Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-By Arlan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dari keberangkatan saya ke negeri orang, meninggalkan kedua putri cantik dan sang ibu yang sama cantiknya. Meski pekerjaan ini tidak menghasilkan sepeser pun uang, saya merasa harus tetap melaksanakannya. Namun, disisi lain saya harus membuat Fanni--istri saya kesusahan. Bagaimana tidak, pasca melahirkan ia sudah dihadapkan dengan tugas yang banyak. Entah dari rumah kami, anak-anak kami dan juga perusahaan.


Kadangkala saya merutuk diri sendiri. Seorang suami yang bahkan tidak pernah membuat hal yang mengejutkan, hal yang bisa membuat mereka semua berkesan. Semua masalah yang datang semuanya selalu dari pihak saya. Kalau bukan Fanni, pasti sudah tidak tahan hidup dengan saya. Itu mengapa, saya sangat bersyukur, berterima kasih serta amat mencintai dirinya.


Fanni merupakan wanita yang sangat perasa, sedikit saja ada hal yang mengharukan pasti ia menangis. Kepeduliannya terhadap orang lain pun cukup tinggi. Beberapa kali, saya melihat ia merasa lelah, namun tidak pernah sekalipun mengeluhkan rasa itu kepada saya. Suami mana yang tidak terharu jika memiliki seorang istri sebaik itu? Tampaknya saya adalah laki-laki yang paling beruntung.


Disalah satu hotel berbintang lima di daerah Cenberra, saya tengah menginap. Melewati hari-hari sendiri nan sepi sembari membayangkan perihal kesibukan Fanni. Bagaimana ia akan mengurus bayi dan juga Selli, lalu berangkat bekerja sebagai pengganti saya dalam rentang waktu maksimal tiga bulan lamanya.


"Dek, Mas rindu. Selli dan Sella, Papa sangat rindu." Saya bergumam demikian sembari membayangkan wajah mereka bertiga. Rasanya ingin menangis, bahkan sudah menangis. Apakah saya ini termasuk pria tua yang sangat cengeng? Ah, sepertinya begitu. Tak apa, saya selalu seperti ini. Menjadi lemah pada saat berkaitan dengan keluarga yang saya cintai.


Saya ingin sekali cepat-cepat pulang, namun kondisi tidak memungkinkan. Ibu Leny dan William belum kunjung saya temukan. Di Canberra, Australia, tempat ini cukup luas. Banyak sekali bangunan yang berdiri dan saya tidak terlalu paham tempat ini. Seandainya dipinta untuk memilih, saya memilih datang ke Amerika, setidaknya saya sudah pernah tinggal disana meski tidak lama. Mas Dian benar-benar lihai dalam menyembunyikan seseorang. Karena beliau, Ibu Leny dan William bisa paham tempat ini dan bisa melarikan diri.


Ditengah-tengah lamunan yang saya lakukan, tiba-tiba ponsel saya berdering. Sempat senang hati ini karena berpikir bahwa itu Fanni. Namun menjadi sedikit kecewa karena bukan si istri, melainkan Mbak Dahlia. Demi menghormati beliau, maka saya menekan tombol hijau supaya terhubung.


"Assalamu'alaikum, Mbak. Halo," sapa saya dari tempat ini untuk beliau yang jauh di Indonesia.


"Wa'alaikumssalam, Arlan. Gimana? Udah ketemu?" Tanpa basa-basi sedikit pun, beliau menanyakan tentang hal itu.


"Maaf, Mbak. Belum ada informasi yang jelas, Riska juga belum bisa hubungi nomor William. Udah mati dari lama, tapi pas dihubungi pake nomor lain bisa."


"Oh gitu. Jadi, ada kemungkinan ketemu, kan? Arlan, aku sangat mengharapkan hal itu."


Saya menghela napas dalam kemudian saya hembuskan kembali. "Do'akan saja, Mbak. Awalnya diangkat, tapi langsung dimatikan. Mungkin karna mengenal suara Riska. Tapi melalui nomor itu, Riska bisa bantu melacaknya."


"Hmm ... Riska ya? Bukannya dia benci padaku?"


"Jangan bicara kayak gitu, Mbak. Riska anaknya memang seperti itu."


"Baiklah, Arlan. Aku sangat mengharapkanmu. Aku berjanji akan membalas kebaikan kamu dengan cara apapun, selama aku bisa. Ya udah, kayaknya disitu udah malem ya? Aku matikan dulu. Emm ... Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Panggilan pun dimatikan oleh Mbak Dahlia. Perihal balas budi, seandainya saya berhasil menemukan dan membawa mereka, saya tidak pernah meminta imbalan apapun. Saya ikhlas dalam menjalankan semua ini, namun tidak berjanji soal keberhasilannya. Karena mencari dua manusia dari ribuan manusia di negeri yang tidak saya kenal, bukanlah perkara yang mudah. Entahlah, bagaimana nanti Tuhan membimbing langkah saya saja. Namun tetap dengan segala usaha.

__ADS_1


Rasanya ingin sekali mencari udara segar di luar sana, namun kaki saya enggan untuk turun dari ranjang milik hotel ini. Selama satu minggu, siang harinya saya nyaris tidak berdiam diri. Bersama jasa transportasi, saya mendatangi beberapa pemukiman warga disini. Bahkan saya sudah mendatangi beberapa apartemen untuk memastikan, apakah Ibu Leny dan William tinggal disalah satu kamarnya. Namun hasilnya masih nihil.


Saya tidak pantang menyerah, toh masih berjalan satu minggu. Masih ada kemungkinan untuk bertemu. Saya harus tetap optimis dan semangat. Saya yakin ada jalan kalau berusaha serta berdo'a. Demi kepulangan ke Indonesia secara cepat juga. Kemudian, saya meraih ponsel saya saat teringat tentang Riska. Saya cari nomor ponsel miliknya lalu bergegas menghubunginya.


"Halo, Om." Tidak butuh waktu yang lama, Riska mengangkat panggilan dari saya dan memberikan sapaan kepada saya dari kejauhan sana.


"Assalamu'alaikum, Neng," sindir saya.


"Oh iya, Wa'alaikumssalam, Om. Gimana, Om?"


"Masih nihil, Ris. Kamu bisa lacak dimana nomor itu?"


"Kalau nomor depannya sih udah pasti dari sana. Tapi kalau melacak ke luar negeri itu agak sulit, Om. Iih! Celvin, diem!"


"Hee ...! Kok malah pacaran, malem-malem. Ngapain itu? Belum nikah lho."


"En-enggak ngapa-ngapain kok, Om. Suer! Ini kita lagi coba cari tahu juga."


"En-enggak, Om. Serius!"


"Enggak apanya? Emang kamu pikir sembari apa? Kok bisa ngomong gitu? Awas aja kalau sampai aneh-aneh lagi, sebelum menikah. Om bakal hajar kalian berdua."


"Enggak, Om. Serius, enggak ngapa-ngapain kok. Ini juga ada temen cewek Riska. Kita bertiga lagi coba lacak."


"Ya udah, Om Arlan juga cuma peringatin aja. Kalau berhasil langsung hubungi Om ya. Jangan lupa kirim nomor William yang kamu punya. Dah ya, Assalamu'alaikum."


"Iya, Om. Wa'alaikumssalam."


Panggilan kami tutup. Riska keponakan saya itu memang pintar, nyaris sama dengan istri saya. Bedanya, Fanni mengambil satu jurusan saja dalam perkuliahan. Kalau Riska, beberapa jurusan. Ia juga kursus dalam bidang komputer. Anak dari Mas Gunawan, satu-satunya, pasti diberikan layanan yang luar biasa pula. Seandainya Fanni juga mendapatkan itu semua, saya pikir ia pun bisa jauh lebih pintar daripada Riska. Namun isi hati istri saya itu memang lebih luar biasa baik daripada segalanya.


Fanni, Dek Fanni, mau berapa kali lagi, saya menganguminya? Ah, ia terlalu sempurna. Menjadi wanita karir bisa, menjadi seorang ibu pun sempurna. Bahkan akhir-akhir ini saya tahu, melalui sikap sehari-harinya, ia bisa bisa menyadarkan seseorang yang merupakan mantan istri saya. Entah apa yang Fanni katakan atau lakukan, sehingga membuat Nia merasa malu dan lantas berubah.


Tadinya, saya ingin memarahinya karena telah mengizinkan Nia masuk ke dalam rumah kami. Namun pada saat mendengarkan penjelasan dari Nia, saya tahu betapa hebatnya seorang Fanni meski hanya melakukan hal sepele. Tanpa ia sendiri sadari, ia membawa pengaruh baik kepada setiap orang yang menemuinya, bak memberikan sebuah keberuntungan. Meski ia masih mengeluhkan soal bentuk badan yang gempal, saya tidak peduli. Di mata saya, Fanni itu cantik sekali. Parasnya bule, kulit putih, rambut panjang, hidung mancung lalu mata yang biru semua abu.

__ADS_1


Dimana letak buruknya? Hanya karena gemuk? Tidak, ia terlalu sexy bagi saya. Justru saya yang berhak minder lantaran sudah tua. Ah, Fanni memikirkannya saja saya sudah sangat rindu. Rasa ingin bertemu namun tugas belum berhasil diselesaikan.


****


Pada akhirnya saya memutuskan untuk melakukan panggilan video. Tak lama setelah melakukannya, ia dengan cepat mengangkatnya. Tidak menyangka ia belum tidur pada pukul sepuluh malam. Betap gembira hati saya pada saat menatap parasnya dan mendengar suaranya yang selalu terdengae syahdu.


Senyumnya itu mampu menggetarkan hati saya. Perbincangan kami mungkin perihal rasa rindu. Saya juga yakin jika ia merasakan hal yang sama. Ya, karena Fanni juga sangat mencintai saya meskipun sudah tua. Tidak mungkin tidak, bahkan ia sudah melahirkan bayi mungil hasil dari keromantisan kami berdua. Ia berbeda dengan Nia, ia tulus mencintai saya. Dalam kesederhanaannya itu, ia selalu menorehkan banyak sekali harta berupa kebahagiaannya. Perlahan kehidupan saya juga lebih baik. Mungkin benar, do'a dari istri dan anak bisa melancarkan rezeki.


Sampai setelah kami banyak berbincang, saya meminta ia untuk menunjukkan wajah Selli--putri pertama kami, meskipun bukan ka kandung untuk Fanni. Ia pun setuju. Tak lama setelah itu, tampak wajah Selli yang cantik dengan mata yang terpejam dalam lelap. Putri kecil yang semakin tumbuh dewasa. Tentu saja saya sangat rindu. Beruntungnya Selli bisa mendapatkan ibu sambung seperti Fanni.


Lalu berlanjut pada paras si bayi kecil yang mewarisi paras ibunya. Sella Aurelia Nur Mahendra--namanya. Tampak di layar ponsel saya, ia pun sangat tenang dalam tidurnya. Yah, semoga sampai supaya Fanni bisa beristirahat. Saya merasa bersalah lantaran tidak ikut merawat buah hati dari kami, sedih juga rasanya karena saya belum bisan cepat kembali. Cukup lama istri saya itu, menampilkan wajah Sella, mungkin agar saya puas dalam menatap bayi mungil nan cantik itu.


Sampai akhirnya, Fanni menampilkan kembali paras wajahnya yang kebarat-baratan itu. Cantik, matanya tampak bersinar mungkin karena lampu kamar yang tidak pernah ia matikan. Kami kembali berbincang perihal rasa rindu.


Sampai diujung panggilan video, ia berkata, "Iya, Mas. Tinggal nanti gimana deh. Ya udah, kamu tidur sana. Besok kamu harus cari mereka lagi. Aku juga harus meeting. Semangat ya, Mas. I love you, Assalamu'alaikum."


"Semangat juga kamu, Dek. I love you to, Wa'alaikumssalam." Begitulah jawaban saya.


Setelah itu, panggilan video diantara kami berakhir. Saya mengerti karena besok ia akan bekerja sekaligus mengurus anak. Saya juga sangat berterima kasih kepada ibu mertua saya yang berkenan membantu menjaga Sella dan Selli. Meski awalnya merasa kecewa, akhirnya beliau memberikan pengertian. Untuk keluarga besar saya dari pihak Harsono pun sudah sempat mengunjungi Fanni dan Sella--anak kedua kami. Rasa syukur yang tiada terkira karena memiliki mereka semua.


Sampai melewati pertengahan malam waktu Australia, saya enggan terpejam. Rindu kepada keluarga terus bergelayut. Ini baru seminggu, rasanya seperti disiksa. Apalagi kalau benar sampai tiga bulan. Bagaimana bisa saya menjalani hari-hari sendirian di negeri orang? Terlebih akan datang bulan puasa yang tinggal satu minggu lagi. Sahur dan berbuka sendirian? Entah bagaimana pedihnya, seperti inikah perasaan para perantau yang jauh dari keluarga? Saya akui mereka adalah orang-orang yang hebat!


Saya sampai melupakan tentang jendela hotel yang belum tertutup. Hal itu membuat saya bergegas turun dari tempat tidur. Sesampainya disana, niat saya yang hendak menutup menjadi batal. Saya terpana dengan pemandangan luar sana dengan kerlap-kerlip lampu kota yang indah. Yah, tidak heran karena Canberra adalah ibukota dan pusat pemerintahan seperti kota Jakarta di Indonesia.


"Andai kamu ada disini, Dek. Sampai saat inipun, aku belum sempet ajak kamu buat berbulan madu. Bahkan nyampe punya anak lagi." Saya bergumam sendiri pada saat teringat sosok istri yang tidak pernah saja ajak berlibur. Bukan hanya dirinya, bahkan anak-anak saya sekaligus mertua. Lantas, apakah pantas jika saya disebut sebagai seorang suami, ayah dan menantu yang baik? Apalah embel-embel nama keluarga besar Harsono, jika sampai sekarang belum bisa membahagiakan mereka semua secara sempurna.


Bahkan Fanni, terbilang istri yang tidak pernah meminta ini itu. Seharusnya saya yang memberikannya daripada menunggu permintaannya yang akan mustahil ia katakan. Namun, saya malah tidak peka dan berlaku sekenanya saja, asal sudah melihatnya tersenyum. Seharusnya saya memberikan setidaknya satu hadiah, terlebih ia sudah merawat Selli seperti anak sendiri. Mungkin setelah semua ini, saya benar-benar akan melakukannya dan menepati janji saya untuk membawa mereka berlibur. Baiklah, saya harus tidur karena esok hari saya harus menjadi seorang detektif lagi.


"Selamat tidur, Dek Fanni. Anakku Selli, anakku Sella. Papa love jauh untuk kalian semua."


Bersambung ....


Budayakan like+komen guys . udaaaah up banyak iniiiih

__ADS_1


__ADS_2