
Empat cangkir kopi susu telah tersaji di atas meja yang berada di ruang tamu. Aku dan suamiku, lalu Mbak Leny dan juga William berada di sini. Namum ada tambahan gadis mungil bernama Sella yang berada di dalam gendonganku. Akan ada pembicaraan yang sangat penting di antara kami. Sesuatu yang mungkin akan berkaitan dengan perpisahan.
Dalam beberapa saat, memang keadaan di sini terbilang canggung dan sunyi. Terlebih sudah lewat jam delapan malam seperti ini. Jika bukan celoteh Sella, makan hembusan napas kami yang terdengar. Sedangkan Mbak Leny, mata beliau masih saja sembab. Ya, bekas tangisan di pelukan William tadi siang. Mungkin hal yang sama juga terjadi dengan Mbak Dahlia dengan kedua putrinya.
"Emm ... terima kasih ya, Adekku Arlan. Kamu udah membantu kamk ketika di sini," ujar Mbak Leny dengan senyuman yang terlukis di bibir beliau.
Mas Arlan menatap beliau. Namun kemudian kembali menundukkan kepala. "Haruskah esok pagi, kalian berangkat?" tanya Mas Arlan kembali.
Mbak Leny mengangguk. Masih dengan senyuman itu, yang sebenarnya terlihat sangat getir. "Iya, kami udah pesan tiket pesawar." Mbak Leny menghela napas. "Enggak mungkin kami terlalu lama di sini."
"Tapi, Mbak ...?"
"Aku udah menepati janjiku, Dek. Nggak ada lagi yang perlu diurus, kan? Maaf, ... kalau aku mengecewakanmu. Tapi, ... aku enggak bisa kembali dengan Dian."
Mas Arlan menghela napas. Ia tampak bimbang. Di sisi itu adalah hak Mbak Leny, juga kondisi Mbak Dahlia yang semakin menurun. Namun, Mas Arlan tidak berhak memaksa kehendak siapapun, bukan? Jika esok hari, kedua tamu kami akan pulang, maka itu sudah hak mereka. Lagi pula, akan lebih tidak normal jika Mbak Leny menerima permintaan Mbak Dahlia.
"Om, terima kasih," celetuk William tiba-tiba. Ia tersenyum dan itu sangat tampan sekali. "Aku bisa belajar banyak hal dengan Om Arlan."
"Hmm ... sebenarnya Om ingin lebih lama lagi kamu di sini, Willi. Secara, enggak ada laki-laki lain di rumah ini kecuali Om. Pak Edi tiap sore pulang, beliau hanya mengurus kebun aja," jawab Mas Arlan. Ia seperti sangat menginginkan seorang anak laki-laki. Mungkin memang begitu, namun aku belum berhasil memberikannya.
Aku yang sejak tadi terdiam, kini turut berkata, "ini mendadak banget lho, Mbak. Lagi pula, baru siang tadi semua berakhir. Emangnya, kalian enggak mau besuk Mas Dian? Emm ... hari raya juga."
Mbak Leny tersenyum. "Enggak, Dek Fanni. Aku takut, hatiku semakin sakit pada saat bertemu Dian. Juga Willi. Kami akan berusaha melupakan semuanya," jawab Mbak Leny.
"Ah ... iya, aku paham, Mbak. Padahal kita juga belum lama akrab ya? Tapi, ya udah, mau gimana lagi." Sejujurnya, aku sedikit menyesalkan atas keputusan kepulangan Mbak Leny dan William esok hari.
"Kalian bisa bermain ke Canberra saat nanti. Lagi pula, kalau enggak segera pulang, pelangganku nanti marah-marah, Dek."
Dahiku mengernyit. "Pelanggan?"
"He'em ... aku ini seorang penjahit di sana. Jadi ya, sedikit demi sedikit. Dan alhamdulillah, sekarang bisa lebih baik."
"Wah! Penjahit, lama-lama bisa jadi designer, Mbak."
"Amin, amin. Meski ya, masih jauh banget. Punya pelanggan setia aja, aku udah sangat bersyukur, Dek."
Pada saat aku asyik berbincang dengan Mbak Leny, tiba-tiba Mas Arlan berdiri dari duduknya. Ia tidak pamit sama sekali, aku rasa ia akan ke toilet.
"Emm ... Sella tidur, saya mau nidurin dulu ya, Mbak."
"Iya, Dek Fanni."
Dengan membawa Sella, aku beranjak berdiri. Meski sedikit kesulitan, namun tetap bisa. Segera kulangkahkan kakiku untuk menuju lantai dua. Jika sudah lewat jam delapan seperti ini, biasanya Sella tidak mudah terbangun. Mungkin hanya sesekali ketika mengompol atau haus. Itu pun tengah malamnya.
Dengan menapaki lantai dan anak tangga yang sama, akhirnya aku sampai di lantai kedua. Kamar Selli sudah gelap, menandakan ia sudah pulas atas tepukan Bi Onah. Aku merasa sangat lega. Setelah itu, aku segera melanjutkan langkahku menuju kamarku dan Mas Arlan.
Aku membuka handle pintu kamar yang masih tertutup.
"Masih, Mas. Besok berangkatnya." Suara Mas Arlan terdengar. Sepertinya ia sedang menelepon seseorang.
Aku pikir ia ke kamar mandi, ternyata ke kamar kami. Ia tampak berdiri di hadapan jendela yang gordennya belum tertutup secara sempurna. Benar seperti dugaanku, ia tengah bertelepon dengan seseorang yang tidak aku ketahui siapa.
"Iya, Mas. Enggak ganggu kok. Silahkan. Emm ... iya. Assalamu'alikum." Panggilan pun tampaknya diakhiri.
"Emm ... siapa, Mas?" tanyaku karena rasa penasaranku.
Mas Arlan menatapku yang sedang menaruh Sella di dalam ranjang baru, berbahan kayu yang siang tadi dibelikan oleh ayahnya. "Siapa?" tanyaku lagi.
Mas Arlan bergegas menghampiriku. Ia mengecup bibirku sekilas. "Mas Gun, Dek," jawabnya.
"Oh. Ada apaan emang?" Aku dan Mas Arlan duduk di tepian ranjang bersamaan.
__ADS_1
"Mau dateng. Mau ketemu Mbak Leny."
"Sekarang?"
Mas Arlan mengangguk. "Iya, Dek. Jadwal penerbangan Mbak Leny kan pagi. Jadi enggak ada waktu lagi."
"Iya sih."
Sekali lagi, Mas Arlan mengecup pipiku. Ia menatapku dengan senyumannya yang manis itu. Dan hal itu yang selalu ia berikan kepadaku, setiap kali ingin marah kepadanya pun aku sudah tidak bisa. Terlepas dari semua masalah yang menimpa, justru itu yang selalu membuatnya semakin manja. Ia tidak pernah bersikap dingin ketika sedang pusing. Seharusnya hal itulah yang perlu dilakukan oleh seorang suami. Dan aku beruntung memiliki suami seperti dirinya.
Duda? Boleh saja berhati-hati, namun perlu diketahui tidak semua pria yang menyandang status duda itu buruk. Yang paling penting jangan pernah mendengar hanya satu sisi saja, melainkan keduanya. Mas Arlan membuktikan bahwa dirinya bukan duda yang tidak pantas dimiliki oleh wanita baru setelah kegagalan pernikahannya dengan mantan istrinya. Yah, aku tahu, justru aku tidak sesempurna Nia.
"Ayo turun lagi, Dek. Enggak enak kalau mereka ditinggalin lama-lama. Sella enggak bakal rewel, kan?"
"Enggak, Mas. Lagi anteng, nanti aku puterin audio ayat."
"Oke, Dek. Enggak enak kalau Mas doang yang ajak bicara, harus ada ceweknya. Biar lebih nyaman."
"Iya, Mas."
Kemudian, Mas Arlan dan diriku berdiri. Ia menuju meja kerjanya, sedangkan aku memutar sebuah audio lantunan ayat-ayat Al-Qur'an. Setelah itu, aku meletakkannya di samping Sella dengan volume yang aku rasa tidak terlalu keras, namun juga tidak pelan.
Sebuah amplop cokelat telah berada di tangan Mas Arlan. Amplop yang menurutku berisi uang milik Mbak Leny. Membuatku teringat lagi akan penawaran Riska. Jujur, aku sedikit sesak. Namun apa daya, ketika suami bilang tidak, maka akan tetap tidak.
Setelah sampai di lantai satu, tepatnya ruang tamu di mana William dan Mbak Leny masih duduk di sana. Aku dan Mas Arlan kembali duduk di tempat semula. Kami menyesap kopi susu yang belum tersentuh sama sekali.
Lalu, Mas Arlan menyodorkan amplop tebal itu ke hadapan Mbak Leny. "Kami enggak bisa menerimanya, Mbak," ujar Mas Arlan.
Dahi Mbak Leny mengernyit. "Kenapa? Ini uang kamu dan kamu berhak, Dek Arlan. Kenapa harus ditolak? Kerugian kamu udah sangat banyak," jawab Mbak Leny.
Mas Arlan hanya tersenyum. Ia menarik tangannya lagi dan membiarkan amplop berisi uang teramat banyak itu di atas meja. "Kami ikhlas membantu, Mbak. Lagi pula, permintaan ini dari Mbak Dahlia bukan Mbak Leny. Jadi Mbak Leny enggak perlu kasih kami uang."
Mbak Leny menghela napas. "Kami juga enggak butuh uang itu lagi, Arlan. Itu milik Dian, dari perusahaan kamu. Jadi itu hak kamu."
"Aish ... aku enggak ngerti kenapa ada orang sebaik kamu, Dek Arlan. Kebanyakan orang itu akan bersikap materialistis, apa lagi sampe rebutan warisan. Tapi, kenapa kamu enggak? Udah nggak dapet warisan, saham da--"
"Aku dapet rumah ini, Mbak. Aku juga dapet seorang istri yang baik."
Mbak Leny kembali menghela napas. Namun kali ini dengan gelengen kepala. "Jujur, ... aku nilai kamu ini, bodoh bukan baik."
Mas Arlan tertawa kecil. Kemudian memberikan jawaban, "kata istri saya, juga bodoh. Simpan aja uang ini, Mbak. Tukar lagi dengan mata uang sana, buat modal jadi designer. William juga masih butuh biaya buat kuliah."
"Hmm .... ada-ada aja kamu, Dek Arlan."
Eh?!
Klakson mobil begitu kencang mengejutkan kami. Aku rasa itu adalah mobil Mas Gunawan. Gerbang rumah ini memang sudah ditutup, sehingga beliau membunyikan klakson mobil tersebut. Lalu, Mas Arlan segera berdiri. Ia pamit hendak keluar dan membukakan pintu gerbang itu. Sedangkan Mbak Leny dan William tampak bertanya-tanya, namun enggan untuk menanyakannya kepadaku.
Keadaan menjadi hening pada saat Mas Gunawan dan Riska datang. Mbak Leny tidak berkata-kata lagi, tidak tersenyum, bahkan tidak menatap mereka. Mungkin hanya membalas jabat tangan Riska ketika mereka masuk ke dalam rumah.
"Maaf, sepertinya saya menganggu kenyamanan kalian se--" Ucapan Mas Gunawan terpotong begitu saja.
"Untuk apa Anda datang ke sini?" tanya Mbak Leny, bahkan tanpa basa dan basi lagi. Sepertinya, sifat beliau memang seperti itu.
Mas Gunawan tersenyum. "Enggak ada salahnya untuk mengunjungi rumah adik sendiri, kan?"
Mbak Leny membalas senyuman Mas Gunawan dengan sinis. "Sejak kapan Anda memikirkan adik Anda? Bahkan, ketika harus ke Canberra aja, dia pake uang sendiri. Semua serba sendiri."
"Mbak, tenang ...," sela Mas Arlan dengan mimik wajah yang cemas.
William turut menenangkan ibundanya dengan mencengkeram bahu beliau. "Ma, jangan seperti ini," ujarnya untuk ibundanya itu.
__ADS_1
"Biarin, biar Tuan besar nan terhormat ini bisa buka mata dan hati. Enggak melulu soal kekuasaan. Biar dia tahu, kalau anggota keluarganya enggak sebahagia dia."
"Leny, kenapa kamu masih membenci saya? Karena kisah masa lalu dengan Dian yang enggak berjalan lancarkah?"
"Tentu. Berkat kalian, aku menderita. Keluarga kalian itu yang waras hanya Arlan dan Roby. Sayangnya meraka terlalu kecil untuk membelaku pada saat itu. Gunawan ... sekarang kamu tahu tentang kesengsaraan, kan? Kamu bergelimang harta, sayangnya saudara-saudaramu meninggalkanmu. Perusahaan besar itu? Hah! Sekarang jadi milik keluargamu, tapi sayang hidupmu kesepian."
Kali ini tidak ada lagi yang menyanggah perkataan Mbak Leny, bahkan Mas Arlan sekalipun. Ia terlihat pasrah saja, aku rasa ia tidak ingin terlibat ke dalam masalah lagi. San entah apa yang dimaksud dengan Mbak Leny itu. Sepertinya Mas Gunawan turut membantu sang ayah untuk memisahkan Mas Dian dan Mbak Leny. Belum lagi, perusahaan dan rumah juga lebih dikuasai oleh Mas Gunawan, maksudku keluarganya. Walau sebenarnya, bukan kesalahan beliau. Hanya dua adik beliau memilih mundur yang tidak lain adalah Mas Arlan dan Roby.
"Saya minta maaf atas kesalahan saya di masa lalu. Tapi, ... bukannya kamu juga udah menikah dengan Dian? Dan larangan kami menjadi sia-sia," ujar Mas Gunawan lagi.
"Menikah? Aku menikah dengan Dian karena memiliki William, Gunawan. Anak Dian juga. Lalu, apa aku harus bangga ketika mendapat gelar istri kedua? Pelakoor?!" tegas Mbak Leny.
"Saya tahu, saya minta maaf. Tapi, kita udah sama-sama tua, Leny. Itu hanya masa lalu, dan Dian telah bertanggung jawab, bahkan biaya untuk kalian. Sampai dia mengambil uang perusahaan. Jika kamu masih membenci saya enggak ap--"
"Jadi, ... kamu pikir, aku ini penyebab Dian melakukan hal itu?"
"Bu-bukan gitu, Leny. Tolong, akhiri perdebatan ini. Saya datang karena menyangkut Dahlia, saya ingin berterima kasih. Saya akan mengganti semua kerugian kamu juga."
"Enggak perlu! Aku bahkan enggak butuh dan nggak minta sama uang keluargamu lagi, Gunawan." Mbak Leny menghela napas dalam. "Urus aja Dahlia dengan baik. Sampai Dian keluar dari penjara. Hanya Dian yang bisa mendampingimu sampai akhir. Karna kalian sama aja."
Memang benar, keadaan di sini sudah tidak nyaman sama sekali. Dendam, maksudku kebencian hati Mbak Leny terhadap keluarga Harsono memang teramat besar. Namun berbeda jika bersangkutan dengan Mas Arlan dan Roby. Kisah Mbak Leny terjadi, mungkin ketika Mas Arlan dan Roby masih remaja. Aku tidak tahu.
Namun meski begitu, Mbak Leny masih tahu mana yang benar dan salah. Tipikal beliau memang tanpa basa basi seperti itu. Sehingga membuat beliau tidak segan lagi untuk memberikan penegasan kepada Mas Gunawan.
"Udah ya? Tolong bahas yang lain aja." Akhirnya Mas Arlan membuka suara ketika keduanya sudah lebih tenang, meski tatapan mata Mbak Leny masih sinis dan tajam.
"Iya, saya datang hanya untuk bertemu sekaligus berterima kasih. Dan ... kenapa Leny enggak mau rujuk dengan Dian seperti permintaan Dahlia? Sa-saya tahu, kesalahan kami emang sangat banyak dan mungkin emang nggak bisa termaafkan. Tapi, Dahlia bermaksud baik," jelas Mas Gunawan.
Mbak Leny mendecih. Mungkin kesal. "Aku bukan cadangan. Aku dan anakku masih memiliki harga diri, Gunawan!" tegas beliau.
"Ma ...." William masih berusaha menenangkan ibundanya. Ia mencegah Mbak Leny agar tidak kalap dalam emosi.
"Ini." Mas Gunawan menyodorkan selembar kertas cek. Aku tidak sengaja menatapnya dan tertulis nilai satu milyar rupiah. "Untuk kerugian kalian. Dan misal ingin menetap di Canberra, pergunakan ini sebagai bentuk tanggung jawab dari adik saya--Dian."
Mbak Leny membelalakkan mata. Seolah tidak percaya. Betapa kerasnya niat Mas Gunawan itu, bahkan Mbak Leny sudah menjelaskan tidak butuh uang dari keluarga besar Mas Gunawan.
Seketika Mbak Leny berdiri. Beliau menunduk dan mengambil kertas cek itu. Lalu, ... dirobeknya kertas itu sampai hancur lebur. "Hidupku dan anakku, kehormatan kami sudah tidak bisa dibeli lagi, Gunawan. Kalau bukan karna Arlan, aku pun tidak sudi datang ke negara ini."
Kami semua terkesiap hebat. Bahkan aku sampai berpegangan tangan dengan Riska yang sama berdiri seperti diriku. Semua orang berdiri atas sikap Mbak Leny itu.
"Leny?" Mas Gunawan merasa sangat malu. Terbukti pada wajah beliau yang kuning langsat, kini memerah padam.
Mbak Leny menghela napas dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. "Maaf, aku terlalu emosi." Beliau menunduk, tidak menatap Mas Gunawan lagi. "Berikan uang kamu kepada adik-adikmu yang telah banyak berusaha bukan diriku, Gunawan. Fokuskan untuk pengobatan Dahlia juga."
"Tapi, ... William juga keponakanku, Leny. William berhak mendapatkan apa yang Harsono miliki."
"Enggak, Gun. William bukan anggota keluarga besarmu. Dia anakku!"
"William juga berhak memutuskan sendiri. Dia sudah dewasa, Leny. Dia memiliki ayah pula. Kami akan sangat senang jika dia bisa bersama kami."
"Jangan pernah merebut Willi dariku, Gunawan!"
"Enggak. Ini kenyataan, aku akan membayar semua keperluan, pendidikan dan semua hal yang berkaitan dengan William. Jika kamu menolak uangku, maka tidak dengan anakmu. Dian juga berhak atas William. Dan kamu, kamu enggak berhak melarang kami memberikan fasilitas untuk William. Kami tidak berlaku jahat, Leny. Jangan keras kepala."
Mbak Leny menekan rahang. Buliran air mata turut membasahi pipi beliau. Sedang telapak tangan beliau tengah mengepal erat.
Sementara itu, William hanya menunduk diam. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran anak itu. Mengingat rasa sayangnya kepada Mas Dian, sepertinya ia tidak sepenuhnya setuju dengan ucapan Mbak Leny. Namun ia tetap seorang anak, ia tidak mungkin menyakiti hati ibundanya dan menerima niat baik Mas Gunawan begitu saja.
Aku sendiri pun tidak tahu harus membela siapa. Mbak Leny juga sangat menderita. Bahkan kali ini, di antara diriku, Mas Arlan atau Riska tidak berani berpendapat apa-apa.
Bersambung ....
__ADS_1
Lima episode lagi menuju end season 2