Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Rencana Mita


__ADS_3

Setelah menunaikan ibadahku, aku bergerak kembali ke dalam mobilku. Terdiam sejenak di atas bulatan stir mobil ini. Mas Arlan tiada hentinya dalam menghubungiku. Bahkan, pesan yang ia kirimkan hampir tiga puluh-an. Padahal waktu untuk ibadah tadi, tidak terlalu lama. Namun yang namanya masih kesal, ya kesal! Dari dulu, ia tidak pernah mengerti. Terus mendesakku tanpa memberikan ruang bebas untukku. Aku tahu, Mas Arlan mengkhawatirkan diriku. Namun, ini bukan masalah kecil yang bisa aku abaikan begitu saja.


"Aku capek, Mas. Terlalu banyak cobaan didalam keluarga kita. Aku bahkan belum bisa dekat dengan keluarga kamu." Tertunduk lesu di atas stir mobilku. Benakku melayang terbang, mengingat semua kejadian yang menimpa keluarga kami. Bahkan, saat keluarga Mas Arlan merendahkan diriku. Sampai aku harus terlibat didalam urusan Celvin dan Riska. Aku tahu, semua urusan itu telah diselesaikan oleh Mas Arlan. Dalam keadaan itupun, ia masih bersikap perhatian terhadapku. Aku bahagia, namun ada sisi hati yang terluka.


Dan dari semua itu, aku terus memendamnya sendirian saja. Tidak pada teman-temanku, bahkan keluargaku. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka semua tahu, apalagi ibuku. Pasti respon pertama yang akan beliau berikan adalah kemarahan. Beliau tidak akan rela jika aku ditindas. Lebih parahnya lagi, jika memaksaku untuk menceraikan Mas Arlan.


Sudahlah, aku harus cepat menemui Mita. Aku tidak ingin jika ia harus menunggu dalam waktu yang lama. Kafe yang sudah ia tentukan sudah aku dapatkan melalui pesan disebuah aplikasi. Jadi, aku mematikan ponselku karena tidak ingin diganggu oleh Mas Arlan terlebih dahulu.


Aku menghela napas dan mengembuskannya kembali. Kulaju mobilku untuk meninggalkan tempat ibadah yang indah ini. Aku tetap tenang, bahkan tidak ada air mata lagi. Aku rasa, anak didalam kandunganku juga sangat memberikan dukungan kepadaku. Ia tidak rewel, sehingga aku tidak merasa mual ataupun sakit. Sungguh anak yang baik, bukan?


****


"Mita!" Aku meneriaki salah satu pengunjung wanita di kafe ini. Siapa lagi kalau bukan Mita yang sudah membuat janji temu sore ini denganku, lebih tepatnya atas permintaanku. Ia sedang duduk disalah satu tempat makan. Menatapku kemudian melambaikan tangan kepadaku, supaya aku segera menemuinya.


Setelah sampai disana, aku menarik salah satu kursi, kemudian duduk tepat dihadapannya. Mita memanggil pelayan dan memesan minuman untuknya sendiri serta menawari diriku. Setelah pesanan dicatat, maka sang pelayan berlalu untuk menyediakannya nanti.


"Jadi, kenapa?" tanya Mita. Pertanyaan itu membuatku harus menelan saliva. Aku bimbang, antara mencurahkan segalanya kepadanya atau tidak. Secara kami tidak begitu dekat, namun juga tidak jauh.


"Emm ... en-enggak kok. Nggak apa-apa, cuma pengen keluar bareng temen aja, Mit," jawabku. Aku masih berusaha untuk tidak menceritakan masalah keluargaku kepada Mita.


Namun, Mita bukanlah orang bodoh. Ia mengernyitkan dahinya. Aku rasa, sedang menangkap apa yang sedang terjadi kepadaku. "Gue temen loe, Fann?"


"Eh, y-ya. Emang bukan?"


"Thanks, tapi kalau temen. Biasanya bisa kali diceritain dikit, siapa tahu gue bisa bantu. Jangan bohong, Fann. Loe lagi hamil, nggak mungkinlah keluyuran tanpa suami. Loe kenapa? Berantem? Yaelah, ngapain diumpetin segala sih. Emang gue mau koar-koar sama siapa?"


Aku menggigit bibir bawahku. Bimbang, itulah rasa hatiku. Mita terbilang bukan siapa-siapa bagiku, bahkan Nike yang sudah lama mengenalku saja tidak pernah aku ceritakan soal masalah rumah tanggaku. Namun, sumpah! Aku ingin sedikit mencurahkan isi hatiku kepada orang lain. Aku ingin sedikit merasa lega, meskipun belum tahu harus berbuat apa lagi setelah ini.


Berkali-kali, aku menekan ibu jariku yang sebelah kanan. Aku menatap Mita, lalu kembali menunduk. Namun, Mita masih memberikan ruang waktu supaya aku berpikir. Baiklah, aku akan memutuskan untuk sekarang. Sedikit saja.


"Soal masalah rumah tangga, Mit," ujarku sembari menggosok-gosok permukaan meja. Belum sampai aku melanjutkan perkataanku, pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Setelah ia selesai, aku melanjutkannya lagi, "mantan istri Mas Arlan datang lagi."


"Hah? Ngapain? Nggak tahu malu banget itu orang." Respon Mita sesuai dengan perkiraanku, pasti ia akan terkejut dan memberikan umpatan untuk Nia.


"Ingin mengambil anakku."


Mita mengernyitkan dahinya. "Buat apaan? Setahu gue, itu orang yang bikin perusahaan laki loe sama punya Om Ruddy jadi bermusuhan. Emang selama ini nggak ketemu anaknya?"


Aku menggeleng. "Mas Arlan nggak pernah kasih izin. Dulu sebelum gue nikah, dia datang ngajak balikan tapi gagal. Setelah setahun setelah rencana itu, dia dateng lagi buat ambil hak asuh anaknya. Tapi, menurut gue dia nggak berani menggugat suami gue."


"Bagus dong kalau nggak berani, mungkin dia takut berurusan sama hukum. Apalagi menjual rahasia perusahaan laki loe itu udah suatu pelanggaran berat. Herannya gue, kenapa dulu nggak dilaporin aja?"


"Gue nggak tahu, masalahnya sekarang cara dia licik, Mit. Dia pengaruhin anak gue, maksud gue anak sambung gue. Dengan cara memberikan sugesti buruk tentang gue."


Mita masih merespon dengan cara manggut-manggut saja, namun aku yakin jika ia sedang mencerna setiap kalimat yang terucap dari bibirku. Bagi seseorang yang belum pernah menikah, pastinya akan sulit untuk memahami. Terlebih Mita adalah orang yang sangat tidak peduli pada hal lain. Ia terbilang judes, namun sangat to the point pada hal yang tidak ia sukai. Apa aku salah dalam menceritakan masalahku kepadanya? Ah, sudah terlambat, aku terlanjur mengatakannya. Berharap ia bisa menjaga permasalahan ini dan jangan sampai terdengar di telinga orang lain.


Aku menyesap minuman yang telah aku pesan sembari menunggu jawaban dari Mita. Entah ia akan berhenti bertanya atau sedang mengumpulkan pertanyaan. Terlepas dari Mita, sebenarnya aku terus memikirkan Mas Arlan. Tiba-tiba saja muncul nama ibuku didalam benakku. Bagaimana kalau Mas Arlan mencari diriku, bahkan bila sampai ke rumah ibu dan ayahku. Tamat sudah riwayatku, aku pasti akan kena omel setelah ini. Semoga Mas Arlan tidak kesana dan mengatakan masalah kami, yang ada ibuku akan mencerca berbagai pertanyaan. Paling parahnya, jika beliau kembali tidak menyukai Mas Arlan. Astaga! Hidupku macam sinetron azab saja!

__ADS_1


"Emm ... gue nggak tahu harus ngomong apa, Fann. Gue belum pernah nikah hehe. Tapi gue bisa ngerti ketakutan loe soal pengaruh mantan istri suami loe ke anak. Contohnya gue, sejak kecil gue udah dituntut jadi yang terbaik sama bokap. Dan hal itu cenderung bikin gue benci dan perasaan itu terus ada sampe sekarang. Ngerti kan loe?"


"Ya, ngerti. Makanya itu yang sekarang terjadi sama anak gue. Kalau dia sampe termakan omongan Nia, bisa aja seumur hidup dia benci sama gue."


"Itu tergantung anaknya sih, kalau pinter mah kagak bakalan. Tapi, kenapa loe keluar sendiri? Suami?"


"Gue berantem. Gue nyerahin anak gue sama perempuan itu, jadi Mas Arlan nggak terima. Lah, gue mesti gimana lagi, Mit? Bingung, disatu sisi gue nggak rela kalau mereka keluar bareng. Secara, mana ada sih istri yang rela kalau suaminya jalan sama mantan istri. Makanya gue kasih izin Nia buat jalan sama Selli--anak gue, mau gimanapun dia tetep ibu kandungnya."


"Bentar, bentar, keluar? Jalan maksud loe?"


Aku mengangguk pelan. "Iya, gue udah bingung. Gue juga nggak mau bertengkar sama Nia didepan anak gue. Yang ada si anak malah makin benci sama gue. Eh, ternyata suami nggak terima sama keputusan gue. Ya udah, daripada panjang, gue bilang aja biar mereka jalan-jalan bareng. Biar hati gue sekalian sakit, toh Mas Arlan takut kalau Selli dibawa Nia dan Selli pengen banget jalan-jalan sama kedua orang tua kandungnya."


"Astaga! Ribet banget hidup loe, Fann."


Benar kata Mita, hidupku memang sangat ribet dan menyedihkan. Dalam keadaan hamil aku harus menghadapi semua ini. Untuk mengatakan semuanya saja sudah membuat emosiku meningkat, apalagi kalau aku harus kembali ke rumah itu dalam keadaan seperti ini. Yang ada sepanjang hari, aku akan terus bertengkar dengan Mas Arlan. Setidaknya, jika aku kembali malam maka aku bisa cepat-cepat tidur dan melupakannya secara perlahan. Ketika mereka bertiga nanti akan berjalan-jalan, maka aku akan lelap dalam mimpiku bersama anak didalam kandunganku.


Aku kembali menyesap minumanku yang semakin lama semakin berkurang karena itu. Kemudian, aku menatap keluar sana. Hari sudah mulai sore. Ketika aku menilik waktu pada jam dinding yang terpasang di kafe ini, ternyata masih jam setengah empat. Belum cukup lama aku bersama Mita. Tampaknya masih banyak waktu untuk menghindari suamiku.


"Cara licik harus dibalas dengan kelicikan, Fanni," ujar Mita. Aku sampai dibuat keheranan. Mengapa ia tiba-tiba mengatakan hal itu? Dan tidak ada saran sama sekali darinya untukku. Wanita yang sangat berbeda dengan Nike, ia terlihat jauh lebih kejam.


"Apa maksud loe, Mit?" tanyaku selanjutnya. Berharap ia tidak menyuruhku melakukan hal gila.


"Siapa nama anak loe tadi? Selli ya? Dia bukan anak loe, biasa aja mikirinnya."


"Hah? Gue bukan manusia yang nggak punya nurani kali, Mit. Gue udah anggep dia sebagai anak kandung gue sendiri."


"Ya, ya bukan gitu. Tapi, kenapa loe tiba-tiba ngomong kayak gitu?"


"Cuma buat nyaranin loe aja biar lebih santai dan fokus sama emaknya, daripada khawatir soal kebencian dari Selli. Orang yang licik itu harus dibalas dengan sikap yang santai, namun picik dibaliknya. Loe ikutin permainan wanita itu, berlaku seperti biasa dan terbilang nggak terpengaruh. Ah, intinya jangan dipikirin. Loe cari celah kelemahan dia, santai, lembut, kalau dapet loe jatuhin dia didepan anak loe. Supaya anak loe tahu, siapa ibu yang paling baik."


"...."


Apa maksud Mita? Aku benar-benar tidak bisa memahaminya. Hal itu mungkin sudah biasa untuk ia lakukan, namun tidak dengan diriku. Bahkan, aku hanya bisa diam ketika ia terus merendahkanku dimasa lalu. Dan bagaimana aku bisa mencari kelemahan Nia? Kami pun tidak pernah saling mengenal, tidak pernah bertemu jika bukan insiden ini.


"Kok diem? Ngerti nggak sih, Fann?"


Aku menggeleng mantap. "Enggak sama sekali. Lagian nyari kelemahan Nia dari siapa? Gue nggak kenal siapa-siapa, gue hamil dan nggak bisa kemana-mana dengan bebas."


"Alah, loe pikir gue ini apa?"


"Maksud loe?"


"Serahin sama gue, gue mah orangnya nggak bisa kasih nasehat tapi tindakan. Lihat aja entar, gue bakalan dapet apa yang loe butuhin. Ngejatuhin orang itu hal mudah buat gue, inget kan loe? Gue pernah berbuat buruk sama loe."


"Ya, inget banget. Loe mau ngapain dia, Mit? Jangan aneh-anehlah."


"Pulang sekarang, Fanni. Baikan sama suami loe, tanya soal rencana nanti malem. Loe bilang sama gue, gue bakal buntutin mereka dan gue bakal bikin perempuan itu malu sejadi-jadinya, lihat aja entar viral di internet hehehe."

__ADS_1


Tawa Mita tampak sinis sekaligus menyeramkan. Sebenarnya apa yang ia rencanakan? Aku tidak mengerti. Apakah ini hal yang bagus dan tidak keterlaluan? Jantungku benar-benar berdebar kencang. Aku tidak pernah melakukan hal yang licik, aku sangat takut sesuatu terjadi kepada Nia karena ulah Mita. Bahkan jika sampai melibatkan suami dan anakku.


Lantas, aku harus menolak atau menerima?


"Kenapa loe? Takut?" tanya Mita. Aku rasa, ia mendapati mimik wajahku yang tengah khawatir.


"Ja-janganlah, Mit. Gue takut ada pengaruhnya ke anak dan suami gue. Gue juga nggak mau sejahat itu ke Nia," jawabku.


"Alah! Lembek amat loe, Fann. Kalau loe kayak gini, itu perempuan nggak akan berhenti buat ngusik rumah tangga loe? Loe mau selamanya dibayang-bayangi sama dia? Awas lho, mau gimanapun suami loe pernah nikah dan bikin anak sama dia. Terus kalau entar perempuan itu dateng lagi gimana? Walaupun nggak bisa ngambil anak loe, tapi dia bisa mempengaruhi anak dan suami loe."


Deg! Deg! Deg! Benar juga. "Ke-kenapa loe mau bantuin gue?"


Mita mengernyitkan dahinya, kemudian malah terkekeh. "Nggak tahu, gue suka sekali dengan sesuatu yang menantang haha."


"What?!"


"Enggak, enggak, becanda. Gue mau balas budi sama loe, karna loe, gue bisa naik jabatan. Dan gue nggak mau punya hutang budi. Jadi, gimana? Setuju? Kalau setuju, pulang gih. Istirahat, loe lagi hamil. Baikan sama suami dan bersikap biasa aja. Cari info kemana mereka akan pergi dan bilang ke gue. Gue bakal atur rencana buat nyingkirin wanita itu perlahan-lahan."


Aku belum memutuskan, aku hanya menatap Mita dengan tajam. Ia malah selengek-an seperti orang yang tidak ada rasa takutnya sama sekali. Oh! Aku rasa ia memang tidak memiliki rasa takut. Hobi jeleknya adalah hal seperti ini dan benar-benar tidak boleh dicontoh oleh siapapun. Meski begitu, kali ini ia akan membantuku. Aku rasa, tidak buruk juga.


Kuhabiskan sisa minumanku, setelah itu kuhela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Aku akan membuat keputusan.


"Loe mau ngapain kalau udah tahu rencana mereka, Mit?"


"Buntutin terus bikin kegaduhan hehe."


"Ma-maksud loe? Tapi kalau ngelibatin suami dan anak gue, gimana?"


"Udah tenang, nggak bakalan. Target gue satu orang doang. Gue jamin suami loe bakalan ngakak nantinya."


"Ya udah, gue ikut!"


"A-apa? Nggaklah, loe lagi hamil, Nona Fanni. Serahin sama gue, gue yakin suami loe bakalan cerita. Oh iya, kirim plat mobil laki loe dan pukul berapa mereka akan berangkat. Gue dateng ke rumah loe, setengah jam sebelum suami loe berangkat."


"Itu gampang, tapi gue ikut!"


"Fanni?!"


"Habis ini, gue balik dan tidur bentaran. Gue ikut pokoknya."


"Gue nggak tanggung jawab kalau ada apa-apa sama loe dan anak loe, Fann."


"Gue jamin, gue nggak bakalan kenapa-napa, Mita. Udah ya, gue harus hemat waktu buat istirahat. Gue pulang dulu, sampai jumpa nanti malem. Bayarin dulu, nanti gue ganti hehe."


Aku beranjak berdiri dari dudukku dengan menyerahkan pembayaran kepada Mita. Sungguh diriku yang kurang ajar. Dengan berjalan cepat, aku menghampiri mobilku. Aku ingin cepat pulang dan beristirahat sejenak demi mengumpulkan energi untuk aksi nanti malam bersama Mita.


Bantu Mama malam ini ya, Nak.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2