Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Wanita Sempurna


__ADS_3

Satu jam setelah awal dari waktu kerja dimulai, aku hendak diajak oleh Celvin ke suatu tempat. Dan kini aku telah berada didalam mobilnya yang dikemudikan oleh seorang sopir pribadi.


Rasanya agak aneh ketika menaiki sebuah mobil yang begitu mewah meski beberapa kali aku sudah mengalaminya dengan mobil milik mas Arlan. Ya! Mobil mas Arlan. Aku baru ingat sekarang. Meski tidak semewah mobil milik Celvin atau keluarga Sanjaya lainnya, tidak mungkin jika hanya seorang karyawan biasa mampu membeli kendaraan tersebut. Kecuali ia sudah menabung puluhan tahun.


Meski begitu, memangnya manusia mana yang mau membuang uangnya demi sebuah mobil. Apalagi pekerjaannya masih karyawan biasa.


"Kenapa Fann kok bengong gitu?" tanya Celvin padaku. Aku tersadar seketika dari lamunanku tentang mas Arlan.


"Nggak kok Pak hehe," jawabku.


"Yakin?"


"Iya Pak, sangat yakin."


"Jangan kayak yang dulu-dulu lho."


"Maksud Bapak?"


"Pas meeting berdua kamu kan nahan hahaha."


"Ya ampun Pak, masih diinget aja sih."


"Makanya jangan diumpetin lagi kalau ada apa-apa hehe."


"Iya Pak iya, terus kita mau kemana Pak?"


"Ketemu klien Fann, dia bukan orang sembarangan."


"Begitu ya."


"Nggak usah gelisah, tenang aja saya cuman minta kamu bawa beberapa berkas doang terus jaga-jaga kalau ada apa-apa, maaf ya Fann kesannya kayak manfaatin kamu."


"Nggak apa-apa kok Pak, kan sudah tugas saya."


"Makasih ya, ini pertama kalinya saya megang perusahaan Papa, saya belum bekerja dengan maksimal terus pertama kali juga kerja sama perempuan."


"Owalah."


"Jadi kalau saya ada sedikit kesalahan tolong maklumi ya."


"Iya Pak, selalu."


Mobil Celvin dimana aku dan dirinya serta sang sopir berada, terus melaju diatas aspal kota yang sudah berjuluk "Metropolitan" ini. Aku masih belum tau tujuan pasti yang akan dituju. Aku hanya terdiam dengan pikiran yang masih berisi tentang mas Arlan.


Aku sangat penasaran. Belum lagi ingatanku menunjukkan kalung mahal yang diberikan mas Arlan kala itu. Rasanya tidak wajar, mungkinkah mas Arlan juga seorang milyarder seperti keluarga Sanjaya?


Jika iya, mengapa pemberitaan tentang mas Arlan sama sekali tidak muncul di media manapun? Jika mas Arlan benar orang kaya, mengapa namanya pun tidak muncul dalam deretan pengusaha terkaya di Indonesia?


Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus bermunculan dari dalam benak dan hatiku. Sampai akhirnya mobil milik Celvin yang kami tumpangi pun berhenti disebuah gedung restoran yang mewah pula.


"Ayo Fann," ajak Celvin padaku.


"Baik Pak," jawabku.


Aku mengikuti kearah mana kaki Celvin melangkah. Jujur saja, aku masih minder melakukan hal ini. Aku takut menimbulkan rasa malu untuk Celvin. Mau bagaimana pun, aku memang belum cocok sama sekali jika bersanding dengan Celvin sebagai sekretarisnya.


Tampaknya Celvin sudah memesan exsecutive room di restoran ini. Sebuah ruang pribadi, dimana seorang pengusaha atau bos perusahaan melakukan pertemuan dengan klien atau orang penting lainnya.


"Sebelah sana ya Fann," kata Celvin lagi.


"I-iya Pak," jawabku gugup.


Ya, kuakui memang ini pertama kalinya aku datang ke tempat sebagus ini. Meski aku memiliki darah blasteran, keluargaku tidak sekaya Celvin. Seperti penilaian orang awam dari segi ras yang dimiliki setiap orang-orang bule. Buktinya saja sekarang aku sedang bekerja dibawah peraturan dan pengawasan Celvin sebagai atasanku.


Di salah satu ruang yang telah dipesan, Celvin menghentikan langkahku sejenak. Kemudian mengajakku masuk kedalamnya.


Sejenak pula, aku tertegun kala Celvin menggerakkan tangannya untuk merapikan dasi dan blazer yang ia kenakan. Penampakan ini tidak pernah aku lihat sebelumnya.


"Selamat pagi Nona Riska," ujar Celvin kepada wanita yang sedang duduk anggun sembari menunggu kedatangannya.


Wanita tersebut tersenyum ramah kepada kami. Aku terperanjat hebat. Ia cantiknya bukan main, jauh lebih cantik jika dibandingkan denganku. Bahkan Mita saja kalah.


Tubuhnya tinggi semampai hampir sama dengan Celvin, bibirnya mungil namun sensual, kulitnya putih bersih dan rambut panjang terurai dengan ujung yang bergelombang. Wanita yang menurutku luar biasa sempurna. Ia benar-benar seperti boneka barbie yang bernyawa manusia.


"Silahkan masuk Tuan Celvin," pintanya kemudian dengan suara yang terdengar serak-serak basah. Mungkin bisa terdengar menggairahkan di telinga pria mana pun.


"Terimakasih," jawab Celvin disertai senyuman yang menawan.


Aku hanya diam terpaku diambang pintu, melihat dua insan yang sedang duduk di bangku yang sama. Seorang pangeran gagah dan tampan bersama seorang putri yang berparas cantik menawan. Mereka terlihat seperti sebuah lukisan indah sepasang kekasih dalam negeri dongeng.


Nyaliku menciut seketika. Untuk sekedar mengikuti langkah Celvin pun aku tak kuasa. Aku sadar aku siapa. Aku juga mulai sadar jika Celvin merapikan baju untuk bertemu dengan wanita yang bernama "Riska" tersebut.


"Fanni kamu mau kemana?" tanya Celvin sesaat sebelum aku ingin melangkah pergi.


"A-anu Pak, saya mau kedepan saja," jawabku gugup.


"Lho kenapa?" tanya Riska padaku juga.


"Karna tidak ada orang lain, jadi saya ke room yang ekonomi saja, deket dari sini kok... terus supaya Pak Celvin sama Ibu Riska bisa bicara dengan tenang dan fokus."


"Hihihi... Sekretaris kamu ya Vin? Lucu ya? Aku nggak merasa terganggu kok, terus jangan panggil aku Bu dong, aku masih muda."


"Iya Non... saya permisi dulu."


Aku meninggalkan Celvin dan Riska hanya berdua saja. Aku akui dadaku terasa sesak sekali. Hatiku terasa perih. Beginikah rasanya perasaan suka yang tidak disambut? Lalu apa yang aku lakukan pada mas Arlan? Aku rasa sakit hati yang dirasakan oleh mas Arlan padaku jauh lebih besar dari ini.


Mengapa juga aku harus bersikap sok cantik dalam balutan lemak yang menumpuk pada tubuhku?

__ADS_1


Aku duduk sendirian di meja biasa yang sering digunakan pengunjung pada umumnya. Lidahku kelu sekali. Mungkin inilah jawaban dari Tuhan sang pencipta alam. Tuhan memberitahuku bahwa Celvin memang tidak pantas untukku. Seolah-olah ada bisikan yang berkata bahwa aku harus tau diri lebih dari ini.


Memangnya lelaki seperti Celvin mau bersamaku? Nyatanya tidak karena ini bukan drama korea atau sinetron Indonesia. Ini hanya kehaluan semata.


"Mau pesan apa mbak?" tanya seorang pelayan padaku sembari menyodorkan buku menu.


Aku mengangguk lalu melihat-lihat menu yang tertulis dalam buku tersebut.


'Gilak!' batinku, harganya selangit walau hanya untuk segelas kopi saja.


Level pengusaha memang luar biasa tinggi. Satu gelas kopi harganya melebihi satu porsi makanan pokokku. Karena sudah malu, dengan terpaksa aku memesan satu cangkir coffe latte dengan ucapan mengaduh berkali-kali dari dalam hati.


Aku menyerahkan kembali buku tersebut kepada pelayan. Dan ia membawanya kearah dapur. Mungkin untuk menyajikan pesanan yang aku inginkan.


"Fanni ya?" tanya seorang pria dengan setelan jas hitam, dasi serta kemeja bergaris.


"Siapa?" tanyaku kembali, aku keheranan karena tidak mengetahui siapa pria tersebut.


"Kenalin saya Ivan, asisten pribadi Nona Riska," jawabnya memperkenalkan dirinya padaku.


"Ya aku Fanni, salam kenal."


Seorang pelayan yang sama seperti sebelumnya datang membawa secangkir coffe latte padaku. Sebelum ia pergi aku ucapkan terimakasih padanya dengan balasan senyuman begitu ramah.


Ivan menatap tajam kearah jendela kaca besar memanjang yang terpasang pada exsecutive room, dimana Celvin dan Riska berada. Ya! Mereka terlihat oleh mata kami dari tempat kami berada.


"Kenapa ngeliatinnya begitu amat Van?" tanyaku mencoba mengorek apa maksud tatapan Ivan kepada mereka.


"Kenapa kamu sendiri lesu disini tanpa mau bergabung dengan mereka?" tanya Ivan kembali.


"Karna aku nggak mau ganggu."


"Yakin itu aja?"


"Apa urusanmu menanyakan itu?"


"Jangan terlalu baku Fann, panggil loe gue aja kayak orang biasanya."


"Oke, apa urusan loe nanyain itu sama gue?"


"Gue tau loe tertarik sama Pak Celvin."


"Ya wanita manapun pasti tertarik, bukan gue aja Van."


"Ya, kita sebagai orang bawah memang nggak pantas bersanding dengan mereka."


Aku tertegun mendengar perkataan yang diucapkan Ivan tanpa ragu-ragu. Sorot matanya pun tidak lepas dari keberadaan Celvin dan Riska. Aku tau ekspresi itu, aku tau apa yang dirasakan Ivan.


Ia sama sepertiku. Ivan juga telah jatuh cinta kepada Riska. Aku mengamati parasnya kembali, Ivan cukup manis dengan kulit sawo matangnya. Meski ia tidak semanis mas Arlan, menurutku wajahnya tidak membosankan.


"Udahlah stop lirik-lirik orang lain," kataku dengan maksud menghentikan tatapan mata Ivan yang terus mengarah ke tempat yang sama.


"Emangnya siapa loe? Sampai berani punya perasaan itu."


"Loe sendiri juga siapa punya keberanian itu?"


"Gue punya pacar kok, walaupun nggak sesempurna Pak Celvin, dia cukup baik bagi gue, perasaan gue buat Pak Celvin hanya kagum semata reaksi normal yang kebanyakan cewek rasain."


Ivan menolehku dengan rasa terkejutnya. Aku tau mungkin ia pikir, wanita sepertiku tidak pantas mendapatkan seorang kekasih. Aku sangat jauh jika dibandingkan dengan Riska yang Ivan sukai.


Aku juga tau bahwa baru saja aku menyangkal perasaanku sendiri. Sebenarnya memang terasa sakit dalam hati melihat Celvin bersama Riska. Namun, aku terus berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa inilah jawaban Tuhan yang paling tepat.


"Mau kopi?" tanyaku untuk menyadarkan Ivan dari tatapannya padaku.


"No, thanks," jawabnya.


"Oke."


"Fann?"


"Ya."


"Cariin gue pacar dong?"


"Haaah? Ngelawak? Kenal juga baru aja."


"Ya nggak masalah kan? Siapa tau loe punya temen yang bisa nerima gue apa adanya."


"Nggak ada."


"Judesnya."


"Bodo'."


"By the way, loe blasteran mana?"


"Belanda."


"Pantes."


"Kenapa?"


"Mata loe biru, hidung loe kayak prosotan anak paud."


"Hahaha."


Aku spontan terkekeh mendengar gurauan yang dilontarkan oleh Ivan. Ia pun melanjutkan dengan beberapa lawakan lainnya. Tidak buruk juga. Setidaknya mengobati perasaan kami untuk sementara waktu.

__ADS_1


Aku meneguk coffe latte yang berangsur habis. Rasanya sayang sekali, harusnya kubungkus saja dan kusimpan rapat dalam kulkas dalam waktu yang lama. Agar awet, aku pasti tidak mungkin juga membelinya lagi.


"Fann?" ujar Ivan.


"Ya," jawabku singkat.


"Cowok loe, orang kayak gimana?"


"Baik, sangat baik."


"Loe beneran sayang sama dia?"


"Kenapa kepo banget sih jadi orang?"


"Pengen tau aja, soalnya mimik muka loe sedih liat Pak Celvin sama Riska."


"Gue sedang berusaha menjalin hubungan yang baik sama pacar gue, sekali lagi, perasaan gue sama Celvin cuman sekedar kagum."


Ivan diam. Ia mungkin enggan bertanya lebih jauh lagi. Ia kembali menatap keberadaan Riska. Aku lihat Ivan tampak menelan ludah kelunya beberapa kali. Tak bisa dipungkiri rasanya memang perih sekali.


"Cari cewek sana yang lain," ujarku padanya.


"Nggak ada yang mau," jawabnya.


"Tau dari mana? Emang udah nyoba?"


"Belum sih, tapi gue masih pengen ada disamping Nona Riska sampai dia menikah nanti."


"Dasar bucin akut."


"Apaan?"


"Budak cinta akut."


"Hahaha... ternyata alay juga ya."


"Mungkin."


"Loe sebenarnya cantik lho."


"Masa'?"


"He'em... menurut gue, loe termasuk cantik kok."


"Gue gemuk."


"Nggak parah-parah amat kok, udah nyoba diet?"


"Gagal, malah sakit."


"Nggak usah lagi, gue saranin loe lebih percaya diri aja, dari tadi gue liat loe ngobrol sambil nunduk padahal loe cantik bule banget. Gue nggak tau sih soal hidup loe, tapi jangan suka ngerasa minder secara terus-menerus."


"Thanks Van, gue usahain."


Aku terkesima dengan nasehat yang diberikan Ivan padaku. Aku pikir ia tak jauh berbeda dengan Anton waktu itu. Ia tampak supel dan ramah. Dan aku mendapat pujian cantik untuk kedua kalinya dari pria selain mas Arlan. Memang sih Celvin pernah mengatakan manis padaku.


Namun, sampai sekarang aku tidak tau apa maksud dari kata tersebut.


Tak terasa dua jam berlalu, Celvin terlihat sudah menyelesaikan pembicaraannya. Mereka keluar dari executive room secara bersamaan dengan senyuman yang terus dilemparkan satu sama lain.


"Fann berkas yang saya minta dibawa kan?" tanya Celvin padaku.


"Bawa kok Pak," jawabku.


Dengan sedikit terburu-buru aku membuka map yang telah aku bawa sejak tadi. Aku mencari keberadaan berkas yang dipinta oleh Celvin. Lalu akan menyerahkan padanya setelah kutemukan.


"Ini Pak," kataku sembari menyerahkan berkas tersebut.


"Makasih ya Fann," jawabnya.


"Sama-sama Pak."


Celvin memeriksa terlebih dahulu berkas tersebut. Kemudian menyerahkannya pada Ivan.


"Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik kedepannya ya Ris," kata Celvin dengan gaya bahasa lebih santai pada Riska.


"Thanks Vin, semoga ya," jawab Riska.


"Kalau ada sesuatu yang penting, kamu calling aku ya Ris."


"Hehe... bisa diatur Vin."


"Aku pamit dulu."


"Hati-hati Vin."


"Kamu juga, ayo Fann."


Sebelum beranjak pergi mengikuti langkah Celvin, aku menatap raut wajah Ivan secara sekilas. Ia menunduk dengan ekspresi datar. Aku memang merasa sakit di hati, namun tampaknya Ivan merasakan lebih dari diriku.


Celvin mempersilahkan aku masuk kembali ke dalam mobilnya. Disusul oleh dirinya, kemudian sopir pribadi. Mobil perlahan bergerak meninggalkan restoran mewah tersebut. Kami kembali ke kantor.


Di sepanjang perjalanan aku tidak bisa berkata apapun lagi. Lidahku semakin kelu tatkala duduk bersebelahan dengan Celvin. Aku sedikit kesal, mengapa ia tidak duduk saja di jok depan. Ia juga melarangku duduk didepan dengan alasan ingin merundingkan sebuah pekerjaan.


Mengapa Celvin terus menerus menyulitkan hatiku? Atau hanya aku saja yang terbelenggu perasaan suka. Tidak! Maksudku perasaan kagumku padanya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa budayakan tradisi like dan komennya...


Gratis lho!


__ADS_2