Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Apa-apaan


__ADS_3

Dengan kecepatan yang lumayan tinggi aku menyusuri jalanan aspal yang memanjang. Sesekali umpatan sebal kukeluarkan dari bibirku karena terjadi kemacetan. Rasa panik seolah menguasai diriku dan lebih dominan.


Aku benar-benar mengkhawatirkan kekasihku.


CKIIIIIITTT! DUG!


Sial! Hampir saja ku tabrak seorang pria pengendara motor. Beruntungnya aku masih bisa melakukan rem mendadak. Walau dahiku yang terantuk stir menjadi korbannya.


"Whooeeee nyetir pake mata loe!" bentak sang pengendara motor tersebut di balik kaca jendela mobilku.


Sontak saja aku terkejut. Aku memahami ia semarah itu. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dan meminta maaf padanya.


"Ma-maaf Mas, sa-saya nggak sengaja," ujarku.


"Halah... basi tauk nggak! Warga asing mah emang nggak tau diri! Nyetir seenaknya aja di negeri orang."


"Ma-maaf Mas, tapi saya warga negara Indonesia, bukan asing."


"Halah... sama aja muka loe tetep muka-muka asing. Kelakuan juga seenaknya aja, nggak punya moral."


"Udah Mas hinanya? Saya kan udah minta maaf!"


"Belum puaslah, nyawa gua hampir melayang gara-gara loe!"


"Terus maunya apa?"


"Enak ya jadi orang kaya, hampir ilangin nyawa orang. Gampang banget nanya gitu, nggak semua bisa pake uang Mbak."


"Terus maunya apa?"


"Maunya loe hati-hati lain kali, awas aja ada kejadian gini lagi dan itu sama gua! Bye!"


Pria tersebut berlalu, kembali pada sepeda motornya. Aku tertegun beberapa saat. Gila! Orang yang tidak ada lemah lembutnya sedikitpun pada wanita. Atau seandainya saja aku adalah wanita cantik, responnya bisa berubah padaku kah?


Aku memang bersalah. Namun, tetap saja tidak harus sekasar itu. Membuatku takut saja, tentunya malu pula. Banyak orang disini, beruntungnya tidak sepi jadi ia tidak sampai menggamparku. Amit-amit, jangan sampai Mas Arlan seperti itu.


Sudahlah, lupakan itu. Aku akan melanjutkan perjalananku untuk pulang. Demi mengetahui suatu hal yang mencemaskan.


Sepertinya, hari ini memang nasib baik tidak berpihak padaku.


Beberapa menit kemudian, akhirnya aku dan juga mobilku sampai di rumah orang tuaku. Segera kuparkir mobilku dengan anteng. Kemudian segera beranjak keluar. Aku berlarian agar cepat sampai di pintu rumah.


Aku terhenti saat kulihat pintu rumah ini terbuka sedikit. Suara beberapa orang pun terdengar. Tampaknya sedang ribut. Aku kembali berjalan.


Namun sebelum masuk, aku mencuri dengar sebentar. Untuk memastikan semua situasi sedang baik-baik saja.


"Arlan... Arlan... saya kan udah bilang sama kamu, jangan kesini lagi! Saya udah muak sama kamu Arlan! Saya tetap tidak akan merestui hubungan kalian. Jangan datang lagi, apalagi terus bawa barang-barang sogokan. Kamu pikir saya semiskin itu apa???" suara Ibuku yang sedang marah tertangkap oleh gendang telingaku. Aku terkesiap hebat dibuatnya. Entah apa yang sudah terjadi.


"Mama, tenang Ma. Jangan kayak gini, malu sama tetangga. Kasian lho dia udah jauh-jauh kesini." sergah Ayahku.


"Iya Ma, kasian lho Mas Arlan Ma," imbuh Kak Febi.


"Saya bilang nggak setuju ya nggak setuju! Kemarin-kemarin masih disabarin, kok nggak mikir kamu Arlan! Otak kamu terbuat dari apa haaah?"


"Ma tenang Ma."


"Papa diem aja, jangan ikut campur!!!"


"Tapi Ma, kasian lho anak ini niatnya baik. Pamali."


"Diem Pa!!! Seharusnya dia yang mikir, sudah duda anak satu. Masih berani deketin anakku, kamu mau bikin anakku janda kayak mantan istri kamu haah???"


Astaga! Apa-apaan ini? Kacau sekali kedengarannya. Jujur saja, aku pun merasa sakit hati mendengar perkataan Ibuku. Lalu bagaimana dengan Mas Arlan. Demi Tuhan! Aku tidak bisa membendung air mataku lagi.


Benar-benar kacau, Kak Pandhu tidak ada. Jika Ayahku dan Kak Febi saja, tidak akan sanggup melawan Mama. Aku harus mengkhakiri ini semua.


Kuberanikan diriku untuk masuk kedalam rumah. Kuintip sebentar sebelum itu, Mas Arlan tampak menunduk. Dan yang lebih parahnya lagi, ia bersujud dihadapan Ibuku. Semua hanya demi aku, aku yang tidak layak diperjuangkan ini. Mas Arlan maafkan aku.


Air mata tangis semakin membanjiri pipiku. Langkahku untuk masuk kuurungkan sebentar. Aku perlu menenangkan diri sebelum menghadapi Ibuku.


"Pergi kamu Arlan! Jangan sampai menampakkan muka kamu disini lagi! Saya sudah muak! Kamu punya otak dan pikiran kan? Kalau kamu sayang sama anak saya, biarkan anak saya bersama orang yang sesuai umurnya, apalagi statusnya. Minggat kamu Arlan!" bentak Ibuku lagi.


"Maaf Tante, saya tidak akan beranjak dari tempat ini sebelum mendapat restu. Saya tau saya bukan lelaki yang sempurna, tapi hati saya tulus sama anak Tante. Saya benar-benar jatuh cinta sama Fanni, Tante. Saya mohon beri restu pada kami, saya mohon Tante. A-apapun akan saya lakukan demi kebahagiaan Fanni, Tante saya mohon," jawab Mas Arlan dengan derai air mata yang tertangkap oleh penglihatanku


"Hiksss... Mama kasian Ma, beri kesempatan sama Mas Arlan Ma," sela Kak Febi, sebagai wanita yang lembut tentu saja ia tidak bisa menguasai air matanya.


"Ma udahlah, Papa yakin Nak Arlan anak yang baik, kasih izin mereka," imbuh Ayahku.


"Tidak!!! Sekali tidak ya tidak!!! Uuuhhh... pergi kamu, jangan sok memelas dihadapan saya!"


Dug!!!


Ibuku terlihat mendorong tubuh Mas Arlan. Sialnya, tenaga beliau sangat kuat sampai kepala bagian belakang Mas Arlan terantuk meja.


Aku terkejut bukan kepalang. Air mataku semakin jadi, apalagi Mas Arlan tampak kesakitan dan sepertinya pusing. Ya Tuhan! Jika memang ia jodohku mudahkanlah kami, jangan membuatnya sesulit ini.


"Pergi!!! Hu hu hu pergi kamu!!!" seru Ibuku lagi tanpa rasa ampun sedikitpun. Namun aku tau beliau juga menangis saking emosinya. Mungkin beliau tidak tau lagi, cara apa yang bisa membuat Mas Arlan menyerah tentang aku.


"STOOPP!!! Mama cukup!!!" seruku.


"Dek ke-kenapa kesini?" tanya Mas Arlan.

__ADS_1


"Cukup Ma! Mama kerasukan setan dari mana sebenernya??? Dimana Mamaku yang lembut? Dimana Ma???" tanyaku tegas pada Ibuku sembari menghampirinya.


Deraian air mata masih terus mengucur deras. Entah dari diriku, Kak Febi ataupun Ibuku. Ayahku hanya bisa mengusap dahinya yang berarti sudah pusing tentang masalah ini.


"Mamaku dimana??? Jawab Ma? Kenapa sekarang jadi psikopat gini???" tanyaku tegas lagi pada Ibuku. Jari-jariku erat menggenggam kedua pundak beliau sembari menggoyangkan geram.


"Psikopat kata kamu??? Ini semua Mama lakuin demi kamu Fanni, inget Fann kamu pernah masuk rumah sakit karna sakit hati! Apalagi Arlan orang kaya, kamu pikir keluarganya akan bagaimana nanti. Kamu mau dibully lagi? Kamu nggak liat Tante Heni nasibnya sekarang?"


"Mas Arlan beda Ma, Mas Arlan bukan mantan suami Tante Heni! Dia emang duda, tapi istrinya yang bejat bukan Mas Arlan!"


"Kamu tau dari mana haaah? Dari dia saja kan? Kamu nggak tanya dari pihak kedua kan? Kamu masih mau belain dia?"


"Iya! Karna bagiku Mas Arlan adalah yang terpenting sekarang. Mama bukan ibuku lagi, Ibuku nggak sebejat ini!"


Plaaakkkk!!!


Telapak tangan Ibuku mendarat keras pada pipiku. Sakit sekali, aku sudah tidak tahan dengan sikap beliau. Mengapa susah sekali memberi restu pada kami. Padahal Mas Arlan tidak pernah berbuat kejahatan.


"Mama Ya Allah Ma, yang sabar. Fanni putri kita Ma," ujar Ayahku sembari mendekati Ibuku.


"Bukan, dia bukan anakku lagi. Dia sendiri yang bilang... Uhhh lepasin, sini kamu Fanni!" jawab Ibuku sembari berusaha meraih diriku lagi. Mungkin untuk ditampar lagi, beruntung Ayahku sangat sigap.


"Tante... Tante... sudah Tante. Saya... saya saja yang mengalah. Ta-tapi jangan marah sama Fanni, sa-saya bakal mun-" kata Mas Arlan terpotong oleh gerakan tanganku yang memberikan isyarat agar ia diam.


"Nggak! Mas Arlan nggak bisa mundur, Mas Arlan harus bersamaku. Lagipula restu Papa sudah cukup, kalau Mama emang nggak mau ngasih."


"Ta-tapi Dek, Mas nggak apa-apa. Yang penting keluarga kalian nggak hancur. Mas ba-"


"Diam! Aku udah cukup muak, kalau terus diatur kapan aku bisa punya suami? Padahal rencana kencan sialan itu juga nggak pernah berhasil. Harusnya Mama juga berpikir tentang itu, tanpa Mama sadari. Aku sudah dipermalukam didepan orang lain sama Mama."


"Kamu salah Fanni!"


"Salah apa Ma? Benerkan? Anton iya Anton udah bikin aku malu dan nangis lagi waktu itu, apa Mama masih bilang itu bener? Nggak ada yang bisa nerima fisik Fanni Ma, harusnya Mama bersyukur Mas Arlan bisa merjuangin aku sampe kayak gini!"


"Dek, Mas mohon udah cukup. Mungkin emang semua yang Tante lakukan itu terbaik buat kamu."


"Mas Arlan mau nyerah?"


"Asal kamu bahagia Dek, Mas janji nggak akan menikah juga kan kalau nggak sama kamu. Yang penting keluarga kamu nggak berantakan gara-gara Mas."


"Nggak! Aku nggak izinin Mas Arlan buat nyerah, aku juga nggak akan nikah kalau bukan sama Mas."


"Dek?"


Aku menghampiri Mas Arlan yang tengah berdiri dengan keputus-asaannya. Lalu bergerak dibelakang tubuhnya.


Darah mengucur dari kepala Mas Arlan sampai menetes ke lantai. Nampaknya, ia jatuh sampai mengenai bagian siku meja yang tajam. Pasti itu sakit sekali, walaupun ia tidak sampai pingsan. Tetap saja, aku tau Mas Arlan terus berusaha menjaga kesadarannya.


"Mas darah lho," kataku sembari mengambil tisu diatas meja dan menutup lukanya pelan-pelan.


"Darah? Ya Allah, aku ambilin obat luka dulu ya," kata Kak Febi.


"Nggak usah Mbak serius, saya nggak apa-apa kok."


"Halah palingan modus!"


"Mama!!!"


Aku, Kak Febi dan Ayahku membentak Ibuku secara bersamaan. Kami menggelengkan kepala karena kerasnya hati Ibuku yang sudah tertutup kebencian dan amarah. Sedangkan beliau membalas kami dengan ekspresi sebal.


Kak Febi berlalu untuk mengambil kotak obat.


"Nih Fann, dibalut dulu ya luka Masmu," kata Kak Febi sembari memberikan kotak obat setelah kembali.


"Makasih Kak," ujarku.


"Dek, entar aja deh."


"Jangan entar infeksi, abis ini kita ke rumah sakit ya."


"Nggak perlu Dek, kamu disini aja. Perbaiki hubungan kalian."


"Nggak mau, aku sayang sama kamu Mas."


Mas Arlan tersenyum manis padaku. Mungkin, ini pertama kalinya aku mengutarakan perasaanku setelah masa pacaran. Raut putus asa masih tergambar jelas di wajahnya. Hal itu lagi-lagi berhasil membuatku menangis.


Ku balut dengan obat dan perban seadanya di kepala bagian belakang dari Mas Arlan. Tentunya dengan sesenggukan tangis yang terus aku keluarkan.


Suasana sudah cukup tenang, walau Ibuku masih menatap kami penuh kebencian.


"Assalamu'alaikum," salam terdengar dari seseorang yang tidak lain adalah Kak Pandhu.


"Wa'alaikumssalam," jawab kami.


"Wow rame amat ya, ada acara apa nih?"


"Ssstttt... dah masuk!" ujar Kak Febi memperingati Kak Pandhu yang belum mengerti situasi.


"Entar dulu deh, Bang Arlan kenapa?"


"Sayang masuk dulu yuk."

__ADS_1


"Enggak, ini ada apa dulu? Kok mukanya pada kaku gini?"


Tak ada yang menjawabnya satu orang pun. Kak Febi juga sudah menyerah. Sedangkan Kak Pandhu masih berusaha mencari penjelasan tentang kami.


"Kenapa???" tanya Kak Pandhu lebih tegas.


"Tuh, adek kamu dibilangin ngeyel sama pacar kesayangannya," jawab sinis Ibuku.


"Ma-maaf Mas, gara-gara saya jadi kacau gini," sambung Mas Arlan.


"Mama?"


"Apa? Mau belain dia juga? Heran deh, orang-orang di rumah ini nggak ada satu pun yang bisa ngertiin hati saya."


"Ma bukan gitu Ma, tapi itu Bang Arlan luka karna Mamakah?"


"Iya karna Ibu kamu yang katanya bejat ini."


"Ma kok gitu sih?"


"Udah deh Pandhu, diem aja kamu kalau cuman mau bela itu duda."


"Ma, yang ngajarin Mama ngomong gitu siapa sih? Padahal selama ini Mama selalu bilang sama Pandhu dan Fanni, jangan sampe jahatin orang lho."


"Ini beda!"


"Apa bedanya Ma?"


"Halah terserah deh, pokoknya jangan harap saya kasih restu ke kalian. Silahkan aja kalau mau nikah beneran, Ibu kalian yang bejat ini tidak akan mengakui dia sebagai menantu!"


"Mama!!!"


Ibuku berlalu pergi kedalam. Mungkin ke kamar beliau. Kami semua hening tanpa bergeming sedikitpun. Aku pun merasa bersalah pada semua orang sekarang.


Semua kacau karena aku. Aku juga telah melukai hati Ibuku. Belum lagi membuat Ayahku semakin pusing. Ditambah lagi, rasa lelah Kak Pandhu dari bekerja harus disambut dengan hal seperti ini.


"Maafin Fanni," ujarku kemudian.


"Bu-bukan, bukan Fanni yang salah. Semua salah saya disini. Maaf Om, Mas Pandhu dan Mbak Febi," sergah Mas Arlan.


"Hmm... tidak ada yang salah kok. Semua benar dengan niat dan maksud masing-masing," jawab Ayahku.


Beliau mendekati kami dan duduk tepat di sebelas Mas Arlan. Aku tidak tau apa yang akan beliau lakukan.


"Kamu nggak pusing Nak?" tanya beliau pada Mas Arlan.


"Tidak Om, saya baik-baik saja," jawab Mas Arlan.


"Takutnya ada masalah lho, cepet dibawa ke rumah sakit ya. Soalnya di kepala."


"Hehe... iya Om."


"Nak Arlan, atas nama istri saya. Om minta maaf sama kamu."


"Disini saya yang bersalah Om."


"Tidak Nak, niat kamu sudah baik sejak awal. Om ini memang orang dari Belanda, dulu juga sulit sekali mendapatkan hati Ibunya Pandhu dan Fanni. Bedanya dulu karna Ayahnya yang nggak setuju, apalagi agama dan adat Om berbeda dengan mereka."


"Benarkah Om?"


"Iya Nak, kamu masih sedikit beruntung karna orang asli sini Nak. Om dari Belanda sana, banyak pertentangan antara kedua pihak keluarga. Om kasih kamu restu sama Fanni, menikahlah kalian berdua."


"Tapi Tante?"


"Saya sayang kalian semua, melihat perjuangan keras kamu secara berturut-turut. Rasanya Om yakin kamu orang yang baik, Fanni pun juga sudah menetapkan hatinya padamu. Melihat perjuangan cinta kalian, Om tergerak untuk membantu."


Aku mendengar semua penjelasan dari Ayahku. Cengeng lagi, dasar mataku yang tidak bisa mengering juga. Beliau memang memberikan kami restu sejak awal. Namun, tetap saja Ibuku masih keras hati menentang kami.


"Fanni?" panggil beliau padaku.


"Iya Pa," jawabku.


"Papa ingin putri Papa bahagia, jadi menikahlah segera. Papa bakal bantu meyakinkan Mama."


"Tapi itu nggak akan mudah Pa."


"Tenang ya sayang, jangan sampai benci sama Mama. Mama hanya khawatir berlebihan, Mama nggak mau kamu sakit lagi kayak dulu."


"Emm... ma-makasih Pa."


"Terima kasih Om, Arlan janji apapun akan saya lakukan demi kebahagiaan Fanni."


"Kak Pandhu sama istri juga akan bantu, tapi janji ya kamu harus bisa bahagia Dek," sambung Kak Pandhu diiringi senyum dari sang istri.


"Makasih Kak, Fanni janji."


Begitulah akhir dari kekacauan hari ini. Dukungan dari mereka membuatku dan Mas Arlan semakin semangat. Kami semua akan berusaha menyakinkan Ibuku.


Bersambung...


BUDAYAKAN TRADISI LIKE+KOMEN SAYYY...

__ADS_1


JUJUR DAH, AKU NANGIS TAU NULIS INI. KAYAK BERASA DIPOSISI FANNI DAN ARLAN.


OH MAMA SEMOGA, MAMA SEGERA MERESTUI MEREKA YAA....


__ADS_2