa, beliau juga akan bersedia menutup pintu. Untuk Pak Edi, sebenarnya beliau tidak tidur disini ketika malam hari. Aku belum mengatakan tentang hal ini, beliau memiliki rumah kecil dan keluarga sendiri. Sehingga beliau bisa pulang, ketika pekerjaan pekarangan rumah selesai. Sehingga, hanya ada Bi Onah yang sudah seorang janda. Anak-anak beliau sudah dewasa dan sudah ada yang menikah, namun tetap bekerja disini. Bahkan, sempat membantu keuangan anak beliau yang kurang mampu. Sungguh, seorang ibu yang penuh tanggung jawab, bukan?


Mas Arlan bergerak membukakan pintu untuk sang ibu hamil, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ibu Fanni yaitu diriku sendiri. Aku tersenyum dan kuucapkan terima kasih kepadanya. Ia membalasnya dengan hal yang sama. Setelah aku sudah didalam, ia juga memastikan Selli aman di tempat duduk bagian belakang bersama boneka kesayangan yang selalu ia bawa. Bahkan, ada beberapa boneka yang berada di mobil ini.


Perlahan namun pasti, Mas Arlan melaju mobilnya untuk meninggalkan rumah kami dalam waktu sementara. Suasana malam yang tenang, namun hangat. Semarak lagu yang dinyanyikan beberapa pengamen merasuk ke dalam telingaku, pada saat kami terhenti karena lampu merah yang menyala. Disini, aku merasakan debaran jantung yang mulai tidak teratur. Ada hal apa, sampai mereka mengundang kami untuk datang dan makan malam? Tidak biasanya, aku merasa sedikit aneh.


"Mas, ada apa ya?" tanyaku kepada suamiku yang melaju mobilnya ketika lampu telah berganti nyala hijau.


Mas Arlan menatapku sekilas, kemudian menggelangkan kepalanya. "Mas nggak tahu, Dek. Mungkin rindu hehe," jawabnya.


"Hmm ... bohong banget. Rindu siapa? Kamu, gitu? Ih, GR parah."


"Yee, dibilangin. Gini-gini, Mas pernah jadi adik kesayangannya Mas Gun lho."


"Oh ya? Masa'? Bohong pasti."


"Dibilangin, nggak pernah percaya kamu tuh."


"Enggak, kamu nggak pernah serius kalau ditanyain. Emm ... tapi, aku agak khawatir plus takut. 'Kan, ada Nyonya Dahlia yang benci banget sama aku."


Aku menggelengkan kepala. "Enggak, Mas. Belum ada kendala apapun lagi, mungkin agak engap aja sih hehe."


"Sabar ya, Sayang. Kamu pasti kuat."


Aku tersenyum tipis kepadanya. Perbincangan ini kembali terhenti. Kutilik sekilas ke arah belakang, Selli masih asyil bermain ponsel milik Mas Arlan yang belum lama ini ia pinjam. Entah apa yang akan terjadi di rumah istana itu nanti, semoga tidak ada masalah lagi.


****


"Kak Fanni!" Seseorang tengah memanggilku, tepatnya saat aku turun bersama Mas Arlan dan Selli dari mobil kami. Lantas, aku menoleh ke arah pemilik suara. Riska disana, tunggu! Ada Celvin, sungguh tidak terduga.


Selli memberikan tatapan mata yang memancar senang. "Mama, ada Kakak Riska sama Kakak ganteng," ujarnya.


Tentu saja, aku terkejut mendengar ucapannya. Bisa-bisanya, anak sekecil Selli sudah mengetahui paras ketampanan dari Celvin. Berbeda denganku yang tersenyum, Mas Arlan cemberut tidak menyukainya.


"Hai, Ris. Emm ... Hai Pak Celvin," jawabku memberi sapa, setelah kami saling berhadapan.


Celvin tersenyum tipis. "Hai, Fann. Santai aja, apa kabar?"


"Ba--"

__ADS_1


"Ayo, masuk. Udah ditunggu." Mas Arlan memotong ucapanku yang akan memberikan jawaban kepada Celvin. Entah apa maksudnya. Mungkinkah, ia masih tidak menyukai Celvin? Padahal selama ini ia memberikan pembelaan kepada Celvin. Hanya saja, jika sudah melibatkan diriku, Mas Arlan sangat tidak senang. Suami yang sedikit posesif!


Aku menggandeng lengan Mas Arlan, Selli berada di gendongannya. Gadis kecil itu sedang bersenandung ceria. Kami melangkah ke dalam rumah bersama Riska dan Celvin yang mengikuti di belakang kami. Tampaknya hubungan mereka berdua dengan Mas Gunawan dan Nyonya Gunawan sudah mulai membaik. Tidak mungkin jika belum, mereka ada disini bersamaan dengan aku dan Mas Arlan beserta anak kami. Namun, hal itu membuatku semakin aneh dan bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Aku hanya bisa menunggu.


"Selamat datang, kami sudah menunggu kalian semua," sapa Mas Gunawan bersama sang istri--orang tua dari Riska.


"Terima kasih, Mas. Sudah mengundang kami," jawab Mas Arlan menggunakan bahasa yang tidak kasual lagi. Ia sedikit berbicara dengan nada dan bahasa formal. Namun, senyumannya masih terlihat sangat ramah. Sepertinya karena sudah lama tidak bertemu, bisa menumbuhkan suasana canggung diantara mereka.


"Selamat malam, Om." Celvin tidak mau ketinggalan, ia meraih telapak tangan Mas Gunawan. Hanya belaian di kepalanya yang ia terima dari kakak iparku tersebut.


Mas Gunawan menghentikan basa-basi ini. "Ya sudah, masuk saja. Sudah jam makan lama, kalian langsung ke meja makan saja."


Kami semua hanya mengangguk-angguk saja. Sesuai intruksi dari tuan rumah, kami berjalan ke dalam menuju ruang makan. Rumah besar yang sepi, seperti tidak ada kehangatan didalamnya. Hanya ditinggali oleh Mas Gunawan dan istri, Nyonya Dahlia dan kedua anaknya. Meski ada beberapa asisten rumah tangga, tidak memberikan pengaruh besar di rumah ini. Mungkin saja, masih ada aturan yang diterapkan sang tuan besar.


Tak lama kemudian, kami telah sampai di tempat yang dituju. Tampak Nyonya Kely alias Nyonya Gunawan sedang menyiapkan hidangan makan malam bersama dua orang asisten rumah tangganya. Beliau memberikan senyum ramah yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Hal bagus yang masih terasa ambigu bagiku.


"Sudah pada datang, mari duduk. Kalian atur sendiri tempat duduknya," ujar beliau mempersilahkan kami.


"Terima kasih, Ma," jawab Riska. Ia datang menghampiri sang ibu, setelah itu ia memeluk beliau. Kemudian, diikuti Celvin yang hendak memberikan salam. Sudah tidak ada lagi dendam yang nampak di wajah mereka. Apa ini benar? Bak seperti mimpi setelah semua yang terjadi.


Nyonya Gunawan melepas pelukan Riska. Beliau menyambut Celvin dengan ramah seperti sang suami. Setelah itu, beliau menatap kami sembari berkata, "mari, Dek Arlan dan Nona Fanni."


"Ah, iya. Terima kasih, Mbak," jawab Mas Arlan. Aku hanya tersenyum canggung.


Mas Gunawan memberikan intruksi agar kami mengambil tempat untuk duduk dan siap bersantap. Di sebelah kiri meja, Mas Arlan menarikkan satu kursi untukku, kemudian satu kursi lagi untuk sang putri di tengah-tengah kami. Kami semua telah duduk di tempat masing-masing.


Namun, suasana macam apa ini? Hening sekali setelah penyambutan tadi. Mengapa aku semakin merasa aneh saja? Lalu, dimana Nyonya Dahlia dan kedua putrinya--Ajeng dan Diandra? Ingin sekali aku bertanya, namun nyaliku tidak cukup besar. Aku kembali berharap supaya tidak terjadi hal buruk apapun.


"Terima kasih karena kalian sudah bersedia datang. Mungkin, hal ini sangat memalukan bagi saya. Seorang pemimpin keluarga sekaligus perusahaan Harsono yang tidak cukup baik. Saya amat sangat malu, namun kalian tetap datang untuk menghargai saya," ujar Mas Gunawan. Beliau menunduk, bahkan tidak mengangkat kepala sedikit pun saat mengatakan hal tersebut.


"Jangan memikirkan masa lalu lagi, Mas. Bukannya kita sudah baikan sejak dulu? Tepatnya saat Mama meninggal dunia?" balas Mas Arlan.


Kali ini, Mas Gunawan memberanikan diri untuk menatap sang adik yang juga suamiku. "Kamu benar, Arlan. Tapi, saya masih sangat menyesal. Seandainya tidak termakan ego dan emosi, pasti hubungan kita semua masih baik-baik saja. Kalian tetap akan tinggal di rumah ini untuk menemani kami."


Mas Arlan tersenyum. "Ya sudah, lupakan dulu, Mas. Katanya mau makan malam, jadi mari kita mulai. Kami sudah lapar. Apalagi istri dan anakku hehe."


"Oh iya, silahkan tuang masing-masing. Ini acara utama kita. Habis ini akan ada lagi."


Kenapa gue? Ngelihatin banget kalau istrinya doyan makan, nyebelin!


Kesal sekali hatiku pada saat mendengar ucapan Mas Arlan yang menggunakan istrinya untuk memulai acara makan malam ini. Mentang-mentang memiliki istri yang gendut, seenaknya saja ia mengatakan hal itu. Meski aku tahu, bahwa ia hanya sekedar bercanda. Namun bagiku, tidak! Baiklah, lupakan. Aku tidak ingin mempermalukan diri disini.


Kutepis tangan Mas Arlan ketika ia hendak menuangkan nasi ke dalam piringku. Aku akan melakukannya sendiri supaya tidak mengambil terlalu banyak di piringku. Aku masih khawatir ia akan mengerjaiku lagi. Hal tersebut membuat Riska tersenyum geli secara diam-diam. Ah, sangat mengesalkan!


Sembari menyantap sendiri, aku juga memastikan Selli makan dengan lahap dan tetap rapih. Biasa, hal yang dilakukan oleh seorang ibu kepada sang putri. Semua orang sudah bersantap dengan beberapa kelakar seadanya dan terbilang tidak lucu.


Lantas, acara apa lagi setelah perjamuan ini? Apa yang dimaksud oleh Mas Gunawan?

__ADS_1


Bersambung ....


Please like+komen


__ADS_2