Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
(Spesial) Arlan POV


__ADS_3

Nama saya Arlan, untuk lengkapnya masih menjadi rahasia saya. Anak dari sepasang suami istri dan dari empat bersaudara. Semua kakak saya laki-laki, dan saya anak ketiga. Ayah kami sudah meninggalkan kami lebih dulu menghadap Ilahi. Sedangkan usia saya sekarang sudah mencapai kepala empat yaitu empat puluh dua tahun, tepatnya dua bulan kedepan. Pernah menikah lalu bercerai.


Kala itu, saya tertarik dengan seorang wanita cantik bernama Nia. Tidak sulit mendapatkan cintanya, sekali tembak langsung jadi. Kami pun melangsungkan pernikahan setelah tiga bulan menjalani masa pacaran. Waktu itu saya berusia tiga puluh lima tahun, sedangkan ia lebih muda satu tahun dari saya.


Pernikahan kami terbilang bahagia, Nia seperti seorang yang sempurna bagi saja. Selain cantik, ia bisa memasak pula. Sangat pengertian dan memahami diri saya.


Namun itu hanya berlangsung satu tahun, diawal pernikahan. Di tahun kedua sifat aslinya mulai terlihat. Tepatnya saat kami memiliki rumah baru. Nia begitu boros dan gemar berbelanja. Sebenarnya tidak terlalu masalah bagi saya. Hanya saja, Niaku yang dulu seolah hilang jati dirinya.


Karena rasa sayang yang begitu besar padanya, saya turuti kemauannya. Uang berkisar jutaan rupiah setiap bulannya saya berikan dengan syarat ia harus menjadi istri yang baik. Perjalanan pernikahan yang mulai masuk dalam babak penuh masalah.


Namun saya bersyukur, beberapa bulan kemudian Nia hamil. Rasa bahagia pun datang menghampiri hati saya. Siapa yang tidak senang jika akan menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya. Meski ia sempat mengatakan menunda memiliki momongan dalam rentang waktu yang lama.


Di setiap permasalahan yang terjadi saya selalu mengalah. Kata teman-teman saya, kesabaran saya sangatlah luar biasa. Semua yang Nia mau, apapun itu selalu saya turuti. Yah, siapa sih yang tidak mau memanjakan seorang istri yang sedang mengandung.


Perusahaan keluarga yang saya jalankan, begitu membantu perekonomian kami. Barang-barang mewah yang ia minta selalu terbeli. Tidak masalah, asal Nia dan sang bayi bisa tumbuh sehat. Begitulah perjuangan saya pada keluarga kecil kami.


Sembilan bulan Nia mengandung, akhirnya tiba saat ia akan melahirkan. Beberapa kali, Nia berteriak kesakitan. Membuat hati saya benar-benar tersiksa. Sebagai seorang lelaki pastinya, tidak tau bagaimana rasanya.


"Mas sakit mas, Mas aku mau matiiiiiii rasanyaaaa," teriak Nia.


"Sa-sabar ya sayang, kamu sabar demi anak kita, berdo'a terus," saya mencoba menenangkan Nia.


"Nggaaaaakkk... Iniiiiii sakittt bangeeeeetttt."


Seperti itulah kira-kira. Sebagai suaminya, saya terus menggenggam jari Nia didalam ruang bersalin. Dengan bantuan seorang dokter wanita, yang menenangkan hati kami.


"Ooooeee... oooeeee.... oooeee..."


Tepat pukul empat dini hari, akhirnya anak kami lahir. Seorang putri yang menggemaskan. Saya beri nama Selli.


****


Namun, permasalahan kembali muncul setelah kembalinya ke rumah. Nia begitu dingin pada Selli, putri kami. Ia hanya muncul pada saat jadwal pemberian ASI. Setelah itu, ia keluar rumah dan menyerahkan Selli untuk diasuh baby sitter.


Jujur, saya tidak mengetahuinya dalam beberapa bulan tentang perilaku Nia. Saya sibuk bekerja dan terkadang lembur. Perilakunya saya ketahui, saat mencuri dengar sekembalinya saya dari bekerja.


Kala itu, saya memilih pulang lebih awal. Namun, sebelum masuk kedalam ruang dimana Nia berada. Saya mendengar pembicaraannya pada seorang temannya melalui telepon.


"Sorry Sis, telat datang kayaknya. Gue lagi ngasih ASI nih bocah," ucap Nia pada temannya.


Selanjutnya saya tidak tau lagi. Yang pasti ia menjanjikan akan segera berangkat.


"Mbak, loe jaga ni anak ya. Inget jangan bilang Arlan," ucapnya selanjutnya pada baby sitter putri kami.


Bagai disambar petir disiang bolong. Saya kaget bukan kepalang. Nia memang boros, tapi jika soal anak. Apa-apaan itu? Saya menghampiri Nia dengan penuh emosi membara.


"Hei!" seru saya padanya.


"Ma-mas Arlan, ko-kok udah pulang?" tanya Nia kembali.


"Kamu mau kemana?"


"Ma-mau pergi belanja baju Selli kok Mas."


"Kamu pikir aku bodoh apa? Aku udah denger semuanya Nia! Ya Tuhan Nia, Selli anakmu!"


"Bu-bukan gitu Mas."


"Bukan gimana lagi haah??? Jadi gini kelakuan kamu di rumah? Nia semuanya yang kamu minta udah aku turutin kurang apa lagi? Ngurus Selli, di rumah aja emang nggak bisa??? Dasar jal**g!"

__ADS_1


Plaaaakkkk!!!


Tamparan keras mendarat pada pipi saya. Nia yang berbalik geram menatap wajah saya dengan tajam. Emosi saya sudah memuncak kala itu. Memangnya ayah mana yang akan rela jika putrinya diperlakukan seperti tidak ada? Dan itu oleh Ibunya sendiri.


"Diam kamu Mas! Dari awal aku kan udah bilang, nggak pengen hamil dulu selama! Tapi kamu masih keras kepala juga kan?!" ujar Nia.


"Memangnya kamu nikah sama aku, kalau bukan ingin punya anak dan keluarga untuk apa Nia???" tanya saya tegas.


"Uang Mas!"


"Apa???"


"Iya aku mau nikah sama kamu karna uang! Puas kamu!"


"Kamu bener-bener jahat Nia!"


"Aku masih pengen foya-foya Mas, emangnya perempuan itu mesin buat bikin anak dan enak-enak doang haaah?"


"Nia!!! Kamu keterlaluan!"


"Iya emang kenapa? Setelah anak itu lahir, kamu nggak bisa lagi kasih aku segalanya. Dan yang lebih parah, kabar perusahaan kamu semakin menurun kan???"


"Iya, emang kamu mau apa??? Kamu nggak bisa sama suami miskin?"


"Woooww jelas, aku nggak mau. Kamu pikir aku masih selangsing ini buat apa? Setelah anak itu lahir, aku diet keras Mas. Biar cantik lagi."


"Bener-bener kamu!"


"Aku minta cerai Mas."


"Nggak, aku nggak akan ceraiin kamu apapun yang terjadi. Aku nggak mau anakku tumbuh tanpa figur seorang ibu, jadi berubahlah Nia. Kamu istri aku."


"Oke, tapi dengan satu syarat. Kamu harus turuti kemauan aku."


Suatu kesalahan terbesar yang saya lakukan saat itu adalah menahan Nia tetap bersama saya dan putri kami. Hubungan kami, tidak bisa dibilang sebagai suami istri pada umumnya. Nia bahkan tidak mau disentuh sama sekali. Ia hanya menjalani tugas sebagai ibu meny*sui saja. Hari-harinya penuh dengan uang dan uang.


Sampai akhirnya Selli berusia kurang lebih tiga tahun saat itu. Selli tumbuh menjadi balita yang cantik dan imut tentunya. Hubungan kami semakin hancur. Apa yang telah saya perjuangkan selama itu sama sekali tidak bisa memperbaiki keluarga kami.


Selli hanya mengenal siapa Ibunya tanpa bisa mendekatinya. Tugas Nia sebagai seorang ibu meny*sui pun telah selesai. Penampilan Nia semakin trendi. Membuat saya geleng kepala, keluarga saya pun akhirnya tau.


Saya yang hanya memiliki seorang Ibu yang telah renta dan kakak-kakak lain akhirnya mendapat teguran dari mereka. Bangkai memang tidak bisa disimpan lama-lama. Saya diceramahi habis-habisan dan didesak untuk menceraikan Nia.


Sebagai seorang pejuang rumah tangga selama lima tahun sejak pernikahan, tentu saja saya merasa sangat berat. Apalagi Selli masih kecil. Meski Nia tidak mau berubah, saya selalu berharap masih ada sekeping cahaya dalam keluarga kami.


Nyatanya semua tetap mustahil. Perceraian pun kami lakukan setelah dua bulan terhitung dari teguran dari keluarga. Tepat saat saya menangkap Nia bersama seorang konglomerat sedang berjalan berdua dan sangat mesra. Saya sangat marah kala itu, namun tetap menahan diri agar tidak sampai melukai siapapun.


Saya akhirnya memberikan talak tiga pada Nia. Seperti yang saya duga, Nia tidak merasa sedih sama sekali. Ia malah merasa bahagia, karena terlepas dari saya. Apalagi kondisi keuangan dan perusahaan yang saya jalankan menurun drastis dalam segi apapun.


Karena telah menahan diri selama tiga tahun, jantung saya seolah hampir meledak. Tubuh kecil Selli, saya peluk erat kala itu. Tetesan air mata dan rauangan menangis memecah ke segala penjuru rumah. Para pembantu rumah tangga saya sampai bergidik bercampur iba. Penyesalan tiada akhir. Harusnya saat Selli masih bayi, saya tidak perlu mengenalkannya pada Ibu sebejat itu. Itulah yang saya sesali sampai sekarang.


Akhirnya, saya memberikan perusahaan sepenuhnya pada keponakan dari kakak pertama yang sudah tumbuh dewasa. Saya bekerja pada cabang perusahaan keluarga di tempat lain, sembari membesarkan Selli seorang diri. Sampai Ibu saya menawarkan diri untuk membantu.


Selama itu saya menjabat sebagai karyawan bawah tanpa diketahui siapapun identitas saya yang sebenarnya. Banyak hal yang saya pelajari, makna hidup. Kerasnya mereka dibawah tekanan direktur.


Meski tidak sedikit yang merasa aneh pada saya. Karena mobil mewah yang setia menemani, bukan tidak mau berganti. Mobil itu salah satu peninggalan Ayah saya sebelum meninggal. Saya tidak peduli, selama masih berkilah. Tidak akan ada yang menyadari, bahwa saya adalah salah satu anggota keluarga pemilik perusahaan. Beruntungnya, saat menjalankan perusahaan dulu saya tidak mempublish diri saya pada media manapun. Karena selalu menumpahkan tugas pertemuan pada sekretaris pribadi.


Hingga di suatu ketika, tepat saat usia Selli mencapai empat tahun , saya bertemu seorang wanita tengah menangis. Memiliki fisik yang maaf, sedikit gemuk. Namun, saat tidak sengaja tersandung dihadapannya, dan menumpahkan air padanya. Saya menyadari kecantikannya dibalik fisiknya yang tidak sesempurna Nia tersebut.


Matanya indah berwarna biru bagai berlian, kulit putih seperti turis. Dengan rambut panjang agak kecoklatan kala itu. Wanita itu marah, namun tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang tidak saya ketahui.

__ADS_1


Saya meminta maaf padanya, namun ia menolak dan masih geram. Sampai Selli datang, memberikan pernyataan minta maaf atas nama saya. Kemarahannya melunak seketika, saat mendapati wajah Selli.


Meja pun terlihat penuh tanpa ada yang kosong. Akhirnya wanita yang saya tumpahkan air itu, mempersilahkan kami duduk. Saya pikir, ia adalah wanita pemalu karena tidak menampakkan wajahnya sedikitpun pada saat berbicara. Entah mengapa ada ketertarikan tersendiri dari hati saya padanya. Yang saya tau ia bernama Fanni, wanita blasteran Indo-Belanda.


Mungkin jika tidak ada Selli, putriku. Fanni kala itu tidak akan membuka diri pada saya. Tanpa ia sadari, ia menceritakan segala keluh kesahnya pada saya. Cukup mengherankan memang, namun saya tidak peduli. Saya setia mendengar semuanya.


Waktu yang semakin malam kala itu, akhirnya memisahkan pertemuan kami. Kami saling berpamit satu sama lain.


Lalu saya pikir, tidak akan ada pertemuan kedua. Ternyata, dunia memang sempit. Saya dan wanita blasteran tersebut bertemu lagi di kediaman rekan kerja saya. Dari situ, kami semakin dekat dan dekat. Dan herannya, Selli pun begitu.


Beberapa kali kami bertemu, menjalin hubungan pertemanan. Saya beruntung memiliki putri yang langsung tersambung padanya. Selain satu pikiran dengan saya, alasan untuk bertemu dengannya pun semakin besar.


Waktu terus berjalan, perasaan saya yang pernah tertutup rapat terbuka kembali. Saya mulai menyukai Fanni. Namun enggan untuk mengutarakannya.


Sampai akhirnya kami berpacaran dengan syarat karena info yang saya dapat ia sedang menyukai atasannya. Namun, saya tetap optimis bahwa perasaan Fanni pada saya memang ada. Karena kerelaannya menjaga Selli dan ketersambungan kami pada beberapa hal. Apalagi Fanni adalah tipe minderan, namun jika bersama saya ia tidaklah begitu.


Di akhir cerita, sesuai yang saya duga. Fanni menerima saya menjadi kekasihnya. Bukan dalam perjanjian lagi, melainkan tulus karena hati. Saat itu, kehampaan saya yang telah terjadi selama dua tahun kurang seolah disiram air yang begitu jernih dan segar. Apa yang saya yakini, akhirnya terjawab sudah. Kami saling mencintai satu sama lain.


Namun, masalah tidak berhenti karena itu. Hubungan kami tidak berjalan selancar saya mendapatkan Nia. Orang tua Fanni, lebih tepatnya Ibu dari Fanni tidak memberikan restu karena status duda yang saya sandang.


Saya tidak peduli dengan hubungan kami yang masih terbilang baru. Saya kembali lagi memperjuangkan cinta Fanni. Berusaha meyakinkan dirinya agar mempercayai saya. Menemui orang tuanya. Walau beberapa kali ditolak mentah-mentah oleh ibunya.


Kadang kala saat saya berkunjung barang yang saya bawa dilempar jauh oleh Ibunya. Namun, saya tetap gigih. Saya datang kembali, membawa buah tangan lagi. Mungkin karena kesal, Ibunya membiarkan saya. Namun beliau sengaja pergi saat saya datang berkunjung. Sedangkan saya hanya bisa berbincang dengan Ayah Fanni serta menantu, istri dari kakak Fanni yang bernama Pandhu.


Hal itu masih saya lakukan selama seminggu berturut-turut. Di hari Sabtunya, saya masih datang dengan maksud meminang Fanni pada ayahnya. Namun...


"Tidak, saya tidak setuju! Saya tidak menerima kamu jadi suami anak saya," ujar Ibunya Fanni kala itu.


"Ma dengerin dulu niat Nak Arlan," kata Ayah Fanni menenangkan beliau.


"Nggak! Pergi! Dasar duda tidak tau malu! Kamu pikir saya setega itu membiarkan anak saya jatuh ditangan duda yang bertanggung jawab haaah?"


"Maaf Tante, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin."


"Arlan!!! Asal kamu tau ya, saya sudah menjodohkan Fanni dengan laki-laki lain!"


"Tapi Fanni mencintai saya Tante, bukan laki-laki itu."


"Kamu!!!"


Ditariklah kerah baju saya dengan beberapa omelan lainnya. Ayah Fanni pun panik dan berusaha melepaskan cengkeraman beliau.


Ternyata kuat sekali, Mbak Febi kakak ipar Fanni pun ikut panik. Sampai akhirnya terlepas sudah. Namun, semua penolakan masih saya dapatkan.


Saya memberanikan diri bersujud dihadapan Ibu Fanni yang belum sempat saya ketahui namanya. Berusaha meyakinkan beliau untuk Fanni.


Tidak disangka tidak dikira, Fanni datang. Pertengkaran Ibu dan anak tersebut tidak bisa dihindarkan. Membuat hati saya menjadi ciut dan memutuskan untuk mengalah.


Namun, Fanni ternyata menahan. Ia sudah menjatuhkan hatinya pada duda seperti saya. Ia menentanh habis-habisan orang tuanya, demi duda beranak satu seperti saya. Ternyata pengaruh hubungan kami semakin kuat.


Meski belum mendapat restu dari Ibunya, kami masih beruntung karena Ayahnya merestui. Saya berjanji akan memperjuangkan Fanni sampai akhir dan sampai titik darah pengahabisan.


Arlan POV selesai...


Budayakan tradisi like+komen ya...


Ini spesial tahun baru, seperti request salah satu readers setia saya.. Putri handabi


By the way, buat kalian yang terus mengikuti dan mengapresiasi saya ucapkan terima kasih dan HAPPY NEW YEARS yaa.

__ADS_1


Jujur, komen kalian membantu banget dalam mengembangkan ide saya, sebagai penulis pasti sempat mengalami down dan pikiran blong. .. Untuk itu saya minta rehat sebentar, dan tunggu episode selanjutnya di TAHUN DEPAN hehehe


Dan maaf juga kalau banyak typo, hari ini belum sempet edit lagi.


__ADS_2