Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Ancaman Tidak Terduga


__ADS_3

Baru-baru ini, aku dan Mas Arlan mendatangi sebuah rumah sakit. Ya, Mas Arlan begitu antusias dan setia menemani pemeriksaan kandunganku. Selepas itu, Dokter mengatakan bahwa usia kandunganku memasuki usia satu bulan. Kondisiku sehat, begitu juga janinku. Saran yang aku terima mungkin sama seperti para ibu hamil yang lain. Menjaga kesehatan fisik maupun psikis, beberapa larangan pun turut diingatkan.


Aku bahagia sekali, namun yang paling heboh adalah Mas Arlan. Ia seperti seorang calon ayah yang baru pertama akan memiliki anak. Ia terbilang cerewet, namun memperlakukan diriku dengan lembut sekali. Diriku sampai merasa tersanjung dibuatnya. Aku rasa, kalimat yang mengatakan bahwa kehadiran seorang anak adalah rezeki. Dan itu terbukti. Perlu diingat pula bahwasanya rezeki bukan berbentuk harta saja, melainkan kasih sayang dari suami dan juga orang-orang terdekat.


Dititik ini, aku sama sekali sudah tidak peduli akan meningkatnya berat badanku. Bukan ingin sombong lantaran telah mendapatkan segalanya. Aku hanya ingin mencoba mensyukuri hidupku mulai sekarang. Toh, jika kegemukanku bisa membuat anakku terlindungi, rasanya tidak buruk juga. Lagipula, aku sudah menyerah tentang diet. Sampai sekarang, aku tidak bisa kalah dari nafsu makan. Terlebih pada makanan yang mengandung lemak seperti yang tersaji pada jenis makanan negara ini.


Dan dua hari setelah pengunduran diriku, aku masih memiliki rutinitas yang sama. Hanya saja, disisa hari kerjaku, Celvin lebih memberikan pekerjaan yang ringan. Ia bahkan telah mempertimbangkan saranku perlahan-lahan. Mulai hari kemarin, Mita sudah mulai dipanggil untuk menemani beberapa pertemuannya. Rasanya cukup cepat ia membuat keputusan. Sedangkan diriku hanya ditugaskan untuk menyusun beberapa rencana saja. Aku rasa, Celvin tidak akan setega itu untuk membawaku keluar masuk sembarangan.


Aku menghempaskan punggungku pada badan kursi sembari menatap langit-langir ruang kerja ini. Banyak yang terjadi disini. Mulai dari awal karirku sebagai sekretaris, bahkan perasaan semuku kepada atasanku itu. Waktu begitu cepat berlalu, bukan? Aku masih tidak percaya bahwa diriku bisa mencapai titik ini. Kesan yang luar biasa tentunya tersirat dalam bentuk perasaan. Sebentar lagi adalah hari kebebasanku dari berbagai macam tugas membosankan.


"Aku sudah hampir memiliki segalanya. Apartemen aku punya, mobil, suami, Selli dan bahkan calon anakku. Ma, Pa, terima kasih kalian udah bikin aku sampai sejauh ini. Bahkan nggak pernah meminta sepeser pun dari jerih payahku ...," gumamku lirih.


Ya, dari semua keberhasilan ini, wajah ayah dan ibuku adalah wajah yang pertama kali terpampang nyata di benakku. Perjuangan mereka untuk membesarkan dan mendidik aku dan Kak Pandhu memang wajib diacungi jempol. Tidak pernah sedikitpun meminta sepeser uang dari kami. Mereka adalah orangtua yang berhasil, sangat berhasil. Aku berharap ayah dan ibuku tetap sehat, bahkan sampai aku memiliki cucu.


"Hei, Fann?" Celvin menyebut namaku tiba-tiba.


Sontak aku terkejut dan menegakkan badanku. "Ya?" jawabku.


"Lihat jam deh."


Sesuai ucapannya, aku menilik waktu pada jam di dinding. "Wah, ternyata udah. Emm ... sudah waktu pulang."


"Bahagia boleh, lupa jangan hehe. Yuk, bareng saja. Kebetulan aku ingin cepat pulang."


"Ya, Vin." Sembari mengangguk pelan aku menjawabnya. Kemudian aku menutup layar komputerku, merapikan semua kertas yang berantakan. Aku meraih tasku lalu beranjak berdiri. "Mari."


Celvin tersenyum. Ia melangkah lebih dulu dan membukakan pintu untukku. Aku berterima kasih. Selanjutnya kami melangkah bersama, tentunya setelah ruangan dikunci dengan rapat. Kami berjalan bersamaan menapaki lantai gedung ini. Tentunya dengan celoteh-celoteh garing.


Hembusan angin sore begitu sejuk dirasakan. Namun bukan berarti cuaca cerah, malah mendung sedang memasang badan di angkasa. Sepertinya hujan akan segera datang. Tidak mengapa, toh udaranya akan terasa menyegarkan. Yang terpenting jangan diiringi dengan badai yang membahayakan.


"Yah, sebentar lagi tidak ada bule di kantor ini," ujar Celvin tiba-tiba.


Aku menatapnya sembari tersenyum. "Banyak keturunan Tionghoa yang cantik dan rupawan, Pak Celvin," jawabku.


"Ya, termasuk diriku, Fann. Ibuku keturunan Tionghoa. Ayahku asli Indo."


"Hmm ... sudah terlihat jelas. Makanya Indonesia lebih beragam rasnya. Aku sendiri keturunan nenek moyang bangsa mantan penjajah negara ini hehe."


Celvin terkekeh seketika. Dan kami terpisah didepan gedung ini. Ia hendak ke parkiran, aku menghampiri Mas Arlan. Seperti biasanya, suamiku itu sedang menunggu. Setiap hari ia berusaha untuk datang menjemputku. Yah, walau terkadang kesibukannya memaksanya untuk lembur, sehingga aku diperbolehkan untuk membawa mobilku sendiri.


Namun, beberapa hari lagi, aku akan menjadi nyonya di rumahnya. Tidak bekerja dan hanya bersantai saja. Maksudku setelah menyelesaikan semua tugasku sebagai seorang istri. Entah akan nyaman atau bosan nantinya. Aku hanya ingin menyenangkan sekaligus mengikuti permintaan suamiku kali ini. Lagipula, aku tidak merasa dirugikan. Ia pun sangat bertanggung jawab.


Kemudian aku melangkah masuk ke dalam mobil. Saat ini, bukan aku sendiri yang membuka pintunya, melainkan suamiku yang bersedia turun dan memperlakukan diriku sebaik itu.


"Kamu capek ya, Sayang? Perut kamu nggak sakit, kan? Kamu nggak mabok? Nggak pusing? Kerjaannya banyak nggak, Sayang?" Pertanyaan bertubi-tubi aku dapatkan dari Mas Arlan. Ia menampilkan wajah yang cemas. Sedangkan tangannya membelai halus perutku yang memang buncit ini. Apa semua suami bisa memberikan perhatian sampai seperti ini, disaat sang istri tengah hamil?


Ah ... jadi terharu diriku ini.


Aku tersenyum diiringi tawa kecil. Aku memberikan satu kecupan manis di pipinya.

__ADS_1


"Dek, kamu nggak apa-apa, kan? Celvin nggak ngasih kerjaan berat, kan? Mumpung disini nih, Mas bakal ingetin dia kalau sampai bikin capek istri Mas."


"Eh, lebay deh, Mas."


"Mas serius, Sayang. Kamu kan lagi hamil anaknya Mas, wajar dong kalau Mas cemas."


"Enggak, Sayang. Hari ini Celvin baik banget, dia juga lagi nguji salah satu temen aku buat gantiin aku nantinya."


"Berarti biasanya nggak baik ya? Wah! Nggak bisa dibiarin dong."


"Heh! Jangan fitnah, kayak kamu aja jadi atasan gimana. Udah ah, katanya mau ke tempat Riska."


"Hmm ... orang dikhawatirin kok. Iya, iya, kita beli sesuatu dulu ya? Mas khawatir itu anak jadi kurang gizi sekarang. Dia kan anak yang nggak pernah ngalamin hidup diluar keluarga, Sayang."


"Iya, Mas. Tapi Riska bisa bertahan sampai sejauh ini. Aku rasa, dia bisa banyak belajar dan berubah lebih dewasa."


Mas Arlan tersenyum. Ia mengecup kening dan pipiku. Selanjutnya ia melaju kembali mobilnya. Berbicara tentang Riska, ia memang cukup menakjubkan. Selama kurang lebih satu tahun, ia bisa bertahan hidup diluar keluarga besar. Pastinya untuk anak yang tidak pernah kekurangan uang, ia bisa mengalami kesulitan. Nyatanya, ia bisa menjalaninya sampai sekarang. Aku selalu berharap, semoga ia bisa menemui kebahagiaan.


Deru mobil milik suamiku terus terdengar. Sampai akhirnya sampai di sebuah swalayan besar. Mas Arlan mengarahkan mobilnya untuk masuk ke dalam. Ia memarkir mobilnya dengan tenang. Setelahnya kami turun dan masuk ke dalam. Kami mengambil salah satu troli. Sepertinya Mas Arlan ingin membelanjakan kebutuhan pokok untuk Riska. Lalu, tanpa pikir panjang lagi aku segara memilih-milih barang-barang keperluan itu.


"Kamu kalau mau sesuatu, ambil aja ya, Dek."


"Iya, Mas. Emm ... kebetulan aku pengen banget makan coklat. Bolehkan ya?"


"Ambil aja dulu. Nanti kita konsultasi online aja. Paling-paling kamu makin sexy habis makan itu."


"Ih ... ngeledeknya parah. Bilang aja gemuk, gendut, besar atau gembrot sekalian."


Aku memanyunkan bibirku saja. Bukannya merasa senang, aku malah merasa kesal. Kemudian aku memalingkan wajah dan lebih memilih berfokus pada rak-rak berisi segala macam makanan. Sedangkan Mas Arlan masih terus menggodaku tanpa rasa malu terhadap pengunjung yang lain, ia seringkali bersenandung dan cengingisan kecil. Aku rasa, kebahagiaannya semakin bertambah pada saat aku berhasil mengandung.


Namun, tanggung jawab suamiku tidak pernah berkurang. Mas Arlan terua mendorong troli sesuai arah yang aku tuju. Ia juga mengingatkan diriku pada saat aku memilih sesuatu yang kurang baik untuk kandunganku. Tentunya dengan nada yang lembut, meskipun sangat bawel.


Ketika tidak sengaja aku menolehkan kepala, betapa terkejutnya diri ini. Nia? Kami bertemu lagi dengannya. Ia bahkan sudah mengetahui keberadaanku dan Mas Arlan. Ia menatap kami dengan tajam, seolah penuh kebencian. Ia membawa troli sendiri dan tidak ada siapapun yang bersamanya. Aku sampai menelan saliva dibuatnya. Akankah Nia berlaku seperti dulu? Aku mengkhawatirkan hal itu.


"Dek, abaikan aja ya," ujar Mas Arlan.


"I-iya, Mas," jawabku.


"Udah lama ya nggak ketemu kalian? Tampaknya si istri makin subur aja," celetuk Nia tiba-tiba.


Mas Arlan memilih diam dan membalikkan troli serta hendak mengajakku pergi dari sini.


"Dimana anakku?" tanya Nia lagi. Ia berhasil membuat Mas Arlan menghentikan niatnya. Disini kecemasanku mulai bertambah. Jangan sampai suamiku terbawa emosi karenanya. Aku harus menghentikan suamiku, namun Mas Arlan mencegahku.


"Anakmu selalu sehat bersama kami, Nia. Kemana saja kamu ini? Baru bertanya sekarang," jawab Mas Arlan.


Deg! Deg! Deg!


"Aku hanya bertanya, Mas. Aku juga ibunya. Sekalipun aku datang, pasti kamu dan istrimu itu akan mengusirku," jawab Nia.

__ADS_1


"Oh ... tentu saja. Kami tidak rela jika anak kami bertemu ibu sejahat kamu, Nia!"


Plak! Telapak tangan Nia terayun dan mendarat di pipi Mas Arlan. Aku sangat terkejut, bahkan mereka berdua menjadi pusat perhatian sekarang. Aku sampai menjatuhkan barang yang kebetulan aku bawa. Dengan tergesa-gesa, aku menghampiri keduanya. Lantas, aku menarik tangan suamiku dan hendak membawanya pergi.


"Kalian tidak pantas memperlakukan saya seperti ini! Besok saya akan datang demi membawa anak kandung saya sendiri!" Nia menegaskan hal itu. Ia tidak peduli akan respon pengunjung lain. Sedangkan Mas Arlan tampak termakan emosinya dan hendak berbalik dan menemui wanita itu lagi. Dengan tegas, aku mencengkeram tangan suamiku.


"Kamu mau balik? Nggak lihat sekarang kita dimana? Jangan bikin malu, biarin dia kayak gitu sendiri, Mas!"


"Tapi dia ngancem, Dek!"


"Mas! Aku sedang hamil, ikuti permintaanku. Itu hanya gertakan aja. Dia nggak mungkin ngambil Selli, lihat banyak yang lihatin kita. Aku khawatir kalau ada yang rekam."


"Mas nggak--"


"Please ... percaya sama aku, Mas. Masa' kamu kalah sama Nia? Kamu sayang aku dan Selli, kan? Jangan memperburuk nama kamu. Ayo kita langsung pulang. Belajaan juga udah banyak. Jangan terpancing emosi, oke?"


Mas Arlan menghela napasnya dalam-dalam. Kemudian ia menganggukkan kepalanya. Ia menyetujui semua permintaanku dan kami menuju kasir. Kutoleh ke belakang terlebih dahulu, beruntung Nia tidak mengejar. Sungguh sesuatu yang tidak terduga. Sebenarnya wajar-wajar saja, swalayan sebesar ini pasti kami akan bertemu dengan orang lain. Namun, mengapa harus Nia? Terlebih ia mengancam akan membawa Selli.


Sebagai sesama wanita, bahkan aku sebagai seorang ibu, aku juga memahami kerinduan Nia terhadap Selli. Seandainya bisa, aku juga tidak membatasi pertemuan mereka. Namun aku harus kembali melihat pada sosok Nia yang berhati keji itu. Aku rasa, Mas Arlan juga tidak akan mengizinkan. Ucapan Nia terlalu kasar. Terlebih masa lalunya yang memperlakukan Selli sedemikian rupa, membuat kami harus berpikir panjang sebelum mempertemukan keduanya.


Entahlah, dalam masalah ini, aku sendiri masih bingung. Disatu sisi, tidak enak hati lantaran aku hanyalah ibu sambung. Disisi lain, aku merasa tidak rela jika keduanya bertemu. Bukan maksud hati ingin menguasai Selli, namun kembali lagi pada hal yang aku takutkan tadi.


Baiklah, lupakan sejenak. Aku dan Mas Arlan harus kembali ke mobil dan ke tempat Riska terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan pembayaran, kami keluar dan menuju tempat parkir. Sesampainya disana, kami melanglah masuk. Namun aku menangkap suatu kecemasan tersendiri di wajah Mas Arlan. Aku mengerti akan hal itu. Pertemuan tidak terduga dalam waktu singkat itu, sepertinya berhasil membuatnya marah.


"Dek."


"Ya, Mas. Kenapa?"


"Kita pulang dulu ya? Ke tempat Riska nanti malem aja. Mas mau bawa Selli dulu."


"Iya, Sayang. Aku ngikut aja."


"Makasih, Dek. Maafin Mas, tadi sempat kepancing emosi. Pasti kamu malu banget ya? Maaf ya, Dek?"


Aku tersenyum diiringi gelengan kepala. "Aku nggak malu sih sebenarnya. Tapi, aku nggak mau kamu masuk ke dalam masalah baru. Masalah perusahaan kalian belum selesai. Jangan banyak pikiran lagi, Mas."


Mas Arlan mengangguk dan tersenyum. Kemudian ia kembali melaju mobilnya dan keluar dari tempat ini. Langit sore semakin menggelapkan dirinya. Sampai akhirnya turun rintikan hujan yang sejak tadi masih tertahan. Ya, air hujan memang mampu menyegarkan suasana, selagi tidak ada badai halilintar yang mengiringinya.


Sebenarnya dalam benak dan hati kecilku terus bertanya-tanya. Apa benar ucapan Nia itu akan dilakukan? Bagaimana kalau ia datang dan membawa Selli pada saat aku dan Mas Arlan sedang tidak berada di rumah? Aku tidak berani mengutarakan kecemasanku ini kepada suamiku. Karena aku tidak ingin ia ikut dalam kecemasanku. Terlebih esok hari adalah hari dimana kedua keluarga itu akan bertemu. Aku tidak ingin fokus Mas Arlan terpecah oleh hal lain.


Selli? Aku memang bukan ibu kandungnya. Namun aku yakin kasih sayangku selama ini lebih besar daripada ibu kandungnya. Apa aku akan terjerat hukum, jika aku tetap mempertahankan Selli? Lantas, apa yang akan aku lakukan jika Nia benar-benar datang?


Bersambung ...


Hai semua, apa kabar? Semoga sehat selalu ya. Banyak berdo'a. Kabar dunia lagi menggemparkan ya? Selalu jaga kebersihan dan tentunya kesehatan.


Semoga kita semua selalu didalam lindungan Yang Maha Kuasa.


Kita bisa aminkan masing-masing ya? Saling mendo'akan secara online hehe.

__ADS_1


Tetap waspada ya, tapi jangan panik juga (◕ᴥ◕)


__ADS_2