Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kabar Baik dari Teman


__ADS_3

Hari pun berganti, libur sesaat sudah berakhir. Tentu saja suamiku sudah kembali bekerja. Ia sudah jarang sekali membolos, semakin rajin, bahkan nyaris lembur setiap hari. Mungkin karena sudah mendekati hari persalinanku, maka ia lebih rajin dalam mencari uang. Aku memang sudah hamil besar. Delapan bulan sudah, aku mengandung seorang anak didalam rahimku. Acara tujuh bulan-an pun juga sudah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Sedangkan Selli sudah kembali ke sekolah umum.


Untuk wanita yang baru pertama kali mengalami kehamilan, pastinya aku sangat gugup. Seringkali merasa takut. Bagaimana kalau nantinya akan teramat sakit? Disetiap aku membayangkan hal itu, sungguh jantungku dibuat berdegup. Beberapa pemikiran tidak baik kadangkala menyeruak masuk ke dalam benak. Bibir bergetar ketika membayangkan beberapa kemungkinan. Namun harapanku adalah yang terbaik dan dilancarkan sampai persalinan. Demi anakku, anak keduaku setelah Selli.


Berbicara tentang anak, kini aku sudah tahu hasil dari USG. Namun untuk gender-nya, aku dan Mas Arlan masih merahasiakannya dari pihak keluarga manapun. Biar saja, aku ingin membuat kejutan nanti. Sebelum sang anak lahir pun, rasa cintaku sudah amat besar. Aku sudah tidak sabar untuk melihat langsung wajahnya. Betapa manisnya nanti wajahnya yang mungkin akan mewarisi paras Mas Arlan, atau mungkin akan ke arah bule seperti diriku? Aku belum tahu pasti, keinginanku yang paling tinggi adalah bola matanya biru semu abu seperti milikku.


"Ah, Mama nggak sabar nungguin kamu, Sayang." Kubelai halus perutku sembari menampilkan senyuman di wajah melalui bibirku. Segala resah hatiku tentang rasa takut yang sempat datang, kini seolah menghilang. Lebih tepatnya pada saat merasa rindu kepada sosok yang belum aku lahirkan.


Sedangkan hari ini begitu cerah, tentu saja secerah hatiku yang penuh gemilang kebahagiaan. Aku berandai-andai sendiri, tersenyum sendiri, bahkan tertawa kecil sendirian. Tempatku berada saat ini adalah tempat favorite yang membuatku sangat nyaman yaitu balkon rumah yang selalu menyajikan pemandangan jalan depan. Karena Bi Onah selalu sibuk sendirian di dapur, tidak bisa menemaniku meski hanya sekedar berbincang. Apalagi beliau adalah tipikal orang yang tidak bisa diam jika tidak tidur. Ada saja pekerjaan yang dilakukan, walaupun tidak terlalu penting. Rajin sekali, bukan?


"Ah, cari-cari baju ah," gumamku. Tanganku kembali memainkan ponsel yang sejak tadi aku genggam. Kucari aplikasi toko online yang terpercaya. Kuketik nama barang yang sedang aku idam-idamkan. Baju-baju anak bayi yang imut dan lucu. Membuatku tersenyum beberapa kali sembari mengandaikan jika dipakai oleh anakku nanti. Namun aku belum meminta izin kepada Mas Arlan untuk membelinya. Sehingga aku hanya menatapnya saja, setidaknya ada beberapa model baju bayi yang sudah menarik minatku.


Lalu, tiba-tiba dering ponselku berbunyi. Aku memastikan panggilan tersebut dari siapa. Oh, nomor tidak dikenal membuatku bimbang untuk menerimanya. Takut jika hanya orang iseng yang tidak jelas, namun rasa penasaran juga membuatku ingin menerima. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk menekan tombol hijau.


"Emm ... halo, siapa ya?" tanyaku. Karena agak panik, aku sampai melupakan salam islamku.


"Saya Nia," jawab sang penelepon dari tempat yang tidak aku ketahui. Nia?


"Ah, ya. Hai, Nyonya. Apa kabarnya anda?"


"Baik, Fanni. Kamu gimana?" Tidak ada embel-embel nona lagi didepan namaku. Membuatku sedikit terhenyak haru. Nia telah berubah lebih lembut melalui nada bicaranya yang semakin ramah. "Selli juga baik, kan?"


"Emm ... iya. Alhamdulillah semua baik."


"Maaf ya. Saya sendiri yang melarang pada saat itu, tapi saya yang mengingkarinya. Saya ingin meminta maaf sejak lama, tapi belum mendapat waktu yang tepat."


Kukernyitkan dahiku karena merasa heran. Maaf? Untuk apa? Bukankah masalah dikala itu sudah berlalu? Entahlah, sepertinya aku perlu memastikan lagi. "Maaf soal apa ya? Semua masalah waktu itu sudah selesai, kan?"


Dari sini, aku mendengar Nia sedang berdeham. "Hmm ... kepulangan saya waktu itu, nggak sengaja ketemu suami kamu. Tentu dia tahu kalau saya dari rumah kalian, pastinya dia berhenti menghadang saya."


"Hah?!" Aku terkesiap seketika. Jadi, waktu itu Mas Arlan sudah tahu kedatangan Nia. Pantas saja ia berkata aneh kepadaku. Tidak kusangka ia malah bertemu dengan ibunda kandung dari putrinya.


"Apa kalian baik-baik saja? Arlan nggak marahin kamu, kan?" Nia mempertanyakan tentang respon Mas Arlan terhadap perbuatanku. Dari nada bicaranya, tampaknya ia sedang tidak enak hati. Apalagi kejadian itu sudah lama terjadi, aku pun tidak tahu dari mana ia mendapatkan nomor ponselku. Meski begitu, aku kembali haru tatkala mendengar ucapannya darinya yang lebih santai dan tidak lagi baku.


Aku mengangguk dari sini, meski aku tahu ia tidak bisa melihatku. Kemudian, aku memberikan jawaban lagi dengan bahasa yang lebih santai, " nggak kok. Semua baik-baik aja, jangan khawatir. Selli juga sehat. Ngomong-ngomong Nyonya sekarang dimana?"


"Saya di Madrid, Fanni. Kayaknya bakalan menetap di sini. Emm ... aku tahu nomor kamu dari Celvin."


"Celvin?"


"Ya, saya sempat bertemu dengan dia secara nggak sengaja. Dia mau dinas ke luar negeri beberapa waktu yang lalu. Jadi, sekalian minta. Maaf baru menghubungi sekarang."


"Iya, Nyonya. Nggak apa-apa. Kondisi Selli juga sehat dan baik, dia udah belajar di sekolah umum. Semua lebih normal dan tenang."


"Saya nggak tahu harus bilang apalagi sama kamu. Mungkin ucapan terima kasih nggak akan cukup, jasamu untuk putriku sangat besar sekali. Saya malu, sangat malu. Semoga bahagia selalu dirimu dan keluargamu nanti. Sampai jumpa suatu saat nanti, Fanni."

__ADS_1


Panggilan dimatikan. Aku tertegun dengan ponsel yang belum terlepas dari daun telingaku. Begini saja, aku sudah merasa haru, bahkan sampai meneteskan air mata. Oh, Fanni sangat cengeng sekali. Beruntung tidak ada orang lain disini. Jika ada, aku pasti akan merasa sangat malu. Apalagi jika didepan Mas Arlan, pasti ia akan meledek diriku habis-habisan.


Ah, Mas Arlan. Jadi, ia sudah tahu semuanya. Aku rasa, Nia juga sudah menjelaskan berbagai hal. Namun mengapa ia tidak memarahiku? Apakah karena dilarang oleh Nia? Apapun itu, tampaknya Mas Arlan bisa mengerti akan keputusanku memberikan kesempatan untuk mempertemukan anak dan ibu tersebut. Lagipula yang aku lakukan adalah hal yang benar, bahkan menghasilkan sesuatu yang mengesankan. Ucapan terima kasihnya pada saat itu, mungkin untuk semua yang telah aku lakukan.


Aku meletakkan lagi ponselku. Membuang lagi pandanganku ke arah jalan didepan sana. Kosong dan sepi, semua orang elite yang tinggal disini, tampaknya tengah menjalankan rutinitas bekerja. Apalah diriku yang hanya seorang pengangguran biasa. Pekerjaanku cukup mudah, mencuci menggunakan mesin cuci, menyapu bagian depan dan membantu membersihkan lantai sedikit saja. Selanjutnya hanya termenung sendiri seperti ini. Tampaknya, aku sudah benar-benar menjadi nyonya.


"Mbak Fanni?" Suara Bi Onah yang tengah memanggilku benar-benar membuatku terkejut.


Aku menoleh ke arah beliau. "Ya, Bi. Ada apa?" tanyaku.


"Ada tamu, nyariin Mbak Fanni."


Dahiku mengernyit karena heran. Siapakah gerangan yang datang mencariku? Tumben sekali. "Iya, Bi. Aku turun bentar lagi."


"Baik, Mbak. Bibi duluan ya? Mau bikinin minum."


"Emm."


Bi Onah berlalu terlebih dahulu. Sedangkan diriku, dengan susah payah aku mencoba berdiri. Pinggangku semakin pegal karena perutku yang membesar, apalagi tubuhku sendiri juga besar. Setelah itu, aku mengambil langkah untuk mencapai lantai bawah bersama tanda tanya mengenai siapa sang tamu yang mencariku. Tidak biasanya.


****


"Ah!" Aku terkejut sekaligus terpana. Bagaimana tidak, ada sosok yang tidak asing dan begitu akrab melekat pada hatiku. Tamu yang sangat penting kini datang berkunjung bersama sosok wanita berhijab yang begitu manis, nyaris mirip dengan sosok Nike. Namun bukan Nike, melainkan seorang calon mempelai dari pria yang selama ini memliki image centil dan kemayu. Wanita yang memiliki nama Rara, kalau tidak salah.


"Ayo, ayo silahkan masuk," ujarku kembali sembari membuka pintu utama rumah ini dengan lebar untuk mereka berdua.


"Silahkan duduk, kalian berdua. Jangan malu-malu, aelah kayak sama siapa aja sih, Tom." Kembali lagi aku berkata untuk memancing keakraban diantara aku dan Tomi yang sudah lama tidak kami lakukan. Namun ia tetap menjada image dihadapan sang kekasih. Mengangguk pelan untuk menjawab perkataanku sembari tersenyum malu-malu.


Ya ampun, gemes kali sama mereka. Uh, pengen nyubit pipi dua-duanya.


Tak lama setelah itu, Bi Onah datang dengan membawa nampan yang berisi tiga gelas orange juice dingin. Beliau meletakkannya dihadapan kami. "Monggo Aden dan Enon. Kalau kiranya nggak cocok boleh minta yang lain," ujar beliau.


"Terima kasih, Bi," jawab Tomi seketika.


Aku berdeham pelan. "Ambil cemilan yang ada ya, Bi. Tolong hehe."


"Nggak usah repot-repot, Fann. Masih kenyang kitanya."


"Halah. Jangan sok malu-malu deh."


"Enggak gitu, Cyn. Oops! Aduh keceplosan." Sontak Tomi menutup bibirnya menggunakan tangannya. Ia menunduk malu, mungkin karena memanggilku dengan kata cyn. Wajahnya memerah seketika, bak udang yang tengah direbus sampai matang. Rara hanya tersenyum sembari menepuk pundak kekasihnya.


Tomi adalah sosok yang tidak bisa menjadi orang lain ketika dihadapan temannya, mungkin seperti itu. Namun sepertinya, ia ingin menjadi seorang pria yang penuh wibawa dihadapan sang calon istri. Meski nada bicaranya masih terdengar halus, gemulainya pun seperti itu, namun ada tekad untuk berubah sesuai kodratnya. Sebagai seorang teman, aku patut bangga dan harus mendukungnya. Aku yakin Rara pun juga bisa menerima Tomi dengan apa adanya. Tidak mungkin tidak, apalagi hubungan mereka sudah sampai sejauh ini.


"Ngomong-ngomong ada apa kalian ke sini? Kayaknya ada yang penting, emang nggak kerja, Tom?" tanyaku. Namun belum sempat oleh Tomi karena Bi Onah kembali datang dengan membawa cemilan yang aku maksud. "Makasih ya, Bi."

__ADS_1


"Sama-sama, Non." Bi Onah kembali berlalu setelah meletakkan hidangan tersebut serta memberikan jawaban untukku.


Tomi berdeham. Setelah itu, ia menatap Rara. Oh, tatapan mereka bertemu dan blush! Wajah mereka memerah seketika. Astaga! Aku gemas sekali. Mereka bagaikan dua orang remaja yang baru saja jatuh cinta. Sepertinya keromantisanku dengan Mas Arlan pun akan mereka kalahkan.


"Gue ambil cuti, Fann." Akhirnya Tomi memberikan jawaban kepadaku. "Ke sini mau main aja sih. Mumpung ada waktu, lagian lama nggak ketemu."


"Oh gitu." Aku manggut-manggut. Ada rasa penasaran yang mengganjal di hatiku mengenai hubungan mereka. Mengapa belum juga menikah? Padahal hampir dua tahun mereka menjalin hubungan tersebut. Namun aku tidak ingin dikatakan lancang. Apalagi menyangkut pernikahan. Aku teringat akan pertanyaan perihal menikah dikala lajang, pertanyaan yang sempat menjadi momok yang menyeramkan.


Aku mengabaikan tentang rasa penasaranku tersebut. Kemudian, aku mengisyaratkan keduanya untuk segera meminum atau menyantap hidangan yang ada. Beruntung mereka bersedia, setidaknya sebagai nyonya rumah aku merasa sangat dihargai.


"Itu, Mbak Fanni hamil berapa bulan?" tanya Rara.


Aku menatap perutku sembari membelainya halus. "Delapan bulan, Ra. Bentar lagi lahiran."


"Wah! Semoga lancar ya, Mbak. Udah mau punya baby aja. BTW, si A'a malah belum kode."


Kode? Aku menatap Tomi yang tengah cengingisan. Ia mengusap tengkuknya karena salah tingkah. Tampaknya ia belum kunjung melamar. Padahal usianya sama sepertiku, sudah tiga puluh tahun lebih. Usia yang pantas untuk menikah.


"Enggak gitu, Neng. Sabar atuh, kan besok kita lamaran. Neng-nya juga baru kelar kuliahnya," jelas Tomi.


"Hehe ... iya, A'. Eneng cuma bercanda."


Gemes!


Tomi menatapku kembali. "Nggak nyangka gue, loe yang dulu murung pemalu, udah mau jadi ibu aja."


Kuberikan senyuman tipis untuknya. "Gue udah jadi ibu sejak lama, Tom. Anak pertama gue kan ada, dia masih sekolah."


"Oh iya ya. Sorry, sorry. Emm ... gue ke sini pengen aja sih. Maaf ya kalau ganggu, Fann. Si Eneng baru kelar kuliah S2-nya. Gue mau pulang ke kampung dia dulu, lamaran disana. Habis itu kita mau nikah langsung setelah lamaran, biasalah karyawan liburnya nggak lama. Lagian biar tenang kalau udah sah."


Aku terkesiap. "Oh! Bagus dong, semoga lancar ya, Tom dan Rara. Berarti langsung ijab qobul ya? Nggak apa-apa sih. Biasanya di Jawa juga gitu, kata mama gue. Yang penting udah ada omongan dua pihak keluarga, semua persiapan juga udah ada."


Mungkin kebahagiaan sekaligus ketegangan tengah dirasakan oleh Tomi. Tidak kusangka, akhirnya ia akan sold out juga. Mengingat image yang selama ini ia sandang, rasanya masih tidak percaya. Namun aku pun turut bahagia. Pria kemayu, centil dan apalah itu. Nyatanya ia bisa menjadi lelaki sejati dengan niat mempersunting sang pujaan hati. Siapa teman yang tidak berbangga hati?


Rara pun tampak wanita yang sangat baik dan lembut tutur katanya. Sangat cocok jika bersanding dengan Tomi. Aku berharap acara mereka lancar sampai sah nanti. Lalu menjadi keluarga yang harmonis.


"Gue selalu dukung loe, Tom. Temen gue yang bisa nerima gue apa adanya saat itu. Semoga kalian nanti bahagia dan lancar semuanya. Emm ... aku juga berharap Rara nggak kaget sama si Tomi. Lagian, pasti udah hapal sama dia, kan?"


Rara tersenyum malu-malu. "Iya, Mbak. Amin, terima kasih do'anya."


Imutnya.


Perbincangan kami terus berlanjut, meski membahas hal-hal yang tidak penting. Sesekali, mereka juga menanyakan perihal keperluan pernikahan kepadaku. Sehingga aku memberikan jawaban yang aku ketahui saja. Pasangan manis ini sangat menggemaskan setiap kali aku melihat.


Bersambung ....

__ADS_1


Budayakan lagi like+komen yaa


__ADS_2