Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kebimbangan Hati


__ADS_3

Sepertinya memang butuh waktu panjang untuk Mas Arlan kembali seperti sedia kala. Memang benar, ia telah mengangkat nama baiknya. Namun pada kenyataannya respon keluarganya masih sama terhadap dirinya, bahkan Riska. Pasti Mas Arlan merasa sedih lantaran mempermalukan keluarganya sendiri dihadapan Pak Ruddy--pemilik Sanjaya Group. Aku mengerti, namun akal sehatku tetap masih berjalan. Aku rasa, Mas Gunawan sama terguncangnya dan masih bingung akan berbuat apa. Ya, aku tidak mau berpraduga tidak-tidak terlebih dahulu.


Mas Arlan hanya menjemput kepulanganku dari kantor Sanjaya untuk terakhir pekerjaanku. Mengecup pipi dan keningku seperti biasanya, atau membelai anak didalam kandunganku. Namun, ia masih memilih diam tidak banyak berbicara. Sudah terhitung tiga hari mulai dari kejadian waktu itu. Ia banyak menghabiskan sisa waktu dari kantor, di meja kerjanya yang terletak disudut kamar ini. Aku sudah bosan dibiarkan, namun tidak berani berbuat apa-apa. Hanya saja, rasanya ingin menangis. Apalagi dalam keadaan bunting seperti ini.


Akhirnya aku memutuskan menuju kamar putri kecilku. Daripada merasa kesal sendiri, lebih baik memang begitu. Lagipula beberapa hari ini, aku belum sempat memberikan perhatian yang banyak untuk Selli. Mungkin malam ini adalah waktu untuk membayarnya. Ya, dengan meninggalkan suamiku seorang diri di kamar ini, aku keluar begitu saja tanpa pamit. Dengan hati-hati, aku menutup pintu yang telah aku buka. Kemudian berjalan cepat menuju kamar Selli. Semoga gadis kecil itu belum menidurkan matanya.


"Selli, Sayang." Seperti biasa, aku memanggil namanya terlebih dahulu.


"Iya, Mama." Ia pun menjawab dari dalam kamarnya.


"Boleh Mama masuk, Nak?"


"Boleh, Ma."


Pada saat aku hendak membuka pintu, Bi Onah membukanya dari dalam. Ternyata beliau sedang menemani Selli. Beliau menyunggingkan senyuman untukku sembari berkata, "mau masuk ya, Mbak? Saya permisi dulu."


"Nggak apa-apa, disini dulu, Bi. Kalau belum ngantuk."


"Hehe ... dapur belum beres, Mbak."


"Oh ... yaudah kalau gitu, Bi. Fanni mau masuk dulu."


"Mbak Fanni nggak butuh sesuatu?"


"Nggak, Bi. Tadi Fanni udah minum susu kok. Udah semua pokoknya. Makasih, Bi."


"Sama-sama, Mbak. Saya permisi dulu."


Bi Onah berlalu, beliau akan turun ke lantai satu. Lantas, aku masuk ke dalam kamar putri kecilku. Aku tersenyum pada saat ia datang menghampiriku dan memeluk diriku yang sudah terduduk. Rasanya sangat rindu, seolah sudah lama tidak bertemu. Mungkin seperti inilah perasaan para ibu-ibu, sehari tidak bertemu dengan sang putri rasanya seperti setahun. Apa aku berlebihan? Aku rasa tidak. Aku sedang menikmati rasanya sebagai orang tua, bahkan akan memiliki anak kedua.


Aku dan Selli duduk diatas ranjang. Si gadis kecil itu, kini sedang memainkan pensil warna diatas kertas gambar. Ia telah menggambar seperti potret keluarga lagi seperti dulu kala. Seorang ayah, ibu, dan dua anak kecil. Namun disisi kiri ada satu sosok lagi.


"Kamu lagi gambar siapa, Sayang? Boleh jelasin ke Mama?" tanyaku sembari menunjuk pada gambar-gambarnya itu.


Jari-jari kecil milik Selli mulai dimainkan, ia melepas pensil warna yang tadi ia pegang. "Ini Papa, Mama Fanni, Selli sama calon dede bayi," jelasnya membuatku tertegun sebentar. Namun senang kemudian.


"Tapi, yang satu siapa doang? Nenek?"


Selli menggelengkan kepala. "Mama Nia."


Deg! Nia?


Baiklah, aku memang tidak boleh egois. Mau bagaimanapun Nia tetap ibu kandung yang melahirkan Selli. Mungkin ia tengah merindukannya, aku tidak boleh menduga yang tidak-tidak. Walau aku akui, rasanya sesak sekali pada perasaanku. Hanya bisa memberikan senyuman yang terkesan memaksa melalui bibirku. Beruntungnya, Selli masih sekecil ini, jadi ia belum mampu menangkap tentang perasaanku.


Uh ... sepertinya aku dan anakku sedang diuji. Kata Dokter, aku tidak boleh mempunyai beban pikiran. Sehingga hanya bisa berusaha membuang perasaan tak menentu ini. Selain tidak boleh egois, aku juga tidak memiliki hak untuk mengatur hidup Selli dalam hubungannya dengan Nia. Dan sialnya, harus ditambah dengan nyeri pinggang yang datang menghampiri. Suhu AC yang dingin bahkan tidak kurasakan, hawanya seperti panas sekali.


"Mama, Mama." Selli memanggilku sembari menatap perutku yang memang buncit ini. Kemudian ia mengusap halus diatasnya.


"Ya, Sayang. Ada apa?" Aku menjawab sekaligus menanyakan maksudnya sembari membalas usapannya di kepalanya.


"Kata Bibi, disini ada adik Selli ya, Ma?"


Aku mengangguk pelan sembari tersenyum. "Iya, Sayang. Sebentar lagi kamu akan punya adik kecil. Selli seneng nggak?"


"Iya, Ma. Selli seneng banget. Tapi, Selli maunya adik perempuan."


"Kenapa gitu?"

__ADS_1


"Biar ada yang diajak main boneka, Ma. Kalau adik laki-laki biasanya nakal, Ma. Selli nggak mau."


"Amin. Semoga permintaan Selli terkabul ya. Tapi, Mama mau ingetin sama Selli. Mau adik perempuan mau adik laki-laki, itu sama aja, Sayang. Yang penting Selli sebagai seorang kakak harus bisa menjaga dan mengajari adiknya nanti. Uh ... sini Mama peluk, Mama kangen sama Selli."


Selli menerima rengkuhanku dengan tersenyum. Namun ia terbilang cukup peka. Meski masih kecil, Selli sangat berhati-hati dalam memeluk atau menerima pelukanku. Aku bersyukur, ia bisa menyayangi diriku dan anakku meski masih didalam kandungan. Ya, aku tidak boleh merasa kesal lantaran ia mengingat sosok ibu kandungnya. Aku tidak boleh cemburu, toh aku disini yang selalu bersamanya.


Hanya saja, aku sedikit khawatir. Bagaimana bisa Selli tiba-tiba mengingat sosok Nia? Padahal selama ini ia tidak pernah membuka suara tentang Nia lagi. Aku sangat berharap itu hanya kepingan kerinduan terhadap sang ibu kandung dan bukan kehadirannya. Terlebih Nia sempat mengancam akan mengambil Selli, hal ini yang membuatku sedikit menaruh curiga.


Lalu, aku melepaskan pelukanku dari Selli. "Kamu belum ngantuk, Sayang? Udah jam setengah sembilan malam lho?" tanyaku kemudian.


"Mama mau temenin Selli nggak? Selli pengen tidur sama Mama dan adik bayi yang ada di perut Mama."


"Boleh, udah cuci muka, tangan dan kaki? Udah sikat gigi?"


Ia menggelengkan kepalanya. "Belum, Ma."


"Yuk, sekarang."


"Iya, Ma."


Setelah itu, kami beranjak turun. Kami mengambil langkah keluar dan menuju kamar mandi terdekat di lantai dua ini. Disela-sela langkahku, aku menyempatkan diri menatap pintu kamarku dan Mas Arlan yang masih tertutup. Seolah Mas Arlan tidak keluar dari kamar itu, barang sekali saja. Aku menghela napasku dengan berat, lalu menghembuskannya kembali. Aku menghadap ke depan dan melanjutkan langkahku.


Apa harus selama ini, ia merasa bersedih? Apa aku tidak boleh mengganggunya walau sekali saja? Aku rindu kepadanya. Ah ... lupakan, aku harus tetap berpikir positif dan mendukung Mas Arlan. Lagipula, ia selalu disisiku selain dalam pekerjaan. Sesampainya di kamar mandi, aku membimbing Selli melakukan ritual sebelum tidur itu. Hanya sekedar membantu, bukan turun tangan. Ia harus terbiasa, bukan? Beruntungnya anak gadisku itu memang sangat pintar. Tak perlu waktu lama dalam belajar. Kami bersama-sama namun dengan gerak tangan masing-masing.


Selepas itu, aku dan Selli keluar dari kamar mandi. Mengambil langkah lagi menuju kamarnya yang imut. Kami berbaring berdampingan, aku membelai wajahnya yang terhias mata, hidung dan bibir yang cantik. Perlahan, ia terpejam karena rasa kantuk. Sampai akhirnya aku ikut terbawa ke dalam mimpi malam ini.


****


"Sayang ...? Dek ...? Bangun ... balik ke kamar yuk." Suara Mas Arlan terdengar samar di telingaku. Perlahan kubuka kedua mataku. Pandanganku masih buram, namun tampak wajah tak asing dihadapanku. Selanjutnya aku mengusap-usap mataku dan sekarang jelas itu adalah wajah suamiku. Aku berusaha membangunkan diriku.


Cup! Tanpa mau menjawab pertanyaanku, Mas Arlan memberikan kecupan manis di dahiku. Aku sedikit heran dibuatnya, tentunya dalam kondisi yang belum sepenuhnya sadar seperti ini. "Ayo pindah ke kamar kita, Dek. Biar Mas yang jagain kamu."


Benar juga sedari tadi, aku memang tidur di kamar ini. Karena permintaan Selli dan tanpa aku sadari aku sudah terlelap beberapa jam. Namun aku sudah berjanji kepada Selli, sekaligus masih enggan untuk mengganggu Mas Arlan.


"Aku tidur disini aja, Mas."


"Lho? Kamu kan lagi hamil, Sayang? Biar Mas yang jagain. Nanti Mas malah enggak tenang kalau pisah."


"Halah."


"Kenapa sih?"


"Udah balik aja, aku ngantuk. Aku nggak apa-apa, belum ada keluhan."


"Tetep aja, Mas khawatir. Harus balik, titik! Kalau kamu belum mengandung, Mas juga izinin kapan aja tidur disini."


Raut wajahnya sangat tegas sampai aku tidak bisa menolaknya lagi. Lalu dengan malas, aku beranjak turun dari ranjang ini. Mas Arlan meraih tanganku, namun kutepis seketika. Khawatir katanya? Padahal ia terkesan dingin belakangan ini. Dan sekarang ia hendak memarahiku? Tentu saja, aku sangat kesal. Tak kupedulikan dirinya, dan aku terus melangkah didepan menuju kamar kami.


Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan diri dibagian ranjangku. Memposisikan diri dengan membelakanginya. Entah karena khawatir atau apa, aku tetap kesal. Bahkan rasanya ingin menangis. Rasa kantukku hilang seketika.


Gue kenapa lagi sih?


Tak lama kemudian, aku menyadari bahwa Mas Arlan sedang mendekatkan diri kepadaku. Aku berpura-pura tidur sembari mengawasi.


"Udah tidur lagi, Dek?"


"...."

__ADS_1


"Belum, kan? Kamu kenapa sih, Sayang? Maaf tadi Mas agak galak, Mas kan cuma khawatir."


"...."


"Kalau belum tidur, jawab dong, Sayang?"


"Aku nggak apa-apa."


"Katanya kalau cewek bilang nggak apa-apa itu tandanya ada apa-apa lho. Coba lihat sini, Mas pengen lihat wajah kamu."


"Nggak mau!"


Mas Arlan terdengar menghela napas dan menghembuskannya kembali. Sedangkan diriku masih bersikukuh seperti ini. Bahkan aku sudah menitikkan air mataku lantaran kekesalan hatiku. Maafkan diri ini jika terlalu berlebihan. Hanya saja, aku sudah berusaha mengerti dirinya sampai setelah hari pengungkapan itu. Aku tidak menanyakan hal diluar kewajaran, selain tentang keperluannya saja.


Namun apa yang Mas Arlan lakukan sekarang? Seolah tidak menyadari semuanya, atau memang tidak menyadarinya? Sebagai ibu yang sedang mengandung anaknya, tentu saja aku ingin diperhatikan seperti pertama kali ia mendengar kabar baik ini. Tidak membawa diriku dan anakku ke dalam masalah lain, sampai kami diabaikan begitu saja. Jika ia tidak memaksaku untuk kembali ke kamar ini, pasti aku masih tidur nyenyak bersama Selli. Ia sangat tidak peka kali ini.


"Kamu nangis, Dek?"


"Pake nanya lagi! Nggak!"


"Kenapa sih, Dek? Ngomong sama Mas, Sayang." Mas Arlan meminta diriku seperti itu sembari memeluk erat diriku dengan posisi yang sama. Aku masih tetap membelakanginya. "Mas minta maaf, Sayang. Mungkin Mas terlalu keras atau cuek akhir-akhir ini."


Nah, baru peka nih orang.


Tangan Mas Arlan tidak berhenti mengusap calon anak kami. Hanya jam dinding yang menyuarakan detik-detik yang berjalan melalui jarum-jarumnya. AC begitu dingin menembus kulit dan lemakku, namun aku masih enggan untuk menarik selimut atau meraih remote benda tersebut. Ya, aku bertahan seperti ini, bahkan tidak menjawab perkataan suamiku. Air mataku sudah mengering, tepatnya pada saat Mas Arlan mengakui kesalahannya itu.


"Kamu belum tidur kan, Dek?" tanya Mas Arlan, mungkin untuk memastikan keadaan mataku.


"Belum, Mas," jawabku sembari berusaha membuang sisa-sisa rasa kesalku.


"Lihat sini dong, Sayang. Kamu jangan marah lagi, Mas minta maaf ya?"


Aku menghela napas dan menghembuskannya kembali untuk lebih membuat hati dan otakku menjadi tenang. Kemudian, aku mulai bergerak untuk menghadap Mas Arlan. Setelahnya, ia membelai wajahku perlahan. Tak lama kemudian, ia mendaratkan kecupan sekilas di bibirku. Aku rasa, Mas Arlan sudah kembali pada dirinya sendiri.


"Kamu kenapa, Mas? Belum lega? Sampai aku, Selli dan anakku didalam kandunganku nggak diperhatiin."


"Maaf, Mas masih galau, Dek. Belum lagi kepikiran soal Mama Darsi. Udah setahun Sayang, gimana kondisi Mama? Apakah baik-baik aja?"


Benar juga, Mas Arlan sudaj selama itu tidak bertemu sang ibu sekaligus ibu mertuaku. Hal ini membuatku sedikit merasa bersalah lantaran sempat kesal dan marah terhadapnya. "Kenapa kamu nggak pulang, Mas? Masih takut sama kakak kamu?"


Mas Arlan menggeleng. "Nggak takut soal itu. Cuma Mas belum mau aja. Mas Gun belum ngasih respon yang sesuai harapan. Mas takut kami bertengkar tepatnya dihadapan Mama yang udah sepuh."


"Hmm ... kamu nggak dapet kabar sedikitpun?"


"Ada, dari Riska yang sempet mampir sebentar. Mama udah lumpuh, Dek. Nggak bisa jalan lagi."


"Ya Allah!" Aku terpekik dibuatnya. Bagaimana tidak? Kondisi ibu mertuaku sepertinya sudah tidak baik. Memang sangat wajar lantaran sudah berusia senja. Bahkan sebelum kami menikah, beliau sudah kesulitan berjalan. Lalu aku memeluk suamiku untuk memberikan dukungan untuknya. "Mas, ayo kita pulang. Walaupun sebentar, seenggaknya kita bisa pastikan kalau Mama baik-baik aja, Mas."


"Kalau masih ditolak gimana, Dek?"


"Abaikan, Mas. Yang terpenting itu Mama. Siapa tahu, setelah mendengar kabar kehamilanku, Mama bisa lebih baik lagi."


Mas Arlan semakin merekatkan pelukannya terhadap diriku. Aku rasa ia tengah menimang-nimang atas saranku tersebut. Terbukti, saat ia berdeham beberapa kali. Aku pikir, Mas Arlan bimbang karena respon Mas Gunawan dan keluarga besar. Ternyata soal sang ibu.


Maafkan aku, Mas. Aku masih egois.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2