Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Lanjutan


__ADS_3

Aku tidak mengerti, mengapa Tuhan bisa memberikan cobaan yang kadangkala membuat hamba-Nya malah putus asa. Ataukah hanya manusianya saja


yang teramat bodoh dan mudah menyerah? Sepertinya memang begitu. Tuhan adalah pencipta alam seisinya, membuktikan bahwa diri-Nya begitu agung dan penuh kuasa. Disamping itu, Tuhan adalah sang maha pencipta, pengasih dan juga pemberi ampun. Aku yakin dibalik masalah yang diberikan-Nya pada setiap insan, akan selalu ada hikmah baik dibaliknya. Tinggal manusianya saja, bisa melalui atau cukup berputus-asa dan menyalahkan keadaan yang ada.


Lalu, untuk perbincanganku dengan Nia masih saja berlanjut. Tidak kuperdulikan lagi tentang durasi waktu kunjungnya yang telah habis. Semua karena rasa penasaranku atas dirinya. Anggap saja aku ini sebagai emak-emak yang super kepo, tidak masalah. Asal semua rasa penasaranku bisa hilang dalam sekejap mata. Bahkan jika menghasilkan kerukunan diantara kami, itulah bonus yang lumayan besar, bukan?


Kedua cangkir berisi teh telah habis, tidak tersisa. Dua kali aku meminta izin untuk ke toilet karena ada panggilan dalam diriku yang harus aku tuntaskan. Berbeda dengan diriku, Nia terbilang orang yang kuat dalam bertahan duduk. Satu jam telah berlalu untuk perbincangan kami. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas kurang lima belas menit. Sebentar lagi, Mas Arlan akan pulang untuk makan siang sesuai keinginannya tadi pagi. Disini aku merasa gelisah, takut jika Nia tidak kunjung pergi sebelum Mas Arlan datang.


"Nyonya, adakah lagi yang perlu dibicarakan? Sebentar lagi suami saya pulang, sesuai kesepakatan kita, jangan sampai beliau tahu hal ini," ujarku dengan berharap agar Nia mempercepat pembicaraannya.


Sejenak, Nia menilik waktu pada jam yang menghiasi tangan kirinya. Kemudian, ia kembali menatapku. "Saya tidak menyangka kamu pernah mengalami hal seperti itu. Mungkin dari saya juga salah satunya. Tapi Nona, apakah tidak pernah ada niat untuk berdiet atau sejenisnya? Kamu pasti tahu 'kan bahwa penampilan itu sangat penting," tanyanya kembali.


"Pernah. Seperti yang saya katakan tadi, saya pernah mengalami dehidrasi, maag akut dan juga gangguan bulimia karna hal itu. Selama dua tahun, namun tidak pernah berhasil. Yang ada, saya malah masuk rumah sakit."


"Hmm ... mungkin cara berdiet kamu salah."


"Mungkin, tapi kali ini saya sudah menyerah tentang hal itu. Bukan karna acuh, saya hanya tidak mau kembali seperti dulu yang tidak ada rasa syukurnya sama sekali. Bahkan, saya terus saja merasa paling menderita. Pada kenyataannya banyak sekali orang yang jauh mengalami nasib yang malang. Emm ... Nyonya, bisakah anda sedikit berbenah diri bersama saya?"


Nia mengernyitkan dahinya. "Maksud kamu?"


Aku sedikit berdeham, lantas menjawabnya, "mari kita berubah menjadi lebih baik bersama-sama. Agar bisa menjadi ibu yang baik bagi Selli. Saya yakin, sejahat apapun diri anda, ada setitik penyesalan didalam hati anda. Tidak mungkin anda bersikeras merebut Selli dari kami, jika anda tidak merasa menyesal atas perbuatan anda dimasa lalu pada Selli."


Hening, tidak ada jawaban darinya untuk tawaranku. Aku pikir, Nia akan marah besar atas kelancanganku. Namun, ia malah menampilkan wajah yang bimbang. Aku tidak tahu pasti apa yang ada didalam hatinya. Tapi, aku sangat yakin ia tengah mempertimbangkan perkataanku. Ya, setidaknya untuk Selli. Agar perebutan atas Selli tidak akan terjadi lagi. Putriku bukan barang yang bisa dipermainkan atas egoisme daripada orang tuanya, bukan? Kami harus berubah, entah aku, Nia, ataupun Mas Arlan.


Aku berharap kebencian Nia kepada sang ayah juga bisa berakhir. Sudah cukup semua derita sekaligus rasa dendamnya yang berlebihan. Menurutku, bukan hanya dirinya saja yang mengalami hal yang sama yaitu ditinggalkan oleh sang ayah tercinta. Namun, ia tenggelam pada kebencian yang membuatnya menjadi manusia jahat. Seperti diriku dimasa lalu, bahkan aku sampai mengabaikan ayah dan ibu yang senantiasa menyayangiku. Lagipula, Tuhan adalah maha pengasih dan pengampun, ketika nyawa masih melekat pada raga, masih ada waktu untuk merubah semua hal buruk menjadi benar ke depannya.


Aku dan juga Nia adalah bagian kecil dari banyaknya orang yang merasakan trauma. Aku pikir, usia kami sudah bukan usia bermain-main dengan masa lalu yang kelam lagi. Semoga Nia bisa mempertimbangkan ucapanku.


Tak lama setelah ia terdiam, kini ia kembali menatapku. Bukan dengan ketajaman seperti sebelum-sebelumnya, melainkan lebih halus daripada biasanya. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin berbicara, namun masih ada rasa enggan untuk mengatakannya. Jujur saja, jantungku merasa berdebar hanya untuk mendengar jawabannya. Sampai akhirnya, ia bersuara, "maaf."


"Ah?" Aku sedikit terkejut atas kata maaf yang singkat dari bibirnya. "Anda tidak pernah bersalah terhadap saya, Nyonya."


"Tentu saja, saya bersalah. Saya terlalu iri pada kehidupanmu dan Arlan, sampai yang saya dengar Arlan mendapatkan posisi bagus di perusahaan yang seharusnya menjadi musuhnya."


"Kenapa anda bisa iri?"


"Nona Fanni, kamu pasti tahu atas fitnah yang saya lontarkan pada Selli ataupun sang guru di sekolah. Emm ... semua karna rasa iri yang menggerogoti hati, saya takut kamu melakukan hal sama dengan mengatakan hal buruk tentang saya pada Selli. Jadi ... saya melakukan itu."


Aku tersenyum tipis. "Untuk apa saya menjelek-jelekkan nama anda didepan Selli? Apa untungnya?"


"Tentu saja keuntungannya adalah kepercayaan Selli dan rasa sayangnya terhadapmu. Tapi ... setiap kali saya mengatakan hal buruk tentangmu, Selli selalu menyanggah dengan mengatakan bahwa saya salah dan Mama Fanni adalah mama yang baik."


"Hmm ... gadis kecil itu terlalu pintar. Dia jauh lebih dewasa diantara para teman sebayanya. Semua karna kemandiriannya sejak bayi."


Nia menunduk. "Itu karna Arlan adalah orang yang pintar. Gen baik dari Arlan mengalir didalam darah Selli. Tapi ... atas penyesalan saya terhadap Selli adalah hal yang serius. Saya ingin menebus kesalahan saya pada anak itu dimasa lalu. Tidak ada sedikitpun niat hati untuk memanfaatkannya. Hanya saja, emosi saya memang sulit untuk dikendalikan, saya adalah wanita yang kasar ketika dalam keadaan terdesak."

__ADS_1


Tidak ada niat buruk didalam perkataan Nia, aku sangat yakin. Pikiran negatif tentang diriku membuatnya melakukan fitnah keji atas namaku. Rasa takutnya jika aku memanipulasi otak Selli untuk membencinya dan hanya menyayangiku. Selama ini Nia hanya berprasangka buruk tentangku tanpa memastikan lebih dalam lagi. Mendengar ucapannya atas penyesalannya terhadap Selli, aku rasa itu benar adanya. Hanya saja, semua cara yang ia lakukan adalah hal yang salah kaprah. Mengapa itu terjadi kepadanya? Karena Nia memang seperti itu, terlalu banyak aura jahat yang menghinggapi hatinya.


Namun entah bagaimana saat ini ia bisa mengatakan semua kebenaran perasaannya kepadaku. Mungkinkah ini adalah satu langkah baik untuk perubahan pada dirinya? Aku tidak tahu, namun tetap berharap banyak akan hal itu. Aku yakin, naluri keibuannya tetap ada didalam dirinya.


"Nona Fanni," panggilnya. "Emm ... mungkin akan terdengar konyol dan memalukan. Namun, dalam waktu satu bulan ini, dimana kamu memberikan kesempatan pada saya ...."


"Ya?"


"Saya, ... saya merasa kagum terhadap kamu, Nona."


Kukernyitkan dahiku karenanya. Aku heran sekaligus tidak menyangka. Tadi kata maaf, lalu sekarang rasa kagum terhadap diriku. Ada apa dengannya?


"Setiap saya mengunjungi Selli, kamu selalu mengawasi saya. Bahkan, sampai terkantuk-kantuk, keadaan sedang hamil yang seharusnya untuk beristirahat, dan kamu malah melakukan hal itu. Sepertinya saya benar-benar orang yang jahat ya? Saya malu."


Aku tertegun sejenak. Lalu menjawabnya, "kalau malu, seharusnya anda bisa berubah, Nyonya."


"Apa Tuhan akan memaafkan semua kesalahan saya? Terlalu banyak kejahatan yang saya perbuat, Nona." Nia menghela napas. "Saya adalah orang yang tidak pernah berpikiran secara sehat dan baik. Melihat wajah Selli yang polos lugu, membuat hati saya semakin merasa bersalah. Gimana bisa, saya menelantarkan anak secantik dia pada saat itu."


"Tuhan adalah maha pengampun. Selagi anda masih bernapas, maka masih ada kesempatan untuk berbenah diri."


Setiap kali aku memberikan jawaban demikian, ia hanya terdiam. Ia menghela napas yang teramat dalam, dan mengembuskannya pelan-pelan. Dua hal baru yang aku tahu darinya. Perlahan ia bisa menunjukkan rasa penyesalan sekaligus perubahan hatinya. Semoga bukan sebatas ucapan semata, ia masih cantik jelita. Seandainya mau berbenah diri, aku yakin masih banyak lelaki baik yang ingin bersamanya.


Jujur, aku memang membencinya. Namun bukan berarti aku tidak mau mempercayainya, jika Tuhan bisa memberikan kata maaf kepada hamba-Nya, apalah aku yang hanya manusia biasa. Lagipula, kesalahan Nia kepadaku hanya fitnah jelek yang dilontarkan kepada Selli dan Ibu Guru Dwi, semuanya tidak berhasil.


"Saya akan pergi, Nona Fanni." Ucapan itu membuatku sedikit terkejut.


"Tadinya saya bekerja untuk seorang produser film. Tapi tidak cocok. Ada tawaran pekerjaan baru di luar negeri, dan menurut saya itu cocok."


Oh, gitu. Jadi, Nia pernah bekerja didunia per-film-an. Dugaanku dan Mas Arlan salah dong?! Ya Allah, maaf. Kayaknya aku fitnah dia.


Aku sedikit salah tingkah ketika memikirkan dugaanku terhadapnya. Kemudian, aku kembali berkata, "oh, jadi anda pernah bekerja didunia per-film-an toh?"


"Ya, hanya sebentar. Karna pengangguran, hanya sebagai asisten produser. Emm ...." Nia menilik waktu pada jam tangannya. "Sepertinya Arlan akan segera datang ya? Dia mau makan siang di rumah?"


Aku mengangguk pelan. "Iya."


"Oke, ini yang terakhir. Saya ... saya minta maaf atas semua perbuatan tidak benar saya terhadap kalian. Kali ini , ... saya akan benar-benar pergi bersama kedua anggota keluarga saya. Terima kasih atas saran dan waktunya, sekaligus telah menjaga anak saya seperti anak kandung kamu sendiri, Nona Fanni."


"Jadi, hari ini adalah hari terakhir anda berkunjung?"


Nia tersenyum tipis. "Benar. Kamu tidak harus kelelahan lagi dalam mengawasi saya. Seperti kata kamu, Tuhan pasti akan memberikan ampunan. Saya akan berbenah diri dan memulai hidup baru di tempat baru. Dan ... jangan sampai Arlan tahu atas kesepakatan yang pernah kita buat. Arlan terlalu membenci saya, saya tahu dan paham."


"Saya minta maaf atas hal itu, Nyonya."


"Bukan salah kamu kok. Saya yang bersalah, saya tidak mau kalian bertengkar karna kedatangan saya lagi. Cukup semua yang terjadi atas kesalahan saya. Nona Fanni ... sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Untuk yang terakhir, izinkan saya menemui Selli sebelum pergi."

__ADS_1


Apa ini? Sebuah pamitan? Nia benar-benar akan pergi. Dalam waktu satu bulan hatinya benar-benar tergerak untuk berubah? Secepat itukah? Aku rasa, ia memang sudah berubah sejak kedatangannya untuk merebut Selli. Hanya saja, tidak ada contoh baik untuk dirinya. Terlalu banyak kekhawatiran dan prasangka buruk di benaknya terhadap orang lain. Dengan kata lain, ia menyesal tanpa adanya bimbingan yang baik. Maka perbuatan buruk pun ia lakukan demi mengambil Selli.


Untuk permintaannya yang terakhir aku setujui. Kami berjalan bersama ke sebuah ruang belajar, dimana Selli menjalankan home schooling-nya. Tidak ada lagi perkataan yang muncul dari bibirnya maupun diriku. Banyak hal yang tidak terduga darinya. Tuhan memang sangat lihai dalam membolak-balikkan hati manusia. Nia berubah dalam sekejap mata dan itu dihadapanku. Kini semua perebutan atas diri Selli telah berakhir.


"Selli, sini bentar, Sayang," panggilnya kepada sang putri.


Aku memohon maaf terlebih dahulu kepada sang guru pembimbing. Kemudian, Selli berlarian kecil menghampiri sang ibunda. Nia berjongkok lalu menangkap tubuh mungil putrinya. "Belajar yang bener ya, Sayang. Mama sayang sama kamu," ujarnya.


Selli mengangguk mantap. "Selli anak pintar, Mama Nia."


"Bagus, tapi ... Mama Nia harus pergi."


"Besok main lagi 'kan, Ma?"


Nia menggeleng. "Maaf, Sayang. Kali ini agak lama, Mama harus bekerja di tempat yang jauh. Kamu harus bahagia disini sama Papa dan mama-mu yang baru."


"Kok gitu, Ma? Mama Nia mau kemana?"


"Mama mau cari uang dan ketenangan. Maafin Mama ya, Sayang. Mama banyak salah sama kamu."


"Kan kita baru ketemu lagi, Ma. Kok Mama Nia mau ninggalin Selli lagi sih?" Pertanyaan Selli berhasil membuat Nia meneteskan air mata. Bahkan diriku, perpisahan dari pertemuan yang teramat singkat. Aku tidak tahu ini hal benar atau salah. Namun tidak selamanya aku dan Nia membohongi Mas Arlan, bukan? Nia memang harus pergi, sampai ia bisa bertemu dengan Selli lagi pada saat Mas Arlan bisa menghilangkan rasa dendamnya.


"Mama harus pergi, Sayang. Kamu kan punya Papa dan Mama Fanni. Tapi ... suatu saat kalau kamu udah besar, kamu bisa cari Mama Nia ya? Mama akan tunggu sampai saat itu."


Selli terdiam sejenak. Ia tidak menangis, aku pikir ia belum bisa menduga sampai sejauh itu. Sikapnya yang polos dan tenang, membuatku malah ingin menangis. Kemudian, segera ia peluk tubuh Nia dengan erat. Kecupan manis ia berikan pada pipi sang ibunda sembari berkata, "iya, Ma. Selli janji akan cari Mama Nia kalau udah besar nanti."


"Sip ... anak yang pinter. Maka belajarnya yang rajin, biar cepet besar." Nia merengkuh tubuh Selli semakin erat. Ia menangis sesenggukan penuh rasa menyesal. Bahkan membuatku dan sang guru turut larut dalam kesedihan.


Sampai beberapa saat kemudian, Nia melepas pelukannya dari Selli. Diusaplah air matanya oleh sang putri. Haru biru menghiasi suasana ruangan ini. Di akhir, Nia memberikan kecupan manis di kening Selli. Kemudian ia berdiri, perlahan ia melangkah meninggalkan tempat ini.


"Mama Nia!" panggil Selli lagi. Nia berbalik badan. Sedangkan Selli berlarian menghampirinya. "Mama jaga kesehatan di tempat yang jauh sana ya?"


Nia mengangguk pelan. Diusapnya kepala Selli dengan halus, kemudian berbalik badan lagi.


Aku menyerahkan Selli kepada sang guru. Dengan agak tergesa, aku menyusul derap kaki Nia yang terburu-buru. Ia tidak menoleh ke belakang sekalipun setelah berlalu. Sampai aku kesulitan untuk menyusul langkah kakinya. Hal itu membuat Bi Onah yang aku temui di ruang tengah, terheran-heran penuh tanda tanya. Namun aku mengabaikan beliau begitu saja.


Sesampainya di teras rumah, aku berhasil menyusul Nia yang masih tertegun diam. Ia menyadari keberadaanku, kemudian berbalik badan dan menatapku. "Terima kasih atas semua kesempatannya, Non ... bukan! Terima kasih, Fanni," ujarnya dengan panggilan yang lebih akrab.


"Sama-sama. Semoga anda bahagia di tempat yang baru dan menemukan tambatan hati yang baru," jawabku.


Nia hanya tersenyum. Ia bergerak menuju mobilnya. Sesampainya disana, ia membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Perlahan, ia melaju mobilnya demi meninggalkan rumah ini.


Terima kasih, Ya Allah. Semua permasalahan tentang Nia berakhir. Selli nggak jadi barang rebutan lagi. Dimanapun Nia berada. Aku berharap dia beneran berubah.


Bersambung ...

__ADS_1


Budayakan like+komennya lagi ya


JADI . TAHU KESIMPULAN ATAS PERASAAN NIA KAN GUYS. GIMANA MENURUT KALIAN?


__ADS_2