
Tiga hari berlalu selepas kepergian ibunda kandung dari Selli, yaitu Nia. Ucapan Nia tentang masa lalu dan penyesalannya, masih terngiang-ngiang di telinga. Kunjungannya dari kesepakatan kami masih menjadi rahasia diantara orang-orang yang berada didalam rumah ini termasuk Selli, namun kecuali Mas Arlan. Aku tidak tahu, sudahkah ia berangkat ke luar negeri yang tidak aku ketahui tempatnya atau belum. Hidayah itu sudah datang di hatinya, aku berharap akan ada kehidupan yang lebih baik untuknya.
Nia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya dimasa lalu. Dua kali bercerai, terpisah dengan anak kandungnya. Disaat-saat kesendirian itu, ia baru mendapatkan pemikiran yang sehat. Meski ia sempat melakukan hal yang salah. Aku bisa mengerti akan hal itu. Perubahan seseorang pasti memerlukan waktu yang tidak singkat, semua berproses dan pelan-pelan. Ia bisa berubah dan mundur saja, sudah cukup, bahkan sangat cukup. Aku sendiri masih menyimpan rasa bersalah atas perbuatan burukku bersama Mita untuk dirinya. Mungkin jika ada kesempatan lagi, aku akan berkata jujur dan meminta maaf.
Disini, aku termenung bersama segelas susu hangat. Tepatnya di balkon rumah yang menghadap ke arah jalan. Pagi hari ditanggal merah yang menenangkan, meski hiruk pikuk para tetangga terlihat dibeberapa titik jalan. Sedangkan Mas Arlan dan Selli masih tertidur bersama dengan pulas di kamar kami, selepas subuh tadi. Aku memberinya kesempatan untuk beristirahat dari rutinitas pekerjaannya setiap hari. Terlebih, ia memiliki tugas untuk mencari keberadaan Ibu Leny dan William yang belum diketahui.
Terlepas dari semua masalah yang terjadi, kini hatiku menjadi lebih tenang. Meski masih ada sisi keprihatinan atas penyakit yang menimpa Nyonya Dahlia. Untuk itu, do'aku selalu terucap untuk kesembuhan beliau. Tidak ada lagi dendam dan kebencian di hatiku. Keikhlasan membuatku lebih bahagia, daripada larut dalam emosi yang tidak baik. Memberikan dorongan baik pula pada janinku. Bolehkah sedikit berbangga? Ya, bangga pada diriku sendiri yang setiap hari bisa lebih baik daripada sebelumnya.
"Emm ...." Seseorang bergumam demikian. Tanpa aku toleh pun, aku bisa menebak ia adalah siapa. Tentu saja, si bapak-bapak manis--suamiku tercinta. Aku hanya terdiam tanpa berbalik badan.
Tapak kakinya semakin dekat dengan posisiku. Sampai akhirnya, ia benar-benar ada dihadapanku. Menatapku dengan senyuman paling manis diantara banyak pria, paling lembut diantara banyak kain sutera, dan paling menggiurkan bak candu diantara banyak madu. "Selamat pagi, mama-nya anak-anakku," sapanya kepadaku.
Senyumannya aku balas dengan sunggingan yang sama. Meski aku tahu, bahwa tidak semanis miliknya. "Selamat pagi, papa-nya anak-anakku," balasku kepadanya.
Mas Arlan duduk dihadapanku dengan posisi berjongkok. Dikecupnya perutku yang bulat bak balon berukuran super besar. "Selamat pagi juga, calon anaknya Papa."
"Hmm ... dia masih nyenyak tidur didalam sini, Mas. Eh?!" Ketika aku berkata seperti itu, ada tendangan yang dilakukan oleh calon anakku. Bahkan sampai membuat perutku bergerak-gerak. Hal itu membuat sang ayah tersenyum lebar. Apalagi, Mas Arlan tepat berada dihadapan perutku.
"Dia tahu 'kan, Dek. Anaknya Papa kan pinter-pinter."
"Yee ... pinternya bakalan kayak emaknya."
"Papanya-lah, Dek."
"Enggak! Mamanya."
"Papanya, titik!"
"Nggak ada! Yang bawa dia tiap hari 'kan aku. Kenapa harus dari kamu?"
"Aih, istri emang selalu benar deh. Iya, iya pinternya kayak kamu, Dek. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Banyakan dari Mas hahaha."
Menyebalkan! Badannya aja sih yang sama, biar nggak gendut kayak aku. Tapi, dia juga pinter. Aku juga pinter kok. Ah! Terus apa dong yang bisa gue turunin buat anak gue?!
Jika dibandingkan dengan Mas Arlan, aku memang terbilang kalah telak. Tampaknya, aku juga akan setuju jika nantinya kepintaran anakku menurun darinya. Baiklah, asal bola matanya biru sepertiku. Setidaknya ada sedikit saja, yang ada dari diriku. Entah, namanya juga berkhayal. Apapun keadaan sang bayi nanti, pasti akan aku terima dengan baik. Pemeriksaan yang aku lakukan, memberikan hasil bahwa kandunganku sehat dan baik-baik saja. Harapanku, semoga tetap baik dan lancar dalam persalinannya nanti. Aku sudah tidak sabar.
Sejak tadi, Mas Arlan masih asyik dengan perutku yang buncit. Kecupan manis ia daratkan sampai beberapa kali. Gemas pastinya menjadi rasa yang didera oleh hatinya. Aku bahagia sekaligus amat bersyukur, pada akhirnya tidak ada beban didalam rumah tangga kami dan jangan sampai ada lagi!
"Dek, kita lupa lho."
Aku mengernyitkan dahi. "Lupa? Soal apa, Mas?"
"Belum cek gender anak kita. Wisnu juga masih banyak jadwal sama pasien lain, nyampe lupa mau bilang."
"Hmm ... iya juga ya. Nanti deh, kita atur lagi di pemeriksaan berikutnya, Mas."
"Nggak sabar pengen tahu, cewek atau cowok. Tadinya, pengennya kembar. Tapi, nggak berhasil. Nanti coba lagi ya?"
__ADS_1
"Alah."
Mas Arlan hanya tersenyum mendengar jawaban singkatku. Aku memandangi wajahnya itu. Rasa cintaku semakin tumbuh besar pada saat mendapatkan banyak perhatian seperti ini. Ditambahkan suatu kelegaan atas semua masalah yang berhasil terselesaikan. "Mas," panggilku kepadanya lagi.
"Iya, Sayang. Ada apa? Bilang aja," jawabnya sembari mendongak menatap wajahku.
"Aku pengen tanya sesuatu sama kamu."
Dahinya mengernyit karenaku. "Soal apa, Sayang? Ada masalah lagi?"
Aku menggelengkan kepala dengan mantap. "Nggak ada. Cuma penasaran sama sesuatu. Emm ... gimana tanggapan kamu sama orang yang ingin berubah, Mas? Misal orang yang jahat sama kamu, terus dapet hidayah jadi lebih baik."
Disini, Mas Arlan tertegun. Ia terdiam sejenak. Kemudian menghela napas dan mengembuskannya kembali. Ia berdiri dari duduknya. Menghampiri pagar balkon dan berdiri sembari melayangkan pandang ke arah jalan. "Itu adalah hal yang bagus, Dek. Emangnya kenapa? Kok kamu tiba-tiba tanya gitu? Soal Mbak Dahlia ya?"
Aku menggelengkan kepalaku, menandakan bahwa bukan soal beliau. Namun, tentang Nia. Entah bagaimana tanggapan Mas Arlan jika mengenai mantan istrinya tersebut. Aku tidak tahu. Sedangkan, aku juga masih enggan untuk membahas nama Nia bersamanya. Aku telah berjanji, akan tetap menjaga rahasia kesepakatan itu dari Mas Arlan.
Aku memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaanku. Kuraih gelas susu di atas meja kecil yang berada disini, kemudian aku seruput air yang berwarna putih tersebut. Manis mengguyur lidah dan tenggorokanku, bak manisnya wajah suamiku. Semoga hari-hari kami pun sama manisnya, bahkan jauh lebih manis daripada susu ini.
Segerombol anak lelaki muda berpakaian olahraga dan sepatu kets, terlihat melintas di depan gerbang rumah kami. Tampaknya mereka selesai berjoging pagi. Inilah yang menjadi pemandangan pagi ketika hari libur atau tanggal merah seperti ini. Terasa sejuk, namun memberikan sentuhan yang hangat bagi para penikmat udara segar. Membuatku merasa sedikit iri, lantaran aku tidak cukup kuat untuk ber-olahraga.
"Dek." Mas Arlan kembali memanggilku. Ia berbalik badan yang tatapannya menjadi ke arah dalam rumah. Sejenak ia terdiam, tepatnya disaat aku berdeham menyambut panggilannya. Sampai kemudian, ia kembali bersuara, "apa Nia datang lagi ke sini?"
"Eh?!" Aku terkejut atas pertanyaan yang ia lontarkan. Bingung, menjadi rasa yang didera oleh hati. Bagaimana ini? Haruskah aku mengatakan yang sejujurnya? Ah, tidak! Aku telah berjanji kepada Nia. "Enggak, Mas. Kenapa emang?"
"Kamu serius?"
"I-iya kok. Serius, kenapa emang?"
"Ih!" Kutepuk pinggang Mas Arlan seketika. Bahkan ia sampai mengaduh sakit atas perbuatanku. Ini tidak benar! Jangan ada praduga buruk lagi yang muncul dari hatinya. "Jangan su'udzon jadi orang! Kita nggak pernah tahu hati orang, kayaknya dia udah berubah."
"Kayaknya? Dia berubah? Hmm ... kok kamu bisa ngomong gitu?"
"A-ah ...." Aku gelagapan seketika. "Emm ... gini lho, Mas. Kata orang su'udzon itu nggak baik. Alangkah baiknya kalau kita tetap berprasangka yang baik-baik."
"Hmm ... 'kan kita juga perlu hati-hati, Sayang."
"Udah ah. Jangan mikirin Nia lagi, kalau dalam satu bulan dia nggak berbuat aneh-aneh. Berarti dia beneran berubah kayak dugaanku, kamu wajib memberi maaf. Dan kita bisa alihin Selli ke sekolah biasa lagi, kasihan dia."
Aku langsung membuang pandanganku dari Mas Arlan, lantaran takut dicurigai. Entah, aku bingung sekali. Disatu sisi aku berbohong kepadanya. Namun disisi lain, ini merupakan amanat dari Nia. Meski hal yang bagus, tapi mengingay kebencian Mas Arlan terhadap Nia, hal yang bagus bisa-bisa menjadi hal yang tidak bagus. Aku akan merahasiakannya dulu bersama Selli, Bi Onah sekaligus Pak Edi sampai beberapa bulan ke depan. Saat-saat Mas Arlan sudah mulai tenang dan kekhawatirannya menghilang.
Maaf, Mas. Aku takut kamu kecewa sama aku juga.
Hingga helaan napas ia lakukan beberapa kali, terdengar sangat jelas di telingaku. Sebuah keraguan, tampaknya tumbuh didalam hati suamiku itu. Namun aku masih berharap angin yang berhembus bisa membawa rasa ragu itu berlalu hilang. Toh, Nia juga telah pergi ke luar negeri yang mungkin akan menetap disana dalam waktu yang lama. Ia ingin Selli mencarinya suatu saat nanti, meski tidak meninggalkan secarik kertas alamat. Sesuatu yang menurutku agak aneh. Meski begitu, aku berterima kasih karena ia mundur dari kehidupan keluarga kami.
Mas Arlan terdengar berdeham. "Mas nggak tahu apa yang terjadi sama kamu, sampe kamu bisa seyakin itu, Dek. Tapi ... meski begitu, Mas aminkan apapun prasangka baik kamu untuk wanita itu. Selama kita nggak terganggu, dan dia nggak mengganggu," ujarnya.
"Ka-kamu kok ngomong gitu, Mas? Kamu curiga sama aku?" tanyaku kembali. Ya, Mas Arlan bukan orang sembarangan yang bisa begitu mudahnya dibohongi. Entahlah, aku berharap ia tidak marah.
Bersyukur, ia tersenyum. "Kamu bukan kayak kamu, Dek. Biasanya kalau sebel sama orang nggak begini. Mas pikir, kamu telah melakukan hal yang hebat. Meskipun Mas nggak tahu itu apa."
"Nggaklah, kamu 'kan yang ngajarin aku, Mas. Buat do'a-in yang baik-baik, meskipun orangnya jahat."
__ADS_1
"Iya, tapi kalau soal Nia kayaknya agak berat. Oke, oke. Apapun itu, kayaknya Mas wajib berterima kasih sama kamu, Dek. Makasih ya, Sayang."
"Heh?! Ya, ya, sama-sama."
Mas Arlan sekali lagi tersenyum. Sedangkan aku hanya terdiam bingung. Niat hati ingin berbohong, namun sepertinya gagal. Ia tidak marah, melainkan berterima kasih kepadaku. Apa selama ini pun, ia tahu tentang kesepakatanku dengan Nia? Entahlah. Namun gerak-geriknya, seolah sudah mengetahui semuanya. Disini, aku agak merasa bersalah lantaran tidak berkata jujur. Sehingga memilih diam dan tidak menanyakan, mengapa ia bisa berbicara demikian.
Senyumannya berubah menjadi senandung. Aku hanya bisa menelan saliva saja karenanya. Apakah Mas Arlan menungguku untuk berkata jujur? Aku takut. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk tetap diam. Meski rasa gelisah semakin menerjang hati. Tidak! Yang aku lakukan adalah hal yang benar. Sekalipun tidak mengatakannya, tidak ada alasan untuk membuat Mas Arlan marah, bukan?
"Dek, kamu kenapa? Kayak gelisah gitu?" Ah, tampaknya ia menangkap raut cemas yang berada di wajahku
Aku gelagapan seketika. "En-enggak apa-apa kok, Mas," jawabku. Aku bukan pembohong yang baik, sungguh!
"Udah, nggak usah dipikirin. Mikirin Mas aja nih."
"Haha iya."
Mas Arlan berjalan mendekatiku. Ia memberikan kecupan manis di dahi dan kedua pipiku. Kemudian, kembali duduk dihadapanku. "Hmm ... Mas sayang banget sama kamu, Dek. Terlalu sayang dan nggak bisa kehilangan. Banyak hal dari kamu yang Mas kagumi."
Aku menunduk, menatapnya. "Apa yang kamu kagumi dari aku, Mas? Aku cuma orang gendut yang beruntung bisa dapetin kamu."
"Terlalu banyak. Mas kagum sama semua yang ada pada kamu. Kadang Mas minder, khawatir karna belum bisa bahagiain kamu. Yang ada malah nambah beban masalah buat kamu. Kadang kita juga berbeda prinsip dan pemikiran. Disitu, Mas takut kamu nggak betah sama Mas karna perbedaan itu. Mas takut kamu pergi karna banyaknya masalah, entah dari mantan istri atau keluarga."
Kuusap rambut Mas Arlan perlahan. Senyum mengembang dari bibirku atas ucapannya itu. Pada kenyataannya, kami saling mengagumi sekaligus saling merasa khawatir satu sama kali. Aku takut jika ia meninggalkanku karena fisikku ini. Ia takut jika aku meninggalkannya karena banyaknya masalah yang muncul dari bagian kehidupannya. Terkadang ketidakterbukaan mengenai hal ini, membuat kami saling mencurigai. Misal--bagaimana jika aku atau dirinya merasa jengah pada rumah tangga yang seperti ini? Atau bagaimana jika diantara kami merasa bosan karena masalah selalu ada?
Namun, semua bisa terjawab dengan pasti pada saat kami saling mencurahkan isi hati dan perasaan. Itulah mengapa, dianjurkan bagi setiap pasangan untuk mengatakan kata cinta setidaknya satu minggu sekali. Supaya apa? Supaya kita tahu bahwa cinta tidak pernah memudar dalam keadaan apapun. Tidak lupa, sematkan kata maaf minimal setiap kita berbuat kesalahan, meskipun hanya hal sepele.
"Aku juga kagum sama kamu, Mas. Kamu pinter, terus bijak. Bisa menempatkan diri ketika didalam keluarga, rela menjadi bahan tawa bagiku dan Selli," ujarku sembari masih mengusap rambutnya dengan halus.
"Kamu kagum sama Mas? Masa'? Mas 'kan udah tua, Dek. Kadang disitu Mas juga minder sama kamu," jawabnya seolah tidak yakin dengan penuturanku.
"Kamu emang tua, aku juga gendut. Ya udah kita sama-sama punya kekurangan dong. Hayo, gimana? Berarti kita sama-sama minder dong?"
"Kamu gendut juga cantik. Apalagi kalau dulu bisa se-percaya diri sekarang, pasti yang ngantri banyak. Untungnya Mas nemu kamu pas malu-malunya. Jadi menang hehe."
"Dulu orang-orang kuliah sama kantor, seleranya tinggi-tinggi. Jadi, tetep susah. Udahlah, jangan bahas itu. Pokoknya aku tetep sayang sama kamu. Oh iya, Selli mana?"
"Main game di HP Mas, Dek."
"Emm ... ya udah, kamu mandi dulu. Asem tauk!"
"Alah, dari tadi dideketin juga diem aja. Berarti nggak asem-asem amat. Jadi nanti aja mandinya kalau mau dhuhur."
"Mandi! Mumpung masih pagi plus libur, kita ke rumah Mama. Bahaya lho kalau kita nggak main."
"Iya deh iya."
Akhirnya, ia bersedia bangkit dari duduknya. Sebelum bergegas mandi, ia mengecup kening dan pipiku.
Bersambung ...
Budayakan lagi like dan komennya.
__ADS_1
BTW . ARLAN INI TAHU NGGAK SIH SOAL NIA?