Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Isi Hati Mama


__ADS_3

Ibuku masih bersikap biasa saja sejak tadi. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali diam dan terima. Meski begitu, rasa sesal dan kesal teramat sangat banyak di relung hati sana. Padahal aku berharap beliau menjadi bahagia, seperti saat pertama kali diperkenalkan dengan Kak Febi.


Yah, apalah dayaku yang hanya remahan rengginang. Kak Pandhu mendapatkan gadis perawan yang menawan. Sedangkan aku, meski Mas Arlan termasuk tampan. Ia tetaplah seorang duda. Perbedaanku dengan Kak Pandhu memang sangatlah jelas. Mau bagaimanapun itu, aku tetap bersyukur karena telah bersama Mas Arlan.


Biarlah, jika ibuku akan tetap seperti itu. Anaknya sendiri saja tidak menarik, masih menginginkan hal-hal lain. Apalagi, kalau aku secantik Citra Kirana, mungkin beliau menginginkanku agar menikah dengan pangeran ketujuh dari Kerajaan Inggris.


Huhh!!! Kesel!


Dengan sejumlah perasaan masam itu, aku segera mengambil langkah untuk menuju kamar lamaku. Setelah sampai ditujuan, aku mengambil beberapa helai pakaian yang hendak kukenakan. Kemudian keluar dari kamar lagi untuk bergegas mandi.


Guyuran air yang begitu dingin, mampu menyegarkan diriku dari setiap keletihan hari ini. Jika biasanya aku selalu bimbang dan galau, sekarang merasa lebih nyaman dan tenang. Yah, siapa yang tidak bahagia jika sebentar lagi akan dipinang oleh lelaki dambaan hati. Penantian selama itu, akhirnya akan terbayar tuntas. Harapanku adalah semoga segera diperlancar urusanku dan terselesaikanlah masalah keluarga kedua orang yang kukenal tersebut.


"Segarnya," ujarku sesaat setelah mengguyurkan air diarea wajahku.


Khayalku mulai melayang lagi. Membayangkan tentang kehidupan dimasa depan. Saat nanti aku sudah resmi menjadi istri dari Mas Arlan. Satu atap dengannya dan Selli. Memasak untuk suamiku, mengerjakan segala urusan rumah tangga dan tentunya berbakti kepadanya. Ah... pasti indah sekali bukan?


Tapi, berbicara soal memasak, aku sama sekali belum belajar. Niat terdahulu pun juga sudah kulupakan. Mungkin aku harus segera mengambil langkah tentang itu. Aku pikir ibuku bisa menjadi guru memasak yang hebat. Sepertinya, aku harus membujuk beliau. Tak peduli, jika beliau masih tidak menyukai Mas Arlan. Kesepakatan tetaplah kesepakatan, jika sudah sejauh ini, beliau pun tidak akan bisa mencabut restunya kembali. Ya! Kami sudah menang telak.


"Akhirnya kelar juga," ujarku saat menyelesaikan ritual mandiku.


Setelah itu kupakai terlebih dahulu pakaian ganti. Dilanjutkan dengan langkah keluar untuk kembali ke dalam kamar lamaku. Sebelum itu, aku mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah isya'. Mungkin akan memakan durasi yang sama seperti sebelum-belumnya.


****


Beberapa saat sudah berlalu, aku masih berdiam diri didalam kamar ini. Mungkin anggota keluargaku yang lain masih sibuk berbincang bersama. Tak ada satu pun yang datang kepadaku. Aku rasa mereka memberikan waktu agar aku bisa istirahat, mengingat aku pulang terlambat petang tadi.


Sedangkan, Mas Arlan belum juga menghubungi setelah balasan pesan terakhirnya. Sudah seharian penuh, aku sama sekali tidak bertemu dengannya. Seperti ada yang kurang, jika melewati hari tanpa dirinya. Namun, aku tidak ingin terlalu menekan Mas Arlan agar selalu disampingku. Sebagai karyawan yang bekerja dibidang yang sama, aku pun cukup mengerti tentang kesibukan yang kekasihku tersebut jalani. Belum lagi penyelesaian masalah masih terus berjalan.


Kangen sih, tapi harus sabar dulu. Tunggu besok deh.


Suara guntur mulai terdengar nyaring di telingaku. Bahkan beberapa kali, aku sampai tersentak kaget. Padahal sore tadi masih cerah dan sekarang tanda-tanda hujan mulai menampakkan dirinya. Sedangkan dingin mulai bergelayut. Suhu udara asli berkolaborasi menjadi satu dengan dingin AC yang masih terpasang di kamar ini.


Hanya dengan selimut dan bantal guling sebagai pengobat rasa dingin. Andai saja Mas Arlan disini. Tidak! Maksud andai saja Mas Arlan menghubungiku, pasti akan lebih menghangatkan suasana hatiku. Namun, jika cuaca seganas ini, sepertinya ia juga tidak akan berani melakukan panggilan suara kepadaku.


Musim penghujan seperti ini, biasanya sangat cocok untuk para pengantin baru. Beberapa orang mengatakan hal itu dan aku sempat beberapa kali mendengarnya juga. Aku rasa, aku paham tentang arti didalam kalimat itu.


Hmm... jadi pengen cepet-cepet menikah hehe.


"Ehh??? Aaaaaaaaaaaaaaa... gila! Mikir apa sih gue???" gerutuku sendiri dengan disertai teriakan yang amat kencang.


Sontak saja segera kututup mulutku menggunakan selimut yang kupakai. Herannya, aku sampai berpikiran sejauh itu.


"Fanni!" seru ibuku dari luar kamar ini.


"Mampus...," ujarku lirih. "Iya Ma," lanjutku untuk menjawab beliau.


"Buka pintunya, sayang."


"I-iya Ma, bentar ya."


"Cepet!"


"Iya Mama, sabar dong sabar."


Aku beranjak turun dari ranjangku. Kemudian mengambil langkah untuk menuju daun pintu berada. Setelah sampai, segera kubuka benda tersebut dengan menimbulkan bunyi kriet. Ibuku telah berdiri dibaliknya. Lalu, beliau melangkah masuk tanpa aku persilahkan.


Diam-diam, aku merasa malu sendiri. Jika ibuku datang sekarang, berarti beliau mendengarkan teriakan mautku tadi. Kalau benar adanya, aku pasti diberondong dengan berbagai macam pertanyaan yang membosankan.


"Mama belum tidur...?" tanyaku pelan-pelan.


Beliau duduk ditepian ranjang. Lalu melambaikan tangan agar aku mendekat. "Sini, Mama mau bicara," perintah beliau.


Tanpa menunggu aba-aba lagi, aku segera mendekati beliau. Dengan harapan, semoga tidak ada pertanyaan dan perkataan yang menyulitkan diriku nantinya.


"Kenapa, Ma?" tanyaku lagi.


"Kamu tadi kenapa?" tanya beliau kembali.


Duhh... Mama beneran denger. Gimana nih?


"Y-yang mana sih, Ma?"


"Teriak-teriak kayak orang kesetanan aja kamu. Mikirin apa kamu? Belum juga nikah, pasti mikir aneh-aneh ya?"

__ADS_1


"Apaan sih, Ma? Ya... ya enggaklah! Tadi ada kecoa kok."


"Halah, nggak mungkin. Kamar ini selalu rajin Mama bersihin."


"Ihh... serius Mama. Lagian Mama sendiri mau ngomong apa sih?"


Ibuku terdengar menghela napas begitu panjang kemudian beliau hembuskan lagi. Beliau menatapku tajam, namun langsung beralih ke tempat lain. Ekspresi getir seperti itu, yang membuatku benar-benar cemas. Jangan sampai ibuku menarik kata-kata yang sempat beliau ucapkan.


Kami saling terdiam untuk beberapa saat. Mambuat hatiku menerka-nerka sesuatu yang aneh. Diiringi dengan suara hujan yang begitu deras sampai mampu memecah keheningan. Aku sudah sangat lega, aku tidak ingin kelegaanku kembali menjadi sebuah kekecewaan, itu saja.


Tiba-tiba ibuku meraih kepalaku. Beliau merengkuhnya ke dalam pelukan didada. Sebagai anak yang baik, aku menuruti semua itu. Lagipula, pelukan ibuku adalah pelukan terhangat sepanjang masa.


"Sayang, jadi kapan Nak Arlan akan datang ke rumah kita?" tanya beliau.


"Be-belum a-ada keputusan, Ma," jawabku terbata-bata.


"Mama masih bingung sebenarnya."


Sontak saja kutarik kepalaku kembali dari pelukan beliau. Kukernyitkan dahiku, menandakan rasa heran yang mulai bersemayam dibenakku. "Bingung gimana lagi sih, Ma?" tanyaku kemudian.


Ibuku menggigit bibir bawah sembari memberikan jawaban kepadaku, "Nggak tau juga."


"Emang Mama masih nggak suka sama Mas Arlan ya?"


"Sebenarnya kalau dibilang nggak suka, ya nggak begitu. Dibilang benci, juga nggak benci. Jadi biasa aja."


"Terus?"


"Mama masih khawatir sama kamu. Melepas seorang anak perempuan itu lebih menyakitkan daripada melepas anak laki-laki. Karena anak perempuan otomatis akan dibawa pergi. Bahkan, Mama belum sempat memperbaiki hubungan kita. Selama ini Mama selalu berharap, kamu bisa pulang kembali. Kumpul lagi bersama kami, apa gunanya rumah yang besar? Kalau anak perempuan kami satu-satunya lebih memilih tinggal sendiri."


Mama?


Mendengar penjelasan ibuku yang begitu panjang tersebut, membuatku merasa sesak didada. Aku tidak menyangka beliau akan berpikiran seperti itu. Aku pikir beliau sudah membiarkan diriku berjalan sendiri. Namun, kasih seorang ibu memang luar biasa besar. Keinginan untuk berkumpul bersama seorang anak gadisnya masih tetap ada. Bahkan, bisa saja sampai nanti, saat anak tersebut sudah menikah.


Disinilah rasa bersalahku kembali muncul. Aku menyadari lagi keegoisan yang selama ini kulakukan. Hanya karena iri kepada Kak Pandhu kala itu, aku sampai keluar rumah. Dengan hasil yang membuat orangtuaku terluka. Entah, cara bagaimana yang bisa kugunakan untuk meminta maaf. Tanpa itupun pasti ayah ibuku akan memaafkan, tapi hatiku tetap akan menyesal disepanjang usia.


Kurengkuh badan ibuku dan mengecup pipi beliau. Aku kembali cengeng, dengan menumpahkan air mata sesalku. "Maafin Fanni ya, Ma? Fanni terlalu egois selama ini. Seharusnya Fanni bisa dewasa, apalagi diumur yang setua ini. Tapi, Fanni malah bikin Mama dan papa nggak bahagia," ujarku.


"Fanni nggak tau harus pake cara apa lagi, agar Mama dan papa bisa bahagia. Sebelum itu terjadi, Fanni malah akan menikah. Dan lelaki itu bukan pilihan Mama."


"Hmm... sebenarnya rada berat juga harus melepas kamu untuk seorang duda. Apalagi kamu anak bodoh kayak gini."


Aku segera melepas pelukanku dan mengusap air mataku. Kemudian bertanya, "Ma-maksud Mama apa? Kok aku dikatain bodoh?"


"Udah nggak bisa masak, beberes juga masih seenaknya aja. Belum bisa ngurus anak kecil, kadang-kadang malah kayak anak kecil. Ehh... sekarang mau menikah dengan seorang duda. Punya anak satu lagi."


Seperti ada sebilah pisau yang menusuk hatiku bertubi-tubi. Seolah menimbulkan bunyi jleb tepat dihatiku. Aku tidak menyangkal atas pernyataan ibuku. Tapi, lidahku serasa kaku. Selama ini aku berlaku sekenanya saja. Karena sempat putus asa dengan datangnya jodoh. Bahkan aku smeoat berpikir, aku tidak mungkin menikah selamanya.


Mungkin beberapa orang sempat mengalami seperti aku. Meski tidak banyak, pasti tetap ada. Kadangkala aku juga merasa iri, saat melihat pasangan gemuk yang saling menerima apa adanya. Tapi, tidak denganku. Sehingga aku menjadi ciut nyali. Sampai bisa berpikiran se-negatif itu.


"Kamu nggak boleh satu rumah dengan mertua pokoknya. Kalau bisa pindah disini sama Arlan," usul ibuku.


"Kok gitu, Ma?" tanyaku.


"Yah, dengan begitu Mama bisa bantuin kamu. Kalau kamu ikut mertua, Mama khawatir kamu direndahin disana."


"Ya enggaklah, Ma. Lagian ibunya Mas Arlan sudah sepuh, Ma. Beliau malah masrahin anak dan cucunya sama aku. Terus Mas Arlan juga udah punya rumah sendiri, dia juga menarik diri dari keluarga besar dan menjadi orang biasa. Nggak perlu khawatir nantinya."


"Oh."


"Kenapa, Ma?"


"Jadi, Mama emang udah nggak bisa kumpul sama kamu lagi dong?"


"Kan aku bisa main dan Mama juga bisa datang, Ma. Kayak aku jauh dari tempat ini aja. Lagian ini kan baru rencana, nikah aja belum."


"Hmm... ya sudah. Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, Mama tunggu Arlan segera datang melamar kamu. Secepatnya lebih baik, Mama nggak ingin timbul fitnah. Kalau kamu keluyuran sama dia terus sebelum menikah, nanti apa kata orang?"


"I-iya, Ma."


"Ya sudah kamu tidur, sudah malam."


"Ma? Maafin Fanni ya?"

__ADS_1


Ibuku mengangguk diiringi dengan senyuman yang begitu teduh. Disisi lain, aku malah merasa gusar. Selain rasa bersalahku karena belum bisa membahagiakan beliau, aku juga belum bisa memastikan kapan Mas Arlan akan datang melamarku. Apalagi masalah keluarganya belum juga selesai dan mungkin akan timbul sengketa lebih besar, mengenai proyek yang baru akan dibangun. Apakah ini termasuk ujian besar sebelum menikah?


Yah, apapun itu, semoga cepat selesai dan juga tidak mengganggu hubungan kami lagi.


Aku kembali menutup pintu kamar setelah ibuku berlalu. Kemudian, aku kembali merebahkan tubuh gendutku diatas ranjang. Hujan pun sudah mereda. Sehingga terbesit sebuah rencana untuk menghubungi Mas Arlan. Aku perlu berbicara kepadanya. Selain rindu, aku juga khawatir tentang keadaannya.


Setelah ku pencet tombol panggil, tak lama kemudian kami telah tersambung.


"Halo sayang, Assalamu'alaikum. Selamat malam, ada yang bisa dibantu?" sapa salam dari Mas Arlan untukku dengan nada yang terdengar begitu konyol.


"Wa'alaikumssalam. Selamat malam kembali, apakah bisa bicara dengan Tuan Arlan?" balasku.


Mas Arlan terdengar tertawa dari kejauhan sana. "Dengan saya sendiri, Nona Cantik. Ada urusan apa, anda menghubungi saya semalam ini?"


"Rindu."


"Benarkah?"


"He'em."


"Sama sayang, maaf ya seharian ini Mas cuekin kamu."


"Jahat banget. Terus, masih sibuk enggak sekarang?"


"Dikit lagi, Dek. Sabar ya, besok kita ketemu. Oke?"


"Iya Mas, kelarin dulu kalau gitu. Aku matiin aja."


"Ja-jangan dong!"


"Entar aku ganggu, sayang."


"Kita ubah jadi video call aja ya?"


"Boleh, Mas."


Setelah mendapat persetujuanku, Mas Arlan memberikan usulan video call dari layar ponsel kepadaku. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menyetujuinya. Akhirnya kami bisa bertatap muka, meskipun melalui sekotak layar saja. Tak mengapa, asal rasa rindu ini terobati.


Wajahnya masih saja begitu manis, meski terlihat dari bawah. Aku rasa, ia meletakkan ponselnya diatas sebuah meja kerja dan menghadapnya. Sedangkan aku masih diposisi tidur dengan wajah yang terbalut selimut, hanya mata dan setengah hidung saja yang terlihat.


Untuk beberapa saat, Mas Arlan masih diam dan hanya memberikan senyuman beberapa kali. Ia begitu fokus pada pekerjaannya. Aku semakin kagum kepadanya, dalam situasi sibuk seperti ini, ia masih meluangkan waktunya untuk bertatap muka denganku.


"Aku bantuin, Mas?" ujarku.


"Sini dong, Dek. Pijitin Mas aja ya?" jawabnya.


"Nggak mau, aku kan wanita karir bukan tukang pijit hehe."


"Ya nggak apa-apa dong, sayang. Kan khusus buat suami sendiri."


"Belum kali."


"Suami online, sayang."


"Hmm... ada aja ya? Emang masih banyak banget ya?"


"Dikit lagi kok, kamu kalau ngantuk bobo' aja. Tapi nggak usah dimatiin, biar Mas bisa lihat wajah kamu pas lagi merem."


"Nggak mau, malulah."


"Katanya rindu?"


"Lah, kan yang rindu aku. Seharusnya aku yang liatin kamu, bukan kamu yang liat aku."


"Hehe... bener juga ya? Sabar ya, pokoknya besok kita ketemu."


"Aku tunggu, Mas."


Begitulah percakapan manis kami. Hal itu berlangsung lumayan lama. Tak jarang, kami saling melempar kelakar. Setidaknya kami bisa melepas sedikit rasa hati yang merindu.


Bersambung...


Komen+like yang banyak, biar aku semangat next babnya hari ini.

__ADS_1


__ADS_2