Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Respon


__ADS_3

Hari libur telah tiba. Pagi-pagi sekali ibuku meneleponku, beliau ingin aku pulang. Aku tidak tau akan ada acara apa hari ini. Hmm... padahal rasanya malas sekali. Ingin rasanya aku tidur seharian, namun ibuku terus menekankan agar aku datang.


Sebenarnya aku juga heran, mengapa aku sekeras kepala seperti ini. Anak macam apa aku? Seharusnya seorang anak akan merasa senang jikalau orang tuanya menginginkan ia pulang.


Bukan tidak rindu atau tidak sayang dengan keluargaku. Hanya saja, aku malas saja jika harus banyak gerak di hari minggu. Yah, kecuali gerak untuk shopping sih.


Drrrrttt.... drrrttt.... ddrrrrtt....


Ponselku yang masih bermode silent bergetar. Terpampang sebuah nama istimewa dari layarnya. Ibuku meneleponku lagi.


"Assalamu'alaikum mama," Sapaku.


"Wa'alaikumssalam sayang," Jawab beliau.


"Kenapa lagi ma?"


"Kamu belom berangkat kan?"


"Belom kok ma."


"Mama nitip buah-buahan ya sayang."


"Aahh mamaaa."


"Apa? Ngeluh dititipin orang tua?"


"Hmm... Ya deh buah apa aja?"


"Buah naga, nanas, melon, apel, mangga emm... satu lagi pear sama alpukat."


"Itu dua lagi ma bukan satu lagi. Kenapa nggak sekalian gerobak sama penjualnya juga? Banyak amat."


"Issh ya itu maksud mama. Kamu ada-ada aja, pokoknya harus dapet dan cepet jangan ngaret!"


"Emm... Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Benar saja, aku harus direpotkan dengan segala macam kerjaan nantinya. Entah akan ada acara apalagi sebenarnya sampai menitip buah sebanyak itu. Kebiasaan ibuku adalah tidak pernah menjelaskan secara detail yang pasti aku harus datang ketika beliau meminta.


Dengan malas akhirnya aku bersiap menuju rumah orang tuaku. Aku mengendarai mobil merahku dan mampir ke beberapa penjual buah. Aku membeli buah sesuai permintaan ibuku yang jumlahnya sudah ditulis dalam sebuah pesan.


Setelah dirasa cukup aku bergegas melanjutkan perjalanan lagi. Aku melesat cepat menerabas hiruk pikuk jalanan perkotaan. Tidak sampai dua belas menit sampailah di tempat tujuan.


"Ma?" Ujarku sembari melenggang masuk pada pintu yang sudah terbuka.


Tidak ada sahutan dari ibuku. Ruang depan tampak kosong. Rumah ini memang hanya satu lantai tempat tinggal. Namun, ayahku membuatnya lebih besar dan terdiri dari lima kamar serta beberapa ruangan yang masing-masing lumayan luas. Mungkin di lantai kedua hanya loteng tempat jemuran.


"Sini sini sayang," Celetuk ibuku tiba-tiba, beliau menghampiriku dan membantu membawa kantong-kantong buah.


"Iya ma, pada kemana emang?" Tanyaku.


"Papa sama kakakmu lagi keluar bareng."


"Kemana?"

__ADS_1


"Beli daging sapi."


"Haaah? Buat apaan?"


"Mama mau ngadain syukuran sayang."


"Buat apa?"


"Kan buat kamu, lagian kecil-kecilan doang kok. Nggak banyak yang dateng, paling Febi keluarga kita sama temen kamu."


"Haaah? Maksud mama apa sih?"


Duukk! Ibuku memukul gemas dahiku dengan sebuah buku resep makanan. Tatapan tajam beliau tujukan padaku.


"Kamu ini anak mama kan? Ada momen spesial malah nggak bilang-bilang orang tua Fanni! Semua hal yang bagus harus disyukuri, jangan diumpetin sendirian. Makanya mama pengen berbagi rezeki sedikit sama orang lain anak mama sedikit demi sedikit akan berhasil," Kata ibuku.


"Ma... maksud mama?"


"Anak nakal hmm.... Kamu udah naik posisi kan? Kenapa kamu nggak ngomong mama?"


"Ihh... Fanni kan kemaren belom setuju."


"Kenapa? Nggak Pede?"


"Mamaaa... kenapa harus seheboh ini juga sih sama aja kan Fanni masih bawahan orang ma."


"Itu rejeki dari Allah sayang, harus disyukuri. Kalau mampu kita juga wajib berbagi, biar terus lancar karir kamu untung-untung dapet jodoh apalagi berjodoh sama bos baru kamu hehe."


"Maamaaaa apaan sih."


Ada saja kelakuan orang tua satu ini. Inilah salah satu alasan mengapa aku masih belum memberitahukan ibuku dan keluargaku. Apalagi ibuku adalah seorang manusia yang sedikit ribet dan heboh.


Memang sih dalam hati kecilku, aku merasa bahagia diperhatikan sedemikian rupa. Namun, menurutku kalau sampai mengundang orang lain aku rasa sedikit berlebihan. Lagipula aku juga belum tau baik tidakkah dalam bekerja nanti.


"Bentar-bentar, emang mama tau dari siapa? Kan Fanni belom ngomong apa-apa," Tanyaku menyelidik saat menyadarinya.


"Nike, dua hari yang lalu mama nyari makan diluar sama papa terus ketemu keluarganya. Jadi gabung dalam satu meja terus ngobrol-ngobrol," Jelas ibuku.


"Acieee ceritanya ABG tua lagi kencan ya? Hehehe."


Ibuku merasa kesal mendengar kelakarku. Tampaknya beliau sedikit malu seperti tertangkap basah oleh putrinya. Rasanya menyenangkan jika menggoda orang tua. Hihi...


Kami berdua asyik memilah sayur, serta buah di dapur. Sesekali diselingi obrolan konyol seputar ibu dan anak. Sepertinya rasa malas beberapa saat yang lalu pun sirna karena suatu kehangatan yang terjadi.


"Nih daging sapinya ma," Kata Kak Pandhu yang tiba-tiba sudah datang. Ia membawa kantong ya berisi daging.


"Putriku udah disini ya," Sambung ayahku dari arah belakang. Beliau menghampiriku dan mencium keningku dengan penuh kasih sayang.


"Mau aja sih kalian disuruh mama," Kataku.


"Ehh harus nurut orang tua dek," Jawab Kak Pandhu.


"Entar banyak barang yang pecah sayang haha," Sahut ayahku.


"Iya sih mama kan bawel pa,kak."

__ADS_1


"Ssstttt... entar kena terkam macan kamu dek."


"Biarin nggak bakal denger kalo lagi asyik sendiri."


"Kakak yang bakal laporin."


"Ihh jangan bisa dijadiin tambahan rendang ntar aku."


"Makanya yang nurut."


"Iya iya anak mama."


"Hiii."


Kak Pandhu menyengir kecut mendengar ucapanku. Hubungan kami semakin membaik setelah hari ulang tahunku saat itu. Rasa canggung diantara kami juga berangsur pergi.


Saat ini kami terlihat seperti keluarga harmonis. Saling bekerja sama satu sama lain. Aku dan ibuku sibuk dengan bumbu dapur. Sedang Ayahku dan Kak Pandhu sedang mengiris daging.


"Emm... Febi tumben nggak dateng bareng kakak ma?" Tanyaku lagi pada ibuku.


"Dia lagi ada kerjaan ntar kesini sendiri katanya," Jawab beliau.


"Emang siapa aja yang dateng?"


"Temen kamu itu lho yang agak genit padahal cowok sama Nike sekaligus suami dan anak terus Febi dan temen SMA kamu si neneng. Emang kamu punya berapa temen sih Fann Fann."


"Anu... Mas Arlan nggak?"


Spontan ibuku menatapku tajam. Aku hanya bergidik, padahal aku pikir tidak ada yang salah dalam pertanyaanku.


"Nggak!" Tegas beliau.


"Ke... kenapa ma?"


"Mama takut dia tambah berharap sama kamu, mau bagaimanapun mama masih mikir-mikir kalo kamu deket sama seorang duda."


"Lho mama bukannya kalian ngasih kejutan buat aku barengan?"


"Yaaa itu kan dulu pas ngobrol pertama kali, mama keceplosan ngomong hari lahir kamu."


"Terus?"


"Sebenarnya dia yang bikin ide, Arlan dateng kesini sama Selli ngobrol sama Pandhu, Pandhu setuju dan yah, mama papa juga setuju. Toh, nggak ada yang salah dan semua buat kamu."


"Terus kenapa mama nggak ngundang dia lagi?"


"Kan udah mama bilang mama nggak mau ngasih terlalu banyak harapan ke Arlan. Mama takut kalian jatuh cinta, dia jauh berbeda umurnya sama kamu, seorang duda anak satu sayang. Apalagi orang berumah tangga itu nggak mudah, mama takut kamu mengalami hal yang sama seperti mantan istrinya kamu kan baru denger dari satu pihak."


Glupp!


Entah mengapa aku hanya bisa menelan ludah dengan ngilu. Meskipun aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Mas Arlan. Namun, jika dipikirkan lagi perkataan ibuku memang ada benarnya. Tidak baik jika memberikan harapan kosong pada Mas Arlan.


Memang aku belum tau pasti tentang perasaan Mas Arlan. Jika diingat lagi semua yang Mas Arlan berikan padaku pasti ada alasan tertentu. Bukan karena aku keGe-eRan dan merasa sok cantik, hanya was-was saja. Aku takut melakukan kesalahan yang bisa merenggangkan pertemanan kami.


Bersambung...

__ADS_1


Like+komen yaaa


__ADS_2