Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Tidak Tahu


__ADS_3

Sampai akhirnya, bisa dikatakan, aku hampir sama sekali tidak bekerja. Fokusku benar-benar hilang. Belum lagi Celvin, terus meneriakkan sesuatu karena penyesalannya. Aku pun tidak bisa marah kepadanya, lantaran semua sudah terjadi. Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi, kecuali menjalani. Sebagai seorang tangan kanan dan teman, aku perlu menenangkan hatinya. Berharap Riska tidak benar-benar mengandung diluar pernikahan.


Tidak ada yang bisa kulalukan kecuali berdo'a dan mendukung seperti itu. Karena pada dasarnya, hal ini tidak ada hubungannya dengan diriku. Melainkan keluarga suamiku. Aku hanya tidak ingin ada perpecahan yang semakin besar.


Langkahku begitu gontai, menyusuri lantai. Lagi-lagi, aku pulang paling akhir. Namun, bukan karena lembur melainkan menenangkan Celvin yang masih merasa tidak karuan. Sampai akhirnya, ia menyuruhku untuk pulang lebih dulu. Semoga saja, Celvin dan Riska segera mendapat jalan keluar yang baik. Meski nantinya tidak terjadi kehamilan, menurutku Celvin harus tetap bertanggung jawab. Lantaran, ia yang sudah merusak mahkota berharga milik wanita cantik itu.


Kulihat mobil hitam tidak asing berada di seberang gedung ini. Siapa lagi kalau bukan suamiku tersayang. Aku menata perasaanku terlebih dahulu. Kulukiskan senyuman sedikit demi sedikit. Supaya tidak membuatnya khawatir. Lantas, aku segera menyeberang jalan dan menghampirinya.


Mas Arlan membuka jendela mobilnya. Ia menatapku dengan senyuman yang begitu manis. Kemudian membukakan pintu untukku dari dalam. "Makasih Mas," ujarku sembari bergerak masuk.


"Sama-sama, sayang. Lembur ya? Lama banget?" tanyanya.


"Emm... i-iya Mas."


"Hmm... capek pasti kamu, Dek."


"Nggak kok, lagian kerjanya juga duduk doang."


"Tetep aja."


Cup! Sebuah kecupan manis, ia jatuhkan di keningku. Aku pun tersenyum. Kemudian Mas Arlan mulai melaju mobilnya untuk meninggalkan gedung kantor perusahaan ini.


Waktu memang sudah semakin sore. Tidak mendung, tidak juga hujan di hari ini. Warna jingga yang indah sedang memperindah langit diujung barat, bersama mentari yang tengah menenggelamkan dirinya. Suasana yang hangat menjelang petang. Namun, harus tercoreng dengan kemacetan di beberapa titik jalan. Bising sekali. Seolah mampu memperberat keletihan yang melekat di diri kami.


Dibalik itu, benakku masih diselimuti rasa sendu. Yah, mau bagaimanapun, Celvin tetap orang penting yang mempengaruhi hidupku menuju lebih baik. Tidak mungkin, jika aku tidak ikut merasakan apa-apa. Satu sisi, aku perlu membungkam mulutku. Disisi lain, aku harus menyembunyikan masalah yang cukup pelik dan itu berhubungan dengan suamiku. Berada diantara dua pihak berseteru itu, membuatku sangat tidak nyaman.


"Dek?" ujar Mas Arlan. "Kamu kenapa? Kok diem?"


"A-aku nggak apa-apa kok, Mas," jawabku tergagap karena terkejut.


"Yang bener?"


"Iya sayang. Mungkin agak pening."


"Pening? Kamu capek banget ya?"


"Enggak sayang. Efek jenuh dan ngantuk aja."


"Hmm... Mas nggak tega liat kamu begini."


"Apaan sih? Jangan berlebihan Mas. Kalau aku sampai kurus, berarti itu udah parah capeknya. Buktinya aku masih gendut dan kuat."


"Jangan gitulah ngomongnya. Tenaga sama berat badan itu berbeda segi."


"Kamu juga jangan gitu. Jangan khawatir hehe."


Oh... apakah wajahku mudah dibaca? Bahwa aku sedang memikirkan masalah tak biasa? Maaf, Mas. Aku nggak bisa jujur.


Beruntungnya, Mas Arlan tak lagi mencercaku dengan pertanyaan lebih lanjut. Ia kembali diam dan mengembalikan fokusnya kedepan sembari menyetir. Karena kalut sendiri, aku sampai tidak sadar bahwa suamiku pun sama letihnya. Saat kutilik wajahnya, terlihat kusam dan satu matanya sedikit menyipit. Entah karena apa. Padahal baru kemarin, aku berencana menjadi istri yang baik. Dan kini, aku melewatkan hal sepenting itu.


Kupandangi wajah Mas Arlan lebih dalam lagi. Betapa baiknya dirinya, meski merasakan kelelahan tersendiri, ia tetap memperhatikan diriku. Melihatnya seperti ini, aku tidak sampai hati untuk menyampaikan permasalahan Celvin dan keponakannya. Mungkin, hatinya akan hancur seketika. Terlebih, ia sempat menyayangi dan merawat Riska pada saat masih muda. Aku rasa, makna Riska bukan hanya sebagai keponakan biasa, melainkan seperti adik atau bahkan anak baginya.


"Kenapa, Dek? Mas ganteng ya?" tanyanya kemudian.


"Kamu nggak ganteng. Tapi, kamu manis banget bikin candu," jawabku.


"Wah! Sejak kapan istriku, pinter gombal kayak gini?"


"Sejak saat ini, Mas. Emm... aku sayang sama kamu Mas."


Mas Arlan menatapku sekilas setelah itu kembali menatap kedepan sembari tersenyum. "Tumben banget, Dek? Ada masalah?"


"Ya nggaklah. Emangnya kalau aku ngomong gitu sama suami sendiri, nggak boleh ya?"


"Bukannya nggak boleh. Tiba-tiba aja, apalagi dulu pernah tuh, kamu marah gegara Mas pengen denger kalimat itu."


"Itu kan dulu banget, sayang. Sekarang kan beda."


"Hmm... iya iya. Mas juga sayang banget sama kamu. Sering-sering ya bilang gitu. Mas bersyukur, sedikit demi sedikit kamu bisa mengangkat diri kamu lebih tinggi, Dek."


"Semua karna kamu, Mas."


Mas Arlan memperlambat laju mobilnya. Ia merengkuh kepalaku dan dikecupnya lagi, dibagian kening dan pipi. Sedangkan perjalanan masih sering menemui titik kemacetan. Aku mengerti, karena jam-jam sekarang memang sangatlah padat. Sehingga sedikit memakan waktu untuk mencapai kediaman kami.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, aku terpikirkan sesuatu. Tepatnya saat aku melihat sebuah cafe di sisi jalan, tepat dengan mobil kami terdiam akibat macet. Aku menilik waktu terlebih dahulu dari layar ponselku. Masih pukul lima sore, sepertinya masih ada waktu untuk berkencan singkat sebelum maghrib tiba.


"Mas, mampir kesitu yuk," ajakku kepada suamiku tersebut sembari menunjuk kearah cafe.


"Kamu mau?" tanyanya kembali.


Aku mengangguk pelan. "Iya, lagian macet mendingan mampir dulu sambil nungguin legah."


"Oke sayang."


Mas Arlan mencari ruang untuk berbelok. Beruntungnya, cafe tersebut memang tidak jauh dari keberadaan kami. Sehingga tidak menimbulkan efek yang parah dari kemacetan ini.


Sesampainya disana, Mas Arlan memarkir diam mobilnya. Lantas, kami berdua beranjak turun. Ia menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam. Sepi. Yah, lumayan untuk sekedar meneguk segelas air minum dan melepas lelah sejenak. Kami duduk di bangku paling ujung dan jauh dari tempat kerja kasir dan pelayan.


Seorang pelayan wanita datang menghampiri kami. Ia menyodorkan buku menu yang tertulis beberapa nama hidangan yang bisa dipesan. Jika biasanya, aku memesan segelas coffe latte, kini tidak. Lantaran tenggorokanku sangat kering dan kehausan. Sehingga, aku memilih untuk memesan minuman yang memiliki batu es didalamnya. Sama halnya denganku, Mas Arlan pun begitu.


"Sini," ujarku. "Jangan seberangan gitu, duduknya harus disampingku pas."


Mas Arlan mengernyitkan dahinya. Lantas berkata, "Aneh deh."


"Kok aneh?"


"Biasanya nggak kayak gini lho."


"Aku kan kangen suamiku. Udah lama nggak kencan, jadi pengennya deket dimanapun berada."


"Hmm... mulai ganjen kamu, Dek."


"Yaudah kalau, nggak mau. Nggak usah...!"


"Iya iya, sayang. Sabar dong."


Aku tersenyum. Sedangkan Mas Arlan memundurkan kursi, lalu membawanya tepat disampingku. Ia duduk dan meraih telapak tanganku. Mungkin, jika kami di rumah, ia akan langsung mengecup pipiku lagi. Karena ditempat umum, ia tidak melakukan hal itu. Walaupun sudah menjadi suami dan istri, moral kesopanan memang masih diperlukan.


Tak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan minuman yang kami pesan. Ia menaruh dengan sopan diatas meja. Kemudian, kuucapkan terima kasih dan ia berlalu. Kuteguk segera minumanku. Rasanya segar, membasahi tenggorokanku yang sempat kering. Tidak buruk juga kami mampir sebentar, daripada terjebak macet yang akan menguras waktu.


"Macet banget ya, Mas," ujarku.


"Iya, Dek. Musim hujan gini," jawab Mas Arlan.


"Iya emang nggak. Tapi efek hujan yang berkepanjangan kan nyebabin banjir dibeberapa tempat. Jadi banyak jalan yang ditutup. Namanya juga perkotaan, Dek."


Aku manggut-manggut. Kemudian kuseruput lagi minumanku. Mas Arlan merogoh sesuatu dari dalam kantong celananya. Yang ternyata adalah ponselnya. Aku melirik sekilas, ada sebuah panggilan masuk namun aku tidak mengetahui siapa pelakunya. Mas Arlan langsung mematikan panggilan tersebut.


Dahiku berkerut dan menatapnya heran. Bukan karena curiga, melainkan merasa aneh. Aku tidak mengerti, mengapa suamiku mengabaikan panggilan itu. Kini ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong seperti semula. Ia menyentuh telapak tanganku lagi.


"Kenapa dimatiin?" tanyaku kemudian.


"Nggak apa-apa, Dek," jawabnya.


"Oh... emang dari siapa Mas?"


"Dari kantor, sayang."


"Siapa tau penting lho."


"Kamu lebih penting, Dek. Mas nggak ingin kencan singkat ini terganggu."


"Hmm... kan dirumah nanti masih sama aku."


"Iya sih. Tapi jarang bisa berduaan. Kan ada Selli. Kalau Mas angkat, nanti waktu kita kepotong."


"Oh... iya sih. Makasih kalau gitu, Mas."


Mas Arlan tersenyum. Ia begitu pengertian, sampai tidak ingin diganggu oleh orang lain barang sekali saja. Ada rasa sedikit bersalah, mengingat aku masih begitu tega mementingkan orang lain, daripada waktu kami. Sepertinya, aku masih belum cukup dewasa. Yang ada dalam benakku hanya kewajiban bukan keluargaku. Yah, mau bagaimana lagi? Aku masih menadah uang di perusahaan orang.


Setengah jam berlalu. Kami masih terjebak di cafe ini. Lantaran, keadaan jalan belum juga lenggang. Aku rasa, dampak dari banjir memang sangatlah besar. Banyak jalan pintas yang ditutup, sampai akhirnya kendaraan dibendung oleh satu jalan saja. Yang ada didalam pikiranku kini hanya ada Selli. Aku khawatir putriku tersebut rewel karena menunggu kami terlalu lama.


"Mas, Selli gimana ya?" tanyaku.


"Semoga nggak rewel, Dek. Mas udah bilang sih, kalau suster mau pulang, biar nganterin Selli ke neneknya dulu pagi tadi," jawab Mas Arlan.


"Iya sih. Kalau udah gitu, aku rada tenang."

__ADS_1


"Mama yang baik ya kamu."


"Belum Mas. Aku masih tahapan belajar."


"Iya sayang. Mas paham kok."


Selepas ketenangan hatiku mengenai Selli. Kini aku memikirkan hal lain lagi. Dan aku cukup penasaran mengenai itu. Lantas, aku bertanya kepada Mas Arlan, "Emm... Mas, aku boleh tanya sesuatu nggak...?"


Mas Arlan menoleh kepadaku. Ia mengangguk, "Boleh sayang. Kenapa?"


"Dulu. Waktu kita belum menikah, kenapa kamu berani ngecup aku? Emang kamu nggak takut dosa?"


"Takutlah Dek. Ya gimana ya? Secara dua orang, cewek cowok didalam ruang tertutup. Pasti timbul suatu hasratlah, Dek. Mas akui, itupun Mas alami saat sama kamu."


"Iya sih. Tapi, apa kamu nggak pernah kepikiran buat lebih jauh, saat itu Mas?"


Mas Arlan terdiam sejenak. Kemudian, ia kembali menatapku dalam-dalam. "Kalau bertanya tentang itu, pasti ada. Mas ini seorang laki-laki, apalagi pernah menikah."


"Terus?"


"Kalau Mas nggak mikir resikonya, pasti Mas nggak segan-segan berbuat lebih sama kamu. Mas tau, Mas bukan ahli agama dan masih belum bisa mencegah beberapa larangan agama."


"...."


"Coba bayangin deh. Kalau Mas bener-bener lakuin itu ke kamu sebelum menikah. Terus kamu isi, pernikahan kita harus tertunda selama sembilan bulan. Karena setau Mas, pernikahan tidak akan bisa dibilang sah kalau dalam keadaan seperti itu. Bayinya harus dilahirin dulu, baru boleh menikah."


Pemikiran Mas Arlan sama dengan ucapanku yang kukatakan kepada Celvin. Kini aku menjadi semakin khawatir terhadap mereka. Terlebih kepada keponakan iparku, yaitu Riska. Aku tidak bisa membayangkan kekacauan besar yang kemungkinan terjadi, akan sehancur apa keluarga mereka nanti.


Meski, aku bukan orang suci. Aku tetap menyayangkan hal itu terjadi. Aku harap, tidak ada muda mudi yang meniru gaya pacaran dari Celvin dan Riska yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Karena nikmatnya hanya dalam durasi beberapa menit, kehancuran akan datang dalam durasi yang sangat lama. Bahkan bisa melukai hati banyak orang.


"Hei!" seru Mas Arlan kepadaku. "Kok bengong?"


"Ehh... enggak kok Mas hehe," jawabku.


"Kamu kenapa? Tiba-tiba nanya gitu?"


"Nggak apa-apa, Mas. Penasaran aja sama sikap kamu dulu hehe."


"Hmm... itu kan dulu, Dek. Lagian kita ketemunya berdua terus. Kalau didepan Mama kan, masih diomelin. Beruntungnya, Mas bisa bertahan melihat kamu yang menggemaskan ini."


"Dosa ya tetap dosa, Mas."


"Emm... mari saling berubah ke jalan lebih baik lagi, Dek."


Aku tersenyum. "Iya Mas."


"Pulang yuk, udah mau maghrib."


"Ayo Mas."


Kami beranjak berdiri. Sebelum melangkah pergi, Mas Arlan membayar terlebih dahulu atas minuman yang kami pesan. Setelah selesai, kami berjalan keluar. Tentunya dengan tanganku yang masih digandeng mesra olehnya. Meski suasana jalan raya masih sama, kamu tetap bertekad ingin menerobos hiruk pikuk itu. Semua karena waktu yang sudah mendekati maghrib, tentunya juga memikirkan putri kecil kami.


Sesaat setelah kami melenggangkan mobil dan bergabung dengan mobil lain, ternyata tidak sesulit yang terlihat. Hanya dalam durasi selama tujuh menit, kami bisa terbebas dari kerumunan kendaraan lain.


"Lega banget kalau udah bebas gini," ujarku.


"Sebenarnya nggak ada salahnya lho Dek, kalau macet. Kita kan bisa berduaan lebih lama," jawab Mas Arlan.


"Apaan? Macet gini, ya nggak mikir kesitu lagi Mas. Yang ada makin BT."


"Selagi sama kamu mah, Mas nggak pernah BT, Dek."


"Halah!"


"Hahaha."


Begitulah gombalan yang tidak pernah ketinggalan. Seolah Mas Arlan sudah merancangnya jauh-jauh hari. Meski senang, terkadang aku juga merasa geli. Tapi, mau bagaimanapun itu, aku tetap mencintai suamiku.


Beberapa saat kemudian, kami telah sampai di rumah. Mobil pun sudah terparkir dengan tenang. Kami turun dan masuk ke dalam rumah bersamaan. Namun, ada satu hal yang membuatku tertegun. Ada sebuah tas menggelepar diatas sofa. Milik siapakah itu? Aku menatap Mas Arlan segera. Namun, ia sama herannya.


Jangan-jangan...?


Bersambung...

__ADS_1


Budayakan like+komen.


sorry ya guys baru up hehehe


__ADS_2