Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Keuangan


__ADS_3

Sepanjang hari hanya diam. Jenuh. Riska tidak beranjak dari tempatnya. Aku sendiri tidah tahu harus berbuat apa. Namun beruntung, jam pulang kantor sudah tiba. Beberapa saat yang lalu, Mas Arlan telah menghubungiku. Ia akan datang menjemput kami. Mungkin mencari jalan keluar juga untuk sang keponakan. Yah, aku berharap Mas Arlan menepati janjinya tidak menemui Celvin.


Sejujurnya, sepanjang hari ini aku benar-benar khawatir dan gelisah. Sebelum jam makan siang habis saat itu, Mas Arlan memang sempat mengalah. Namun, tetap saja aku risau. Aku takut ia menemui Celvin tanpa sepengetahuanku. Maka dari itu, aku selalu mengingatkan dirinya dengan telepon sepanjang waktunya. Bukan maksud hati ingin mengekang, hanya saja aku tidak ingin suamiku terlibat masalah ini terlalu dalam.


Dan akhirnya pintu apartemen menyuarakan bunyi sedang dibuka. Tanpa pikir panjang aku mendatanginya. Tampak Mas Arlan tersenyum manis menatapku setelah masuk ke dalam, ia membawa sesuatu didalam kantong. Kutilik kearah belakang guna melihat kondisi Riska. Riska masih berada di kamar dan tidak terlihat dari pandangan kami. Lantas, aku mendekati suamiku. Kukecup punggung tangan dan pipinya.


"Hmm... hari ini jadi istri posesif banget ya, Dek," ujarnya.


"Bukan posesif! Lebih tepatnya jagain emosi kamu, Mas," jawabku.


"Iya iya, Sayang. Apapun deh. Emm... kondisi Riska gimana?"


"Masih diam, Mas."


"Duh... anak itu. Yaudah Mas samperin dulu ya, ini ada tiga bungkus nasi buat makan."


"Masih jam segini kok mau makan?"


"Nggak apa-apa, biar imut kayak kamu, Dek."


"Imut apa gendut?!"


"Sexy hehehe."


Kutatap Mas Arlan dengan tatapan tajam dan kesal. Ingin sekali kusanggah ucapannya, namun aku cukup tahu diri, lantaran diriku memang seperti ini. Hanya saja, suamiku memperhalus dengan kata lain. Entah mengapa, jika ia yang berkata, aku tidak merasa tersinggung meski kesal dan geli. Yah, Mas Arlan memang seperti itu dari dulu. Mungkin adalah salah satu bentuk rasa sayangnya terhadapku.


Kemudian kami melangkah lebih dalam. Aku ke arah dapur, sedangkan Mas Arlan ke arah kamar. Sesampainya didapur aku menyajikan makanan tersebut ke tiga piring yang tersimpan disebuah kardus. Yah, mau tidak mau aku membuka kardus itu lagi karena barangnya masih diperlukan. Aku menuangkan setiap bungkus ke masing-masing piring. Hidangan Jawa yang sederhana, namun cukup menggugah selera. Apa Riska bersedia menyantap makanan seperti ini? Mengingat wanita itu adalah orang kaya dan bisa membeli makanan lebih mewah.


Sudahlah, coba saja berikan. Lagipula Mas Arlan yang membelinya. Aku rasa, masih ada kemungkinan dari Riska untuk mau menelan makanan ini. Setelah selesai, aku membawanya ke meja makan yang masih ada beserta tiga botol air mineral yang dibeli juga.


"Mas, Riska udah siap, isi perut dulu ya!" seruku kepada mereka. Kemudian melanjutkan laju langkahku lagi.


Tak lama kemudian, Riska berjalan gontai bersama Mas Arlan yang memapah langkahnya. Miris sekali saat aku menatap wajah ayu itu. Masih bernyawa, namun tidak seperti manusia pada umunya. Tatapannya kosong, matanya memerah dan bengap. Wajahnya kusut tak seperti Riska yang elegan seperti dulu-dulu. Ia harus se-menderita itu.


Aku menarik satu kursi untuk ia duduk. Ia pun menurutiku. Setelah itu, aku dan Mas Arlan juga duduk di kanan dan kirinya. Mas Arlan menghela napasnya dengan berat. Perasaannya mungkin ikut hancur saat mendapati wajah sang keponakan terlihat begitu putus asa. "Ris, makan dulu ya? Kamu harus sehat, Om bakal bela kamu jika sesuatu terjadi. Jangan khawatir. Emm... maaf makanan yang Om bawa cukup sederhana. Sebenarnya kondisi keuangan Om juga sedang sulit," ujar Mas Arlan kemudian.


Riska mengangkat wajahnya dan menatap suamiku. Lalu ia menjawabnya, "ini lebih dari cukup, Om. Terima kasih sudah mendampingi Riska."


"Sejak kapan keponakanku bicaranya baku begini? Santai ajalah, kamu itu udah kayak anak Om sendiri."


"I-iya, ma-makasih Om."


"Yaudah makan dulu. Kamu bisa nginep ditempat Om dulu, kalau belum tenang. Yang penting jangan disini, barang-barangnya nggak lengkap."


"Emm..."


Mas Arlan memberikan senyumannya kepadaku sembari berkedip nakal tanpa sepengetahuan Riska.


Dasar aki-aki, om-om dan Vampir genit.


Kami mulai menyantap hidangan seadanya. Aku bersyukur, karena Riska juga mau menelan sedikit demi sedikit. Mengingat siang tadi ia menolak untuk makan. Yah, setidaknya perutnya terisi. Aku tidak bisa membayangkan jika ia jatuh sakit, pasti masalah akan bertambah lagi. Aku rasa, Riska masih memikirkan tentang itu.


Beberapa menit kemudian, kami menyelesaikan acara menyantap ini. Aku mencuci piring-piring tersebut dan kembali mengemasnya didalam kardus. Setelah itu, aku menghampiri suamiku dan Riska lagi. Tampaknya mereka sudah bersiap untuk pulang ke rumah Mas Arlan. "Mau pulang sekarang, Mas?" tanyaku kemudian.


"Iya Dek. Udah sore, kasian Selli ntar nyariin," jawab Mas Arlan.


"Oke, aku ambil tasku dan punya Riska dulu."


"Iya Sayang."


Aku mengambil langkah menuju untuk mengambil barang-barang tersebut. Tak lupa aku pakai kembali blazerku yang tadi telah kulepas. AC dan lampu telah dimatikan kembali. Setelah dirasa cukup, aku kembali menghampiri mereka. Setelah dekat, kami segera berjalan bersama untuk turun ke bawah. Menyusuri lantai dan lift yang sudah jarang aku lewati lagi.


Rindu.


Disisi lain, aku merasa kagum atas sikap suamiku. Ia tidak gentar dalam menenangkan hati Riska. Aku pikir, Mas Arlan tadinya akan marah besar dan bahkan mengumpat tidak jelas kepada Riska. Ia memang marah, namun masih batas yang wajar. Aku bersyukur, ia bersedia menuruti kemauanku untuk tidak melabrak Celvin. Dan semoga dihari lain, ia tetap mengingat saranku tersebut. Karena ini jalan terakhir untuk tidak memperbesar masalah. Lagipula, emosi bisa menyulut api lebih besar dan akan menghancurkan hubungan lebih besar pula.


Akhirnya sampailah kami ditempat yang dituju, yaitu area parkir mobil. Kami semua telah masuk didalamnya. Kemudian, Mas Arlan segera memacu mobilnya dan meninggalkan gedung apartemen ini. Likukan aspal yang memanjang, kami lewati dengan diam. Aku duduk di belakang menemani Riska, sedangkan suamiku berada didepan sendirian. Demi menjaga perasaan Riska, ia tak mengeluarkan gombalan seperti biasanya.


Selang waktu berlalu, kini kami telah sampai ditujuan terakhir, yaitu rumah suamiku. Kami bertiga bergegas turun. Tiba-tiba si gadis kecil meneriakkan suaranya, "mamaaaaaa! Papaaaaa!"

__ADS_1


Bug! Tubuh si kecil jatuh ke pelukan sang ayah. Lantas, Mas Arlan menggendongnya sembari dikecup kedua pipi bulatnya.


"Kak Riska kok baleng cama mama dan papanya Selli?" tanya Selli kemudian, setelah mendapati diri Riska.


Riska tersenyum simpul. "Iya dong. Kakak kan kangen sama kamu," jawabnya kepada sepupu kecilnya tersebut.


"Waaaaaooooww! Tapi, Kak Liska nggak pelnah main kecini kan?"


Riska berjalan menghampiri Mas Arlan dan Selli. Lantas, ia meminta tubuh si kecil untuk digendongnya. Namun, Mas Arlan menggelengkan kepalanya. "Kamu masih capek, istirahat dulu," ujarnya.


"Nggak kok, Om. Pengen gendong aja, kalau sama Selli jadi tenang," jawab Riska.


"Bener?"


"Iya, Om. Riska main dulu bareng Selli ya?"


"Hmm... yaudah. Udah lama juga kalian nggak ketemu. Inget ya? Jangan mikir apa-apa dulu. Toh, semua belum terjadi. Om bakalan bantu cari jalan keluar, buat bungkam Ivan."


"I-iya Om."


Akhirnya Mas Arlan bersedia memberikan Selli kepada Riska. Mereka masuk ke dalam lebih dulu. Sedangkan aku masih sibuk mengambil tas milikku dan Riska yang sempat terlupakan didalam mobil. Setelah didapat, aku menutup pintu mobil kembali. Kemudian, membalikkan badan dan hendak mengikuti langkah mereka untuk masuk.


Namun, gerakanku terhenti tatkala Mas Arlan tiba-tiba saja memelukku. Sontak saja, aku terkejut. Aku menengak-nengok, karena malu jika ada yang melihat. Dan beruntungnya tidak ada. "Jangan gini ih!" ujarku.


"Kenapa emang?" tanya Mas Arlan.


"Nggak enak diliat orang. Kita masih diluar, ntar malah keliatannya kamu lagi meluk karung goni berisi beras satu kwintal, Mas."


"Beras apaan sih? Nggak jelas deh."


"Itu ibarat kata untuk diriku, Mas."


"Nggak nyambung. Mana ada karung goni secantik dan se-menggemaskan kamu?"


"Ada. Buktinya ya aku."


"Aneh deh. Baru nyampe sini udah kayak gini."


"Hehe... nggak boleh? Nggak tau, Dek. Mas nyaman aja kalau kayak gini."


Oh... aku rasa Mas Arlan memang terlalu lelah dan banyak pikiran. Sehingga ia berlaku sedemikian rupa. Yah, tidak buruk juga. Pelampiasan akan perasaannya adalah pelampiasan yang positif. Dengan begitu, diriku menjadi berguna sebagai penenang jiwanya.


Namun, aku segera melepaskan diri lantaran teringat akan ibadah yang belum sempat aku tunaikan. Aku segera mengambil langkah dan acuh terhadap Mas Arlan. Dengan kaki tergopoh-gopoh, aku menuju tempat wudhu rumah ini. Setelah selesai melakukan ritual suci itu, aku segera masuk ke dalam ruangan yang bisa disebut sebagai mushola kecil. Lantas, aku segera memakai mukena dan mulai menunaikan ibadahku. Durasi yang diperlukan pun tidak terlalu lama.


****


Selepas beribadah tadi, aku sudah bebersih diri alias mandi. Rasanya lebih segar daripada sebelumnya. Apalagi guyuran air yang masih tersisa di rambutku yang basah, seolah memberikan ketenangan jiwa. Sebelum kembali ke kamar pribadiku dengan suami, aku naik ke atas lebih dulu.


Aku menilik aktivitas Selli dan Riska diam-diam. Bersyukur hati ini, Riska tidak lagi muram. Sepertinya senyum dan sifat kanak-kanak Selli mampu membuatnya lebih nyaman. Ide untuk menginap disini, tidak buruk juga baginya. Mungkin, yang buruk adalah pencarian alasan yang tepat karena Riska sebagai atasan malah tidak menampakkan batang hidungnya dalam sehari penuh. Kemungkinan besar, orangtua dan para stafnya sedang kebingungan. Belum lagi, jika Ivan benar-benar langsung mengatakan semua yang terjadi. Ah... rasanya cukup mematikan hati.


Biarlah, Riska lebih tenang terlebih dahulu. Sehingga esok hari, ia bisa lebih kuat dan tabah. Aku mengambil langkah lagi, untuk menuju kamarku yang tidak jauh dari tempat Selli. Sesampainya disana, aku mendapati daun pintu yang sedikit terbuka. "Mas?" panggilku, namun Mas Arlan tidak menyahut.


Aku melangkah masuk lebih dalam. Kemudian, kutepuk bahu Mas Arlan pelan. Ia gelagapan, ada sesuatu yang segera ia sembunyikan. Namun, aku masih menangkap barang tersebut. Aku rasa adalah beberapa lembar uang, dompet, dan juga kertas putih.


"D-dek. Emm... maaf Mas nggak tahu, kalau kamu udah kesini," ujarnya.


Dahiku berkerut seketika. "Kamu lagi ngapain?" tanyaku.


"En-enggak kok, nggak ngapa-ngapain hehe."


"Jangan bohong, Mas. Kamu lagi ngitung apa?"


"Bukan apa-apa, Sayang."


"Hmm... terserah deh kalau mau bohongin aku. Anggep aja, aku nggak ada."


Aku mengacuhkan Mas Arlan sembari mendengus kesal. Bagaimana tidak? Sebagai seorang istri, namun aku tidak cukup dipercaya. Padahal kami sudah berjanji akan saling berbagi dan juga berjuang dalam keadaan apapun. Jika Mas Arlan berlaku begitu, bisa-bisa aku menerka sesuatu yang aneh-aneh.


Kami terdiam cukup lama. Bahkan aku tidak melirik dirinya barang sekali saja. Aku kesal sekali, sampai rasanya ingin memaki, namun aku tidak cukup nyali. Hanya gerak kasar yang kulakukan kepada rambutku menggunakan sisir. Niat ingin mengeringkannya saja, kini menjadi enggan. Setelah puas menyisir rambut, aku menjatuhkan diriku diatas ranjang dalam kondisi rambut yang masih basah. Aku memposisikan diriku dengan membelakangi Mas Arlan

__ADS_1


"Dek, nanti kamu pusing lho," ujar Mas Arlan.


"...." Aku masih memilih diam.


"Kamu marah, Sayang?"


"Pikir aja sendiri. Semuanya pikir sendiri. Jangan anggap istrimu ada, aku tidak cukup sempurna untuk mengetahui hidupmu."


Mas Arlan menghela napas berat dan menghembuskannya kembali. Perlahan-lahan gerak dirinya kusadari tengah mendekati diriku. Dan yeah! Ia membelai rambutku yang masih lumayan basah sembari membaringkan dirinya. "Mas minta maaf," ujarnya kemudian.


"Kamu nggak salah kok," jawabku sekenanya.


"Madep ini sih, Mas kangen istri lho."


"Nggak mau."


"Lah, kenapa?"


"Males."


"Sini dulu, Sayang. Mas bakalan cerita."


Karena cukup penasaran, akhirnya aku bersedia membalikkan posisi badan. Kini kami saling berhadapan. Raut lesu dari suamiku tampak begitu jelas dari pandangan mataku. Terlebih ia belum mandi disore ini. Tiba-tiba saja, ia berlaku mesra seperti biasanya. Sebuah kecupan manis ia daratkan dan kami larut kembali dalam suasana romantis.


Namun, aku segera menarik wajahku tatkala mengingat posisi diriku yang masih kesal. Kini malah semakin kesal, lantaran Mas Arlan tidak menjelaskan dan malah mencuri kesempatan. Betapa usilnya dirinya, ia malah terkekeh karena tingkah kesalku.


"Kalau nggak ada yang mau dibicarain. Jangan ganggu aku," ujarku.


"Haha... ngambeknya itu lho," jawabnya. "Iya iya, Sayangku. Mas bakalan cerita kok."


"Apa?"


"Hmm... sebenarnya ini bukan sesuatu yang perlu kamu tahu. Mas... emm... Mas kehabisan uang, Dek."


Aku menatapnya seketika. Sebenarnya, ini yang sempat aku duga. Lagipula, uang 10 juta pasti tidak akan bertahan lama. Bukan hanya Selli yang memerlukannya, namun juga para asisten rumah tangga. Mas Arlan merasa sangat malu, dan itu jelas sekali di wajahnya. Sehingga, aku menjadi iba dan tidak lagi kesal terhadapnya.


Telapak tanganku membelai halus pipi Mas Arlan. Aku heran, mengapa ia tidak ingin aku mengetahui soal ini? Apa terlalu gengsi? Untuk apa sebuah gengsi? Toh, kami sudah menikah dan aku bersedia membantunya selagi mampu. Aku tahu, bahwa masalah uang dan nafkag memang sudah menjadi kewajiban seorang suami. Namun sebagai seorang istri, aku pun tidak sanggup membiarkan suamiku merasa kesulitan sendiri.


"Pakai uangku, Mas. Lagian tabunganku masih ada," usulku.


Mas Arlan menggelengkan kepala. "Nggak, Dek. Uang itu milikmu," jawabnya kukuh.


"Dalam kondisi kayak gini, masih bersikeras?"


"Bu-bukan gitu. Tapi kan..."


"Tapi apa?"


"Mas nggak mau membebani istri, itu aja."


"Nggak ada seorang istri yang merasa terbebani dalam kondisi seperti ini. Lagian, aku masih bisa membantu kok, Mas."


"Iya sih, Dek. Tapi... kalau boleh jujur, sebenarnya bulan ini mereka belum dibayar. Jadi, Mas tadi ngitung dan emang masih pas sih. Cuma, buat kamu sisa sedikit."


"Dasar aki-aki gengsian!"


Mas Arlan mengernyitkan dahinya. "A-aki-aki?"


"Iya! Hehe. Bagus kan? Aki-aki, om-om atau Vampir?"


"Haaaaah?"


Mas Arlan merasa bingung dengan semua panggilan itu. Saat ia mulai sadar bahwa aku sedang meledek dirinya, ia segera berlaku iseng. Lipatan lemak di perutku menjadi sasaran empuk dari keusilannya. Aku sampai bergerak tidak menentu karena merasa geli, karenanya. Tak mengapa, jika hal ini bisa sedikit menghiburnya. Setelah ini, aku harus berusaha mendesaknya supaya ia bersedia menggunakan uang yang aku miliki.


Bersambung...


Budayakan like+komen.


Duh idaman ya hehehehee...

__ADS_1


__ADS_2