
Sepanjang hari ini, aku hanya diam. Namun, bukan karena masih marah terhadap perkataan Mas Arlan. Melainkan rasa bersalah dan tak enak hati seringkali menghantuiku. Aku merasa tak pantas berlaku seperti ini kepada atasanku. Seharusnya, aku profesional dan masuk ke kantor sesuai perintah Celvin. Namun, semua sudah digagalkan oleh Mas Arlan, sampai aku tidak berani meminta izin lagi.
Bahkan, sekedar minta maaf melalui telepon ataupun pesan kepada Celvin saja, aku tidak berani karena terlalu malu. Mungkin, kini ia sedang sibuk dan kalang kabut tanpa adanya diriku sebagai sekretarisnya. Aku memang mengerti apa yang dirasakan Mas Arlan, namun tetap saja ini tidak baik untuk ia lakukan. Apalagi Mas Arlan merupakan orang yang bekerja dalam bidang yang sama, meski berbeda tempatnya. Namun, ia tak mau mengerti.
Saat ini, aku malah sedang merebahkan diri menyamping kanan dengan tangan yang menopang kepalaku. Aku memeluk putri kecilku yang sudah terlelap ditidur siangnya. Sedanhkan kegusaran hati masih saja melanda.
"Sayang?" Tiba-tiba Mas Arlan datang lagi ke kamar ini, aku hanya diam tanpa menoleh kepadanya. "Makan yuk, katanya tadi pagi kamu laper? Kamu belum makan lho Dek," lanjutnya.
Mau tak mau aku menoleh kearah suamiku tersebut. Lalu menjawabnya, "Iya Mas, bentar lagi."
"Bentar lagi kapan? Ini udah siang lho, Dek. Makan yuk, kamu jangan manyun gitu dong kalau ada suami di rumah."
"Hmm... iya iya, tapi ambilin ya hehe."
"Siap sedia, Ndoro Ayu."
"Hihi... suami siaga."
"Istriku nan manja."
Aku mengikuti langkah Mas Arlan setelah merapikan selimut untuk Selli. Kami meninggalkan putri kecil kami yang masih tertidur pulas. Mas Arlan menghentikan langkahnya sejenak untuk menyamakan langkahnya denganku. Setelah itu, ia merangkul pundakku dari belakang. Ia pun tak segan mengecup keningku beberapa kali.
Bagaimana aku bisa marah kepadanya, jika ia semanis ini? Perhatiannya memang luar biasa, dari saat kami pacaran sampai menikah. Sekali lagi, aku beruntung karena memilikinya. Hanya saja, terkadang Mas Arlan gemar menafsirkan segala sesuatu secara spontan dan mudah curiga. Dan itu merupakan sifat buruk yang ia miliki.
Kini kami telah sampai di meja makan. Dengan penuh antusias, Mas Arlan melayani diriku bak seorang pelayan dalam sebuah restoran. Bahkan ia berlaku semirip mungkin seperti pekerja tersebut. Sampai-sampai, Bi Onah tidak bisa menahan tawa atas kelakuan sang majikan.
"Udah ih, malu sama Bibi, Mas," ujarku memperingatinya.
"Biarin, biar Bibi iri," jawab santai Mas Arlan.
Bi Onah pun tertawa lagi, beliau bergegas pergi. Sepertinya tidak ingin mengganggu kemesraan kami yang sedang berlangsung. Aku saja sampai malu-malu, apalagi orang lain yang memandang.
Dasar suamiku!
Pelan-pelan, kusendok hidangan yang telah disajikan oleh suamiku. Rasanya seperti hambar, bukan tidak enak melainkan seleraku yang sedang tidak enak. Semua karena bayang-bayang kesibukan Celvin masih tergambar dalam benakku. Namun, aku berusaha tidak menampilkan kekalutanku tersebut dihadapan suamiku. Aku khawatir ia marah lagi. Yah, walaupun Mas Arlan adalah tipe seseorang yang mudah peka.
"Jadi, kenapa kamu tiba-tiba diam, Dek?" tanya Mas Arlan.
Nah kan? Dia memang peka sekali.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Capek mungkin," jawabku.
"Kamu masih marah gara-gara ucapan Mas sama bosmu tadi pagi?"
"En-enggak kok, Mas."
"Jangan bohong, Dek. Mas tau apa yang kamu pikirin."
"Emangnya kamu cenayang, Mas?"
"Ya bukan, secara logika juga udah ketahuan, Dek. Kamu diem abis perkataan Mas tadi pagi."
"Iya sih, dikit."
"Sebulan lho, Dek. Kita bisa dibilang nggak dapet libur sama sekali, Mas cuma ingin kamu istirahat sama keluarga. Mas aja juga batalin pekerjaan hari ini, masa' kamu nggak rela sih? Uang bisa dicari, Dek. Suamimu ini nggak miskin-miskin amat kok."
Glup! Aku menelan salivaku dengan ngilu. Perkataan Mas Arlan kugambarkan sebagai sindiran keras untukku sebagai wanita yang menggilai pekerjaan demi uang. Sebenarnya, aku tidak berpikiran seperti itu. Aku hanya ingin bertanggung jawab dengan kewajiban yang masih kujalani. Karena kepercayaan yang besar telah Celvin berikan kepadaku. Jabatan itu pula, yang membuatku lebih disegani banyak orang.
Namun, mengapa Mas Arlan berpikiran seperti itu? Ingin rasanya aku menolak ucapnnya. Tapi, aku khawatir kami bertengkar gara-gara hal semacam ini. Terlebih, ini adalah waktu senggang setelah satu bulan pernikahan kami. Dan Mas Arlan telah mengorbankan pekerjaannya hari ini demi bisa berkumpul bersama keluarga.
Akhirnya, aku memilih menuntaskan aktivitas menyantapku. Aku juga menghindari pembahasan lebih lanjut. Tak apa, besok aku harus menyelesaikan kesalahan ini dan meminta maaf kepada Celvin. Yah, semoga saja ia bisa mengerti.
Beberapa saat kemudian, aku telah selesai bersantap. Kurapikan piring kotorku terlebih dahulu. Setelahnya, aku bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi. Sebenarnya, aku tidak pernah melakukan ini setelah makan. Tapi, karena telah ada seorang pria yang mendampingiku dan mungkin bisa mengecupku kapan saja, aku berusaha menjaga bagian wajah dan tubuhku agar tetap bersih.
"Ayo Dek," ajak Mas Arlan.
"Kemana Mas?" tanyaku.
"Ke kamar, kamu udah sholat kan?"
"Udah kok tadi, kamu sendiri udah mandi belum?"
"Udah dong, tadi sebelum sholat."
"Yaudah Mas, kamu istirahat dulu."
"Sama kamulah, Dek."
__ADS_1
"Aku abis makan, sayang. Masa' langsung tidur?"
"Ya enggak tidur, nemenin Mas aja."
"Manja banget."
Mas Arlan tersenyum, ia merangkul kembali pundakku. Ia membawaku ke dalam kamar kami. Sepertinya bukan hal buruk untuk tidur siang. Lagipula, aku jarang sekali melakukan ini setelah menikah. Padahal, biasanya waktu liburku habis untuk tiduran saja saat hari libur.
Sesampainya di kamar, Mas Arlan mulai melakukan keusilannya terhadapku. Rautnya tak lagi tegas, tapi berubah menjadi sayu seolah memiliki permintaan yang harus kupenuhi. Kami berdua duduk berdampingan, sembari menyenderkan punggung dibagian badan ranjang disebelah atas. Mas Arlan mengenggam tanganku sembari sesekali mengejutkanku dengan gerakan tangannya yang tiba-tiba berbuat usil.
"Dek," ujarnya memanggilku.
"Iya sayang," jawabku.
"Emm...."
"Apa?"
"Mau lagi."
"Haah? Emang masih kurang?"
"Masih, kurang banyak."
"Siang bolong, Mas."
"Biarin, yang penting udah halal."
"Ehh???"
Aku tidak bisa menolak lagi. Rasa kecewa dan marahku tadi telah hilang karena sikap manjanya. Mas Arlan semakin menekan diriku untuk masuk ke dalam perangkap mesranya. Meski masih segan, aku tetap berlaku tenang. Sebagai istri yang baik, aku tidak berhak untuk menampik permintaannya lagi. Dan yeah, kami jatuh ke dalam kemesraan yang lebih.
****
Selang waktu berjalan, mentari sudah bersinar jingga diufuk barat sampai menembus jendela yang ada di kamar ini. Sepertinya kami ketiduran lumayan lama. Petang telah tiba, lagi-lagi kami melewatkan ibadah yang seharusnya dijalankan. Membuat dosaku semakin menumpuk saja.
Hanya selimut yang menutupi diriku. Aku merasakan kepenatan yang luar biasa tak terkira, sampai bangun saja aku belum sanggup, sepertinya nyawaku belum terkumpul secara penuh. Kupandangi wajah Mas Arlan terlebih dahulu. Ia sangat menawan hati, sampai aku tidak bisa menahan tanganku untuk membelai lembut di wajahnya.
"Hmm...," deham Mas Arlan lirih.
"Udah bangun toh?" tanyaku memastikan.
"Lah, bisa jawab kok belum sih?"
"Hehe... biar lebih lama sama kamunya."
"Katanya di rumah nggak bisa. Ini buktinya bisa?"
"Kebetulan si kecil masih tidur kan?"
"Sekarang udah bangun kali, Mas."
"Biarin, belum rewel kan? Kamu ngurusin Mas dulu."
"Manja banget sih."
Begitulah, hari libur ini kami lewati. Menyisakan satu kecewa dalam hatiku mengenai Celvin. Namun, tak lantas membuatku memarahi Mas Arlan karenanya. Aku hanya memendam perasaan itu sendiri dan mencoba menguasai diri lebih tenang.
Aku menilik jam di dinding, yang ternyata menunjukkan pukul lima sore. Pantas saja, sinar mentari sudah berwarna jingga. Karena merasa sudah cukup kuat, aku segera membangunkan diriku. Namun, lagi-lagi Mas Arlan masih menahan gerakanku. Seolah tidak ingin kutinggalkan barang sekali saja.
"Udah mau maghrib, sayang. Kita nggak ashar lho," ujarku.
"Hehe... harusnya bikin alarm dulu tadi, Dek," jawabnya.
"Besok-besok harus gitu deh. Soalnya sama-sama kayak kerbau tidurnya, kalau badannya aku yang kayak kerbau."
"Halah... tetep aja sexy kok. Sini dulu sih, sayang. Masih satu jam lagi tuh maghribnya."
"Selli, Mas."
"Ada suster lho. Please... besok udah kerja lagi kita."
"Hmm... bentar aja ya?"
"Iya."
Akhirnya aku menuruti permintaan suamiku. Aku kembali merebah disampingnya dan kami saling berhadapan. Pandangan mata saling bertatapan, seolah sedang meneliti setiap jengkal bagian wajah masing-masing dari kami. Sesekali juga, kami saling gemas satu sama lain, sampai cubitan, belaian dan bahkan kecupan selalu dilakukan.
__ADS_1
Oh... sepertinya Mas Arlan memang ingin membalaskan dendam satu bulannya terhadapku. Sampai mengatakan hal itu kepada Celvin. Karena, seharian ini kami tidak keluar dari rumah barang sekali saja, setelah kepulangan dari apartemenku tadi pagi. Suami yang tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada.
"Mas itu gemes banget sama kamu," ujarnya. "Kamu gemesin pokoknya."
"Gemesin apanya? Gendutnya?" tanyaku kembali.
"Semuanya dong."
"Kok kamu mau sih, Mas. Sama orang se-gendut aku?"
"Nggak tau, Dek. Suka aja, sayang banget malah. Dari awal ketemu, Mas udah kagum sama paras kamu."
"Masa'?"
"Iya, sayang. Serius 100 kali, malah."
"Halah gombal."
"Dibilangin kok. Kalau Mas bohong, nggak mungkin perjuangin kamu sampai kita menikah."
Aku tersenyum senang mendengar jawaban mantap dari Mas Arlan. Yah, akhirnya si gendut sepertiku, bisa menikah dan bahkan suamiku sangat menyayangiku.
"Makanya, Dek. Mas pengen sama kamu terus. Pulang kerja disambut, dimasakin yang enak sama istri, dipijitin. Tapi, bukan berarti Mas nyuruh kamu jadi pembantu. Mas juga pengen jadi suami yang bisa diandelin," ujar Mas Arlan lagi. "Mas pengen tuh, sekali-kali kamu minta uang sama Mas. Minta dibeliin barang ini, minta diajak jalan. Tapi, sebulan ini kamu jadi istri mandiri banget, Dek."
Aku tertegun mendengar isi hati yang Mas Arlan pendam selama ini. Rasanya semua yang ia ucapkan tidak ada kesalahan satupun. Sebagai seorang istri, aku tidak pernah menyambutnya pulang karena kami sama-sama bekerja. Aku belum ahli dalam memasak, karena sibuk sampai tidak ada waktu untuk belajar memasak. Dan satu hal lagi, aku terlalu mandiri sampai tidak pernah meminta uang sepeser pun. Aku hanya menggosok dan menyiapkan baju kerja untuk Mas Arlan saja.
Sepertinya, aku masih larut dalam kemandirianku sewaktu belum menikah. Tak ayal, jika suamiku sesekali merasa tidak berguna. Disini aku merasa bersalah kepadanya. Menjadi wanita terlalu mandiri pun, nyatanya masih tidak pantas. Menjadi wanita yang sangat manja, juga tidak terlalu pantas.
"Maaf ya, Mas. Aku masih larut dalam kehidupanku sebelum menikah," ujarku kemudian.
Mas Arlan semakin merekatkan pelukannya kepadaku. Lalu ia menjawabku, "Iya nggak apa-apa, sayang. Mas hanya kasihan sama kamu, kamu terlalu banting tulang dan baru dapet libur hari ini. Kamu juga masih tahapan belajar menjadi istri yang baik, Mas paham kok."
"Iya Mas. Kayaknya emang butuh waktu buat aku hehe."
"Dek, Mas boleh kasih saran nggak?"
"Boleh."
"Mau nggak kalau dalam waktu dekat ini, kamu keluar dari pekerjaan aja?"
"...."
Aku diam seketika. Keluar dari pekerjaan katanya? Bisa saja, namun aku harus membayar pinalti sebelum masa kontrak habis. Yah, meski aku sudah menjadi sekretaris bagi Celvin, tetap ada perjanjian soal masa kerja. Mungkin, Celvin tidak ingin karyawannya keluar pada saat genting. Dalam artian, aku masih dalam tahap uji coba dengan status kontrak. Selain itu, aku masih tidak rela melepaskan jabatanku yang setinggi ini.
Biaya pinalti yang akan aku bayarkan pun tidak main-main, karena perjanjian yang telah kutandatangani dulu mencantumkan hal itu. Mungkin, aku belum sempat mengatakannya. Namun memang benar adanya, kala itu dengan rasa ragu-ragu, aku menandatangani perjanjian kerja itu.
"Tapi, masa kerjaku masih lama, Mas," jawabku. "Harus bayar pinalti sebelum masa berlakunya perjanjian habis."
"Mas yang tanggung, Dek. Yang penting kamu bisa di rumah, apalagi kalau kamu hamil nanti, masa' masih mau kerja?"
"Tapi, nggak sedikit lho sayang. Apalagi kamu juga cuma ngandelin gaji manager biasa. Meskipun kamu anak orang terpandang."
"Mas punya tabungan kok."
"Emm... gini aja, Mas. Aku bakalan keluar kalau habis masa berlakunya, gimana? Setidaknya aku bisa ngumpulin uang buat masa depan anak kita."
"Tapi, itu masih lama lho Dek. Mas pengen kita seperti keluarga pada umumnya, kamu di rumah sama Selli terus Mas kerja"
"Aku janji kok, nggak bakalan ambil perjanjian baru lagi. Mas, kita sekarang ini bukan orang kaya banget, kamu harus biayain gaji Bi Onah juga. Tabungan buat Selli juga lho. Sayang banget kalau buat bayar pinalti."
Mas Arlan diam, sepertinya ia sedang bimbang. Ia mengubah posisinya dan menghadap keatas. Sebenarnya, aku tidak enak hati menyarankan hal tersebut. Tapi, mau bagaimana lagi, meski Mas Arlan adalah anggota keluarga Harsono yang kaya, ia tetap menjadi orang biasa yang mencari penghasilan sendiri. Aku tidak tega, jika ia membayarkan pinaltiku yang jumlahnya besar.
Kudekati suamiku tersebut. Aku bersender pada pundaknya dalam kondisi yang masih sama. Benakku berputar mencari cara, agar ia tetap tenang dan tidak khawatir.
"Mas, aku janji aku akan belajar menjadi istri yang baik, meskipun masih kerja. Mungkin sambutan doang yang belum bisa aku lakukan," ujarku kemudian.
"Hmm... Mas khawatir kamu kelelahan, Dek. Lagipula, Mas tuh nggak rela kamu deket-deket sama bosmu itu."
"Ya ampun, Mas. Jangan berpikiran kayak gitu ih. Kamu kan udah nikah sama aku, lagian Celvin nggak mungkin suka sama aku. Kerja sama perusahaan keluarga kalian juga udah berhenti, walaupun masih muncul polemik sih."
"Tetep aja, Mas nggak suka. Mas akui kok, dia lebih muda dan emm... ga-ganteng."
"Hahaha... sadar juga ya ternyata."
"Kamu kok gitu sih ngomongnya? Nakal banget jadi istri."
"Aaaaa... sakit Mas!"
__ADS_1
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen...