Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Hentakan


__ADS_3

****


"Diiiiiiaaaaaaam!!!" seru Mita dengan kencang. Aku rasa, ia tidak tahan dengan semua celoteh yang dilontarkan oleh Riska.


Kemudian, ia bergerak mengambil langkah untuk menghampiri Riska. Semakin dekat dan akhirnya sampai. Sampai kami bertiga benar-benar diam lantaran terkejut dengan bentakannya. "Loe siapa sih?!" tanyanya tegas dihadapan Riska.


Riska berdiri dari duduknya, seolah tidak terima. "Gue, Riska Jean Tamara Gunawan!" jawabnya tak kalah tegas.


"Oh... Nona Riska yang terhormat itu. Orang pintar kok omongannya nggak pintar? Seenaknya aja ngomongin orang sembarangan! Banyak gaya aja, loe!"


"Loe, jangan sembarangan ya! Loe sendiri siapa disini?!"


"Aaaaiiiisssssh... gue calon istrinya Kak Celvin tapi nggak jadi gara-gara loe. Tapi, gue bukan pelakor semacam itu. Enak aja nuduh-nuduh, gue punya pacar sendiri. Kagak usah takut, dasar bucin akut!"


Lantas, aku dan Celvin bergerak melerai perdebatan Riska dan Mita. Celvin menahan Riska, sedangkan aku menahan Mita. "Udah Mit, keluar yuk," ajakku.


"Nggak! Inget ya loe, Riska. Awas aja kalau loe seenaknya omongin soal gue lagi. Loe pikir loe siapa, haah? Perusahaan loe noh, seenaknya aja ama perusahaan ini. Masih ada muka aja loe, dateng kesini!" cerocos Mita lagi.


"Kurang ajar banget sih, loe! Dasar wanita penggoda!"


Celvin merengkuh tubuh Riska seketika. "Udah, Sayang. Udah, dia adikku ya Papa kami berteman. Dia udah kayak adikku sendiri. Udah ya, udah."


Kutarik tangan Mita dan membawanya keluar dari ruangan ini. Kami bergegas mencari tempat yang nyaman. Namun, yang namanya seorang Mita, pasti tidak akan terima jika harga dirinya diinjak-injak. Sepanjang langkah kami, ia terus menggerutu kesal sampai menjadi perhatian karyawan lain yang datang. Sumpah! Disini aku yang luar biasa malu, seolah tidak berani mengangkat kepalaku barang sekali saja. Namun, apa daya, aku harus menenangkan Mita saat ini juga.


Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kerja Mita yang memang tertutup. Ia mengibaskan tanganku seketika dan langsung duduk di kursi putar tempat duduknya dalam menjalankan pekerjaan. Sedangkan diriku, duduk di kursi yang berada dihadapannya.


"Pokoknya gue nggak terima, mau dia orang atas kek, mau CEO kek. Lah bodo amat! Pokoknya bakal gue inget muka tu cewek," ujar Mita dengan emosi marahnya yang tersisa.


Aku menghela napasku dalam-dalam. Tidak mengerti harus mengatakan apa dalam situasi sekarang. Yang aku tahu, sifat Mita memang seperti ini. Ia pendendam, walaupun dalam masalah kecil saja. "Dia pacarnya kakak loe, Mit. Keponakannya suami gue," jelasku.


"Teruuuus?" tanya Mita dengan jutek.


"Ya, nggak apa-apa. Ngomong doang sih."


"Gue nggak peduli. Jangan mentang-mentang ipar loe, terus loe bela gitu ya?"


"Enggak. Tapi, loe udah diem aja, jangan marah-marah. Mereka lagi ada masalah, jadi wajar kalau Riska kayak gitu."


Mita memicingkan matanya seketika. Ia menatapku dilanjutkan dengan kerutan didahinya. Entah, apa yang ia pikirkan sekarang. Aku tidak ingin banyak bicara karena takut berbuat kesalahan. Terlebih hubungan kami baru terjalin dengan baik. Tidak mungkin aku rusak lagi seperti sebelumnya. Aku rasa, menangani orang seperti Mita memang lebih baik dengan diam. Kemudian mulai menjelaskan tatkala ia tenang.


Tak lama kemudian, Mita terdengar menghela napasnya dan menghembuskannya kembali. Ia mengatur debaran jantungnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas lalu ke bawah, tepatnya didepan tubuhnya. Setelah itu, ia menyesap kopi yang sudah tersedia diatas mejanya. "Mau kopi, Fann?" tawarnya padaku.


"No, thanks," jawabku. "Lagian kalau mau, gue harus bikin sendiri ke belakang."


"Haha... iya sih. Eh enggaklah, gue bisa panggil office boy kesini."


"Yah, nggak usahlah. Di rumah tadi gue udah ngopi."


"Jadi, mereka ada masalah apa? Kok tu cewek nyampe dateng ke kantor ini?"


Aku menelan ludah seketika. Menatap wajah Mita yang tampak penasaran sebenarnya tidak enak hati jika aku tidak menjelaskan. Namun, aku pun tidak punya hak untuk membeberkan urusan Celvin dan Riska kepada orang lain. Terlebih, keduanya merupakan orang terdekatku.


Aku menggeleng mantap dan pura-pura tidak tahu. Sedangkan Mita hanya menatapku dengan curiga. Seolah menginginkan diriku untuk menceritakannya. Namun, sekali lagi aku tidak bersedia. Lantaran ingat akan urusan mereka bukanlah urusanku. Sampai Mita menghela dan menghembuskan napas kecewanya. Yah, aku tidak peduli.


"Ooooooh!" pekiknya tiba-tiba.


"Apa?" tanyaku.


"Jangan-jangan, pas loe minta alamat keluarga Harsono ada hubungannya sama mereka berdua ya?"


Aku menggeleng lagi. "Nggak, nggak ada."


"Yakin? Yang bener, Fanni? Masa' loe sebagai sekretaris nggak tahu apa-apa? Dan lagi, kalau soal perusahaan ini harusnya Kak Celvin nggak menutup-nutupi kayak gitu dong."


"Bukan soal itu. Pokoknya gue nggak tahu, ya nggak tahu. Yaudah ah, gue mau balik."


"Balik ya balik aja, gue bakalan cari tahu. Hmm... siapa tahu bisa membantu mendongkrak karir gue hahaha."


"Mita! Gila ya loe?"


"Nggak, becanda doang, Fann. Yaelah serius amat."


"Good!"


Aku berdiri dari dudukku dan berpamitan untuk keluar lagi dari ruangan ini. Setelah itu, aku membuka pintu dan berjalan kembali ke ruang kerjaku. Yah, aku masih harus memastikan bahwa Riska masih baik-baik saja. Aku juga belum ingin mengatakan apapun kepada Mas Arlan, karena hari ini adalah hari pertamanya. Kalau aku memberitahukannya, pasti ia tidak akan tinggal diam dan langsung bergegas kemari. Yah, namanya juga Mas Arlan. Setegas apapun ia melepaskan Riska, ia tetap tidak akan setega itu membiarkan Riska menderita.

__ADS_1


Yasudahlah, mungkin sepulangnya nanti aku baru akan memberitahukannya. Aku harus bergegas kembali lagi. Namun di pertengahan jalan, seseorang tengah menyerukan namaku. Lantas, aku berhenti dan berbalik badan.


"Fanniiiii, ya ampun aku kangen banget sama kamu. Sekarang udah sibuk banget, jadi jarang ketemu ya?" ujar Nike sembari mencubit gemas pipiku sesaat setelah sampai dihadapanku.


"Hmm... selamat pagi, Nike. Apa kabar kamu, Mas Roni dan anak kamu, Ke?" tanyaku kemudian.


"Alhamdulillah baik semua, Fann. Kamu sendiri, Mas Arlan dan Selli gimana?"


"Alhamdulillah baik juga, Ke."


"Emm... Fann? Benarkan baik-baik aja?"


"Iya, Ke."


"Kata Mas Roni, Mas Arlan udah nggak kerja lagi."


"Emm... yeah. Emang sih, tapi alhamdulillah sekarang juga udah kerja lagi kok. Ceritanya panjang banget, kalau mau diomingin."


"Iya sih. Kalian kan juga sibuk, tapi nanti malam ada di rumah nggak? Mas Roni ngajak aku bertamu ke rumah kalian."


"Ada kok. Bawa anak ya? Biar Selli ketemu."


"Siap, Fann."


"Emm... gue balik dulu ya? Masih ada pekerjaan yang menunggu."


Nike tersenyum manis sembari mengangguk. Kemudian ia melepaskan genggaman tangannya di lenganku. Aku pun membalas senyuman itu dan setelahnya berlalu pergi. Meski sebenarnya, aku sangat ingin berbincang banyak dengan Nike. Terhitung lama sekali aku tidak bertemu dirinya dan Tomi. Rasanya sangat rindu.


Beberapa masalah yang menerpa suamiku belakangan ini, benar-benar membuatku ikut kepikiran. Belum lagi kesibukan akan pekerjaan demi kembali meningkatkan kinerja perusahaan ini. Kalau diingat lagi, rasanya seorang Fanni memang sangat luar biasa. Namun, baru kali ini aku menyadarinya. Seperti yang dikatakan oleh Bi Onah bahwasanya, orang baik tidak harus mengaku baik, bukan? Seperti halnya orang hebat tidak harus mengaku hebat, bahkan menyadarinya pun tidak. Yang terpenting berbuat sebaik dan semaksimal mungkin.


Baiklah! Mari buka kembali pintu ruangan kerja Celvin dan diriku. Aku masuk ke dalamnya perlahan-lahan. Aku melihat Riska yang masih duduk diam sembari menatap kosong. Sedangkan Celvin, ia sedang berdiri didekat jendela sembari melayangkan pandang keluar. Lantas, apa yang harus aku lakukan?


"Emm... ma-maaf," ujarku memberanikan diri.


Celvin berbalik badan. "Tak apa, Fann. Bukan salah kamu. Mita memang seperti itu," jawab Celvin.


"Yah, Celvin memang cukup memahami wanita itu daripada diriku," sela Riska.


Celvin menghela dan kemudian menghembuskan kembali napasnya. "Ayolah, Sayang. Jangan mulai lagi."


Betapa frustasinya Riska saat ini, sampai ia tidak berpikir secara sehat seperti biasanya. Ia malah terlihat seperti seorang anak kecil yang menyedihkan. Dibumbuhi dengan sifat keras kepalanya. Sebenarnya penekanan seperti apa, yang dilakukan oleh orangtua dan kerabatnya? Tidak bisakah mereka memaafkan kesalahan Riska, walaupun memang separah itu? Aku sendiri saja tidak tega melihatnya sehancur ini. Masa' orangtuanya begitu tega?


Akhirnya aku memutuskan untuk mendekati Riska lagi. Mungkin dengan penjelasanku, ia bisa lebih mengerti. Karena notabene-nya wanita itu tidak mau mengalah dari seorang pria, bukan? Maksudku dalam kesalahpahaman seperti ini.


"Ris, Mita itu temanku kok. Aku paham siapa dia dan bagaimana sifatnya," ujarku dengan hati-hati.


Riska diam, ia hanya menelan ludah saja. Bahkan tidak menatapku sama sekali.


"Maaf, emang nggak seharusnya aku ikut campur. Tapi, Mita emang temanku. Rasanya nggak ingin seorang teman dituduh begitu oleh orang lain," ujarku lagi. Oh... jangan sampai Riska malah tersinggung lagi.


Tak lama kemudian, Riska mulai bersedia merespon. Ia menatap mataku dengan pandangan lemah. "Iya, Kak. Maaf, aku terlalu terbawa emosi," jawabnya.


Akhirnya ia bersedia mengerti. Kemudian, aku bergerak tepat dihadapannya. Aku duduk berjongkok didepan kedua kakinya yang jenjang. Sekali lagi, kami saling bertatapan. "Ris, aku nggak tahu rasanya jadi kamu. Tapi... nggak ada cara lain, selain menghadapi," kataku.


Riska menghela dan menghembuskan napasnya. "Aku tahu, Kak. Aku capek, seolah aku kehilangan semuanya. Aku kehilangan Papa, aku kehilangan Mama. Walaupun mereka ada. Bahkan Om Arlan yang selalu peduli, pekerjaanku juga. A-aku cuma punya Celvin sekarang," keluh Riska.


Bola matanya menjatuhkan air mata lagi. Lalu aku berdiri, aku memeluk tubuh Riska. Bukannya mereda, ia malah meraung tidak karuan. Celvin hanya bisa menatap kami dengan tetesan air mata di wajahnya juga. Yah, semoga dengan bahu besarku, Riska bisa sedikit melepas semua beban hati dan pikirannya itu.


Sampai beberapa saat kemudian, ia sudah mulai tenang. Aku menarik diriku dari tubuhnya, karena sejujurnya sudah merasa pegal. Beruntunya sepanjang keadaan ini, tidak ada karyawan yang menyelonong masuk lagi. Maksudku manager seperti Mita. Jadi, keberadaan Riska hanya Mita dan kami yang mengetahui.


"Ayo, aku antar pulang dulu," ajak Celvin sembari menjulurkan satu tangannya pada kekasihnya itu.


"Enggak, aku takut kamu dihajar orang rumahku lagi," tolak Riska.


"Itu udah jadi hal biasa untukku. Jangan khawatir, aku yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi."


"Enggak, Vin. Aku mau pulang sendiri."


"Aku tidak yakin, kamu bersedia pulang. Yah, kemanapun ayo, yang penting ada aku. Aku bersedia membatalkan semua pertemuan demi kamu, Riska. Jangan keras kepala lagi."


"Ta-tapi, kondisi perusahaan kamu juga masih kacau."


"Papa akan mengerti kalau alasannya adalah kamu, Riska."


Riska malah menatapku dengan gusar. Dengan ragu-ragu, akhirnya aku turut mengangguk kepadanya. Memang lebih baik, jika Riska bersama Celvin. Wanita cantik dalam keadaan seperti ini pasti bisa saja dalam bahaya jika dibiarkan sendiri saja. Aku pun tidak yakin kalau Riska bersedia untuk pulang. Aku rasa, ia bisa kabur kemanapun.

__ADS_1


Setelah itu, Riska mulai menyetujui saran dari Celvin. Ia berusaha untuk berdiri dengan bantuanku. Wanita ini terlihat sangat lemah dan semakin kurus. Seandainya saja bisa, aku pasti akan mentransfer beberapa kilogram lemakku untuknya. Namun itu mustahil, bukan? Mereka berdua mengambil langkah bersama untuk keluar dari ruangan ini sekaligus kantor ini juga.


Celvin telah menyerahkan semua urusan kantor kepadaku. Dan pasti akan sangat membuatku sibuk dan keteteran. Namun, tak apa. Toh, keadaan memang tidak memungkinkan untuk Celvin bekerja. Daripada Riska tetap disini, semua hal malah akan semakin terhambat. Baiklah! Mari bekerja dengan baik. Semoga badan dan otak ini selalu sehat wal'afiat.


****


Setelah semua perjuangan ini itu. Menghadiri beberapa rapat sebagai perwakilan dari Celvin. Akhirnya tuntas sudah setengah hari ini. Dan kini telah sampai diwaktu makan siang. Dengan langkah gontai aku menuju ruang kerja Nike dan Tomi. Betapa beratnya kakiku ini, serasa ditahan oleh seseorang dari belakang. Namun, semua tetap harus disyukuri, bukan?


"Fanni!" seru seseorang menyebut namaku. Sontak saja, aku menoleh kepadanya yang ternyata adalah Nike bersama Tomi dibelakangnya.


Aku menghentikan langkahku dan memilih menunggu mereka berdua. Setelah mereka sampai disini, kami menuju lift dan masuk ke dalamnya. Melewati beberapa lantai, demi mencapai lantai dasar lalu keluar.


"Makan diluar aja ya?" ajakku kepada mereka berdua.


"Iya, gue pengennya juga diluar aja. Males di kantin antri," jawab Tomi.


"Lah nggak sama temen cowok, Tom?"


"Gue lagi kangen loe, Fann. Hahaha."


"Halah."


Nike hanya tertawa mendengarkan beberapa perbincanganku dan Tomi selanjutnya. Kami bertiga menuju parkiran dengan rencana menebeng mobil milik Tomi untuk menuju ke suatu restoran. Sesampainya di parkiran, kami bertemu Mita. Ia pun datang menghampiri kami.


"Gue gabung ya?" izinnya.


"Loe yang traktir ya?" celetuk Tomi.


"Parah loe, mau nodong gue?"


"Jadi, mau nggak? Haha."


Nike menyela, "Tomi jangan kayak gitu. Ayo, Mita. Kebetulan mau makan diluar juga nih."


Mita menyunggingkan semburat senyum di wajahnya. Jarang, sekali ia bisa tersenyum semanis itu. Lantas, kami berempat naik ke dalam satu mobil yaitu milik Tomi. Sang pemilik alias sang pengemudi, perlahan memacu mobilnya meninggalkan gedung kantor ini untuk sementara waktu.


Aku yang berada didepan, kini teringat akan Mas Arlan. Seketika, aku segera mengambil ponselku didalam kantong blazerku. Saat aku mengecek didalamnya, benar saja, Mas Arlan telah mengirimkan beberapa pesan untukku. Aku sampai dibuat tersenyum-senyum sendiri.


Suamiku : Sayang udah istirahat belum?


Suamiku : Dek, masih sbuk ya?


Suamiku : Dimanapun brda jgn lupa makan ya sayang. Mas syang kamu, Dek. I LOVE YOU. Jgan genit sama orang, apalgi sama Celvin.


Suamiku : Duh kok blum dibles sih, Dek? Kamu dmna sayang. Mas udah kangen pngn ketemu lho."


Suamiku : Dekku sayang. Halooooo.


Suamiku : P


Begitulah isi beberapa pesan darinya. Entah terhitung ada berapa. Pada akhirnya aku merasa iba, kemudian aku membalas semua pesannya yang masuk. Ia sudah rindu kepadaku. Benarkah? Atau hanya gombal semata? Yang pasti aku begitu senang dibuatnya. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Mas Arlan memang tak ada matinya.


"Hmm... sekarang mah senyum-senyum gitu ya?" celetuk Tomi tiba-tiba.


"Iya dong. Punya suami gitu, makanya cepet halalin si do'i. Biar ada yang perhatian hehe," jawabku.


"Emang Tomi punya pacar?" tanya Mita.


Tomi tampak menatap wajah Mita dari kaca dihadapannya. "Punyalah, Mit. Do'i kece badaaaiii."


"Terus loe ngapain masih nemplok ama cewek-cewek? Emang nggak cemburu cewek loe?"


"Kagaklah, Mit. Gue kan mainnya rapi haha."


"Dih... dasar cowok centil. Kalau dapet gue, gue gaplok loe, Tom."


Nike terdengar terkejut dengan penegasan Mita itu. "Jadi perempuan jangan galak-galak, Mit. Yang lembut sedikit aja."


"Hmm... panjang deh ni jadinya."


Aku terkekeh saja, tanpa ikut campur akan perdebatan mereka. Hingga mobil yang kami tumpangi berbelok ke suatu restoran. Tomi memarkirnya kemudian. Lalu kami turun secara bersamaan dan masuk ke dalam. Setelah itu, kamu duduk di salah satu meja kosong sembari memesan hidangan sesuai selera masing-masing.


Gue bisa makan enak. Gimana Celvin dan Riska sekarang ya? Hmm... Mas Arlan juga gimana ya? Jahat nggak sih gue?


Bersambung...

__ADS_1


Budayakan tradisi like komen..


__ADS_2