
Semangat luar biasa menyapa hatiku lalu memasuki relungnya. Mataku berbinar sembari melangkahkan kaki untuk berangkat ke kantor. Aku juga tidak lupa membawa kalung pemberian Mas Arlan yang nantinya akan aku cek ke sebuah toko perhiasan.
Tidak bisa dipungkiri, hatiku masih merasa sungkan menerima hadiah sebagus itu. Jika benar itu berlian pasti harganya sangat mahal. Belum lagi diberikan kepadaku yang hanya seorang teman. Rasa-rasanya tidak pantas saja.
Senandung merdu dari bibirku terus terdengar mengikuti irama musik yang aku putar. Kedua tanganku sangat asyik memainkan kemudi mobil untuk melaju kearah kantor.
Matahari pun tampaknya sangat mengerti perasaanku. Sinarnya tidak terasa panas meskipun sudah menerangi seisi bumi. Atau mungkin aku yang terlalu bahagia sampai-sampai terik panasnya tidak terasa di kulit tubuhku yang tebal padahal jendela mobil sengaja aku buka.
Sedangkan panorama pagi hari di perkotaan masih sama saja. Ramai dan macet dibeberapa titik jalan. Tidak ada yang berubah, karena aku masih hidup di belahan bumi yang sama.
Tidak sampai dua puluh menit sampailah aku di tempat yang dituju. Suasana masih cukup sepi. Wajar saja masih jam tujuh pagi.
"Kayaknya harus selalu bahagia biar cepet berangkat kali ya?" Gumamku pada diri sendiri diiringi semburat senyum dari wajahku.
Aku mengarahkan mobilku ke sudut area parkir yang menjadi tempat favoritku. Lalu beranjak keluar dan berjalan kearah ruang kerja.
Sesekali sapaan beberapa orang security menyambutku dengan hangat. Dan tentunya aku menyambutnya dengan lebih hangat.
Rasanya aku bisa lebih mudah ramah dan akrab dengan orang yang posisinya di bawahku. Aku tidak tau pasti apa alasannya. Namun, pastinya orang-orang seperti mereka akan lebih menghargai satu sama lain dibandingkan dengan orang-orang yang berposisi tinggi maupun sama denganku. Yah, meskipun tidak semua seperti itu.
"Selamat pagi," Sapa seseorang dari arah belakang ketika aku akan memasuku lift.
"Se... selamat pagi pak," Jawabku sedikit terkejut.
Lagi-lagi Celvin sudah datang dan akan memakai lift karyawan lagi. Entah sial atau beruntung, kami bertemu lagi ditempat ini. Apalagi ia menampakkan senyum menawannya disaat mendengar balasan salamku. Wanita mana yang tidak gugup dan dag dig dug.
"Masih ingat kan soal kemarin?" Ujarnya lagi bertanya padaku.
"Soal apa ya pak?" Tanyaku kembali sembari mengeryitkan dahi. Rasanya aku melupakan sesuatu yang penting.
"Tuh kan, masih muda juga masa' udah lupa, Kalau lagi berdua jangan panggil saya pak dong,"
"Tapi saya benar-benar nggak inget pak eh anu Cel... vin,"
Ya ampun, aku gugup sekali meski hanya untuk memanggil nama Celvin saja. Dan sebenarnya apa yang aku lupakan.
Ctaakk! Celvin menjetikkan jarinya pada dahiku dengan wajah tersenyum. Tentu saja aku terkesiap kaget sambil mengaduh sakit. Lift belum juga berhenti di tempat yang dituju.
"Sial, mengapa ruanganku di lantai atas sih?" Gumamku dalam hati.
"Kan saya udah ngomong berangkat kamu langsung ke ruangan saya," Ujar Celvin.
"Ya ampun! Maaf saya benar-benar lupa," Jawabku.
Betapa malunya aku, hal sekecil itu saja sampai tidak ingat sama sekali. Dan mirisnya, yang menjadi alarm pengingatnya adalah seorang CEO yang memerintahku.
"Yaudah ayo!" Kata Celvin.
"Kemana?" Tanyaku.
"Kok kemana sih? Ke ruangan saya lah Fanni, kamu lucu ya hmm..."
"Aduuuduuhh maaf Pak saya lola,"
"Panggil Celvin aja,"
__ADS_1
"Maaf saya nggak biasa, jadi kaku,"
"Yaudah sesuka kamu aja senyamannya, gimana"
"Ii... iya Pak,"
Aku dan Celvin keluar dari kotak lift. Aku melangkah lebih lambat dibelakangnya. Aku hanya tidak nyaman jika berjalan bersamanya secara sejajar. Posisinya juga jauh lebih tinggi dariku, jadi begini lebih baik.
Sesampainya di tempat yang dituju, Celvin memasuki ruangannya terlebih dahulu kemudian mempersilahkan aku. Ruangan yang tidak asing bagiku karena beberapa kali dipanggil oleh Pak Ruddy ketika masih menjabat.
Aku bernostalgia sebentar mengingat momen-momen istimewa bagiku ketika mendapat pujian dari Pak Ruddy tentang kinerjaku. Terlebih kata beliau cukup berpengaruh pada bursa penjualan.
Itulah yang menjadi kebanggaanku satu-satunya selama ini. Meskipun sampai saat ini aku belum juga naik jabatan. Namun, aku tidak sampai kecewa. Aku rasa gajiku sudah cukup besar belum lagi bonus bulanan atas kinerjaku yang lumayan. Jadi, aku tidak pernah berharap lebih. Lagipula rezeki tidak akan tertukar bukan?
"Silahkan duduk," Ujar Celvin dengan lembut dan sopan. Tentunya mampu melelehkan hati wanita manapun.
"Terima kasih Pak," Jawabku sembari menaruh tubuh besarku pada kursi yang berseberangan dan dibatasi sebuah meja dari tempat Celvin berada.
"Kamu nggak bisa panggil saya Celvin aja ya?"
"Maaf nggak bisa Pak,"
"Hmm... Sebenarnya saya agak risih sih dipanggil-panggil dengan sebutan itu,"
"Loh kenapa? Bukannya bagus?"
"Nggak nyaman aja,"
"Menolak tua ya?"
"Haha bisa aja kamu,"
Celvin belum juga membicarakan soal permintaannya yang akan diberikan padaku. Ia malah sibuk mencari-cari sesuatu. Aku juga tidak berani mengatakan apapun sebelum ia memulainya.
Tidak sampai lima menit Celvin menemukan barang yang dicarinya. Terbukti sebuah senyum lega terlukis di wajah tampan miliknya.
Sebuah berkas atau proposal yang terbalut map berwarna biru Celvin letakkan dihadapanku. Aku menatapnya bingung untuk sejenak.
"Coba baca!" Perintah Celvin.
Tanpa pikir panjang aku menuruti perintah Celvin. Aku membaca proposal tersebut dengan seksama. Mulai dari lembar pertama, kedua dan selanjutnya.
Sampai diakhir lembar, aku masih saja belum mengerti. Maksudku aku mengerti isi proposal tersebut, namun tidak mengerti maksud Celvin menunjukkannya padaku.
"Tapi ini maksudnya apa Pak?" Tanyaku menyelidik.
"Masa' kamu nggak ngerti sih," Ujar Celvin.
"Enggak,"
"Kamu ini umur berapa Fann?"
"Tiga puluh tahun baru kemarin,"
"Kemarin?"
__ADS_1
"Emm..."
"Baru aja ulang tahun?"
"Iya Pak,"
"Wahh selamat ulang tahun ya semoga yang diinginkan cepat terkabul. By the way aku lebih tua satu tahun dari kamu,"
"Ohh ya? Saya pikir Bapak masih dibawah saya hehe,"
"Kenapa berpikir begitu?"
"Dari segi fisik udah keliatan saya lebih tua Pak hehe,"
Celvin tidak menjawabku lagi. Ia hanya terdiam mendengar perkataanku yang terakhir. Aku agak bimbang dibuatnya. Aku takut mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaannya.
Aku memilih membaca ulang isi proposal sembari menunggu Celvin berbicara lagi. Meski sebenarnya benakku mengingat-ingat kembali semua perkataanku. Apakah ada yang salah dari ucapanku.
"Fanni?" Akhirnya Celvin bersuara.
"Ii... iya Pak," Jawabku tergagap.
"Jangan pernah berpikir seperti itu,"
"Mengenai apa ya Pak, maaf,"
"Soal diri sendiri, jangan pernah minder ya,"
"Ohh maaf Pak,"
"Kok maaf sih, seharusnya kamu meminta maaf pada diri sendiri,"
Anggukan kepala aku gerakkan tanda mengerti apa yanh dibicarakan Celvin. Meskipun sebenarnya aku masih kurang mengerti. Namun, raut wajah Celvin terlihat serius pada saat mengatakannya. Seolah-olah ia menyimpan sesuatu yang tidak aku tau.
Pembicaraan ini malah keluar jalur dari masalah proposal. Celvin belum juga menjelaskan maksud permintaannya. Yah, aku hanya bersabar sampai ia berbicara. Toh, tidak ada ruginya untuk berlama-lama bersama seorang pangeran seperti Celvin. Ibarat kata, menyelam sambil minum air hehe...
Bersambung...
Aku setiap hari up ya guys, kadang juga emang agak lama. Hehe
pokoknya buat kamu kamu semua yang masih setia sabar aja.
Oh, iya buat besok kayaknya aku ijin gak up dulu soalnya ada keperluan keluarga.
Aku juga berharap novel ini semakin banyak peminatnya biar lebih semngat lagi buat nulis.
Aku kasih bonus visualnya SELLI DAN Aa' Epin. ππ
INI SELLI
INI Aa' Epin.
__ADS_1
SEMOGA SESUAI EKSPETASI SEMUA...
TERIMA KASEEEHHH πππ**