Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Bertengkar


__ADS_3

Lelah lunglai aku berjalan menyusuri lantai demi lantai. Untuk menggapai apartemen pribadiku. Banyak sekali yang aku pikirkan kini. Nyatanya sudah berusaha menghindari masalah, tetap saja takdir berkata lain. Masalah Ibuku belum selesai, kini malah ada lagi.


Seakan memberitahukan bahwa aku dan Mas Arlan memang tidak bisa bersama. Jika benar seperti itu, mengapa harus ada rasa cinta diantara kami? Lalu jika salah, mengapa banyak sekali halangan yang datang?


Meski aku belum mengetahui respon dari Riska akan bagaimana. Namun, hatiku berkata buruk. Tidak semudah itu bagi kalangan atas menerima calon anggota keluarga secara sembarangan. Terlebih Mas Arlan pernah dikhianati cinta. Lalu aku, aku jauh dari kata sempurna.


Ya Tuhan!


Sebenarnya ada penyesalan, saat aku lebih memilih Celvin untuk pergi daripada Mas Arlan. Namun, apa dayaku. Semua itu kulakukan secara spontan, mengingat Celvin adalah atasanku yang sedang bekerja bersama. Belum lagi, aku masih sangat takut pada Riska. Saat itu, aku berpikir agar Mas Arlan bisa berbicara baik-baik dengan Riska tanpa diganggu emosinya oleh keberadaan Celvin.


Aku hanya berharap ia menungguku didepan apartemenku. Namun, semua hanya khayal semata. Mas Arlan tidak ada disini. Ponselku pun tampak kosong tanpa pesan masuk lagi. Aku rasa Mas Arlan marah padaku. Selain mengabaikannya, aku juga tidak langsung membalas pesan atau mengangkat teleponnya.Ya, aku yang terkadang spontanitas seperti ini. Pada akhirnya menghancurkan diriku sendiri.


Akhirnya aku masuk kedalam apartemenku dengan penuh penyesalan.


Kurebahkan tubuhku pada ranjang. Sesekali kutengok ponselku, berharap Mas Arlan menghubungiku kembali. Namun, tidak ada. Beginikah rasanya khawatir karena menghadapi pacar yang sedang marah?


Aku benar-benar mengkhawatirkan Mas Arlan. Bagaimana jadinya jika ia bertengkar dengan Riska? Yang baru aku ketahui adalah keponakannya. Bagaimana jika Riska membela diri dengan membawa-bawa namaku sebagai tameng diantara keluarganya.


Terlebih, aku telah melakukan hal yang tidak disiplin beberapa saat yang lalu. Mana mungkin keluarga kaya bisa menerimaku dengan baik. Aku yang hanya sebagai wanita pegawai saja tanpa memiliki manner-nya konglomerat.


Jika dipikirkan, akan semakin pusing. Seolah kepala ingin pecah seketika.


Hari yang semakin gelap memaksaku untuk beranjak dari tempat tidurku. Peluh tadi siang, seakan sudah meresap pada kulit-kulit yang membalut lemakku. Namun, letih tak kunjung hilang. Sepertinya mandi lebih menyegarkan. Siapa tau selepas aku beraktivitas bebersih, Mas Arlan akan membalas pesanku.


Aku beranjak menuju kamar mandi dengan membawa beberapa helai pakaian yang akan aku kenakan malam ini. Pakaian santai tentunya, dengan bawahan celana dibawah lutut.


Bayangan kejadian sore tadi terus membekas dalam ingatanku. Aku membasuh tubuhku dengan benak menerawang jauh. Banyak hal yang kutakutkan. Sekali lagi, aku takut dengan respon Riska nantinya. Respon keluarganya pula. Aku tidak bisa kehilangan Mas Arlan, rasa cintaku sudah terpupuk sampai tumbuh subur. Sesubur badanku.


Setelah selesai bebersih diri, aku hendak kembali lagi ke kamar. Dengan balutan handuk yang menutupi rambutku yang basah. Diriku lebih segar dari sebelumnya. Tidak terlalu penat lagi walaupun masih banyak pikiran yang mengganjal.


Aku rasa lebih baik menonton televisi, daripada diam menunggu kabar yang tidak jelas. Walaupun acara televisi zaman sekarang, tidak terlalu berfaedah.


Sosok tegap seseorang tengah duduk di sofa milikku. Mataku terbelalak lebar dibuatnya. Ada keraguan dalam hati untuk melanjutkan langkahku ke ruang televisi tersebut. Bagaimana bisa pria itu masuk kedalam apartemenku?


Namun, setelah aku amati sekali lagi. Sepertinya aku kenal dan pria itu tidak asing. Ia tampak menunduk membelakangiku. Aku rasa ia...


"Ma-Mas Arlan!" seruku padanya.


Sontak saja ia menengok ke belakang. Menatap diriku yang masih terpaku di tempat. Aku bersyukur ia memang Mas Arlan.


"Dek?" katanya.


"Kok bisa masuk sih?" tanyaku untuk memastikan.


Mas Arlan beranjak dari duduknya. Kini ia berjalan menghampiri diriku berasa. "Dasar ceroboh!"


"Ceroboh?"


"Pintu kamu masih kebuka lho."


"Masa' sih?"


"Nggak lebar sih, dikit doang. Tapi tetep aja , gimana kalau ada orang asing masuk?"


"Aku nggak sadar Mas."


"Hmm... abis mandi ya?"


"Ehh..."


Sontak saja, aku berjalan mundur. Menghindari wajah Mas Arlan yang maju mendengus padaku. Belum lagi aku malu, karena masih membalut rambutku dengan handuk. Aku melupakan diriku yang baru saja mandi. Benar-benar tak bisa tampil sedikit rapi dihadapan kekasihku.


Wanita macam apa aku ini?


Aku membalikkan badanku dari Mas Arlan. Lalu berjalan menuju kamar. " Tungguin aku, mau ngeringin rambut dulu Mas."


Tidak ada jawaban apa-apa dari Mas Arlan. Sejujurnya dalam hatiku, aku merasa sangat senang. Mas Arlan masih sempat datamg kesini. Setidaknya bisa mengurangi rasa kekhawatiranku yang berlebihan.


Dengan begitu juga, aku bisa meminta maaf padanya. Serta menjelaskan alasanku.


Baiklah! Mari sedikit berpoles make up senatural mungkin. Berganti pakaian yang lebih pantas dan sopan dihadapannya. Walaupun itu semua tidak mengubah pandangannya terhadapku. Setidaknya, aku berusaha tampil sebaik mungkin dihadapannya.


Beberapa menit kemudian. Setelah selesai berias sederhana, aku keluar dari kamar. Lalu menuju dapur untuk menyeduhkan kopi susu hangat untuk Mas Arlan. Karena, malam sangat dingin dengan rintikan hujan gerimis diluar ditambah hembusan AC.


"Mas diminum kopinya," ujarku sembari menyuguhkan segelas kopi tersebut dihadapannya.


"Makasih ya Dek," katanya.


"Emm... maaf ya Mas."


"Maaf kenapa?"


"Soal tadi sore."


Mas Arlan meneguk perlahan kopi susu yang kemungkinan masih panas. Setelah itu menatapku dalam-dalam. "Kenapa kamu bela dia?"


"Bela siapa Mas? Celvin?"


Mas Arlan mengangguk pelan.


"Aku nggak bela Mas, tapi kan situasinya aku masih kerja sama dia."


"Apa kamu masih suka sama dia?"


"Suka? Maksud Mas Arlan apa? nanyain soal itu lagi."

__ADS_1


"Mas hanya memastikan aja kok. Segenting apapun itu seharusnya kamu milih Mas, Dek."


"Kan aku udah jelasin Mas. Kurang gimana lagi?"


"Apa kamu tau Dek? Celvin itu penjahat, bukan dia aja anggota keluarganya pun juga."


"Atas dasar apa Mas Arlan nilai orang seburuk itu?"


"Karena dia pembully busuk yang sampe menghilangkan nyawa orang."


"Aku tau soal itu."


"Terus kenapa kamu bela dia? Dia penjahat, sekali membunuh bisa jadi bunuh orang lagi. Selama ini Mas khawatir sama kamu, apalagi kamu sampe diangkat jadi sekretaris sama dia. Atas dasar apa? Mas takut kamu berakhir sama seperti korbannya dulu, tapi Mas nggak bisa berbuat apa-apa Dek. Mas belum jadi suami kamu!"


Apa-apaan ini? Inikah sifat asli dari Mas Arlan. Ia sama sekali tidak terlihat lembut. Mata dan wajahnya memerah berhias urat-urat hijau yang seakan ingin melata keluar dari tempatnya.


Aku bergidik ngeri dibuatnya. Meski ia tidak melakukan kekerasan apapun. Namun, amarahnya terlihat besar pada Celvin dan juga keluarga Sanjaya lainnya. Aku hanya tidak habis pikir, ia bisa berpikir sesempit itu. Padahal diriku yang pernah menjadi korban bully saja tidak semarah itu pada Celvin.


"Terus Mas Arlan mau aku gimana?" tanyaku dengan hati-hati.


"Kamu berhenti bekerja disana," jawab Mas Arlan yang membuatku terkejut bukan kepalang.


Mataku terbelalak lebar lagi dengan rahang yang jatuh menganga. Tidak mungkin aku berhenti pada pekerjaan yang masih terhitung baru. Dan itu demi seorang pria. Aneh sekali, bagaimana jika Ibu dan Ayahku juga tau. Pasti mereka bisa membenci Mas Arlan lebih besar lagi.


"Mas emm... tenang dulu. Kayaknya kamu terlalu lelah," kataku selanjutnya.


"Dek, Mas serius. Mas bisa aja kamu kerja di kantor Mas," jawabnya.


"Apa? Kantor Mas? Perusahaan keluarga?"


"Iya."


"Nggak!"


"Kenapa? Kamu lebih milih dia dibanding Mas?"


"Mas pikir dong, Nona Riska tadi responnya gimana. Mas orang penting, dan aku disuruh kerja di perusahaan kamu. Kamu pikir aku nggak akan tertekan disana? Kamu pikir keluarga kamu bisa nerima aku secara cuma-cuma."


"Mas akan usahain Dek!"


"Ini masalah kalian Mas, bukan masalah aku. Kenapa aku harus kena imbasnya?"


"Kamu jangan egois, sebentar lagi kita akan menikah. Kenapa kamu nggak bisa berkorban tentang ini? Jadi kamu lebih milih pembunuh itu daripada Mas?"


"Cukup!!! Pembunuh, pembunuh, pembunuh. Kenapa harus sekasar itu sih? Celvin udah berubah dan aku lebih paham Celvin daripada kamu, Mas!"


"Oohh... jadi kamu bener-bener bela dia? Apa kamu nggak inget perjuangan kita selama ini Dek?"


"Aku nggak bela siapapun. Dari awal kan, aku udah jelasin aku masih situasi kerja sama Celvin. Lagian Mas juga nggak tau ketakutanku gimana, setelah tau Riska adalah keponakan kamu Mas!"


"Riska kenapa? Mas bisa atasi itu, Dek. Mas cuman minta satu itu aja dari kamu."


Tak terasa aku menangis mendengar ucapan demi ucapan dari Mas Arlan. Rasanya sakit sekali.


Aku meminta Mas Arlan untuk pulang. Namun, aku lebih dulu berlari kedalam kamarku. Aku merebahkan diri sembari sesenggukan sendiri. Mana mungkin aku keluar dari pekerjaan. Pasti imbasnya akan besar.


Lagipula Celvin tidak bersalah padaku. Yang aku tau, Celvin telah berubah. Ia bagaikan kembali menjadi anak polos yang tidak tau akan beberapa hal. Kenapa Mas Arlan setega itu mendakwa Celvin. Walaupun Celvin memang bersalah. Dan herannya, kenapa baru sekarang ia melarangku bekerja bersamanya?


"Huaaa... terus gue harus gimana dong?" gerutuku sendiri.


Aku tidak tau, apakah Mas Arlan sudah pulang atau belum. Sebenarnya, aku tidak ingin ia pulang. Aku ingin ia datang lagi padaku, dan kami bisa saling memaafkan. Tidak seperti ini, kedatangannya malah membuat pertengkaran kami semakin besar.


Usahaku merias diri dan berganti pakaian pun telah sia-sia. Semua karena Mas Arlan yang berpikir tidak-tidak padaku. Padahal aku sudah merasa menyesal dan meminta maaf padanya. Aahhh... sudahlah! Terserah mau bagaimana. Yang pasti aku tidak bisa keluar dari pekerjaanku sama sekali. Restu Ibuku saja belum didapat, mana mungkin kami bisa menikah secepat itu. Oleh karena itu, aku tidak ingim tergesa-gesa mengambil keputusan.


****


Satu jam berlalu setelah pertengkaran kami. Mungkin Mas Arlan sudah pulang ke rumahnya sendiri. Tenggorokanku terasa kering, sehingga memaksa diri untuk bangun dari tempat tidur.


Saat aku melewati cermin rias, aku berhenti sejenak. Mataku tampak bengkak terlihat dari pantulan diriku di cermin. Hidungku pun memerah juga. Tampaknya aku menangis memang cukup lama.


Biarlah, semoga esok hari bisa membaik.


Bruuukkk!


"Ehh???" aku terkejut lagi, Mas Arlan tampak terkulai didepan pintu kamarku.


Sepertinya ia ketiduran sambil duduk bersender di pintu kamarku. Astaga! Apa sebenarnya yang Mas Arlan mau? Apa harus seperti ini agar aku bersedia keluar dari perusahaan Sanjaya?


"Mas?" ujarku.


"Eh iya Dek," jawabnya sembari mengucek matanya yang memerah.


"Kok tidur disini?"


"Maaf Mas ketiduran deh, tadi Mas denger kamu nangis. Terus nggak berani masuk, jadi duduk disini."


"Maaf Mas."


"Nggak sayang, Mas yang salah karna terlalu emosi."


"Kita sama-sama salah Mas. Yaudah duduk lagi disana yang empuk."


Mas Arlan membangunkan dirinya dari lantai. Kami berjalan bersama kearah sofa. Namun sebelum mencapainya, aku berbelok arah terlebih dahulu guna mengambil air minum.


Setelah didapat, aku membawanya ke ruang sofa. Aku duduk tepat disamping Mas Arlan. Ada rasa canggung yang mulai bergelayut dalam hati. Sulit untuk membuka pembicaraan. Aku terlalu takut jika salah, yang ada kami akan bertengkar lagi.

__ADS_1


"Maafin Mas ya Dek," ujar Mas Arlan.


"Aku juga minta maaf Mas," jawabku.


"Mas terlalu emosi dan juga cemburu. Apalagi kamu sempat suka sama dia."


"Aku nggak suka dia kok, aku nggak mau ikut campur masalah keluarga kalian Mas. Aku cuman menjalankan tugasku sebagai sekretaris itu aja."


"Mas sekarang paham Dek."


"Mas maafin aku, aku belum bisa keluar dari perusahaan Celvin."


"Hmm..."


Raut getir Mas Arlan pasang pada wajahnya. Sepertinya masih ada rasa kecewa karena keputusanku. Untuk aku saja sekecewa itu. Lalu bagaimana dengan Riska yang telah merajut kerja sama dengan Celvin?


Apa yang terjadi pada wanita cantik itu sekarang? Aku menjadi merasa bersalah lagi. Karena dirikulah penyebab awal dari semuanya. Seandainya, aku tidak meminta Mas Arlan untuk menjemputku. Pasti rahasia mereka tidak akan terungkap.


Lagi-lagi, karena diriku. Mungkinkah aku seorang pembawa sial? Bukan aku kan?


"Mas pulang dulu, kasian Selli," kataku.


"Selli lagi nginep ditempat Neneknya, Dek," jawabnya.


"Yaudah Mas aja pulang, istirahat."


"Mas pengen lebih lama sama kamu."


"Ya nggak bisa gitu dong Mas. Kita kan belum menikah."


"Kapan semua masalah kita selesai ya Dek?"


"Nggak tau Mas, aku malah takut sama keluarga kamu yang ternyata konglomerat."


"Nggak usah takut, Mas akan selalu genggam tangan kamu. Tapi kamu janji, jangan tiba-tiba gandeng orang pergi sambil ninggalin Mas gitu aja."


"Iya iya, maaf Mas soal tadi sore."


"Liat kamu nangis didepan mata Mas, hati Mas kayak hancur. Padahal Mas tau kamu nangis karna Mas juga, maafin Mas yang egois, Dek."


"Yaudah lupain soal itu, kita baikan lagi ya? Terus berusaha lagi."


"Iya Dek."


"Tapi Mas Arlan pulang dulu."


"Emm... coba sini?"


"A-apa?"


Mas Arlan meraih wajahku. Sontak saja aku kaget, mataku secara otomatis terpejam. Hembusan napas Mas Arlan semakin dekat. Jantungku bergedup kencang. Dengan bara yang seolah membakar jiwa. Mar Arlan mengecup bibirku, menyatu kedalam sebuah keromantisan lagi.


Lagi-lagi, kurang lebih satu menitan lamanya. Mas Arlan mengangkat wajahnya. Sedangkan aku menunduk. Malu sekali rasanya. Untuk beberapa saat jantungku berdegup tidak beraturan dibuatnya.


"Hei!" seru Mas Arlan padaku.


"I-iya," jawabku tersontak.


"Malah bengong, diem aja lagi."


"Kamu pulang sana!"


"Kok Mas diusir sih Dek?"


"Nggak sopan! Pulang sana."


"Hahaha... cie malu-malu."


"Kan udah dibilangin jangan gitu lagi!"


"Tapi kamunya nggak nolak lho hehehe."


"Bukan gitu! Udah pulang sana Mas!"


"Iya iya sayangku."


Cup!


Keningku dicuri oleh Mas Arlan seenaknya saja.


"Mas! Ihhh..."


"Iya iya sabar, ini mau pulang sayang. Kamu jangan cengeng lagi ya?"


"Iya!"


"Love you."


"To."


"Pelit banget deh."


Aku tersenyum simpul. Menatap Mas Arlan yang berjalan keluar dari tempat tinggalku. Aku tidak cukup kuat untuk mengantarnya sampai bawah. Karena rasa malu dan wajahku yang masih memerah padam.


Dua kali ia mengecupku tanpa izin. Dosa kami lagi-lagi bertambah.

__ADS_1


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen...


__ADS_2