
****
"A-anu Mas. A-aku belum kembali."
"Jangan bohong, Dek. Mas tadi lihat bos kamu baru masuk ke kantor lho. Kamu dimana? Masih sibuk? Didalem?"
"I-iya Mas. Ak-"
Tiba-tiba saja, Riska datang dan merebut ponselku. Aku membelalakkan mataku lebar-lebar. Apa yang hendak ia lakukan? Aku berharap Riska tidak berlaku bodoh dalam keadaan segenting ini.
"Halo Om, Kak emm... Tante Fanni bersamaku di apartemennya," ujar Riska yang benar-benar membuatku terkejut bukan kepalang lagi. Setelah itu, aku tidak tahu lagi dengan ucapan dan respon Mas Arlan sekarang. Setelah mengatakan itu, Riska segera mematikan ponselnya.
Aku mendengus pasrah. Tidak mengerti dengan situasi yang tengah berlangsung. Apa yang baru saja dilakukan oleh Riska? Apa respon suamiku, jika ia datang kemari? Ini bukan masalahku namun mengapa aku harus ikut terlibat dalam lubang gila seperti ini? Bukan maksud hati tidak ikhlas dalam membantu. Hanya saja, ada beberapa keadaan yang diluar kendali. Aku tidak habis pikir. Orang kaya dan terhormat, tidak lantas membuat mereka pintar. Mereka gegabah dan tidak bisa mengambil sikap dengan tenang. Yah, aku tahu tidak semuanya seperti itu. Namun, yang kuhadapi sekarang mengarah ke seperti itu.
Kutatap wajah Riska yang datar dengan tajam. Ingin rasanya aku memarahi dan mengumpat kepadanya. Namun, nyaliku belum sekuat itu. Apalagi rasa iba masih muncul dan menutupi. Satu hari ini, rasanya teramat sangat panjang. Mungkin, jika dijadikan sebuah cerita akan menghabiskan tiga sampai empat lembar kertas untuk menulisnya. Bukan kisahku melainkan kisah sang gadis cantik yang merana hidupnya.
"Maaf Kak. Aku sudah menyerah," ujar Riska kemudian.
"Kenapa? Ini baru sehari lho?" tanyaku.
"Aku kenal siapa Ivan. Dia orang yang seriua dan berinsting tajam. Perkataannya bukan main-main. Aku hanya tidak mau melibatkan Kakak terlalu dalam."
"Tapi sikap kamu barusan, malah menambah malapetakan Riska. Gimana kalau Mas Arlan bertanya?"
"Aku akan jujur."
"A-apa? Kamu... kamu kan udah janji nggak akan mempersulit hidupnya lagi?"
"Yah, aku tahu. Aku juga akan mengutarakan semuanya, tentang situasi status beliau juga. Aku ingin beliau benar-benar mundur."
Apa-apaan ini? Semua sudah terlanjur. Aku tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah segala kemungkinan. Dan aku rasa, Mas Arlan sedang menuju ke tempat ini dengan membawa sejumlah pertanyaan yang akan memberatkan kami. Aku tidak yakin akan niat hati Riska. Aku juga tidak yakin, Mas Arlan akan menerimanya begitu saja. Dan satu lagi, aku juga tidak yakin mampu menghentikan laju amarahnya.
Dalam beberapa saat, kami masih terdiam. Seolah sedang menunggu vonis akan kematian. Meski bukan kematian raga, melainkan kematian jiwa. Sampai kulepas blazer jumboku dan melemparnya secara sembarangan diatas sofa. Aku berpikir tentang sebuah hukum lagi. Meski Riska tidak sampai mengandung, pada akhirnya ia dan Celvin tetap mendapat hukuman atas apa yang mereka lakukan, dengan melalui cara yang lain.
Baiklah! Aku akan menghadapi.
Hening. Hanya denting jam yang terdengar. Rasanya gerah. Akhirnya, beranjak berdiri dan mencari remote AC. Aku menyalakan AC tersebut agar lebih sejuk.
Selang waktu berlalu, beberapa menit sudah berjalan. Hatiku semakin tegang. Kemungkinan besar Mas Arlan sudah semakin dekat. Dan yeah! Suara pintu tengah terbuka karena ia memang sudah mengetahui password pintu apartemen ini. Riska tampak menelan salivanya. Sama seperti aku, aku sedang gelisah, galau dan merana seperti sebuah lagu. Seolah sang hakim sudah datang untuk memberi vonis hukuman. Oh... napasku sampai tersendat-sendat, udara sudah sekali dihisap.
"Assalamu'alaikum," sapa salam dari suamiku tersebut.
"Wa'alaikumssalam, Mas," jawabku.
Aku menilik sekilas ke arah suamiku. Ia tampak letih dan penuh dengan tanda tanya yang tersirat di wajah manisnya. Ia berjalan mendekati kami. Sesampainya disini, ia duduk tepat disampingku. Lantas, aku menerima telapak tangannya dan mengecup lembut dibagian punggung tangannya.
Mas Arlan terteguh. Ia menatapku dan Riska penuh keheranan. Sedangkan kami belum juga bersuara lantaran susah sekali. "Ada apa ini?" tanyanya kemudian.
Kami saling diam.
"Hei! Ada apa?! Kenapa kalian bisa bareng dan disini?! Kalian berantem?" tanyanya lagi.
"Mas, tenang dulu. Kamu masih capek kan?" tanyaku.
"Jelasin dulu, Dek. Ada masalah apa?"
Aku menatap Riska seketika. Ia masih diam, namun air mata kembali mengucur. Kuhela napas dengan susah payah dan menatap suamiku. Tampaknya aku yang harus menjelaskannya perlahan-lahan. "I-ini. Gi-gini Mas, ka-" Ucapanku terpotong karena gerak tangan Riska.
"Aku... aku mencintai Celvin, Om," ujarnya.
Mas Arlan menilik Riska secara sekilas. "Ya, Om tahu hal itu."
"Ta-tahu?" tanyaku.
"Beberapa kali, aku lihat Riska sama bos kamu, Dek."
"Kok kamu nggak marah?"
__ADS_1
"Mas inget gimana Mas perjuangin kamu, Dek. Awalnya Mas emang marah, tapi kamu. Enggak bosmu memperlakukan kamu dengan baik, rasanya lama-lama rasa kesal itu hilang."
"Oh... ta-tapi ada masalah yang lebih rumit lagi, Mas."
Dahi Mas Arlan berkerut. Ia memandangi kami secara bergantian. Sebenarnya, aku tidak tega jika Riska harus menyampaikan semuanya. Namun, setidaknya Mas Arlan harus tahu agar ia tidak selalu curiga terhadapku.
Lidahku kelu tatkala ingin berbicara. Dan akhirnya aku memilih diam, lantaran merasa ini bukan hakku. Melainkan Riska sendiri yang harus mengambil keputusan. Menurutku memang patut dicoba, sebelum Ivan membeberkan semuanya. Apalagi alat tes dan mungkin bukti lain sedang Ivan bawa sekarang.
"Om...," ujar Riska lirih. "Maafkan Riska, Om."
"Maksud kamu? Maaf? Soal?" desak Mas Arlan.
Lagi-lagi, Riska menangis. "Aku sudah menghancurkan semuanya, Om. Aku berbuat kesalahan yang paling fatal. Aku tahu ini bukan hak Om Arlan, tapi aku tidak ingin membebani Kak maksudku Tante Fanni."
"Apaan sih? Yang jelas."
"Aku perempuan yang murah."
"Mu-murah? Apa ini?! Maksud kamu?! Bodoh kamu Riska!"
Seorang paman mana yang tidak terkejut akan pengakuan dari keponakan tersayang. Mas Arlan bahkan berdiri seketika, wajahnya memerah padam penuh kemarahan dan kekecewaan. Aku berusaha menarik tangannya supaya ia tenang. Namun apa boleh buat, tenaga seorang pria memang luar biasa besar. Aku kalah.
Kini suamiku mendekati Riska. Sedang Riska menutup wajahnya sembari menunduk dan sesenggukan tidak karuan. Aku sudah menduga akan hal ini. Mas Arlan yang luar biasa kecewa, ia tengah berdiri dihadapan Riska penuh tatapan yang nanar. "Kamu udah tahu, Dek?" tanyanya kepadaku.
Aku mengangguk.
"Sejak kapan? Kenapa kamu masih bungkam, Dek?"
"Be-belum lama kok, Mas. A-aku bingung diposisi kayak gini."
"Seharusnya nggak gitu dong, Sayang. Ini masalah serius. Sial!!! Padahal aku udah bisa menerima kehadiran pria Sanjaya itu, tapi..."
Mas Arlan mengumpat tidak jelas dan tidak bisa aku ulangi lagi karena terlalu kasar. Lantas, ia menjatuhkan air matanya dihadapan keponakan tercinta. Lambat laun, Mas Arlan melemah dan menjatuhkan diri disampinh Riska. Tidak disangka, kini Mas Arlan malah merangkul tubuh Riska sembari mengusap lembut rambut wanita tersebut.
Setidaknya aku bisa bernapas lega atas sikap lembut suamiku. Setidaknya, sikap suamiku tidak selantang kemarahannya. Aku menangis haru ketika melihat hubungan keduanya. Terlebih, raungan tangis Riska semakin meninggi dan mampu menyayat hati. Ia tidak berdaya didalam pelukan suamiku. Ia menyesal dengan semua yang telah terjadi. Sedang suamiku semakin mengeratkan pelukannya, mencoba menenangkan hati Riska sebisa mungkin.
"Kenapa? Kenapa kita harus mengalami ini, Riska? Kenapa harus kita yang dipercayakan dengan jabatan itu? Kenapa kita harus mengecewakan banyak orang dan terlibat dengan orang Sanjaya?" Mas Arlan berkeluh karena nasib mereka yang hampir mirip meski dalam konteks yang berbeda.
Setelah itu, Mas Arlan menarik dirinya dan melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi Riska. Ia membelai kepala sang keponakan dengan lembut layaknya seorang anak. "Apa kamu mengandung?" tanyanya kemudian.
Riska menggelengka kepala serta menjawab, "nggak. Aku udah tes ditemani Tante Fanni."
"Gadis bodoh. Seharusnya jangan sampai terjatuh seperti itu. Pada akhirnya kamu harus masuk ke dalam masalah yang rumit, meski tidak sampai mengandung."
"Ivan, Om. Ivan menangkap basah kami dan membawa alat itu. Aku takut, Om. Gimana kalau perusahaan semakin tidak stabil dan Celvin dihajar habis-habisan?"
"Dalam keadaan seperti ini, kenapa kamu masih memikirkan nasib pacar kamu?"
"Karna aku mencintainya, Om."
"Tapi, orang itu masih perlu diberi pelajaran!"
Mas Arlan segera beranjak berdiri. Amarahnya kembali muncul. Aku menelasn saliva dengan kelu. Sepertinya, ia tengah marah kepada Celvin. Segera ia ambil langkah dan hendak menuju pintu keluar. Namun, aku mengejarnya dan menarik tangannya.
Mas Arlan menatapku begitu nanar. Yah, ia kecewa terhadapku. Tapi, aku tidak bisa membiarkannya datang begitu saja ke kantor atasanku. "Tahan dulu, Mas," ujarku lembut.
"Lepas!" tegasnya.
Glup! Bagaimana bisa ia membentakku seperti ini? Ini pertama kalinya ia berbuat seperti itu. Aku takut, namun tetap menggenggam erat tangannya.
"Jangan buat Mas memarahimu, Dek. Kamu cukup disayangkan untuk dimarahi. Jadi lepasin," ujarnya melembut.
"Enggak! Jangan bodoh dan tergesa-gesa. Ini bukan urusan kamu!" ujarku.
"Bukan urusanku, katamu? Riska sudah seperti anakku sendiri, Dek. Kamu nggak tahu hubungan erat kami."
"Tapi bukan dengan emosi caranya!"
__ADS_1
"Lalu, gimana? Apa kamu masih mau belain atasanmu itu? Kurangkah kuberikan kamu keleluasaan untuk tetap bekerja disana?"
"Mas! Aku nggak belain dia!"
"Terus apa?!"
Tanganku semakin kuat mencengkeram lengan Mas Arlan. Aku tidak ingin melepaskannya barang sekali saja. Walaupun, aku merasa sangat sakit hati atas ucapan tegasnya. Namun, aku tetap kukuh dan mencoba mencegah amarahnya meledak di kantor Celvin. Aku hanya berpikir sehat, jika sampai hal itu terjadi dan masuk media sosial, akan ada imbas seperti apa lagi nantinya.
Kini Mas Arlan menatapku semakin nanar. Ia bahkan berani mengibaskan tanganku dengan kasar. Aku tidak menyangkan. Aku menangis seketika, namun tetap meronta agar ia menghentikan langkahnya. "Aku mohon pedulikan dirimu, Riska dan perusahaan kamu, Mas. Kamu boleh kecewa dan menuduhku sembarangan, tapi kamu nggak boleh memperdalam masalah ini," pintaku sembari berlutut dan memegangi kakinya.
"Om, jangan begini. Kasihan Tante Fanni, Riska yang salah. Om tolong, Riska dan Celvin sendiri yang akan tanggung jawab. Jangan ikut campur. Om masih ingat kan? Posisi Om sekarang dikeluarga seperti apa?" ujar Riska.
Aku mendengar hembusan napas kasar yang dilakukan Mas Arlan. Kemudian, ia menarik diriku agar terbangun. Dengan susah payah aku berdiri dan memeluk dirinya. Aku berharap suamiku benar-benar berhenti dan tidak ikut campur, itu saja. Lagipula Riska dan Celvin sudah dewasa. Niat mengutarakan masalah ini kepadanya bukan untuk membuatnya marah, melainkan mencegah kecurigaan berlebihan atas diriku.
Kurasakan eratnya pelukan sambutan dari Mas Arlan. Aku rasa, ia sudah melemahkan saraf-saraf emosinya. Aku memberanikan diri menatap wajah suamiku. Ia tersenyum kemudian mengecup keningku penuh kasih sayang. Ia pun mengusap air mataku dengan satu tangan kanannya.
"Maafin Mas ya...?" ujarnya pelan.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas," jawabku.
"Ya sudah. Riska kamu istirahat dulu di kamar sana. Kamu terlalu lelah, biar Om pesan makanan online aja."
"Iya Om."
Lantas, Riska berlalu pergi. Ia menuju kamar bekas milikku. Yah, tidak buruk juga. Lagipula disana cukup nyaman. Tidak ada barang-barang membahayakan. Selepas Riska masuk ke kamar, Mas Arlan menggandeng tanganku. Ia membawaku kembali duduk di sofa seperti semula.
Kami duduk berhadapan dan berdampingan. Lalu, tanpa persetujuannya aku mengecup bibirnya sebentar. Mas Arlan tertegun dan kemudian tersenyum.
"Mas nggak cukup dewasa kali ini, Dek. Kamu jauh lebih cerdas," ujarnya.
"Aku selalu memikirkan resiko ke depannya, Sayang. Kamu terlalu lelah untuk ikut campur. Kita cukup membantu dengan saran dan nasehat aja dong," jawabku.
"Mas sangat amat menyesalkan ini terjadi. Sedari dulu, Mas sangat menyayangi Riska. Diwaktu muda, anak itu seperti seorang adik. Namun, lambat laun seperti anak sendiri. Tapi, kenapa sekarang dia menjadi bodoh dan memberikan kehormatannya dengan suka rela?"
Aku menelungkupkan kedua tanganku diwajah suamiku. Aku berkata, "kamu inget, Mas? Jamannya kita pacaran, kamu pun berani curi bibir aku. Sama halnya mereka, bedanya mereka terlalu jauh. Tapi, niatnya sama kayak kamu dan aku."
Mas Arlan mengambil kesempatan dalam kondisi seperti ini. Ia melupakan keberadaan Riska didalam kamar sana. Seketika, aku memejamkan mataku menerima perlakuan lembut itu. Kami jatuh ke dalam keromantisan. Ia cukup ganas meski hanya sebuah kecupan saja. Aku rasa ia tengah melampiaskan segala macam perasaannya dengan cara seperti ini.
Mas Arlanku sayang, Mas Arlanku yang malang. Aku mencintaimu.
Kurang lebih satu menitan, ia baru berhenti. Mas Arlan menarik kepalanya dan menatapku dengan senyuman nakal. Aku hanya merespon biasa saja dan segera mengusap bibir dan wajahku.
"Kamu laper, Dek?" tanyanya.
"Iyalah Mas. Aku terlalu membuang banyak tenaga, lemakku terkikis satu ons kayaknya hehe," jawabku.
"Mas bolos deh. Kita makan bareng, kasian Riska juga ditinggalin."
"Jangan bolos! Jangan nambah masalah. Jangan bawa Riska sebagai alasan deh!"
"Ih serius, Sayang. Mas nggak tega ninggalin dia."
"Bohong! Kan ada aku yang jagain, aku juga udah dikasih izin untuk ini kok."
"Yah, Dek. Sekali aja."
"Mas?"
"Dek?
"Nggak boleh. Pokoknya abis makan, terus balik."
"Hmmmmmmmm."
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen.
__ADS_1
Ayo mana suaranya. Siapa tau jadi ideku dari komen2 kalian hehe
Maaf kalo bnyak typo. Pkoknya kalau bnyak berrti aku lagi buru2 ya heheehe