
Tadi malam, waktu aku telah tiba di rumah, aku segera menghubungi Mita untuk memastikan keadaannya. Ia berkata bahwa dirinya baik-baik saja dan bisa menuntaskan permasalahan dengan cepat. Aksi nekat yang sangat mencengangkan, bukan? Meski begitu, Mita selalu memiliki cara untuk menyelesaikannya. Tampaknya, ia sudah terlahir untuk menjadi licik, tidak! Maksudku cerdas. Meski bagiku hal itu tidak bisa menyatu dengan perasaanku, aku tetap menghargai serta berterima kasih kepada wanita berparas cantik namun judes itu.
Sedangkan Mas Arlan belum mengatakan apapun tentang kejadian yang menimpa Nia. Tadi malam, aku pura-pura sudah tertidur dengan pulas. Sehingga, Mas Arlan belum sempat bercerita. Namun perasaan bahagia, tampaknya muncul di hatinya. Ia terus bersenandung setelah pulang dari jalan-jalan itu, kecuali kalau sudah tertidur. Ia terlihat senang diatas penderitaan sang mantan istri. Entahlah, jika ia tahu bahwa dalang dibalik semua itu adalah diriku. Yang pertama, pasti ia akan memarahiku karena sedang hamil dan malah pecicilan.
Dan kini, aku sudah beraktivitas seperti pagi-pagi sebelumnya. Menata keperluan Mas Arlan dan juga membantunya memasang dasi di kerah kemeja. Saat-saat pagi yang membuatku terkadang tersenyum diam-diam. Meski terkesan sepele, namun sangat manis jika diterapkan oleh sepasang suami istri.
Mas Arlan tersenyum pada saat aku pandangi. Aku menatapnya dengan kecurigaan, kalau sudah seperti itu, biasanya diiringi tingkah usilnya. Aku mengusap wajahnya seketika. Namun, balasannya apa? Diraupnya wajahku dan habis oleh kecupannya sampai diriku gelagapan.
"Mas! Engap tauk!" tegasku sembari mendorong wajah Mas Arlan supaya mundur lebih jauh.
"Mas gemes, Dek. Sini lagi, belum puas." Jawabannya selalu saja seperti itu. Ia kembali melanjutkan tingkahnya dalam mengecup habis-habisan wajahku, bahkan nyaris tanpa rasa ampun.
"U-udah, Sayang. Udaaah! Ih!"
Mas Arlan hanya terkekeh saja. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun pada dirinya. Aku mengusap wajahku yang dipenuhi dengan sidik bibirnya itu. Kemudian, aku melengos dan membelakanginya. Sarapan tambahan untuk seorang ibu hamil adalah hal seperti ini.
Tiba-tiba, Mas Arlan memeluk tubuhku dari arah belakang. Ia membelai halus perutku yang membuncit. "Mama disayang malah marah-marah, Nak," ujarnya disertai suara berdeham.
"Kamu aneh banget, Mas. Emang ada orang sayang nyampe diraup kayak tadi?"
"Kan gemes, Dek. Sumpah! Nggak tahan kalau lagi lihat wajah kamu yang cantik jelita dengan bola mata yang menyala berwarna biru."
"Apaan sih? Ngawur aja, mana ada aku cantik. Gendut, tembem itu baru bener. Aneh, itu namanya sedang mengejek secara nggak langsung tauk!"
"Enggak! Mas serius kok. I love you, Sayang. Muah!"
Aku menerima kecupan di pipi lagi, kemudian Mas Arlan baru melepaskan rangkulan tangannya dariku. Akhirnya aku terbebas dari jerat keusilan suamiku itu. Ia melangkah ke meja kerjanya yang terletak di sudut ruang kamar ini. Tampaknya, akan menyiapkan berkas yang tersimpan dari sana. Sedangkan aku, aku sibuk merapikan ranjang kami yang masih berantakan.
Terdengar lagi senandung pelan yang keluar dari bibir Mas Arlan. Tampaknya, kejadian yang menimpa Nia tadi malam, masih membuatnya bahagia. Aku tidak tahu, aku berharap bahagia karena Nia berhasil dihukum dan bukan karena sudah berjalan bersama lagi.
Aku berdeham. "Kayaknya seneng banget sih, Mas?" tanyaku pada akhirnya.
Mas Arlan tampak menoleh ke arahku beserta kerutan di dahinya. "Emang kenapa, Dek? Mas seneng terus kok, apalagi kalau deket kamu. Berasa nggak ingin berangkat kerja," jawabnya dengan gombalan yang membuatku sedikit mual.
"Halah! Gombal aja kamu, Mas. Udah tuir juga. Heran aku mah sama kamu, udah om-om mau punya anak dua."
"Yee ... biar awet muda dong. Masalah umur jangan dibawa-bawa, Dek. Yang penting suami kamu ini masih tampan rupawan hehe."
"Iiiih. Apaan sih? Nggak nanya soal itu kok."
"Hmm ... eh! Mas punya sebuah cerita, Dek. Bentar." Mas Arlan menilik waktu pada jam yang terpasang di tangannya. "Masih ada waktu, Mas ceritain ya?"
"Apaan? Mau ngajakin aku gosip pagi-pagi, gitu?"
Mas Arlan terkekeh saja. Kemudian, ia menyelesaikan kegiatannya sekarang. Setelah selesai dan memasukkan beberapa map ke dalam tas, ia datang untuk menghampiriku. Gerak tubuh beserta binar wajahnya seolah sudah tidak sabar lagi untuk mengajakku bergosip ria tentang insiden Nia. Padahal, diriku adalah dalang di baling semua yang terjadi nanti malam. Aku berharap tidak sampai ketahuan sampai kapanpun.
Mas Arlan mengajakku duduk di tepian ranjang. Ya, akhirnya kami duduk bersebelahan.
"Dek, tahu nggak?"
Aku menggeleng. "Enggak, Mas."
"Belum, Dek."
"Hmm ... soal apa?"
__ADS_1
"Emm ... jangan marah ya? Ini soal Nia."
Aku pura-pura mengernyitkan dahiku sembari menampilkan raut tidak menyangka. "Kenapa lagi sama dia, Mas? Dia nggak godain kamu, 'kan? Nggak aneh-aneh sama Selli, 'kan?"
Kini giliran Mas Arlan yang bergeleng. "Tadi malem, baru masuk ke arena bermain anak. Tahu nggak? Tiba-tiba, ada tiga bocah cowok nyamperin Nia. Mereka ngaku-ngaku sebagai anak Nia. Nyampe dihabisin tuh pipinya Nia."
Aku manggut-manggut saja. Benar dugaanku, Mas Arlan akan menceritakan tentang hal ini. Selanjutnya, Mas Arlan menceritakan segalanya yang ia lihat tadi malam. Ia nyaris seperti seorang presenter infotainment yang julid. Entah, saat Nia dikerumuni tiga anak remaja yang notabene adalag suruhan Mita. Lalu, saat Nia diguyur air oleh seorang cleaning service.
Bahkan, tentang Mita. Ini yang aku tunggu-tunggu sejak tadi. Karena apa? Karena aku ingin tahu keadaan Mita setelah bertengkar dengan Nia.
"Emm ... terus yang cewek tadi gimana, Mas?"
"Yang katanya godain papanya ya, Dek? Dia minta maaf."
"Mi-minta maaf? Kok bisa?"
"Katanya salah orang. Aneh sih emang, mungkin kalau Nia mirip orang itu, jadi agak masuk akal."
"Terus Nia gimana dong, Mas?"
"Marah dong pasti. Namanya juga Nia. Dia keseeel banget, penampilan udah acak-acakan nggak jelas. Terus pipinya memar."
Aku memberikan isyarat supaya Mas Arlan menghentikan ucapannya. Ada sesuatu yang kurang enak didengar menurutku. Ia pun tampak kebingungan karena responku. Lantas, aku kembali berkata, "kamu kok detail banget sih, ngeliatain Nianya, Mas?"
"Eh? En-enggak gitu, Sayang. Mas malah sueneng banget lihat dia menderita tauk. Dosa ya? Tapi, itu yang Mas rasain. Berasa puas banget, nggak harus turun tangan, udah ada orang yang mempermalukan dia."
Orangnya itu istrimu dan teman istrimu, Mas. Kamu wajib berterima kasih!
Beruntung jika Mas Arlan bermaksud senang untuk hal itu. Meski aku tahu, bahwa perasaan kami adalah perasaan yang salah. Hanya saja orang itu adalah Nia. Rasanya sangat sulit untuk respect barang sedikit saja. Bahkan untuk seorang Mas Arlan yang selalu mewanti-wanti diriku agar selalu mendo'akan yang terbaik untuk orang yang jahat sekalipun. Kini ia malah mengingkarinya sendiri.
"Dek, makasih ya?"
"Buat apa, Mas?"
"Buat cinta dan perhatiannya hehe."
"Udah kewajibanku, Mas."
"Terus jangan marah-marah lagi. Jangan kabur-kaburan lagi lho, Sayang. Emm ... satu lagi, kamu nggak perlu cemburu pada Nia. Sumpah! Mas cuma cinta dan sayang sama kamu dan anak-anak kita."
"Iya, Mas. Aku percaya kok sama kamu."
Mas Arlan meraih wajahku lagi, ia melakukan hal yang manis seperti tadi. "Mas berangkat ya, Dek. Mas nitip Selli dan anak kita, kalian jangan capek-capek. Terutama kamu, inget tidur siangnya. Kalau Bu Guru udah dateng tidur aja ya, Dek. Kamu kayaknya kecapekan banget."
Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas-ku sayang. Aku sehat kok, kamu jangan khawatir. Akhir-akhir ini juga udah jarang hoek sama mual. Kamu kerja hati-hati, jangan genit, jangan ganjen, jangan nakal dan semangat terus!"
"Siap, Bu Bos!"
Mas Arlan mengambil tas kerjanya, mengecup keningku sekilas. Kemudian, kami keluar dari kamar ini. Sebelum berlalu turun, Mas Arlan menyempatkan waktu untuk mampir ke dalam kamar Selli. Gadis itu masih kembali tertidur, mungkin masih kelelahan akibat tadi malam. Mas Arlan mengecup kening dan pipi milik Selli. Setelah itu, ia keluar lagi bersamaku. Kuantar, ia sampai bawah, bahkan sampai hilang didalam perjalanan menggunakan mobil merah milikku.
****
Selang beberapa saat kemudian, Selli sudah terbangun dari tidurnya. Ia menyusulku yang sedang bersantai bersama buku di balkon rumah ini. Tiba-tiba saja, ia berlaku manja seperti anak kecil terhadap sang ibu. Dan pada kenyataannya memang begitu. Lantas, tubuhnya yang mungil itu kuangkat pelan dan kududukkan di atas pangkuanku. Selli terdiam sembari mengusap perutku yang buncit.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok muram pagi-pagi, mandi gih. Mau Mama mandiin?"
__ADS_1
Selli menggeleng saja, kemudian meletakkan kepalanya pada badanku.
"Kenapa, Sayang? Kamu nggak enak badan?" Selli yang masih terdiam membuatku bertanya untuk kedua kalinya. Namun ia masih memilih diam. Jangan-jangan soal Nia? Jangan sampai!
"Mama Fanni ...." Akhirnya Selli menyebut namaku meski dengan nada yang sangat pelan. Karena jarak kami yang dekat, membuatku masih bisa mendengar ucapanya. "Maafin Selli ya, Ma? Selli udah tinggalin Mama Fanni dan Dede' bayi sendirian."
Oh, aku merasa terharu mendengar ucapan maaf darinya. Aku tersenyum, lalu menjawabnya lagi, "Nggak apa-apa, Sayang. Tadi malem sama Bi Onah kok."
"Bi Onah 'kan selalu di dapur, Ma. Terus pas pulang Selli lihat Mama Fanni tidur sendirian."
"Hmm ... ya udah, Mama maafin kok. Selli udah nggak punya salah berarti ya."
Cup! Kecupan manis didaratkan di pipiku olehnya. Tampaknya, pagi ini pipiku menjadi hidangan paling manis untuk Selli dan juga Mas Arlan. Yah, andai saja hal itu membuat kempis pipinya yang chubby ini. Namun, itu mustahil, yang ada malah semakin besar.
Aku memeluk tubuh Selli dan membuang bukuku begitu saja di lantai. Pandanganku terarah pada jalan beraspal dihadapanku yang menjadi jalan utama komplek perumahan ini. Udara pukul sembilan pagi sudah mulai panas, namun anginnya masih terasa segar tatkala dihirup oleh hidungku yang mancung. Hari yang indah dan cerah tanpa ada setetes pun air hujan. Semoga seperti hidupku dihari ini ataupun nanti.
"Mama Fanni, tadi malem Mama Nia marah-marah," celetuk Selli tiba-tiba. Ia membicarakan sang ibunda atas kejadian yang ia lihat tadi malam. Agak miris juga, inilah salah satu efek buruknya rencana itu untuk anakku.
"Marah-marah sama siapa, Sayang?" tanyaku masih berpura-pura tidak tahu.
"Sama kakak-kakak yang lewat, terus sama yang bawa sapu, terus sama Tante cantik."
Tante cantik? Mita, kah?
"Emangnya mereka ngapain sama Mama Nia? Selli tahu?"
Selli menggeleng. "Selli nggak tahu, Ma. Tapi kakak yang bawa sapu, dimarahin sama Mama Nia. Kasihan, Ma. Kakak itu nggak sengaja. Terus Selli malah dibentak sama Mama Nia. Selli takut."
Mendengar curahan hati Selli, membuat hatiku merasa iba sekaligu perih. Bahkan, ada rasa bersalah yang berselubung disana. Ini salahku, seharusnya aku tidak mengerjai Nia pada saat sedang bersama Selli. Namun, untuk saat ini aku belum bisa jujur sama sekali.
Kupeluk tubuh Selli lagi. "Sayang, kamu boleh takut. Tapi ... kamu nggak boleh benci sama Mama Nia ya? Dan jangan mau kalau diajak sama Mama Nia."
"Emangnya kenapa, Ma?"
"Mama Fanni dan Papa nggak mau pisah sama Selli. Selli wajib sayang sama orang tua, apalagi seorang ibu. Tapi, Selli belum tentu boleh mengikuti permintaan yang menurut Selli nggak bener ya?"
Selli mangut-manggut saja. Aku rasa, perkataanmu masih bisa dimengerti olehnya. Lalu, semua yang aku katakan bukanlah suatu kemunafikan belaka. Melainkan benar adanya, aku tidak ingin merusak hubungan anak dan ibu dengan cara menjerumuskan Selli pada hal yang mungkin bisa menyebabkan dirinya membenci sang ibu. Anak sekecil dirinya, harus diberikan sugesti positif supaya masa depan dan prinsip hidupnya selalu baik.
Sampai aku merasa jengah dan mengajak Selli untuk masuk ke dalam. Aku membujuknya untuk mandi. Bersyukur ia bersedia untuk menurutiku. Aku membawanya ke dalam kamar mandi di lantai satu. Sesampainya disana, Bi Onah masih asyik dengan bahan makanan yang ada dihadapan beliau. Sedangkan diriku mengambil langkah untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sepert biasa, aku hanya mengawasi serta memberikan intruksi. Sesekali aku membantu Selli dalam bebersih diri.
Pukul sepuluh siang nanti, Ibu Guru yang membimbing Selli melalui home schooling akan datang. Disitu, aku memiliki waktu untuk merebahkan diriku sesuai intruksi dari Mas Arlan.
Bersambung ...
Please like+komen
Hai gays. enaknya si nia diapain lagi ya? hehe. aq masih memikirkan cara nih. blum dpet hehe.
Terima kasih kuhaturkan kepada para pemberi poin. Bahkan tanpa diminta sekalipun. Tapi aku memelas bgt kalau buat like dan komennya. Kenapa? Karna aku merasa belum seimbang sama jumlah view, sedih. Dan kalau komen, bisa banget bantu aku buat lebih baik lagi dan juga komen terbaik pasti bisa menumbuhkan sebuah gagasan alias ide.
Tapi, aku nggak mau memaksa buat semua keinginanku sama kalian kok. Cuma pasti tahulah, tata krama yang baik dalam membaca sebuah novel. Kami para penulis memiliki catatan pembaca stiap harinya, jadi kami tahu, kok jauh banget sama jumlah like. It's ok. nggak apa-apa, kalian mau baca aku udah seneng hehe.
Maaf ya guys, jadi curcol.
Terima kasih.
__ADS_1
Vhy'dheavy