
"Kadangkala aku menangis, sampai merasa malu pada diriku sendiri. Diriku yang sejatinya seorang lelaki. Karena, semua pembalasan ini begitu memberatkan hati. Aku benar-benar menyesal, sampai terkadang ingin mati. Andai saja, aku bisa memutar waktu ke belakang. Pasti sudah kuubah sikapku yang pengecut keji menjadi manusia yang lembut hati. Namun, penyesalan tinggal penyesalan. Buah dari karma buruk telah aku petik dan mungkin harus siap kujalani sampai mati." -isi hati Celvin.
_____________________________________________
Hingga satu jam lamanya, aku masih tertahan di ruangan ini. Aku terus mendengarkan setiap jengkal ucapan yang Celvin katakan. Kesetiaanku kepada atasanku tersebut, terus kubangun sepanjang detik yang berjalan. Aku tidak menampik, jika diri ini sudah teramat lelah dan letih. Terlebih rasa lapar sudah mulai muncul, meneriakkan suaranya didalam perut sana.
Namun apa dayaku, sebagai bawahan dan orang kepercayaan, aku harus siap sedia. Aku juga tidak akan sampai hati untuk meninggalkan Celvin yang sedang frustasi karena rundungan masalahnya. Ia memang tidak mungkin bunuh diri karena putus asa. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah sifat buruknya dimasa lalu kembali muncul. Dan mungkin hanya aku satu-satunya orang yang bisa ia tumpahkan keluh kesahnya. Pria tampan yang malang.
"Jadi, hubungan kamu sama Nona Riska sekarang ini bagaimana?" tanyaku.
Celvin kembali menatapku. Kemudian memandang kearah lain sembari menyunggingkan senyuman. Tampaknya pengaruh nama Riska begitu kuat sampai membuatnya mampu tersenyum seperti itu. "Kami semakin baik," jawabnya.
"Ya bagus dong! Kamu harus semangat!"
"Masalahnya... aku kembali memberinya derita yang baru."
"Tidak kok, itu aku yang menjadi tokoh utama dibalik terbongkarnya rahasia ini."
"Tidak, Fann. Aku sudah memikirkan kemungkinan ini akan terjadi, karna lambat laun pun pasti akan terbongkar juga. Mungkin bisa melalui kamu, tapi bukan kamu penyebabnya."
"Maaf, Vin. Tapi aku tetap merasa bersalah."
"Tidak perlu minta maaf. Semua memang harus aku jalani. Sebenarnya jika papa yang masih menjabat, aku pasti tidak akan dibenci oleh beliau."
"Vin, aku yakin Pak Ruddy tidak benci sama kamu. Tidak mungkin dong, kalau benci perusahaan ini malah diberikan sama kamu."
"Entahlah, aku juga bingung seperti apa sifat papa yang sebenarnya. Selepas perceraian dengan mama, beliau juga belum kunjung menikah lagi. Beliau juga tidak pernah memberikan perhatian khusus padaku kecuali materi."
Bola mata Celvin selalu saja berkaca-kaca, saat ia sedang membahas orangtuanya. Terlebih sang ibu yang belum kunjung ditemukan. Aku sendiri tidak bisa memahami tentang ini, karena hidupku masih terhitung lengkap. Segala macam perhatian selalu diberikan oleh kedua orangtuaku, meski diselingi dengan beberapa pertengkaran. Tampaknya aku wajib untuk bersyukur.
Celvin adalah pria yang kuat. Beberapa kali, kulihat ia menahan air mata agar tidak jatuh. Kalaupun jatuh, ia segera memalingkan wajahnya dariku agar aku tidak mengetahuinya. Itu wajar saja, karena ia merupakan mantan bad boy. Aku yakin ia tidak akan mudah berputus-asa. Ia bisa menjalani masalah ini sampai akhir. Suatu saat akan ada kebahagiaan yang datang menghampiri. Aku hanya berharap Tuhan dan gadis itu bisa memberikan pengampunan kepada Celvin.
Celvin melihat sekilas pada jam tangan yang melingkar dilengan kirinya. Kemudian mengatakan, "Fann, sudah sepetang ini. Maaf ya? Aku sudah menyita waktu kamu sepanjang ini."
"Tidak masalah Pak Celvin hehe," jawabku getir.
"Thanks ya, Fann. Tanpa adanya kamu, aku pasti merasa sendiri terus. Sepertinya aku tidak salah pilih, selain pintar kamu juga baik."
"Jangan terlalu memuji. Aku tidak mau sombong karena hal itu. Ya sudah, aku pamit pulang ya?"
"Kita keluar bareng saja."
"Oh oke."
Celvin memundurkan kursi putarnya, lalu beranjak berdiri dari duduknya. Sama halnya denganku. Setelah itu kami keluar dari ruangan ini bersama-sama. Kondisi gedung kantor sudah sangat sepi. Tampaknya tidak ada satu karyawan yang mengambil jam lembur. Sunyi sekali, sampai membuat bulu kudukku berdiri. Aku sempat teringat dengan video-video tentang penampakan didalam ruangan kantor.
Ah... jangan sampai kutemukan sesosok hantu disini. Apalagi aku sedang bersama Celvin. Mungkin, kalau bersama Mas Arlan tidak mengapa. Aku bisa saja memeluk erat dirinya. Tapi kalau bersama Celvin? Aku tidak bisa membayangkan raut jijik yang akan Celvin berikan kepadaku, saat aku berani memeluknya.
Astaga! Pikiran konyol semacam apa ini? Dasar aku!
Kami terus berjalan bersama menyusuri lantai gedung kantor ini. Demi mencapai lantai bawah, kami harus memakai lift sebagai pengantar. Karena tidak mungkin lompat begitu saja, bukan?
Aku teringat akan sesuatu yang sempat membuatku heran. "Vin, kenapa kamu selalu memakai lift karyawan?" tanyaku kepada Celvin.
"Tidak juga kok, Fann. Kadang-kadang lewat lift khusus juga kok," jawabnya.
"Kenapa bisa gitu?"
"Nggak tau juga, Fann. Semasuknya aja hehe."
"Oh... dasar kamu."
"Yah, kalau lift ini sepi aku pakai ini. Kalau sedang ramai ya pake yang khusus."
"Baiklah, anak sultan mah bebas. Vin, kamu tidak menjalin lagi asmara sama Nona Riska?"
"Ingin, tapi setelah semua masalah selesai, Fann. Kamu tau kan aku masih cinta sama dia, dan mungkin-"
"Tidak hanya mungkin. Tapi, memang benar kok Nona Riska masih punya rasa itu sama kamu."
Celvin mengernyitkan dahinya dan menatapku tajam. Lalu bertanya lagi, "K-kamu tau darimana? K-kok bisa tau soal itu? Jangan hanya menggodaku saja, nanti aku jadi gede rasa alias GR."
Aku hanya tersenyum. Kemudian melangkah keluar setelah pintu lift terbuka. Sedangkan Celvin mengikuti langkahku dengan pertanyaan yang sama, ia katakan beberapa kali. Budak cinta satu ini, terlihat sangat menggemaskan. Seolah aura tegas dan kharismanya menghilang begitu saja, lalu berubah menjadi keimutan yang hakiki.
__ADS_1
Sama seperti nama Mas Arlan yang begitu kuat memberikan pengaruhnya kepadaku. Pengaruh nama Riska pun sama kuatnya, sampai Celvin mengorbankan harga dirinya untuk memohon kepadaku. Aku rasa anggota keluarga Harsono memiliki daya tarik yang luar biasa.
Celvin menarik tanganku setelah kami sampai ditempat parkir. Tak kusangka, ia sampai membuntutiku seperti ini. Sehingga gerakan tanganku untuk membuka pintu mobil, kuurungkan terlebih dulu. "Apa lagi sih, Pak Celvin???" tanyaku kepadanya.
"Please! Jelasin, kenapa kamu bisa ngomong sampai setau itu?" pintanya.
"Pft... hahaha. Dasar bucin!"
"Bucin? Apa itu bucin?"
"Budak cinta wahai Bapak Bos."
"Halah, apapun itu deh. Tapi, kamu kasih tau dulu, Fann. Aku mohon."
"Hmm... aku sempet bertemu Nona Riska secara pribadi untuk membahas hubunganku dan Mas Arlan."
"Lalu?"
"Ehh... dia malah nanyain soal kamu. Nah, aku jelasin deh. Terus Nona Riska beberapa kali tersenyum diam-diam dan matanya berbinar-binar. Kadang juga nanyain soal kamu, Vin. Jadi, kesimpulannya dia masih ada rasa sama kamu."
"B-benarkah?"
"Selamat ya Bapak Celvin. Jangan pernah berhenti berjuang, selesaiin masalah perusahaan dan perjuangkan cinta kalian. Seperti Mas Arlan perjuangin aku."
Celvin tersenyum malu-malu. Ia tampak melamun sembari meronakan wajahnya menjadi pink kemerahan. Bahkan, ia tidak mendengarkan ucapanku yang terakhir. Yah, tak apa. Setidaknya ada hal yang membuatnya sedikit gembira dan tenang. Kekuatan cinta memang luar biasa dahsyatnya. Menurutku jika Celvin bisa bersama dengan Riska lagi, perusahaan mereka pun bisa menyatu dan menjalin kerja sama yang sehat lagi.
Lupakan soal itu, aku hanya ingin pulang. Karena waktu semakin petang. Aku takut kejadian mogok didekat kuburan terjadi lagi. Bisa mati berdiri aku nanti. Langsung saja, aku membuka pintu mobilku yang sempat tertunda.
"Ehh... ehh... tunggu dulu, Fann." Celvin kembali menahanku, sampai kehela napas kesal diam-diam.
Aku kembali menolehnya dan mempertanyakan maksudnya. "Ada apa lagi, Pak Celvin?" tanyaku.
"Hehe... maaf ya. Tadi kamu ngomong soal perjuangan Om Arlan itu apa ya?"
"Oh... tidak apa-apa kok. Itu urusan kami berdua."
"Jadi, tidak mau cerita?"
"Hmm... apapun itu semoga kalian lancar ya."
"Terima kasih, Vin. Aku pun selalu mendukung kamu dari belakang, entah sebagai teman ataupun bawahan."
Celvin tersenyum begitu manis. "Thanks, Fanni. Hati-hati dijalan."
Aku membalas senyumannya, lalu kembali pada mobilku. Kemudian, masuk ke dalam. Sedangkan Celvin mengambil langkah untuk mencari keberadaan mobil merahnya dan meninggalkanku. Kami berpisah. Dengan membawa bekal sejumlah penjelasan, aku segera menancap gas meninggalkan gedung kantor ini.
Tidak terasa waktu memang sudah berjalan begitu cepatnya. Sekarang kumandang adzan maghrib malah sudah terdengar. Membuatku menepikan kendaraanku terlebih dahulu. Namun, aku memilih mampir ke masjid daripada pinggiran jalan. Aku tidak menyangka perbincanganku dengan Celvin sampai sepanjang itu. Mungkin karena terlalu fokus mendengarkan, aku tidak menyadari hari yang semakin petang.
Disalah satu masjid, aku memarkir mobilku diarea yang sudah diharuskan, kemudian beranjak turun. Setelah adzan selesai, aku segera mengambil air wudhu untuk mensucikan diri kemudian bergegas mengikuti sholat yang dipimpin seorang imam. Aku menggunakan mukena yang telah tersedia ditempat wanita. Mungkin akan memakan durasi sekitar lima menit lamanya.
Sudah lama juga aku tidak beribadah di masjid seperti ini. Entah, bagaimana Tuhan akan menilai diriku. Aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim, namun belum bisa menjauhi segala macam larangan-Nya. Seperti pacaran dan berduaan bersama Mas Arlan, misalnya.
Setelah selesai, aku kembali menuju mobilku dan memasukinya. Setelah itu, aku melajunya kembali untuk pulang ke rumah orang tuaku.
****
Beberapa menit kemudian, aku telah sampai di rumah orangtuaku. Aku kembali beranjak turun dari mobilku dan mengambil langkah menuju pintu utama. Setelah sampai disana, kuketuk daun pintu beberapa kali.
"Assalamu'alaikum Mamaku yang cantiknya selangit," sapa salamku kepada ibuku yang sudah membukakan pintu untukku.
"Wa'alaikumssalam. Tumben mau pulang?" tanya beliau.
"Hmm... anaknya dateng disayang kek, bukannya ditanya kayak gitu."
"Iya iya... ya sudah masuk, masih maghrib nih."
Kuikuti langkah ibuku untuk masuk kedalam rumah. Semua orang sudah bersiap diri untuk makan. Namun, bukan dimeja makan melainkan lesehan diatas sebuah tikar. Tepatnya di ruang keluarga.
Wow!!! Pas banget hehe...
Begitulah batinku. Namun, aku masih bersikap biasa saja karena masih gengsi. Padahal, cacing diperutku sudah berteriak sejak tadi. Aku hanya menunggu intruksi dari ibuku untuk ikut bergabung. Yah, semoga saja sesuai rencana.
"Ambil air dulu, cuci tangan sama muka sana. Terus kita makan," ujar ibuku.
__ADS_1
"Siap Mama!" jawabku.
Nah... tepat dan sesuai rencanaku. Nikmat mana yang bisa kudustakan, bila pulang sudah tersaji makanan.
Aku segera tancap gas menuju kamar mandi dan wastafel yang berada di dapur. Setelah sampai disana, aku mencuci wajahku hingga segar kembali. Diikuti untuk mencuci tangan di wastafel, karena sabun tangan berada disana.
Dengan langkah cepat, aku kembali ke ruang keluarga untuk bergabung dengan mereka.
"Fanni, pulangnya kenapa semalam ini?" tanya Kak Febi pada saat aku baru mendudukkan diriku.
"Iya Kak, ada lembur," jawabku.
"Lembur apa lembur???" sela Kak Pandhu.
"Ya lemburlah Kak, ngapain lagi coba?"
"Kirain sama kekasih tercinta, makanya baru pulang jam sekarang."
"Ingat kata Mama, Kak. Nanti Fanni dikubur hidup-hidup kalau berduaan sama Mas Arlan terus."
Sontak saja, ibuku memberikan tajam kepadaku. Sampai aku hanya pringisan sendiri. "Emangnya emak kamu ini psikopat, gitu haah?" tanya tegas beliau.
"Sudah Ma, Fanni bercanda lho." Ayahku pun maju memberikan pembelaan untukku.
"Lagian punya anak perempuan satu-satunya, kalau ngomongin emaknya sekejam itu."
"Halah Mama ini lho, sudah tua kok baper-an sih?"
"Nggak gitu, Pa. Papa aja yang belain dia terus, makanya kayak gitu."
Sial! Sepertinya ibuku benar-benar merasa tersinggung karena ucapanku. Seharusnya aku minta maaf setelah ini. Berbeda denganku yang merasa bersalah, Kak Pandhu dan istrinya malah tersenyum-senyum dengan artian mengejekku.
Hanya ayahku orang yang paling luar biasa, disaat seperti ini.
"Mama maafin, Fanni ya? Hehe... tadi Fanni becanda kok. Lagian mana ada psikopat secantik Mama ini," ujarku.
"Iya, emang emakmu ini cantik. Kamu kalah telak. Bahkan puteri Indonesia dan dunia aja kalah sama Mama. Makanya kalian harus bangga punya Mama."
Semua orang pun tertawa setelah mendengar ucapan ibuku. Aku sendiri tidak bisa menahan geli saat mendengar ucapan beliau yang luar biasa percaya diri.
Setelah merasa puas dalam melempar kelakar, kami kembali lagi pada acara utama yaitu makan malam. Dengan kebaikan yang ibuku miliki, beliau sudah menyajikan hidangan untukku. Kami bersantap bersama dengan kehangatan yang tiada tara.
Namun, diam-diam benakku terlintas nama Celvin dan Mas Arlan. Celvin pasti tidak pernah merasakan kehangatan semacam ini. Sedangkan, Mas Arlan pasti sama halnya karena hanya tinggal bersama Selli dan dua orang pembantunya. Aku rasa ibu Darsi tidak tinggal disana.
Hmm... aku menyesal telah menyia-nyiakan waktuku bersama keluargaku dan memilih tinggal sendiri. Padahal orang lain sangat menginginkan hal ini terjadi dalam hidupnya.
Untuk diriku, semoga kedepannya aku lebih bisa menghargai waktu dan orang-orang terdekatku.
Tak lama kemudian, kami telah menghabiskan hidangan yang menjadi makan malam tersebut. Peralatannya pun sudah dirapikan oleh para wanita yaitu aku, ibuku dan Kak Febi. Setelah itu, kami berkumpul lagi ditempat semula.
"Jadi, Fanni. Kamu tumben pulang ada apa?" tanya ayahku.
"Kangen aja, Pa," jawabku.
"Halaaahh... bohong deh itu," sela ibuku.
"Hehe... sebenarnya aku punya kabar bagus buat Mama."
"Buat Mama? Apaan coba? Mama dengerin."
"Aku... emm... aku udah dapat restu dari ibunya Mas Arlan, Ma. Kami boleh menikah."
"Hmm... kirain apa, Fann... Fann...,"
Tak kusangka ibuku hanya memberikan respon biasa saja. Tentu saja, aku sangat kecewa. Aku pikir beliau akan turut bahagia tentang kabar ini. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Seperti dugaanku diawal, selain beliau, semua orang turut senang untuk hal itu.
Apakah Mama masih tidak menyukai Mas Arlan?
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen.
Vote juga boleh, kalau mau aja.
__ADS_1