Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Korban Bullying


__ADS_3

Aktivitas Arlan masih tetap sama yaitu menjadi seorang direktur dari PT naungan Sanjaya Group. Setiap pagi, ia berangkat sembari mengantarkan Selli untuk bersekolah dan Fanni menuju salon sebelum berangkat ke kantornya sendiri. Kendaraan yang dipakai sesuai jadwal, antara mobil miliknya ataupun milik Fanni.


Seperti pagi ini, selepas bersarapan bersama dan sudah siap, mereka segera bergegas. Sangat pagi sekali, karena harus mengantarkan Selli terlebih dahulu. Hirup pikuk keramaian kota sudah berlangsung. Kendaraan pun saling bergabung satu sama lain membentuk suatu kemacetan yang sering terjadi di beberapa titik jalan.


"Kapan sih, bebas macet?" gumam Fanni.


"Nanti kalau lebaran," jawab Arlan, pun meski pertanyaan itu tidak ditujukan kepada dirinya.


Fanni menatap wajah suaminya itu. "Kok gitu, Mas?"


"Mas juga enggak tahu. Tapi kalau lebaran suka kayak gitu, mungkin banyak karyawan yang mudik. Malahan, sering buat selfie gegara terlalu sepi."


"Aku malah enggak ngeh soal itu, Mas."


"Kamu mah enggak pedulian orangnya."


"Ada banyak hal yang lebih penting buat dipeduliin, Mas."


"Tapi kalau macet ngeluh?"


"Y-ya kalau itu kan wajar!"


"Hmm ... iya deh iya."


Fanni tersenyum. Ia selalu merasa puas ketika sang suami berkenan mengalah dalam berdebat. Menandakan bahwa suaminya itu sangat menghargai dirinya. Namun, meski begitu, Arlan selalu memperbaiki jika istrinya berbuat kesalahan. Ada banyak hal yang terkadang membuat mereka berbeda pikiran, tak jarang membuat Fanni benar-benar kesal, marah, dan ngambek--itulah senjata andalan milik wanita. Jika sudah seperti itu, Arlan kerap kali menggodanya, sampai sang istri benar-benar sembuh dari ngambek-nya itu.


Kemudian, Arlan membelokkan mobilnya sesuai arah sekolah Selli. Di sana, anak-anao berseragam merah dan putih sudah terlihat berlarian. Ada pula yang sudah asyik jajan. Anak-anak polos yang belum mengalami masalah berat sekali pun, mungkin PR matematika yang masih menjadi momok menakutkan. Andai waktu bisa diputar kembali, setiap orang pasti ingin kembali masa-masa ini.


"Ayo, Papa anter. Game-nya udahan, ya?" ujar Arlan kepada putri pertamanya yang sedari tadi sibuk bermain game masak-masakan.


Selli menyerahkan ponsel itu kepada sang ayah. Ia mengangguk, kemudian turun melalui pintu yang terbilang aman dari ancaman kendaraan yang lewat. Tidak hanya Selli dan Arlan, juga Fanni yang sibuk memangku Sella. Keempat orang itu sekarang berada di luar kendaraan yang mereka tumpangi.


"Mama, Papa, Selli sekolah dulu, ya? Dede' Sella jangan rewel." Selli mengecup punggung telapak tangan orang tuanya. Kemudian, meminta sang ibu untuk sedikit merunduk agar ia bisa mengecup pipi gembul milik Sella.


Fanni memberikan belaian halus di kepala Selli. "Sekolah yang pinter ya, Kak. Nanti pulang sekolah Mama jemput pake mobil Tante Mita, bobo' di sana aja sambil jagain Dede'," ujarnya kepada sang putri sambung.


"Iya, Mama! Selli mau banget!" Anak itu begitu antusias. Mungkin jika bersama Bi Onah saja, ia merasa sangat kesepian. Bersyukur, sesibuk apa pun Fanni, ia tetap memikirkan putri-putrinya.


"Ya udah. Yuk, Papa anter masuk," sela Arlan.


"Oke, Papa!"


Ayah dan anak itu meninggalkan Fanni bersama Sella. Sehingga, Fanni memilih untuk kembali ke dalam mobil milik suaminya. Ia mendudukkan Sella dengan posisi yang berhadapan dengannya. Anak balita itu tersenyum sembari berceloteh dengan kata yang belum jelas kecuali mama dan papa. Fanni bercanda layaknya seorang ibu kepada bayinya sembari menunggu sang suami datang kembali.


Hingga tak lama kemudian, Arlan kembali datang. Setelah itu ia masuk dan mulai menyalakan mobilnya lagi. Mobil itu dilajunya menuju tempat kerja kedua yaitu salon milik Fanni. Masih banyak waktu sebelum kantornya benar-benar mulai beroperasi. Ia berniat ingin singgah sementara waktu di salon itu. Untung-untung bisa lebih lama dalam menatap wajah istri dan anaknya.


"Ngomong-ngomong, kamu enggak capek nih ngurus dua anak sambil kerja, Dek? Selli kan bisa di rumah sama Bi Onah," ujar Arlan. Apa yang dikatakan itu memang sempat mengganjal pikirannya, tepat saat Fanni mengatakan akan menjemput Selli.


Sang istri menggeleng, tatapannya tidak berpaling dari wajah Sella sekali pun. Namun ia tetap berkata, "Enggak, Mas. Aku kan udah bilang belom rame. Jadi enggak capeklah. Lagian, Selli pernah bilang sama kita, Mas. Kita ini sibuk kerja dan kerja, dia kesepian. Aku enggak mau dia ngerasa begitu lagi. Anak seumur Selli masih sangat butuh perhatian."


"Hmm ... iya sih, Dek. Seandainya bisa kerja bawa anak, pasti Mas bawa. Tapi keadaan kantor kan begitu, apa lagi Mas direkturnya. Banyak meeting yang harus dihadiri. Kalau Mas bawa Selli, dia bakalan lebih kesepian."


Fanni tersenyum, ia menatap wajah Arlan dan membelai pundak suaminya itu. "Enggak apa-apa, Mas. Urusan anak biar aku aja."

__ADS_1


"Bukannya kamu ngerasa enggak enak sama Mita, Dek?"


Fanni menarik tangannya. Ia hanya menatap jalan di hadapannya, setelah mengubah posisi Sella mengarah ke depan sana. "Mita juga seorang istri, pasti dia paham kok. Misal ngerasa keberatan, ya aku mundur aja, Mas. Anak itu lebih penting. Tapi, aku tetep berharap enggak begitu, modal aku juga udah keluar banyak. Aku sabarin dulu, nyampe bisa ramai, terus beli tempat sendiri dan punya karyawan."


"Amin. Mas selalu dukung kamu, Sayang. Tapi ya tetep, jaga kesehatan dan jangan terlalu capek. Kita enggak hidup sendiri, Dek. Mama kamu juga sempet telepon Mas dan bilang begitu, sekali-kali nitip anak-anak enggak apa-apa kata beliau."


"Aku cuma enggak enak sama keluarga, Mas. Kita aja jarang pulang, jarang bantuin toko, mana bisa seenaknya nitip anak."


"Iya sih, Mas paham dan juga ngerasa kayak gitu. Tapi ... kamu kan juga tahu sifat mama kamu, beliau bakal lebih marah kalau enggak diturutin meski sekali aja. Anak-anak kan juga cucu mereka."


Fanni menghela napas dalam, lalu ia hembuskan kembali. "Nanti aku pikirin, Mas. Mungkin dijadwal aja. Jangan tiap hari, enggak enak juga sama Kak Febi."


Arlan mengangguk pelan. Sedangkan tangannya masih sibuk memegang kendali setir. Ia berbelok ke kanan ke arah salon milik Fanni dan Mita berada.


Namun tiba-tiba seseorang menyeberang tanpa melihat kanan dan kiri. Secara spontan Arlan melakukan rem mendadak. Beruntung, Fanni masih bisa melindungi kepala Sella dari dasbor mobil. Meski begitu, anak balita nan cantik itu tetap menangis sekencang-kencangnya karena terkejut.


"Gila tuh orang!" Arlan naik pitam, merasa kesal atas sikap orang tadi. Sepertinya, orang itu terjatuh di depan mobilnya meski tidak sampai ditabrak olehnya.


Arlan dan Fanni turun dari mobil, ingin melihat kondisi orang tersebut. Tentu saja, dengan kondisi badan yang bergetar hebat karena syok dan juga takut jika terjadi sesuatu yang buruk. Belum lagi Sella yang masih menangis.


"Punya mata enggak sih?!" tanya tegas Arlan kepada orang tersebut.


Seorang siswi SMA terduduk lemas di hadapan mobil Arlan. Napasnya tersenggal-senggal. Badannya yang gemuk terlihat jelas sangat gemetar. Hal itu membuat Fanni justru bersimpati. Ia menangkap sebuah luka lebam pada lengan gadis itu. Benaknya langsung mengingat tentang masa lalu.


"Mas, tenang. Jangan marah, ini kayaknya anak punya masalah ...," bisik Fanni kepada sang suami.


"Tapi dia--" Ucapan Arlan dipotong oleh Fanni begitu saja dengan gerak tangannya yang sigap menutup bibir sang suami.


Kemudian, Fanni menitipkan Sella kepada Arlan. Sedangkan ia sendiri menghampiri gadis itu. Sebelum memberikan sapaan, ia kembali mengamati gadis itu dengan seksama. Tubuhnya lebih besar daripada dirinya, bisa jadi hampir 90 atau bahkan 100 kilogram. Luka lebam yang masih berwarna merah terdapat di lengan dan kaki, yang Fanni tangkap ada tiga buah.


"M-maaf, m-maaf," jawab gadis itu tergagap-gagap. Ia merasa takut jika Arlan melaporkannya ke kantor polisi karena tidak mentaati peraturan lalu lintas.


"Iya, kami memaafkan. Kamu terluka, Dek. Ayo ke rumah sakit."


"E-enggak usah, Tante."


"Mau ke sekolah?"


Gadis itu masih diam. Ia tidak menjawab perihal sekolah, ia memilih berusaha berdiri meski rasa lemas belum kunjung hilang.


"Siapa nama kamu?" tanya Fanni lagi. Ia masih berupaya membujuk agar gadis itu bersedia dibantu.


Namun, ia tetap bungkam. Ia berbalik tanpa menatap Fanni sama sekali. Ia berjalan tertatih-tatih, karena tambahan luka di lutut yang mengeluarkan cairan aspal akibat gesekan dengan aspal.


"Kalau kamu enggak ikut kami, justru menyulitkan kami, Nak! Kami bisa dikira sebagai pelaku tabrak lari," timpal Arlan. Pun meski hatinya masih kesal, ada rasa iba juga di dalamnya.


Gadis SMA itu spontan berhenti, ia menoleh ke arah Fanni dan Arlan, juga Sella. "I-iyakah?" tanyanya kemudian.


Arlan mengangguk pelan. "Ya, masuk aja dulu. Kalau enggak mau ke rumah sakit, ikut kami, kami akan obati lukanya."


"T-tapi, Om. S-saya enggak apa-apa."


"Jangan keras kepala, dan semakin menyusahkan orang. Ikut saja!"

__ADS_1


Fanni menepuk lengan Arlan karena nada bicara suaminya itu justru membuat gadis itu ketakutan. Arlan hanya meringis kesakitan karena lumayan keras juga tepukan dari istrinya. Kemudian, Fanni menghampiri gadis SMA yang belum diketahui namanya sama sekali. Ia begitu lembut penuh dengan kasih sayang. Membayangkan dirinya sendiri yang dulu semurung itu.


Anak ini pasti korban bully.


Fanni yakin atas dugaannya tersebut. Namun ia tidak lantas menanyakannya secara langsung. Ia membantu gadis SMA itu terlebih dahulu, sisanya mungkin nanti. Syukur-syukur kalau bisa membantu. Setelah gadis itu masuk ke dalam mobil Arlan, Arlan dan Fanni pun mengikutinya. Fanni tetap di depan, di samping Arlan karena ia malu jika tempat duduk di belakang tidak muat, karena sama-sama memiliki badan besar.


Arlan kembali melaju mobilnya.


"Siapa nama kamu, Dek?" tanya Fanni sembari menoleh ke belakang. Sedangkan tangannya sudah kembali sibuk dengan Sela.


Gadis SMA itu menatap Fanni dengan ragu-ragu. "S-saya Jelita, b-biasa dipanggil jeli," jawabnya.


Fanni terkejut. Nama Jelita sudah sangat bagus, mengapa pula harus Jeli? Entahlah, itu masih menjadi rahasia Jelita. "Kami panggil kamu dengan nama Lita, gimana?"


"I-itu terlalu bagus buat saya, Tante."


"Enggak masalah, selama hati kamu juga baik."


Fanni kembali menatap jalan. Sedangkan Lita hanya terdiam, tetapi hatinya berdesir-desir tidak karuan. Baru kali ini ada orang yang yang tidak memanggilnya dengan sebutan 'Jeli', tetapi 'Lita'. Apa ia pantas mendapatkan nama itu? Memiliki nama Jelita saja sudah sangat memalukan baginya. Tubuhnya besar sekali, tidak seperti namanya yang memiliki arti cantik. Bahkan, nama Jeli digunakan karena bentuk tubuhnya yang penuh gelambir lemak mirip sebuah jeli yang kenyal. Dan itu dari teman-teman sekelasnya.


Ya, memang benar ia adalah korban bullying. Salah satu siswa dari sekolah ternama, keluarganya kaya, merupakan pengusaha di bidang makanan. Bukan hanya di sekolah ia mendapatkan perlakukan tidak baik, juga di dalam keluarganya. Sama seperti Fanni, hidupnya di masa remaja penuh derita akibat fisik yang tidak secantik mereka.


Mungkin, jika ia tidak bersekolah di sekolah elit itu, ia bisa berbaur dengan siswa biasa. Namun keluarganya sangat mementingkan kehormatan. Terlebih sang nenek yang masih memegang kendali keluarganya, ia harus sekolah di tempat yang bagus. Namun yang namanya bagus tidak selamanya bagus. Tentu saja, teman-temannya dari golongan atas yang luar biasa. Cantik, kaya dan mungkin pintar. Berisi geng-geng nakal yang gemar mendiskriminasi teman.


Jelita Aksa Kusama Dewi, nama yang indah untuk anak yang tidak cantik seperti dirinya. Ia tidak menyukai nama itu sama sekali.


Sementara itu, mobil Arlan sudah sampai di pelataran ruko salon milik Fanni dengan Mita. Mereka semua turun. Tampak, Mita sudah berkacak pinggang di depan pintu kaca salon itu.


"Gue menang!" ujar Mita dengan penuh kebanggaan. Karena kali ini ia yang datang lebih awal.


"Masa bodoh deh," balas Fanni.


"Asem loe, Fann." Kemudian, mata Mita tertuju pada sosok Jelita. Ia mengernyitkan dahi karena heran. Kemudian, menuruni tangga ruko yang hanya berjumlah tiga. "Anak kalian yang hilang?" celetuknya khas karakternya yang blak-blakan, bahkan sembari menunjuk ke arah jelita.


"Eh! Yang sopan, tunjuk-tunjuk macam preman loe!" Sembari memberikan penegasan kepada partner kerjanya itu, Fanni mengajak Jelita untuk masuk ke dalam salon. Juga Arlan yang tidak mau ketinggalan.


Jelita dipersilahkan duduk oleh Fanni di salah satu kursi salon itu. Setelah itu, ia bergegas mengambil kota P3K yang wajib ada di mana pun berada.


"Kenapa, Bang?" tanya Mita kepada Arlan.


Arlan menggeleng. "Enggak tahu, Mit. Tadi hampir ketabrak saya sih, alhamdulillah enggak nyampe," jawabnya.


Mita mengalihkan pandangannya kepada Jelita. "Siapa nama loe, Dek?"


"J-jelita, Kak," jawab gadis itu. Di dalam hatinya, ia sangat mengagumi paras dan fisik Mita yang indah, bak seorang model kelas dunia. Mita luar biasa cantik. Andaikan aku bisa jadi seperti itu, batinnya.


Kemudian, Fanni muncul dengan kotak obat-obatan itu. Ia berjongkok di hadapan Jelita, sehingga membuat gadis itu terkejut serta tidak enak hati. "S-saya bisa sendiri kok, Tante."


Fanni menggeleng. "Kamu enggak bakalan bisa. Jadi diem aja, saya obatin lebam-lebamnya juga."


Jelita pasrah. Entah mengapa, sosok Fanni adalah sosok yang tidak bisa ia lawan. Dengan meringis kesakitan, ia membiarkan Fanni tetap mengobati lukanya. Namun, ia justru salah fokus dengan hidung Fanni yang luar biasa mancung. Ketika wanita beranak dua itu menatapnya, ia menangkap sorot mata berwarna biru keabu-abuan yang penuh ketulusan.


Tante ini cantik sekali, seperti barbie. Agak gemuk, tapi cantik banget, batinnya.

__ADS_1


****


__ADS_2