Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Aneh


__ADS_3

Hening. Setelah berdiskusi bersama, Celvin mengintruksikan padaku untuk memulai tugas pertama. Ia terlihat sangat serius, parasnya yang aduhai tidak menyadari bahwa sekarang aku sedang memperhatikannya diam-diam setelah menyelesaikan tugasku.


Perlahan waktu sudah menunjukkan jam pulang. Namun, Celvin sama sekali tidak beranjak dari meja kerjanya. Hal ini membuatku enggan untuk pamit pulang. Aku takut, jika ia masih membutuhkanku sekarang. Bahkan untuk mengangkat ponsel yang beberapa kali bergetarpun aku tidak enak.


Dengan hati yang masih ragu-ragu, akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri Celvin. Aku bermaksud ingin bertanya, apakah ada yang harus kukerjakan lagi.


"Pak maaf ada yang bisa saya kerjakan lagi?" tanyaku memberanikan diri.


"Hmm..." balas Celvin sembari melongok kearah jam tangan yang ia pakai. "Lho udah waktunya pulang lho Fanni, kamu masih disini?" lanjutnya.


"Iya Pak."


"Udah pulang aja nggak apa-apa, saya udah biasa pulang telat gini."


"Tapi Pak-"


"Nggak apa-apa Fann, saya bakalan ngomong kalau ada sesuatu. Tapi kalau saya nggak ngomong apa-apa berarti nggak ada, jadi kamu bisa langsung pulang, jangan sungkan."


"Tapi Pak Celvin mau disini sampai jam berapa? Ini kan udah menjelang petang."


"Setengah jam lagi Fann... oh iya kamu, kamu jangan malu-malu lagi ya, lama-lama malah bisa stress sendiri."


"Iya Pak."


"Anggep kita seperti berteman baik atau keluarga jadi hubungan kerja kita bisa lebih luwes ya."


"Iya Pak."


"Yasudah kamu pulang dulu."


"Iya Pak permisi. Pak Celvin jangan terlalu memaksakan diri, pulang saja kalau sudah terlalu lelah ya Pak, nanti Pak Celvin bisa sakit."


"Iya tenang aja Fann, makasih ya perhatiannya hehe."


"Eh anu bukan gitu, emm... ya pokoknya Pak Celvin juga hati-hati."


Malunya. Mungkinkah aku terlalu menunjukkan ketertarikanku pada Celvin? Seharusnya aku menahan diri.


Tanpa pikir panjang, aku segera melengos pergi meninggalkan Celvin. Wajahku yang merah padam kusembunyikan dengan baik. Jika tidak, orang yang menatapku pasti akan salah paham. Mereka bisa menafsirkan sesuatu baru yang bisa menghancurkanku. Biasanya seseorang hanya mempercayai apa yang ingin mereka percaya, bukan kenyataan yang ada.


Aku meraih ponselku yang masih berada didalam ransel kecilku. Aku mengotak-atik layarnya menggunakan ibu jariku. Terpampang lima panggilan suara yang tidak terjawab dan beberapa pesan masuk. Semua itu dari Mas Arlan. Dengan cepat aku kembali melakukan panggilan padanya.


"Assalamu'alaikum Dek," sapanya setelah mengangkat panggilan dariku.


"Mas masih disini?" tanyaku cemas, sampai lupa menjawab salamnya.


"Iya dek, Mas masih diluar kantor kamu."


"Aduh Mas maafin aku."


"Nggak apa-apa Dek, mas tau kamu sibuk jadi Mas tungguin."


"Yaudah bentar ya Mas aku kesitu."


Aku mempercepat langkahku dengan tergesa-gesa. Menyusuri setiap koridor gedung kantor, menuruni lift sampai bawah.


Seandainya aku membuka ponselku sejak tadi, pasti aku tidak akan membuat Mas Arlan menunggu tanpa kepastian. Aku memang bodoh, sangat bodoh.


"Mas?" ujarku memanggil Mas Arlan yang sedang berdiri diluar pintu mobilnya.


"Hai Dek," jawabnya.


"Udah lama ya?"


"Lumayan hehe."


"Maaf Mas."


"Yaudah sih santai."


"Tapi kenapa Mas Arlan kesini? Terus tau kalau aku masih didalem?"


"Aku mau ngajak kamu makan bareng buat ganti semalem Dek, tadi kebetulan ketemu Nike jadi tau kamu masih didalem."

__ADS_1


"Tapi aku kan bawa mobil sendiri Mas."


"Nggak apa-apa, kita nyetir masing-masing. Selli juga ada kok, masih tidur didalem noh."


"Ohh... yaudah aku ambil mobil dulu Mas."


Ahh... Aku terlalu lelah dengan semua ini. Sebenarnya aku ingin cepat kembali kerumah. Aku ingin tidur di ranjang kesayanganku atau segera mandi agar lebih segar. Namun, menatap wajah Mas Arlan yang begitu tulus, aku tidak tega menolaknya. Terlebih, ia sudah menungguku begitu lama.


Mobil kami beriringan melaju di jalan raya. Aku mengikuti Mas Arlan dari belakang. Sore hari yang padat dan penuh membuatku sedikit gerah meski AC mobil sudah kunyalakan. Aku berharap Mas Arlan membawaku ketempat yang nyaman dan dingin.


Beberapa saat kemudian, Mas Arlan menghentikan mobilnya disuatu restoran khas makanan jawa. Bangunannya lumayan bagus dengan gaya ala kafe berpintu dan berdinding kaca dibagian depan. Sejuk AC pun terasa ketika kami melangkah masuk.


"Duduk ditempat paling nyaman aja ya Dek," ujar Mas Arlan.


"Iya Mas," jawabku.


"Situ tuh."


Mas Arlan mengajakku menuju meja disudut ruangan. Ia menggendong Selli yang masih terkantuk-kantuk. Senyumku mengembang melihat wajah lucu gadis imut itu.


"Selli duduk sini sama Tante," kataku.


"Iya Tante," jawab gadis kecil tersebut.


"Uluh uluh gadis cantikku hehe."


"Tante udah lama ya, maafin Selli tadi Selli malah ketidulan."


"Nggak apa-apa sayang, Selli pasti ngantuk banget."


"Iya Tante. Tau nggak Tante, papa tadi katanya kangen sama Tante tauk."


"Eehh?"


Aku menatap Mas Arlan seketika. Namun, ia tampak membuang muka. Aku cukup heran melihat tingkahnya, aku rasa Mas Arlan sedang salah tingkah. Lucu sih, tapi mengapa ia perlu mengatakan itu.


Mas Arlan memilih menghiraukanku dan menulis pesanan untuk kami. Setiap menu yang tertulis disertai gambar makanan, ia tunjukkan padaku. Setelah memilih menu yang diinginkan Mas Arlan menyerahkannya pada pelayan pria.


"Mas?" ujarku.


"Kenapa sih?"


"Kenapa apanya?"


"Mas Arlan diem aja daritadi."


"Enggak, enggak kok."


"Hmm... Mas Arlan malu yaaaa?"


"Ahh pelayannya udah dateng tuh."


Usaha menggoda yang sia-sia. Mas Arlan tampak mengacuhkanku. Memang sih, aku hanya iseng. Sebenarnya aku ingin mengorek maksud perkataannya yang ia katakan pada Selli mengenai aku. Namun, Mas Arlan terlihat tidak ingin membahasnya lagi.


Seorang pelayan meletakkan pesanan yang kami minta. Aku cukup takjub karena pelayanannya cukup cepat. Mungkin, karena tidak terlalu ramai juga dan ada beberapa menu yang memang sudah dimasak sejak awal. Aku pikir restoran ini memasak menu sedikit demi sedikit lebih awal lalu ketika habis akan memasak yang baru lagi untuk menu tumisan khas jawa.


"Dimakan Dek," ujar Mas Arlan.


"Iya Mas, aku juga udah laper banget," jawabku.


"Semoga suka ya, ini restoran rekomen dari temen mas."


"Enak kok Mas."


Kami bersantap bersama. Berbeda denganku yang makan dengan santai, Mas Arlan harus menyuapi Selli beberapa kali sambil diselingi menyantap sendiri.


Lelaki idaman bukan? Herannya istrinya mengkhianatinya. Aku berharap Mas Arlan mendapat penggantinya dan pastinya jauh lebih baik.


"Dek?" panggil Mas Arlan.


"Iya Mas. Mau aku gantiin suapin Selli?" tanyaku kembali.


"Enggak usah Dek, ini si kecil lagi manja aja kok hehe," tolak Mas Arlan.

__ADS_1


"Enggak kok Pa," ucap Selli.


"Terus kenapa minta Papa suapin kamu sayang?"


"Selli nggak mau tangannya kena minyak ayam goleng papa."


"Iya iya gadis kecilku, anakku cayang."


Aku terbawa perasaan dengan hubungan ayah dan anak itu. Seandainya saja aku sudah berkeluarga dan memiliki anak, pasti akan terasa membahagiakan. Namun, sepertinya Tuhan masih memberi waktu sendiri untukku.


Waktu cepat berlalu, gelap mulai merambat menjadi selimut langit. Setelah menghabiskan makanan, Mas Arlan ingin mengajakku ke sebuah masjid. Kami mengendarai mobil masing-masing.


Kami akan menunaikan ibadah maghrib setelah mendengar adzan berkumandang. Mas Arlan dibagian tempat ibadah untuk pria. Sedangkan aku pada tempat wanita bersama Selli. Tentu saja, setelah mengambil air wudhu dan kumandang adzan selesai.


Aku membimbing Selli untuk menggunakan mukena kecil yang selalu dibawa dalam laci mobil Mas Arlan. Lalu mengikuti gerakan imam sholat sampai selesai.


Kami bertemu lagi diparkiran mobil.


"Mau kemana lagi Mas?" tanyaku.


"Kamu nggak capek?" balas Mas Arlan.


"Capek sih, tapi pengen nyari udara segar dulu Mas. Gimana kalau taman yang lagi viral itu."


"Hmm... boleh."


Mobil kami melaju lagi menuju taman yang aku maksud.


Rasanya tidak buruk juga menikmati waktu seperti ini. Meski tadinya enggan, tapi udara segar mampu menyegarkan otakku sejenak.


"Dek duduk disana yuk," ajak Mas Arlan setelah kami sampai ditujuan.


"Boleh Mas,"


Sebuah kursi panjang tersedia dipinggir danau kecil. Aku menghentakan bokongku diatas kursi tersebut. Lega rasanya.


Aku duduk bersama Mas Arlan sedangkan Selli bermain-main di ayunan anak tidak jauh dari kami. Ia bermain bersama anak sebaya yang ia temui.


"Dek?" panggil Mas Arlan kepadaku lagi. Tingkahnya sungguh aneh.


"Iya Mas," jawabku


"Kamu suka banget anak kecil ya?"


"Iya Mas, banget. Apalagi diusiaku sekarang harusnya aku sudah menimang anak kan?"


"Kamu udah pengen menikah ya?"


"Tentu saja udah, aku sudah tiga puluh tahun Mas."


"Hmm... kalau seandainya kamu menikah dan langsung punya anak gede gimana Dek?"


"Kenapa Mas Arlan nanya gitu?"


"Kalau kamu nikah sama seorang duda gimana?"


Pertanyaan Mas Arlan membuat tengkukku kaku seketika. Sedangkan ia hanya menunduk tanpa mau melihat wajahku.


Apa ini? Benar-benar aneh sekali Mas Arlan saat ini. Seperti bukan dirinya saja. Aku bingung akan menafsirkan bagaimana.


"A-aku ikut takdir Tuhan aja Mas, siapapun itu selagi saling mencintai dan mau menerima keadaan fisikku yang seperti ini," jelasku kemudian.


"Ba-bagaimana kalau itu Mas, Dek? Mas sudah jatuh cinta sama kamu Dek, apa Mas punya kesempatan."


Deg... deg... deg...


Jantungku berdebar seakan ingin meledak. Mas Arlan melamarku, tidak! Itu terlalu cepat untuk disimpulkan. Ia baru saja menyatakan perasaannya. Bercanda atau seriuskah dia?


Tengkukku semakin kaku dan badan gemetar hebat. Aku tidak tau harus bertingkah bagaimana sekarang. Ini semua terlalu tiba-tiba, aku sangat syok luar biasa. Apalagi Mas Arlan selalu aku anggap sebagai teman atau kakakku saja.


Bersambung...


Budayakan tradisi like dan komen untuk menambah semangat bagi author.

__ADS_1


Gratis lho say


__ADS_2