Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Kak Pandhu


__ADS_3

Aku duduk di kursi panjang yang menghadap kearah danau taman yang sering aku kunjungi. Udara terasa begitu sejuk. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.


Tentang ibuku, aku tidak tau apakah beliau masih berada di apartemenku. Rasa sesalku masih ada sampai sekarang. Sebenarnya aku tidak tega membiarkan beliau sendiri setelah bertengkar lagi denganku. Namun, ada saja cara untuk memisahkan aku dan mas Arlan.


Aku tidak tau, bagaimana penilaian ibuku tentang mas Arlan yang sebenarnya. Aku hanya tau beliau tidak ingin jika aku sampai berhubungan dengan duda anak satu tersebut. Ibuku adalah orang yang baik. Beliau tidak pernah membeda-bedakan orang lain selama ini. Selalu welcome kepada orang yang baru dikenali.


Sifat ibuku berbanding terbalik denganku yang cukup cuek dan menarik diri. Lalu apa yang salah pada diri mas Arlan? Sampai beliau sangat bersikeras menentang hubungan yang lebih serius antara kami.


Aku tau perasaanku pada mas Arlan masih setengah hati atau bisa saja seperempat hati. Sifat mas Arlan yang begitu baik membuatku tidak rela jika ia sampai dihina. Entah secara langsung ataupun tidak. Mungkin karena aku sudah terbiasa bersamanya.


Kubuka ponsel yang tidak pernah lepas dari genggamanku. Aku teringat tentang kak Pandhu dan Febi. Aku berniat ingin meminta maaf pada mereka karena tak ada andil dalam persiapan pernikahan. Kemudian aku memilih untuk menghubungi kak Pandhu melalui telepon.


"Halo Fanni," ujar kak Pandhu menjawab panggilanku entah dari mana sekarang.


"Assalamu'alaikum Kak," sapa salamku padanya.


"Oh... Wa'alaikumssalam Dek, kenapa?"


"Enggak apa-apa Kak, aku mau minta maaf nggak bisa pulang sekarang."


"Kenapa lagi? Kamu berantem lagi sama Mama?"


"Darimana Kakak tau?"


"Oh bener ya, Pulang-pulang dari tempat kamu, Mama diem aja cemberut terus, kenapa lagi sih Fann? Jangan bikin beban sama Mama."


"Siapa yang bikin beban sih Kak, Mama mau jodohin aku Kak, ya aku nggak mau."


"Jodohin? Kata siapa? Kok Kakak nggak denger?"


"Dari Mama sendiri, Mama masih takut aku deket sama mas Arlan."


"Hmmm... susah."


"Iya makanya aku minta maaf nggak bisa bantu-bantu dulu sebelum semuanya tenang lagi."


"Kamu dimana sekarang?"


"Lagi di taman yang ada danaunya, emang kenapa?"


"Kakak samperin kesitu, pengen ngomong."


"Entar Mama nanya gimana? Entar berantem lagi, Febi juga gimana? Emang nggak disitu?"


"Mama nggak bakalan nanya, ini entar sambil nganter Febi... Kamu tungguin kakak ya."


"Ehh... kak halo.. kak Pandhu??? Aishh!"


Padahal aku masih ingin sendiri. Bodohnya aku memberitahukan keberadaanku dengan gampangnya. Sebelum menolak lagi, kak Pandhu sudah menutup teleponnya. Lalu kalau sampai ia kemari, bukannya aku menyusahkannya lagi?


Apalagi kak Pandhu sedang sibuk-sibuknya mengurus pernikahannya. Jika aku pergi dati tempat ini sekarang, nantinya ia akan kebingungan mencariku. Oh sial! Aku tidak pernah memikirkan sampai kedepan.


Biarlah, ku nikmati udara tempat ini. Dingin sekali, langitpun mulai menghitam seolah tau aku sedang bersedih hati. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Aku menyilangkan kedua tanganku unruk menahan dingin. Apalagi hanya sebuah kemeja panjang yang tidak terlalu tebal aku pakai.


Aku beranjak pergi dari kursi panjang tersebut. Aku menuju ke sebuah gazebo kecil. Seperti dugaanku, rintik hujan pun turun membasahi bumi. Seperti kalutnya hati yang menjerit, tak tau akan melakukan apa dalam situasi seperti ini. Aku masih menunggu kedatangan kak Pandhu. Miris sekali, harus melalui hari liburku dengan masalah seperti ini.


Drrrtt... Drrrttt... Drrrttt...


Aku raih kembali ponsel yang sudah kumasukkan kedalam kantong. Aku melihat sebuah nama yang tidak lain adalah kak Pandhu. Ia menghubungiku lagi.


"Halo Kak, Assalamu'alaikum," sapaku pada kakakku tersebut.


"Wa'alaikumssalam, kamu dimana Dek, hujan gini... Kakak udah nyampe sini," jawab Kak Pandhu.


"Aku lagi di gazebo kecil deket danau."


"Oke tungguin."


"Seharusnya nggak perlu kesini Kak."


"Biarin."


Kak Pandhu kembali lagi mematikan teleponnya. Tampaknya ia akan datang menghampiriku. Aku tidak punya pilihan lain kecuali menunggunya. Terlebih aku tidak bisa keluar dari sini karena rintik hujan yang semakin deras.


Tak lama kemudian, tampak seseorang berjalan kearahku sembari membawa paying berwarna hitam. Samar-samar aku menyadari bahwa orang tersebut adalah kak Pandhu. Lalu aku segera melambaikan tanganku padanya, agar ia mengetahui dimana aku berada.


"Ayo pulang," ujar kak Pandhu tanpa basa-basi.


"Pulang kemana?" tanyaku.


"Ke rumah, ngomong baik-baik sama Mama."


"Nggak mau, belum saatnya... yang ada entar berantem lagi."


"Terus mau disini nyampe kapan?"


"Sampe hati tenang, maaf Kak kalo Kakak kesini cuman mau bujuk aku pulang. Lebih baik Kakak pulang aja sana."


"Hmmm... keras kepala yang awet nyampe sekarang, yaudah ayok ke kafe aja nyari yang anget, dingin disini."


"Kakak yang traktir ya."


"Iya gampang, dasar."


"Hehe... setuju deh."


Aku melompat dari dudukku kearah kak Pandhu. Kami berjalan bersama menyusuri jalan taman. Payung yang tidak terlalu besar membuat bahu sebelahku basah kehujanan. Maklum saja, aku kan berbadan besar. Seandainya Kak Pandhu bersama Febi, pasti tidak akan basah seperti ini.


Yang pasti kak Pandhu semakin lama semakin berubah. Ia tak lagi dingin padaku, ia sungguh sangat perhatian. Dan beberapa kali ia memegang tanganku, memperingatkan jangan sampai terpeleset.

__ADS_1


Sesampainya di tempat parkir, kami berpisah untuk menghampiri mobil masing-masing. Sebelum itu, kami berjanji akan bertemu lagi di sebuah kafe.


Kak Pandhu melaju bersama mobilnya lebih dulu. Sedangkan aku membuntutinya dari belakang bersama si merah. Ponsel yang bergetar beberapa kali belum juga aku pedulikan. Aku belum ingin bicara, apalagi dengan mas Arlan. Aku masih butuh ketenangan untuk berpikir sejenak. Langkah apa yang harus aku tempuh setelah ini.


Mobil kami terparkir rapi di halaman depan Kafe. Rintik hujan deras kini menjadi gerimis. Langit menghabiskan sisa-sisa air matanya. Kulihat banyak orang yang mulai berlalu lalang meninggalkan tempat berteduhnya dari seberang sana. Meski begitu, udara dingin masih menusuk. Mentari pun belum menampakkan diri kembali.


Aku dan kak Pandhu masuk kedalam Kafe. Kami mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah itu duduk bersama saling berhadapan.


"Silahkan Mas buku menunya," ujar seorang pelayan wanita pada kak Pandhu.


"Makasih mbak," jawab kak Pandhu


Aku terdiam melihat pelayan tersebut. Ia tengah berdiri menunggu pesanan kami. Namun bola matanya tak lepas dari pandangannya terhadap kak Pandhu.


Aku tau ekspresi itu, ia terpukau dengan paras bule dari kakakku. Apalagi senyumnya terus mengembang, seolah-olah ia sedang berkhayal tinggi.


"Ehemm..." ujarku berdeham dengan maksud membuat pelayan tersebut agar tersadar.


Dan yeah, aku berhasil. Ia salah tingkah. Dalam hati aku meringis kecil.


"Kamu apa Dek?" tanya kak Pandhu padaku.


"Coffe late sama otak-otak goreng aja Kak," jawabku.


"Oke deh, ini mbak pesanan kami."


"Baik Mas, mohon ditunggu hehe."


Kak Pandhu mengernyitkan dahinya. Tanda bahwa ia merasa heran dengan sikap sang pelayan.


"Kenapa Kak?" tanyaku.


"Enggak kok, kenapa dia senyum-senyum gitu ya?" balas kak Pandhu padaku.


"Naksir sama Kakaklah, kan Kakak beda sama aku... Walaupun aku juga bule, tetep aja Kakak lebih menawan, kalau aku badannya besar."


"Yaelah, dibahas lagi... Bersyukur kek udah diberi kesehatan."


"Iya Alhamdulillah deh."


"Yang ikhlas."


"Iya ikhlas kok."


Alunan lagu-lagu populer dari barat terasa asyik di telingaku. Sembari menunggu pesanan datang, bibirku ikut hanyut bersenandung menyanyikan liriknya.


Aku mengambil ponselku kembali. Saat aku membukanya, lagi-lagi banyak sekali pesan masuk dari mas Arlan. Hal itu membuat hatiku merasa tidak tega.


Sampai akhirnya aku putuskan untuk membalasnya. Aku katakan bahwa aku baik-baik saja dan sedang ada kesibukan. Aku tersenyum kecil mendapat kekhawatiran dari mas Arlan. Mengapa orang sebaik dia harus dibenci ibuku? Aku tidak habis pikir, kalau sampai ibuku membencinya karena status dudanya.


"Maaf ini pesanannya sudah datang Mas," ujar sang pelayan yang masih sama. Ia masih menatap harap pada kakakku.


"Oh ya makasih," jawab Kak Pandhu.


"Kak, rencana pernikahan kakak gimana?" tanyaku dengan maksud memanasi hati sang pelayan.


"Masih sedikit lagi Dek, ada beberapa undangan yang belum dikirim," jawab Kak Pandhu.


Lagi-lagi berhasil. Ia terkejut lalu cepat-cepat meletakkan pesanannya. Setelah itu pergi meninggalkan kami. Kini skor sudah imbang satu-satu.


Aku sebal atas pelayanannya yang hanya melihat paras tampan. Sedangkan aku seolah tak dianggap. Mungkin ia kira aku adalah pacar kak Pandhu. Makanya sampai seperti itu. Dasar tidak di kantor tidak di tempat ini, semua wanita sama genitnya.


"Hei," seru kak Pandhu padaku.


"Eh iya, kenapa Kak?" jawabku tersontak.


"Kenapa sih liatin dia mulu?"


"Ganjen sih."


"Masa' kamu cemburu gitu."


"Ya nggaklah masa' kakak sendiri dicemburuin."


"Haha, siapa tau."


"Emm... Mama tadi gimana Kak?"


"Beliau diem aja sepulang dari apartemenmu."


"Maaf Kak, lagi-lagi aku bikin ulah, aku nggak mau dijodohin atau kencan buta."


"Hmm."


Kak Pandhu menyeruput kopi yang ia pesan. Binar matanya mulai melesu. Aku yakin ia sedang risau. Menjelang pernikahanya selalu saja ada masalah. Aku sampai tidak berani untuk berucap lagi.


Apa mungkin pertengkaranku dengan ibu kami merupakan ujian menjelang pernikahannya? Aku sebenarnya malu. Rasa tidak enak bergelayut di hatiku. Belum lagi jika Febi dan keluarganya tau.


Apakah aku benar-benar manusia pembawa sial? Tapi aku hanya ingin bahagia dengan caraku sendiri itu saja.


"Jujur Kakak malah nggak tau sama sekali soal perjodohan Fann, mungkin papa juga nggak tau. Setelah kamu pergi dari rumah beberapa hari yang lalu, Mama emang masih ngomel-ngomel, sampai akhirnya mau diem pas dinasehatin sama Papa," kata kak Pandhu.


"Gitu ya? Tadinya aku pikir Mama juga mau berdamai sama aku Kak. Tapi akhirnya Mama ngebahas mas Arlan lagi dan nyaranin aku kencan buta lagi," jawabku.


"Menurutmu gimana?"


"Gimana apanya?"


"Kencan butanya?"

__ADS_1


"Ya nggak maulah! Gilak apa? Aku dulu udah cukup malu sama Anton Kak."


Apa-apaan ini? Masa' Kak Pandhu akan mendukung permintaan ibuku. Yang benar saja.


Rasanya sebal sekali. Apa tidak ada satu pun keluarga yang mendukungku? Apa mungkin ayahku juga begitu? Tidak! Aku tidak akan mau.


"Kak?"


"Ya Dek."


"Kakak mau dukung Mama?"


"Menurut Kakak sih nggak ada salahnya, lagian nggak semua orang kayak siapa tadi? Anton ya?"


"Gilak! Nggak mau, nggak bakalan mau lagi. Titik!"


"Ya udah tenang dulu, itu kan hanya pendapat."


"Lagian pada aneh deh."


"Terus hubunganmu sama Arlan gimana?"


"Nggak tau, belum pasti."


Kuteguk coffe latteku secara perlahan. Hangat terasa saat coffe latte tersebut membasahi tenggorokanku. Aku menarik napas perlahan dan menghembuskannya lagi.


Sudah cukup tenang. Aku memasang telinga lagi untuk mendengar ucapan Kak Pandhu selanjutnya. Apapun itu.


"Jangan plin-plan," katanya.


"Maksud Kakak?" tanyaku.


"Kalau nggak suka ya nggak, kalau iya ya iyain."


"Nggak semudah itu Kak, emang Kakak dapet cewek langsung disetujuin orang tua. Aku dapet duda lho kalau diiyain."


"Makanya pulang, biar tau."


"Tau soal apa? Soal kakak ganti-ganti pacar mulu?"


Kak Pandhu diam lagi. Kami merenung. Ia pikir mudah dalam menerima mas Arlan atau menolaknya. Banyak sekali pertimbanganku, apalagi perasaanku belum mengarah pada mas Arlan. Aku menyukai Celvin, lalu jika aku langsung menerima mas Arlan begitu saja. Memangnya aku nyaman? Memangnya aku bahagia.


Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri selama ini. Karna memang salah hatiku. Tuhan tidak memberikannya langsung perasaan ini pada mas Arlan. Namun, jika aku membawa nama Celvin sebagai alasan pasti terdengar konyol. Pasti aku dinilai orang yang halu lagi.


"Fann?" ujar Kak Pandhu lagi.


"Apa?" balasku.


"Kamu tau kenapa Kakak ganti-ganti cewek mulu?"


"Karna Kakak merasa ganteng."


"Menurutmu Kakak seburuk itu?"


"Nggak tau."


"Kamu pikir yang nggak direstui kamu doang? Setiap kali Kakak punya pacar pasti Mama banyak pertimbangan Dek, yang katanya terlalu centillah, pakaiannya kurang sopanlah, kurang rasa hormat dan bla bla bla."


"Haah?"


"Sampai dari mereka semua ngerasa nggak nyaman sama sikap Mama, kamu tau Kakak juga beberapa kali disaranin kencan buta kayak kamu."


"Iyakah?"


"Iya, ini nggak bohong. Mama kita ibu kita, kita semua saling menyayangi. Tapi beliau tetap manusia biasa tetap seorang ibu, sifat negatifnya beliau terlalu posesif."


"Maaf Kak, aku nggak tau."


"Kalau Kakak nggak ketemu Febi yang memikat hati Mama, sampai sekarang pasti Kakak juga belum menikah."


Aku terdiam seribu bahasa. Semua ucapan dan penjelasan Kak Pandhu seolah tidak bisa dipercaya. Aku tertegun sejenak dan menatapnya. Binar matanya masih lesu, ia menunduk. Sepertinya kakakku tersebut sedang mengenang masa lalunya.


Adik macam apa aku? Selama ini aku hanya melarikan diri dari rumah sampai tidak tau akan masalahnya. Sialnya lagi, aku memperlakukan Febi dengan buruk diawal perjumpaan. Aku menyesal sekali, pantas saja saat itu Kak Pandhu terlihat sangat marah dengan kata-kata kasar yang ia lontarkan padaku.


"Maaf kak," ujarku sembari meraba tangannya.


"Nggak apa-apa, itu sudah berlalu. Kakak sebagai manusia biasa, masih merasa tidak enak sama mantan yang mungkin sampai sekarang sakit hati sama Kakak, Dek, jawannya.


"Do'ain semoga dia bahagia Kak."


"Amin, maafin Kakak dulu pernah kasar sama kamu Dek."


"Nggak apa-apa, sekarang aku tau alasannya Kak."


"Makanya sekarang cepat kamu pastiin perasaan kamu sama Arlan."


"Aku lagi usahain Kak."


"Kakak dukung apa yang kamu mau, Kakak juga yakin Arlan orang yang baik. Setidaknya inget waktu kamu depresi, jangan berpikir terlalu banyak lagi selagi ada yang nerima kamu apa adanya."


"Kakak bener, tapi aku takut aku gagal dan Mas Arlan sakit hati lagi setelah sama mantan istrinya."


"Mungkin itu yang bikin kamu ragu, Dek. Pikirin kalian aja, kalau kamu bisa nerima Arlan dan anaknya, pasti dia mau membujuk Mama."


"Iya Kak, makasih. Tapi aku pikirin dulu."


"Yaudah minum dulu."


Kami menghabiskan sisa hidangan. Menikmatinya perlahan sembari mendengar alunan musik yang diputar oleh pihak kafe. Hujan pun kembali turun begitu derasnya, sehingga memaksa kami tinggal lebih lama lagi.

__ADS_1


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen ya,, poin juga bolehlah 😊😊


__ADS_2