
****
"Apa yang kamu lakukan, Dek?" tanya Mas Arlan sembari memberikan tatapan tajam. Aku diam, tak memberikan jawaban. Seperti dugaanku sebelumnya, ia akan marah seperti ini. "Nasib Riska gimana, Sayang? Berpikir dulu sebelum bertindak dong. Lagipula, Mas akan kerja dimana kalau Mas dipecat?"
Ia bahkan mengusap kasar dan mengumpat yang entah diberikan kepada siapa. Hanya helaan napas dan hembusannya yang bisa aku lakukan. Aku tahu, bahwa Mas Arlan sangat mengkhawatirkan Riska. Namun, sebanyak apapun ia berbuat baik, pihak sana tidak akan menerima sama baiknya. Dan, ia masih begitu bodohnya melakukan segalanya.
Sejujurnya, aku sangat kesal dengan sifat Mas Arlan. Ia bahkan tidak peduli tentang keluarganya sendiri. Diriku yang membela malah menjadi bahan untuk disalahkan. Apa seburuk itu perkataanku tadi? Padahal aku melakukannya dengan segala keberanian yang ada dan itu demi dirinya. Tapi, nyatanya suamiku tersebut tidak bisa menerima dengan baik. Riskalah yang berada didalam benaknya saat ini. Aku paham, ia begitu sayang kepada keponakannya itu. Tapi, seharusnya ia bisa melihat kondisi dan situasi dulu.
"Bi, tolong anterin Selli dulu ya...?" bisikku kepada Bi Onah yang kebetulan masih tercengang disini.
"I-iya, Mbak Fanni...," jawab beliau sama lirihnya. Lantas, beliau segera mengambil langkah dan pergi ke lantai dua, lebih tepatnya ke kamar Selli. Lantaran pengasuh belum datang jika pagi seperti ini, jadi aku meminta tolong kepada Bi Onah.
Sedangkan suamiku masih mondar-mandir seperti sebuah gosokan. Ia meracau sembari menggigit ibu jarinya beberapa kali. Menjadikan hatiku semakin risau dan gusar. Bagaimana aku akan menghadapi suamiku? Aku takut kami bertengkar hebat karena ulahku sendiri. Meski, semua kulakukan demi dirinya. Aku tidak kuasa melihat dirinya menjadi sasaran empuk dari amarah Mas Gunawan. Namun tidak bisa dipungkiri, kadangkala kita berbuat baik, orang lain belum tentu menerima dengan baik pula, termasuk suamiku.
Diam-diam, aku mengirimkan pesan kepada Celvin. Aku menuliskan perihal keterlambatanku bekerja dan juga kondisi Riska. Aku rasa, ia akan memaklumiku dan langsung datang ke rumah kediaman keluarga besar Harsono. Yah, ini memang yang harus Celvin lakukan sebagai tersangka. Aku berharap atasan yang sekaligus temanku itu bisa memperjuangkan cintanya dengan baik. Jujur saja, jika diriku diposisi mereka, aku tidak akan sanggup. Restu orangtua yang susah didapat memang sempat aku alami, namun tidak separah ini.
Tiba-tiba, Mas Arlan berjalan ke atas tanpa memperdulikan diriku barang sekali saja. Aku tertegun sekaligus kecewa. Ya! Kami saling merasa kecewa. Ingin rasanya menangis pada saat diperlakukan seperti ini oleh suamiku sendiri. Kini, aku sangat menyesal karena sudah ikut campur. Aku merasa diriku bukan istri yang baik. Sehingga membuat suamiku merasa tidak nyaman ataupun aman, aku malah memperkeruh keadaan.
Tak lama kemudian Mas Arlan turun kembali. Aku masih menatapnya dari posisiku tubuhku yang masih sama. Ia sama sekali tidak melihatku. Raut wajahnya masih penuh kesal dan juga kecewa. Kemudian, ia keluar dan masuk ke dalam mobilnya saat kubuntuti perlahan-lahan.
Deg! Jantungku terasa tertusuk pisau tajam. Akan kemana Mas Arlan? Jangan-jangan ke rumah Riska. Ini tidak boleh dibiarkan saja. Segera kuambil langkahku menuju kamarku. Tubuhku yang dibawa berlari seolah mampu mengguncang bumi. Apalagi pemilik badan besar sepertiku biasanya mudah lelah dan juga engap, apalagi berlari menaiki tangga rumah. Aku sangat kelelahan. Namun, tidak ada waktu untuk sekedar berdiam sebentar. Bisa-bisa suamiku jadi bulan-bulanan keluarga besarnya. Sehingga, aku harus cepat.
Kuambil kunci mobilku yang selalu tergantung dipapan gantung rumah ini. Sebelum berangkat, aku mencari informasi soal alamat rumah Riska. Ini tidak mudah, untuk mengejar Mas Arlan pun sudah tidak keburu. Lantaran laju mobilnya sangat kencang. Lalu, aku teringat akan Mita. Lantas, aku mencari kontak nomornya yang sudah kumiliki. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera melakukan panggilan suara terhadapnya.
"Halo, Fann. Kenapa? Tumben?" tanyanya dari kejauhan sana, sesaat setelah mengangkat telepon dariku.
"Mit, gue minta alamat rumahnya Harsono," ujarku.
"Haah? Buat apa? Nggak taulah gue."
"Emang loe nggak punya bocoran sedikit."
"Bentar deh, gue inget-inget."
"Ayolah Mit. Penting! Suami gue dan Celvin kemungkinan lagi kesana."
"Kak Celvin?? Ada apaan sih?"
"Panjang ceritanya."
"Oke, tenang. Loe ambil jalan utama aja, gue bantu cari info dari sini. Gue kan juga nggak ada hubungannya sama mereka. Yah, gue nggak taulah. Lagian loe bukannya menantunya, kok malah nggak tau?"
"Panjang ceritanya. Oke, bye. Gue tunggu info dari loe. Siapa tahu, di ruang arsip masih ada simpenan data sana. Seenggaknya, alamat kantornya lah."
Segera kututup panggilanku. Aku mengambil langkah menuju bawah. Tentu saja, dengan laju kaki yang tergesa-gesa. Sesampainya dibawah aku masuk ke dalam mobilku. Aku menitipkan rumah kepada tukang kebun yang Mas Arlan pekerjakan. Lantas, aku segera melaju mobilku dengan kecepatan sedang. Lantaran tidak tahu akan mengarah kemana, kecuali jalan raya pertama.
Sumpah! Aku bagaikan sedang bermain sebuah drama didalam televisi. Banyak masalah, banyak hal yang tidak terduga, meskipun bukan aku peran utamanya. Namun, suamiku tergabung didalamnya. Mau tidak mau, akupun turut terlibat. Maksudku, melibatkan diriku dalam kondisi dengan segala keterbatasanku. Apalagi mental cemasku belum sepenuhnya sembuh. Meski bukan tergolong ke dalam gangguan kecemasan, namun rasa khawatir yang berlebihan membuatku kadangkala sangat tidak nyaman.
__ADS_1
Dalam benak yang kosong seperti ini, aku menerka-nerka arah yang kemungkinan tepat. Aku rasa, kediaman Mas Gunawan berada disalah satu komplek elite. Oh diriku... sudah menikah pun, aku tidak mengetahui kediaman mertuaku sendiri. Sepertinya aku tak layak masuk ke dalam keluarga itu. Namun, aku tidak peduli karena Mas Arlan yang terpenting dari semuanya.
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku meminggirkan dan menghentikan laju mobilku sejenak. Aku meraih ponsel dam menatap layarnya yanh ternyata tercantum nama Mita.
"Halo, Mit. Gimana?" tanyaku setelah mengangkatnya.
"Gue nemu alamat perusahaannya doang. Itu pun hasil searching di internet. Mau nggak mau, loe harus ke kantor perusahaan itu dulu demi mencari alamat rumahnya," jawab Mita.
"Hmm... oke deh. Makasih ya."
"Gue kirim pesan aja alamatnya biar jelas. Atau gue bantu loe? Gue bisa keluar kantor sekarang."
"Nggak perlu, Mit. Ntar loe malah terlibat."
"Oh... oke. Yaudah matiin, gue kirim."
"Oke. Thanks."
Mita mematikan panggilannya. Tak lama kemudian, ia mengirimkan alamat kantor pusat milik keluarga Harsono. Aku meneliti rute yang harus aku tempuh. Tak mengapa, susah dulu yang penting aku harus berhasil mendapatkannya. Laju mobil Mas Arlan pun sudah terlihat oleh pandangan mata. Meski, aku tidak banyak membantu, setidaknya aku bisa menghalau suamiku untuk kembali pulang.
Aku segera melaju mobilku kembali setelah meniliti rute yang pas. Menerobos jalan raya yang memanjang bersama hati yang penuh ketegangan. Seharusnya pagi ini, aku sudah berjibaku dengan kertas-kertas membosankan. Namun, hal tak terduga malah terjadi. Menurutku Ivan sudah benar-benar keterlaluan. Tidak pantas dirinya masuk ke dalam masalah Riska dan Celvin. Pria bodoh yang pernah aku temui. Seorang pecundang yang takut menerima kekalahan. Dia benar-benar tidak pantas disebut sebagai seorang lelaki. Bahkan, menurutku Tomi jauh lebih baik darinya.
"Aaaaaaaaaaaaa! Ivaaaan! Kesel jadinya gue sama loe. Bener-bener edaaan!" gerutuku.
Likukan demi likukan jalan. Arah demi arah, aku tempuh. Sampai akhirnya aku menemui sebuah tulisan besar berbunyi "PT. STAR HARSUN" disertai bagian kantor sebagai kantor pusat dari segala bagian cabang perusahaan properti yang dibawah naungannya. Lantas, aku segera menghentikan mobilku tepat didepan pagar tembok tempat itu. Setelah itu, aku beranjak turun. Kutemui salah seorang security.
"Selamat pagi, Mbak. Perihal apa ya?" tanyanya kembali.
"Emm... saya mau tanya soal alamat rumah pemilik perusahaan ini. Bisakah Bapak memberitahu?"
"Waah. Kalau soal itu nggak bisa, Mbak. Itu privasi atasan kami. Akan melanggar aturan, kalau kami memberitahu."
"Tapi saya, menantu dari keluarga Harsono."
Sang security terkekeh. Ia menatapku dari atas sampai bawah. Mungkin, sedang memberikan penilaian atas diriku. Yah, siapa yang tidak heran jika seorang anggota dari keluarga besar memiliki seorang istri yang juga besar. "Maaf, Mbak. Sepertinya masih amat pagi untuk berkelakar," ujarnya lagi.
"Apa maksud Bapak?"
"Saya tahu anda seorang WNA. Tapi, sepertinya buat masuk ke dalam keluarga ini akan susah. Jadi karyawan saja sekarang sudah susah."
"Oh ya?"
Security tersebut mengangguk sembari terkekeh geli. Sebenarnya aku tahu akan maksud dari perkataannya, yaitu aku tidak cukup pantas masuk ke dalamnya dengan kondisi diri yang tidak menarik seperti ini. Namun, sebisa mungkin aku menahan diri agar tetap kuat. Tidak boleh menangis, apalagi marah. Itu akan sangat terlihat hina dan seperti orang gila yang sedang berkhayal.
Tiba-tiba muncul satu ide dari dalam benakku. Aku segera mengambil ponselku dan mencari foto pernikahanku. Tentu saja, wajah Mas Arlan juga terpampang jelas di foto itu. Bagi orang yang sudah lama bekerja disini pasti akan tahu siapa suamiku.
"Saya Warga Negara Indonesia yang memiliki darah blasteran, Pak. Maaf bukan Warga Negara Asing yang sedang berkhayal," ujarku sembari memperlihatkan foto pernikahanku.
__ADS_1
Tampak Pak Security itu menelan salivanya dengan wajah terkejut. Aku rasa, ia telah lama bekerja ditempat ini dan masih mengenal siapa diri Mas Arlan. "Jadi, masih nggak percaya?" tanyaku lagi.
"I-iya Mbak, eh Nyonya. Sa-saya tidak tahu," jawabnya gugup.
"Saya tidak akan menggunakan statusku. Lagipula suamiku tidak lagi bekerja disini, nggak akan berpengaruh. Tak perlu takut jika saya adukan. Tapi, saya harap Bapak memberikan alamat rumah itu secara detail. Karna saya juga sangat dekat dengan Nona Riska."
"I-iya baik, akan saya tuliskan."
"Bagus."
Bapak Security itu mengambil bolpoin dari sakunya dan masuk ke dalam pos demi mengambil secuil kertas. Aku rasa, beliau masih menyimpan rasa takut terhadap Mas Arlan yang notabene adalah mantan atasannya. Usianya pun hampir sama, jadi kemungkinan besar pradugaku memang benar. Yah, cukup menguntungkan bagiku didalam kondisi seperti ini.
Kemudian, bapak security itu memberikan kertas berisi alamat itu kepadaku. "Makasih," ujarku.
"Sama-sama, Nyonya. Hati-hati di jalan," jawabnya.
"Oke."
Aku tersenyum. Aku kembali menghampiri mobilku dan memasukinya. Sejenak, kuhela napas dalam dan menghembuskannya kembali supaya lebih tenang. Kini, alamat sudah didapat dengan lumayan susah payah, lantaran aku dihina secara tidak langsung oleh seorang satpam. Astaga! Ini sangat rumit.
Lantas, aku segera melaju mobilku kembali. Sebelum itu, aku sudah meneliti rute menuju perumahan elite itu. Didalam perjalanan, aku terus berdo'a untuk kondisi mereka bertiga. Semoga tidak terjadi apa-apa. Karena aku rasa, Celvin pun tidak akan tinggal diam setelah aku kirim pesan beberapa saat yang lalu.
Sesampainya, didepan gerbang perumahan elite. Mobilku diperiksa oleh salah seorang security. Ia hanya ingin aku memperlihatkan KTP saja, setelahnya mengizinkanku untuk masuk dan mencari rumah yang aku tuju. Yah, kebanyakan perumahan elite memang seketat ini penjagaannya. Apalagi di kota-kota besar. Bagaimana tidak? Kalau didalamnya berisi orang-orang kaya yang bergelimang harta dan tahta.
****
Mobilku kembali berhenti disalah satu rumah mewah berlantai tiga dengan luas yang lumayan besar. Bernuansa putih dan perak. Siapa lagi, kalau bukan keluarga Harsono yang menjadi pemiliknya. Sama seperti sebelumnya, kedatanganku ditolak mentah-mentah oleh para security rumah. Namun, mereka berhasil diam setelah kutunjukkan foto pernikahanku. Segala upayaku semoga dihargai oleh suamiku, itu saja harapanku saat ini selain kondisi mereka.
Setelah itu, aku beranjak turun. Dengan langkah ragu-ragu, aku melangkah mendekati pintu utama yang tampak terbuka. Semakin dekat, suasana semakin membuatku menegang. Suara jeritan seorang wanita pun mulai terdengar, isak tangis dan umpatan-umpatan. Wah! Drama ini berubah menjadi genre horror.
Deg! Jantungku berdebar kembali. Aku menelan salivaku dengan ngilu saat sampai didepan pintu. Tanganku ragu-ragu untuk membuka benda itu. Aku takut sekali. Lantas, bagaimana ini? Sedangkan suara keributan masih terus bersahut-sahutan antara satu orang dengan orang lain. Bagaimana jika suamiku juga dianiaya?
Ayolah, Fanni! Demi Mas Arlan-mu. Please, kaki. Aku mohon kuatkan dirimu untuk membantuku melangkah masuk. Bismillah!
Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!
"Aaaaaaaaaa!" Aku terpekik kencang pada saat tubuh seseorang terjatuh menghantam daun pintu. "Celvin?!"
Inikah sambutan untuk kedatanganku kemari? Rasanya ingin pingsan sekarang juga. Pandangan mataku buram dan berkunang-kunang, namun sebisa mungkin aku tahan supaya tidak terjatuh dan menggelepar. Aku khawatir tidak ada seorang pun yang sanggup menganggkat tubuhku yang besar jika aku jatuh pingsan.
Hanya saja, kini semua orang menatapku penuh rasa terkejut. Bahkan Mas Arlan. Aku menelan ludah ngilu. Apa yang harus aku lakukan, setelah sampai disini? Celvin tidak berdaya. Mas Arlan pun kondisinya tidak menentu alias berantakan. Riska terjatuh dan duduk di lantai dengan kondisi penampilan sama berantakannya. Apa yang sedang terjadi?
Bersambung...
Next bab, masih tahap penulisan. Mohon tunggu ya hehehe.
Budayakan tradisi like+komen.
__ADS_1