Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Duh!


__ADS_3

****


"Fanni lihat saya," Ujar Celvin memberikan intruksinya padaku dengan telapak tangan yang masih berada diatas kedua pundakku.


Kemudian aku mencoba mengikuti perintahnya. Aku berusaha sangat keras, hanya untuk bertatapan wajah saja dengannya. Lebay bukan? Aku tidak tau pasti, mengapa Celvin bisa sangat membuatku terpesona.


Netra cokelatnya yang indah membuatku harus menelan saliva beberapa kali. Tatapannya yang tajam seolah-olah mampu menembus dinding kokoh dalam hati. Semua yang ada padanya bisa membuatku gila. Mungkin aku sudah benar-benar jatuh cinta.


Miris bukan?


"Ke-kenapa Pak?" tanyaku untuk memastikan apa maunya.


"Haha... emang aku segitu seremnya ya Fann?" ujarnya bertanya kembali.


"Enggak kok Pak, siapa yang bilang coba."


"Badan kamu gemeteran manis hehe."


"Hehe... iya Pak iya hehe."


Gerah sekali rasanya. Padahal ruangan ini terpasang AC. Namun, setiap lejitan kalimat ambigu dari bibir Celvin berhasil membuatku kepanasan dan gerah hati.


Tak mau terus menjadi budak cinta, akhirnya aku kembali duduk dan mulai mempelajari proposal lagi. Sedangkan Celvin masih tersenyum melihat tingkahku. Aku merasa waktu berjalan sangat lambat, seperti dua hari saja aku didalam ruangan ini.


"Fanni... Fanni..." ujarnya lagi.


"Pak ini buat klien yang mana ya?" ujarku berusaha mengalihkan topik pembicaraan supaya lebih etis dan berjalan sebagaimana mestinya.


"Sebelum itu, saya mau ngasih tau kamu Fann."


"Soal apa Pak?"


"Soal diri saya."


"Ehh?"


"Kanapa?"


"Harus ya Pak?"


"Lho harus dong, kamu kan sekarang sudah menjadi sekretaris pribadi saya semua tentang perusahaan maupun atasan harus kamu pelajari Fann."


"Ohh..."


"Kenapa nggak mau?"


"Ehh... mau kok Pak hehe."


"Oke, kita mulai lagi."


Celvin berjalan kearah kursi kerjanya. Ia mulai mencari-cari berkas dari dalam laci mejanya. Kemudian, ia menyodorkannya padaku setelah ditemukan.


Aku buka perlahan berkas yang tersusun dalam map hitam tersebut. Aku mempelajarinya dengan baik. Semua hal tentang Celvin atau bisa disebut biodata yang lengkap tentang dirinya.


Dari berkas tersebut, aku mengetahui banyak hal yang tidak banyak orang tahu. Mulai dari nama, sekolah, beberapa certifikat atau semacam piagam. Bahkan beberapa hal kecil seperti makanan, musik dan lain-lain yang menjadi favoritnya.


"Wah... Pak Celvin prestasinya sangat bagus ya," ujarku nyeplos begitu saja.


"Siapa dulu," jawabnya dengan memasang ekspresi sedikit arogan.


Aku terus larut dalam aktivitas membacaku. Setelah berkas pribadi Celvin, aku beralih lagi pada proposal tentang perusahaan dan kerja sama dengan klien.


Aku juga tidak lupa menanyakan segala sesuatu tentang pekerjaan ini, disaat kutemui beberapa hal yang tidak terlalu kupahami. Dan dengan sabarnya Celvin menjelaskan secara detail dan serius.


Kini kami berlaku seperti atasan dan bawahan sebagaimana mestinya. Sama-sama mengerahkan keseriusan dan kefokusan. Semua rasa berdebar dalam hatipun perlahan sirna. Hal ini berlanjut hingga jam makan siang telah tiba.


"Oke kita lanjut nanti Fann," kata Celvin padaku.


"Baik Pak." jawabku.

__ADS_1


"Mau makan bareng?"


"Ah enggak usah Pak, saya ada janji sama teman saya."


"Hmm... alasan kamu."


"Be-beneran kok Pak."


"Yasudah sana mumpung belum terlalu sibuk, kedepannya kita bakal lebih sering makan diluar bareng klien."


"Iya Pak."


Celvin keluar ruangan lebih dahulu sebelum aku. Memang benar sekali, apa yang ia katakan. Aku akan lebih sibuk lagi kedepannya. Maka dari itu, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama Nike ataupun Tomi.


Kini aku berdiri didepan lift yang akan mengantarkanku ke kantin perusahaan di lantai bawah. Aku sedang menunggu Nike dan Tomi yang sudah aku kabari lewat pesan singkat.


Tatapan sinis karyawan yang lewat masih saja belum hilang. Tampaknya ketidakikhlasan mereka belum kunjung mereda. Meski merasa tidak nyaman, aku berusaha lebih santai dan terkesan tidak peduli. Aku berharap mereka cepat pergi. Jangan sampai juga aku bertemu Mita, karena aku sudah cukup lelah untuk bertengkar dengannya.


"Fanniiiiiiii..." panggil dua orang secara bersamaan. Tomi dan Nike disana, mereka berlarian kecil menghampiriku.


"Pelan-pelan say," ujarku.


"Udah rindu kita ndut," kata Tomi.


"Iya Fann hehe," sambung Nike.


"Kalian lebay deh."


"Loe nggak percaya ama kita ndut?"


"Bukan gitu cess, tapi ini belum ada satu hari lho nggak ketemunya."


"Tapi emang rindu lho Fanni, aku sama Tomi kesepian hehe."


"Ya ampun kalian bikin gue terharu, pengen nangis."


"Yaelah tambah lebaynya loe ndut, udahlah hayu."


Kami bertiga menuruni lantai dengan menggunakan lift. Lalu berjalan kearah kantin berada. Meski masih ragu, aku tetap memberanikan diri. Mencoba cuek dengan semua orang yang masih bergidik terhadapnya. Kalau tidak dimulai sekarang, lalu kapan?


"Sini biar gue yang antri beli minum," kata Tomi sembari mengacungkan telapak tangan meminta uang pada aku dan Nike


"Yaelah cess sekali-kali traktir napa? Ada cewek baru lho," kataku sembari menyerahkan uang kertas sepuluh ribuan.


"Sssstttt... Jangan berisik, gue lagi pdkt itu hehe."


"Hmm... yaudah sana gue mau ngantri nasi ama Nike."


"Siap bos!"


Sebelum pergi kearah penukaran makan siang, aku meminta kupon milik Tomi. Aku bermaksud untuk mengambilkan dua piring dan salah satunya milik Tomi. Untuk mempersingkat waktu.


Sistem antrian masih diterapkan di perusahaan ini. Karena memang memiliki karyawan yang lumayan banyak. Meski masih kurang efektif, tapi belum ada satu orang pun yang komplain. Mereka semua sudah cukup puas dengan fasilitas kantor sama halnya denganku.


"Ssssttt... Lihat tuh makan aja dua piring pantes gede gitu," bisik salah satu karyawan kepada temannya dan berhasil tertangkap di gendang telingaku.


"Biasa lambungnya gede, segede bendungan hahaha," balas satu karyawan yang lain.


"Makanya, tapi heran gue dia pake pelet apa ya sampe diangkat jadi sekretaris pribadi sama si bos ganteng."


"Pelet monyet kali."


"Hahahaha bener loe, ihh najis dah."


Tengkukku terasa kaku disini. Aku ingin menghiraukannya, namun tidak bisa. Ada perkataan yang membuatku sakit hati. Bahkan, aku terlalu takut untuk melihat siapa mereka.


Aku pikir aku sudah naik satu tingkat karena berani melawan Mita. Nyatanya, aku masih saja down mendengar hinaan dari mulut orang lain. Aku merasa dikutuk semua orang. Kepalaku terasa berputar dan mataku memanas. Aku mematung kaku untuk beberapa saat.


"Fanni ngapain masih berdiri disitu kamu?" ujar Nike menyadarkanku.

__ADS_1


"Oh iya." jawabku, aku kembali melanjutkan langkahku yang sempat terhenti.


Aku menghampiri Nike. Berusaha menyembunyikan semua perasaanku supaya Nike tidak khawatir. Air mata yang sempat akan jatuhpun kini seakan ditarik kedalam kembali.


"Kenapa Fann?" tanya Nike berusaha mengorek apa yang membuatku menghentikan langkah beberapa saat yang lalu.


"Enggak kok nggak apa-apa," jawabku.


"Serius?"


"Iya Ke."


"Jangan sungkan kalau mau cerita Fann."


"Serius gue nggak apa-apa."


"Yaudah kita makan dulu jangan berpikir yang macem-macem."


"Iya Ke."


Aku mengusap wajahku perlahan dengan telapak tanganku. Menghela napas panjang dan menghembuskannya kembali. Aku harus lebih tenang agar bisa menikmati makananku dengan nyaman.


Setelah Tomi datang membawa tiga botol minuman teh. Kami memulai aktivitas menyantap. Seperti biasa kami membicarakan hal-hal garing dan tidak penting. Namun, semua itu sangat membantu membuatku lupa perkataan dua orang tadi.


"Gimana ndut kerjaan baru?" Tanya Tomi.


"Luar biasa cess," Jawabku.


"Jangan ditanya Tomi entar dia ngeluh mulu," Celetuk Nike.


"Haha kayaknya emang luar biasa deh Ke, si ndut dah keok gitu mukanya."


"Udahlah nggak usah bahas gue, gue pengen tau tuh soal cewek loe cess."


"Apa sih ndut, doain aja napa."


"Manis tauk mirip Nike, kok mau sih ama loe?"


"Parah loe ndut, gue mah disini doang lembeknya diluar sana gue macho haha,"


"Eh liat tu gaes Pak Celvin dateng, enaknya Fanni bisa satu ruang sama si bos ganteng hehe."


"Nike genit deh!"


"Enggak kok aku becanda hehe."


Celvin berjalan begitu gagahnya bersama salah satu seorang manager. Semua pasang mata tak berkedip menatap dirinya yang sangat berkharisma kecuali aku, Nike dan Tomi.


Kami bertiga malah terkesan cuek dan mengobrol asyik sendiri. Lagipula Tomi seorang pria sedangkan Nike wanita yang telah bersuami, jadi tidak ada alasan untuk tetap melihat pemandangan indah tersebut.


Yah, kuakui aku masih melirik-lirik sedikit kearah Celvin. Melihat setiap gerak-geriknya, yang rasanya tidak ingin aku lewatkan sedikitpun. Aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Aku juga bingung, mengapa begitu cepat perasaan ini tumbuh.


Aku hanya berharap bisa menyembunyikan perasaan ini sampai hilang dengan sendirinya.


Bersambung...


Aduhh Fanni, Mas Arlan gimana???


Ya ampun aku bimbang mau jodohin Fanni sama siapa hehehe...


Gimana nih readers ku, masih pada berharap sama MAS ARLAN ya???


Mas Arlan



ATAU


Celvin..

__ADS_1



__ADS_2