
Napas Jelita tersenggal-senggal, karena baru saja menyelesaikan olahraga ringan di dalam kamarnya diam-diam. Sebenarnya, Mita sudah menjelaskan agar tidak terlalu diforsir, sayangnya ia terlalu tidak sabar. Alhasil, staminanya habis, meski baru memulai sit up selama dua puluh kali.
Ia menggelepar bagaikan ikan paus terdampang, di atas permadani yang membalut lantai kamarnya. Tatapan matanya tertuju ke langit-langit kamar, dengan degupan jantung yang cukup kencang. Ternyata, diet sesulit itu, sampai membuatnya ingin sekali menyerah. Satu hal lagi yang tidak bisa ia lakukan, yaitu tidak bisa menyantap makanan kesukaan. Sayur, buah dan air putih yang akhir-akhir ini ia telan. Nasi yang digunakan pun nasi merah yang tidak sesedap nasi putih.
"Aku cuma mau kayak Tante Fanni, itu aja udah cukup kok, enggak perlu seramping Kak Mita. Tapi, kenapa susah banget?" gumamnya, sembari menelan saliva diakhir kata.
Setelah napasnya mulai teratur, juga degupan jantungnya, Jelita mulai membangunkan dirinya. Entah sudah berapa kilo turunnya, atau mungkin malah belum sama sekali, ia belum berani menghadapi angka timbangan. Ya, kata Mita--ia hanya perlu fokus pada program dan hidup sehatnya. Alasan Mita mengatakan hal itu karena tidak ingin jika sampai Jelita menyerah, karena menatap angka yang tidak turun banyak.
Terdengar suara ketukan pintu sebanyak tiga kali, tetapi tidak ada suara seseorang yang memanggil namanya. Jelita yang terkejut, langsung bergerak membereskan matras kecilnya, mengusap keringat yang bercucuran. Sebelum membuka daun pintu kamar itu, ia berganti baju terlebih dahulu. Khawatir jika yang datang adalah Riris--ibu tirinya. Jika sampai nenek sihir itu tahu kegiatannya, sudah pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.
Kriet! Pintu telah terbuka. Namun siapa yang menyangka, bahwa yang menjadi tamu kamarnya adalah Nur Imran--sang ayah. Jelita menganga, seolah tidak percaya. Entah kapan terakhir kali sang ayah mengunjungi kamarnya.
"S-selamat pagi, Pa," sapanya kepada Nur Imran dengan rasa gugup yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Nur Imran masuk, tidak peduli akan izin dari sang putri. Pengusaha kaya itu melihat-lihat segala penjuru kamar itu. Dan tentu saja membuat Jelita merasa khawatir, takut jika ada kesalahan yang ia buat. Atau jangan-jangan, Riris sudah membuat kabar buruk tentang dirinya kepada sang ayah?
Nur Imran memperhatikan buku-buku yang tersusun rapi di meja Jelita. Hal itu membuat sang anak spontan bergerak menghadangnya. Ada buku pedoman tentang mengurus berat badan, ia tidak akan siapa pun tahu, kecuali Fanni dan Mita.
Dahi Nur Imran mengernyit seketika. "Apa yang kamu sembunyikan dari Papa?" tanyanya kemudian, sembari mengamati buku itu.
"Enggak ada kok, Pa!" jawab Jelita dengan lantang.
"Papa hanya ingin tahu isi buku gambarmu."
"Ah, jangan! Gambarnya jelek banget."
"Minggir sebentar bisa?"
Mata Nur Imran membuat Jelita benar-benar takut. Mata yang selama ini tidak pernah menatapnya dengan ramah, bahkan hampir seperti mata ular sanca yang hendak menerkam mangsanya. Ketakutannya itu, menjadikan dirinya untuk tetap menuruti permintaan ayahnya, meski hatinya memberikan penolakan keras.
Sang ayah sudah memegang salah satu buku gambar, jumlah yang Jelita miliki hampir tiga puluhan. Ada alasan di balik itu semua, rasa hatinya ketika sedang menggambar tentram sekali. Ia bisa menuangkan segala imajinasi, khayalan tentang dirinya yang mungkin sulit untuk direalisasikan.
Gambar pertama dibuka, Nur Imran mengamatinya dengan seksama sembari sesekali memberikan lirikan kepada sang putri. Gadis SMA itu menciut seketika, ingin sekali merampas bukunya dari tangan sang ayah, tetapi rasa takut justru mendominisi. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap sikap Nur Imran sama sekali. Kekhawatiran tentang kemarahan yang mungkin ia terima pun turut mencuat dari dalam dirinya.
Butuh waktu sepuluh menit bagi Nur Imran untuk membuka lima buku. Selama itu, ia belum berkata apa pun. Membuat kaki Jelita seakan terkunci di tempat tanpa bisa melarikan diri sama sekali. Jarang-jarang ke kamar, malah kayak ngasih sidang kematian, batinnya.
"Kamu suka bidang design dan fashion?" tanya Nur Imran tiba-tiba. "Sebagaian besar dari gambarmu isinya model bergaun semua." Ia menutup buku gambar itu dan menatap sang putri.
Jelita menggeleng. "Itu hanya iseng aja kok, Pa. Hanya menuangkan yang ada di dalam pikiran Jeli," jawab gadis itu tanpa mengangkat kepala sama sekali.
"Emangnya apa yang ada di dalam pikiranmu?"
"Jeli ingin seperti gambar-gambar itu."
Dahi Nur Imran mengernyit. "Maksud kamu, gimana?"
"Jeli ingin memakai gaun-gaun itu dan bertubuh ramping seperti mereka."
Nur Imran manggut-manggut. "Hmm ... jadi, gambar kamu ini nyontek model baju orang lain?"
Jelita menggeleng, sembari memberanikan diri menatap wajah sang ayah. "Enggak, Pa. Jeli, kan, udah bilang apa yang Jeli gambar murni dari isi kepala."
"Baiklah, ... Papa akan masukkan kamu ke sekolah design."
"Hah?!" Betapa terkejutnya dirinya. Bagaimana mungkin ayahnya memutuskan hal itu dalam waktu yang singkat? Bahkan, ia saja tidak pernah berniat masuk ke dalam dunia designer dan fashion, terlebih tubuhnya tidak memungkinkan. Meski banyak kalangan designer yang berbadan besar, tetap saja, untuk dirinya rasanya tidak benar.
Kemudian, Nur Imran berjalan. Jelita pikir akan bergegas keluar tanpa mendengar penolakannya terlebih dahulu. Namun ternyata, pengusaha besar itu justru menutup pintu kamar yang masih sedikit terbuka. Baru, ia berbalik badan dan mendatangi Jelita.
Nur Imran duduk bersimpuh di permadani lantai kamar itu. Ia memberikan intruksi agar Jelita melakukan hal yang sama dan harus di samping dirinya. Sang anak yang masih penuh tanda tanya masih tidak bisa menolak. Meski menuruti permintaan ayahnya, ia tetap bertanya-tanya; papa kenapa sih?!
__ADS_1
"Sekarang, lakukan semua yang kamu mau. Jangan dengarkan orang lain lagi, sekali pun itu ayahmu," ujar Nur Imran kemudian.
Jelita berpikir, setelah itu berkata, "emangnya Papa pernah ngelarang aku? Papa ... Papa bahkan enggak peduli sama semua tingkah lakuku. Ah, maaf, kalau Jeli bersikap lancang."
"Maafkan, Papa."
"P-papa enggak salah kok, Jeli yang enggak bisa anak sehebat Jane. Jeli anak bodoh, gendut dan enggak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Bahkan, nama Jeli aja udah buruk banget, kenyal kayak lemak-lemak di tubuh."
Hati Nur Imran mendadak sakit, ketika mendengar ucapan sang buah hati. Bagaimana bisa ia memperlakukan anaknya sedemikian rupa? Maksudnya, Jelita mengatakan semuanya menjadi sebuah sindiran keras bagi Nur Imran. Selama ini, pengusaha besar itu memang menganggap Jelita sama seperti yang gadis itu katakan.
"Nama kamu Jelita, bukan Jeli. Nama cantik yang ibumu berikan ketika kamu lahir ke dunia." Nur Imran mengusap pundak sang anak.
"Iya, nama itu bagus. Hanya saja, orang yang memilikinya enggak tepat. Kalau namanya punya orang kayak Jane pasti kesannya luar biasa, tapi nama Jeli secara kebetulan malah nyangkut di orang gendut dan jelek kayak aku. Nama Jeli yang bagus, justru jadi bumerang tersendiri. Maaf, Pa, tadi Papa bilang sama aku buat melakukan semua yang aku mau. Dan yang aku mau sekarang adalah mencurahkan isi hatiku." Gadis itu, menatap tajam pada mata Nur Imran. Rasa takutnya yang sempat datang, kini berusaha ia buang dengan sekuat tenaga.
Nur Imran menarik tangannya. Ia menunduk diam. Ada banyak rasa bersalah yang bersalah di dalam hatinya. Selama ini, ia benar-benar tidak menganggap Jelita seperti manusia, melainkan barang. Sikapnya itu membuatnya benar-benar malu. Dulu, ia pikir--ketika membiarkan Jelita begitu saja, akan membuat sang anak berpikir lebih maju dan berusaha agar sang ayah menerima keberadaannya. Sayangnya, sikapnya justru membuat banyak penderitaan bagi Jelita. Ayah macam apa aku ini? Batinnya.
"Jadi, ... kamu sudah berapa kenal dengan Nona Fanni?" tanya Nur Imran berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Dahi Jelita mengernyit. "Ah, ya, Papa kenal sama Om Arlan dan Tanta Fanni, ya?" tanyanya kembali. Duh, pasti Om Arlan cerita deh, gimana nih? Batinnya merasa khawatir.
"Mereka rekan bisnis Papa. Orang-orang yang baik dan pintar."
"Tante Fanni juga, maksudnya?"
Nur Imran mengangguk. "Iya, malahan, Papa kenal pertama kali sama Nona Fanni."
"Iya, Tante Fanni juga ibu yang baik. Meskipun, juga ibu sambung ...." Ucapan ini bukan disengaja, tetapi muncul tiba-tiba dari bibir Jelita. Suaranya juga kian melemah. Ia membayangkan bagaimana seorang Fanni memperlakukan Selli dengan baik dan penuh kasih sayang, bahkan meski hanya anak tiri, Selli terbukti sangat manja tanpa batasan apa pun. Hal itu juga yang membuatnya merasa iri, andai saja Riris juga sesempurna Fanni, tetapi kenyataannya malah berbanding terbalik, bahkan jauh sekali.
Ucapan itu pula yang membuat Nur Imran semakin merasa bersalah. Tampaknya ucapan Arlan memang kenyataan, tidak mungkin putrinya berbohong, apalagi saat ini raut wajah putrinya itu tampak sedih sekali. Hanya saja, Nur Imran belum mendapatkan bukti apa pun, meski sudah memasang CCTV tersembunyi. Hanya ada rekaman di mana Riris sedang bekerja di dalam ruangan pribadinya, mondar-mandir ke sana ke mari, atau mungkin mengurus stok kosmetik yang ia jual. Sebenarnya, gerakan Riris yang mondar-mandir itu sedikit membuatnya curiga, hanya saja belum terlalu jelas apa yang sedang istrinya itu lakukan.
"Papa sangat mendukung kalau kamu berteman dengan Nona Fanni," ujar Nur Imran lagi, mengupayakan diri agar ada kenyamanan antara dirinya dengan sang putri.
"Terima kasih, Pa," jawab Jelita singkat. Entah, apa yang membuat sang ayah berubah seperti ini, entah harus bersyukur atau cemas akan hal itu.
Dahi gadis itu mengernyit. "Papa tahu?"
Sang ayah mengangguk. "Papa juga dengar. Akhir-akhir ini, pola makanmu juga lebih sehat."
"Emm ... ya, ada teman aku yang cantik sekali. Dan beliau kasih latihan juga, olahraga yang baik, dan susunan jadwal."
"Siapa orangnya?"
"Adiknya Tuan Celvin."
Nur Imran terkekeh. "Tuan Celvin pengusaha nomor satu itu? Yang bener aja kamu?"
"Tadinya, Jelita enggak percaya. Tapi emang beneran kok, Pa."
"Seingat Papa, Tuan Celvin itu anak tunggal, bahkan ayahnya seorang duda enggak menikah lagi. Mana ada seorang adik."
"Kata Kak Mita adik angkatnya, Pa. Mereka udah kenal dari kecil, juga kedua belah pihak keluarga. Ada bukti foto dan video kebersamaan mereka."
"Hmm ...." Nur Imran berpikir. "Enggak nyangka, teman-teman kamu orang hebat semua. Lalu, soal sekolahmu? Apa masih ada yang bully?"
Semakin besar rasa bingung Jelita, bagaimana bisa ayahnya seperhatian sampai seperti ini? Apa salah makan? Atau dirinya sedang bermimpi? Namun, sejak tadi ia merasa sakit, ketika mencubit lengannya sendiri secara diam-diam. Sikap Nur Imran yang lebih hangat daripada biasanya pun, membuatnya berangsur nyaman, bahkan sampai lupa buruknya hubungan mereka.
Melihat Jelita yang tidak kunjung memberikan jawaban, Nur Imran berinisiatif membenarkan rambut gadis itu yang terlihat berantakan. Mata Jelita menatap Nur Imran seketika. Ya Allah, jangan ambil nyawa ayahku dulu, batinnya. Ya, seolah seperti sebuah pesan perpisahan. Begitu singkat dan sekejap, ayahnya bisa berubah sedrastis saat ini.
"Papa minta maaf atas semua sikap Papa selama ini. Bahkan, membuat kamu berkali-kali jatuh dan menderita. Papa juga enggak memperhatikan kamu lagi, entah terakhir kapan Papa lakukan. Nak, bakat kamu sudah terlihat. Coba apa yang bisa kamu tingkatkan sebagai jalan hidup kamu sendiri. Papa akan bantu dan sangat mendukung sekali."
__ADS_1
Jelita memegang tangan Nur Imran yang masih merapikan rambutnya. "Sebenarnya, Papa ini kenapa? Apa Papa salah obat? Papa sakit?"
"Kamu kok mendo'akan Papa kayak gitu?"
"Papa hanya berbeda dari sebelumnya. Jelita merasa sangat aneh, dan merasa ini hanya mimpi."
"Papa serius, Papa menyesal atas sikap Papa sama kamu selama ini. Papa berjanji akan berubah dan apa kamu mau memaafkan Papa, Nak?"
Ada tetesan air mata yang mengalir di pipi Jelita. Itu bukan mimpi, ayah yang saat ini ada di hadapannya bukanlah sosok imajinasi. Rasa bahagia, haru, juga rindu bercampur menjadi satu. Ia menangis sejadi-jadinya, impiannya tentang dekat dengan sang ayah bisa terkabulkan. Ia bersujud di hadapan Nur Imran bersama isakan tangisnya. Dan Nur Imran memberikan pelukan kepadanya, bahkan pria yang selalu tegas itu, kini menitikkan air mata sesal dan haru.
Di balik pintu kamar Jelita, ada Riris yang sengaja mencuri dengar. Sayangnya, usahanya sia-sia karena keamanan setiap kamar begitu terjaga, tak terkecuali kamar Jelita yang dibangun dengan dinding yang kedap suara. Sehingga aktivitas apa pun di dalam kamar, tidak akan terdengar kecuali jika pintu terbuka. Dan itu adalah hasil karya Riris sendiri, yang meminta struktur bangunan seperti itu.
"Apa yang mereka bicarakan di dalam?" Riris menggigit jarinya, merasa cemas serta sangat penasaran.
Tiba-tiba, pintu kamar Jelita dibuka oleh seseorang. Nur Imran keluar. Tentu saja, Riris terkejut bukan kepalang.
"Lagi ngapain kamu mondar-mandir di sini?" tanya Nur Imran, dengan hati curiga terhadap sang istri.
"Emm ... a-anu, aku cuma mau mastiin anak-anak udah tidur apa belum kok, Mas," jawabnya getir.
"Kamu pikir ini jam berapa? Baru juga jam empat sore, mana ada anak-anak tidur?"
Riris menggeragap. "A-anu, ma-makan maksud aku, Mas."
"Ada-ada aja." Meski merasa curiga Nur Imran masih membiarkan ulah istrinya itu. Bukan sekarang, belum tepat waktunya. Nanti ketika ia mendapatkan bukti. Ia berjalan meninggalkan Riris untuk menuju lantai dasar rumah ini.
Riris yang sudah hampir ketahuan, kini hanya bisa mengambil napas dalam. Aku tidak akan membiarkan segala sesuatu yang menghancurkan rencanaku selama ini, batinnya. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya sembari mendengkus kesal. Terakhir, ia menatap pintu kamar Jelita dengan penuh benci, baru setelah itu ia pergi.
****
"Dek?" Arlan mengusap tengkuk Fanni dengan tatapan mata yang sayu.
"Hmm ... kenapa, Sayang?" tanya sang istri sembari menghalau tangan Arlan agar berhenti berbuat itu.
"Kangen."
"Ya udah, ini, kan, udah ketemu."
"Mau."
"Hih! Masih jam empat juga."
"Mumpung Sella masih tidur, Selli main sama temennya di bawah."
"Nanti aja dong, malemnya."
"Kalau jam segini Sella tidur, pasti anak itu bakalan begadang. Ayolah, Dek."
Fanni menatap wajah Arlan yang sungguh kasihan. Ia menghela napas dalam, dan mengembuskanya kembali. Rasa iba mencuat dari dalam hatinya. Hingga akhirnya, ia mengabulkan keinginan manis dari suaminya.
"Kamu cantik banget, Dek."
"Kalau ada maunya, gitu ya?"
"Mas serius."
"Hmm ... makasih."
"...."
__ADS_1
****
Eeheheheh. Jangan lupa vote ya guys. ( ╹▽╹ )