Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kebetulan


__ADS_3

****


"Bi, aku nitip Sella juga ya? Ada barang yang habis nih," ujarku kepada Bi Onah.


Beliau pun menerima tubuh kecil Sella dan mengambil alihnya dariku. "Siap, Mbak," jawab beliau.


Aku tersenyum. Sebelum berlalu pergi, aku berikan kecupan manis di pipi Sella. Kemudian aku beralih kepada Selli yang sejak tadi merengek ingin ikut. "Kamu di rumah bantu Bibi dulu, Sayang. Kasihan Dede'nya nanti ditinggalin sama kakaknya lho," ujarku kepada anak gadis pertamaku itu.


"Selli sekarang nggak pernah diajak jalan-jalan lagi sih, Ma?"


"Ini kan bulan puasa, tidurnya harus banyak. Biar nggak gampang laper. Terus Mama enggak akan lama kok, Sayang. Janji deh, kamu mau nitip oleh-oleh apa?"


Bibir Selli mengerucut karena sebal. "Aku mau ice cream yang banyak. Yang gede itu pokoknya."


"Oke, oke. Mama beliin. Tapi kamu di rumah dulu, bantu jaga adeknya sama Bi Onah ya. Udah malem mana mendung lagi."


Selli menghela napas dalam layaknya orang dewasa yang tengah merasa sesak. "Iya, Ma. Tapi jangan lama-lama ya?"


"Oke, siap!"


Kubelai halus kepalanya. Setelah itu, aku bergegas ke kamar untuk mengambil kunci mobil dan dompet untuk belanja kebutuhan yang habis. Untuk waktu, hari ini merupakan hari libur. Ibuku tidak datang, karena aku tidak bekerja. Namun ada saja hal yang membuatku harus meninggalkan rumah. Karena siang yang sangat terik, aku memutuskan untuk tidak mengajak Selli. Terlebih, ia masih latihan berpuasa. Aku tidak memaksanya bisa bertahan sampai maghrib, kapanpun asal bisa melatih diri. Namun poin utamaku tetap satu hari penuh. Jika jam dua belas sudah lemas, aku tetap tidak memaksanya lagi.


Baiklah, kembali pada aktivitasku. Setelah mendapatkan kunci mobil dan dompet, segera aku keluar dari kamar. Kutapaki lantai dan anak tangga yang letaknya masih sama. Beginilah nasib seorang ibu rumah tangga yang suaminya sedang jauh di sana, harus serba bisa. Beruntung aku masih memiliki Bi Onah. Entah apa jadinya jika tidak. Belum tentu aku bisa bertahan. Menjadi seorang ibu sekaligus ayah menjadi suatu kemampuan yang dimiliki oleh orang-orang terpilih. Untuk mereka, aku sangat kagum, siapapun itu, bahkan jika aku tidak kenal. Aku selalu mendo'akan yang terbaik.


Setelah sampai di hadapan mobil berwarna hitam milik Mas Arlan, aku segera masuk ke dalam. Jadwal pemakaian mobil memang sudah kami atur, karena sampai sekarang aku sangat enggan untuk menjual mobil merahku. Entahlah, rasanya tidak tega saja untuk menjual barang yang selalu menemaniku kemana pun, bahkan hadiah dari ayahku.


Perlahan kulaju mobil ini untuk meninggalkan rumah dalam waktu yang sementara. Hiruk pikuk hari libur tidak terlihat sama sekali, mungkin karena bulan puasa. Sehingga membuat orang enggan untuk keluar rumah karena terik matahari yang luar biasa panas. Kalau kata orang tua zaman dulu, panas disiang hari, biasanya malam akan hujan deras. Entah mitos atau memang fakta, aku tidak mengerti.


Kudendangkan lagi milik Avril Lavigne yang sudah lama tidak aku dengarkan. Melodinya masih sama saja, penuh energi dengan gaya pop rock-nya. Jika diingat wajah dari artis itupun, parasnya begitu tegas namun cantik paripurna. Memberikan kesan tersendiri saat melihatnya. Ah, aku pun berparas bule, namun tidak secantik itu. Ia bertubuh mungil, sedangkan aku gendut sekali. Aku mengidolakan seseorang yang memiliki dunia berbeda, dan sangat berbanding terbalik dengan diriku beserta kehidupanku. Terkadang aku penasaran, bagaimana caranya ia menghadapi banyaknya penggemar dari seluruh dunia, tidak menutup kemungkinan ia memiliki banyak haters.


Yah, aku selalu berpikir setiap orang pasti memiliki kesulitan tersendiri. Bahkan dari kalangan artis besar seperti seorang Avril Lavigne.


****


Sampailah aku disuatu swalayan besar. Segera aku parkir mobilku di area parkir yang telah ditentukan. Setelah itu, aku masuk ke dalam. Langkahku begitu pelan demi mencari berbagai keperluan. Semua sudah tercatat didalam benakku. Semoga saja tidak terlupakan.


Disuatu rak khusus, aku mengambil beberapa keperluan Sella. Entah popok, susu pendamping ataupun bedak dan keperluan mandinya. Beberapa stok makanan pun tidak luput dari jarahan tanganku. Mengingat Selli sedang memiliki pola makan yang besar. Bahkan bukan hanya Selli saja, aku pun begitu. Apalagi bagi seorang ibu yang masih memberikan--ASI--tenaganya bak dikuras habis. Sehingga bisa cepat lapar daripada biasanya.


Hari ini pun aku memutuskan untuk tidak berpuasa, aku terlalu lemas pagi hari tadi. Ketika libur aku tidak menyetok kebutuhan--ASI--untuk Sella, melainkan langsung memberikannya. Belum lagi, aku harus berbelanja disiang bolong begini. Kedua putriku sedang manja-manjanya denganku. Tidak mungkin aku berikan tugas belanja ini kepada Bi Onah, yang ada nanti tidak cocok dengan apa yang aku inginkan. Jadilah, aku mengambil alih semua. Beliau hanya khusus dapur saja.


Ketika semua kebutuhan sudah cukup, aku membawanya yang berada didalam troli dorong menuju kasir pembayaran. Antrian tidak terlalu panjang, bukan tanggal muda sehingga keadaan tidak terlalu ramai. Satu persatu orang telah melakukan pembayaran dan sampailah pada diriku. Kunaikkan barang-barang tersebut dan dihitung satu persatu oleh seorang kasir. Sampai selesai.


"Debit bisa, Kak?" tanyaku kepadanya.


"Bisa, Mbak. Mari," jawab kasir itu sembari menunjukkan mesin pembayaran secara debit.


Setelah ia yang menekan, kini giliran aku yang memasukkan pin ATM milikku. Aku menghela napas dalam ketika menyaksikan nominal pembayaran itu. Tampaknya aku terlalu keasyikan. Mengambilnya sangat mudah dan gampang. Namun ketika sampai di kasir, aku dibuat menelan saliva karena perkiraan pembayaran melebihi ekspetasiku. Baiklah, tidak apa-apa. Meski aku terlalu banyak membeli makanan, demi Selli dan juga aku sendiri.


Maafkan aku, Mas Arlan. Istrimu kalap beli cemilan.

__ADS_1


Setelah semua proses transaksi selesai dan barang-barang sudah terkemas rapi di kardus maupun plastik bertulis nama swalayan, aku membawanya menuju mobilku dengan masih menggunakan bantuan troli. Sedih hati ini, pada saat melihat sepasang suami istri berbelanja bersama. Si laki-laki mendorong troli, sedangkan si istri menggandeng lengannya. Astaga! Aku rindu keadaan itu ketika bersama Mas Arlan. Oke! Aku harus kembali bersabar.


Aku memasukkan semua barang-barangku ke dalam mobil. Setelah selesai, aku meletakkan troli di tempat yang sudah disediakan. Selesai sudah semuanya. Aku bergegas masuk ke dalam mobil. Perlahan kulaju kendaraan ini untuk kembali pulang.


Suasana masih sama saja dengan setengah jam yang lalu. Sepi. Tampaknya semua orang tengah tidur siang di rumah masing-masing. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintasi jalanan beraspal ini. Sampai disuatu titik, mataku menangkap seseorang yang tengah duduk sembari meminum kopi botolan. Tepatnya saat mobilku melintas perlahan di depan sebuah minimarket. Segera kuhentikan laju mobilku. Kemudian aku turun.


Dengan langkah sangat pelan, aku datang menemui orang itu. Semakin dekat dan dekat, namun ia tidak menyadari keberadaanku atau mungkin sudah tidak mengenaliku. Tubuhnya terbalut pakaian serba hitam, entah baju ataupun celana. Ia memakai topi yang terbalik berwarna hitam juga. Intinya semua serba hitam, bahkan kulitnya lebih hitam daripada sebelumnya.


"Ivan? Kamu Ivan, kan?" tanyaku untuk memastikan siapa orang itu lagi.


Ia mendongakkan kepala. Dan benar saja, wajah itu seingatku milik Ivan. "Hai, Ivan," lanjutku memberikan sapaan kepadanya.


"Siapa?" Entah berpura-pura atau bagaimana, ia bak tidak pernah mengenali diriku.


"Fanni, istrinya Pak Arlan."


"Arlan?" Alis Ivan terangkat satu di bagian kiri. "Oh, sorry. Gue lupa."


Aku berdeham pelan. "Gue pengen ngomong sama loe. Ada waktu? Nggak puasa, kan? Kebetulan gue juga enggak, bisa ikut ke kafe yang masih buka?"


Ivan beranjak berdiri dari duduknya. Ia tersenyum tipis. "Ada apa, Nona Fanni? Kita enggak ada masalah, kan?"


"Kalau enggak ikut sama gue. Loe nggak tahu masalahnya dimana. Justru loe bikin masalah baru bagi hidup gue!"


"Apa? Jangan konyol. Bertemu pun nggak pernah. Jangan sok kenal denganku."


Ivan kembali menatapku dengan bibir yang sedikit terbuka. Kami saling beradu mata dengan otot-otot yang nampak di wajah kami. Entah kebetulan atau bagaimana, aku dipertemukan dengan dirinya. Beruntung aku sedang tidak membawa Selli ataupun Sella saat ini. Sepertinya Tuhan merencanakan semuanya dengan baik.


Hingga akhirnya, Ivan melemaskan. Ia tampak bimbang dalam membuat keputusan antara ikut atau tidak. Namun aku sangat menekan dirinya melalui tatapan mataku. Belum lagi ada beberapa orang yang memperhatikan kami berdua. Tentu saja ia, bahkan diriku sangat merasa malu.


"Oke, gue ikut!"


Aku bernapas lega sekarang. Kuajak Ivan untuk menuju mobilku yang terparkir di pinggir jalan. Sepertinya ia tidak membawa kendaraan apapun. Setelah sampai, kami masuk ke dalam mobil. Ia duduk di sampingku. Tanpa suara dari bibir yang enggan berbicara, gerak tanganku kembali melaju mobil ini. Lajunya cukup pelan agar aku bisa mendapatkan kafe yang tetap buka meski masih dibulan puasa.


"Apa yang sebenarnya mau loe bicarain, Fanni?" tanya Ivan tiba-tiba.


Aku menatapnya sekilas. "Ada dan itu penting," jawabku.


"Kita nggak pernah ada masalah, kan?"


Aku menggeleng. "Ya, enggak ada. Tapi belum tentu aku bersih dari masalah yang loe buat."


"Masalah yang gue buat? Soal apa? Gue nggak pernah ngusik hidup loe."


"Bukan di sini tempat yang tepat untuk bicara, Ivan. Gue juga nggak akan lama-lama kok, gue punya anak yang lebih penting."


Ivan terdiam, ia tidak lagi menyanggah segala ucapanku. Kini hanya deru mobil yanv terdengar menyusuri jalan aspal. Setiap kana dan kiri jalan masih aku cermati untuk mencari kafe atau apapun yang masih buka. Hatiku pun diterpa rasa khawatir karena meninggalkan Sella dan Selli. Hanya ada susu pendamping untuk mereda tangisan Sella nanti. Semoga Bi Onah tidak kewalahan.


Hingga akhirnya, aku mendapatkan sebuah kafe yang masih buka. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera membelokkan mobilku ke halaman kafe itu. Kuparkir mobilku dengan tenang di area parkir yang disediakan. Kemudian, aku dan Ivan turun. Setelah itu, kami masuk ke dalam.

__ADS_1


Aku menarik kursi dari sebuah meja yang telah kami pilih. Begitu pun dengan Ivan, meskipun ia tampak sangat malas. Kupanggil salah seorang karyawan untuk memesan hidangan.


"Loe nggak puasa, kan? Silahkan pilih," ujarku kepada Ivan.


Ia menatapku dengan ekspresi datar. "Kopi hitam aja," jawabnya.


Aku heran, padahal ia baru saja menghabiskan sebotol kopi dan kini kembaoi memesan kopi. Andai saja ia teman dekatku, pasti aku akan mengingatkannya. Namun tidak, karena kami tidak dekat. Aku takut jika dianggap sok dekat. Kupesan kopi hitam untuknya dan air mineral biasa untukku. Selanjutnya pelayang itu berlalu untuk menyiapkan pesanan kami.


Kembali aku tatap Ivan. Betapa mirisnya, ia tidak lagi berwibawa. Penampilannya sangat berbeda, ia tidak lagi berpakaian rapih bersetelan jas dan celana bahan hitam nan panjang. Kini hanya kaos biasa, jaket hoodie lalu topi. Semua serba hitam. Bahkan rambutnya begitu lebat dan panjang. Wajahnya dipenuhi dengan kumis. Miris sekali.


Ivan tampak acuh tak acuh denganku. Membuat hatiku merasa tidak nyaman, namun tetap harus berbicara. Ia bersenandung pelan tanpa aku tahu judul lagu yang ia dendangkan saat ini.


"Loe, kan?" tanyaku untuk memulai pembicaraan.


Namun belum sempat ia jawab. Pelayan datang membawakan pesanan kami. Pelayan itu menyajikannya di hadapan kami. Setelah itu, ia berlalu pergi.


"Apa maksud loe, Fanni?" tanya Ivan kembali.


"Minumlah dulu."


"Apa maksud loe?!"


Aku menuangkan air mineral didalam botol ke sebuah gelas yang disajikan untukku. Sembari menatapnya, aku menyesap air berwarna putih bening itu. Meski Ivan terlihat tegas dan menakutkan, aku masih mencoba untuk bersikap lebih tenang. Setelah puas dalam meminum air itu, aku meletakkan kembali gelas itu di atas meja.


"Kenapa? Kenapa loe begitu bodoh, Ivan?"


"Bodoh?" Ivan tersenyum sinis sembari memutar-mutar sendok ke dalam kopi hitamnya. "Gue aja nggak ngerti apa yang loe maksud sejak tadi."


"Jangan pura-pura. Aku tahu segalanya."


Kini giliran Ivan yang memberika tatapan tajam kepadaku sembari menyesap kopi hitam itu. Ia bahkan tidak merasa malu karena tidak berpuasa. Apa yang terjadi kepadanya selama ini? Apa benat dugaan Riska perihal Ivanlah dalang dibalik pesan teror itu? Namun mengapa ia bersikap demikian, bak tidak tahu menahu tentang apa yang aku bicarakan?


Aku tidak pandai dalam membaca pikiran orang lain, apalagi seorang Ivan yang sudah lama sekali tidak aku temui. Kutilik jam tangan yang aku pakai, sudah satu jam lebih aku meninggalkan rumah. Kini rasa khawatir justru datang kian mendera hatiku. Aku harus cepat menyelesaikan pembicaraan yang aku rencanakan.


"Ivan?!" panggilku lagi kepadanya. Dengan wajahku yang pasang sangat serius dan mencoba lebih tegas lagi


"Apa?" Ia berekspresi datar. "Kenapa, Fanni? Kita enggak seperti ini sebelumnya, kan? Malah loe sombong banget. Pernah ketemu tapi nggak nanya. Oh, udah jadi nyonya besar ya? Misi loe berhasil tuh naklukin si duda kaya."


"Itu rezeki gue, Van. Dan gue dapetin semua itu dengan cara bersih. Sampai akhirnya gue bisa bahagia. Sangat berbeda jauh dengan cara yang loe gunain."


"Apa maksud loe, ngomong kayak gitu?"


"Loe kan yang neror, nguntit dan ngancem Riska? Loe berusaha misahin dia dengan Celvin dengan cara kotor itu, kan?!"


Wajah Ivan memerah seketika. Ia tampak geram dan seketika berdiri sembari menggebrak meja. "Jangan ikut campur!"


Bersambung ....


Budayakan like + komen.

__ADS_1


__ADS_2