Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Teror


__ADS_3

Lega hatiku pada saat Sella kembali terdiam dari tangisannya. Ia tengah bermain dengan sang kakak. Tentu saja didalam kamarku. Kami hanya bertiga saja disini. Bermain bersama tanpa adanya Mas Arlan. Karena adanya mereka, aku bisa menampilkan senyuman yang merekah lebar, bahkan sesekali tertawa. Terlebih pada saat mendapati Sella tengah tertawa, meski tanpa suara. Cantik, tentu saja paras itu ada pada wajah anak keduaku dan juga anak pertamaku pastinya.


Tidak ada yang aku lakukan selain berbincang dengan kedua anakku, ketika sedang di rumah. Aku tidak pernah membawa pekerjaanku pulang ataupun ambil jam lembur. Waktu yang ada aku atur sebaik mungkin. Meski memang melelahkan, dan sering tidur ketika waktu sudah sangat larut. Bahkan di bawah mataku, sedikit menghitam. Tak apa, yang penting sehat. Aku akan merasa bangga jika bisa menjalani semuanya dengan kuat. Toh aku sudah sangat bahagia, jika menunggu kerikil kehidupan hilang, sampai kapan aku akan mendapatkan kebahagiaan? Karena sejatinya kebahagiaan terletak pada rasa syukur dan aku sangat bersyukur.


Meski aku harus berpisah sementara dengan suamiku, terkadang lelah mendera, rindu pun datang tanpa permisi dan seringkali menyesakkan. Aku tetap ingin berpikir positif atas semua hal itu, toh meski terpisah jauh, Mas Arlan masih sangat menyanyangi kami dan memberikan perhatian. Lalu apa yang aku gusarkan lagi? Justru aku harus bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk merasa rindu. Jika seandainya aku pernah mengatakan ini tidak mudah, itu memang benar. Namun setiap hari aku selalu ingin berpikiran secara sehat dan tidak mengeluh banyak.


Apalagi ketika Selli sudah berbicara perihal semangat. Anak putriku satu ini sudah semakin pintar. Ia selalu bilang bahwa kami harus sabar, sesuatu yang menurutku sangat mengejutkan. Bagaimana tidak, belum lama ini ia menanyakan perihal Mas Arlan yang tidak kunjung pulang. Tampaknya ia sudah bisa mencerna setiap nasehatku dan membalikkan kata-kata itu kepadaku.


Aku tersenyum, melihat Selli yang dengan polosnya mengajak sang adik berbincang. Ia sering mengatakan bahwa Sella imut dan lucu, sama cantiknya dengan dirinya. Namun bukan berarti aku langsung seenaknya saja, aku tetap mengawasi mereka berdua. Karena bagaimanapun Selli tetap anak kecil yang masih duduk di sekolah dasar, orang tua tidak pernah tahu apa ide yang tiba-tiba muncul dari anak-anak, apalagi jika berakibat fatal.


"Selli." Aku memanggilnya. "Kamu belum ngantuk, Nak?"


Selli menatapku lalu menggeleng. "Belum, Ma. Selli masih mau main sama Sella," jawabnya.


Mendengar jawaban itu, aku kembali tersenyum. Kemudian aku menilik waktu pada jam dinding yang terpasang di kamar ini. Masih pukul setengah delapan malam, pantas saja Selli belum mengantuk. Aku menghela napas dalam, lalu ikut merebahkan diri di samping kiri Sella. Posisiku miring dan menghadap mereka.


"Mama, Selli masih tidur disini, kan?" tanya Selli. Ia pun mengikuti diriku dengan merebahkan dirinya di samping Sella sebelah kanan.


"Iya, Sayang. Kita bobo' bertiga lagi," jawabku. Tanganku mengulur dan membelai wajahnya yang cantik itu.


"Emang Dede' Sella nggak tidur di ranjang itu?" Telunjuk Selli terarah pada tempat tidur bayi milik Sella.


"Dede' disitu, nanti kalau disini ditimpa sama Selli gimana? Selli kan kalau tidur kayak baling-baling."


Selli terkekeh pelan. "Maaf ya, Ma."


"Dimaafin dong, Sayang. Tidur gih kalau udah ngantuk besok sekolah lho. Kalau enggak belajar dulu, Sayang. Ada PR enggak?"


Selli langsung pura-pura menguap. Hal itu membuatku terkejut, namun kemudian tersenyum. Setiap hari ia sudah belajar, sehingga aku tidak akan memaksanya. Aku memberikan waktu beristirahat untuknya. "Ada PR nggak, Sayang? Mama baru izinin kamu buat nggak belajar tapi malam ini aja."


"Nggak ada kok, Ma," jawabnya sembari membuka mata yang sempat ia pejamkan.


"Beneran?"


"Iya, Ma. Selli nggak bohong."


Aku berdeham pelan. "Oke, khusus malem ini, kamu Mama izinin nggak belajar dulu. Tapi, ... besok-besok harus lebih rajin ya?"


"Beneran, Ma?" Matanya berbinar.


Aku mengangguk pelan. "Iya, Sayang."


"Yeee!" Selli girang.


Kepura-puraannya tentang mengantuk tadi, kini telah dihilangkan. Ia kembali segar dan masih ingin bermain dengan adiknya. Yah, tak apa, selama tidak berkelanjutan dalam bolos belajar. Seorang anak pasti juga membutuhkan istirahat untuk otaknya, seperti halnya orang dewasa yang bekerja.


Namun tiba-tiba anak putriku yang lain malah menangis. Suaranya bak memecah suasana malam ini. Aku segera bangkit dari posisiku yang merebah, lalu menggendong bayi imut milikku itu. Seperti seorang ibu kebanyakan, tentu saja aku segera memberikan--ASI. Sembari memberikannya, aku menatap wajahnya dengan senyuman yang terlukis melalui bibirku. Lagu timangan bayi, aku senandungkan sembari sesekali menatap Selli yang sudah asyik sendiri.


Untuk malam ini, sepertinya Mas Arlan juga sibuk. Entah apa yang ia kerjakan pada malam ini, waktu Canberra lebih cepat tiga jam dari Canberra. Ia sempat pamit ingin meluruskan sesuatu. Entah apa, aku tidak tahu. Apapun itu, aku selalu berharap; semoga diperlancar. Baiknya aku selalu berpikir positif, bukan? Tidak ingin diri ini memicu konflik hanya karena hubungan jarak jauh.


****


Jam sembilan malam, Selli dan Sella sudah tertidur. Aku bisa bernapas lega akhirnya. Namun bola mataku enggan terpejam ketika hendak mengikuti laju mereka ke alam mimpi. Tak ada yang aku lakukan dimalam ini ketika kedua putriku telah tertidur. Temanku hanya sepi. Bi Onah pasti sudah beristirahat, aku tidak mau mengganggu, apalagi hanya untuk mengusir rasa sepi hatiku.


Jam Sembilan malam, tentunya belum terlalu sepi untuk perkotaan. Banyak lalu lalang kendaraan yang masih lewat di depan gerbang rumah ini. Namun kakiku enggan untuk sekedar duduk di balkon rumah, karena hawanya juga dingin. Entah, saat ini aku kurang terbiasa. Berbeda dengan diriku yang dulu masih lajang, sesepi apapun hariku, malah membuat hatiku menjadi tenang.


Terkadang aku tersenyum sendirian, bahkan tertawa sampai menimbulkan suara yang kecil. Bukan karena aku gila, melainkan sebab bayangan Mas Arlan yang muncul di benakku. Tentang diri lelaki yang sudah menjadi suami dan ayah dari anakku. Betapa usilnya ia setiap malam, bahkan saat kami sedang berdua. Mencuri waktu dari Selli dan keromantisan pun terjadi. Aku tidak menyangka, bahwa kami akan berpisah meski dalam waktu sementara. Aku berusaha tetap bersyukur dan tidak mengeluh lagi. Suatu saat, ketika ia pulang, aku akan hempaskan rasa rindu yang sempat datang. Tunggu saja!


"Aku sepi tanpamu, Mas. Setelah semua ini, please jangan ada lagi. Aku nggak ngeluh, Mas. Aku cuma rindu. Besok udah puasa, semoga kamu betah menjalani puasa sendirian disana," gumamku. Mungkin hanya angin dan tembok beserta benda-benda mati yang menjadi saksi bisu atas ucapanku. Namun harapanku, pasti Tuhan yang justru tahu dan akan Dia kabulkan--mengenai Mas Arlan yang akan berpuasa sendirian di kejauhan sana.

__ADS_1


Kurentangkan kedua tanganku ke atas sembari melenguh. Kemudian, aku menilik jam lagi, siapa tahu sudah tidak di angka sembilan. Ah, ternyata masih jam sembilan lebih beberapa menit. Aku belum mengantuk.


"Mbak Fanni!" Seseorang yang tidak lain adalah Bi Onah tengah memanggil namaku dari balik pintu kamar.


Sejenak dahiku mengernyit lantaran tidak biasanya beliau mengangguku di jam sekian. "Iya, Bi. Tunggu," jawabku dari posisiku.


Kemudian, aku mulai turun dari ranjang dan menapakkan kaki menuju pintu kamar yang masih tertutup.


Kreit! Pintu terbuka. Bi Onah disana, raut wajah beliau terlukis sebuah rasa cemas. Dahiku semakin mengernyit tegas. "Ada apa, Bi?"


"I-itu, Mbak. Ada tamu," jawab beliau seolah menginginkan aku untuk segera turun ke lantai bawah.


"Tamu? Siapa semalam ini datang?"


"Non Riska. Tadi saya mau memastikan kunci gerbang, eh ada Non Riska lagi lari-lari pas baru turun dari taksi."


Riska? Ngapain semalam ini? Lalu, lari-lari? Bukankah jarak penurunan taksi sampai gerbang nggak terlalu jauh?


Segera kutepis segala pertanyaan yang merisaukan hatiku. Aku menilik ke arah kedua putriku. Tidak mungkin aku meninggalkan mereka begitu saja, apalagi tanpa pendamping. Akhirnya aku memutuskan untuk menitipkan kepada Bi Onah. "Bi, titip mereka ya?"


"Aduh, Mbak. Saya enggak berani kalo di kamarnya Mbak Fanni."


Aku berdeham pelan. "Ya udah, tolong gendong Sella ke kamar Selli aja ya? Biarin Selli tidur disini."


"Baik, Mbak. Tapi, tungguin sampai saya keluar ya, Mbak."


Aku mengangguk. Tidak hanya ibuku, melainkan juga asisten rumah tanggaku. Padahal aku tidak menyimpan banyak barang berharga di kamar ini, hanya sebuah kalung dan perhiasan mahar yang pernah diberikan oleh Mas Arlan. Baiklah, mungkin beliau-beliau ini tidak mau dianggap tidak sopan. Sehingga enggan berada didalam kamar ini, tanpa sang pemilik.


Selanjutnya Sella telah digendong oleh Bi Onah. Beliau membawanya ke kamar Selli. Karena Selli sudah besar, tidak masalah jika dibiarkan sendirian, pasti akan aman. Setelah semua urusan anak kelar, aku segera mengambil langkah untuk turun. Satu persatu anak tangga aku tapaki dengan membawa semacam perasaan penasaran. Untuk apa Riska datang? Oh, jangan sampai membawa masalah!


Tampak seorang wanita cantik yang melainkan keponakan iparku. Ia duduk di kursi tamu sembari mendekap tubuhnya sendiri. Aku masih terdiam dan sepertinya ia belum menyadari akan keberadaanku. Semakin dekat posisiku dengan keberadaannya yang menunduk, aku menyadari bahwa tubuhnya sedang bergetar. Ada apa? Pertanyaan ini melintas di benakku.


Sejenak Riska terdiam, setelah itu ia mengangkat kepalanya. Ia berdiri dari duduknya sembari menatapku. "Kak Fanni?!"


"Duduk aja. Aku buatin minum dulu."


"Nggak usah, Kak! Aku habis dari minimarket." Riska menolak niat baikku. Memang, ada dua kantong plastik berwarna putih bertuliskan sebuah nama minimarket yang sudah terkenal. Hal itu membuatku semakin tertegun heran.


"Oke. Duduk dulu." Kembali kupersilahkan Riska untuk duduk. Sedangkan diriku kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti.


Pada kursi lain aku mendudukkan tubuhku yang gendut ini, melainkan dihadapan Riska. Aku menatapnya, ia masih diam. Tampaknya, aku perlu memberikan waktu untuk menenangkan dirinya.


"Kak ...." Riska memanggilku, kali ini nadanya cukup pelan dan penuh keraguan. Ia terlihat enggan dalam menatapku lagi.


"Ada apa, Ris? Kamu kenapa?" Ketika sudah dirasa cukup, akhirnya aku mulai memberikan pertanyaan yang bermaksud mengorek kejadian yang menimpa Riska dan mengantarkan dirinya datang ke rumah ini.


"A-aku b-boleh ng-nginep nggak, Kak?" Suara Riska terbata-bata. Ia benar-benar canggung dan ragu untuk meminta izin perihal itu.


Sedangkan diriku kembali mengernyitkan dahi. Ia baru saja dari minimarket. Tanpa pulang ke apartemen, ia malah datang ke rumah ini. Siapa yang tidak terheran-heran dibuatnya. Aku pun masih enggan dalam memberikan keputusan. Bukan karena pelit, melainkan aku sudah memiliki dua orang anak. Tentu saja, banyak hal yang harus aku pertimbangkan lagi.


Kuhela napasku begitu dalam, lalu kembali aku hembuskan. Bingung, menjadi rasa yang muncul di hatiku. Sedangkan Riska masih menunggu keputusanku. Sampai tak lama kemudian, ia memutuskan untuk mengambil sesuatu dari kantong plastik dari minimarket itu.


"Ini, Kak. Aku ada kopi botol dingin," ujarnya sembari menyerahkan botol kopi dengan merk yang sering muncul di televisi.


Aku menerimanya demi menghargai usahanya. "Makasih, Ris," jawabku. Perlahan aku membuka tutup botol itu, setelahnya aku menyesap isi didalamnya. Segar, sudah pasti. Lalu, kembali kulanjutkan pertanyaanku, "kamu ada apa? Bolehkah aku tahu?"


Riska menggigit bibir bawahnya. Ada kerisauan yang terlukis di wajahnya.


"Bicara aja. Aku dengerin, Ris."

__ADS_1


Riska kembali menatapku. Namun beberapa kali masih menatap meja dihadapannya yang kosong. Kemudian ia berdeham pelan demi memperbaiki pita suara. "A-ada orang yang aneh, Kak."


"Orang aneh? Siapa? Ngikutin kamu?"


Riska menggeleng. "Ada orang yang udah satu jam berdiri di depan gedung apartemen."


Aku tertawa kecil. "Itu hanya orang biasa mungkin, Ris. Kamu jangan berpikiran negatif."


"Enggak, Kak! Aku dari minimarket udah setengah jam yang lalu. Bingung mau kemana, jadi nungguin dia pergi. Tiap malem dia disana. Dan lantai apartemen Kak Fanni kan nggak terlalu tinggi, aku tahu tiap malem dia selalu liatin jendela apartemen dimana aku tinggal."


Kali ini, aku lebih serius. Ucapan Riska sepertinya tidak main-main. Ia tampak cemas dengan tubuhnya yang kembali bergetar. Entah siapa orang itu, entah benar atau tidak. Namun jika sudah membuatnya seperti ini, rasanya bisa dicurigai juga.


Sebelum memulai pertanyaan, aku menyesap kopi botol lagi. Setelah itu, aku kembali berfokus kepada Riska. "Kamu yakin? Kalau dari setengah jam yang lalu, kenapa kopi ini masih dingin?"


"Itu kan, aku sengaja beli lagi, Kak. Anggap aja oleh-oleh. Aku habis dari minimarket terdekat, nyari keperluan yang perlu banget. Dan tiap malem, terhitung dari satu minggu yang lalu, orang itu gemar disana tiap jam sepuluh malem. Aku nggak nyangka jam sembilan dia udah ada, mungkin karena keadaan udah sepi."


"Dia siapa?"


"Aku nggak tahu, Kak. Makanya aku nggak berani balik ke apartemen karna ada dia. Takut kalau dugaanku terjadi, dan dia malah ngikutin aku ke apartemen. Mana aku sendirian."


Aku manggut-manggut saja. Terpikirkan olehku tentang cerita Celvin saat itu. Riska berubah dalam sekejap waktu. Sekarang ia datang dalam keadaan ketakutan. Mungkinkah ada hubungannya? Entahlah, tampaknya aku masih harus mengorek lebih jauh. Setidaknya bisa mengerti kondisi dirinya dan memberikan saran tanpa ikut campur.


"Riska, kenapa kamu yakin kalau orang itu merhatiin kamu? Nggak mungkin dong, kamu curiga tanpa alasan. Bisa aja kan orang yang gemar nongkrong di depan apartemen?"


Riska terdiam. Entah apa yang ia pikirkan. Seolah tidak ingin memberitahu diriku perihal apa yang terjadi kepadanya. Namun keputusan dan hak itu ada pada dirinya. Keputusanku hanya perihal izin menginap ia di rumah ini dan itu pun masih harus aku pertimbangkan lebih jauh.


Mengapa aku tidak langsung memberikan izin? Ya, karena tidak ada Mas Arlan disini. Dengan kata lain, tidak ada pria yang menjaga rumah ini ketika malam tiba. Hanya ada security komplek elit ini yang jauh didepan gerbang perumahan sana. Kali ini, aku tidak mungkin mengambil keputusan yang bisa semakin menyulitkan diriku dan keluargaku.


"Sebenarnya, ada teror semenjak tiga bulan yang lalu," ujar Riska kemudian.


Aku termangu-mangu. Apalagi ini? Teror?


"Siapa? Dan gimana cara dia neror kamu, Ris?"


Riska menelan saliva. Terbukti gerak tenggorokannya yang terlihat naik turun. Setelah itu ia melanjutkan ceritanya, "nggak tahu, Kak. Awalnya lewat telepon dan pesan. Nomor nggak dikenal. Aku pikir hanya orang iseng, jadi aku biarin."


"Kamu udah ganti nomor?"


"Tadinya cuma aku blokir karna jengah. Tapi, ada lagi dari nomor baru. Habis itu aku ganti, tapi nggak nyampe situ. Dia malah kirim surat buat aku lewat security apartemen."


"Kenapa kamu nggak lapor kalau dia orang mencurigakan?"


"Ah! Iya, ya? Sumpah, kenapa aku nggak kepikiran itu sih? Bodoh, Riska!" Riska merutuk dirinya sendiri. "Dia kayak gitu masih sebulanan sih, Kak. Dan ada ancaman buat Celvin juga, makanya beberapa hari ini aku agak dingin sama Celvin. Pas di kantor itu, sebenarnya kami lagi bertengkar, bukan mesra-mesraan, Kak. Sumpah! Aku takut."


Celvin? Oh, sepertinya sebab ini yang membuat Riska mengubah sikapnya. Mengajak Celvin putus? Aku tidak mengira. "Baiklah, Ris. Stop dulu ceritamu, kayaknya aku paham tentang sesuatu. Kamu boleh nginep disini. Tapi, ... hanya malam ini. Kamu anaknya Mas Gun, kamu harus pulang dan akan aman disana. Tolong kali ini percaya sama aku, biar semua aman. Aku dan anak-anakku juga nggak terlibat."


Riska terdiam. Tampaknya ia masih enggan untuk membahas perihal keluarga besarnya. Namun hal itu harus aku katakan kepadanya. Jika saja ada Mas Arlan disini, bisa saja kami melindunginya lebih lama. Namun tidak ada seorang pun pria. Seandainya tidak ada anak pun, aku sanggup membantu. Aku juga merasa iba. Namun Riska memiliki keluarga dan fasilitas banyak di rumah besarnya sana.


"Oke, Kak. Hanya malam ini kok," jawab Riska dengan keputusanku.


Aku menghela napas. "Maaf, Ris."


"Nggak apa-apa, Kak. Aku paham."


"Aku kasih izin libur kerja buat kamu besok. Tapi kamu harus benar-benar pulang, jangan balik ke apartemen dulu. Demi kamu sendiri, aku yakin papa kamu juga bisa menerima kamu dengan senang hati. Seenggaknya untuk sekarang, sampai kamu bisa tahu orang itu siapa. Kamu pinter lho, aku yakin kamu bisa tahu dia siapa. Tapi perlu banyak fasilitas, kan? Kamu juga nggak mungkin bilang sama Celvin untuk saat ini, kan?"


"...."


Bersambung ....

__ADS_1


Budayakan like+komen


__ADS_2