Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Akhirnya


__ADS_3

"Guys, apa kalian pernah mengalami. Lebih memilih pacar dibandingkan Mama?" tanya Fanni.


_____________________________________________


Karena sudah jengah, aku sangat bersikeras ingin pulang. Meski Dokter belum mengizinkan dan menyarankan esok hari saja. Namun, terus kuyakinkan bahwa diriku telah baik-baik saja. Dan yeah! Aku menang. Aku bisa pulang.


Pagi tadi Mas Arlan telah kembali ke rumahnya. Tentu saja, sudah aku peringatkan habis-habisan. Jangan sampai menghilang lagi! Seperti itu kiranya. Setelah itu, aku biarkan untuk pulang. Bebersih diri dan mengurus Selli. Mengingat hari ini adalah hari libur kerja. Semalaman ia telah menungguku, tidur di sofa. Seperti yang sempat dilakukan Ibuku.


Sebenarnya aku sendiri, terkadang merasa was-was. Bagaimana tidak? Dua insan yang masih belum halal, harus berduaan. Seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, kami khilaf. Melakukan kecupan mesra selama beberapa saat.


Astaga! Kalau diingat, aku jadi malu sendiri. Dosa lagi. Maka dari itu, mungkin Mas Arlan ingin cepat-cepat menikahiku. Hasrat seorang duda pasti besar kalau terlalu lama hidup sendiri bukan? Namun, memang belum ada jalan bagus untuk mewujudkan itu.


Beruntungnya Mas Arlan masih bisa berpikir panjang. Dan tidak kebablasan. Tentu saja aku juga tidak mau. Seperti itu saja, aku sudah terbayang-bayang akan dosa maksiat. Ahh... terbayang tapi sama sekali belum bisa aku tinggalkan. Kami terlena. Semoga saja, akan ada jalan baru, jalan yang bisa membawa kami kedalam pernikahan. Itu saja harapanku.


Sudahlah, lupakan tentang itu terlebih dahulu. Mari bersiap-siap untuk pulang ke istana kecilku. Saat ini, Ibuku dan Ayahku berada disini. Membantuku untuk mengurus keperluan administrasi di rumah sakit. Sedangkan Kak Pandhu mungkin sibuk. Dan Kak Febi, belum sempat muncul sekalipun. Seperti kata Ibuku, ia masih mual jika menghirup aroma obat. Maka dari itu, aku bisa memahaminya. Sepertinya kabar kehamilan dirinya pun bukan isapan jempol semata.


Yah, tidak buruk juga. Sebentar lagi aku akan memiliki keponakan. Prediksiku, anak itu kelak menjadi cantik atau tampan. Paras kedua pasangan itu saja, terlihat sempurna. Tinggal menunggu akan mirip siapa, nantinya.


"Sayang?" Ibuku memanggilku.


Aku segera menoleh kearah beliau. "Kenapa Ma?"


"Kamu pulang ke rumah aja ya?"


"En-enggak usah, Ma. Fanni takut ngrepotin."


"Enggak lho, Mama masih khawatir kamu kambuh lagi."


"Enggak kok, Ma. Fanni udah sembuh, janji nggak bakalan maksain diri lagi Ma."


"Hmm... tapi kan tetep Mama nggak tega."


"Ma, please. Aku cuman pengen tidur di kamar aku sendiri."


Beliau mendekatiku. Semakin dekat, lalu sampai. Mengusap wajahku dengan halus dan penuh kasih sayang. Lalu berkata, "Pulang ya? Biar Mama enak ngurus kamunya."


Namun, aku tetap menolak. Kugelengkan kepalaku sebagai tanpa tidak setuju. "Enggak Ma, Fanni udah kangen berat sama kasur kesayangan di Apartemen. Lagian Fanni udah sembuh kok," jawabku.


"Kamu yakin?"


"Iya Ma, yakin banget. Kasian Mama sama Papa pasti juga capek banget. Hari Senin, aku juga udah masuk. Kasian Pak Celvin."


"Senin besok? Jangan ah, kamu kan baru balik hari ini sayang."


"Ya mungkin, aku minta waktu sampai Selasa deh Ma."


"Hmm... yaudah deh. Kalau itu mau kamu. Tapi, Mama mau nginep dulu ditempat kamu."


"Ihhh... jangan!"


"Kenapa?"


"Ng-nggak apa-apa sih, Ma. Tapi kan yang di rumah para lelaki, kalau Kak Febi kenapa-napa gimana? Kak Febi beneran hamil kan? Itu cucu pertama Mama lho, emang Kakak sama Papa ngerti?"


"I-iya juga ya, Febi beneran hamil. Tapi kamu gimana sayang."


"Tenang aja Mama sayang, Fanni udah sehat kok."


"Ya sudah kalau gitu, yang penting kalau ada apa-apa. Langsung telpon."


Berhasil! Selain merasa iba pada Ibuku. Sebenarnya, ada hal terselubung dibalik penolakanku tersebut. Siapa lagi kalau bukan untuk Mas Arlan. Kalau aku pulang ke rumah, pasti akan sulit untuk bertemu dirinya. Kepulanganku ke Apartemen pasti juga bisa tertunda karena terus ditahan oleh Ibuku, nantinya. Apalagi aku baru bertemu sekali dengan kekasihku tersebut, setelah dua minggu lebih.


Entahlah, apakah ini normal atau tidak? Yang pasti, aku ingin cepat-cepat bertemu Mas Arlan lagi. Berdua saja ataupun bersama Selli. Meski, waktu yang digunakan juga tidak lama. Setidaknya ketika malam tiba, kami bisa bercengkerama via telepon ataupun video call.


Bisa dibayangkan, jika ada Ibuku. Pasti beliau akan membatasi tentang itu. Aku menjadi tidak bebas lalu kena omelan yang panjang sekali. Yah, aku juga tau bahwa beliau khawatir. Namun, sikap bandel masih ada. Ibarat seorang anak SD yang mencuri waktu untuk pergi bermain. Beruntungnya, beliau langsung percaya. Aku hanya meminta maaf pada Kak Febi dalam hati, karena telah mempergunakan dirinya sebagai alasan.


Semoga saja, Tuhan juga tidak menghukumku.


Beberapa saat kemudian, Ayahku telah kembali dari pengurusan administrasi berkas. Soal biaya, tidaklah terlalu banyak. Karena aku memiliki asuransi kesehatan yang diberikan oleh perusahaan. Mungkin, biaya yang dikeluarkan oleh orangtuaku terlalu banyak untuk wara-wiri, demi mengurus diriku.


Membuatku merasa bersalah saja, jika memikirkan tentang itu. Aku malah memilih bertemu Mas Arlan dan menolak permintaan Ibuku untuk pulang ke rumah maupun keinginan beliau untuk menginap. Tapi bagaimana lagi? Ahh... biarlah. Agar Ibuku juga bisa beristirahat di rumah.


"Ayo sayang," ujar Ayahku.


"Iya, Pa," jawabku.


Ibuku segera mengambil lenganku. Beliau menggandengku untuk berjalan keluar dari kamar rawat ini. Sedangkan Ayahku sibuk dengan tentengan tas yang berisi beberapa barang. Kami menyusuri lorong rumah sakit bersama-sama. Lalu, menuju mobil milik Ayahku berada.


Tak lama kemudian, sampailah kami disana. Ayahku membukakan pintu pada kami berdua. Sampai aku tersenyum manis untuk beliau. Mengisyaratkan, bahwa aku sangat berterimakasih untuk semua yang telah beliau lakukan. Seorang Ayah yang berwibawa, seorang pria dari Negara Belanda yang sudah membaur menjadi satu dengan bangsa Indonesia. Sampai tatanan bahasa, budaya dan pemikiran sudah berubah mengikuti warga negara ini.


Aku tidak bisa membayangkan, jika beliau bukan Ayahku. Akan seperti apa rupaku? Meski gendut, aku masih memiliki wajah blasteran sebagai penyangga.


Akhirnya, mobil dilaju pelan meninggalkan rumah sakit yang membosankan itu. Saking senangnya, aku sampai bersenandung kecil disepanjang perjalanan. Seolah baru saja bebas dari penjara. Meski begitu, aku tetap berterima kasih. Tanpa rumah sakit dan dokter, aku pasti tidak akan sembuh.

__ADS_1


"Seneng ya, Fanni?" tanya Ayahku.


"Iya Pa hehe," jawabku diikuti cengiran kecil.


Sedangkan Ibuku hanya menatap diam padaku. Lalu berkata, "Ulangin lagi aja, Nak. Biar bisa keluar masuk lagi."


"Maaf Mama."


"Makanya kalau sama laki itu jangan terlalu cinta. Contoh Mamamu ini, kisah cintanya diperjuangkan bukan memperjuangkan."


"Kan Mama cantik, Fanni nggak."


Beliau menyentil dahiku. Lumayan keras sampai aku mengaduh sakit.


"Kamu itu cantik, sifat kamu aja yang kayak gitu. Mikir yang enggak-enggak mulu. Mama aja PD kok, orang Jawa asli. Nggak ada bule-bulenya."


Ayahku pun tidak mau ketinggalan. "Orang Jawa yang manis ya Ma? Sampai Papa jatuh hati," ujar beliau.


"Apaan sih, Pa. Bikin malu aja didepan anak, udah tua juga! Masih aja ngegombal."


"Hahahaha."


Mendengar pertengkaran romantis yang Ayah Ibuku saling lemparkan, membuat diriku tersugesti. Aku baru menyadari bahwa ada kemiripan diantara Ayahku dan Mas Arlan. Sama-sama gemar gombal dan membuat kami malu-malu, geli dan salah tingkah sendiri.


Ada satu hal yang menjadi hikmah. Sepertinya, aku tidak perlu menyesalkan sakit yang sempat menderaku. Karena hal itu, aku bisa paham. Bahwa bagaimana pun orang tua menentang, mereka tetaplah sayang. Mungkin, banyak hal yang mendasari penyebab pertentangan itu. Dan aku rasa Ibuku melakukannya demi aku. Mungkin aku yang sempat dikucilkan. Beliau tidak ingin lagi, aku menderita. Apalagi karena orang kaya.


Namun, perjuanganku dengan Mas Arlan tetap tidak akan berhenti begitu saja. Rasa kehilanganku kemarin, mendorong diriku untuk tetap berusaha. Bukan melepaskan begitu saja.


****


"Duhh... nyamannya," ujarku.


Kini kami telah sampai di Apartemenku. Aku berbaring, merentangkan kedua tangan diatas ranjang kesayangan. Tidak ada yang lebih nyaman dari kasur ini.


Sekali lagi, aku harus bersyukur. Karena keadaan Apartemen ini sudah sangat rapih. Aku rasa, seseorang telah mengurus dan membersihkannya. Aku tau, pasti itu Ibuku. Nikmat mana lagi yang bisa didustakan?


"Sayang makan dulu yuk?" ajak Ibuku dari ambang pintu kamarku.


"Emang udah jam berapa, Ma?" tanyaku.


"Baru jam sepuluh siang sih."


"Nanti ajalah, masih kenyang."


"Hmm..."


"Keluar bentar, beli buah-buahan buat kamu."


"Nggak usah kali."


Beliau tidak menjawab. Namun, melangkah masuk kedalam kamarku. Menghampiri diriku dan duduk tepat disamping.


"Sayang?" ujar beliau.


Aku membangunkan diri. Duduk bersila dan menatap beliau yang tampak serius. Sepertinya ada hal yang akan dikatakan.


"Kenapa Ma?"


"Kamu serius nggak mau Mama temenin malam ini?"


"Iya, Ma. Kasian Mama pasti capek."


"Capek itu emang pasti, sayang. Tapi lebih capek kalau lagi berantem sama kamu. Mau bagaimanapun kan, Mama tetep sayang sama kamu."


Kuraih tangan beliau. Sembari mengecupnya dengan lembut. "Maafin Fanni ya Ma, sudah setua ini malah nyusahin Mama terus. Fanni belum dewasa sama sekali," lanjutku.


Beliau merengkuh badanku. Lalu dipeluknya penuh kasih sayang. Beliau berkata, "Jangan mikir gitu lagi sekarang ya, Mama sudah kalah."


"Maksud Mama?"


"Udahlah, bicarain nanti aja. Kamu mandi dulu sana, bauk! Mama udah siapin air hangat."


"Ihh... gitu."


Sesuai perintah beliau, aku segera beranjak turun dari ranjang. Lalu mengambil beberapa helai pakaian. Berjalan menuju kamar mandiku. Membersihkan diri yang penuh kotoran. Maklum, sudah terhitung tiga hari, aku tidak mandi dengan benar. Hanya usapan sapu tangan karena sakit.


Seolah berada dalam sauna alam di pegunungan. Saat aku masuk kedalam bak mandi yang tersedia di Apartemen ini. Hangat airnya benar-benar menentramkan jiwa. Sedang pikiran, begitu asyik melayang-layang. Memikirkan kekasihku tersayang. Bukan kegalauan lagi, tapi tentang bunga yang mekar kembali. Diriku masih terlalu merindukannya.


Aku juga memikirkan perkataan Ibuku yang terakhir. Tentang kekalahan beliau. Lantas, kalah tentang apa? Sepertinya aku harus bertanya lebih lanjut tentang itu.


Baiklah! Sudah selesai. Pakaianpun sudah rapih membalut tubuh. Aku keluar dari kamar mandi, dengan balutan handuk yang masih membungkus kepala.


Tampak Ibuku sedang menyeduh beberapa gelas kopi. Untuk siapa? Aku rasa empat gelas jumlahnya. Ada satu lagi, mungkin susu coklat.

__ADS_1


"Ma, siapa yang dateng?" tanyaku heran.


"Udah sana dandan. Yang cepet, Mama mau ngomong," jawab beliau.


Kerutan dahi yang bisa kupasang diwajah ini. Merasa heran dan penasaran tentunya. Namun, enggan bertanya lagi karena beliau tampak serius. Aku menduga, hanyalah Kak Pandhu dan istrinya yang datang.


Dengan membawa dugaan itu, aku melangkah lagi menuju kamarku. Namun, suara perbincangan beberapa pria terdengar mengusik telingaku. Mana mungkin?


Sudahlah, ikuti permintaan Ibuku saja. Aku masih mengabaikan tentang itu. Segera masuk kedalam kamarku. Kukeringkan rambutku menggunakan Hair Dryer. Setelah itu menyisirnya dengan halus. Kupoleskan bedak tipis diwajahku, tanpa memakai riasan lain. Karena aku pikir ini di rumahku sendiri.


Setelah dirasa selesai, aku buru-buru keruang sofa Apartemenku. Demi menjawab tentang rasa penasaranku.


"Haaah!" seruku saat melihat keluargaku komplit disini. Dan...


"Fanni, kamu gimana keadaannya?" tanya Kak Febi.


"Ba-baik Kak."


"Maaf ya, aku belum sempet jengukin kamu."


"En-nggak apa-apa kok haha."


Kak Pandhu menyela, "Hei biasa aja kali! Gitu amat Dek, ngeliatnya?"


"Ha-ha-ha... i-ini apa yang terjadi?"


"Duduk Fanni, Papa dan Mama mau bicara."


"Oh... o-oke."


Aku menuruti instruksi dari Ayahku. Dan duduk disalah satu sofa kosong. Mataku tidak melepaskan pandangan sekalipun dari Ibuku.


Masa' sih? Apa aku mimpi? Tidak kok!


Beliau tengah memangku anak kecil. Seorang bocah cantik yang sangat aku sayangi. Sampai-sampai, aku diabaikan oleh beliau maupun Selli. Mas Arlan juga duduk berdekatan dengan beliau. Apa ini?


"Jadi?" tanyaku.


Ayahku menatapku lalu Mas Arlan. "Kami telah memberikan restu pada kalian, termasuk Mamanya Fanni," ujar beliau.


Sontak saja aku menganga. Menjatuhkan rahangku, tidak percaya. Meski sudah mendapat titik terang dari hari kemarin. Tetap saja, ini mengagetkan. Setiap jengkal perjuangan Mas Arlan untuk meluluhkan hati Ibuku, akhirnya terbayar.


"Tapi..." sela Ibuku. "Kalian jangan mengecewakan. Terutama kamu Arlan, jaga Fanni, jaga anakku dengan baik. Jangan dibikin sakit lagi. Dan... tentang keluarga kamu. Kamu juga harus memperjuangkan tentang itu. Saya harap tidak terlalu lama, karena usia kalian pun semakin tua."


"Baik Tante!" jawab Mas Arlan dengan tegas.


"Saya akui, akhirnya saya kalah dengan kalian. Melihat Fanni yang sampai seperti itu, akhirnya hati saya bisa luluh. Mau bagaimana pun Fanni tetap anak perempuan satu-satunya, jangan sampai dia dihina orang lagi. Belum lagi kamu Arlan, setiap hari datang. Saya sampai bosan."


"Saya berjanji Tante, saya akan menjaga Fanni dengan baik dan juga membahagiakan Fanni."


"Saya pegang janji kamu, tapi perjuangan kamu untuk anak saya belum selesai. Karena kamu termasuk anggota konglomerat, jadi saya harap kamu benar-benar menepatinya."


Uhh... air mata haru kembali membasahi pipiku. Sebuah hasil yang memuaskan akhirnya tercapai. Setidaknya satu masalah selesai. Sedangkan keluarga Mas Arlan, baru akan dimulai. Harapanku hanya satu, semoga saja diperlancar segalanya. Atau Ibuku tidak akan tinggal diam, jika melihat aku dalam derita nantinya.


Senyum lega pun juga tergambar dari wajah Mas Arlan. Sedangkan Selli masih saja diam dipangkuan Ibuku, karena belum mengerti. Bukan itu saja, Ayahku dan Kak Pandhu juga terdengar menghela napas lega. Kami semua telah mengalahkan kokohnya hati Ibuku.


Ya Tuhan! Aku benar-benar bahagia.


Melihatku yang sesenggukan membuat Kak Febi simpati. Iparku tersebut merengkuh pundakku dari belakang. "Selamat ya Fanni," bisiknya.


"Makasih, Kak," jawabku.


"Jangan nangis dong. Aku juga ikut nangis lho."


"Jangan ikut-ikutan, nanti dedenya juga nangis."


"Ahh... kamu kok udah tau sih? Ihh... gimana air mata aku nggak bisa ditahan juga, udah dong Fanni."


"Aku juga sama Kak, gimana dong? Aku malu banget sama Mas Arlan nih."


"Masuk yuk, ke kamar. Kayaknya kamu pasang aroma bawang deh."


"Ayuk deh diam-diam ya."


"Satu... dua... tigaa..."


Aku dan Kak Febi beranjak dari duduk. Kami berjalan cepat menuju kamar. Karena malu pada semua orang yang ada disini. Dua wanita yang lemah hati, dalam keadaan bahagia saja bisa menangis seperti ini.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen ya guys..


Poin kek seribu buat heheheheee.. noh udah direstuin!

__ADS_1


berapapun juga nggak apa-apa deh, buat testi novel aku aja, peringkatnya biar nggak terlalu dibawah. Soalnya kalo berharap menang kontes, kayaknya kejauhan. novelku belum seberapa bagus dibanding yang lain... hehehe


tapi terima kasih banyak yg udah selalu kasih poin tanpa aku minta. Kalian the best banget termasuk yang like, komen ataupun sekedar baca. Atau yang nengok doang.. hehehe


__ADS_2