
Aku membuka mataku perlahan. Entah mengapa, badanku terasa berat walaupun memang sudah berat. Hanya saja, rasanya lebih tidak seperti biasanya. Mungkin aku sedang lelah. Tapi, mengapa kantukku tidak menghilang? Bahkan biasanya sebelum subuh, aku sudah terbangun. Astaga! Sepertinya tadi malam, selepas telepon dari Celvin, aku ketiduran. Niat hati ingin menunggu suamiku malah gagal total.
Aku merasa bersalah, mungkin harus meminta maaf kepadanya. Lalu, aku berusaha menggerakkan badanku dan mencari keberadaan suamiku. Mas Arlan tidak ada. Lalu, aku menilik waktu pada jam dinding. Sudah lewat lima belas menit setelah waktu subuh datang. Karena jatah bulananku belum tuntas, aku belum melaksanakan ibadahku. Namun, tetap saja aku harus bangun demi mengurus keperluan suami dan anakku.
Kini aku telah terduduk diam di tepian ranjang. Kepalaku pening sekali. Apa aku sakit? Oh... jangan sampai. Aku tidak ingin menambah beban suamiku. Baiklah, aku harus segera bangkit dan bergegas.
"Sayang," ujar Mas Arlan tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya, ia sedang masuk ke dalam kamar.
Dengan senyuman senatural mungkin, aku membalasnya. "Pagi, Sayang. Dari masjid ya?" tanyaku.
"Emm... kirain masih tidur, Dek."
Mas Arlan menghampiriku. Ia hendak merengkuh diriku, namun segera kutepiskan kemudian. "Maaf, Mas. Aku belum mandi, masih bau."
"Biasanya juga belum, biasa aja tuh."
"Hehe... kali ini nggak biasa. Aku mau beresin keperluan kalian."
Aku memundurkan posisiku sembari memberikan senyumanku. Sedangkan Mas Arlan hanya bisa mengernyitkan dahinya. Aku rasa, ia tengah merasa aneh terhadap sikapku yang tidak biasanya. Aku melakukan karena aku takut ia menyadari atas kondisi diriku yang sepertinya sedang dilanda sakit. Aku tidak ingin membuatnya khawatir dan menambah beban pikiran.
Setelah itu, aku mengambil langkah dan berlalu. Meninggalkan suamiku didalam kamar ini. Aku berjalan menuju kamar mandi. Sesekali aku menyentuh wajahku yang sedikit demam. Oke, jangan sampai tumbang. Ini bukan apa-apa, mungkin setelah ini minum obat dan sembuh seketika.
Sesampainya di kamar mandi, aku terdiam sebentar demi menahan rasa pening yang menyerang. Kemudian berdiri lagi dan mulai membersihkan wajah ini. Aku bergosok gigi dan melakukan beberapa hal lain. Setelah selesai, aku kembali keluar. Kulihat Bi Onah sudah sibuk dengan sayur mayur di dapur. Dengan hati-hati, aku menghampiri beliau.
"Bi," ujarku.
Beliau menoleh dan menatapku. "Eh... iya, Mbak?" balas beliau.
"Ada obat flu nggak, Bi? Aku kayaknya mau flu nih."
"Emm... nggak ada kayaknya, Mbak. Atau Bibi beliin dulu ya? Ke warung sebelah."
"Emang jam segini udah buka?"
"Udah, Non. Yang tempat Pak Haji itu."
"Emm... yaudah deh. Tolong ya, Bi. Tapi jangan ngomong sama Mas Arlan. Kalau ketemu, bilang aja mau beli garem."
"Lho, kenapa, Mbak?"
"Udah, pokoknya jangan."
"I-iya, Mbak."
Kini Bi Onah yang berlalu pergi. Sedangkan diriku terduduk lesu di sebuah kursi kayu. Mataku berlinang karena merasa pedas, bercampur dengan rasa pening tadi. Belum lagi tenggorokanku sedikit tidak enak. Sepertinya aku benar-benar diserang flu.
Tiba-tiba, telapak tangan seseorang menyentuh wajahku. Sontak saja, aku beringsut ke samping. Aku menatap dirinya yang tidak lain adalah suamiku. Mataku terbelalak karena rasa terkejutku. Sedangkan Mas Arlan hanya menggelengkan kepala saja. Aku salah tingkah seketika. Kini ia berdiri dihadapanku dan meraih kepalaku untuk dipeluknya.
"Kalau sakit ngomong dong, Dek," ujarnya kemudian
"Maaf, cuma flu biasa kok," jawabku.
"Dari hal biasa yang nggak dikatakan, bisa menjadi masalah besar lho, Sayang. Kalau Mas merasa salah paham sama sikap kamu yang beda gimana?"
"Maaf, Mas. Aku cuma nggak mau kamu khawatir aja."
"Kalau Mas nggak khawatir tuh baru kamu bertanya-tanya. Kalau Mas masih khawatir berarti Mas masih peduli sama kamu, Sayang. Jangan malah ngomong sama Bi Onah, biar nggak ngasih tahu suamimu akan kondisimu."
Aku merasa bersalah. Sepertinya Mas Arlan tidak sengaja mendengarkan perbincanganku bersama Bi Onah. Padahal niat hati untuk mengurangi rasa khawatirnya, kini aku malah membuatnya sedikit kecewa. Namun, pelukan ini sedikit membuatku tenang. Aku melingkarkan kedua lenganku pada tubuh Mas Arlan sembari bersandar di perutnya.
Mataku terpejam dengan beberapa tetesan air mata yang terkadang mengalir. Namun, bukan air mata kesedihan melainkan rasa panas dan pedas di mataku. Tubuhku terasa mendidih dari dalam bak habis menelan bara api. Bisa disimpulkan sekarang bahwa aku benar-benar sakit karena kelelahan.
"Ke klinik yuk," ajak Mas Arlan.
Aku menggeleng. "Enggak mau, paling mau pilek doang. Tadi aku udah minta tolong Bi Onah buat beliin ke warung," jelasku.
"Emang kamu cocok minum obat warung, Dek?"
"Cocok aja, Mas."
__ADS_1
"Buat tidur dulu yuk."
"Nggak mau, baju kalian belum kesentuh setrikaan. Tadi malem kan ada tamu, aku lupa."
"Biar Mas aja yang urus."
"Eh... nggak perlu."
Mas Arlan menggeleng. Kemudian ia membantuku untuk terbangun dari dudukku. Ia memapah langkahku untuk mencapai kamar kami. Aku hanya bisa menuruti apa yang dikatakan suamiku ini. Karena tidak ada gunanya aku menyanggah tentang kondisiku lagi. Yang ada, ia akan merasa semakin khawatir.
Sesampainya didalam kamar, Mas Arlan memintaku untuk merebahkan diri lagi. Aku pun kembali menurutinya, kurebahkan diriku di atas ranjang. Sedangkan suamiku masih setia menjagaku disini. Ia memberikan pijitan di kedua lengan tanganku. Betapa manisnya perhatian kecil ini, terlebih dari suamiku sendiri. Bahkan ia bersedia mengerjakan apa yang seharusnya aku urus.
Terima kasih, Mas.
"Nggak usah masuk kerja dulu ya, Sayang," usul Mas Arlan.
"Enggak, Mas. Aku harus masuk. Kondisi perusahaan lagi nggak karuan. Belum lagi atasannya lagi dirundung masalah," tolakku.
"Jangan gitu ah. Kamu lagi sakit, Dek."
"Mas... aku cuma mau pilek aja. Nanti habis minum obat pasti sembuh."
"Dek?"
"Mas?"
"Istirahat di rumah dulu ya?"
"Nggak mau."
"Hmm... susah kamu."
Akhirnya Mas Arlan bersedia mengangguk. Dan apa yang aku katakan memang benar, aku tidak ingin Celvin kewalahan. Ia masih mencari-cari keberadaan Riska. Aku pikir, ia tidak bisa sepenuhnya berada didalam kantor lantaran pencariannya. Sampai saat ini aku belum mengatakan yang sebenarnya karena belum berunding dengan Mas Arlan.
Beberapa saat kemudian, Bi Onah menyuarakan keberadaannya didepan pintu kamar ini. Mas Arlan beranjak berdiri untuk membukanya. Tampaknya Bi Onah telah kembali dengan obat. Selanjutnya Mas Arlan kembali menghampiriku. Ia memberikan obatnya untukku.
"Masih mau dibikinin bubur dulu, Dek. Bentar ya, minum obatnya," ujarnya.
"Kalau gitu Mas ke belakang dulu ya?"
"Nggak mau. Aku masih pengen ditemenin kamu. Bolehkan?"
"Iih... kalau sakit ternyata bisa manja ya? Padahal tadi sok-sokan diumpetin."
"Hehe... udah terlanjur basah. Emm... Mas, semalem Celvin telpon nyari Riska."
"Eh?" Mas Arlan tampak terkejut. "Kamu bilang?"
Aku menggelang mantap. "Belumlah, orang belum bilangin sama kamu."
"Hmm... jangan dulu, Dek. Biar Riska sendiri yang memutuskan. Sebenarnya Mas belum mau ngomong juga, biar anak itu tenang dan nggak gegabah dulu."
"Iya, Mas."
Beruntung keputusanku tadi malam adalah hal yang tepat. Aku tidak terburu-buru dan bisa menahan rasa ibaku. Jika saja, aku mengatakan yang sebenarnya, entah apa respon Mas Arlan sekarang. Ternyata seorang Fanni masih cukup pintar.
Namun, disatu sisi lain otakku, aku masih menyimpan beberapa pertanyaan. Pertanyaan tentang kasus penggelapan itu. Tentang siapa yang bisa dicurigai. Meski bukan urusanku, aku tetap merasa penasaran. Apalagi jika mengenai diri suamiku. Toh, aku hanya ingin tahu bukan ikut campur. Siapa yang tahu jika aku bisa memberikan saran untuknya.
"Mas, masalah kamu dari perkataan Mas Roni soal apa?" tanyaku kemudian.
Mas Arlan menghentikan gerak tangannya yang masih merawatku. Menatapku gusar dan penuh rasa ragu-ragu.
"Mas?"
"Emm... ya. Sepertinya Mas emang harus jujur sama kamu, Dek. Lagian nama keluarga Mas udah seburuk ini di mata kamu."
"Kenapa? Ada apa?"
"Sebenarnya yang meminta supaya Mas membayar dana yang hilang itu adalah Mas Dian."
__ADS_1
"Mas Dian?"
Aku berusaha membangunkan diriku, namun Mas Arlan mencegahku. Lalu soal Mas Dian lagi? Dulu Mas Arlan mengatakan bahwa ia yang bersedia membayarkan. Namun, apa yang ia akui sekarang? Mas Dian lagi? Tapi, kenapa Mas Dian juga yang membantu Mas Roni untuk mengungkap kejadian itu? Astaga! Masalah macam apa ini?
Baiklah, aku harus tenang. Aku sudah bilang bahwa aku hanya ingin tahu dan bukan ikut campur. Biarlah, para pria yang menuntaskan segalanya. Lalu, aku kembali menatap wajah Mas Arlan sembari menunggu ucapan berikutnya. Ia sedikit salah tingkah dan aku rasa, ia tengah merasa malu karena sikap serta masalah keluarganya.
"Aku sendiri bingung, Dek. Kenapa Mas Dian membantu Roni, padahal beliau sendiri yang mendesak Mas. Untuk apa? Bahkan jabatan tinggi udah beliau dapatkan untuk menggantikan posisi Riska sekarang."
"Ada sesuatu dibalik semuanya, mungkin."
"Entahlah. Tapi, kalau benar dari dalam keluarga Mas, lalu siapa yang tega memfitnah Mas? Atas dasar apa? Kesalahan Mas dimasa lalu?"
"Maybe."
Mas Arlan menghela napas begitu berat. "Mas malu sama kamu, Dek. Mas harus bawa kamu ke keluarga semacam ini."
"Nggak apa-apa, Mas. Jujur aku kadang merasa lelah karna dilibatkan masalah kalian. Tapi, itu hanya rasa sebagai manusia biasa. Aku tetep istri kamu, Mas. Aku nggak bisa tinggal diam melihat kamu kesulitan."
Mas Arlan bersedia tersenyum. Selanjutnya, ia menceritakan segalanya. Mulai dari proyek baru yang ia dapatkan. Sampai proses pendanaan yang membuka tabir penggelapan. Berkas-berkas palsu yang mencantumkan namanya sebagai penerima dana itu. Semua terdengar dan mengartikan bahwa seseorang telah merencanakan hal ini dengan rapi dan penuh kejeniusan dalam kejahatan. Sampai pihak yang menangani dana itu, sampai saat ini kabur dan belum ditemukan. Aku rasa, karyawan itu sedang disembunyikan oleh sang otak rencana menjijikkan itu.
Otakku diam-diam kembali bekerja. Seperti yang dikatakan Mas Roni tadi malam. Dugaan tentang kejahilan dari orang dalam sepertinya benar. Entah dari keluarga Harsono ataupun salah seorang pemegang saham yang nakal. Jika aku didalam lingkup perusahaan itu, sepertinya aku mampu menebak siapa sang pelaku. Namun apa daya diriku, aku bukan siapa-siapa.
"Kekurangan dana yang hilang tinggal berapa, Mas?" tanyaku.
"Masih banyak, Dek. Memerlukan beberapa bulan gajian lagi. Itupun kalau uangnya nggak dipake buat yang lain," jawab Mas Arlan.
"Jadi, kamu masih harus bayar sampai pelaku yang sebenarnya ketemu?"
Mas Arlan mengangguk sembari tersenyum kecut. "Maaf, Dek. Belum sempet baha--"
"Kita bisa lewati. Dan aku yakin kamu berhasil mengungkap semuanya."
"Amin, Sayang. Emm... udah dulu ya? Udah jam enem. Katanya belum disetrika bajunya kan? Nanti Mas balik pagi, bawain buburnya."
"Masa' buburnya daritadi belum mateng? Udah kali, coba lihat dulu. Terus bawain kesini dulu ya? Hehe."
"Hmm... modus deh. Suami mau siap-siap ditunda mulu."
Aku terkekeh kecil. Memang benar, karena sudah terlanjur basah, aku memutuskan untuk meminta dimanja. Lagipula hal ini tidak salah, bukan? Dan pada akhirnya Mas Arlan mengabulkan permintaanku. Ia berlalu demi mengambil semangkuk bubur untukku. Bahkan ia bersedia menyuapiku, memberikan obat yang harus aku minum. Dan yang lebih utama, ia kerap memberikan kecupan manis di wajahku. Mas Arlan adalah suami terbaik dari yang paling baik.
****
Tepat pukul 07.00 WIB, Mas Arlan telah membawaku ke gedung kantor milik Sanjaya. Tentunya setelah mengantar si kecil--Selli. Didalam mobil ini, ia memandangku penuh rasa khawatir. Namun ia tetap tidak membujukku untuk terdiam di rumah begitu saja. Aku tersenyum demi menunjukkan bahwa diriku baik-baik saja.
"Nanti kalau udah pulang pokoknya harus ke klinik ya, Dek?" katanya.
"Klinik? Iih... nggak mau ah. Aku agak trauma sama rumah sakit," tolakku.
"Nggak ada kata nggak mau. Mas udah izinin kamu masuk kerja lho. Nurut dong."
"Hmm... iya, iya. Tapi klinik biasa aja ya? Jangan yang mahal-mahal."
"Intinya yang berkualitas. Kesehatan kamu lebih penting daripada uang sekarang. Jangan ngeyel sama suami. Yaudah masuk sana, jangan capek-capek. Kalau kamu dipaksa kerja, bilang sama Mas. Mas hadepin tuh si Celvin."
"Iiih.. posesif banget."
"Nggak peduli, kalau buat istri. Dan lagi, jangan ngomongin soal Riska. Kayak kata kamu, kita nggak perlu banyak terlibat. Semua keputusan ada di tangan mereka. Terus jangan mikirin masalah Mas juga."
Aku mengangguk saja. Tidak biasanya Mas Arlan begitu cerewet seperti ini, bahkan aku biasanya yang lebih cerewet darinya. Meski begitu aku malah merasa senang karena sikap posesif-nya itu. Maksudku perhatiaannya itu.
Kemudian kuraih telapak tangan kanannya. Aku mengecup sekilas punggung tangannya. "Kamu jangan genit!" tegasku.
"Nggak akan, Dek," jawabku.
Cup! Kecupan manis kembali didaratkan di kening dan pipiku. Setelah itu, aku beranjak turun dari mobil ini. Aku menunggu kepergian Mas Arlan bersama mobilnya terlebih dahulu. Setelah, ia hilang dari pandangan mataku, aku bergegas masuk ke dalam gedung.
Aku menghela napasku sebentar demi mengumpulkan segala kekuatan untuk menghadapi pekerjaan yang datang menyerang. Dengan harapan Celvin tidak banyak keluar supaya tumpukan pekerjaan tidak dilimpahkan kepadaku. Dan poin utamanya adalah jangan ada pertanyaan mengenai Riska. Terlebih, aku adalah orang yang tidak tegaan. Bisa jadi aku mengutarakan keberadaan Riska tanpa persetujuan dari Riska sendiri dan kepada Celvin jika menatap lelaki itu sedang meronta tidak jelas.
Bersambung...
__ADS_1
Budayakan tradisi like+komen