Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Jelas!


__ADS_3

****


"Nona Fanni? Saya tahu kok, anda sudah menjadi orang terpandang. Mungkin biaya penalti pun akan terhitung sedikit."


"Maksud kamu apa? Kok ngomong gitu?"


"Hanya menalar."


Celvin??? Seperti itukah ia memandang diriku yang sekarang? Apa dia pikir, aku menikah dengan duda seperti Mas Arlan hanya demi uang?


Betapa aku tidak mengerti dengan apa yang Celvin katakan. Meski begitu, aku tetap menerka dengan maksud didalam perkataannya. Hanya saja, aku tidak habis pikir. Setega itukah dirinya menilai diriku? Memangnya, aku cukup punya muka untuk menjadi manusia meterialistis?


Kini, aku yang merasa kecewa. Boleh saja, ia memberiku sangsi keras, namun tidak harus menggunakan perkataan yang pedas. Padahal aku sudah sangat menyeganinya sebagai teman ataupun atasan. Tapi, mengapa Celvin seperti itu?


"Boleh saja anda memberiku sangsi tegas karena hal kemarin Vin... maksudku Bapak Celvin. Tapi, anda tidak berhak menilai sesuatu secara serampangan, barang sekali saja!" tegasku.


Celvin diam seketika. Urat hijaunya perlahan menghilang. Yang aku tangkap hanya raut menyesal. Sepertinya penegasanku berhasil membuat dirinya untuk bungkam. Yah, aku hanya tidak ingin direndahkan lagi. Aku tidak ingin menorehkan luka lagi dihatiku yang sudah bahagia, itu saja. Walaupun tetap akan ada banyak rintangan, namun aku tetap berusaha. Demi diriku dan keluarga besarku. Demi bisa melindungi putriku. Karena jika aku lemah, tentunya aku tidak akan ada daya sama sekali.


Aku membangunkan diriku dari posisi duduk. Kudorong kursi kearah belakang dengan pelan. Waktu bekerja sudah tiba. Karena Celvin belum mengatakan sangsi atau bahkan pemecatan untukku, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke meja kerjaku.


"Emm... Fann?" panggil Celvin sebelum aku sampai ditempat tujuan.


Aku berhenti sejenak, kemudian membalikkan badan dan menolehnya. Ia tidak lagi memerintah diriku untuk duduk kembali. Ia malah beranjak berdiri dan menghampiriku. Entahlah, apa yang sedang Celvin pikirkan. Kini aku hanya diam sembari menunggu perkataan lanjutan. Berbeda dengan diriku yang dulu, sekarang aku lebih tenang dalam menghadapi masalah. Meski tadi sempat tak enak hati.


Celvin terdengar menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya kembali. Aku menatapnya kembali dengan raut datar, namun terkesan masam. Aku kecewa kepadanya. "Ada apa?" tanyaku kemudian.


"Maaf, aku terlalu emosional," jawabnya.


"Tak apa. Kamu atasanku, itu hal yang lumrah. Malah aku yang lebih emosian tanpa mendengar penjelasan lebih dulu."


"Sejujurnya, aku agak kecewa dengan sikap Om Arlan. Karna, mau bagaimanapun kamu masih menjadi sekretarisku, Fann."


"Aku paham, Vin. Atas nama suamiku, aku meminta maaf sebesar-besarnya. Setelah satu bulan menikah, kami memang belum sempat menghabiskan waktu bersama."


Celvin menganga. Lantas, mengisyaratkan diriku untuk kembali duduk dihadapan meja kerjanya. Mau tak mau, aku menuruti. Karena sikapnya yang mulai tenang, aku pun tak segan untuk mengikuti. Lagipula, aku butuh penjelasan tentang statusku dan juga pekerjaan hari ini. Tidak ada salahnya, bukan? Jika aku memberikan ia kesempatan untuk berbicara. Aku pun masih tahu diri, aku hanya bawahannya yang menadah uang dari perusahaannya.


Celvin mengusap kasar pada wajahnya yang masih awet tampan. Aku rasa ada hal yang mengganjal hatinya. Apalagi kondisi perusahaannya kini sedang tidak stabil. Jika ditilik lagi, rasanya iba juga terhadapnya. Beban yang Celvin emban, pasti sangat berat.


Kuhela dan kuhembuskan napasku. Lalu berucap, "Maaf Vin, aku terlalu mengecewakanmu."


"Jangan lagi ya, Fann. Aku bener-bener bingung," jawabnya.


"Mungkin tidak. Semoga saja."


"Tapi, Fann... apa kamu memang akan keluar setelah kontrak selesai?"


"Maybe, karna aku wanita, Vin. Aku pasti akan mengandung seorang anak. Tidak mungkin aku selamanya bekerja."


"Ke-kenapa? Aku bisa kasih kamu cuti panjang kok."


Kugelengkan kepalaku tanda tak setuju. Lantas menjawabnya, "Kodrat seorang wanita sejatinya menuruti kehendak suami, Vin. Aku tau kok, Mas Arlan bukan orang yang kaya raya. Title keluarga Harsono yang dia sandang, tak lantas membuat kami bergelimang harta. Makanya, sampai sekarang aku belum membahas tentang pengunduran diriku."


Celvin tertegun, "Kok bisa begitu? Memangnya Om Arlan tidak mendapat warisan atau saham dari perusahaan?"


Aku menggeleng lagi. Lalu, kuberikan senyuman untuk Celvin. Ia mengernyitkan dahinya karena heran. Mungkin memang terdengar ambigu dan tidak lazim. Atau Mas Arlan malah terkesan sebagai anggota yang tidak berguna. Namun, memang seperti itu adanya.


Dalam perjalanan pernikahan kami yang baru seumur jagung, aku mulai mempelajari tentang hidupnya. Mas Arlan memang sangat pandai dalam memilih makanan ataupun barang. Namun, ia hanya membeli jika perlu dan sangat butuh saja. Misalnya, kalung sebagai kado ulang tahunku kala itu, belakangan ini kuketahui, ia telah menarik tabungannya dalam jumlah besar. Yah, aku rasa kebiasaannya dalam memanjakan Nia memang masih ada. Jadi tanpa ragu, Mas Arlan membelikan diriku barang semahal itu.


Oleh karena itu, sekarang ini aku sangat mewanti-wanti supaya kami bisa hidup dengan hemat. Bukan berarti pelit, namun harus bisa menjadwalkan dengan baik jika memerlukan sesuatu. Karena ada putri kecil dan dua orang yang masih harus dibayar, sampai kontrak kerja pengasuh Selli berakhir.


Kembali lagi kepada Celvin. Ia masih menatapku penuh tanda tanya. Lalu aku memberikan jawaban kepadanya, "Suamiku hanya manager biasa. Bahkan di kantor cabangnya, bukan pusat. Jabatanku bahkan lebih tinggi darinya. Jadi, kenapa tadi aku sempet marah, Vin? Karena kami sama sekali tidak meminta sepeser pun uang dari keluarga besar. Kecuali rumah."


"Maafkan aku, Fann. Aku tidak tau."

__ADS_1


"Aku paham kok. Tapi, Mas Arlan ingin aku secepatnya keluar dari pekerjaan ini."


"Jangan! Kalau kamu nggak ada, aku sama siapa? Kamu tau kan, Nona Fanni? Aku nggak bisa dekat dengan siapapun."


"Kenapa jadi lembek gitu sih? Kan ada Mita? Mungkin bisa gantiin aku."


"Nggak, anak itu belum dewasa. Masih males-malesan. Kamu tau kan? Aku masih belum bisa dekat dengan siapapun, karena takut berbuat kesalahan lagi. Bahkan, se-berubah apapun diriku, orang lain tidak bisa menerima dengan baik. Termasuk Papa dan juga keluarga suamimu. Akibatnya, pekerjaanku berantakan, cintaku tak sampai."


Oh... Celvin.


Jika dalam kondisi seperti ini, Celvin tidak menyisakan sedikitpun karakter preman yamg sempat ia sandang. Ia seperti kucing yang kehilangan arah dan tujuan. Namun, sejujurnya ia sangat imut dan menggemaskan. Mungkin, jika diperbolehkan, aku ingin mencubit gemas pada wajahnya yang putih dan sehalus sutera itu.


Ah... tidak! Suamiku lebih dari segala-galanya. Celvin sudah kalah telak. Lagipula, mereka memiliki wibawa dan kharisma masing-masing. Jadi, akan sangat berbeda jika disandingkan.


"Kenapa kamu ngomong begitu?" tanyaku kemudian.


Celvin menghela napas. Lalu menjawabku, "Kadang aku merasa sangat lelah. Entah baik, entah buruk. Respon orang lain sama saja. Memuakkan! Mungkin, kalau Papa memiliki anak selain aku, pasti perusahaan ini bukan ditanganku. Aku akan jatuh sebagai gelandangan karena dibuang."


"Ehh... jangan ngomong kayak gitu!"


"Enggak Fann. Tapi, itu kenyataannya. Bukan hanya Papa, keluarga Riska pun sampai sekarang tidak bisa memaafkanku bahkan keluargaku. Padahal tidak semua anggota keluarga itu bersalah. Mereka mencoba menggulingkan perusahaan ini."


"Vin, sebenarnya aku juga udah mencoba bicara sama Mas Arlan. Tapi, sepertinya memang sulit menerima semuanya. Kamu yang sabar. Aku bersumpah tidak akan berkhianat."


"Aku selalu percaya padamu, Fann. Kamu orang yang baik. Aku hanya terlalu lelah. Haha... lucu ya? Kesannya kayak perempuan."


"Tidak! Ada kalanya seorang pria juga perlu menangis."


Inilah yang aku sangat takutkan. Sebagai sekretarisnya, tentu saja aku lebih mengetahui dirinya bahkan dari siapapun. Aku khawatir Celvin menjadi putus asa dan kembali pada dirinya dimasa lalu. Lebih sialnya, jika ia melampiaskannya kepadaku yang notabene adalah orang yang gemuk seperti korbannya dimasa lalu.


Yah, semoga saja tidak. Aku berharap masalah ini selesai secepatnya. Sehingga perdamaian kedua keluarga bisa dicapai dengan baik.


"Oke, lupakan tentang itu. Kita harus kerja kan Bapak Celvin?" tanyaku.


Celvin diam saja, kini peluhnya malah keluar.


Celvin tersentak kaget. "A-anu...," ujarnya lirih.


"Kenapa? Masih inget yang tadi?"


"Emm... Fann. Sebenarnya ada satu kesalahan lagi. Aku telah melakukan hal tercela lagi."


Kukernyitkan dahiku karena heran. Hal tercela? Soal apa? Banyak sekali pertanyaan yang menumpuk didalam benakku.


"Tercela?"


Celvin mengangguk lalu diam. Sedangkan aku sama sekali tidak mengerti tentang maksud perkataannya. Apalagi kini Celvin terlihat begitu cemas sampai bercucuran keringat. Ada apa lagi dengannya? Hal bodoh apa lagi yang ia lakukan?


Sampai pekerjaan yang seharusnya sudah dijalankan, kini malah terhambat karenanya. Hatiku semakin risau, tatkala Celvin belum juga berucap. Ingin rasanya kembali ke tempat kerja, namun tidak berani karena ia terlihat masih membutuhkanku. Gilanya, diriku yang harus menangani atasanku tersebut.


"Vin? Nggak apa-apa kan?" tanyaku lagi.


"Emm... aku balikan sama Riska," jawabnya.


"Haah? Bagus dong, dengan begitu cintamu memang kesampaian. Mungkin memang harus berjuang lebih banyak lagi."


"Masalahnya ak-"


"Iya aku tau kok, keluarga mereka belum menerima kamu. Tapi, aku pun bisa memperjuangkan cintaku dengan Mas Ar-"


"Fann? Ini beda."


Aku semakin tidak mengerti dengan ucapan Celvin. Jika bukan masalah keluarganya, lalu apa? Padahal ia sudah kembali ke pelukan Riska. Bukannya bahagia, malah cemas tidak karuan. Dan sepertinya bukan mengenai masalah keluarga. Lantas, tentang apa?

__ADS_1


Beberapa kali, kulihat jakun Celvin tampak bergerak naik dan turun. Menandakan bahwa ia sedang menelan salivanya. Dahiku berkerut lagi. Ada satu alasan yang tiba-tiba muncul dari dalam benakku. Sampai tengkukku kaku seketika. Mungkinkah, Celvin dan Riska...?


Ah mana mungkin. Orang sepintar mereka, tidak mungkin seperti itu.


Aku mencoba menepis bayangan kata itu. Namun, tingkah Celvin yang semakin gelisah menyebabkan pemikiranku semakin menerka tidak jelas. Haruskah aku bertanya? Atau menunggu saja? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan terhadapnya?


"Emm... kalau nggak ada yang perlu diceritakan lagi, sepertinya kita harus kembali bekerja," ujarku, dalam artian memancing.


"Fann, gue bodoh," jawabnya. Mungkin karena panik, ia sampai memakai kata gue bukan aku seperti biasanya.


"Emang loe kenapa???"


"Gue khilaf."


"Vin?! Loe nggak macem-macem kan?"


Deg! Celvin menatapku dengan sayu penuh rasa sesal. Aku gemetar hebat. Sepertinya dugaanku memang benar. Ia kembali kepada Riska. Kerinduannya selama bertahun-tahun. Apakah benar seperti itu? Kutelan ludahku berkali-kali, meski terasa sangat berat. Sebuah hasrat memang datang tanpa pandang bulu. Tapi, kenapa harus Celvin?


"Sial!!!" umpatnya sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Lantas, ia berdiri dari duduknya. Ia menatap keluar jendela penuh nestapa.


Sedangkan aku, aku masih diam menganga. Tidak habis pikir, bingung dan sama sekali tidak mengerti dengan segala situasi yang sedang berlangsung.


"Gue hanyut, Fann. Betapa bodohnya gue, malam itu," ujar Celvin lagi.


"Kenapa...? Kenapa?!! Kenapa loe sebodoh itu, Vin? Dalam situasi semacam ini?!" tanyaku tegas.


Hening. Kacau! Memang bukan masalahku, hanya saja menyangkut kerabat suamiku. Dan juga sahabatku. Aku pun hanyut dalam suasana hati Celvin yang sedang kacau. Aku mengerti betapa menyesalnya dirinya. Bodohnya, ia sama sekali tidak bisa menahan hasrat rindunya yang entah terjadi di malam kapan.


Riska juga, seharusnya sebagai wanita ia bisa menjaga diri dengan baik. Haruskah alasan rindu dan cinta yang mendasari perbuatan itu? Tidak! Bukan itu. Cinta tidak akan berlaku seperti itu. Meski, aku mengakui perbuatanku dengan Mas Arlan pun tak jauh dari perbuatan yang salah. Namun, kami masih bisa menjaga batasan. Tapi, mengapa Celvin dan Riska?


Aaaarrrrgggg!!! Bagaimana perasaan Mas Arlan jika mengetahui semua ini? Kemungkinan ia masih bisa menahan, lantas bagaimana dengan keluarga besar yang masih ada hubungannya dengan perusahaan?


Semakin dipikirkan semakin buntu pikiranku. Aku pribadi, sangat amat menyesalkan semua itu terjadi. Apalagi Riska dan Celvin merupakan atasan yang sedang menjabat di perusahaan masing-masing. Bagaimana jika Riska sampai hamil? Mau ditaruh dimana muka semua orang yang terpengaruh?


"Vin...?" panggilku pelan.


"Ya...?" jawabnya sama pelannya.


"Loe pake pengaman kan?"


Celvin menggeleng. "Semua terjadi karena spontanitas," jawabnya.


"Dimana? Kenapa sampai bisa seperti itu?"


"Di apartemenku."


"Gila loe! Gue juga pernah dalam tahap pacaran, tapi kami masih berpikir sehat. Duh... gimana kalau sampai cewek loe isi?"


"Gue pasti bakalan tanggung jawab, Fann."


"Nggak bisa dong! Loe harus tunggu sampai melahirnya, baru bisa menikah. Kalau enggak, loe bakal terhitung zina sepanjang masa meskipun sudah menikah."


Ini benar-benar diluar nalarku. Bukan masalahku, tapi akan berpengaruh sangat besar bagi kami semua. Aku tidak memperdulikan lagi keadaan Celvin, karena hatiku juga ikut larut dalam kekacauan ini. Aku meninggalkan ruangan ini tanpa memikirkan urusan pekerjaan lagi.


Aku rasa, saat ini pun Riska sedang hancur, sehancur-hancurnya. Tidak mungkin dirinya menceritakan perbuatan itu kepada sembarang orang. Sekalipun itu Ivan yang merupakan penggemar setianya. Disisi lain hatiku, sebenarnya aku merasa iba dengan perjalanan cinta yang kedua sejoli sempurna itu. Padahal, sebelum menikah aku sudah sangat hancur akan halang rintang yang sempat menerpa. Namun, ternyata ada sepasang kekasih yang diberikan halang rintang lebih berat.


Lantas, kini aku harus membantu dengan cara apa? Yang aku khawatirkan adalah kondisi Riska. Seberapa marahnya keluarga Harsono nanti, jika Riska benar-benar mengandung anak dari Celvin? Bisa-bisa Riska dihempas begitu saja. Kebencian kedua pihak keluarga pasti akan semakin meruncing. Gilanya, aku istri dari Mas Arlan dan sahabat dari Celvin.


Bersambung...


Budayakan like+komen..


WOW!!!! Duhhh..

__ADS_1


follow my ig : @dvhyputri95


tapi jarang aktif sih.


__ADS_2