
Aku hebat! Aku bisa melawan kegelisahanku hari ini sampai jam makan siang tiba. Aku tidak mau dibodohi perasaan tidak jelasku untuk Celvin.
Namun kehebatanku tersebut tidak selalu beruntun pada keberuntungan. Seperti yang aku duga kemarin pekerjaanku tidak maksimal.
"Heiii babi kerja yang bener loe!" Ujar Mita dengan geram. Tampaknya pekerjaanku sama sekali tidak bisa ditolerir lagi.
"Maaf bu kayaknya kemaren ngantuk berat." Jawabku.
"Alasan aja loe, oh jangan-jangan loe juga kehipnotis sama CEO baru???"
"Gak bu saya benar-benar ngantuk."
"Oke bagus revisi lagi sampai tuntas. Oh ya satu lagi kalo mau naksir pak CEO ngaca dulu yaah."
Sial! Seandainya ini bukan lingkup pekerjaan atau setan itu bukan atasanku. Sudah aku gampar wajah Mita sampai terpental tiga ratusan meter.
Ia melenggak-lenggok kemayu dan angkuh kembali ke ruangan kerjanya yang sudah pribadi. Sedangkan aku menahan malu. Semua orang menatapku sambil berbisik satu sama lain.
Itulah yang aku takutnya kalau sampai menyukai Celvin. Aku akan hancur perlahan-lahan karena caci dan maki semua orang.
"Kamu gak makan jadinya?" Tanya Nike yang sudah berdiri di belakangku bersama Tomi.
"Sabar nduutt. Setan emang suka marah-marah gak jelas." Sambung Tomi.
"Iya Tom, gue juga mau makan kok Ke, kerjaan hari ini beres. Jadi sisa waktu bisa buat revisi." Jawabku.
Aku hanya tidak tega membiarkan Nike makan siang bersama Tomi. Sepertinya Nike juga enggan berbaur dengan lain, bukan karena punya masalah. Namun, akhir-akhir ini aku mengetahui alasannya. Nike hanya tidak ingin ikut dalam perbincangan yang mengarah pada gosip atau fitnah.
Kami bertiga ke kantin perusahaan seperti biasa. Berbaris menukar kupon. Lalu Tomi menjajakan minuman dingin pada koperasi perusahaan. Dilanjutkan dengan menyantap bersama disudut ruangan kantin.
"Ndutt kenapa loe gak pernah ngelawan dia sih?" Ujar Tomi disela kunyahan gigi.
"Males aja gue." Jawabku.
"Jangan mau ditindas nduttt, semua orang juga tau kok kinerja dia kayak gimana. Jual tampang ama body doang makanya daper promosi."
"Bodo amat ceess."
"Jangan pada gosip ihhh." Sela Nike.
Kami terkekeh karena tingkah Tomi yang mengaduh gemas pada Nike. Ia tidak berani melanjutkan lagi ketika Nike yang berbicara. Sepertinya ia masih punya rasa sungkan.
Lagi-lagi suasana kantin bertambaj gaduh seperti kemarin. Celvin akan bersantap disini lagi, ia berjalan dengan wibawanya. Tentu saja akan membuat semua wanita meleleh.
Di belakang Celvin ada dua orang petinggi perusahaan seperti kemarin. Mita juga disana, aku heran jurus seperti apa yang ia gunakan sampai-sampai terlibat dengan orang-orang penting.
"Wahhh pangeran dateng lagi tuh." Celetuk Tomi.
"Ini perusahaan dia Tom jadi suka-suka si bos hehe." Sambung Nike.
Sedangkan aku hanya pura-pura menghiraukannya. Aku hanya meliriknya sesekali. Celvin mendapat pelayanan yang mewah. Tidak seperti kami yang satu kotak tempat makan berisi nasi serta lauknya. Untuk Celvin dibuat sendiri-sendiri dengan lauk yang melimpah pada masing-masing piring.
Aku menyentil lengan Tomi dan Nike yang masih terpana dengan pemandangan tersebut. Supaya kembali dengan santapannya sendiri dan bisa segera kembali. Karena aku masih mempunyai pekerjaan.
Suap demi suap nasi telah ludes didalam perut. Waktu istirahat masih tersisa setengah jam lagi. Aku masih bersantai menikmati minuman dingin tanpa memperdulikan dan bahkan melupakan keberadaan Celvin. Tentu saja aku sangat berusaha sedari tadi.
Namun suasana menjadi hening seketika, aku sangat penasaran dibuatnya. Aku melihat-lihat sekitarku. Dan aku sangat terkejut ketika Celvin tampak berjalan kearahku. Semua orang menatap keberadaan kami bertiga dengan tajam. Belum lagi tatapan bengis dari mata Mita ditujukan kearahku.
Degg!!!
Jangan-jangan aku membuat masalah. Sama halnya denganku Nike dan Tomi juga nampak tegang. Aku hanya berharap ia tidak menghampiri kami. Meskipun semuanya sia-sia karena Celvin semakin dekat dengan kami.
"Fanni?" Ujar Celvin.
Waduhhh! Namaku disebut olehnya. Aku menatap gelisah pada Nike maupun Tomi yang juga terkejut.
__ADS_1
"Ii... iyaa pak." Jawabku gugup luar biasa.
"Hehe benar ya."
"Ada apa pak?"
"Gak kok, saya mau minta sesuatu sama kamu."
"Sesuatu bagaimana pak?"
"Besok pagi langsung ke ruangan saya ya."
"Baik pak."
"Jangan lupa."
Aku mengangguk tegas. Celvin berlalu meninggalkanku dan tempat ini. Semua orang saling berbisik, entah mengenai apa. Dalam hati aku sangat penasaran dengan permintaan Celvin.
Celvin juga membiarkanku memanggilnya dengan sebutan bapak. Berbeda dengan tadi pagi saat di lift. Mungkin saja karena banyak orang. Ia tidak mau ada kesalah pahaman.
"Waahhh mau dapet promosi nih." Ujar Nike disaat kami bertiga kembali ke ruang kerja.
"Jangan lupa makan-makan ya ndut kalo beneran dapet. Aduuuhhh iri deh." Sambung Tomi.
"Aku gak mau berharap yang banyak dulu jadi pada diem dulu yaaa."
Aku kembali ke tempat kerjaku begitu juga dengan Nike dan Tomi. Aku berusaha sangat keras menyelesaikan revisi pekerjaanku kemarin yang berantakan.
Detik demi detik membentuk menit, begitupun menit membentuk dirinya menjadi jam. Dua jam berlalu setelah istirahat. Lagi-lagi aku berhasil menyelesaikan pekerjaanku dan sudah menyerahkannya pada Mita. Beruntung ia tidak banyak bicara lagi karena sedang sibuk.
Aku beranjak pulang setelah merapikan tempat kerjaku. Seperti biasa berjalan keluar bersama Nike. Lalu berpisah didepan. Nike bersama suaminya sedangkan aku memesan taksi online.
Taksi telah datang dan sudah kumasuki. Driver mengarahkan mobilnya ke alamat apartemenku sesuai aplikasi. Di sepanjang perjalanan benakku masih dipenuhi pertanyaan tentang permintaan Celvin esok hari. Semoga saja bukan hal buruk.
"Non sudah sampai." Ujar bapak driver.
"Makasih non."
"Sama-sama pak."
Sang driver berlalu bersama mobilnya. Kakiku mengayun berjalan cepat ke tempat tinggalku karena sudah letih dan lesu.
Aku buka pintu perlahan sesampainya disana. Aku bingung karena suasana gelap tanpa ada silau matahari. Padahal horden jendela tadi pagi telah aku buka. Untuk jam segini mana mungkin sudah segelap ini.
Aku meraba-raba dinding mencari keberadaan sakelar lampu. Dan...
"Surpriseeeeeeee!!!"
Letupan confetti terdengar serta suara teriakan beberapa orang. Aku meloncat kaget, aku menatap ruanganku sudah dipenuhi dengan balon-balon berwarna pink dengan foto-foto keluarga dan masa kecilku yang terikat pada talinya.
"Happy birthday to Fanni... Happy birthday to Fanni... Happy birthday happy birthday happy birthday to you..." Ucap mereka menyanyikan lagu ulang tahun untukku.
"Selamat ulang tahun tante besal." Ujar Selli.
Selli ada disini. Aku yang masih terkejut mencoba mengalihkan fokus untuk mengetahui siapa saja yang ada disini.
Aku semakin terperanjat dibuatnya. Kak Pandhu disini. Ayah ibuku serta Mas Arlan.
"Selamat ulang tahun adikku tersayang selamat ya sudah semakin tua, maafkan kakak yang selama ini berbuat banyak salah sama kamu. Tapi jangan pernah berpikir kakak membencimu, kakak selalu sayang sama kamu dek." Ujar Kak Pandhu sembari memelukku.
"Selamat ulang tahun sayang, anak gadisku semakin dewasa, papa dan mama selalu ingin kamu bahagia sayang. Maafkan kami jika banyak kesalahan. Mama sayang kamu" Kata ibuku.
"Ohh anakku sudah dewasa sekarang." Sambung ayahku.
__ADS_1
Aku tidak bisa berkata apapun sekarang. Kami berpelukan berempat satu keluarga. Mereka menciumi keningku bergantian menandakan rasa sayang yang tentunya tidak dibuat-buat.
Air mata haru sekaligus bahagia mengalir di pipiku. Terlebih saat mengingat ucapan selamat dan maaf dari kak Pandhu. Sudah lama kami tidak selengkap ini. Setelah kepergianku dari rumah atau acuhnya Kak Pandhu. Kami bagaikan keluarga yang sudah lama terpisah.
"Ehhmm... ehmm..." Deham Mas Arlan membubarkan acara pelukan kami.
"Selamat ulang tahun dek, wish you all the best." Katanya lagi.
"Makasih mas makasih semuanya, aku bahkan gak inget sama sekali. Makasih ya Selli sayang." Ujarku menjawab satu persatu.
"Waktunya tiup lilin." Ujar Kak Pandhu.
"Tiup lilinnya... tiup lilinnya... tiupp lilinnya sekarang juga sekarang jugaa sekarang jugaa."
Mereka bernyanyi bersama lagi, aku bagaikan anak SD yang sedang merayakan ulang tahun kelima tahun. Dengan menggendong Selli, aku meniup lilin bersama.
Setelah acara ini dilanjutkan dengan makan bersama karena ibuku sudah menyediakan banyak makanan di meja. Entah berapa lama mereka menyiapkan ini. Aku tidak heran jika mereka bisa masuk ke dalam apartemenku. Karena ibuku sudah tau password pintuku.
Kami bersantap sembari bersendau gurau, sampai-sampai gelak tawa kami mengisi seluruh ruangan. Untung saja ruanganku kedap suara. Dilanjut dengan nonton bareng acara sepak bola. Sampai semakin larut semua beranjak pulang. Dan aku mengantar sampai bawah.
"Makasih ya kak." Ujarku pada kak pandhu.
Cup.
Kak Pandhu mencium keningku layaknya adik kecilnya sambil tersenyum dan mengusap rambutku tanpa menjawab.
"Ma, pa makasih." Ujarku lagi
"Iya sayang. Kita pulang dulu ya." Jawab Ayahku diiringi senyum dari ibuku.
Keluargaku berlalu tinggal Mas Arlan dan Selli. Aku ingin berterima kasih padanya. Namun, rasa tengsin tiba-tiba mengisi relung hatiku.
"Dek?" Panggil Mas Arlan.
"Aa... anu makasih mas udah selalu baik sama aku."
"Hmmm... sama-sama dek. Selamat ya sudah makin dewasa, semoga jadi calon istri yang baik hehe."
"Haaah?"
"Buat suami kamu kelak."
"Hehe iya mas makasih do'anya, Makasih ya Selli cantik udah kasih kado buat tante."
"Sama-sama tante, aku kangen sama tante."
"Besok kalo libur maen bareng lagi ya."
"Iya tante janji ya."
"Janji dong, yaudah udah malem besok sekolah pulang dulu yaa. Jangan nakal oke."
"Ciap tante."
Mas Arlan dan Selli memasuki mobilnya. Setelah melayangkan senyum padaku, Mas Arlan berlalu dan hilang dalam panjangnya aspal.
Aku kembali kedalam kamarku. Senyum sumringah kini menghiasi wajahku. Aku bahagia. Di satu sisi aku merintih, diusia tiga puluh tahun aku masih belum mendapatkan seorang suami. Semoga saja Tuhan segera memberikannya agar aku tidak kesepian lagi.
Bersambung...
Like + Komen JANGAN LUPA.
nih VISUAL CELVIN DARI SAMPING YA ๐
SEMOGA SESUAI EKSPETASI ๐๐
__ADS_1
Dia lebih tua satu tahun ya dari Fanni