
****
Kuhela napas dalam-dalam. Aku berniat mengatakan ini kepada Riska. Dan menurutku memang perlu. Yah, demi suamiku yang selalu membahagiakanku. Aku tidak boleh gentar dan takut. Setelah mengumpulkan niat keberanian, lantas aku mulai menyampaikannya, "bi-bisakah kamu lindungi Mas Arlan?"
Dahi Riska berkerut. Sepertinya ia tidak mengerti. Sama halnya dengan Celvin. Keduanya malah menatapku tajam penuh tanda tanya yang besar. Oh... sepertinya permintaanku terdengar terlalu konyol. Lagipula, siapa yang mampu melindungi seseorang yang se-dewasa Mas Arlan?
Kemudian, aku melepaskan pandanganku dan menunduk seketika. Aku rasa, aku terlalu ikut campur mengenai hal ini. Namun, Riska yang berada dilain sofa dariku, tiba-tiba saja berdiri. Ia meninggalkan Celvin dan datang kepadaku. Aku tertegun tanpa bisa berkata-kata.
"Kak Fanni," ujarnya kemudian, setelah duduk tepat disampingku. "Apa yang perlu saya bantu? Emm... secara jelasnya?"
"Emm...," gumamku getir. "Ma-maaf kalau terlalu lancang. Tapi, bisakah kamu melindungi suamiku? Dalam artian jangan terlalu membawa dirinya masuk ke dalam urusan keluarga kalian."
"Maksud Kak Fanni gimana? Om Arlan masih kan keluarga kami."
Sepertinya aku salah bicara lagi. Astaga! Ini lebih sulit daripada membayangkannya. Aku menundukkan kepalaku kembali. Masih bimbang diantara lanjut atau menghentikan niatanku. Namun, saat mengingat nasib suamiku yang begitu miris, sangat membuatku tertekan. Mau bagaimanapun ini semua harus dihentikan. Terlebih, Mas Arlan sudah tidak terlalu penting dikeluarga itu.
Tiba-tiba, tangan Riska meraih jari-jemariku. Lantas, aku menatapnya. Melihat wajah Riska yang meneduh, membuat niatku semakin besar. Yah, aku harus turun tangan. Setidaknya perkataanku bisa memberikan sedikit pengaruh untuk hidup suamiku.
"Kak Fanni, aku mengucapkan terima kasih karena Kakak bersedia membantu, mendengar dan merahasiakan hubungan kami. Maka dari itu, aku ingin membantu. Jadi, bicaralah," ujar Riska.
"Emm... kamu tau kan, Riska. Hidup Om kamu selama ini, se-menderita apa? Ngurus anak, kerja, setahuku pertama kali kami bertemu, dia nggak pakai jasa pengasuh," jawabku.
"Yah, mungkin belakangan ini Om Arlan kewalahan."
"Mungkin. Aku mencintainya tanpa melihat status dan hartanya, Nona Riska. Sekalipun kami harus hidup sederhana tak mengapa, kami berjanji berjuang bersama. Tapi..."
"Tapi?"
Kuhela lagi napasku dan menghembuskannya kembali. Aku menilik sekilas kepada Celvin, ia tampak memperhatikan. Namun, segera mengalihkan pandangan tatkala aku menatapnya. Kemudian ia beranjak menjauhi kami. Ia cukup peka untuk memberikan keleluasaan kepadaku.
Riska masih bersabar dalam menunggu jawabanku. "Tolong, jangan mempersulit suamiku terlalu sering...," ujarku lirih.
"Gi-gimana Kak?"
"Ya, aku rasa Mas Arlan sudah banyak mengalah dan menanggung hukuman. Tapi, nggak selayaknya dia emm... beliau diperlakukan sedemikian rupa lagi. Sebagai seorang suami dan ayah, pasti akan memikirkan biaya hidup. Dan... tabungan sudah habis, sampai 10 juta pun tidak ada."
"A-apa? Bagaimana bisa?"
"Aku sendiri nggak tau. Tentang hal itu, Mas Arlan nggak pernah memberitahu. Tapi, sekolah Selli pun biayanya mahal. Tetep kekeh nggak mau memakai uangku."
"Oh...."
Riska terdiam, aku rasa ia pun terkejut mengenai hal ini. Matanya yang masih sembab bekas tangisan kini menatap langit-langit ruangan. Sedangkan aku bisa bernapas lega, meski belum tahu jawaban atas semuanya, setidaknya aku bisa mengeluarkan unek-unekku. Aku merasa perlakuan keluarganya sudah benar-benar keterlaluan. Hanya karena uang, sampai rela mengorbankan hidup seorang saudara. Aku tidak habis pikir mengenai hal ini. Kekuatan uang memang luar biasa, bagai pedang tajam yang bisa menjadi pelindung sekaligus alat menjatuhkan lawan.
Dalam beberapa saat, kami saling diam. Sebenarnya jika ditanya, aku tidak enak kepada Riska membahas hal itu dalam kondisi mentalnya saat ini. Hanya saja, pertemuan kami pun akan jarang terjadi ke depannya. Sehingga, mau tidak mau aku harus meluncurkan beberapa maksudku kali ini.
"Aku akan membahas hal tersebut dengan papa, Kak," ujarnya kemudian. "Papa sudah lama pensiun. Dan aku pikir, dana itu tidak sampai ratusan juta. Tapi, kalau Om Arlan sampai seperti itu, sepertinya bukan dana yang sedikit."
"Sebenarnya, kebiasaan Mas Arlan belum menghilang. Kebiasaan memanjakan mantan istrinya masih kerap dilakukan padaku. Walaupun nggak banyak, tapi cukup menguras kantong. Jadi, kemungkinan besar tabungannya habis bukan hanya untuk ganti rugi saja."
"Iya Kak. Aku paham sifat Om Arlan."
__ADS_1
"Emm... entah dia bodoh atau terlalu baik."
"Yah, apapun itu. Sifatnya mudah sekali dijatuhkan oleh orang lain. Sebisa mungkin aku akan bantu."
Aku merasa beruntung, lantaran Riska bersedia membantuku. Bukan maksudku memisahkan hubungan keluarga mereka, aku hanya ingin beberapa orang mengetahui status suamiku. Suamiku bukan lagi orang yang berpengaruh besar bagi perusahaan. Dan aku rasa, atasan yang katanya kakak keduanya, seharusnya cukup membayar gaji bulanan sesuai ketentuan tanpa perlu menjatuhkannya lagi.
Apalagi usia mereka tidak lagi muda. Bukan waktunya untuk bersaing. Lagipula, Mas Arlan sudah mengalah atau bisa dikatakan sudah kalah telak. Seharusnya, para pembencinya sudah berhenti menghakimi. Namun, sifat manusia memang kebanyakan seperti itu. Tidak ada puasnya, sebelum yang ditindas mati kutu.
Semoga aku bisa mendampingi suamiku disaat-saat senang maupun susah. Harapanku cukup sederhana untuk keluarga kami. Aku ingin segera keluar dari perusahaan, aku ingin menjadi ibu yang baik. Satu lagi, aku ingin merintis suatu usaha kecil-kecilan bersamanya. Sehingga kami tidak terjebak lagi dalam permasalahan perusahaan yang cukup pelik. Kami bahagia dalam kesederhanaan.
Melupakan tentang itu, kembali lagi pada waktu yang semakin mendekati jam makan siang. Kami harus bergegas sebelum Mas Arlan datang menjemput. Riska berdiri lagi, tampaknya hendak memanggil kekasihnya. Lalu, tak lama kemudian kami bersiap keluar. Tak lupa Riska menggenggam alat tes bekasnya untuk dibuang keluar.
Pintu dibuka oleh Celvin. Namun, sesuatu tak terduga terjadi. Seseorang sedang berdiri tepat didepan pintu apartemen ini. Matanya tajam dan menatap kami begitu nanar. Kami bukan lagi kaget, namun terkejut luar biasa. Sialnya, Riska sampai menjatuhkan alat tes yang belum sempat ia sembunyikan.
"I-ivan...?" ujar Riska lirih sembari membelalakkan matanya. Diriku pun sama, aku turut gemetaran karena hal tak terduga ini. Darimana Ivan mengetahui kami disini?
Lantas, Ivan masuk dan mendorong tubuh Celvin, nyaris terjatuh ke belakang. Ia memungut alat tes tersebut. Ia menatapnya penuh kemarahan. Urat-urat diwajahnya keluar, ia menggenggam alat tersebut dengan penuh amarah. "Riska!!!" serunya.
"Mohon tenang Pak Ivan," ujar Celvin sembari menyentuh bahu Ivan. Tiba-tiba saja pukulan cukup keras Ivan daratkan pada wajah Celvin. Lantas, Celvin terjengkang meski tidak sampai terjatuh.
"Ivaaaaaaaaaaaan! Cukup!" perintah Riska.
Oh! Astaga! Apa-apaan ini?
"Ini apa, Riska?! Apa yang dilakukan si busuk ini padamu?! Sebegitukah murahnya dirimu Riska?!" Ivan menggila, ia mencengkeram kedua bahu Riska sampai kuat. Celvin tidak tinggal diam ketika sang kekasih diperlakukan sedemikian rupa. Lantas, Celvin maju dan menghempas tubuh Ivan sampai menjauh dan melepas cengkeraman tangannya. Dan perkelahian pun terjadi. Riska kebingungan melerai mereka. Sedangkan diriku masih diam mematung tanpa bisa bergerak sekalipun, aku terlalu terkejut sampai kaku sekujur tubuhku.
Teriakan demi teriakan mereka menggema mengisi ruangan ini. Aku bagaikan di dimensi virtual yang menyaksikan adu perkelahian seperti ini. Kuhirup udara dalam-dalam dan mencoba menenangkan diriku. Yah, aku harus membantu. "Hei, stop!" seruku. "Barang itu milikku bodoh!"
"Y-ya gu-gue juga tahu itu," jawabku. Beruntungnya Ivan segera melepas cengkeramannya. Ia menatap kami begitu nanar secara bergantiaan.
"Saya, mengikuti Riska sejak tadi pagi," ujarnya. "Saya akan melaporkan hal ini pada Tuan Gunawan."
Riska terkejut bukan kepalang. Aku rasa, ia tidak habis pikir atas sikap asisten pribadinya tersebut. Tubuhnya terlihat gemetaran dan sangat jelas. Ia datang mendekati Ivan dan menatap dengan mata yang menangis lagi. "A-apa? Ivan? Kamu berkhianat! Jangan ikut campur masalahku!" tegas Riska.
"Berkhianat kata kamu?! Saya ini bertugas menjagamu, Nona Riska. Tapi kenapa kamu yang saya jaga harus sebodoh ini?!" tungkas Ivan. "Asal kamu tahu, Nona Riska. Saya ini memendam rasa cinta selama bertahun-tahun! Saya berusaha menjaga kamu dengan baik. Tapi apa? Lagi-lagi, kamu begitu bodoh sampai dimanfaatkan cecungguk pembunuh satu ini."
"Dia bukan pembunuh, Ivan! Kamu juga tidak bisa memaksa atas hatiku!"
"Maka dari itu, saya mundur mulai sekarang. Saya berhenti menjadi bawahan kamu. Tapi, saya tetap akan melaporkan kepada Tuan Gunawan. Maaf, saya tetap tidak rela jika kamu bersama dia!"
Ivan tetap kekeh dengan keputusannya. Betapa hancurnya hati Riska saat ini. Padahal beberapa saat yang lalu, ia merasa lega atas hasil negatif yang ditunjukkan alat tersebut. Namun, kini alat tersebut sudah jatuh ditangan Ivan. Dan aku rasa, Ivan sudah memiliki bukti lain untuk melaporkan hubungan dan masalah ini kepada ayah Riska.
Aku tahu dan mengerti. Rasa sakit yang didera hati Ivan memang sudah teramat dalam. Terlebih, orang yang selama ini ia idam-idamkan malah jatuh ke pelukan orang lain dan mengorbankan kehormatannya begitu saja. Jujur, dalam masalah ini aku tidak mampu berbuat apapun untuk membantu. Namun, kemungkinan besar aku terlibat, bisa saja ia melaporkan diriku karena aku mengetahui masalah ini secara diam-diam.
Mampus gue!
Sedang perdebatan mereka masih saja berlangsung. Perdebatan yang tidak bisa aku ulangi dengan kata-kata. Hanya saja, Riska tengah berlutut dihadapan Ivan sembari menangis. Ia memohon-mohon seperti manusia yang sudah kehilangan harga diri yang begitu tinggi.
"Aku mohon. Kali ini saja, kamu jangan melaporkan pada papaku," pinta Riska.
"Maaf, tapi ini sudah menjadi kewajibanku atas dirimu dan mungkin untuk yang terakhir," tolak Ivan.
__ADS_1
"Baiklah! Laporkan saja! Saya akan bertanggung jawab dan menerima resikonya!" tegas Celvin dengan mantap.
"C-celvin??? Jangan gila!" Riska meronta.
"Tidak! Karna saya mencintaimu. Setidaknya pembunuh satu ini masih memiliki hati nurani pada orang yang saya cintai. Jangan berbicara tentang cinta, jika pada akhirnya tidak bisa menerima keputusan orang lain dan malah berniat menghancurkannya. Saya terima niat anda Tuan Ivan. Saya akan bertanggung jawab atas nama cinta dan Riska."
Ivan dan Celvin saling bertatapan, seolah muncul aliran listrik diantara tatapan itu. Riska terjatuh lemas tidak berdaya. Semua sudah terlanjur, ia hanya bisa menerima akibat selanjutnya. Perlahan-lahan, aku bisa menggerakkan tubuhku lagi. Aku menghampiri tubuh keponakan iparku tersebut, lantas menenangkannya.
Sampai saat ini, aku masih tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih hal semacam ini, baru kualami sekarang dan mungkin akan terlibat lebih dalam. Apa yang akan kukatakan kepada Mas Arlan, nantinya? Pasti ia akan sangat kecewa luar biasa terhadapku. Namun, aku tidak bisa menghindari lagi, aku tidak tega membiarkan Riska se-menderita ini.
Tak lama kemudian, Ivan berlalu meninggalkan kami. Selepas ia pergi, Celvin mengusap kasar wajahnya. Ia mendekati Riska dan aku. Kami memapah tubuh Riska yang tengah lemas. Karena situasi sudah genting, Celvin maupun Riska tidak menutupi wajah lagi. Kami berjalan gontai tanpa bicara sekalipun, menyusuri lantai dan masuk ke dalam lift demi mencapai lantai dasar.
Sesampainya ditempat parkir, Celvin memberikan kunci mobilnya kepadaku. "Bawa mobilku, Fann. Antar Riska pulang atau kemanapun supaya dia tenang," pintanya.
"Terus kamu mau kemana?" tanyaku.
"Aku bisa minta tolong orang lain buat jemput. Situasi sekarang belum mendukung, kalau kita bersama."
"Enggak Vin. Kami naik taksi aja, mobil kamu terlalu mencolok."
"Oh... ta-tapi?"
"Tak apa, aku akan menjaga Riska dan membawa ke apartemenku dulu."
"Hmm... to-tolong ya, aku bakalan bayar semuanya untukmu."
Aku tersenyum. Kemudian aku memesan taksi online yang mudah didapat untuk menjemput kami di pintu lobby. Kami menanti taksi datang dan Celvin menunggu kami sampai berlalu lebih dulu.
****
Selang waktu berjalan, akhirnya aku dan Riska telah sampai di apartemenku. Beruntung, masih ada tempat ini untuk menenangkan diri. Setidaknya jangan sekarang, mungkin esok hari supaya lebih tenang untuk menghadapi.
Karena sudah membawa sebagian barangku ke rumah Mas Arlan, akhirnya aku hanya membelikan minuman kemasan untuk Riska. Namun apa daya, ia bahkan tidak menyentuh sama sekali hidangan ringan tersebut. Ia termenung dengan tatapan kosong. Rasanya aku pun tidak sanggup menatap dirinya yang sehancur ini. Aku merasa bersalah atas permintaanku beberapa saat yang lalu, karenanya aku malah menambah beban untuknya. Kini, aku memilih diam dan memberikan waktu untuknya berpikir.
Tiba-tiba ponselku berdering, aku meraihnya dari dalam saku. Oh... aku melupakan tentang ajakan suamiku karena insiden tadi. Mungkin ada sembilan panggilan tidak terjawab dan tidak aku sadari. Dengan gerak kaku, akhirnya aku mengangkat telepon dari suamiku tersebut. "Ha-halo, Mas. Assalamu'alaikum," sapaku kepadanya.
"Wa'alaikumssalam. Kamu dimana sih, Dek? Mas udah didepan kantor kamu lho," jawab Mas Arlan.
Glup! Aku menelan ludahku seketika. Aku bingung harus berkata apa. Kutilik jam didinding yang masih terpasang. Tak terasa waktu makan siang sudah tiba. Ini gila! Pada akhirnya aku tidak bisa menghindari kekhawatiranku yang sempat muncul. Aku melihat Riska, aku masih tidak tega untuk membiarkannya sendirian. Aku takut Riska berbuat macam-macam, melukai dirinya misalnya.
"Dek?"
"Eh? I-iya, Mas."
"Kamu dimana? Kamu belum balik dari meeting diluar? Kok nggak angkat telepon dari Mas?"
"Ma-maaf, Mas. A-anu..."
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen.
__ADS_1
heheheheeee