Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Rapat


__ADS_3

Jajaran direksi perusahaan yang bertugas menjalankan dan mengawasi operasional perusahaan sedang berkumpul di ruang yang dikhususkan untuk rapat. Tidak lupa juga, beberapa pemegang juga ada.


Pemandangan seperti ini, masih terasa asing bagiku. Aku belum terlalu mengerti dengan pembahasan mereka. Untung saja, tugasku hanya mendampingi Celvin dengan membawa beberapa laporan dan berkas-berkas penting.


Aku duduk tepat disebelah Celvin, dengan posisi kursi agak ke belakang. Biasanya seorang sekretaris hanya berdiri saja, namun tampaknya Celvin tidak akan tega. Mengingat rapat yang bisa saja berlangsung lama.


"Fanni, tolong berikan laporan yang tadi," ujar Celvin padaku.


"Baik Pak," jawabku.


Tanganku sibuk mencari berkas dan meneliti terlebih dahulu. Kemudian Celvin menerimanya dan mulai membahasnya.


Aku tidak bisa mengulangi apa yang dikatakan masing-masing petinggi tersebut. Terlalu tegang, ada sebagian yang tidak sependapat. Dan ya, aku merasa sangat mengantuk dan lapar sekali.


****


Setelah berusaha menahan kantuk selama kurang lebih dua jam, akhirnya rapat selesai. Aku menghela nafas begitu lega. Namun tidak dengan perutku. Aku lapar.


"Hahaha," terdengar gelak tawa Celvin dari sampingku.


"Ke-kenapa Pak?" tanyaku heran.


"Ngantuk ya?"


"Ah... enggak kok."


"Halah bohong kamu, buktinya mata kamu merah banget."


"Emm... iya sih."


"Jenuh ya kalau lagi meeting gitu?"


"Lumayan Pak."


"Yasudah kamu istirahat dulu sana."


"Tapi Bapak gimana?"


"Entar nyusul, emang mau ngajak bareng sekarang?"


"Ah... itu tanya doang kok Pak."


"Hahaha... makasih ya, udah perhatian."


Kata demi kata yang dilontarkan Celvin selalu berhasil membuat bulu romaku merinding. Seandainya aku adalah manusia lemah mental mungkin sudah pingsan sejak tadi. Jadi, beruntung juga aku memiliki tubuh besar, kokoh dan kuat.


Aku merasa senang, karen masih diberikan keleluasaan untuk beristirahat. Belum diberikan tugas yang terlalu berat. Aku masih diberi waktu untuk beradaptasi oleh Celvin. Meski tidak dikatakan, namun aku berkesimpulan seperti itu.


"Ndutt," suara Tomi terdengar memanggilku, sesaat sebelum aku masuk kedalam lift.


Aku menengoknya dan berhenti untuk menunggunya. Nike tidak ada disana, Tomi hanya sendirian. Hal ini membuatku sedikit bersalah. Selama ini Nike selalu bersamaku dan berusaha menghindari kontak atau hanya berdua saja dengan teman pria termasuk Tomi.


"Nike mana?" tanyaku.


"Masih didalem, gue mau nyampein aja kalau ketemu loe, suruh nungguin bentar," jawab Tomi.


"Lah loe sendiri?"


"Tau sendiri si alim itu nggak bisa ama laki, ndut."


"Emang loe laki?"


"Iihhh... suka gitu deh, eyke mah berubah kapanpun tergantung mood hehehe."


"Dasar kaleng."


"Jahat amat ndut, udahlah gue mau keluar ama calon istri jadi harus gagah dulu hehehe."


"Yeee... hati-hati loe, entar keceplosan lagi."


"Hahaha."


Tomi meninggalkanku dan masuk kedalam lift menyisakan sisa gelak tawanya. Orang aneh itu membuatku sedikit bergidik, meskipun terbilang dekat denganku. Siapapun pasti akan begitu.


Hampir lima menit aku menunggu Nike sembari menyenderkan punggungku ke tembok samping lift. Sampai akhirnya, wanita berhijab tersebut muncul dengan terburu-buru. Ia menghampiri diriku.


"Maaf Fann, lama ya?" katanya.


"Enggak kok Ke, nggak usah buru-buru gitulah," jawabku.


"Abis nggak enak sama kamunya."


"Yaelah."


"Makan diluar yuk?"


"Tumben? Loe ngajak keluar, biasanya gue."


"Ada yang pengen aku tanyain Fann."


"Soal?"


"Ada aja, makanya diluar aja yang nggak berisik."


"Oh oke."


Kami mencari keberadaan mobilku. Kemudian aku memacunya, meninggalkan kantor untuk sementara. Karena, cacing dalam perutku semakin bergerak tidak karuan karena lapar. Aku mengajak Nike ke sebuah restoran nasi. Tentunya Nike selalu setuju.


Setelah itu, kami memesan makanan sesuai selera. Lalu menyantapnya bersama. Nike belum juga bersuara, ia masih asyik melahap suap demi suap makanan. Sehingga, membuatku harus menunggu apa yang akan ia tanyakan.


"Eh maaf Fann," ujar Nike.


"Maaf soal apa Ke?" tanyaku menyelidik.


"Hehe... tadi mau ngomong malah keenakan makan aku."


"Santai aja, makan dulu dihabisin dulu, gue juga laper banget."


"Soal perusahaan gimana? Kata banyak penurunan?"


"Nggak tau juga Ke, jujur gue masih belum paham, gue cuman ditugasin bikin strategi buat ngurangin kerugian."


"Ohh..."


"Dan loe tau nggak? Gue harus bahas sama Mita."

__ADS_1


Nike terkesiap. Mungkin ia kaget dan menerka-nerka apa yang terjadi padaku dan Mita saat itu. Atau mungkin ia merasa khawatir aku baru saja berkelahi sengit dengan Mita.


Nike menelan sisa makanan yang sejenak terhenti dikunyahnya. Disusul dengan tegukan air minum meneral dihadapannya. Sekali lagi, ia menatapku curiga. Tingkah sahabatku satu ini terkesan lucu. Aku senang karena sudah menyayangiku sampai seperti itu.


"Tapi kamu nggak kenapa-napa kan Fann?" tanya Nike kemudian.


"Haha... nggaklah Ke," jawabku sembari tertawa.


"Kamu pasti habis berantem sama dia, dia nggak nyakitin kamu kan?"


"Enggak ustadzah cantik, gemes deh."


"Terus?"


"Ya biasa aja kok."


"Nggak mungkin Fann, itu mustahil."


"Dibilangin kok nggak percayaan sih?"


Nike kembali meneguk air minumnya, lalu menatapku lagi. Tatapannya semakin curiga padaku. Entah apa yang ada dipikirannya, sampai ia bereaksi berlebihan seperti sekarang.


Kami berdua memilih untuk menghabiskab makanan terlebih dahulu sebelum melanjutkab perbincangan lagi. Apalagi waktu terus berjalan, aku takut tidak ada waktu untuk mengetahui apa yang akan ditanyakan Nike. Dan juga, aku pasti akan malu pada Celvin jika beristirahat terlalu lama.


Hingga akhirnya kami selesai.


"Tadi mau nanya apa Ke?" tanyaku memulai lagi perbincangan hangat kami.


"Nggak, bentar deh, kalau nggak terjadi apa-apa sama kamu, berarti-."


"Nike, bahas apa sih?"


"Kamu yang nyakitin Mita ya?"


"Astaga... hahaha."


Gelak tawaku hampir memenuhi setiap sudut restoran. Polos sekali. Nike terlihat sangat bodoh. Aku tidak terpikirkan sama sekali jika Nike akan beranggapan sejauh itu.


Sedangkan ia kini terlihat kesal karena tingkahku. Wajahnya masih saja menyiratkan sejumlah kebingungan ataupun pertanyaan. Aku sedikit bertanya-tanya, bagaimana Mas Roni menghadapi kepolosan Nike. Bisa saja, ada momen tertentu dimana Nike beranggapan aneh pada Mas Roni.


"Fanni? Aku khawatir lho," ujar Nike kemudian, sembari memberikan cubitan pelan diatas telapak tanganku.


"Kamu tulalit banget sih Ke, Ke," jawabku.


"Terus gimana ceritanya kalian nggak sampai babak belur? Kan mustahil banget kalian bisa akrab."


"Iya sih, emang nggak berjalan baik, Mita nulis idenya dikertas terus gue yang ngerangkum gabung sama ide gue."


"Di kertas?"


"Iya dia nggak mau ngomong, ya masih nggak mau damai sama gue, entahlah."


"Hmm... separah itu ya?"


"Iya Ke, awalnya nggak mau duduk sama sekali terus gue ancem mau laporin sama Celvin dalam bentuk rekaman di ha-pe."


"Cerdas!"


"Tentu saja, siapa dulu dong."


Tak terasa waktu sudah semakin dekat dengan batas istirahat dan Nike belum bertanya sama sekali. Padahal aku sudah sangat penasaran. Tumben sekali, ia mengutarakan hal tersebut.


Aku rasa masih ada sepuluh menit lagi sebelum bergegas kembali. Aku berencana untuk mengalihkannya pada persoalan awal.


"Hei, tadi loe mau nanya apa?" tanyaku menyelidik dengan harapan Nike langsung berbicara secara to the point dan tidak berbelit-belit.


"Oh... iya aku lupa," jawabnya.


"Terus soal apa Ke? Nggak ada waktu lagi nih."


"Hehe... emangnya kita nggak bakal ketemu lagi apa?"


"Ya nggak gitu Ke,"


"Balik dulu yuk udah mepet hehe."


"Nike!"


Ah! wanita berhijab tersebut melarikan diri. Aku hanya berharap, ia akan mengatakannya saat dalam perjalanan kembali ke kantor.


Memang sangat susah jika menjadi orang yang memiliki rasa penasaran tinggi. Seperti aku. Rasanya tidak tenang, jika belum mendapat jawaban. Seharusnya Nike tidak perlu berkata seperti itu sejak awal. Namun, aku tak bisa menyalahkannya, karena sudah menjadi haknya.


Kami berdua masuk kedalam mobilku setelah melakukan pembayaran. Kemudian melaju pergi meninggalkan restoran dengan mobilku. Menyusuri jalan raya yang kami lewati. Jarak antara restoran dan kantor juga tidak terlalu jauh.


Ditengah perjalanan, tidak sengaja aku melihat sebuah toko kue atau roti. Entah mengapa aku langsung membayangkan Celvin. Hatiku tergerak untuk membelikannya sebuah roti atau kue kecil. Aku pikir, Celvin masih sibuk sendiri atau mungkin tidak sempat makan siang. Setidaknya untuk ungkapan terimakasihku padanya.


Dan sampai akhir, Nike sama sekali tidak mengatakan apapun. Padahal aku masih berharap Nike segera memberitahukanku. Nyatanya tidak ada reaksi apapun.


"Eh Fann?" ujarnya kemudian saat kami baru saja keluar dari mobilku yang telah terparkir.


"Kenapa?" tanyaku kembali.


"Pulang kerja sibuk nggak?"


"Tergantung."


"Tergantung gimana maksud kamu?"


"Ya tergantung Celvin, ada tugas lagi nggak gitu."


"Celvin? Kok nggak pake embel-embel pak?"


"Oh... iya Pak Celvin."


"Aneh."


"Semua yang kamu simpulin emang aneh Ke."


"Nggak, kamu suka Pak Celvinkah?"


"Eh... a-anu hahaha, mana mungkin Nike, Nike."


"Nggak, jangan bohong."


"Kagum doang kok."

__ADS_1


"Sama Mas Arlan gimana?"


"Apa sih Ke? Hayu lah masuk."


Pertanyaan Nike mengarah pada hal yang membuatku sedikit resah. Aku tidak nyaman saja. Apalagi untuk sekarang aku masih enggan membahas mas Arlan. Bukan karena benci tapi lebih kearah rasa bersalah dan bimbang.


Kami melanjutkan langkah kembali untuk menuju ruang kerja masing-masing.


"Fann?" panggil Nike lagi padaku.


"Apa lagi?" balasku.


"Ih.. galaknya."


"Kenapa ustad cantik?"


"Halah kamu mah gitu, aku mau ngajak kamu entar kalau pulang kerja, itupun kalau nggak sibuk."


"Kemana?"


"Nyari udara seger, mau ya biar aku bisa nebeng."


"Iya, kalau nggak sibuk ya Ke."


"Pejabatmah beda kelas ya hehe."


"Yaudah balik dulu gih."


"Iya Fanni, sampai nanti, oke."


"Oke."


Kami berpisah. Nike berjalan kelain arah denganku menuju ruang kerjanya yang juga menjadi ruang kerja lamaku.


Banyak karyawan yang berlalu lalang karena waktu istirahat sudah habis. Sudah dua hari, tampaknya para karyawan wanita juga sudah bosan membahas diriku. Atau mungkin aku sudah tidak peduli lagi dengan respon mereka terhadap kenaikan posisiku. Aku merasa lebih baik.


Sesampainya di ruang kerjaku, aku membuka pintu begitu pelan. Benar saja, Celvin masih sibuk di meja pribadinya. Bahkan ia tidak menyadari kedatanganku.


"Siang Pak," sapaku padanya.


Tidak ada jawaban. Entah karena terlalu fokus atau suaraku yang terlalu pelan. Hal ini membuatku ragu-ragu untuk menghampirinya. Aku juga enggan untuk memberikan sebuah cake kecil padanya.


Disisi lain, aku harus tetap menyapa atasanku untuk menanyakan pekerjaan selanjutan. Ya, karena baru dua hari aku masih merasa bingung untuk memulainya dari mana. Lalu, dengan sangat pelan dan hati-hati aku berjalan kearah Celvin berada.


"Emm... si-siang pak," sapaku lagi dengan sedikit gugup.


"Siang juga," jawab Celvin acuh.


"Maaf Pak, saya harus melanjutkan yang mana lagi?"


"Eh... Fanni ya? Maaf terlalu fokus, saya nggak sadar yang dateng kamu."


"Mustahil, segede ini masih nggak disadari."


"Haha, lanjutkan yang tadi aja ya."


"Baik Pak, emm... anu Bapak belum makan siang ya?"


"Oh... saya lupa karna asyik kerja hehe."


"Maaf ini saya tadi mampir ke toko kue dan membeli ini untuk Bapak."


Aku menyerahkan sekotak cake tersebut pada Celvin. Lalu ia menatapku heran. Ia mengambil cake tersebut dan membuka pembungkusnya. Aku sangat berharap Celvin menyukainya.


Dan Celvin tersenyum. Ketegangan yang aku rasakan menjadi kelegaan. Mungkin Celvin akan menerimanya dengan senang hati, begitulah pikirku.


"Kamu baik banget sih?" ujarnya kemudian.


"Biasa saja Pak," jawabku.


"Makasih ya, seharusnya kamu nggak perlu serepot ini Fann."


"Nggak repot kok Pak, itung-itung tanda terimakasih aja karna bapak udah mau ngasih waktu buat adaptasi."


"Itu sudah seharusnya, saya nggak mau terlalu menekan kamu. Lagipula kamu cukup pintar kok, dan cepat menangkap apa yang dipelajari, strategi baru dari kamu juga bagus, jadi saya yang seharusnya berterimakasih Fann."


"Emm... yasudah saya balik kerja dulu."


"Oke, sekali lagi makasih buat kuenya."


"Sama-sama Pak."


Terhitung tersisa tiga jam lagi waktu kerja normalku. Semoga saja tidak lembur, aku masih kepikiran tentang pertanyaan yang akan diberikan Nike padaku. Tidak biasanya ia seperti itu.


Jadi, aku berusaha keras menyelesaikan pekerjaanku sebagai seorang sekretaris. Mulai dari penambahan strategi penjualan yang baru, mengumpulkan beberapa info dari klien maupun pengguna gedung-gedung perusahaan ini.


Aku juga menggali kembali beberapa pengetahuan tentang pekerjaan sebagai sekretaris dan juga seluk beluk perusahaan disela-sela kesibukan.


****


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Beruntungnya, Celvin tidak memberikan waktu untuk lembur.


"Tapi bapak masih mau lembur sendiri?" tanyaku sebelum beranjak pulang.


"Enggak kok, tenang aja, saya ada acara keluarga malam ini hehe," jawab Celvin.


"Yasudah Pak, saya nggak enak aja kalau pulang lebih dulu."


"Nggak apa-apa, pulang aja Fanni."


"Terimakasih Pak, saya pamit."


"Bareng aja jalannya."


"Eh... tapikan-."


"Udah hayu."


"I-iya Pak."


Celvin merapikan beberapa berkas yang berantakan diatas mejanya. Sedangkan akupun sama halnya, sembari menunggunya. Tak lupa kukirimkan pesan singkat pada Nike agar mau menungguku. Memberitahukan padanya jika aku tidak lembur dan bisa pulang bersamanya.


Aku dan juga Celvin meninggalkan ruang kerja yang telah dirapikan dan dikunci oleh Celvin. Meski agak canggung, aku tidak punya keberanian untuk menolak. Belum lagi, tatapan orang-orang iri pasti akan kembali.


Rasanya setiap keberuntunganku bisa menjadi kesialan di kemudian hari. Itulah susahnya menjadi seorang yang biasa saja atau jelek sepertiku tapi memiliki banyak keberuntungan. Ada saja orang lain yang iri dan menganggapku tidak pantas menerima semua ini.

__ADS_1


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen yaaaa....


__ADS_2