
Hallo, Ha. Selamat siang, dan selamat menjalankan ibadah puasa teruntuk yang menjalankan. Jangan lupa like+komen, kalau boleh Vote ya. Yang banyak(Eh maksa). Enggak kok, bagi yang berkenan saja.
Sabar-sabarin yah, bentar lagi akan sampai di episode final alias end. Karena novel ini sudah tua, aku sadar itu. Hehehe
BTW aku pengen ngadai GIVEAWAY sejumlah pulsa(Tapi enggak banyak, maaf ya. Aku cuma penulis bawang. Tapi, mayanlah tambah-tambah beli kuota) hehehe. Sebagai tanda terima kasih untuk kalian. Eits! Tapi ada tantangannya. Enggak susah kok. Ada empat paket, meski nominalnya tidak seberapa. Mohon dimaklumi yah, guys. hehehe
Terima kasih semuanya.
Vhy'dheavy
_________________________________________
Bruk! Aku menjatuhkan diriku di atas ranjang, berdampingan dengan Sella yang sudah tertidur. Selepas pulang dari kantor, aku benar-benar kelelahan. Ditambah lagi mengurus kedua putriku setelah ibuku pulang. Kini, jam menunjukkan pukul empat sore. Setelah selesai mandi, ibuku pulang. Aku yang mengambil alih ngemong Sella. Kupasrahkan Selli kepada Bi Onah, karena tubuhku benar-benar lemah.
Jika kelelahan seperti ini, biasanya aku terkena batuk kering. Entah, apa hubungannya. Namun pasti seperti itu. Hari ini pun, aku memilih pulang lebih cepat karena merasa tidak enak badan. Beruntungnya tidak masalah, sehingga tidak ada yang menentangku. Yah, meskipun fatal jadinya jika sampai ketahuan oleh Pak Ruddy. meski beliau tidak marah, tetap saja ada rasa tidak enak hati. Namun mau bagaimana lagi, kondisi diriku juga seperti ini. Ingin memberikan--ASI--saja, aku merasa was-was lantaran takut menularkan penyakit kepada Sella.
Rasa kantuk turut mendera diriku. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur sejenak waktu.
****
Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang tengah membelai-belai wajahku. Masih dalam kondisi setengah sadar, aku mengerjipkan mataku perlahan. Buram, mataku belum bisa menatap secara jelas. Namun samar-samar, ada bayangan paras milik seseorang. Apa ini mimpi? Ah, sepertinya aku sedang berada didalam alam mimpi.
"Kangen, Mas. Nyampe ketemu di mimpi, ya?" Aku mengatakan hal itu dengan suara yang cukup pelan, namun masih terdengar oleh telingaku sendiri.
Paras orang itu menampilkan semburat senyuman manis khas milik Mas Arlan. Sebegini rindunya aku kepadanya-kah? Sampai harus dipertemukan didalam alam bawah sadar. Baiklah, tidak apa-apa. Justru Tuhan masih sangat menyanyangiku, sehingga Tuhan membantuku dalam meredam kerinduanku kepada suami tercinta.
Kunikmati paras Mas Arlan itu, dengan senyuman yang merekah pelan-pelan. Aku tidak ingin mimpi ini cepat menghilang, karena aku tidak tahu kapan ia akan pulang. Seandainya saja, kedua putriku juga masuk ke dalam mimpi ini, mungkin rasanya jauh lebih membahagiakan. Setidaknya aku bisa merasakan kebersamaan dengan mereka saat ada Mas Arlan. Namun ini bunga mimpiku, bukan milik mereka dan semua keinginanku justru akan jatuh sebagai kemustahilan.
"Bangun, Sayang. Hampir maghrib," ujar pria tercintaku didalam mimpi itu.
Aku tersenyum. "Di mimpi aja, kamu masih baik aja ya, Mas?" balasku.
"Mimpi?"
"Kamu jangan pergi dari mimpi ini dulu, aku masih rindu."
Mas Arlan tampak tertawa. Di dalam mimpi, ia masih juga bersikap usil seperti itu? Astaga!
Tiba-tiba, aku merasakan pedih di kulit lenganku, seperti bekas cubitan. Secara spontan, aku terpekik kesakitan. Mataku terbuka lebar. "Ah, mimpinya udahan, kan?" Aku mendengkus kesal. "Eh?!" Aku kembali terpekik pada saat melihat suamiku tengah tertawa terbahak-bahak. "Mas Arlan?!" Kukerjibkan mataku lebih keras lagi, aku mencubit lenganku dan ternyata masih sakit.
"Ini bukan mimpi, Sayang. Mas pulang!" Mas Arlan melanjutkan tawanya setelah ia berkata demikian. "Makanya kalau menjelang maghrib itu jangan tidur nanti bisa linglung, Sayang. Tuh, si Sella nyampe dibawa sama Bi Onah. Kayaknya pules banget ya tidur kamu."
"I-iyakah?"
Aku masih terperanjat hebat. Rahangku menganga jatuh, dengan mata yang masih terbelalak lebar. Apa ini masih mimpi? Suamiku sudah ada di sini. Aku menelan salivaku kemudian, tidak mungkin! Ini masih sukar untuk dipercaya. Kuabaikan hasil halusinasi itu. Tatapanku berpindah ke tempat tidur yang aku duduki.
Kosong! Sella tidak ada. Berari benar kata si hasil halu-ku tadi, Sella dibawa Bi Onah. Namun jika hasil kehaluanku semata, mengapa ucapannya benar? Aku berpikir cukup lama, bahkan tanpa menoleh ke sosok suamiku itu. Hari sudah menjelang maghrin, jangan-jangan jin yang menyamar menjadi Mas Arlan.
Tapi kalau bulan ramadan, kan. Jinnya dikurung. Ah, masa' halunya nyampe begini sih gue! Nggak mungkin! Coba lihat lagi deh, siapa tahu udah ilang. Bismillah.
"Hei?!"
"Waaa!"
"Apa sih, Dek? Ini suami kamu lho, Mas Arlan Mahendra yang tampannya seantero jagat raya."
"Kamu bukan gendruwo yang sering menjelma itu, kan?"
Ctak! Keningku disentil begitu keras oleh Mas Arlan. Secara spontan, aku menepuk bahunya sebagai balasan. Rasa sakit yang didera oleh keningku, kini membuat ketidaksadaranku berangsur menghilang. "Jadi kamu beneran Mas Arlan?" tanyaku kembali.
__ADS_1
"Iyaaa, Dek Fanni. Ini Mamas lho, apa sih? Kamu pikir mimpi? Makanya kalau mau maghrib jangan bobo'."
"Beneran?" Aku masih tidak percaya. Lagipula, Mas Arlan tidak mengatakan apapun ketika hendak pulang.
"Hmm ... kamu pikir Mas ini siapa?"
"Beneran?!" Aku menatap tajam dan segera memulihkan kesadaranku secara penuh.
Mas Arlan mendengkus kesal, ia memutar bola matanya dengan sinis. Aku tertawa diam-diam dibuatnya. Lalu, aku mencoba memeluk dirinya. Namun ia tangkis usahaku seketika. "Mas masih puasa, takut khilaf. Nanti malam kita balas dendam ya? Tunggu saja!"
"A-apa? Balas dendam?"
Mas Arlan mengangguk dengan mantap sembari tersenyum nakal. "Iya, Dek. Udah sana, mandi. Sella diurus Bi Onah, Selli enggak rewel."
"Nggak mau! Aaaaaaaaa! Suamiku pulang!" Aku tidak memperdulikan larangannya dan masih berusaha memeluk dirinya, meski ia mencoba melepaskan diri.
Ketika Mas Arlan berusaha menjauh pun, aku masih mengikutinya kesana-kemari. Ini bahagianya seorang istri, pada saat pulangnya suami dari negeri nun jauh dan secara tiba-tiba. Walau terkadang, aku merasa ini masih seperti mimpi.
Aku tidak memperdulikan diriku yang masih acak adul dam terus mengikuti kemanapun Mas Arlan pergi. Ketika ia duduk di ruang kerja, aku duduk dihadapannya sembari memandangi wajahnya. Semakin lama, ia semakin merasa jengah dan tidak nyaman. Namun bukan berarti menolak usahaku. Ia hanya tersenyum-senyum saja. Aku merasa sedikit heran lantaran ia masih bisa berpuasa, meski dalam perjalanan yang jauh. Aku merasa malu karenanya, setelah hampir dua minggu puasa berlangsung, banyak sekali lubang untuk diriku.
"Jangan kayak gitu sih, Dek. Entar Mas gemes sama kamu," ujar Mas Arlan.
"Biarin, aku mau kayak gini nyampe kangennya hilang," jawabku masih bersikeras.
"Heh! Urus Sella. Maghrib masih sepuluh menit lagi, Dek. Jangan bikin puasa Mas batal. Mandi-mandi kek."
"Aku udah mandi, Mas!"
"Masa'?"
Aku mengangguk. "Udah, Mas. Kalau dari luar aku langsung mandi, ada si bule kecil sekarang. Kamu sendiri kenapa pulang nggak ngomong ke aku? Kan, tadi dikira hantu yang lagi nyamar jadi kamu. Untung belum aku siram air garam lho kamu."
"Ya, aku pikir beres-beres hotel doang."
"Hmm, ... tapi kejutan, kan? Nyampe begitu lho istriku. Jadi pengen cepet-cepet malem."
Aku membalas ucapan itu dengan gerak bibirku yang jatuhnya meledek. Setelah merasa puas dalam mengikuti gerak-geriknya, aku akhirnya memutuskan untuk menyudahinya. Aku meninggalkan Mas Arlan di kamar ini dan hendak melihat Selli dan Sella. Sepanjang perjalanan menuju lantai bawah, aku terus bersenandung dengan perasaan yang sangat bahagia. Semua rasa lelah dan tidak enak badan seketika hilang dan aku tidak tahu kemana, mungkin hanya batuk yang sesekali muncul.
Ini yang dinamakan hasil dari kesabaran atas nama rindu. Perasaanku terasa meluap-luap dengan ion-ion bahagia. Bahkan, sesekali aku tersenyum dan tertawa sendiri. Suatu perasaan yang bahagianya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Apa aku terbilang berlebihan? Bodo' amat! Aku berhak untuk merasakan hal itu.
Setelah berhasil menuruni anak tangga, aku bergegas menuju ruang keluarga dimana Bi Onah dan kedua putriku mungkin berada. Senandung tidak merdu masih mengalun melalui bibirku. Perasaan menggebu ini tidak cepat menghilang. Bahkan aku ingin hari cepat malam, sehingga aku bisa berbuat sesuatu terhadap Mas Arlan.
Hehehe.
"Bi, biar aku aja. Udah mau buka, sekalian Bibi buka puasa," ujarku sembari mengambil alih tubuh Sella.
"Siap, Mbak," jawab Bi Onah. Setelah itu, beliau bergegas ke dapur dengan membawa Selli.
Sedangkan aku masih berada di sini bersama si bule kecil yang semakin bawel. Celoteh khas bayi kerap ia gumamkan, bahkan tawanya begitu cantik dilihat oleh mata setiap orang yang sudah dewasa. Mungkin seperti ini perasaan ibuku pada saat melahirkan seorang anak berparas bule, bahkan beliau mendapatkan dua anak yang semuanya mewarisi paras Eropa dari ayahku tercinta.
"Aish! Kamu cantik banget, Dek. Papa udah puyang noh, ya? Sella udah bisa ketemu Papa ya? Kangen banget ya? Uluh, uluh, anakku sayang. Cantik banget." Dengan berkata demikian, rautku tidak lagi gengsi beraut konyol demi sang putri tercinta.
Sella tertawa begitu menggemaskan, tidak terbahak namun ada suara kecil yang menyertainya. Kini lengkap sudah karena, Mas Arlan sudah pulang. Aku benar-benar bahagia. Meski aku belum tahu hasil dari pekerjaannya. Untuk sekarang, aku tidak ingin menanyakan hal itu dulu. Aku tahu, ia masih lelah dan butuh istirahat banyak. Untuk beberapa hari ke depan, aku juga ingin berada di kantor terlebih dahulu setelah ia benar-benar pulih dari rasa lelah.
Kemudian, aku bangkit bersama Sella yang berada di gendonganku. Aku menuju ruang makan untuk menemani mereka berbuka puasa, meski tidak ikut.
****
Malamnya. Kami berkumpul berempat di kamar milikku dan Mas Arlan usai menjalankan tarawih. Tentu saja belum ada kesempatan untuk bermesraan. Namun jika sekedar kecup pipi, aku dan kedua putriku telah mendapatkannya dari si pria gagah milik kami.
__ADS_1
Mas Arlan begitu antusias dalam bercanda dengan kedua putri cantiknya. Ia tidak segan dalam bersikap konyol agar semuanya tertawa. Sesekali, ia mengedipkan satu matanya kepadaku dengan tingkah menggoda. Aku tahu, ia tengah rindu kepadaku, namun belum mendapatkan kesempatan emas untuk bermesraan.
Aku berdeham. "Kamu makin kurus aja, Mas?" tanyaku kemudian. Tepatnya, pada saat aku menyadari tubuh Mas Arlan lebih kurus daripada sebelumnya.
Ia menatapku sekilas, lalu kembali kepada Sella yang berada di hadapannya. "Puasa, Dek. Pasti kurus begini," jawabnya.
"Enggak! Tahun lalu, biasa aja tuh kamu. Walaupun puasa full satu bulan."
"Kurang asupan gizi dari kamu, Dek."
"Halah! Kamu enggak makan dengan baik ya di sana?"
"Makan, Dek. Tapi 'kan selera orang Indo sama sana beda."
"Iya sih. Ya udah, habis ini kamu harus makan yang banyak. Aku juga udah belajar masak dikit-dikit, Mas. Tapi pas jam sahur doang belajarnya hehe."
"Nggak apa-apa, Dek. Jangan dipaksain, cewek emang udah terbilang wajib bisa masak. Tapi kamu kan juga banyak kerjaan, jangan dipaksain. Nanti kalau udah agak senggang aja."
Aku mengangguk pelan. Betapa mengertinya dirinya kepadaku. Aku sedikit menyesal karena tidak belajar memasak dari dulu. Hidup sendiri di apartemen, membuatku gemar membeli makanan cepat saji atau mungkin kiriman dari ibuku. Mungkin hal itu juga yang membuat tubuhku cepat gendut.
Kuhampiri mereka bertiga dan ikut serta dalam memberikan celoteh kepada Sella. Bahagianya, sungguh!
"Papa kan udah pulang. Jadi Selli mau diajakin jalan-jalan boleh?" celetuk Selli tiba-tiba.
Mas Arlan tersenyum, lalu beralih kepada Selli. Ia memangku sang putri cantik itu. Berbincang banyak hal yang tidak terlalu aku perhatikan. Kini aku yang memegang kendali atas Sella. Karena waktu yang sudah semakin malam, aku memutuskan untuk memberinya minum agar cepat tertidur.
Aku turun dari ranjang dan berjalan pelan kesana kemari bersama Sella. Tak lupa kusenandungkan lagu halus untuknya. Perlahan-lahan, si bule ini tertidur. Meski beberapa kali sempat membuka mata karena terkejut akan lengkingan suara Selli dan tawa sang ayah. Namun kemampuan seorang ibu, jauh lebih di atas rata-rata. Sella benar-benar tertidur pulas.
"Udah, Selli sama Papa tidur juga. Selli besok sekolah, Dede'nya udah bobo'. Jangan berisik semuanya," ujarku memperingatkan sepasang ayah dan anak itu, setelah menaruh Sella di ranjang goyangnya.
"Selli tidur di sini bareng Papa ya, Ma?" tanya Selli.
Aku mengangguk pelan. "Iya, tapi enggak boleh berisik, oke?! Mama besok juga harus kerja."
Mas Arlan seketika menatapku yang kini. "Besok Mas yang berangkat, Dek."
Aku menggeleng. "Kamu istirahat dulu, Mas. Urusan kamu sama Mbak Dahlia juga belum kelar, kan? Paling nggak semingguan-lah."
"Tapi kasihan kamunya."
"Nggak apa-apa, Mas. Kamu kan bisa bantuin aku jaga anak-anak. Proyekmu yang baru juga hampir kelar, jadi aku mau sekalian beresin semuanya. Daripada kolega kamu bingung, ganti-ganti pimpinan terus."
"Tapi, Dek?"
"Udah, Sayang. Kamu cuci tangan dan kaki, gosok gigi. Terus tidur semua."
Mas Arlan menghela napas, lalu ia hembuskan kembali. Ia menelan saliva, sepertinya tengah tidak enak kepadaku. Namun masalahnya dengan Mbak Dahlia pun belum dituntaskan juga. Bahkan aku masih tidak tahu bagaimana hasilnya. Ia membawa Selli untuk bebersih diri ke kamar mandi, sebelum tidur malam ini.
****
"Dek?" Suara Mas Arlan terdengar berbisik di telingaku
"Hmm. Apa, Mas? Udah sahur?" Kubuka mataku yang sempat terlelap, kemudian menatapnya yang masih samar terlihat.
"Pindah ke kamar Selli yuk. Anak-anak udah tidur."
"Heh?!
Bersambung ...
__ADS_1