Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Tak Seharusnya


__ADS_3

Dalam diam, aku terus terbayang mengenai ucapan nasehatku kepada Mita. Aku merasa sangat tidak pantas untuk mengatakannya. Entah, diri ini masih jauh dari kata sempurna. Seharusnya yang memberikan wejangan kepada Mita adalah seorang Nike yang jauh lebih pantas. Kini aku malah merasa malu sendiri, sungguh!


Dan waktu berlalu, dari satu minggu setelah Mita datang mencurahkan isi hatinya kepadaku. Tidak ada lagi kabar apapun dari dirinya, semua nomor miliknya pun tiba-tiba tidak aktif. Hal itu membuatku sangat cemas, rasa takut jikalau terjadi sesuatu yang tidak benar kepada Mita. Aku tidak bisa mencari dirinya. Bahkan seorang Celvin pun tidak tahu keberadaan sang sekretarisnya itu, sampai-sampai ia kewalahan dalam mencari orang baru. Semua serba mendadak.


"Loe, dimana, Mit? Apa kabarnya loe? Baik-baik aja, kan?" gumamku dengan beberapa pertanyaan mengenai Mita. Meski aku tahu, angin juga tidak bisa menjawabnya.


Kandunganku juga sudah menginjak usia sembilan bulan. Tinggal menunggu perkiraaan hari yang telah Dokter Wisnu katakan. Hal itu membuatku tidak bisa mencari informasi tentang Mita secara pasti dan luas. Aku sudah meminta bantuan kepada Mas Arlan, namun ia pun tidak bisa membantuku banyak lantaran tidak mengenal baik sosok Mita. Bahkan, hanya beberapa kali mereka bertemu.


Kadang aku berpikir, apa aku ini sempat salah bicara? Sampai-sampai Mita menghilang begitu saja. Namun letak kesalahannya dimana? Aku masih tidak tahu. Setiap kali aku mengingatnya, serasa tidak ada yang salah dalam perkataanku. Tapi, mengapa Mita menghilang tanpa memberikan kabar kepadaku? Aku tahu jika diriku bukanlah siapa-siapa baginya, namun aku adalah yang yang menjadi tempat curahan hatinya. Aku yang tahu perihal perasaannya dan aku yang tahu tentang kondisinya terakhir kali kita bertemu.


"Dek? Masih mikirin temen kamu itu ya?" Suara Mas Arlan tiba-tiba terdengar dari belakang. Sehingga membuatku membalikkan badan dan menatapnya.


"Kok udah pulang? Aku nggak lihat mobil kamu masuk gerbang, Mas?" tanyaku kepadanya karena rasa heran. Sedari tadi aku duduk di balkon rumah ini dan tidak menyadari mobil merah milikku yang hari ini ia bawa berangkat bekerja.


"Kamu ngalamun terus, Dek? Kenapa? Temen kamu atau tanggal persalinan?" Sembari bertanya demikian, Mas Arlan mendekatiku. Sebelum aku memberikan jawaban, ia sudah mengecup sekilas dibagian wajahku yang menjadi favorite-nya.


"Dua-duanya, Mas. Aku takut Mita kenapa-napa, sama bayiku juga."


"Yakin aja, Dek. Temen kamu nggak bakalan kenapa-napa kok, dia udah dewasa. Terus untuk Dede' kita, pasti dia juga bakalan baik-baik aja. Udah mendekati hari H persalinan, kamu jangan terlalu banyak pikiran ya, Sayang."


"Emm ... BTW, kok kamu pulang cepet? Perasaan adzan dhuhur belum lama kok."


"Kamu lupa hari ya, Dek? Ini hari Sabtu, kantor setengah hari kerja. Jadi, Mas juga cepet-cepet pulangnya buat ketemu kamu. Selli juga masih tidur siang."


Aku manggut-manggut saja, sekaligus merasa malu karena melupakan hari yang berselang. Sepertinya aku terlalu memikirkan Mita sampai tidak ingat akan waktu. Padahal jelas-jelas, Mita datang di hari Sabtu juga dan terhitung sudah seminggu dari waktu itu. Mungkin efek dari pengangguran.


Karena hari semakin panas, akhirnya aku memutuskan untuk beranjak pergi dari tempat ini. Tentu saja tujuanku adalah kamar, hendak rebahan dan menyalakan AC dengan suhu sedingin mungkin. Sebelum itu, aku merengkuh lengan tangan suamiku dan membawanya ke tempat ternyata milik kita berdua.


"Dek, nanti buat bayi kita sementara satu kamar sama kita dulu ya?" ujar Mas Arlan. Ia menatapku dengan raut ragu-ragu.


"Iya, Mas. Biar akunya juga nggak kesusahan. Lagian kamu nanti mau pergi ke Australia. Aku cuma berteman dia, kalau enggak ya Selli," jawabku sembari mengerucutkan bibirku pada saat mengingat hal itu.


"Hmm ... sabar ya, Sayang. Selama ini pun, Mas juga belum dapet kabar dimana Ibu Leny dan William berada, Dek."


"Kenapa sih, orang-orang suka banget ngilang?"


"Karna mereka sudah berada dititik paling rendah untuk bertahan. Lebih baik pergi dan menenangkan diri."


"Iya sih. Tapi dicarinya itu lho, susah banget."


Mas Arlan membuka pintu kamar kami dan mempersilahkan masuk bak ratu miliknya. Namun memang benar adanya. Setelah aku berada di dalam, ia pun menyusulku. Aku menghampiri ranjang dan bersiap merebahkan diri disana. Mas Arlan pun melakukan hal yang sama.


Perutku kembali dibelai halus oleh Mas Arlan, sesekali ia menyunggingkan semburat senyuman. Membuatku terkadang berdebar, karena selalu jatuh cinta ketika ia tersenyum seperti itu. Gemas, menjadi perasaan yang mendominasi. Aku ingin sekali menghabisi semua bagian wajahnya, namun perutku sunggu berat meski hanya sekedar bergerak.


"Kamu masih rajin olahraga yoga, Dek?" tanya Mas Arlan lagi. Kini ia menatapku, wajahnya sangat dekat sekali denganku. Akhirnya aku menjatuhkan kecupan manis di pipinya.


"Masih, Mas. Tapi yang simpel dan ringan-ringan aja." Kubelai lembut wajah Mas Arlan dengan penuh kasih sayang.


"Ya udah, kalau masih kuat dirajinin ya nggak apa-apa. Kalau udah nggak, lebih baik istirahat ya, Sayang."


"Iya, Mas."


Kebersamaan kami masih sama dan berharap akan selalu sama. Sehingga kami tidak perlu lagi repot-repot bertengkar. Semenjak perginya Nia, semua memang terasa lebih tenang. Bukan berari aku menganggap Nia sebagai biang keladi, aku bersyukur ia bersedia mengalah dan sudah mendapatkan hidayah.

__ADS_1


Namun sepenggal cerita dari Mita tentu saja, masih mengusikku. Aku ingin menemukan dirinya, mengetahui kabarnya dan kembali bercerita. Lantas, aku harus bagaimana? Kondisiku tidak memungkinkan untuk berbuat demikian. Sekalipun aku sudah melahirkan, pasti kesibukanku akan semakin banyak. Belum lagi Mas Arlan hendak pergi keluar negeri. Aku akan menjadi ibu untuk kedua anakku sekaligus seorang ibu pekerja. Entahlah, aku kelelahan atau tidak.


"Mas kamu bisa cariin alamar rumah temenku itu?" Harapku Mas Arlan mengiyakan, bahkan bisa membantuku.


"Emang kamu mau ngapain, kalau seandainya ada alamatnya?" Mas Arlan menampilkan wajah curiga, sehingga membuatku niatku urung seketika.


"Enggak kok, Mas. Nanya aja kok. Nggak ada yang penting, aku penasaran sama kemampuan kamu."


"Bohong deh kamu, Dek. Pasti mau disamperin, kan?"


"En-enggak kok, Mas!"


"Gini, Dek. Mas bilangin, boleh kamu khawatie sama temen. Boleh kamu sayang sama mereka, tapi kamu juga harus ingat posisi kamu sendiri, Sayang. Kamu tetep orang luar yang nggak ada hubungannya."


"Iya sih. Tapi, Mita pernah bantuin aku pas ada Nia."


"Apa?! Nia? Kok Nia."


"Eh, ah en-enggak kok. Salah nama aja hehe."


Astaga! Aku keceplosan tentang ulahku bersama Mita yang terjadi pada beberapa bulan yang lalu. Seketika aku menunduk diam, serta menghindari pandangan mata dari Mas Arlan. Ah, sudah jelas-jelas menjadi rahasia, bisa-bisanya aku malah membuka lubang nerakaku sendiri. Semoga kali ini Mas Arlan percaya jika aku hanya salah dalam menyebut nama.


Dalam beberapa saat, Mas Arlan memang terdiam. Namun justru membuatku takut, ia tidak lagi menanyakan atau mengajakku membahas sesuatu. Pandangan matanya jauh dilayangkan di langit-langit kamar. Membuatku termangu dan kemudian bertanya-tanya, apa yang tengah Mas Arlan pikirkan? Mungkinkah ia sadar dan merasa kecewa kepadaku? Entahlah, aku belum tahu.


Kusentuh pundak Mas Arlan dan aku merebahkan kepalaku di badan bidangnya. Detak jantungnya terdengar di telingaku dengan jelas. Sedangkan dirinya memberikana belaian pada rambutku dengan halus. "Mas, kamu mikirin apa?" tanyaku untuk memastikan perihal apa yang ada didalam benaknya.


"Mikirin kalian, Dek," jawabnya. Aku bisa bernapas lega karena Mas arlan tidak lagi memikirkan tentang ucapan hasil keceplosan yang terucap dari bibirku.


"Emangnya kami kenapa, Mas?"


"Kamu kan bisa berangkat kalau aku udah bener-bener pulih. Sebenarnya aku juga nggak mau kalau jauh dari kamu. Tapi itu adalah amanat, Mas. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan Mbak Dahlia nantinya, aku cuma nggak mau kamu menyesal."


"Iya sih. Tapi Mas juga nggak bisa dateng ke nikahan Riska dan Celvin yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Kalau bolak-balik duitnya boros banget, Sayang. Tiket nggak murah, belum lagi kebutuhan kita bakalan nambah."


Aku bisa mengerti perasaan Mas Arlan. Namun mau bagaimana lagi, sesuatu yang telah diputuskan itu tidak bisa kami batalkan. Apalagi berkaitan dengan seseorang yang menderita sakit keras. Aku juga tidak ingin jika Mas Arlan sampai menyesal karena tidak berhasil menemukan Ibu Leny dan William. Karena kita tidak pernah tahu apa tentang usia seseorang. Seandainya pun gagal, yang penting Mas Arlan sudah mengusahakan.


"Mas kamu tahu nggak?"


"Apa tuh, Dek?"


"Kita ini adalah orang hebat yang selalu dipercayakan untuk menyelesaikan setiap masalah."


"Iya, Dek. Dan itu kita berdua, Mas nggak jamin masalah bisa selesai kalau nggak ada kamu. Peran kamu sebagai istri sudah sempurna selalu dukung suami. Yah, meskipun ...."


"Meskipun apa?"


"Meskipun ngantukan hehe."


"Ngantukan gimana? Perasaan kamu yang selalu rajin ngajak tidur."


"Iya rajin ngajak tidur, tapi ya bukan tidur beneran, Sayang."


"Itu sih. Maunya kamu, sabar ya? Aku kan baru hamil pertama kali jadi takut."

__ADS_1


"Padahal boleh kalau hati-hati lho."


Aku memilih diam karena tidak mau membahas hal itu. Rasanya agak terganggu. Baiklah, aku akui, aku sendiri yang memiliki rasa takut. Namun semua itu ada alasannya, karena ini adalah pengalaman hamilku yang pertama. Mungkin nanti malam akan aku berikan sebagai kejutan. Kali ini kubiarkan ia berharap terlebih dahulu.


Karena hari semakin sore, akhirnya aku memutuskan untuk kembali terbangun. Ada beberapa kewajiban yang harus aku tuntaskan. Tidak terlalu banyak, namun jika dibiarkan saja malah akan menumpuk dan memberatkan. Apalagi, kalau bukan mencuci. Tadi pagi belum sempat, karena masih malas. Namun sekarang harus tuntas.


Kemudian, aku segera menuju ke tempat mencuci dimana disana tersedia keranjang yang berisi pakaian kotor yang tengah menungguku. Beruntung ada mesin cuci disini, sehingga bukan perkara yang berat untuk dilakukan olehku. Perlahan namun pasti, aku melakukan pekerjaan ini.


****


Malam yang gelap telah tiba, tugasku sebagai seorang istri sudah aku jalani seperti janjiku dalam hati tadi siang. Mas Arlan pun bisa tersenyum lega. Sepertinya aku terlalu dalam dalam menyiksa batinnya. Seharusnya aku tidak seperti itu kepadanya, bukan? Maaf, tampaknya aku bersalah.


"Kamu nggak ngantuk, Dek?" tanyanya sembari mengusap wajahku yang tertutup poni panjang.


Aku tersenyum. "Ngantuk sih, tapi pengen lihat kamu lebih lama lagi, Mas."


"Kenapa? Kangen ya?"


"Emm ... Mas, makin dekat, makin tegang pula perasaanku."


"Coba kamu pikirin yang baik-baik, semacam khayalan wajah anak kita, Dek. Pasti perasaan itu berangsur hilang."


"Beneran? Kamu sok tahu."


"Ya, coba dulu, Sayang. Siapa tahu berhasil. Mas juga nggak tahu rasanya jadi perempuan. Mas cuma bisa dukung kamu aja."


Aku mencoba memejamkan mataku. Kucari-cari gambaran wajah bayi yang lucu dari dalam benakku. Perlahan aku bisa melukiskan senyuman melalui bibirku. Bayi itu imut sekali, kulit putih, bola mata berwarna biru semu abu seperti diriku. Tampaknya benar kata Mas Arlan cara ini berhasil membuatku berangsur tenang.


Kisah kami terasa begitu indah meski hadirnya beberapa masalah dan semua bisa teratasi dengan baik. Kini akan hadir satu lagi seorang buah hati setelah Selli. Tentunya akan menambah keharmonisan keluarga kita. Seorang putri atau putra? Ah, aku masih merahasiakannya.


Aku kembali membuka mata, menoleh lagi ke arah Mas Arlan. "Kirian udah tidur, diem aja," ujarku kepadanya.


"Mas nungguin kamu tenang dulu, Sayang," jawabnya.


"Udah kok, Mas."


"Jangan lupa berdo'a. Setiap malam, selepas shalat. Pagi hari, pokoknya dirajinin deh. Biar hati tenang nggak cemas lagi, Sayang."


"Iya, Mas. Kamu juga do'ain aku ya?"


"Itu udah pasti dong, Sayang."


Mas Arlan memberikan kecupan manis di kenangku sebagai pengantar mimpi indahku. Kemudian, kami mencari posisi tidur yang paling nyaman. Untuk diriku, aku selalu menopang bagian belakang badanku dengan bantal agar tidak merasa pegal.


Malam yang meninggikan kegelapannya semakin lama membuat kami merasakan kantuk yang luar biasa. Namun Mas Arlan menjadi pemenang utama dalam kelelapannya. Sedangkan diriku masih bisa membuka mataku. Aku menatap wajahnya yang menghadap diriku. Manisnya tiada terkira, tidak pernah pudar dimakan usia. Kelembutan terpancar dari sana, pria ini jarang sekali menggunakan kata-kata kasar. Aku sangat bangga memilikinya.


Setelah puas menatap wajah Mas Arlan, aku melayangkan pandang ke langit-langit kamar. Benakku kembali teringat tentang Mita. Gelisah rasa hatiku jika ia tidak kunjung menemuiku. Aku hanya khawatir, terakhir kondisi mentalnya sangat tidak baik. Ia drop dan frustasi. Entah apa yang terjadi, sampai ia menghilang tanpa kabar berita. Tidak ada yang tahu satupun diantara teman-temanku, Tomi dan Nike. Lalu Celvin dan Mas Arlan yang tidak bisa melacak keberadaannya. Mau membuat laporan pun, aku tidak memiliki hak apapun atas diri Mita.


Mita, dimana pun loe berada, gue berharap loe tetap baik-baik aja. Jangan sampai loe berbuat yang tidak-tidak, atau dibuat yang tidak-tidak


Harapanku hanyalah itu, karena aku tidak bisa mencari dirinya.


Bersambung ....

__ADS_1


Budayakan like+komen ya


__ADS_2