
Luar biasanya di hari pertama naik jabatan, aku merasa begitu lelah. Aku rasa banyak sekali yang membebaniku. Pikiran-pikiran kacau dan takut masih berkecamuk dalam hatiku. Belum lagi, adaptasi dengan pekerjaan baru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Rasanya aku ingin cepat pergi saja dari sini.
Beberapa kali Celvin memanggilku untuk datang ke mejanya. Ia begitu kejamnya memberikanku tumpukan-tumpukan pekerjaan. Aku harus cepat mempelajarinya, mengenal perusahaan dan strateginya lebih dalam, serta hubungan dengan klien-klien yang sangat penting. Bahkan untuk sekedar buang air kecil saja aku tidak bisa. Mungkin Celvin akan mengizinkan jika aku meminta. Namun, paras tampannya yang sangat serius, membuatku menjadi tidak berani dan mengurungkan niatku.
Dan sekarang aku hanya bisa menggigit jari untuk menahan air seni yang seolah-olah ingin menyembur keluar. Aku sudah tidak tahan lagi setelah tiga jam lamanya aku menahannya. Sehingga membuat badan besarku bergerak kekanan maupun kiri.
"Fanni?" ujar Celvin yang tampaknya menyadari gerak-gerik anehku.
"I-iya Pak," jawabku gugup.
"Kamu kenapa?"
"Enggak kok nggak apa-apa."
"Kamu serius?"
"Aaaaaaaa... aku nggak serius Pak!!!"
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Celvin lagi dengan benar. Tanpa pikir panjang aku berlari keluar dari ruangan itu, dengan meninggalkan Celvin bersama proposal-proposal yang membosankan. Aku juga tidak peduli sedikitpun pada siapapun yang lewat dan bertemu denganku. Rasanya air seniku sudah terlalu banyak untuk dimuat dalam kandung kemihku.
Aku menyusuri lorong-lorong kantor yang agak jauh dari ruangan baruku. Ibarat seorang manusia yang sedang dikejar singa yang melesat cepat. Sesampainya di toilet, aku langsung masuk kedalam salah satu biliknya. Dengan sigap aku melakukan ritual kencing.
"Akhirnyaaaa..." Gumamku lega.
Setelah itu, aku keluar dari bilik dan berkaca sebentar pada cermin besar yang sudah terpasang sejak lama. Wajahku tergambar kacau disana. Wajar saja, karena rambutku selalu aku biarkan tergerai panjang. Belum lagi aku telah berlari cepat bagaikan kilat.
Kutekan kran air dan menengadahkan telapak tanganku untuk mendapat air. Aku membasahi kedua mataku pada bagian kelopaknya supaya lebih segar. Kemudian menyisir rambut dengan jari tangan agar lebih rapi.
"Fanniiii..." Panggi seseorang dari arah pintu toilet.
"Nike," Jawabku setelah memastikan seseorang tersebut.
"Kamu ngapain kesini?"
"Kencinglah Ke."
"Maksud aku kan disebelah ruang kamu ada tuh."
"Iya ya."
"Duh Fanni Fanni."
"Hehe, maklum Ke capek tauk."
"Gimana enak kerjanya?"
__ADS_1
"Luar biasaaaa... Menyebalkan."
"Semangat dong!"
"Iya Ke iya, tapi banyak banget. Bayangin coba gue harus mengenal banget perusahaan ini, punya klien, pemegang saham lain, pemasaran, daaaaaaaann masih banyak lagi deh."
"Sepadan sama gaji hehe."
"Hmm... Yasih."
Oh tidak! Aku melupakan Celvin. Pikiranku masih terisi dengan pekerjaan lamaku dan membuatku tidak sadar untuk sejenak. Jantungku kembali berdebar disertai badan yang gemetar. Tentu saja aku malu, baru saja aku bertingkah aneh dihadapan Celvin.Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menghela napas begitu panjang dan segera melangkah keluar kembali ke ruang kerja tanpa memperdulikan keberadaan Nike lagi.
Sesampainya diruanganku yang juga milik Celvin, aku membuka pintu sangat pelan dan hati-hati. Rasa malu masih menggerayangi hati. Aku bingung akan bertingkah bagaimana. Aku rasa sikapku yang telah aku lakukan sangat tidak sopan, apalagi disaat membahas beberapa hal yang sangat penting. Aku sangat menyesalinya, seharusnya aku meminta izin dari awal sehingga perbuatan memalukan itu tidak akan pernah terjadi.
"Maaf Pak," ujarku memberanikan diri saat Celvin berdiri diambang meja kerjanya sembari melipat kedua tangan didepan dadanya. Seolah-olah, ia sedang menungguku dan akan memberikan hukuman.
"Kamu habis dari mana Fanni?" Katanya dengan tatapan tajam yang ditujukan padaku.
Tegas sekali Celvin. Ia bagaikan seorang polisi yang sedang mengintrogasi tersangka. Aku menunduk takut serta tidak enak hati. Aku juga maklum, kalau Celvin akan marah. Aku sudah bertingkah begitu menggelikan.
Mungkin Celvin memang sadar sedari tadi. Apalagi aku menggoyang-goyangkan kaki beberapa kali. Lalu badan bergerak kekanan kiri demi menahan kucuran air seni yang sudah membludak.
Aku paham itu, meskipun Celvin belum tentu tau apa yang aku rasakan. Namun, pastinya ia akan merasa tengsin dan ilfeel padaku. Mungkin juga, ia akan mempertimbangkan pengangkatanku lagi. Aku bisa saja membuatnya malu saat ia membawaku bertemu klien penting.
"Maaf Pak saya sudah nggak sopan, tiba-tiba pergi saat membahas hal penting." Jawabku kemudian, walau masih sangat ragu-ragu
"A-anu saya d-dari toilet Pak."
"Eeh..."
Entah wajahku terlihat seperti apa saat ini. Yang pasti, daun telingaku terasa panas. Aku benar-benar terlihat sebagai wanita jelek, gendut, aneh dan tentu saja jorok. Aku tidak tau apa yang ada dipikiran Celvin saat ini. Ia hanya memasang raut wajah yang datar tanpa ekspresi apapun.
Benar-benar hari pertama yang panjang, buruk dan melelahkan. Aku tidak bisa mengawalinya dengan baik. Benakku pun melayang terbayang perkataan semua orang yang menganggapku tidak pantas. Dan aku rasa memang diriku tidak pantas, hari ini membuatku down seketika.
"Hei? Kok bengong?" Tanya Celvin membuyarkan lamunanku yang kulakukan dengan menundukkan kepala.
"Maaf Pak sekali lagi," jawabku kemudian.
"Hahahaha... hahaha.. haha... Fanni, Fanni."
"Kok Pak Celvin ketawa?"
"Kamu itu lho lucu amat sih, jadi gemes sayanya ini."
"Iya Pak saya aneh maka dari itu saya minta maaf karena sudah menodai hari pertama di pekerjaan baru saya."
__ADS_1
"Hehe... Jangan sungkan kalau ada apapun. Sampe buang hajat aja di tahan-tahan haha."
"Maaf Pak."
Untuk beberapa detik Celvin masih tertawa girang. Herannya, ia masih saja terlihat tampan meskipun bertingkah konyol. Sedangkan aku hanya bisa menatapnya dengan sedikit kesal.
Seharusnya Celvin bersikap dingin saja padaku, sehingga aku bisa cepat melupakan peristiwa itu. Padahal aku sudah menahan malu serta takut, dan ia malah menertawakan diriku. Sikap yang seperti ini, membuatnya terlihat seperti bukan bos melainkan teman karibku.
"Pak udah ketawanya dong," ujarku memperingatkan Celvin.
Celvin tidak menghiraukanku sama sekali. Segeli itu ia tertawa. Sepertinya aku memang benar-benar kacau. Coba saja, kalau ia adalah orang lain. Aku pasti akan mencubit lengannya sampai memerah.
Yah, memang sayang sih jika pria sesempurna Celvin harus disakiti. Walau hanya sebatas goresan. Aku sebagai wanita, rasanya tidak rela.
"Haha... jujur Fann saya daritadi emang udah sadar apa yang kamu rasain," jawab Celvin semakin menjadi-jadi.
"Aduh Pak malu saya," Ujarku.
"Salah sendiri hayo lho."
"Udahlah Pak, masih belom selesai lho ini pembahasannya."
Aku bergerak kearah belakang Celvin berada. Bukan menghampirinya, melainkan duduk kembali di kursi putar yang tepat berada di seberang kursi Celvin. Aku mendudukkan bokong besarku pada kursi tersebut sembari merapikan kertas-kertas penting yang berantakan di meja Celvin.
Berbeda denganku, Celvin masih saja berdiri ditempatnya tanpa mau bergerak kembali ke kursinya. Ia hanya membalikkan badannya dan menatapku. Aku menyadarinya ketika meliriknya sekilas. Meski membuatku sedikit tidak nyaman atau berdebar, aku masih berusaha untuk pura-pura tidak memperdulikannya.
"Fanni?" Panggil Celvin padaku.
"Iya Pak," jawabku.
"Coba berdiri."
"Kenapa ya Pak?
"Berdiri aja."
"Iya Pak."
Mendengar perintah Celvin, aku segera membangunkan badan besarku dari kursi putar. Kini kami saling berhadapan satu sama lain. Bola mata Celvin terus menatapku tajam. Hal itu membuatku salah tingkah dan tidak nyaman. Aku tidak tau apa yang akan ia lakukan.
Yang paling membuatku terkejut saat ini adalah kedua tangan Celvin yang bergerak maju kearahku. Kedua telapak tangannya mendarat di atas bahuku. Aku menelan salivaku dan sedikit bergidik.
Rasanya, aku ingin sekali menjadi asap saat ini juga. Aku tidak sanggup menahan detak jantung yang semakin tidak beraturan. Jangan sampai aku pingsan, kalau pingsan mana sanggup Celvin menggotong tubuhku yang besar. Bahkan lima orang pun belum tentu akan sanggup.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya para readerku yang sudah setia...Sedih rasanya deh nggak bisa up setiap hari apalagi sudah semingguan ini belum nulis.. maafin aku, apakah masih ada yang mau baca novel aku ini???