Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Nostalgia


__ADS_3

Aku mengusap keningku, meski sebenarnya tidak ada apapun disana. Merasa letih dan lelah, itu tentu saja. Sedangkan berkas yang perlu aku tanda tangani masih menumpuk banyak. Jam pun masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Astaga! Rasanya lama sekali, aku sangat rindu dengan kedua putriku. Hal yang bisa aku lakukan saat ini; hanyalah bisa bertahan dan bersabar. Tanggung jawabku di kantor ini masih banyak.


Kuhela napasku dalam, lalu mengembuskannya kembali. Rasa jenuh ikut serta didalam rasa lelah yang menyerang tubuhku. Beberapa kali aku menguap lebar. Bagaimana tidak, disini aku hanya bekerja sendiri. Tidak ada teman berbincang sama sekali, yang ada hanya tumpukan pekerjaan yang membosankan. Suasana yang sangat berbeda dengan suasana ruang kerja Celvin pada saat itu, ruangan miliknya yang menyatu dengan meja sekretaris.


"Ngantuk, Mas. Kalau kamu ada disini, aku kangen banget," gumamku. Hati ini benar-benar rindu. Namun apa dayaku. Sama seperti yang sempat aku katakan, ya, aku harus bersabar.


Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruangan. Entah kemana nanti, yang pasti aku ingin sedikit menghilangkan kejenuhan. Semua berkasku kurapikan terlebih dahulu, kemudian mengambil langkah untuk keluar dari ruang kerja ini. Menghampiri pintu lalu membukanya setelah sampai. Kulongok sebentar ke arah luar, sepi. Wajar, karena masih dalam jam kerja kantor. Setelahnya, aku benar-benar telah keluar dan menutup pintu dengan rapat sebelum berlalu jauh dari ruang kerja ini.


"Gue mau kemana ya? Toilet atau dapur?" Aku tertegun sebentar. "Hmm ... bikin kopi ah." Akhirnya muncul bayangan secangkir kopi di benakku. Setelah itu, aku berjalan menuju dapur kecil yang merupakan fasilitas kantor ini.


Udara benar-benar aku dapatkan. Bukan udara dari AC melainkan dari alam dan tentu saja lebih segar. Hanya ada beberapa karyawan yang terlihat sedang melintas, aku rasa mereka hendak mencari tanda tangan atasan atau hal lain. Pekerjaan yang dulu aku tekuni selama beberapa tahun, rasanya seperti bernostalgia dikala itu. Tak menyangka, aku sekarang sudah menjadi seorang istri sekaligus ibu. Bahkan, sudah menjadi seorang direktur perusahaan meski hanya sementara. Tak apa, aku bisa mendapat pengalaman baru yang menakjubkan sekaligus membantu suamiku.


"Pagi, Bu," sapa seseorang yang bertemu denganku. Hal itu membuatku menghentikan langkah. Ia menatapku ragu-ragu. "Bu Fanni mau kemana?" tanyanya kembali.


"Ah, pagi juga. Tapi sudah menjelang siang, Rose," jawabku kepadanya, kepada Rose yang notabene-nya adalah sekretaris dari Mas Arlan. Seorang wanita berkacamata dan sempat aku temui pada saat mencari Mas Arlan karena ibunda kami dalam keadaan sakit dan kritis. "Saya mau ke dapur cari kopi."


"Lho? Kenapa nggak panggil saya atau office boy saja?"


Aku tersenyum. "Sekalian mau cari udara segar karna ngantuk. Memangnya ada apa? Mau ke ruangan saya? Dari mana kamu?"


"Emm ... saya baru saja dari divisi keuangan, Bu. Terus mau kembali ke ruang kerja saya, tapi sebelum itu ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Bu Fanni."


"Oh, ya sudah. Kamu taruh di meja saya saja ya. Nanti saya tanda tangani."


"Baik, Bu."


Tanpa pikir panjang lagi, Rose berlalu pergi menuju ruang kerjaku. Sedangkan diriku melanjutkan langkah untuk menuju dapur perusahaan ini. Satu demi satu keramik aku tapaki bak menghitungnya satu persatu.


Sampai tak lama kemudian, aku mendengar samar-samar dua orang sedang berbincang. Tepatnya saat aku hendak berbelok ke kanan, niatku kuurungkan lantaran obrolan mereka terdengar aneh dan sedikit menggelikan. Tempat dimana aku berada sekarang memang sepi, belum lagi bebas dari CCTV. Hal itu, tentu saja membuatku curiga. Takutnya sepasang kekasih yang merupakan karyawan kantor ini dan sedang mencuri waktu untuk bermesraan.


Perlahan, aku melanjutkan langkahku. Lalu berhenti lagi saat ingin berbelok. Aku menelan saliva, perlahan namun pasti. Ya! Aku mengintip. Astaga! Ternyata mereka. Kuhela napas dalam setelah mengetahui sepasang kekasih itu. Mereka belum mengetahui keberadaanku. Siapa mereka? Tentu sang pewaris tunggal dari Sanjaya Group dan pewaris tahta dari Harsun Group. Seketika hatiku merasa bimbang, lanjut atau tidak. Hanya jalan ini yang bisa sampai ke dapur kantor. Mungkin, mereka pikir karena waktu masih dalam jam kerja kantor.


Tubuh Riska tersandar di tembok. Sedangkan Celvin? Tangannya sedang menopang tubuhnya, mereka saling berhadapan. Intinya mereka terlihat mesra sekali. Membuat hatiku seketika kelu. Bagaimana tidak, aku yang sudah menikah dan malah mereka yang sedang memadu cinta. Aku iri, tentu saja. Namun rasa iriku hanya terlintas sesaat kemudian menghilang. Tepatnya saat aku berpikir panjang, betapa mirisnya diriku melihat calon pengantin itu. Apalagi tinggal hitungan hari, akan datang bulan puasa.


Aku memutuskan untuk bersikap acuh. Namun hentakan kakiku sengaja aku kencangkan. Aku melangkah pelan dengan hentakan kaki yang mantap sehingga menimbulkan bunyi. Satu langkah aku ambil, mereka tersadar dan aku kembali berhenti. Kutoleh keduanya, Riska tampak terkejut. Secara spontan ia mendorong tubuh Celvin, bahkan nyaris terjatuh. Sedangkan diriku hanya tersenyum dan melanjutkan langkah lagi.


"Biar tahu rasa kalian! Salah siapa mesra-mesraan di kantor. Nggak mikir apa, kalau direkturnya lagi ditinggal pergi sama suami," gumamku disela-sela gerak kakiku. Aku berharap mereka segera menghentikan tindakan itu. Disisi aku iri, disisi lain itu tidak pantas. Macam novel CEO dan tuan putri saja, walaupun hidup mereka ada mirip-miripnya dengan serial itu.


Setelah sampai di dapur, aku segera mengambil cangkir dan sachet kopi susu. Beberapa office boy telah menawarkan diri untuk membantuku, namun aku menolak. Kutuangkan kopi ke dalam gelas dan air hangat yang sudah tersedia. Kuaduk agar tercampur dan larus didalam cangkir ini. Ada sebuah kursi kosong, sehingga aku memutuskan untuk duduk disana sebelum kembali. Mungkin sekitar tujuh menit sampai kopi di cangkir ini habis.


"Baron." Aku memanggil salah satu office boy yang sedang membersihkan lantai. Ia pun menghentikan aktivitasnya dan menatapku. "Sejauh ini tidak ada masalah di dapur, kan? Misal ada stok barang yang kurang atau apapun itu," lanjutku.


Baron menggelengkan kepala pelan. "Belum ada sih, Bu. Sejauh ini, kantor menjadi lebih baik. Nggak ada kekurangan stok barang apapun, Bu. Semua karna Pak Arlan," jawabnya membuat terkesiap.


"Emm ... kamu sudah kerja disini berapa tahun?"

__ADS_1


"Dua tahun enam bulan, Bu."


"Oh." Aku manggut-manggut. Kemudian kembali bertanya, "sebelum Pak Arlan memimpin, gimana pekerjaan direktur yang sebelumnya?"


"Aneh, Bu. Pada saat itu kan, perusahaan ini kecil sekali. Bisa dibilang perusahaan baru merambah. Terus direktur yang dulu itu kurang peduli."


"Emm ... gitu ya? ngomong-ngomong kamu nggak sengaja ngomong begini, karna saya adalah istri Pak Arlan, kan?"


"Tidak kok, Bu Fanni. Saya saksi mata sebelum perusahaan ini agak meningkat. Kalau saya cari kerjaan itu mudah, pasti banyak karyawan yang keluar dari dulu, Bu. Iya sih, gajinya sesuai ketentuan pemerintah. Tapi kalau kata karyawan diatas saya, mereka kayak ditekan tapi tidak ada hasil karna banyaknya peraturan tidak masuk akal."


Aku terdiam sembari memikirkan banyak hal. Sedangkan tanganku mendekatkan cangkir kopi pada bibirku lalu menyesap isinya. Menurut cerita dari Baron, tampaknya sebelum adanya Mas Arlan, perusahaan ini benar-benar memiliki sistem yang parah. Meski dibawah naungan Sanjaya Group, tidak akan berkembang jika sang pemimpin tidak pintar dalam mengatur strategi. Sebenarnya aku sedikit heran, memangnya Pak Ruddy tidak ikut mengatur perusahaan ini? Tiga tahun yang lalu, aku masih bekerja di perusahaan Sanjaya dan perusahaan itu sedang banyak peningkatan dalam penjualan maupun sewa properti.


Sebenarnya siapa yang memimpin perusahaan ini sebelum Mas Arlan? Kata Mas Arlan adalah salah satu pemilik saham. Namun jika memiliki nilai saham kecil tanpa kepercayaan dari CEO pasti ia tidak akan bisa berada di bangku direktur. Ah, hal itu memang sudah masa lalu. Namun aku sangat penasaran. Pria bodoh mana yang tidak bisa mengurus perusahaan ini dengan baik. Sedangkan suamiku bisa meningkatkan kinerja dan nilainya. Aku rasa, pria dimasa lalu itu bukanlah orang sembarangan. Maksudku ia pintar namun enggan mempergunakan kepintarannya itu karena merasa kecewa karena diberikan perusahaan yang kecil seperti ini.


"Mau nambah lagi, Bu? Biar saya buatkan," tawar Baron kepadaku karena kopi yang berada didalam cangkir sudah benar-benar habis.


Aku menggeleng sembari tersenyum. Lalu kujawab maksud baiknya itu, "nggak perlu. Aku mempunyai anak bayi, nggak bagus kalau kebanyakan ngopi. Emm ... ya sudah, saya balik ya."


"Baik, Bu."


Setelah itu, aku menyerahkan cangkir kopi itu kepada Baron. Aku berdiri dari dudukku dan mengambil langkah untuk kembali ke ruang kerjaku. Tampaknya durasi yang sempat aku rencanakan lebih bertambah. Aku merasa malu kepada diri sendiri yang tidak menepati janji. Terlebih ada Celvin disini. Astaga! Aku harus cepat-cepat kembali.


****


Kubuka handle pintu ruang kerjaku perlahan-lahan. Betapa terkejutnya diriku pada saat mendapati punggung seseorang. Ia tengah membaca sesuatu yang berada didalam map berwarna merah. Aku menelan saliva karenanya. Dengan perasaan enggan, aku tetap masuk ke dalam.


Mendengar ucapanku, Celvin segera menutup map merah tersebut. Setelah itu ia berbalok dan menatapku. "Hai, Ibu Fanni," sapanya.


"Oh, hai juga."


Celvin tersenyum. "Kita bertemu lagi dalam lingkup pekerjaan, Nona Fanni. Aku jadi rindu dengan hubungan kita dimasa lalu."


"Haha, ada-ada aja."


"Aku serius, Nona Fanni."


"Emm ... ya, aku pun begitu."


"Tidak! Kamu nggak begitu. Hanya aku yang rindu."


Dahiku mengernyit karena ucapan Celvin. Bahkan kudukku ikut berdiri karena merinding. Segera kuusap kedua lenganku yang besar. Setelah itu kugelengkan kepala dan lantas mengabaikan dirinya yang tengah tersenyum-senyum menggelikan. Hal tabu yang menurutku tidak cocok ada pada diri Celvin. Aku menjadi terbayang pada saat kami bertemu pertama kali di lift dan ia mengatakan bahwa aku manis. Setelah dipikir-pikir lagi, rasanya sungguh menggelikan.


Tak lama setelah itu, aku memilih duduk di kursi kerjaku. Kukepalkan kedua telapak tanganku sembari mengembuskan napas yang sempat aku hela dengan dalam. Sedangkan Celvin masih pada posisinya. Sampai akhirnya, ia memutuskan duduk dihadapanku. Senyumnya belum juga menghilang, sehingga membuatku sedikit tidak nyaman. Ia memang tampan, namun sungguh! Mas Arlan jauh lebih tampan.


"Gimana?" tanyanya dengan bahasa yang lebih kasual, tidak lagi seperti dulu kala. "Enak kerja disini?"

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. "Emm ... yah, nyaman juga. Aku lebih berkuasa," jawabku.


Celvin tertawa kecil. "Aku nggak nyangka, bisa bertemu kamu lagi, Fann. Sejauh ini kita nggak bisa jumpa karna keadaan dan posisi kamu. Apalagi Om Arlan masih nggak nyaman sama aku."


"Kamu menyadarinya? Emm ... aku minta maaf atas sikap suamiku."


"Nggak masalah, Fann. Kamu pernah jadi sekretarisku, membantuku dalam segala hal dan bahkan ikut terlibat dalam masalahku dan Riska. Jadi, ... wajar aja kalau Om Arlan masih nggak nyaman."


"Apa kamu tahu?" tanyaku kemudian terdiam sejenak. Sedangkan Celvin menggelengkan kepala. Lalu kulanjutkan perkataanku, "Mas Arlan cemburu sama kamu. Kedengarannya emang konyol dan menggelikan. Nggak mungkin seorang kamu suka sama aku."


Dahi Celvin mengernyit. Aku rasa, ia tidak mengerti apa yang aku katakan. "Kenapa bisa cemburu? Aku kan calonnya Riska."


"Aku pernah menyukai kamu, Celvin."


"Apa?!"


Ia tambah terkejut atas pengakuanku. Aku memang pernah berkata jujur kepadanya, namun kemudian aku hapus dengan kata bercanda. Sehingga Celvin tidak menganggap perkataanku dengan serius. Kini aku bisa tersenyum, tidak lagi bergetar atau malu. Ungkapan itu adalah sebagai nostalgia tentang kilasan kisah kami dimasa lalu. Kisah tentang persahabatan seorang CEO tampan dan sekretaris yang gendut.


Percayalah, kini wajah Celvin memerah. Ia tampak lucu dalam kondisi seperti itu. Namun mengapa ia bisa malu-malu pada saat mendengar pengakuan mengenai perasaan dari seorang ibu gendut beranak dua? Konyol. Sejak ia berubah, ia lebih terlihat seperti anak kecil yang baru mengerti mengenai hati. Namun tidak aku sangka, hal itu bisa terjadi sampai sekarang.


Celvin berdeham, lalu berkata, "a-aku nggak tahu kalau kamu pernah menyukaiku. Dulu kamu pernah bilang, kan? Tapi kata kamu hanya bercanda."


"Iya, aku emang bercanda kok pada saat itu. Apalagi aku udah jadi pacarnya Mas Arlan. Tapi mengenai menyukai, itu emang bener, Vin. Kagum lebih tepatnya, bukan suka karna cinta. Tapi, Mas Arlan nilainya beda dan nyampe sekarang selalu nggak suka kalau kita berada didalam satu ruangan."


"Tapi, ... pas kamu pacaran sama Om Arlan, bukannya masih di Sanjaya?"


"Emm ...." Aku mengangguk. "Tiap hari aku dijejal pertanyaan. Udah ah, jangan bahas itu, aku jadi malu. Ngomong-ngomong, soal Mita. Kamu tahu dia dimana?"


"Ya, Mita di Istanbul, Turki."


"Hah?! Kok bisa?"


"Nggak tahu, aku juga."


Istanbul, Turki? Jauh sekali. Sejak kapan Mita disana? Aku tidak menyangka ia akan pergi sejauh itu, bahkan tidak memberitahukan keberangkatannya kepadaku. Yah, semoga saja ia bahagia."


Celvin kembali berdeham. Ia pun berkata, "Fann, aku butuh saran."


"Saran? Soal apa? Pekerjaan? Bukannya kamu lebih pintar?"


Celvin menggeleng. "Bukan, tapi mengenai hubunganku."


"Ada apa lagi, Vin?"


Celvin tidak langsung menjawabku. Ia hanya menatapku, entah apa yang hendak ia katakan. Namun raut wajahnya begitu cemas. Sedangkan aku hanya bisa menunggu sampai ia mengatakannya.

__ADS_1


Bersambung ....


Budayakan like+komen ya.


__ADS_2