
Rasanya ingin cepat-cepat pulang. Aku tidak sabar ingin menyampaikan restu yang baru aku dapatkan kemarin malam kepada orangtuaku. Entah, respon bagaimana yang akan keluargaku berikan. Yang pasti untuk ibuku, aku belum bisa memastikannya. Lalu selain beliau, aku yakin semua akan turut senang.
Namun, segala macam tugas yang menjadi kewajibanku belum juga selesai. Setelah menemani Celvin menemui kliennya, aku masih harus menyusun beberapa data lagi. Tak apa, aku harus fokus dan menghabisi semuanya.
Baiklah! Mari kerjakan.
Suara ketikan saling berbunyi secara bergantian. Jariku tak ada lelahnya dalam mengecupkan diri dengan keyboard komputer. Sedikit demi sedikit pekerjaanku mulai berkurang. Karena terlalu fokus, aku sampai tidak mengetahui Celvin sedang apa saat ini. Aku rasa ia sama saja sibuknya.
Kami sendiri tidak banyak berbincang seharian ini, kecuali soal pekerjaan. Aku paham tentang itu. Karena kesibukan dan juga masalah yang ia hadapi, tampaknya ia memang harus bekerja keras. Sedangkan aku, aku harus berusaha lebih keras dan mencoba lagi untuk meyakinkan Mas Arlan agar ia bisa berbicara pada keluarganya.
Sudahlah, lupakan tentang hal itu. Aku harus kembali fokus pada pekerjaan. Karena waktu juga tersisa satu jam lagi sebelum pulang. Sedikit demi sedikit, beberapa data selesai. Susunan jadwal untuk atasanku mungkin tinggal sedikit lagi. Jari-jariku terus bergesekan dengan tombol-tombol kecil di papan keyboard, saling beradu dan bekerjasama. Terkadang napasku terdengar memburu, karena jenuh dan lelah. Namun, semua selalu teratasi dengan baik.
****
Beberapa saat berlalu, akhirnya pekerjaanku selesai. Jika, menilik pada jam dinding di ruangan ini, sepertinya masih ada waktu sekitar 14menit sebelum jam pulang. Aku menggunakan sisa waktu tersebut dengan sebaik mungkin. Kuperiksa lagi beberapa pekerjaanku, agar tidak ada satu pun kesalahan. Aku ingin hasil yang sempurna, apalagi aku sudah mendapatkan jabatan setinggi ini. Setidaknya aku harus membayar dengan otak yang prima.
Setelah merasa cukup, aku berdiri dari dudukku. Untuk melepas sedikit letih karena terlalu lama menekuk sendi diatas kursiku. Kulirik Celvin yang masih saja fokus pada laptopnya. Ah... lelaki itu memang sangat tampan. Kharismanya sangat terpancar disaat sedang serius, sangat cocok jika disandingkan dengan Riska yang menurutku luar biasa cantik. Tapi, bagaimanapun sempurnanya Celvin, Mas Arlan tetap yang paling menawan bagiku.
Aku sampai tersenyum kecil, setelah memikirkan perbandingan itu untuk kedua lelaki tersebut. Rasanya sedikit menggelikan. Entah, kapan terakhir kalinya aku jatuh cinta kepada seorang pria sebelum bersama Mas Arlan. Kala itu, aku hanya mencintai secara sepihak tanpa dilirik sekalipun oleh pria-pria yang sempat aku sukai. Itu wajar, karena aku tidak cukup pantas dijadikan seorang pacar. Sukar sekali dipercaya, tatkala aku bisa mendekatkan diri dengan Mas Arlan. Bahkan, pria itu yang lebih dahulu mengemukakan perasaan sukanya padaku. Dan kini kami telah menjalin kasih dengan rencana pernikahan yang sudah didepan mata.
Berbicara tentang Mas Arlan, menyebabkan rasa rindu menyelinap masuk secara tiba-tiba dihatiku. Ingin sekali segera pulang agar bisa menemuinya, lalu memeluk dan berbincang dengannya. Namun apa daya, setelah pulang nanti pun, aku belum bisa bertemu dengannya. Aku harus pulang ke rumah orangtuaku lebih dulu. Sedangkan Mas Arlan hendak membicarakan masalah perusahaan keluarganya.
Baiklah! Mari tunggu dan bersabar.
Untuk mengobati sedikit rasa rinduku, aku segera kembali duduk. Kuambil tas kerjaku, lalu mencari keberadaan ponsel didalamnya. Setelah mendapatkannya, aku memainkan ibu jariku diatas benda kotak tersebut. Kubuka sebuah aplikasi pesan yang bernama whatsApp. Mencari keberadaan kontak Mas Arlan didalam. Setelah itu, kutulis pesan yang berisi sebuah pertanyaan, tentang apa yang sedang ia lakukan. Kemudian, aku sertakan beberapa gambar emoticon berbentuk hati dan senyuman.
Karena tidak enak hati kepada Celvin, aku segera memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Lalu, kupersiapkan beberapa hasil pekerjaanku untuk diperlihatkan dan ditandatangani olehnya.
"Siang Pak, masih adakah yang bisa saya bantu?" tanyaku setelah sampai dihadapan Celvin.
Celvin menolehku diiringi senyuman diwajahnya. Sampai urat seriusnya perlahan menghilang. "Silahkan duduk Bu Fanni, anda hanya perlu menemani saya menyelesaikan sisa pekerjaan ini," jawabnya.
Aku pun tertawa kecil. Kemudian duduk dikursi yang berseberangan dan dibatasi oleh meja. "Masih banyakkah, Vin?" tanyaku lagi.
Celvin melirik waktu dijam tangan yang melingkar indah dilengan kirinya. Lalu memberikan jawaban kepadaku, "Tidak Fann, sebentar lagi. Sudah mau pulang nih, kamu siap-siap aja untuk pulang."
"Memangnya apa yang perlu disiapkan untuk pulang? Tidak ada makanan yang bisa dibawa pulang dari tempat ini."
"Haha... iya juga sih. Tapi serius, kamu santai dulu saja kalau sudah selesai. Lagipula tinggal beberapa menit lagi."
"Baiklah, aku santai. Kamu sendiri masih banyak pekerjaan nggak?"
"Tidak Fann, tinggal diperiksa saja kok."
"Oh oke."
Karena Celvin mengintruksikan seperti itu, akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menurutinya. Yah, waktu memang sudah hampir habis. Karena canggung berada didepannya, akhirnya aku kembali ke meja kerjaku sendiri. Meninggalkan Celvin yang masih sibuk dengan laptopnya.
Sebenarnya aku cukup penasaran tentang hubungannya dengan Riska. Apalagi akhir-akhir ini, mereka terlihat mulai dekat kembali. Namun, aku masih belum berani menanyakan tentang hal itu. Kuakui dalam hati kecilku, aku berharap Celvin akan menceritakannya kepadaku.
Namun, kembali lagi pada posisiku sebagai bawahannya. Aku tidak berhak ikut campur dan mengetahui tentang hidupnya. Kalau ia mau bercerita mungkin akan menjadi kebanggaan tersendiri untukku dan jika tidak, biarlah. Toh itu sudah menjadi haknya, sedangkan aku sebagai bawahannya wajib memberikan dukungan yang terbaik untuk Celvin.
__ADS_1
Untuk mengisi waktu luang, aku kembali mengecek beberapa pekerjaan dan jadwal yang akan dilakukan keesokan harinya. Sehingga, aku tidak kewalahan saat akan menjalankannya. Beberapa data pun sudah kupersiapkan tersendiri didalam sebuah file. Sedangkan yang berwujud kertas, telah aku susun rapi dan kumasukkan kedalam laci.
Yap!!! Sempurna, lalu pulang!
Akhirnya, sampai sudah dipenghujung waktu. Aku bisa bernapas lega, karena bisa pulang sekarang. Sebelum itu, aku membuka kembali ponselku. Pesan yang kukirimkan beberapa saat yang lalu sudah dibalas oleh Mas Arlan. Betapa senangnya hatiku, ia memberitahukan tentang apa yang sedang ia lakukan. Kemudian diiringi beberapa kalimat yang berisi tentang perhatiannya padaku. Apalagi dibubuhkan dengan beberapa gambar emoticon hati dan sebuah kecupan.
Siapa yang tak bahagia, setelah diperlakukan sebaik itu oleh pasangan? Dan tentu saja, aku bahagia. Sangat bahagia. Aku rasa kebahagiaan bukanlah dari barang-barang yang mahal, melainkan dari kasih sayang yang begitu tulus dan sempurna. Dari orang yang bisa menerimaku apa adanya dan memperjuangkanku dengan luar biasa. Tampaknya, kini aku telah menjadi wanita yang paling beruntung dari beberapa wanita lain di dunia. Yah, semoga saja Mas Arlan selalu bersikap manis seperti ini, selamanya.
"Emm... a-aku undur diri ya, Vin?" pamitku malu-malu pada Celvin, sesaat setelah aku berjalan menghampirinya.
Ia sendiri telah menutup laptopnya. Lalu menatapku disertai jawaban, "Duduk dulu ya, Fann."
Jujur saja, aku kecewa. Padahal beberapa saat yang lalu, ia menyuruhku untuk bersiap pulang. Namun sekarang, ia memintaku untuk tinggal. Sehingga aku terpaksa menunda waktu kepulanganku dan tidak bisa bertemu dengan Nike lebih dulu.
Aku mendudukkan diriku dikursi yang tadi. "Ada apa, Vin?" tanyaku.
Celvin mengepalkan kedua telapak tangannya untuk menopang dagu. "Boleh aku tanya?" tanyanya.
"Silahkan, tentang apa?"
"Emm... hubungan kamu sama Om Arlan bagaimana sekarang?"
"Aku wajib bersyukur, karena kami sudah semakin baik. Dua restu dari kedua pihak keluarga sudah kami dapatkan."
"Wow! Ikut senang ya, Fann."
"Makasih ya, Vin."
Hembusan napas berat terdengar dari diri Celvin. Aku tidak tau apa yang sedang ia pikirkan setelah mendapatkan jawabanku. Menurutku, ada sesuatu yang membuatnya tidak lega atau ragu-ragu untuk disampaikan kepadaku.
"Vin? Kamu nggak apa-apa?" tanyaku untuk memastikan.
Celvin tersenyum. Lalu ia berkata, "Aku tidak apa-apa kok, Fann. Hanya saja masalah perusahaan kami belum selesai."
"Maaf Vin, sebelumnya. Aku sendiri belum bisa membujuk Mas Arlan untuk berdamai dengan kalian."
"Tidak, Fann. Kamu seharusnya tidak perlu melakukan semua itu, lagipula wajar saja Om Arlan sekeras itu. Banyak sekali kegagalan yang beliau alami karena keluargaku. Bukan hanya perselingkuhan mantan istrinya dengan kerabatku, tapi juga penurunan perusahaannya kala itu."
"S-sebenarnya siapa sih yang salah didalam masalah ini?"
"Aku tidak tau pasti. Karna aku masih di luar negeri saat insiden terjadi. Yang aku tau, Papaku tidak berbuat demikian. Hanya saja kerabatku tersebut berusaha mendapatkan jabatan tinggi dengan cara tidak benar itu. Sampai akhirnya Papa memecat beliau setelah mengetahui tentang hal itu."
"K-kenapa dipecat? Bukankah Pak Ruddy bisa merasa diuntungkan?"
"Tidak. Hal buruk yang terjadi, jalinan kerjasama kedua perusahaan malah rusak, Fann. Walaupun merasa diuntungkan, dimasa depan seperti ini kami tidak bisa menjalani kerjasama dengan baik, bukan? Makanya Papa menawarkan bantuan kepada Riska secara diam-diam. Aku menduga, Papa telah mengenal kakek dari Riska sudah sejak lama. Bukan sebagai rival melainkan seorang anak dari teman beliau."
"Oh... jadi hubungan mereka rusak karena ulah kerabat kamu tersebut? Dan, akhirnya keturunan kakek dari Nona Riska menyimpan dendam, begitu?"
"Bisa dibilang begitu, makanya Papa marah besar padaku. Karena aku gagal merahasiakan jalinan ini, sebelum adanya perdamaian kedua belah pihak keluarga."
"Aku mengerti."
__ADS_1
"Dan lagi, Om Arlan merupakan salah satu orang pertama yang mengetahui akan kasusku saat itu. Semakin banyak pula dendam keluarga mereka untuk kami, mereka sempat mengatakan kami hanya mencari kesempatan untuk menggulingkan perusahaan mereka lagi dengan kerjasama ini."
Aku hanya manggut-manggut saja, setelah mendengar penjelasan dari Celvin. Ada beberapa hal yang sulit aku mengerti. Apalagi yang semapat aku dengar, kedua perusahaan itu saling bersaing bukan bekerjasama. Semua bagaikan sebuah sinetron televisi. Oh... ataukah ini yang dinamakan sinetron yang sebenarnya? Ataukah, setiap orang kaya memiliki masalah serumit ini?
Menurut pandangan pribadiku, hanya satu-satunya jalan keluar yang bisa digunakan yaitu berdamai. Namun akan terasa sulit bagi pihak keluarga Harsono, apalagi Mas Arlan. Bukan hanya data perusahaan yang dijual, namun juga pengkhianatan besar yang dilakukan oleh anak dari teman ayah mereka. Meski, aku tau Pak Ruddy bukanlah pelakunya. Namun, tetap saja nama keluarga menjadi tercoreng karena ulah salah satu anggota.
Dari semua itu, benakku malah teringat nama Nia. Wanita itu berhasil memporak-porandakan hubungan kedua keluarga besar. Kinerja yang luar biasa, bukan? Hanya karena uangkah? Membingungkan sekali. Hatiku sendiri merutuk wanita yang tidak aku kenal tersebut. Lalu, bagaimana dengan Mas Arlan yang telah mengalami semua itu? Sehancur apa dirinya?
Kini aku mulai paham, tentang kemarahan Mas Arlan saat aku membahas tentang masalah ini. Aku sendiri pun merasa marah. Tapi, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menjadi heran juga, diusia Mas Arlan yang sudah mencapai 40tahun lebih. Ia masih memiliki anak yang sekecil Selli. Sebenarnya diumur berapa ia menikah? Oh... ataukah Nia sengaja menunda kehamilan terlalu lama?
Uuuhhh... ini benar-benar gila! Kok ada ya wanita sejahat itu???
Segala macam pertanyaan dan juga rasa keheranan terus berkecamuk dan berkolaborasi dihati dan benakku. Lebih gilanya, masalah sebesar ini disebabkan oleh dua orang saja. Kedua orang tidak bertanggung jawab dari kedua belah pihak keluarga.
"Fann!" seru Celvin kepadaku.
Sontak saja aku terkejut. Sehingga lamunanku terpecah belah. "I-iya, Vin," jawabku.
"Maaf ya, aku terlalu banyak bicara. Soalnya hanya kamu yang menjadi orang kepercayaanku sekarang. Aku bingung, aku menyesal dengan masalah ini dan ulahku saat itu. Semua hancur karena itu dan hubunganku dengan Riska juga tak berjalan baik."
"Kamu yang sabar, Vin. Mungkin karma masih menempel erat dihidupmu. Tapi yakinlah, suatu saat Tuhan akan mencabutnya."
"Tapi kapan? Kenapa semakin lama semakin parah? Bahkan Papa semakin benci padaku."
Tidak ada yang bisa kukatakan saat Celvin menanyakan hal tersebut kepadaku. Aku paham, ia sangat kesulitan dengan semua masalah ini. Tapi, semua memang sudah terjadi. Tidak ada cara lain, selain menghadapi. Seandainya saja aku memiliki kekuatan super, pasti akan kusulap masalah ini menjadi tidak ada.
Celvin begitu menahan amarah yang dipendam. Urat hijau dan wajah memerah padam, seringkali ia tunjukkan. Bagaimana kalau ia sudah tidak sanggup menerima semua ini? Aku khawatir ia akan kembali buruk seperti masa lalunya. Aku khawatir saat ia berpikiran bodoh. Misal, sebaik apapun dirinya, orang lain tidak bisa menerima perubahannya. Yah, semoga saja ia tidak sampai berbuat seperti itu.
"Sudahlah, kamu yang sabar. Pasti semua akan baik-baik saja, aku akan bantu bicara dengan Mas Arlan," ujarku.
"Tidak! Jangan, Fann. Aku takut kebencian beliau semakin besar," tolaknya.
"Lho? Kenapa bisa begitu?"
"Fann, aku takut Om Arlan berprasangka buruk. Bagaimana kalau beliau menuduhku yang mendesak kamu mengatakan itu?"
Deg! Benar juga kata Celvin. Apalagi Mas Arlan memang sangat sensitif dengan masalah ini. Lantas, apa yang harus aku perbuat?
"Emm... a-aku pasti bisa bantuin kamu. Emm... maksudku bahas baik-baik masalah ini. Lagipula kalau masalah ini tidak selesai-selesai, aku tidak bisa menikah dengan Mas Arlan. Aku juga rugi kan?" tanyaku.
"Kok bisa?" tanya Celvin kembali.
"Karena ibu beliau ingin kami menikah pada saat masalah ini selesai."
Celvin terdiam. Ia menatapku ragu-ragu. Sepertinya ia masih mengkhawatirkan tentang prasangka yang akan diberikan Mas Arlan kepadanya.
Astaga! Mengapa rumit sekali???
Bersambung...
nb : kakeknya Celvin sempat berteman baik dengan ayahnya Mas Arlan.
__ADS_1