Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Desakan


__ADS_3

****


"Jadi, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan itu?"


Desir jantung mulai tak menentu. Pertanyaan Riska sedikit membuatku merinding. Ya! Sepulang kerja hari ini, kami bertemu. Bahkan Ivan datang untuk menjemputku beberapa saat yang lalu. Namun, aku menolak untuk bersama.


Aku dan Ivan datang ke tempat yang dijanjikan bersama namun dengan mobil yang berbeda. Tentu saja, aku tidak rela jika si merah ditinggalkan di gedung kantorku begitu saja.


Tidak disangka juga. Baru datang, Riska sudah menodongku dengan pertanyaan mengenai perihal hubunganku dengan Mas Arlan. Serasa mati kutu disini, tengkukku saja terasa kaku tanpa bisa digerakkan. Aku sangat gugup.


Untuk sekedar menatap wajah wanita cantik itu saja, aku tidak mampu. Riska sangat cantik dan elegan. Membuat nyaliku ciut, aku terlihat bagaikan sepotong kuku hitam jika dibandingkan dengan Riska.


"Nona Fanni? Anda tidak apa-apa?" tanya Riska lagi sesaat setelah ia meneguk kopi dengan gaya begitu elegan.


"Ehh... emm... a-anu, be-belum lama ini Nona," jawabku gugup sekali.


"Hmm... rileks saja, saya bukan hantu. Lalu panggil saya Riska saja."


Aku terkesiap dengan permintaan Riska. Apa yang mengubah hatinya, sampai ia mengizinkanku untuk memanggil tanpa embel-embel kehormatan. "Tidak harus begitu Nona, saya masih pegawai bawah."


"Tidak. Sekarang situasi sudah berubah, Nona Fanni adalah kekasih dari paman saya. Mungkin sebentar lagi anda menjadi Tante atau Bibi saya."


Deg!


Jantungku berdebar sangat kencang. Sedangkan benakku penuh tanda tanya. Mataku terbelalak lebar, menatap heran pada diri Riska. Apa maksud perkataannya yang sebenarnya? Mungkinkah ia menerimaku?


Ahh... jangan percaya diri dulu. Mana mungkin semudah itu.


"Kalau begitu anda memanggil saya dengan Fanni juga," kataku pelan dan tentunya sangat hati-hati.


"Tidak! Emm... bagaimana kalau Kak Fanni? Saya lebih muda dari anda." tanya Riska padaku.


"Ehh... a-anu boleh deh Ri-riska."


"Oke kalau begitu, tolong dijawab pertanyaan saya Kak Fanni."


Kutelan salivaku dengan ngilu. Haruskah aku melewati pertemuan ini? Ataukah kabur saja dari semua ini?


Aku sangat gugup. Belum lagi semakin lama, nyaliku semakin menciut. Aku selalu salah tingkah sendiri. Berbeda sekali dengan Riska yang sangat tenang dalam menghadapiku.


Sedang Riska terus mendesakku dengan pandangan tajam. Sepertinya, ia ingin dan perlu sekali untuk tau tentang hubunganku dengan Mas Arlan.


"Belum lama kok," jawabku kemudian.


"Bagaimana prosesnya?" tanya Riska lagi.


"Sangat panjang."


"Oh ya?"


"I-iya."


"Hmmm..."


"...."


Akhirnya Riska mengalihkan pandangannya jauh keluar. Membuatku bisa sedikit bernapas lega. Ingin sekali meninggalkan pertemuan ini. Karena rasa khawatir masih saja ada.


Namun, aku berusaha untuk tidak menjadi manusia yang pengecut. Aku harus memberanikan diri apapun hasilnya. Apalagi Mas Arlan sudah banyak berjuang untukku. Sangat tidak sopan, jika aku hanya berdiam diri.


Lagipula, mau menyesal bagaimanapun. Aku sudah tidak bisa keluar dari lingkaran asmara antara diriku dan Mas Arlan. Yang aku maksud menyesal disini adalah karena kenyataan yang mengungkap bahwa Mas Arlan memang bukan orang sembarangan.


Sebenarnya, selama ini aku sangat menghindari berhubungan dengan orang-orang sepertinya. Namun, takdir berkata lain. Aku malah terjerat cinta dengan Mas Arlan lalu terjerat pertemanan dengan Celvin yang kaya raya.


Memang sih, kadang kala manusia bisa berjalan melawan rencana. Karena takdir Tuhan kedepannya tidak ada yang tau.


"Kak Fanni?" ujar Riska lagi.


"Iya," jawabku.


"Anda tau? Soal masa lalu dari Om Arlan?"


"Tidak semua, hanya sedikit."


"Mungkin alasan Tante Nia juga tau kan?"


"Tidak tau tentang itu."


"Baiklah saya jelaskan. Kak Fanni, Om Arlan pernah hancur, sehancur-hancurnya karena wanita gila uang itu."


"Iyakah?"


"Iya, setelah itu pembocoran rahasia keluarga kami juga ulah Tante Nia. Lalu penurunan usaha perusahaan kami sangat dratis."


"Saya sedikit mendengar tentang itu."


"Dari Celvin?"


"Bukan."


"Lantas dari siapa? Om Arlan?"


"I-iya."


"Sudahlah, tenangin hati Kakak dulu. Silahkan diminum hidangannya."


Sepertinya warna mukaku yang kaku tertangkap oleh Riska. Sejak tadi, aku memang lebih sering menunduk. Bertatap mata dengan Riska, hanya di beberapa momen terkejut saja.


Sesuai perintahnya, aku meneguk hidangan secangkir coffe latte yang telah dipesankan. Setelah itu kuhela napas dalam supaya lebih tenang. Semua penjelasan Riska sama seperti yang aku dengar dari Nike.


Aku mempersiapkan hati lagi untuk menghadapi pertanyaan lebih lanjut. Sebuah interogasi dari salah satu anggota keluarga kekasihku. Mungkin mudah bagi mereka, tapi untukku ini sangat sulit. Seperti menghadapi sebuah persidangan tentang hukuman mati saja.


"Lantas apa hubungan Kakak Fanni dengan Celvin?" tanya Riska lagi.


"Hanya atasan dan bawahan saja," jawabku sekenanya.

__ADS_1


"Iyakah? Tapi kalian terlihat akrab lho."


"Kami hanya berteman biasa diluar pekerjaan."


"Hmm... sulit dipercaya."


"Kenapa sulit? Apa yang salah jika saya berteman dengan atasan sendiri?


Oopppss... akhirnya aku kelepasan juga. Hatiku sedikit tersinggung mendengar perkataan Riska. Maksud yang aku tangkap darinya seperti merendahkan diriku. Bagaimanapun itu, aku tetap kesal.


Walau aku menyadari bahwa diriku memang tidak pantas berbaur dengan Celvin. Apalah diriku yang hanya orang biasa.


Sedangkan kulihat, Riska hanya tersenyum simpul. Seolah menganggap responku seperti hal sepele. Padahal jika diperdalam, bisa mengiris hati. Ada kekhawatiran tersendiri, aku takut hal ini berpengaruh buruk pada hubunganku dengan Mas Arlan.


Bagaimana jika kami harus putus? Mana mungkin aku sanggup melepas Mas Arlan begitu saja.


"Hehe," tawa kecil Riska.


"Ada apa?" tanyaku.


"Tidak apa-apa. Jangan tersinggung, saya tidak bermaksud buruk kok."


"Lalu?"


"Celvin bukan orang baik, jadi saya sedikit heran saja dengan hubungan baik yang kalian jalin. Apalagi di meeting kemarin, dia sempat membela Kakak Fanni."


"Celvin yang sekarang tidak seperti yang anda pikirkan."


"Benarkah? Sepertinya anda juga tau mengenai masalah kami dan kasus masa lalu beliau."


"Saya tau dan saya paham. Sebagai sesama manusia, tidaklah pantas mendakwa orang lain. Tanpa tau apa yang telah orang itu sesali selama ini. Karna manusia bisa berubah kapanpun, karna Tuhan selalu memberikan jalan untuk bertaubat kearah yang lebih baik."


Setelah mengatakan itu, aku bernapas dengan terengah-engah. Seolah aku telah berlari jauh dan kencang. Padahal hanya mengeluarkan beberapa kata guna menjelaskan saja.


Rasanya tidak rela saja, jika Riska menuduh yang tidak-tidak lagi pada Celvin. Aku tidak tau pasti alasan apa yang membuatku berlaku seperti ini. Namun, jika mengingat kembali semua penyesalan yang telah dilalui Celvin selama ini, rasanya iba sekali.


Akupun sempat membenci Celvin. Karena ia telah membuka luka lamaku mengenai kasus pembullyan yang aku alami. Namun, tidaklah benar jika aku ataupun orang lain terus menyalahkan Celvin pada insiden yang tidak pernah aku saksikan itu.


Sedangkan Riska begitu terpana melihatku. Ia terkesiap mendengar penuturan atas pembelaanku pada Celvin. Entahlah, apa yang dipikirkannya saat ini. Bisa jadi, ia berpikir yang tidak-tidak seperti Mas Arlan.


Aaahhh... ada-ada saja!


"Ja-jadi kalian sudah sedekat itu ya?" tanya Riska padaku.


"Dekat yang bagaimana ya?" tanyaku kembali.


"Entahlah, saya juga tidak tau yang bagaimana."


"Maaf, sekali lagi kami hanya atasan dan bawahan. Diluar itu hanya berteman biasa. Saya sendiripun masih heran, kenapa Pak Celvin mau menjalin pertemanan dengan orang seperti saya. Padahal beliau sangat dingin dan menutup diri dari orang lain. Terlebih wanita. I-itu sih yang saya tau selama ini."


"Dingin sama orang lain?"


"Iya. Yang saya tau beliau tidak bisa melupakan seseorang."


"Benar, saya tidak terlalu tau mengenai orang itu. Tapi, kenapa anda bertanya soal seperti itu?"


"Ti-tidak kok lupakan saja."


Wow... respon dari Riska yang tidak aku duga. Sikap elegannya seolah hilang. Lucu juga. Aku bisa sedikit mengerjai Riska dan menunda pertanyaannya lebih lanjut mengenai hubunganku dengan Mas Arlan.


Aku juga sengaja berbohong karena tidak ingin ikut campur. Tidak disangka ada sebuah senyum manis yang Riska pasang terhias diwajahnya. Sehingga ia terlihat semakin cantik. Tidak menegangkan lagi seperti awal pertemuan ini.


"Nona Riska?" tanyaku.


"Emm..."


"Anda tidak apa-apa?"


"Ehh... tidak kok, saya tidak apa-apa. Maaf Kak Fanni, tapi bisakah memanggil saya dengan sebutan nama saja? Seperti kesepakatan awal."


"Maaf saya belum terbiasa."


"Baiklah, pelan-pelan saja. Jadi mengenai hubungan kakak dengan Om saya bagaimana tadi?"


"Kami saling mencintai!"


Aku menegaskan diri. Tentu saja dengan segala keberanian. Dan juga suara yang lantang untuk melawan kegugupanku.


Untuk beberapa saat Riska hanya diam membisu. Sepertinya ia sedikit terkejut dengan ucapanku. Setelah itu, ia meneguk lagi kopi miliknya.


Sengaja kukatakan itu agar hubunganku dan Mas Arlan terkesan kuat. Tidak ada yang memisahkan kami, satu orangpun. Semua kulakukan untuk membalas perjuangan Mas Arlan menghadapi Ibuku selama ini.


Toh, aku ataupun Mas Arlan memang sudah menyatu.


"Sepertinya Kak Fanni sangat percaya diri ya?" lanjut Riska.


"Tidak bolehkah?" jawabku yang mulai hanyut dalam perbincangan ini.


"Boleh saja, tapi masih banyak poin yang perlu Kak Fanni hadapi."


"Poin? Poin soal apa?"


"Emm... maaf sebelumnya. Tapi masuk kedalam keluarga kami bukanlah hal yang mudah, meski nenek saya yang juga Ibu dari Mas Arlan sudah menua. Namun, beberapa aturan dikeluarga masih berlaku dengan kepala keluarga Ayah saya."


"Aturan?"


"Iya."


Hanya bisa kutelan ngilu salivaku mendengar itu. Seperti yang aku duga sejak awal. Masuk kedalam keluarga kaya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.


Bergidik ngeri saja, jika membayangkan kehidupan mereka.


"Terlebih untuk Om Arlan," ujar Riska.


"Kenapa dengan beliau?" tanyaku

__ADS_1


"Karena ulah mantan istrinya, Om Arlan sangat ditekankan untuk mencari calon istri secara selektif oleh keluarga kami. Kami tidak ingin lagi penurunan perusahaan atau pengkhianatan terjadi lagi."


"Tapi soal hubungan kerjasama anda dengan Pak Celvin, bagaimana?"


"Hmmm... saat ini saya sedang dihukum. Ada banyak pertimbangan lagi, untuk menarik diri dari perusahaan Sanjaya."


"Rumit sekali."


"Begitulah."


"Lalu, apa Nona Riska tidak ingin kembali berhubungan baik dengan Pak Celvin?"


"Maksudnya?"


"Ehh... emm... maksud saya, hubungan kerjasama antara kalian."


"Oh..."


Duhh... hampir saja, aku keceplosan. Sok ikut campur tentang masalah percintaan mereka. Padahal aku sendiri tengah bingung.


Waktu semakin sore, entah berapa lama hitungan perbincangan kami berlangsung. Aku tidak menyadari waktu karena terlalu tegang dan fokus.


Namun, yang berubah adalah sikap Riska. Ia terlihat semakin luwes dan terbuka padaku. Membuatku perlahan tenang juga. Aku menjadi ingat tentang ucapan Celvin saat dulu. Seperti yang Celvin katakan, Riska sangat ramah dan ceria.


Aku rasa memang benar. Mau disembunyikan bagaimanapun. Sifat tetaplah sifat. Riska masih manusia biasa. Ada untungnya juga bagiku. Setidaknya aku bisa mematahkan satu hati dari kerabat kekasihku.


Tentang pertemuan ini pun, Mas Arlan belum tau. Aku khawatir ia menyusul dan malah membuat semua semakin rumit. Jadi aku masih menyembunyikannya dari Mas Arlan. Mungkin nanti jika membuahkan hasil baik, aku akan bercerita padanya.


"Kakak Fanni?"


"Iya?"


"Apakah benar anda mencintai Om Arlan tulus dari hati? Maaf sebelumnya, tapi bukan karena uang kan?"


"Benar, bahkan saya baru tau tentang identitas Mas Arlan baru-baru ini."


"Benarkah? Kok bisa?"


"Mas Arlan selalu menyembunyikannya dengan baik."


"Yah, tidak heran juga tentang itu. Tapi apa Kakak Fanni bisa berjuang sekali lagi."


"Berjuang yang bagaimana?"


Riska belum menjawabku. Ia kembali menatapku dengan gusar. Membuatku sedikit curiga padanya. Aku takut jika hal yang tidak wajar, yang harus aku lakukan.


"Kak Fanni sudah tau Tante Nia?" tanya Riska yang tiba-tiba menanyakan wanita itu. Sehingga membuatku semakin khawatir saja.


"Pernah, sekali saja," jawabku.


"Menurut Kakak, beliau bagaimana?"


"Mungkin, emm... cantik. Untuk sifatnya saya tidak tau, karna tidak mengenal beliau."


"Cantik kan? Poin ini."


"Maksudnya?"


"Kak Fanni ini blasteran dari Indo dan negara mana ya?"


"Belanda."


"Cantik, mata biru seperti berlian. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Maaf, sebelumnya. Bisakah menurunkan berat badannya sedikit lebih baik?"


Deg!


Benarkan? Pasti tentang ini. Apa yang harus aku lakukan. Sakit sekali hatiku mendengarnya. Secara tidak langsung Riska membandingkan diriku dengan Nia, mantan istri kekasihku.


Jika, hal itu mudah. Pasti aku akan langsung bersedia. Lalu berjuang keras untuk berdiet. Namun, aku sudah memiliki pengalaman pahit tentang ini. Bagaimana jadinya jika aku sakit lagi? Lalu, jika Ibuku tau aku diet karena desakan keluarga Mas Arlan. Uhh... sulit sekali. Pasti Ibuku akan semakin membenci Mas Arlan. Dan semua usaha Mas Arlan akan sia-sia.


"Maaf itu tidak bisa," tolakku.


"Lho? Kenapa? Kan bisa atur pola makan lebih sehat," ujar Riska.


"Jika itu mudah pasti akan saya lakukan hal tersebut dari dulu."


"Saya akan bantu Kak Fanni menjalani program diet itu."


"Nggak!"


"Kenapa? Bukannya Kak Fanni cinta sama Om Arlan?"


"Iya, tapi Mas Arlan tidak pernah menginginkan saya kurus kok."


"Terus? Kak Fanni tetap diam saja? Lalu jika kalian dicibir orang lain, terutama Tante Nia bagaimana?"


"Sudah cukup, tolong jangan desak saya. Asal anda tau saya hampir mati, karena memaksakan diri ingin kurus. Heran ya, kenapa orang-orang kaya selalu melihat orang lain dari penampilan saja. Tidakkah cukup pengalaman pahit yang Mas Arlan alami, ketika bersama wanita cantik? Memangnya tidak cukup, untuk melihat kami menjalin keluarga dengan kekurangan masing-masing, asal kami bahagia?"


"Bu-bukan gitu maksud saya, Kak. Tapi kan semua tidak mustahil jika berusaha dengan benar. Saya akan bantu."


"Maaf Nona Riska, sepertinya saya harus pulang."


Aku beranjak dari kursi yang aku duduki sejak tadi. Meninggalkan Riska sendiri di ruangan VIP ini. Dengan membawa sejumlah rasa sakit karena hujaman peluru yang tiba-tiba datang. Meski, aku sudah memperkirakan semua ini. Namun tetap saja aku sakit hati.


Saat kutatap Ivan, aku melengos saja dan melewatinya penuh rasa kesal. Mungkin Ivan hanya memandang kepergianku dengan bingung penuh terka.


Bersambung...


Budayakan like+ komen...


Komen like yang banyak, biar besok lebih dari satu bab upnya.

__ADS_1


__ADS_2