Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Lepas Rindu


__ADS_3

Kenekatan yang kulakukan semalam, kini membuatku sadar. Api tidak harus dibalas dengan api. Seperti amarah Ibuku yang menggebu. Aku harus pandai bersiasat lagi. Dengan tidak meninggalkan Ibuku ataupun Mas Arlan. Keduanya akan kuperjuangkan dengan keras.


Walau semalam aku ponselku terus diserang panggilan dari Ibuku. Setiap jamnya beliau terus meneleponku. Omelan pun masih diberikan padaku. Dan yang paling penting. bagi beliau adalah keberadaanku.


Ketakutan seorang Ibu terhadap anaknya yang tidak pernah berpacaran. Mungkin beliau menduga-duga hal-hal aneh. Seperti, misalnya aku dibawa kabur Mas Arlan atau Mas Arlan di Apartemenku sampai malam. Sampai membuatku jengah dan kesal. Meski begitu, aku tetap tertawa karena merasa sedikit lucu pada respon Ibuku yang berlebihan.


Memangnya aku ini wanita macam apa? Tidak mungkin juga kubiarkan lelaki yang bukan suamiku masih berada di Apartemenku sampai malam. Apalagi sampai membawaku kabur, memangnya kita mau ke dunia bagian mana lagi? Mata pencaharian kami saja di kota ini. Ada-ada saja.


"Fanni???" ujar seseorang yang tidak lain adalah Ibuku.


Sontak saja aku terperanjat hebat, diriku yang masih terbalut selimut mendadak bangun. Ku lihat jam dinding di kamarku yang masih pukul lima pagi. Untuk apa sepagi ini beliau datang? Mungkinkah ini hanya mimpi?


"Fanni!" suara seruan Ibuku yang memanggilku kini terdengar lagi.


Berarti ini bukan mimpi. Astaga! Orang tuaku itu. Ibadah subuh saja bahkan belum aku tunaikan. Sudah didatangi tamu kebesaran. Ya Tuhan!


Akhirnya aku beranjak turun dari ranjangku dengan tubuh yang masih terbalut piyama. Ku langkahkan kaki lalu kubuka pintu kamarku. Dan kemudian keluar setelahnya.


Aku berjalan dengan mata yang masih ngantuk berat akibat dering ponsel semalam. Rasanya memang masih seperti mimpi. Sekelilingku terlihat masih buram, mungkin aku belum terbangun sepenuhnya dari tidurnya.


Nyatanya memang bukan mimpi. Ibuku tengah asyik menuangkan makanan di dapur Apartemenku. Aku mengecek mataku agar bisa menatap beliau dengan jelas. Rasanya iba juga, tubuh tua beliau sempat kalang kabut karenaku. Padahal semua dilakukan beliau demi aku. Aku ya aku, anak perempuan satu-satunya, anak perempuan yang bahkan belum bisa membahagiakan orang tuanya.


Kuhampiri ibuku dengan pelan-pelan dari belakang. Agak ragu juga ingin kusapa beliau. Aku masih takut dicerca omelan dan pertanyaan yang panjang sekali. Namun, tetap saja aku tidak bisa mendiamkan beliau seperti ini.


"Pagi Mama," sapaku kepada Ibuku sembari merangkul pinggang ibuku.


"Kamu semalam kemana?" tanya tegas beliau.


"Ma, aku di rumah. Kan Mama telpon mulu semalem."


Kudengar Ibuku menghela napas begitu panjang lalu mengeluarkannya lagi. Kemudian beliau membalikkan badan dan kini menatapku.


"Mama khawatir sama kamu Fanni!!!" ujar beliau sembari menarik daun telingaku dengan kencang sekali.


"Aduduhhh... sakit Mama iihh."


"Kamu ini anak perempuan kok susah diaturnya lho?"


"Ma masih pagi."


"Emang yang bilang siang siapa?"


"Mama jangan marah dong, entar cantinya ilang lho."


"Anak ini malah pura-pura lupa! Arlan nggak kesini kan?"


"Nggak Ma, mana mungkin Ma. Ya Allah Mama, emang menurut Mama, Fanni ini anak kayak gimana sih?"


"Siapa tau kamu cari jalan pintas."


"Maksud Mama gimana?"


"Nggak, udah sono sholat dulu."


"Enghak, entar dulu deh. Jadi Mama pikir aku bakal melakukan hal yang buruk gitu ya?"


"Udah sono, dasar anak bandel. Matahari udah keliatan kamu belum sholat kan?"


"Iya iya Mama."


"Fann... Fann..."


Kini aku yang menghela udara begitu banyak, demi menenangkan hati. Sesuai perintah Ibuku dan memang kewajibanku, aku hendak mengambil air wudhu untuk bersuci. Kemudian menunaikan ibadah subuhku.


Seperti biasa semua do'a kulafalkan dengan fasih. Diakhiri dengan dzikir.


Hari minggu yang indah, setelah hujan tadi malam. Pagi ini kurasa akan cerah, embun yang menempel pada jendela Apartemenku menumpuk bagai salju. Jalanan diluar sana pun masih menggenangkan air. Daun-daun hijau yang basah menambah segarnya pagi ini. Saat kuintip sebentar melalui kaca jendela.


Saat-saat seperti ini, akan terasa nikmat jika ditemani secangkir kopi hangat. Lalu ditambah hidangan ringan roti tawar dan selai coklatnya. Apalagi aku tengah libur.


Kuputuskan untuk menyeduh dua cangkir kopi hangat untuk aku dan juga Ibuku. Setelah selesai kubawa bersama lembaran roti tawar yang masih tersedia. Untuk disajikan dihadapan Ibuku yang tengah duduk tenang di sofa milikku.


"Kopi Ma," ujarku seraya memberikannya.


"Pagi gini ngopi?" tanya Ibuku.


"Iya biar anget Ma."


"Tapi kan belum makan Fanni."


"Makanya ini ada sambil nyemil."


"Roti kok nyemil Fann... Fann..."


"Hehe... biar endul."


"Apaan endul?"


"Enak Ma, yaelah nggak update Mama ni."


"Hmm... tapi boleh juga sih."


"Dasar gengsian."


Ternyata dugaanku salah, mentari yang hampir tersenyum cerah kini bersembunyi lagi. Langit pagi ini kembali mendung. Hal itu membuatku sedikit khawatir lantaran hari ini telah membuat janji dengan Mas Arlan dan Selli.


Belum lagi, Ibuku pasti akan betah berlama-lama di Apartemenku. Astaga! Ada saja. Seolah langit tidak mau membantuku sedikitpun. Padahal rasa rinduku sudah sangat menggebu. Aku ingin bertemu gadis kecil tersebut.


Ya Tuhan, bantu aku.


Kutampilkan wajah masam saat melihat Ibuku tengah asyik menonton televisi sembari rebahan diatas sofa. Sepertinya beliau tidak mau kenyolongan untuk kedua kalinya. Haruskah aku diam dan tidak melakukan apapun? Jika iya, mungkin hari libur ini akan menjadi hari libur terburuk sepanjang sejarah hidupku.


Bagaimana tidak! Ibuku senantiasa memasang kedua mata. Sedangkan aku bagaikan anak yang baru lulus SD. Diatur dan tidak boleh pergi jauh-jauh dari sisinya. Meski, sampai saat ini Ibuku belum mengatakan apapun.


"Ma!" seruku kepada beliau.


"Apa?" jawab beliau.


"Emang rumah udah kelar beresinnya?"


"Belum, tenda belum dilepas."


"Terus kenapa Mama disini?"


"Emang nggak boleh?"


"Ya nggak gitu Ma."


"Terus kenapa?"


"Nggak apa-apa nggak enak aja sama tetangga Ma, mending Mama cepet pulang deh. Fanni anter ya?"


Ibuku tidak langsung menjawabku. Beliau membangunkan diri dari posisi rebahan tadi. Diiringi nanarnya bola mata yang memandangiku. Sepertinya aku salah bicara.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih kayak nggak suka Mama disini?" tanya beliau kemudian.


"Emang aku ngomong gitu ya Ma?" tanyaku kembali.


"Dari tingkahmu kayak gitu Fann."


"Kan aku cuman nggak enak aja sama tetangga Ma, ya ampuuunn."


"Kamu mau kabur lagi dari Mama kan?"


"Kabur gimana sih maksudnya?"


"Kayak semalem?"


"Enggak lagian ujan noh."


"Ooo... berarti kalau nggak ujan mau kabur gitu?"


"Apaan sih Ma? nggak jelas banget deh."


"Atau Arlan mau kesini?"


"Mamaaaa.. please deh jangan ngajak berantem gitu."


"Siapa tau gitu kan? Awas aja kamu Fann."


Uhh... Sulit sekali mengelabui Ibuku. Beliau sangat terlampau peka. Lalu cara bagaimana lagi untuk membujuk beliau untuk tetap pulang. Padahal aku sudah berusia tiga puluh tahun, namun mengapa harus mengalami hal seperti ini?


Miris sekali. Sekalinya dapat pacar, ada masalah besar yang datang menyertainya. Mana mungkin, aku meninggalkan Mas Arlan. Aku sudah jatuh hati padanya. Proses kami pun terbilang tidak mudah.


Mulai dari perasaan semuku pada Celvin, bimbang antara suka atau kagum dengan Mas Arlan. Kami bertengkar dan akhirnya aku baru mendapat jawaban. Kini aku benar-benar menyadari tentang hatiku. Namun, tetap saja masalah terus menerpa. Hati Ibuku bagai karang yang sangat keras dan sulit untuk terkikis.


"Yaudah terserah Mama aja, disini aja nyampe besok. Lagian kalau ada tetangga yang gosip juga bukan salah Fanni kok, apalagi Mama semalem marah-marah nggak jelas. Liat aja entar temen arisan Mama pada rumpi," ancamku pada Ibuku.


"Enak aja kamu ngomong Fann, Mama marah kan karna kamu sama si duda itu. Masih bilang nggak jelas lagi," jawab Ibuku.


"Duda, duda... emang seburuk apa sih orang berstatus duda buat Mama? Lagian Mas Arlan kaya lho Ma."


"Emang kenapa hah kalau kaya? Kamu pikir emak kamu ini mata duitan apa? Terserah kalau kaya urusan dia. Buktinya banyak duit rumah tangganya juga hancur."


"Ya Allah Mama, pamali hina orang kayak gitu!"


"Enggak kalau buat dia."


"Mama nyebut Ma, Allah maha mengetahui. Jangan sok tau sendiri entar jatuhnya fitnah lho."


"Hmm... iya deh Mama minta maaf. Lagian kamu jadi anak susah banget manut sama orang tua."


"Minta maafnya sama Mas Arlan dong Ma, jangan sama Fanni."


"Entar kamu yang nyampein."


"Jadi Fanni boleh ketemu ya Ma?"


"Enggak sama sekali!"


"Lah katanya suruh nyampein?"


"Enggak jadi."


"Ihhh... Mamaaa."


"Yaudah anterin pulang hayu, ngeri juga kalau jadi bahan gosip. Itu yang Mama bawa entar buat sarapan, nasinya masukin rice cooker. Tapi awas ya kamu jangan ketemu sama dia!"


Baiklah! Untuk sementara waktu aku turuti Ibuku. Beliau mau kembali pulang saja, sudah lebih dari cukup. Intaian dari beliau padaku akan berakhir. Jika aku tidak bisa bertemu, setidaknya bisa berbalas suara lewat ponsel dengan Mas Arlan.


Tanpa mandi terlebih dahulu, aku meraih kunci mobilku dan hendak mengantarkan Ibuku pulang. Piyama yang kupakai pun kini sudah berganti baju sehari-hari.


Setelah turun, kami menghampiri mobilku. Sudah seminggu lamanya, aku tidak menyentuh si merah sama sekali. Semua karena Mas Arlan yang terus menerus mengantarkan dan menjemputku bekerja. Rindu juga.


Kami masuk kedalam. Dan aku mulai melaju perlahan mobilku meninggalkan gedung Apartemen. Menyusuri jalanan yang basah serta menerabas hujan yang turun kembali.


****


Setelah beberapa menit kemudian sampailah aku serta Ibuku di rumah beliau.


"Nih Ma, bawa payung Fanni," ujarku kepada Ibuku.


"Kamu nggak mampir?" tanya Ibuku


"Enggak Ma, Fanni nggak enak badan. Salam ya buat yang lain."


"Makanya nggak usah sok-sokan ujan-ujanan belain orang. Nanti juga awas kamu ketahuan ketemu dia lagi."


"Baik Mamaku sayang yang paling cantik seantero jagat raya, Fanni mau tidur seharian ini."


"Minum obat jangan lupa, kalau ada apa-apa ngomong sama orang rumah."


"Iya Ma."


"Yaudah hati-hati, inget pesen Mama, kamu ya."


"Iya Mamaaa."


Akhirnya setelah memberi nasehat yang begitu panjang, Ibuku beranjak turun dari mobilku. Beliau masuk kedalam rumah menggunakan payung yang selalu tersedia dalam mobilku.


Setelah beliau telah masuk dan tak terlihat lagi dari pandangan mataku, aku menyalakan mesin mobilku kembali. Kemudian melajunya kembali untuk pulang ke Apartemenku.


Hujan masih turun begitu derasnya. Membuat sekeliling jalan raya tampak sepi. Mungkin karena hari Minggu dan hujan juga. Tak masalah bagiku, dengan begitu aku tidak perlu terjebak dalam kemacetan. Terus fokus pada jalan yang lenggang dan sampai di Apartemen dalam waktu sesingkat mungkin.


Hingga beberapa saat kemudian aku sampai di Apartemenku. Aku naik keatas menyusuri lantai dan lift yang sama. Aku bersyukur bisa terbebas dari Ibuku. Bisa tidur dengan nyenyak lalu bertemu Mas Arlan jika ia ingin datang.


Sempurna!


Sesuai rencanaku awal, saat sampai di kamarku. Mas Arlan telah mengirimkan pesan padaku, ia akan datang bersama si kecil. Membuatku kalang kabut karena aku belum mandi dan berberes sama sekali.


Lalu dengan segera, aku melakukannya. Rambutku kegelung keatas agar tidak mengganggu. Kuambil penyedot debu yang kumiliki kemudian mulai membersihkan lantai.


Sekitar lima menit baru selesai dilanjutkan dengan mengepel lantai. Semua harus bersih saat ayah dan anak tersebut sampai. Tidak boleh ada debu sedikitpun yang menempel dalam Apartemenku. Yah, aku tau itu semua mustahil. Setidaknya harus bersih, apalagi akan ada anak kecil disini.


Kurang lebih setengah jam, aku baru selesai membersihkan ruang Apartemenku. Dengan begitu, aku bisa mandi.


****


THING... THONG... THING... THONG!!!


Tepat pukul delapan pagi berbarengan dengan hujan yang telah reda, bel pintu Apartemenku terdengar berbunyi. Aku rasa pelakunya adalah Mas arlan.


Semangatku muncul seketika, aku langsung berlari menghampiri pintu lalu membukanya. Benar saja, Mas Arlan disana. Sedangkan Selli langsung berlari menghampiriku. Sontak saja kupeluk tubuh mungil dari gadis kecil tersebut.


"Gadis cantik, apa kabar kamu?" tanyaku pada si kecil Selli.


"Aku baik Tante, Tante gimana?" tanyanya kembali.

__ADS_1


"Tante juga baik sayang," jawabku.


"Ooo... gitu ya kalau cewek-cewek ketemu, cowok tampan ini dicuekin," sela Mas Arlan.


"Papa diluar aja, Selli mau celita baleng Tante besal."


"Ehh... kok anak Papa tega sih sama Papa? Tante Fanni ya sayang."


"Hihi... kan Papa cowok sendili. Ehh... iya Tante Fanni."


"Haha... anak pinter Papa tinggal aja yah, Selli sama Tante."


"Iya Tante hihi."


"Wahh jahat kamu Dek."


"Biarin Mas hehehe."


"Dasar cewek-cewek."


"Udah yuk ah masuk Masku."


"Kecup dulu."


"Ada Selli, jangan aneh-aneh deh!"


"Iya iya sayang hmmm..."


Seperti biasa aku mempersilahkan duduk diatas sofaku pada mereka berdua. Mas Arlan pun mungkin sudah terbiasa. Ia tak segan lagi menyalakan televisi tanpa seizinku. Aku juga tidak marah soal itu, rasanya malah menyenangkan.


"Kalian udah sarapan tadi?" tanyaku.


"Selli udah Tante sama sayur bayem buatan Bibi."


"Oh ya? Enak nggak sayang?"


"Asin hehehe."


"Hmmm... nggak pinter tuh si Bibi hihi."


"Tapi Bibi sayang sama Selli, Tante."


"Iya dong, Tante juga sayang sama Selli."


"Makacih ya Tante, Selli jadi nggak kesepian lagi. Kata Papa, Tante mau jadi Mama Selli ya? Kapan Tante? Selli ceneng deh, mau punya Mama jumlahnya dua."


"Haaah?"


Sontak saja aku menatap kearah Mas Arlan yang berpura-pura bodoh. Aku menyipitkan mataku padanya. Meluluhkan hati Ibuku saja belum mampu, malah memberitahukan hal yang belum pasti pada anak. Begitulah pikirku.


Saat Mas Arlan menyadari ancaman dari mataku. Ia hanya cengengesan seperti biasa. Seolah menggambarkan bahwa yang ia lakukan adalah hal yang wajar. Dasar lelaki ini!


Sudahlah, tidak ada gunanya jugabuntuk marah. Apalagi didepan anak kecil. Lagipula kalau benar terjadi pasti juga membuatku bahagia. Kuakui ada rasa senang tersendiri, karena aku merasa dianggap oleh Mas Arlan.


"Mas udah makan?" tanyaku.


"Udah," jawab Mas Arlan singkat.


"Bohong!"


"Hehe... tau aja sih?"


"Kebiasaan deh kalau makan ditunda mulu entar sakit gimana coba?"


"Hmm..."


"Apa? Aku ambilin makan ya, kebetulan Mama tadi bawa makanan kesini."


Tanpa mau mendengar jawaban Mas Arlan lagi, aku segera beranjak pergi ke dapur.


Kutuang nasi dalam porsi sedang kedalam piring. Lalu kuraih beberapa lauk pauk dan sayuran yang dibawa ibuku.


"Dek?" panggil Mas Arlan padaku. Kini ia telah berada di dapur.


"Apa? Kenapa kesini?" tanyaku padanya.


"Emm... aku kangen sama kamu.".


Ambigu sekali, apalagi Mas Arlan terus mendekat padaku. Hal ini membuatku gugup tidak karuan. Mau apa dia? Sampai-sampai menyusulku ke dapur seperti ini.


Tanganku yang masih menggenggam sendok ia raih seketika. Mas Arlan terus menatapku tajam. Seolah menyimpan maksud tertentu. Wajahnya terus condong kedepan semakin dekat denganku. Gila! Wanita mana yang tidak berdebar jika diperlakukan seperti ini.


Tentu saja wajahku terasa panas. Mungkin rona merah menghiasinya. Bagiku kelakar Mas Arlan tidaklah lucu. Apalagi ada anak kecil di ruang depan sana.


"Pffttt... hahahaha," Mas Arlan terkekeh.


"A-apa sih?" tanyaku heran.


"Muka kamu tegang banget kayak ketemu hantu. Merah banget lagi"


"Iiiihhhh... dasaaarrr! Nggak lucu sama sekali tauk!"


"Aduuddduuuhh sakit Dek."


Kucubit lengan Mas Arlan dengan kencang sampai menimbulkan bekas kemerahan dikulitnya. Ia mengaduh kesakitan sembari menggosok kulitnya yang kulukai.


"Makanya jangan iseng!"


"Iya iya maaf, kan becanda.".


"Becandanya nggak lucu ada Selli lho."


"Iya sayang maafin Mas ya."


Cup!


"Mas Arlaaaaaannn!"


"Dapet kan? Satu kosong hehehe."


Pria tersebut berlari menghindar dariku setelah pipiku berhasil dikecupnya. Aku sendiri luar biasa kaget dibuatnya. Kututupi wajahku yang semakin merah karenanya. Aku malu sekali. Mas Arlan benar-benar usil.


Kuhela napas untuk mengatur detak jantungku. Setelah itu membawa nampan berisi makanan untuk Mas Arlan dan cemilan untuk Selli. Tidak lupa minumannya pula.


Aku menyajikannya dihadapan mereka. Mas Arlan lahap sekali. Sedang Selli menyantap cemilan diiringi celoteh kecilnya. Rasa rinduku pun terobati.


Walau dalam hati kecilku, aku merasa bersalah pada Ibuku.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen yaaa...


Next eps besokkk... POV Mas Arlan lagi otw.

__ADS_1


__ADS_2