Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Membaik


__ADS_3

Celvin mungkin masih terpana kaget mendengar kejujuranku. Sedangkan aku merasa lebih bodoh lagi. Semua spontan aku ucapkan, meski sedikit terbata-bata. Ada apa denganku akhir-akhir ini? Tidak mungkin jika aku mengalami puber dua kali. Apalagi usiaku sudah mencapai kepala tiga.


Kuberanikan diri untuk melirik Celvin sekilas. Benar seperti yang aku duga. Ia. memperlihatkan raut tak percaya di wajahnya. Duh, maafkan aku Mas Arlan aku tidak berniat seperti itu.


"Tapi aku nggak suka kamu Fann, aku masih mencintai Riska," ujar Celvin kemudian.


"Haah?" sontak saja aku mengangkat kepalaku.


Kini giliran aku yang terkejut dibuatnya. Aku pikir Celvin akan mencercaku pertanyaan lebih lanjut. Nyatanya, ia sekarang terlihat lebih bodoh dariku.


"Iya aku kan tadi udah bilang, masih mencintai Riska dari awal," kata Celvin lagi.


"Pffttt..." aku terkekeh.


"Lho kenapa?"


"Aku pikir kamu mau perlakuin aku kayak gadis itu, setelah tau kalau si gendut sepertiku berkhayal bersanding sama kamu."


"Ya ampun Fanni, aku kan udah menyesal. Seperti kata kamu, alarm penyesalan itu terus menyala dalam otak aku."


"Iya."


"Terus tadi gimana maksudnya?"


"Enggak kok becanda hehe."


"Serius? Aku nggak pengen nyakitin orang lagi."


"Pak Celvin! Aku sangat yakin. Mungkin memang ada kagum, tapi sebatas kagum aja kok. Aku udah punya dia."


"Hmm... indah ya, andaikan aku bisa balik lagi sama Riska pasti bahagianya kayak kamu sama pacar kamu."


Cukup sampai disitu saja kebodohanku. Tidak boleh lebih. Aku tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa perasaanku pada Celvin sempat membuatku bingung. Apalagi bertentangan dengan hatiku pada Mas Arlan saat itu.


Semua sudah berlalu, aku ingin bahagia sebelum perang sesungguhnya terjadi. Satu masalahku dengan Celvin sudah selesai. Hatiku mulai terbuka untuk menerima Celvin kembali untuk menjalin hubungan pertemanan maupun atasan dan bawahan.


Rasa mual yang sempat menderaku pun sudah hilang entah kemana. Satu hikmah yang kuambil dari semua ini. Jika ikhlas memaafkan pasti hati merasa tenang. Apalagi Celvin tidak bersalah padaku, ia bersalah pada korban-korbannya di masa lalu. Kini ia sedang menjalani hukumannya. Ia kehilangan orang terkasih, lalu penyesalan atas kesalahannya di masa lalu yang tiada obatnya.


Kutengok jam dinding yang sudah terpasang di ruangan ini. Aku tak menyangka ketika mendapati jarum sudah berjalan satu jam kurang lebih, lamanya. Aku terkesiap panik. Astaga! Ini sudah waktu kerja.


"Pak maksudku Vin, udah jam kerja kan dari tadi?" tanyaku.


"Emang iya, kenapa Fann?" tanya Celvin kembali.


"Kenapa nggak bilang? Aku harus balik ke meja... ehh jadinya nggak dipecat kan aku?"


"Haha... pecat nggak ya enaknya? Biarin dulu kerjaan, hari ini santai aja dulu."


"Ta-tapi kan?"


"Santai! Oke!"


"I-iya deh."


"Hahaha... kamu orangnya suka gagap itu ya?"


"Iya hehe."


Tidak buruk juga. Aku tidak jadi dipecat dan malah mendapat waktu bebas hari ini. Aku tidak perlu memikirkan berkas-berkas yang membosankan untuk sementara waktu.


Kutatap wajah Celvin yang sudah mulai tenang. Kurasa, beban yang ia pikul sedikit terangkat. Yah, walaupun ia masih tetap menjalani hukuman itu. Menurut ceritanya, ia tidak tau dimana ibunya dan tidak dekat dengan Pak Ruddy, ayahku. Dan sekesepian itu.


Mungkin, aku salah satu orang yang sedikit membantunya. Mendengar segala keluh kesahnya. Beruntungnya, hatiku bisa melunak untuk Celvin. Aku bisa melawan rasa takutku padanya dan juga masa lalu kelamku.


"Nggak enak lho kalau nggak kerja gini," ujarku.


"Jenuh ya?" tanya Celvin.


"Iya."


"Fann makasih ya, terima kasih banyak."


"Buat apa?"


"Kamu mau nerima masa lalu aku, padahal kita berada diposisi yang berlawanan saat itu."


"Nggak Vin, aku belum bisa nerima kamu sepenuhnya. Jujur aku masih takut sama kamu, tapi aku sedang berusaha. Kita pasti tau kan semua orang pasti punya kesalahan."


"Iya bener, tapi aku bener-bener pengen berubah Fann. Hidupku hancur karna kasus itu."


"Itu sudah pasti."


"Kamu tau Fann?"


"Enggak."


"Hmm..."


Celvin beranjak dari kursi kerjanya. Lalu berjalan kearah jendela. Wajahnya yang sempat menghangat kini kembali muram.


Mungkin, selama ini ia melalui semua kesulitannya sendiri.


"Fann, setelah tragedi itu. Aku sempet ketakutan sendiri ngurung diri apartemenku, tepatnya setelah Riska minta putus," ujarnya.


"Lalu?"


"Orang tua gadis itu marah besar, frustasi dan tidak terima. Anaknya kehilangan nyawa karna pendatang sepertiku."


"Itu juga wajar Vin, orang tua mana yang akan bahagia."


"Iya, sampai akhirnya Papa tau. Beliau marah besar padaku, dia emang nggak mukulin aku Fann. Tapi ajudannya, demi nama baiknya Papa membungkam semua media dimana pun dengan uangnya."


"Hebat ya kekuatan uang?"


"Begitulah, aku terpuruk ketakutan. Selama kurang lebih setahun lamanya, aku pulang ke Indo, ngurung diri."


"Nggak kuliah?"


"Enggak, lagi-lagi setelah itu Papa terus maksa aku buat balik lagi ke Amerika sana. Sudah setahun berlalu, aku akhirnya balik dengan sejuta kepahitan, aku mengenyam pendidikan dan sekarang jadi CEO gantiin Papa."


"Begitu ya."


"Selama menjalani fase ketakutan, aku menjadi tidak bisa dekat dengan siapapun Fann, aku terlalu takut nyakitin orang lain. Jadi kamulah orang pertama yang dengerin ini."


"Aku tau."

__ADS_1


Coba saja Celvin itu sebodoh dulu pasti hidupnya lebih damai. Mungkin ia bisa dekat dengan Pak Ruddy karena prestasinya. Bersama Riska dan menemukan ibunya.


Miris memang. Aku tau setiap manusia pasti punya permasalahan sendiri. Semua diberikan dengan porsi masing-masing dan tentunya sesuai kemampuan. Hanya saja, manusia lebih mudah berputus asa dan emosional. Tidak bisa berpikir jernih pada saat menghadapinya. Termasuk aku.


Aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke meja kerjaku. Celvin yang hendak menyergahku, kubalas dengan senyuman dan gelengan kepala.


Sudah cukup kurasa. Aku akan tidak enak hati jika memakan gaji buta.


Aku duduk di tempat kerjaku sendiri. Mulai menghidupkan layar komputerku dan mulai melakukan tugasku. Menyusun semuanya. Dan beberapa kali menerima telepon. Begitulah.


TOK... TOK... TOK...!


Suara pintu diketuk sebanyak tiga kali. Aku tidak tau siapa. Mungkin hanya karyawan yang akan meminta tanda tangan Celvin.


"Masuk!" ujar Celvin.


Tidak disangka tidak kukira, si setan cantik sedang melangkah masuk sesaat setelah ia membuka pintu. Ia menatapku dengan sinis lalu memutar bola matanya lagi. Angkuh sekali. Tubuhnya yang menurutku indah, berlenggak lenggok menghampiri Celvin.


Yah, jujur saja aku memang iri pada Mita. Jika saja aku sepertinya, bisa saja kami berteman baik. Oh tidak! Maksudku lawan yang seimbang. Aku rasa aku lebih cantik darinya, jika kurus. Aku mempunyai nilai plus pada wajah blasteranku. Tapi semua itu tetap mustahil, bukan?


"Kak, aku mau minta tanda tangan hehe," ujar Mita pada Celvin.


What? Kakak? Wow? Seberani itu ternyata. Sebenarnya ingin aku mengabaikan saja. Namun, rasa penasaranku mulai muncul kembali.


Kulirik keberadaan Mita di tempat kerja Celvin. Aku tidak tau bagaimana ekspresi Mita yang dipasang sekarang karena ia duduk membelakangiku. Hanya saja jarinya begitu asyik memainkan rambutnya yang panjang.


Celvin masih diam, ia kini menatapku melewati dinding kaca diantara kami. Sembari memberikan raut malas. Aku menangkap rasa il-feel yang didera Celvin. Aku pun hanya membalasnya senyuman tipis.


"Kan sudah saya bilang Mita, kalau dilingkup kantor mohon menggunakan panggilan dan bahasa lebih formal," ujar Celvin kemudian pada Mita.


"Hihi, ooopsss..." aku terkekeh seketika.


Beruntung suara tawaku tidak terlalu kencang. Aku rasa tidak sampai ke telinga Mita maupun Celvin. Rasa geli sudah tidak tertahan lagi dari hatiku.


"Kan ada kita doang Kak," balas Mita pada Celvin.


"Kamu tidak melihat ada sekretaris saya?"


"Ihh... biarin sih."


"Mita!"


"Iya iya Kak maksudnya Pak."


Wow! Sekali lagi aku terkesiap dibuatnya. Seandainya aku berada di posisi Mita, mungkin akan merasa malu sekali. Kecuali kalau dirinya tidak mempunyai perasaan itu sama sekali.


Herannya, Celvin bisa bersikap seperti itu pada Mita yang notabennya adalah anak dari teman Ayahnya. Kupikir mereka sudah dekat seperti kakak dan asik. Kini aku tau tidaklah seperti itu.


Celvin memberikan sikap tegas pada Mita. Sikap yang sangat berbanding terbalik dari apa yang ia lakukan padaku. Ada rasa bangga tersendiri dari hatiku. Aku bersyukur bisa menerima Celvin lagi. Aku menjadi semakin yakin bahwa ia benar-benar akan berubah.


"Ini sudah saya tanda tangani, Mita," ujar Celvin lagi sembari menyerahkan berkas tersebut pada Mita.


"Iya, terimakasih Paaak!" jawab Mita dengan sejumlah kedongkolannya.


Setelah itu, ia bangkit dan beranjak dari kursi di hadapan Celvin. Seketika kupalingkan pandanganku kearah komputerku. Aku berpura-pura tidak memperdulikannya. Kalau tidak begitu, pasti Mita tidak akan membiarkanku selamat.


Ia berlenggak-lenggok lagi untuk berjalan keluar. Karena penasaran lagi kulirik dirinya diam-diam.


Sialnya mata kami bertemu. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti terlebih dahulu. Bola matanya yang cantik menatapku tajam dan sinis. Karena tidak mau larut dalam pertengkaran mata, aku memilih mengalihkan pandanganku darinya.


BRAAKKK!


Seberani itukah Mita? Pintu tertutup dengan kasar oleh tangannya. Tidak adakah rasa hormatnya pada Celvin? Sebenarnya seberapa besar hubungan keluarga mereka?


Memang bukan urusanku. Hanya saja, ini sudah sangat tidak sopan. Apalagi Celvin masih berasa disini. Aku tau Mita sedang menahan gejolak emosi dan rasa malunya. Tapi???


Ah sudahlah, jika memikirkan wanita cantik tersebut tidak akan ada habisnya.


"Fanni!" seru Celvin padaku sembari berdiri beberapa meter dariku.


"Ehh... i-iya Pak eh anu Vin," jawabku.


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Bengong gitu liatin Mita?"


"Oh... nggak kok hehe."


Celvin berjalan kearahku dengan kedua tangan yang ia masukkan pada kantong celananya. Mampusnya, pasti ia akan bertanya lebih lanjut mengenai hubungan kami.


Lalu apa yang harus aku katakan nantinya? Mita lagi, wanita itu selalu saja membuatku kesusahan. Sebegitu irinya padaku, padahal ia jauh lebih cantik dariku. Lalu apa? Karena jabatan? Atau otak?


"Huh!" gumamku kesal secara spontan.


"Apa?" tanya Celvin.


"Nggak kok hehehe."


"Hmm..."


Celvin menarik kursi dihadapanku. Pasti ia akan benar-benar menanyakan hal tersebut. Kalau tidak ada jawaban lain, mungkin aku akan jujur padanya.


"Ada jadwal bertemu nggak hari ini Fann?"


"Enggak ada Vin, jadwal meeting juga masih kosong."


"Fyuuhh... syukur deh, aku lagi males kerja."


"Nggak boleh gitu lho."


"Hehe... jujur agak suntuk."


"Suntuk udah biasa kok hehe."


"Oh iya Fann."


"Kenapa?"


"Kamu ada masalah ya sama dia?"


"Dia?"


"Mita."

__ADS_1


Benar seperti yang aku duga. Celvin menanyakan hal itu. Kedua tangannya memangku wajahnya diatas meja kerjaku. Kini ia sama sekali tidak terlihat sebagai atasan yang berwibawa.


Celvin terlihat imut dan menggemaskan. Dan itu dihadapanku. Beruntungnya aku. Meski agak disayangkan sifat yang sempat aku kagumi seolah menghilang seketika darinya. Namun, biarlah. Dengan begitu aku bisa menumbuhkan rasaku pada Mas Arlan tanpa gangguan dari Celvin.


"Nggak ada apa-apa kok hehe," jawabku kemudian.


"Yang bener?" tanya Celvin lagi.


"Bisa nggak, tanya yang lain?"


"Nggak bisa, ayolah bilang aja Fann."


"Aku nggak tau juga."


"Kok gitu? Bukannya dulu kalian di divisi yang sama?"


"Iya, tapi nggak tau."


"Hmm... Mita sebenernya anak baik Fann, tapi manja banget."


"Tapi kenapa tadi dibentak?"


"Aku ingin dia lebih dewasa, mau gimanapun dia sudab seperti adikku sendiri. Sewaktu kecil, kami sering bermain bersama."


"Oh."


Ternyata dugaan awalku pun tidak salah. Hubungan Celvin dan Mita memang sudah terjalin begitu dekat dalam waktu yang lama. Kini aku tau, mengapa Mita bisa seberani seperti tadi.


Namun, bagiku Mita bukanlah orang baik. Maaf saja, tapi di perusahaan ini pun aku harus mendapat pembullyan secara verbal dari Mita. Aku sempat mengucilkan diri di lingkungan kantor ini. Apalagi sekarang kudapatkan posisi lebih tinggi darinya.


Aku rasa Mita akan terus memelihara rasa benci dan kesalnya padaku. Begitu juga aku padanya.


Beruntungnya saat itu ada Nike yang memang tidak terlalu suka berbaur. Dan juga Tomi yang memiliki perbedaan dari pria lain.


"Semoga berhasil," jawabku kemudian.


"Kalian ada apa?" tanya Celvin lagi, ia terus mengorek tentang hubungan kami.


"Serius nggak ada apa-apa kok."


"Bener?"


"Iya bener, mungkin karna nggak terlalu deket aja jadi kesannya jadi nggak baik."


"Tapi dia tadi kayak ngomong kesel sama kamu."


"Please deh Pak, aku nggak apa-apa kok."


"Iya Bu iya."


"Hehehe."


Beruntung Celvin bisa menekan rasa penasarannya. Sehingga aku tidak perlu menjelek-jelekkan orang lain dihadapannya. Apalagi orang yang terhitung dekat dengannya.


Asal aku selalu mengabaikan Mita, pasti semua akan berjalan lebih baik. Jika nantinya kami harus bekerja sama, biarlah jalani saja. Toh tidak mungkin ia menyiksaku. Walau kata kasar pasti akan Mita ucapkan padaku. Aku sudah cukup terbiasa tentang itu.


Kini aku berfokus lagi pada pekerjaanku. Sedangkan Celvin masih duduk tenang dikursi didepan tempat kerjaku. Ia memandangiku dan memperhatikan setiap gerak kerjaku.


Sampai akhirnya aku pun sedikit kesal padanya. Memangnya siapa yang tidak salah tingkah jika terus dipandangi seperti itu?


"Beneran males kerja ya hari ini?" tanyaku padanya.


"Iya Fann, nggak tau kenapa," jawan Celvin.


"Mau saya pecat?"


"Hahaha... lawak juga ya."


"Sedikit, biar nggak suntuk hehe."


"Boleh nih."


"Apanya?"


"Lawak lagi."


"Nggak mau, pekerjaanku belum beres."


"Nggak apa kok, kan Bosnya juga malesan."


"Emm... Aku mau tanya Vin?"


"Apa itu?"


"Kenapa kamu sangat dingin sama orang lain? Dan tidak sama aku?"


"Nggak tau."


"Kok gitu?"


"Ya, aku males ditaksir lagi."


"Lah? Ge-eR."


"Hehe... iya Fann, serius. Kan aku tampan rupawan."


"Iya ya. Tapi kenapa ke aku nggak?"


"Pertama kamu mirip gadis itu, rasanya aku ingin dekat saja. Setidaknya membayar hal buruk dimasa lalu. Kedua, kamu tidak heboh saat melihatku, kamu tau kan tiap aku masuk kantin banyak sorakan dan pandangan. Jujur aku agak nggak nyaman."


"Terus kenapa kamu ke kantin kantor?"


"Ingin berubah seperti yang aku bilang, aku tidak ingin lagi membeda-bedakan orang seperti dulu."


"Oke."


Celvin hanya tidak tau saja, aku pun sempat menjadi wanita seperti yang ia bicarakan. Aku sempat menyukainya dengan kehebohanku sendiri. Hanya saja, saat itu aku sangat minder dan mencoba tau diri.


Sampai akhirnya, aku menyadari kalau semua itu hanya kehebohan seperti wanita lain semata. Seandainya Celvin tau, mungkinkah kami sampai sedekat ini? Tidakkah ia jijik padaku?


Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Lagipula Celvin tidak akan tau. Dan yang terpenting sekarang adalah hubungan kami membaik. Entah sebagai atasan dan bawahan maupun jalinan pertemanan. Aku pun telah menambatkan hatiku pada Mas Arlan.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen... kalo lupa balik lagi yaaa.... itu aja bayarannya buat aku dari kalian đź–¤

__ADS_1


__ADS_2