Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Uang itu, Mas Arlan masih menyimpannya di dalam laci meja kerjanya dan sepertinya ia kunci dengan rapat. Untuk keputusan, ia belum mengambil keputusan apa pun. Uang sebanyak dua ratus lima puluh juta itu, tidak mungkin ia biarkan dibawa kemana-mana oleh Ibu Leny. Khawatir jika menghilang. Mas Arlan masih harus mempertimbangkan banyak hal untuk menerimanya. Sehingga, ia belum mengatakan apa pun meski uang itu sudah berada di tangannya.


Lalu, hari ini Mas Arlan harus berangkat ke kantor untuk mengurus beberapa pekerjaan, bahkan ke kantor Celvin Sanjaya juga. Ia mengajak Selli, karena bukan hari kerja resmi.


Aku menghela napas dalam. Menatap daun pintu yang terpampang nyata di hadapanku. Ingin keluar, namun hati merasa bimbang. Sejujurnya, aku malah sedikit segan jika bertemu Ibu Leny yang berada di lantai bawah sana. Entahlah. Mungkin karena beliau sangat mengenal keburukan keluarga suamiku, sehingga ada sedikit rasa tidak nyaman.


Namun yang namanya nyonya rumah, aku tidak mungkin mengabaikan tamu begitu saja, bukan? Aku membawa Sella di gendonganku dan kereta bayi yang masih terlipat. Kemudian, dengan meletakkan kereta itu terlebih dahulu, aku membuka daun pintu kamar ini. Perlahan, aku melangkah keluar. Lalu melangkah lebih cepat, menapaki lantai keramik dan siap menuruni anak tangga.


Pada saat sudah sampai di bawah, aku bergegas menuju teras. Di mana, ada dua buah kursi dan meja kecil di sana. Namun sebelum itu, aku meminta teh hangat tiga cangkir untuk diriku dan kedua tamu kami.


"Pagi yang mendung. Sejuk, kan?" tanyaku. Tepatnya, pada saat mendapati seseorang tengah berdiri di halaman sembari menatap langit yang kelabu. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ibu Leny.


Beliau menatapku, lalu tersenyum. Kedua tangan beliau yang terlipat di depan, kini sudah diturunkan. Aku rasa, beliau masih ingin terlihat sopan ketika di hadapanku. "Justru bagus, enggak perlu berkeringat," jawab beliau untuk pertanyaanku.


"Kalau enggak berkeringat, nanti racun dan lemak menumpuk. Bisa jadi gemuk seperti saya, Bu."


"Lebih baik gemuk, Mbak Fanni. Dari pada saya, naikin satu kilo aja sulit sekali."


"Hehe ... orang gendut, orang kurus pasti memiliki kelebihan dan keuntungan, Bu."


"Ya, sepertinya emang begitu, Mbak Fanni."


Aku meletakkan Sella pada kereta dorongnya, setelah itu aku duduk di kursi yang memang ada di teras ini.


Pagi ini, William tidak nampak. Aku tidak tahu ia kemana. Mau bertanya pun masih cukup enggan. Mungkin nanti, jika Ibu Leny sudah duduk di sampingku, maksudku pada kursi lain yang berada di seberang tempat dudukku. Beliau masih terlihat asyik dalam menghirup udara segar pagi ini. Beberapa kali tersenyum dan bergumam kepadaku, namun jujur aku tidak terlalu mendengarnya. Aku hanya tersenyum dan menjawab "iya".


Hingga beberapa menit kemudian, Ibu Leny tampak bosan. Beliau menyudahi kaki yang tegak berdiri, dan berjalan menghampiriku. Bersamaan dengan Bi Onah yang muncul dari dalam rumah. Bi Onah membawa tiga cangkir teh hangat sesuai pesananku, bahkan beberapa jenis gorengan juga.


"Silahkan, Mbak Fanni dan Nyonya," ujar Bi Onah sembari meletakkan hidangan itu di atas meja di sampingku.


Aku tersenyum. "Terima kasih, Bi," jawabku.


Ibu Leny pun menimpali, "terima kasih ya, Bi. Emm ... jangan panggil saya nyonya, panggil Leny aja. Saya bukan nyonya rumah hehe."


"Ah, lebih nyamannya begini, Nyonya. Enggak apa-apa, dipanggil nyonya itu enggak perlu jadi nyonya rumah hehe. Silahkan duduk." Bi Onah beringsut mundur dan memberikan ruang agar Ibu Leny segera duduk di kursi yang sempat dihalangi oleh tubuh Bi Onah.


Ibu Leny lantas tersenyum lagi, bahkan diriku. "Terima kasih, Bi," ujar beliau kepada Bi Onah.


Bi Onah menganggukkan kepala. "Sama-sama, Nyonya. Saya permisi dulu, saya masuk ya, Mbak Fanni."


"Emm."


Satu seruputan teh hangat itu aku lakukan. Hangat, sensasinya luar biasa, terlebih di pagi hari yang mendung seperti ini. Sampai membuat bibirku melukiskan senyuman. Aku menghela, bak seluruh udara, dengan penuh perasaan yang lega. Memang, masalah Ibu Leny dan Mbak Dahlia belum juga tuntas. Namun ketika Ibu Leny bersedia datang ke sini, pasti hasilnya tetap akan baik. Mas Arlan tidak perlu lagi merasa bersalah, atau bersusah payah.


Tiba-tiba Ibu Leny terdengar sedang berdeham. Kemudian beliau berkata, "sebenarnya enggak enak kalau harus tinggal di sini, Mbak. Mungkin emang hanya sementara waktu, tapi tetap aja, kami makan juga di sini."


Aku menoleh ke arah beliau. "Enggak perlu merasa seperti itu, Bu. Setiap manusia kan wajib saling membantu. Ibu Leny juga akan membantu saudara kami--Mbak Dahlia, jadi kami harus melayani Ibu dengan baik."


Beliau menatapku setelah meletakkan cangkir berisi teh hangat. "Bisa enggak, Mbak Fanni ini panggil saya mbak aja? Seperti suami Mbak Fanni? Rasanya agak aneh aja hehe."


"Ah!" Aku merasa malu. "Emm ... ya, M-mbak Leny. Emm ... rasanya jauh lebih aneh."


"Enggak apa-apa. Itu lebih baik." Beliau tersenyum.


"Lalu ... kenapa Ib-- emm ... Mbak Leny memanggil saya dengan mbak juga? Padahal di suami saya memakai sebutan Dek."

__ADS_1


"Eh?" Beliau tertawa kecil. Cantik, meski sudah berumur dan lebih tua dari Mas Arlan. Sama cantiknya dan elegan seperti Mbak Dahlia semasa masih sehat. "Baiklah, Dek Fanni. Aku dan kamu akan menjadi akrab, kan?"


"Amin, amin hehe."


Kini suasana kecangguan di antara kami berangsur menghilang. Tidak seperti sebelumnya, meski belum sepenuhnya namun tetap ada perubahan. Dan lagi, beliau bisa lebih ramah kepadaku tanpa gangguan masalah di keluarga Harsono. Aku rasa, Ibu Leny maksudku Mbak Leny mampu memposisikan diri sesuai keadaan dan seseorang.


Hingga detik berikutnya, beliau kembali menyesap teh hangat tadi. Tanpa merasa ragu lagi, beliau mengambil sepotong gorengan. Makanan yang mungkin akan sulit dicari ketika masih di Canberra, Australia. Sedangkan diriku, kini berpindah pada Sella--putriku. Kuambil ia dari kereta dorongnya, dan menimangnya di pangkuanku.


"Emm ... boleh aku menggendongnya?" tanya Mbak Leny tentang Sella.


"Tentu," jawabku. Setelah itu, aku berdiri dari dudukku dan menyerahkan Sella kepada beliau.


Kini, beliau lebih berfokus kepada Sella. Anak bule-ku itu tengah menatap beliau dengan tajam, nyaris tidak berkedip. Sepertinya tengah bingung dengan wajah asing yang baru ia temui.


"Cantik sekali seperti ibunya," celetuk Mbak Leny.


Aku tersenyum. "Enggaklah, Bu eh Mbak. Justru karna ayahnya, dia bisa secantik itu."


"Tapi, wajahnya mirip kamu, Dek. Bule banget. Ngomong-ngomong, kamu ini blasteran mana?"


"Blasteran Belanda dari ayah saya."


"Oh, orang Eropa toh? Pantas, bule sekali. Arlan sangat beruntung mendapatkan dirimu, emm, ... Dek Fanni."


"... Kami saling memberikan keberuntungan. Amin."


"Amin ... kamu bukan hanya menjadi ibu kandung yang baik, melainkan ibu sambung juga. Aku enggak tahu, bisa enggak jika berada di posisi kamu, Dek."


"Eh?" Aku terkesiap, sepertinya beliau tahu perihal pernikahan pertama Mas Arlan dengan Nia. Hal itu membuat beliau lebih tahu lagi jika aku hanyalah seorang ibu sambung bagi Selli.


Di satu sisi, hatiku merasa terenyak. Bukan karena aku dan kedua anakku, melainkan perkataan Mbak Leny perihal menjadi ibu sambung. Apa yang beliau maksud adalah bagi Ajeng dan Diandra? Apa beliau sudah membuat keputusan untuk kembali dengan Mas Dian? Entahlah.


"Setiap anak, hanya seorang anak, Mbak. Meski orang tuanya seperti apa, Selli adalah anak saya dan enggak ada bedanya dengan Sella. Sebisa mungkin saya bersikap adil. Terlepas dari statusnya, kandung atau tidak," jelasku. Setelah itu, aku meraih cangkir dan menyesap isinya.


"Kamu hebat, Dek Fanni. Enggak semua ibu bisa seperti kamu, bahkan diriku. Sebenarnya, aku juga belum bercerai dengan Dian. Dia nggak kasih talak, dan aku nggak menggugat. Aku hanya pergi aja dari mereka semua, setelah insiden waktu itu. Hatiku remuk, pada saat Dian enggak mengakui William sebagai seorang anak." Raut wajah Mbak Leny menjadi melemah sendu.


"Ka-kalau boleh tahu, sebenarnya masa lalu Mbak sama Mas Dian itu gimana? Mbak ini istri kedua, tapi memiliki William yang umurnya jauh di atas Ajeng dan Diandra--kedua putri dari Mbak Dahlia dan Mas Dian."


Mbak Leny menghela napas dalam. Tatapan beliau yang sejak tadi mengarah kepada Sella, kini menatap lurus ke depan. "Rumit, Dek Fanni. Bisa dibilang, aku ini juga wanita nakal di masa itu. Tergiur dengan iming-iming Dian untuk menikahiku. Bahkan sampai hamil William."


"Tapi, ... kenapa kalian enggak menikah?"


"Semua karna kehadiran Dahlia. Wanita itu ... jauh lebih licik, enggak! Aku yang bodoh karna nggak bisa merayu calon mertua. Kehidupan Dahlia juga lebih baik dari hidupku dan orang tuaku, Dek. Aku hanya anak biasa aja, nggak mengeyam bangku kuliah dan hanya lulusan SMA. Pasti semua orang tua akan memilih yang lebih baik dan pintar."


"Meski Mas Dian mencintai Mbak Leny?"


Beliau mengangguk. "Aku pikir Dian akan menikahiku jika aku hamil. Nggak tahunya dia malah memilih melamar Dahlia. Alasannya karna ayahnya. Dahlia memfitnahku sebagai wanita yang nggak bener, karna keluar masuk hotel."


"A-apa?"


Beliau tersenyum kecut. "Padahal keluar masuk hotel adalah ajakan Dian. Bodohnya aku, menuruti laki-laki itu karna rasa cinta dan janji yang dia ucapkan. Itupun hanya dua kali, dengan alasan agar hubungan kami direstui. Apa lagi, pada saat aku berhasil hamil. Dian pikir, orang tuanya enggak bisa berkutik lagi."


Setragis itu kisah Mbak Leny dengan Mas Dian. Hanya karena cinta dan iming-iming pernikahan, beliau merelakan kehormatan direnggut oleh pria yang belum sah menjadi seorang suami. Aku lebih kasihan kepada William, entah ia sudah tahu atau belum. Pasti hancur hatinya pada saat mendengar kisah ibunya ini.


Kisah ini mengingatkanku kepada Celvin dan Riska. Mereka juga berbuat tidak benar sebelum pernikahan digelar, sudah terjadi di dua tahun yang lalu. Namun memiliki efek buruk masih ada sampai sekarang. Riska dan Celvin sempat mendapat masalah besar dengan keluarga Harsono, bahkan hubungan anak ayah itu sedikit renggang. Meski Riska telah kembali menjadi CEO, aku rasa ia tetap bersikap dingin dengan ayahnya atau sebaliknya.

__ADS_1


"Lalu, kenapa Mas Dian lebih memilih Mbak Dahlia? Hanya gosip itukah? Bukannya di masa itu, teknologi belum secanggih sekarang, Mbak? Kenapa orang tua Mas Dian percaya?" tanyaku lagi. Mungkin terdengar lancang, namun aku sangat penasaran.


"Benar katamu, Dek Fanni. Pada saat itu teknologi belum secanggih sekarang, tapi bukan berarti enggak ada, kan?"


"I-iya sih. Terus Mas Arlan tahu?"


Mbak Leny menggeleng. "Waktu itu Arlan masih menimba ilmu di Amerika, usianya masih belasan atau dua puluhan, aku lupa. Dia enggak tahu."


"Emm."


"Namanya orang tua zaman dulu, meski pintar dan kaya raya, tetep aja pikirannya kuno dan naif. Mudah percaya gosip, dan lagi ... Bapak Harsono sangat khawatir jika usaha, perusahaan dan nama keluarga tercoreng karna gosip diriku. Maksudku jika aku benar-benar menjadi istri dari Dian. Entah gimana caranya, Bapak Harsono memaksa Dian agar melepasku dan menikahi Dahlia."


"Aku paham, Mbak."


"Dian baru menikahiku setelah mengetahui anaknya--William udah berumur lima tahun secara siri, lalu setelah tiga tahun dia baru menikahiku secara hukum tanpa kehadiran keluarga. Tapi, Dahlia udah tahu. Dia memboyong kami ke Canberra, untuk menghindari perselisihan."


"Dan ... biar keluarga besar Harsono enggak tahu juga, ya?"


"Iya, karna waktu itu Bapak Harsono masih hidup. Buat kamu, jangan berkecil hati, ya? Meski salah satu anggota keluarga Harsono, kamu harus tinggal di rumah ini dan bahkan suami kamu enggak bekerja di perusahaan itu. Kamu harus bersyukur, Dek Fanni. Lebih baik hidup sederhana tanpa aturan ketat, dari pada hidup mewah namun banyak persaingan dan masalah."


"Iya, Mbak. Saya juga sangat bersyukur hidup di sini, toh hidup kami masih dalam keadaan cukup."


"Aku dengar, Roby juga udah memulai usaha sendiri. Dian banyak bercerita ketika kami masih akur. Dian sering ke Canberra, Australia. Negara yang jarang dikunjungi oleh keluarganya. Mungkin itu yang menjadi sebab kenapa dia melakukan penggelapan dana. Aku enggak paham, ternyata uang yang dia beri padaku adalah uang enggak bener. Aku benar-benar merasa terhina."


Aku pun begitu. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah mengalah, dinikahi secara diam-diam lalu diberi nafkah dari uang hasil penggelapan dana. Aku tahu, Mas Dian pasti merasa kesulitan. Memiliki dua istri dan tiga anak secara bersamaan. Astaga! Apa itu bisa disebut sebagai rasa tanggung jawab? Entahlah. Lalu di Canberra? Tiketnya malah pula, harus pulang pergi ke sana dan Indonesia. Alasan yang cukup kuat untuk berlaku curang.


Hinanya, Mas Arlan yang menjadi korban. Apalagi ada insiden kenakalan Nia, suatu peluang untuk menjerumuskan Mas Arlan ke dalam fitnah keji itu. Kini, tiga orang sudah mundur, Mas Arlan dan Roby. Lalu Mas Dian menjadi nara pidana. Secara otomatis, perusahaan dan rumah jatuh ke tangan keluarga Mas Gunawan. Hanya saja, Mas Gunawan itu kurang bijaksana.


"Pantas, Mbak Leny sangat membenci Mbak Dahlia."


"Sangat! Rasa sakit itu, semua milikku direbut, Dek. Kedua orang tuaku merasa malu karena aku mengandung di luar pernikahan. Saudara-saudaraku. Tapi mereka hanya menahan rasa malu itu, mereka enggak tega membuangku. Tapi setiap hari, selentingan gosip dan cibiran kerap terdengar. Ibu menangis setiap malam. Mereka mendiamkanku, namun enggak mengusirku."


Mbak Leny menangis, membuatku turut menitikkan air mata. Kemudian aku beranjak berdiri. Aku mengambil Sella dari pangkuan beliau. Anak bule-ku ini tertidur, mendengar kisah pilu yang mungkin terdengar sebagai dongeng penghantar tidur untuknya. Aku meletakkannya ke dalam kereta dorongnya dengan sangat pelan.


Setelah itu, aku mengusap air mataku yang sempat keluar. Aku mencoba tersenyum agar bisa menguatkan hati Mbak Leny. Beliau masih tersedu-sedu. Aku paham, tidak mungkin seseorang akan tertawa setelah menceritakan kisah hidupnya yang hancur, bukan?


"Semua akan ada hikmahnya, Mbak. Itu masa lalu," ujarku.


"Aku hanya menyesal atas perbuatanku, Dek Fanni. Berharap enggak ada lagi orang lain yang bersikap bodoh sepertiku. Bahkan bukan hanya diriku yang menderita, melainkan William juga." Mbak Leny mengusap air mata yang membasahi pipi beliau.


"William anak yang kuat, juga tampan. Pasti bisa menjaga Mbak, lebih dari siapapun."


"Aku berharap begitu. Tapi ... anak itu sangat malang, sejauh aku berubah, rasa bersalah akan tetap ada, Dek."


Aku mengulurkan tangan untuk mengusap bahu beliau. "Jalani apa yang ada sekarang, Mbak. Buat keputusan sebaik mungkin, Mbak Leny orang yang baik."


Akhirnya beliau tersenyum, kemudian mengangguk. Aku menghela napas sangat dalam. Menarik tanganku lagi dan menatap ke depan. Penderitaan Mbak Leny sangat berat. Apa beliau bisa kembali ke pelukan Mas Dian? Untuk menjadi istri lagi seperti permintaan Mbak Dahlia. Jika diriku, pasti sudah tidak mau. Entahlah, semua keputusan ada di tangan beliau. Besok pagi, ketika Mbak Dahlia sudah cukup stabil, kami baru bisa mengunjungi. Hari ini dan malam nanti akan menjadi waktu merenung untuk beliau dan William.


Aku kembali menoleh ke arah Mbak Leny. Beliau sudah lebih tenang dari pada sebelumnya. Apa aku salah karena bertanya? Namun jika tidak begitu, semua akan terasa semu. Namun ... mataku menangkap seseorang tengah meringkuk di balik pintu yang masih tertutup dan satunya terbuka.


William? Astaga! Sepertinya ia mendengar cerita dari ibunya.


Bersambung ....


Like komen yaa

__ADS_1


__ADS_2