
Aku menatap diriku pada pantulan cermin yang menempel di almari. Bentuk badanku masih sama saja, gendut. Usia kandunganku sudah tujuh minggu, bagiku lumayan cepat berjalannya waktu. Tidak perlu menunggu waktu lama untuk membuat perutku buncit, karena memang sudah dari sananya. Banyak nikmat yang masih kualami sejauh ini, namun bersyukur aku masih bisa bertahan demi sang buah hati.
Kunikmati hari-hariku menjadi seorang ibu dan istri dengan sepenuh hati. Tidak perlu ikut susah payah dalam mencari target pemasaran, keluar masuk perusahaan ataupun bertemu klien. Meski begitu, sebenarnya aku merasa agak bosan alias jenuh. Tepatnya, pada saat Mas Arlan sudah berangkat bekerja dan Selli mulai masuk sekolah. Bi Onah sibuk di belakang. Aktivitasku hanyalah membaca novel, majalah ibu hamil ataupun mencermati toko-toko online khususnya diperlengkapan bayi.
Sedih juga, Mas Arlan belum mengizinkan diriku untuk keluar tanpa dirinya. Suami yang sedikit posesif, namun semua demi kebaikan diriku dan anakku. Mungkin, sesekali ibuku datang kemari. Beliau datang pada saat Mas Arlan sudah berangkat bekerja. Yah, ibuku masih memiliki rasa sungkan jika datang kemari. Bisa dibilang, beliau tidak ingin dianggap mencampuri urusan kami. Walau sebenarnya memang tidak, namun tetap saja ibuku khawatir jika kedatangan beliau malah mengganggu.
Oh iya, untuk Nia? Ya, ia belum bertindak lagi setelah tiga minggu yang lalu. Namun, aku yakin, ia masih kerap datang ke sekolah Selli. Ada rasa khawatir yang selalu hadir didalam hatiku, namun mau bagaimana lagi. Selli masih membutuhkan bangku sekolah. Lagipula, Nia belum memiliki hak paten dalam mengambil anaknya. Jika ia bersikeras, maka ia akan berurusan dengan aparat kepolisian. Pastinya, Mas Arlan juga tidak akan tinggal diam.
Dan sore ini, aku sudah bersantai setelah membereskan beberapa pekerjaan rumah. Penantian terhadap suamiku yang pergi bekerja adalah penantian yang mengensankan. Menyambutnya dengan senyuman dan membawakan tas dan jasnya adalah hal biasa, namun terkesan istimewa bagiku. Momen yang selalu aku tunggu-tunggu sejak dulu.
Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba. Melalui balkon rumah ini, aku bisa mengetahui mobil hitam yang melaju ke arah rumah ini. Siapa lagi, kalau bukan suamiku tersayang. Lalu, aku berbalik badan untuk mengambil langkah turun. Tampak di depan kamar putriku, Selli sedang berdiri menatapku. Tubuh mungilnya masih terlilir handuk kecil berwarna putih.
"Papa udah pulang ya, Ma?" tanyanya demi memastikan apa yang tengah aku lakukan. Sehingga berhasil membuatku menghentikan laju kakiku.
Aku tersenyum, kemudian kuberikan jawaban, "iya, Sayang. Ganti baju dulu, apa mau Mama bantu?"
Selli menggeleng mantap. "Enggak, Ma. Mama sama Papa aja, nanti Selli nyusul."
"Uh ... gemes, Mama tunggu ya, Sayang."
Yah, begitulah Selli. Pintar, cukup dewasa diusianya. Bukan hanya berganti pakaian, bahkan mandi pun sudah tidak ingin aku temani. Ia selalu mengatakan bahwa aku harus menjaga adiknya. Siapa yang tidak bangga menjadi orang tuanya? Ya, aku sangat bangga.
Setelah memastikan sedikit tentang gerak aktivitas Selli, dan semua baik-baik saja, aku kembali melanjutkan langkahku untuk turun. Satu persatu anak tangga kutapaki dengan sangat hati-hati. Dan yeah, sampailah aku di anak tangga paling akhir. Selanjutnya, tentu saja aku menuju pintu utama. Dimana aku akan menyambut kedatangan suamiku tercinta.
"Hai, Mas," sapaku pada Mas Arlan setelah membuka pintu dan hadirlah dirinya dihadapanku.
Ia tersenyum, manis sekali dan tentunya masih membuatku candu. "Assalamu'alaikum, Sayang," sapanya padaku.
"Wa'alaikumsalam, Sayang."
Aku mengambil tas dan blazer yang ia bawa di tangan. Dan ketika aku hendak berbalik badan, ia segera menarik diriku dan merangkul dari belakang. "Hmm ... istri udah wangi. Mas kangen, Dek ...," bisiknya tepat di telingaku.
"Hmm ... kamu belum cuci tangan dan muka, Mas. Jangan main peluk-peluk."
"Mas udah nggak kuat nahan rindu."
"Kamu gombal melulu, Mas."
"Serius, Sayang."
"Aku juga serius, Sayang."
"I love you, Dek."
"Iya, i love you to."
Cup! Kecupan manis, Mas Arlan berikan pada pipi kananku. Sedangkan diriku, sibuk memastikan--adakah Bi Onah disini? Tentu saja, karena aku malu jika kemesraan kami dilihat oleh orang lain. Terlebih, tingkah manja Mas Arlan sulit untuk ditepis lagi. Ia tidak mau menunda, sampai kami cukup berdua didalam kamar sana. Entah aku harus bersyukur atau mengeluh dalam hal ini.
Hingga aku merasa cengah dan berat di pundak lantaran lengan tangan Mas Arlan yang kekar itu. Aku berusaha melepaskan diri. "Cuci tangan dulu. Rajinin jaga kebersihan, Sayang. Aku sedang hamil."
"Kan, Mas udah pake handsanistizer, Dek."
"Ya, itu kan buat tangan bukan seluruh badan. Dan yang nempel di aku, semua badan kamu, Mas."
"Ih, bawel deh. Mas kan kangen, udah seharian nggak ketemu kamu, Dek, Dek." Dengan menggerutu seperti itu, akhirnya Mas Arlan bersedia melepaskan rengkuhannya terhadap diriku. Meski begitu, tidak sepenuhnya berakhir. Ia malah merangkul penggangku dan mengajakku menuju kamar. Dalam artian untuk beristirahat bukan yang lain-lain, lagipula masih sore seperti ini.
Sesampainya di atas, Mas Arlan berbelok ke kamar mandi yang tersedia di lantai dua ini. Sedangkan diriku masuk ke dalam kamar kami untuk meletakkan barang milik suamiku itu. Namun tiba-tiba, putri kecilku datang menghampiri diriku.
"Papa mana, Ma?" tanyanya sembari berlarian kecil.
"Masih mau mandi kali, Sayang," jawabku sembari menyerahkan satu telapak tanganku supaya ia menggandengnya. Lantas, kami masuk ke kamar dan menunggu kedatangan sang paduka raja.
Dua barang milik Mas Arlan kuletakkan sebagaimana mesti dan tempatnya. Kemudian, aku menyusul Selli yang tengah duduk di atas ranjang kamar ini. Ibadah sudah dilaksanakan, tinggal menanti sore menjelang malam. Mentari berwarna jingga pun masih menembuskan sinarnya di jendela kamar yang belum tertutup sepenuhnya.
__ADS_1
Oh ... ternyata suamiku belum mandi. Ia hanya sekedar membasuh tampak luar kulitnya. Terbukti, balutan pakaian kerja masih menempel pada tubuhnya saat masuk menyusul kami. Yah, lagipula ia tidak membawa pakaian ganti dan langsung mampir ke kamar mandi sesuai anjuranku. Namun tetap saja, meski belum bebersih diri sepenuhnya, wajahnya tetap manis seperti biasanya. Ditambah, ada sisa-sisa air yang membasahi wajah dan separuh rambutnya. Ia jauh lebih tampan. Membuat diriku tergiur ingin mengecup seluruh wajahnya, namun aku harus bertahan lantaran ada putri kami.
"Hai, Ladies," sapa Mas Arlan untukku dan Selli.
"Papaaaaa!" pekik putriku, seketika ia bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh sang ayah.
"Apa kabar, Sayang? Putri Papa yang paling cantik."
"Baik, Papa. Hari ini, aku jagain Mama Fanni dan Dede' bayi tauk."
"Oh ya? Pinter dong putri Papa satu ini."
"Iya dong, Pa. Selli mau jadi anak yang pintar dan baik hati."
"Amiiiin."
"Pa, tadi Mama Nia ke sekolah Selli."
Deg! Glup! Jantungku terasa ditusuk bersamaan dengan saliva yang sulit ditelan. Kenapa harus Nia lagi? Dugaanku benar, Nia datang. Hanya saja, ia belum berbuat lebih banyak lagi. Aku menunduk diam, menghela napas panjang dan membuangnya seketika. Nia, Nia dan Nia. Aku cemburu, cemburu padanya lantaran berhasil membuat Selli menyebut bangga atas namanya. Ironis mungkin kedengarannya, tetap saja aku hanya ibu sambung dan bukan ibu kandung.
Lalu, Mas Arlan meraih telapak tangaku tiba-tiba. Sepertinya, ia menangkap apa yang tengah aku rasakan. Ya, mungkin karena efek hamil juga. Perasaanku lebih sensitif dari biasanya.
"Jangan dipikirin, Sayang," ujar Mas Arlan padaku. Tangannya berpindah untuk merengkuh kepalaku ke dalam pelukannya. Tepat saat ia telah duduk disampingku.
Aku mengangguk pelan sembari berusaha untuk tersenyum. "Enggak kok, Mas. Nggak apa-apa. Lagipula, Selli masih pulang dan baik-baik aja," jawabku.
"Sudah Mas bilang, pake bodyguard aja buat Selli. Takut-takut Selli dibawa pergi."
Aku menggeleng. "Itu terlalu berlebihan, Mas. Kita seperti nggak percaya sama pihak sekolah jatuhnya. Belum lagi, kamu masih harus gaji dua orang. Tabungan untuk persalinanku nanti. Mau gimanapun, kamu termasuk karyawan, Mas. Karyawan yang berjabatan tinggi."
"Seenggaknya, sampai wanita itu menyerah, Dek."
"...."
"Mama Fanni kenapa, Pa?" tanya Selli. Oh ... aku melupakan sosok kecil yang pintar ini.
"Nggak apa-apa, Sayang. Mama Fanni hanya sedang ditendang sama adik kamu hehe. Oh iya, tadi Mama Nia bicara apa aja sama kamu?" tanya Mas Arlan.
"Emm ...." Selli tampak berpikir. "Kata Mama Nia kangen sama Selli. Terus pengen bawa Selli pulang ke rumah Mama Nia."
Deg! Lagi-lagi jantungku dibuat terkejut. Nia mulai beraksi lagi. Wanita itu?!
"Tenang, Dek." Mas Arlan kembali berusaha menenangkan diriku. Mungkin karena tanganku menggenggam erat lengannya demi menahan amarahku. "Lalu, Selli mau?"
Selli menggeleng. "Selli nggak mau, Pa. Selli kan belum minta izin sama Papa."
"Anak pintar. Tapi, Sayang. Maaf ya, Papa belum bisa izinin. Besok-besok kalau Mama Nia datang lagi, kamu nggak boleh ikut dulu."
"Kenapa, Pa? Selli juga pengen main sama Mama Nia."
"Emm ... karena Mama Fanni dan Dede' bayi siapa yang jaga? Kan Bibi masak dan bersih-bersih. Apa Selli bisa bersabar dulu?"
Selli tampak berpikir lagi. Tampaknya ia kecewa. Hal itu membuat diriku kembali cemburu. Nama Nia sudah tumbuh di hatinya. Boleh saja, namun jangan sekarang. Kondisi ini akan membuat semuanya menjadi sulit. Aku dan Mas Arlan belum mengetahu secara pasti alasan dibalik permintaan Nia untuk mengambil Selli. Tidak boleh!
"Selli?" Mas Arlan kembali mencoba meminta jawaban dari sang putri. Sedangkan aku sibuk berharap dalam hati, jangan sampai ia kecewa dan marah.
"Iya, Pa. Selli enggak akan ikut Mama Nia. Selli mau jagain Mama Fanni dan Dede' bayi didalam perut Mama Fanni."
Jawaban dari Selli akhirnya membuat lega hatiku, bahkan Mas Arlan. Setidaknya, masih ada kesempatan untuk melumpuhkan rencana Nia yang busuk itu. Kami juga harus lebih berhati-hati. Selepas itu, Mas Arlan melepaskan pelukannya dari diriku. Ia beralih pada Selli dan memangkunya. Memanjakan sang putri dengan banyak celotehan yang terkesan garing.
****
Malamnya, tepatnya seusai maghrib tiba. Didepan jendela kamar, Mas Arlan sedang berdiri sembari memasukkan kedua telapak tangannya di kantong celana. Aku rasa, ia tengah memandang ke luar sana sembari melamun. Aku bangkit dari dudukku dan menghampiri dirinya.
__ADS_1
"Mas?" Kupanggil dirinya sembari memeluk tubuhnya dari belakang. Mas Arlan tersadar, ia melepaskan tanganku. Ia berbalik badan dan memelukku lagi.
"Iya, Sayang?" balasnya padaku.
"Kamu kenapa? Banyak pikiran ya? Soal Nia?"
Mas Arlan terdiam sejenak, kemudian memberikan jawaban, "iya, Dek. Tapi, kamu nggak perlu khawatir kok. Emm ... makan malam yuk."
"Bentar, ada apa? Aku juga perlu tahu apa yang ada di pikiran kamu."
"Pikiranku hanya ada kamu, Dek. Sama Selli."
"Aku lagi nggak becanda, Mas!"
Mas Arlan menghela napas dan mengembuskannya kembali. Ia tidak berhasil mengalihkan perhatianku. Hal itu, membuatnya sedikit terganggu. Namun aku, aku perlu tahu. Lalu, ia menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya. Dikecupnya sekilas bibir dan pipiku.
"Kamu sedang hamil, nggak bisakah kamu menyerahkannya sama Mas? Tanpa harus ikut berpikir?"
Aku menggeleng saja. "Enggak bisa. Aku istri kamu, ibu Selli juga. Aku perlu tahu, Mas."
"Kenapa sih, si Bule satu ini bandel sekali?"
"Ya, aku emang kayak gitu. Dan prinsip hubungan kita emang harus saling terbuka, kan?"
"Hmm ... duduk dulu, Dek. Kasihan kamu berdiri terus."
Mas Arlan menggandeng tanganku. Ia membawaku duduk di tepian ranjang kami. Menatapku oenug sendu. Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Lalu tentang apa? Nia? Sepertinya begitu. Dalam beberapa saat, Mas Arlan masih terdiam. Hanya terdengar denting jam saja di kamar ini.
Dingin AC juga menyeruak menusuk pori-pori kulit kami. Ditambah rasa khawatir yang dibubuhkan didalam perasaan seperti bubuk merica yang membuat perih. Masalah datang silih berganti, satu persatu bisa diatasi. Namun, tiba-tiba muncul lagi. Terhitung dari restu dari ibuku yang sulit diraih, penggelapan dengan tuduhan yang diberikan pada Mas Arlan, masalah Riska, keluar dari keluarga Harsono, lalu munculnya Nia.
"Mas udah cari informasi tentang Nia, Dek."
"Informasi?"
"Iya, Sayang. Nia tetaplah Nia, banyak kelicikan. Mas khawatir makanya pengen sewa satu bodyguard buat Selli. Atau home schooling aja?"
"Jangan! Selli butuh kehidupan sosial. Bentar, emangnya info apa yang Mas dapat?"
"Banyak, Dek. Kita harus siap-siap aja Nia datang lagi ke rumah ini."
"Iya, apa? Alasan Nia ingin meminta Selli?"
"Pertama, Nia udah jadi janda. Suaminya bangkrut kan pasti. Kedua, Nia udah pulang ke rumah orang tuanya. Ketiga, Nia memiliki koneksi dengan salah satu pihak rumah produksi. Bahkan, seorang ahli hukum. Banyak alasan kenapa Nia sangat menginginkan Selli kembali."
"Oh ...."
Info-info itu? Apa yang ada dibalik usahanya dalam mendapatkan Selli? Janda? Orang tua? Rumah produksi? Film, rekaman dan lain-lain.
"Ah ....!"
"Kamu tahu apa yang Mas pikirin?"
"Ya, aku tahu, Mas. Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan."
"Dia belum berubah, Dek. Tapi, dia licin seperti belut. Licik seperti kancil."
"Ya! Mungkin, aku nggak kenal. Yang kenal kamu, Mas."
Kami harus berhati-hati.
Bersambung ...
Budayakan tradisi like+komen.
__ADS_1
Menurut kalian, apa alasan dibalik ulah yang Nia lakukan?